Anda di halaman 1dari 8

ITP sebuah bahagian dari rencana QC

Dirman Artib Daripada penasaran dengan rekaman pembicaraan orang lain, dan sembari menunggu waktu berbuka, dan dilanjutkan menunggu Taraweh, saya sempat tak-tik-tuk di atas key board I. Pengantar Memenuhi persyaratan pelanggan (Customer requirements fulfillment) adalah muara dari sebuah project quality management system yang dipersiapkan dan didesain serta dituliskan di dalam lembaran-lembaran terdokumentasi yang biasa disebut Project Quality Plan (PQP), atau ada juga beberapa organisasi yang mengkombinasikan nya dengan aspek HSE sehingga menjadi Project Quality and HSE Plan (Project QHSE Plan), boleh lagi ditambah dengan Security sehingga menjadi Project QHSSE Plan), mau tambah lagi? Silahkan masih ada alphabet dari A-Z tersedia untuk jadi Project QHSSEA, B,CZ Plan. Sebuah PQP yang baik tentu saja mampu menginterpretasikan semua harapan dan persyaratan-persyaratan Customer/Client (selanjutnya kita sebut Customer saja) serta mentransformasikan nya menjadi sebuah rencana atau management program dalam bentuk yang terstruktur dan sistematis sehingga mampu menjadi panduan bagi semua stakeholders dari project tersebut, yaitu Customer langsung, internal Customer seperti shareholders, management dan pekerja, pemerintah dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Mungkin di lain waktu kita akan diskusikan bagaimana mempersiapkan sebuah PQP, hanya kali ini kita akan diskuskan anak turunan dari PQP yaitu ITP (Inspection and Test Plan). II. Inspection and Test Plan (ITP) Dalam sebuah project, pemastian quality of product tidak hanya dilakukan saat penyerahan final produk kepada pelanggan di akhir project, tetapi juga perlu diverifikasi apakah produk tersebut dibuat sesuai dengan persyaratan saat proses-proses pembuatan produk tersebut berlangsung. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan resiko pada akhir produk yaitu saat penyerahan. Jika ada hal-hal yang menyimpang, maka diharapkan dapat dideteksi secara dini. Ini lah yang disebut dengan aktivitas inspeksi, uji dan ukur. Dalam ISO 9001 hal ini dipersyaratkan di dalam caluse 8.2.4. Biasanya dalam sebuah project, aktivitas inspeksi, uji dan ukur ini direncanakan dan ditetapkan di dalam sebuah dokumen yang disebut ITP. ITP adalah sebuah rencana terdokumentasi dan sebagai panduan sistematis untuk memenuhi persyaratan pelanggan fokus kepada produk yang akan diserahkan (delivery) kepada pelanggan saat waktunya tiba. ITP mengandung informasi yang essential yaitu paling tidak :

1. Tahap-tahap atau aktivitas-aktivitas yang penting dalam proses pembuatan produk; 2. Inspeksi, uji dan pengukuran (serta kombinasinya) yang harus dilakukan pada tahap-tahap tertentu dalam proses pembuatan produk tersebut; 3. Tipe inspeksi, uji dan ukur yang biasanya dikategorikan kepada H (Hold), W (Witness), S (Survey) atau ada yg memakai I (Inspect); 4. Referensi untuk criteria keberterimaan sebuah produk dalam inspeksi, uji dan ukur Karena sifatnya yang khas ini, maka ITP menjadi dokumen yang penting dalam penyelenggaraan program Quality Control (QC) sebagai bahagian dari keseluruhan program Quality Assurance (QA). Pada umumnya aktivitas dalam ITP dimulai dari aktivitas untuk memverifikasi semua Technical Submittal (Deliverables) apakah telah komplit atau belum yaitu specification, detail drawings & shop drawings, method statements dan procedur-prosedur yang menjadi panduan bekerja. Termasuk jika misalnya untuk pekerjaan pengelasan adalah verifikasi terhadap ketersediaan WPS/PQR, bukti uji kompetensi juru las (welder certificate) atau hal sejenisnya untuk pekerjaan bukan welding. Jika belum siap tentunya aktivitas verifikasi berikutnya belum dapat dilakukan. Kemudian diikuti dengan aktivitas untuk memverifikasi material yang akan digunakan, yaitu apakah material sudah sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh specification, ini biasa disebut dengan aktivitas material receiving inspection. Termasuk misalnya sample material, mock-up atau model produk jika dipersyaratkan oleh specification. Barulah kemudian aktivitas untuk memverifikasi hasil produk pada tahaptahap tertentu yang dianggap penting untuk diinspeksi, uji dan ukur. Aktivitas verifikasi biasanya diakhiri dengan final inspection atau uji akhir. Termasuk dalam hal ini misalnya untuk pekerjaan piping atau PV adalah hydrotest, pada pekerjaan cabling yaitu HiPot test, pada pekerjaan rotating equipment adalah coupling alignment. Biasanya aktivitas akhir ini adalah area inter-phase antara construction dengan commissioning, terkadang banyak item-item yang dilakukan bersama antara ke 2 grups ini. ITP adalah dokumen yang memberikan informasi tahapan-tahapan inspeksi, uji dan ukur pada sebuah produk, dan pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas tersebut sesuai dengan definisi kategorinya, misalnya pelaksana/kontraktor harus menunggu kehadiran dan kesaksian pihak ketiga (3rd party) dan/atau perwakilan Customer untuk kategori inspeksi Hold (Hold inspection). Bagaimanapun, ITP tidak menerangkan secara detail bagaimana inspeksi, uji dan ukur tersebut dilakukan. Maka informasi tambahan akan dituangkan di dalam prosedur-prosedur ataupun instruksi kerja atau

dokumen setingkatny agar detail dari inspeksi, uji dan ukur dapat direncanakan termasuk persiapan, teknis inspeksi/uji, alat yang dipakai, besaran-besaran pengukuran, bahkan standard kompetensi teknisi/operator yang bertanggung jawab dalam hal tersebut. Kalau perlu prosedur akan dilengkapi dengan schematic/diagram, skets dan formulir isian yang memudahkan pencatatan hasil uji dan ukur. Kriteria keberterimaan akan merujuk kepada specification yang spesifik untuk produk tersebut, makanya ITP hanya memuat referensi dokumen yang akan dijadikan acuan dalam hal keberterimaan sebuah produk seperti specification yang di dalamnya memuat informasi standard yang diacu, contohnya standard dari asosiasi seperti ASME, API, NACE atau dari institusi standard seperti ISO, SNI, AISC, dll. Bagaimanakah cara untuk merencanakan dan mengidentifikasi ITP-ITP apa saja yang perlu untuk dipersiapkan dan dibuat agar semua aktivitas inspeksi, uji dan ukur di sebuah project dapat memberikan jaminan kepada pemenuhan persyaratan Customer, terutama persyaratan produk yang dibuat dan akan diserahkan kepada Customer tersebut ? Bagaimana hubungan ITP dan Specification dalam menentukan keefektifan quality in project ? Insya Allah kita lanjutkan pada diskusi sambungan berikutnya, mudah-mudahan belum keburu lebaran Yang mau menambahkan, mengurangi, membantah, melengkapi, bertanya dan berkomentar, bahkan mendelete dipersilahkan. Saat ini di Doha pukul 7.43 pm, temperature luar sekitar 36 degC, saatnya bersiap-siap shalat Isya dan Tarawih di mesjid dekat rumah (lebaran berapa hari lagi nih Bro ? ) made.sudarta1964 Kalau kita bicara ITP seperti yg disampaikan dengan begitu jelas disini saya mencoba untuk menambahkan sedikit diantaranya yg harus ada dalam ITP selain yg disebutkan tadi adalah, frekuensi inspeksi atau testing. Disini kita akan merencanakan dalam pemeriksaan suatu equipment kapan kita mulai melakukan pemeriksaan demikian pula dengan metode yg akan kita pakai dalam melakukan pemeriksaan tsb harus juga disebutkan dalam ITP, kemudian jangan lupa untuk menuliskan prosedur yg akan kita pakai dalam pelaksanaan pemeriksaan tsb karena spt yg diuraikan pak Dirman tadi bahwa dalam ITP tidak menjelaskan how to do. Jadi semuanya akan menjadi mudah karena semua informasi sudah ada di dalam ITP tersebut, tinggal komitmen untuk melakukannya dengan benar. Emil M sharing pengetahuannya sangat berguna da...

Thank youuu.. maryadi_ahmad dlm mereview dokumen2 vendor, klo sy perhatiin, tdk semua suplier/vendor menyediakan dok.ITP ini, dlm penyediaan dok. ITP ini pun, vendor berbeda2 kualitas tampilannya.. ada yg memprepare-nya asal jadi, ada jg yg begitu detail. contoh sy pernah beli valve (disatu vendor), bagus sekali ITP-nya mulai dr prosedur inspeksi part2 valve yg datang dr source yg berbeda yg kemudian diassembling menjadi valve utuh, sampai dengan prosedur inspeksi/testing, acceptance criteria & touch up after FAT di uraikan di situ.. pertanyaan sy, utk scope ITP apakah cukup sampai FAT ataukah memungkinkan jg sampai Site Acceptance Test (atau tergantung kita mendefine-nya di Purchase order) ? Ok pak dirman, semoga tetap bisa enjoy & produktif dlm kesendirian :) Endri Prasetyo Ikutan nimbrung ah, "Kualitas" dan item dalam ITP menurut saya terkadang juga mempertimbangkan manhour bagian fabrikasi. Apalagi kalo ada banyak HOLD. Terlebih jika client inspector tidak setiap hari ada di aktifitas fabrikasi ini, harus ngundang dulu, belum lagi kalo datangnya telat karena macet. Ditambah lagi kalau bagian fabrikasinya tidak punya planning yang bagus dan kurang inisiatif. Makanya seringkali dipropose ITP dengan item2 yang simple dan kalau bisa HOLDnya seminim mungkin. Yang ada hanya Monitor atau Review. Tidak perlu angkat gagang telpon atau kirim email ke client dan kasih tahu "siap diinspeksi sesuai dengan approved ITP". Ini kalau kita melihat dari sudut pandang sebagai vendor. Nah kalau sebagai QC/QA tentu kita ingin semua aspek spesifikasi yang tercantum dalam Technical Spec serta dokumen QA tercover semua dalam ITP. Yang ini juga tergantung personil yang meng-approve. Kalau dia jeli, wah bisa tambah banyak tuh item2 inspeksinya. Nimbrung juga khusus buat pak hendri ini pengalaman saat jadi planner yach...ha ha ha ha...apalagi di tetrapak dulu ITP sheet tidak pernah di ikuti ha ha ha ha Sabandi Ismadi

Untuk rekan2 milis : ITP hendaknya di design memenuhi minimum requirement dari client spect...tidak perlu berlebih ibarat kalau client pesan mobil kijang tidak perlu kita siapkan mobil mercides Benz karena effect akan ada impact terhadap cost yang harus di bayar...baca dengan detail minimum reguirement mana scope dari Fabrikator, scope dari Client dan scope dari Third Party dan implementasi di setiap step pekerjaan konstruksi atau Fabrikasi.... Bila kita kurang dari specifikasi kontrak maka itu yang di sebut under spec dan bisa akan lebih rugi bila client complaint dan tidak dapat menerima barang kita sehingga akan lebih mahal ongkosnya bisa-bisa client tidak mau membayar atau diputuskan kontraknya.....karena kita under specifikasi...

Itu saja sebenarnya clue nya...semoga bisa membantu.... Endri Prasetyo Hello Pak Bandi, Gimana kabar? Kalo dulu saya di fabrikasi sebagai Planner sekaligus Fabrication Eng, sekarang banting setir ke QA/QC. Setidaknya punya pengalaman di fabrikasi jadi tahu "keluhan" sama ITP ini. Apalagi kalau udah dikejar2 deadline. ITP dan Procedure2 diajukan/disiapkan oleh QC kontraktor sebelum memulai pekerjaan. Di proyek2 Oil, Gas tentunya sangat ketat. Kalau bisa dibuat lengkap, harus jelas tanggung jawab Contractor/Vendor, Konsultan/Owner supaya tidak menimbulkan dispute atau perbedaan mengenainya. Dan ITP harus dengan persetujuan Kontraktor dan Owner, di buktikan dengan tanda tangan di ITP-nya. Pengalaman saya QA/QC; ITP dalam suatu proyek memuat semua proses test dari hulu kehilir, jadi dari fabrikasi sampai dengan penyelesaian testing, partial sampai dengan akhir pengoperasian proyek. Dan jangan lupa tugas QA/QC untuk menyiapkan semua dokumen hasil test untuk proses penyelesaian proyek alias handing over. Sekian sharing saya. Ina K.Hakim Ikut nimbrung ya Bapak-Bapak.. Menurut saya, Quality punya aspek "Assurance" dan "Control" dimana masing-masing aspek itu memiliki tools yang berbeda. Untuk Assurance .. seperti yang penah saya utarakan sebelumnya, dimulai dari memastikan kalau persyaratan quality telah tercantum didalam kontrak, memastikan semua procedure untuk kegiatan yang kritikal telah tersedia dan

memenuhi persyaratan perencanaan. hadi muttaqien

client,

dan

seterusnya.

Ini

ada

pada

tahap

Selanjutnya pada tahap eksekusi, sebaiknya dibuat "QA Plan" dan "QC Plan". QA Plan biasanya berisi perencanaan survillance selama proses fabrikasi berlangsung, sementara QC plan biasanya berisi ITP dari setiap kegiatan kritikal. Namun harus diingat bahwa untuk QA dan QC Plan untuk vendor/subcontractor berbeda dengan untuk Fabrikasi. Dari sisi client, untuk equipment dan material yang diadakan, makan QA dan QC Plan biasanya sangat dipengaruhi oleh tingkat kritikalnya. Semakin kritikal maka semakin intensiflah tindakan pengawasan yang dilakukan. Namun ada pentanyaan yang selama ini masih agak membingungkan untuk saya, yaitu : 1. Pada saat kita dalam posisi sebagai Client, dan ingin mengaudit atau assessment pada potential subcontractor, sejauh manakah kita bisa mentolerir bahwa quality management system yang dimiliki subcontractor bergantung kepada main contractorny, dalam hal ini EPC Contractor. Saya punya pengalaman baru2 ini... boleh dikatakan 90% dari subcontractor yang sempat saya kunjungi tidak memiliki quality management system sendiri, seperti ITP, Quality Procedures, dll, dengan alasan mengikut kepada main contractornya. 2. Dan bagaimana pula dengan quality management system untuk electrical and instrument subcontractor? Terima kasih atas pencerahannya. Arbie Ikuatan juga ach... IMHO loch yaaaaa, Lalu bagaimana implementasinya jika diskusi ini hanya dikalangan Quality ,yang akhirnya bermuara pada satu kesimpulan Quality..,bagusnya ada dari kalangan Construction yang faham betul agar terjadi Sincronisasi dan memberi pencerahan juga dimana "biasanya" antara deadline project ,QA/QC Plans jadi nomor sekian sekian sekian apalagi kalau diterapkan Client Liquidations Damage ,wah apa gak Kriting semua orang yang terlibat diProject tsb, dr atas sampe bawah akhirnya ga peduli lagi dgn Quality Plans ini ( cmiiw )

1 lagi peranan penting dari Experiences QC Engineer sangat sangat diperlukan dalam mendevelop daripada siQA/QC Plans dan siITP ini, Dirman Artib Alhamdulillah banyak yang menambahkan,menanggapi, termasuk guru saya Pak Sabandi. dan mengurai

Pak Arbie, tidak peduli QA/QC Plan boleh saja, tentu akan diresponse oleh Client dengan tidak menerima hasil produk yang dibuat alias "real reject" bukan sekedar memperlakukan sebagai nonconforming product atau imperfection yang bisa dirework atau repair. Apalagi jika projectnya di manage oleh perusahaan lain lewat kontrak Project Management dan ConstructionManagement, dijamin tega deh, saya udah pernah lihat bukti reject bernilai jutaan USD, bangkrut-bangkrit deh tuh kontraktor. Pertanyaan Bu (atau Pak ya?) Ina, tentang subcontractors yang tidak punya QMS sendiri ya nggak masalah, sepanjang quality produk yang dibuat ada rencananya yang memberikan assurance untuk mampu memenuhi specification,walaupun dipersiapkan oleh main Contractornya. Pertanyaan balik saya,apakah Bapak/Ibu Ina saat audit tersebut memverifikasi ITP yang mereka maksudkan? Apakah dilakukan sedikit examination tentang kesesuaian antara ITP dengan Specification ? Kemudian dilakukan sedikit exercise antara ITP yg dimaksud dengan pelaksanaanya ? Nah ini yang lebih penting, walaupun teknik examination dan exercise memerlukan auditor yang jam terbangnya pada aktivitas Construction sudah cukup mumpuni, atau auditor boleh membawa tenaga ahli (ISO 19011). Lebih ke hulu dari semua itu adalah, apakah semua aktivitas Construction ITP nya sudah ada dan memadai ? Nah, selayaknya PM akan memberikan tugas penilaian ini kepada Quality Professional di project, jadi kalau si professional tsb. kompetensinya baru sebatas auditor untuk persyaratan standard ISO 9001 ya nggak cukup. Ini seperti apa yang dikatakan oleh Pak Arbie, bahwa experience dan maturity dari professional QC Engineer berperanan besar dalam menentukan quality dari QA/QC Plan dan juga ITP, termasuk memastikan kecukupan ITP si Contractor dan subcontractors nya. Kalau ada waktu kita akan diskusikan ini lebih detail pada tahap berikutnya. Sayang sekali pertanyaan Bu/Pak Ina yang no. 2 nggak begitu jelas maksudnya, kalau bisa dijelaskan sedikit lagi mungkin kita bisa share untuk hal ini. Masalah scope dari ITP yang ditanyakan Pak Maryadi, tentunya haris dikonsulkan kepada scope dari contract/PO yang harus didelivery oleh supplier/subcontractor tersebut. Biasanya manufacture hanya sampai sebatas FAT, dan nanti Contractor yg memenanngkan jatah Construction yang mempersiapkan ITP untuk instalasi valve tersebut, yang biasanya di rangkum dalam ITP penginstalasian piping. Masalah Site Acceptance Test, tentunya jika order/contract memerlukan garansi, maka instruction manual dari manufacture akan menjadi inputs buat ITP dan prosedur instalasi, karena

bisa saja hak garansi hilang jika metode instalasinya salah. Ini adalah seni me-manage beberapa pihak dalam Construction Management. Apa yang dikatakan Pak Sabandi adalah kuncinya, yaitu develop ITP sesuai specification, jangan nyontek abis dari ITP orang lain. Kebetulan saya baru saja melakukan study atas beberapa ITP yang ditenggarai menjadi akar masalah di reject nya beberapa produk bernilai jutaan USD, saya temukan unsur kelemahan saat developing ITP yg mungkin sadur abis dari project sebelumnya, yang kebetulan si reviewernya adalah juga kolega dari originator pada project tsb. walhasil bahasa yang sama justru membuat ITP tsb. Berbeda dengan apa yang dikehendaki specification. Selain itu ada pula aspek substitusi material yang membuat hasil produk susah untuk diverifikasi dengan specification yang belum dirobah. Nah kalau udah begini ada potensi rugi, malah mungkin bangkrut karena tak me-manage quality dgn benar.