Anda di halaman 1dari 11

Senin, 07 Februari 2011

Pengukuran Waterpas
PENGUKURAN WATERPASS

A.

DASAR TEORI

Pengukuran waterpass adalah pengukuran untuk menentukan ketinggian atau beda tinggi antara dua titik. Pengukuran waterpass ini sangat penting gunanya untuk mendapatkan data sebagai keperluan pemetaan, perencanaan ataupun untuk pekerjaan konstruksi. Hasil-hasil dari pengukuran waterpass di antaranya digunakan untuk perencanaan jalan, jalan kereta api, saluran, penentuan letak bangunan gedung yang didasarkan atas elevasi tanah yang ada, perhitungan urugan dan galian tanah, penelitian terhadap saluran-saluran yang sudah ada, dan lain-lain. Dalam pengukuran tinggi ada beberapa istilah yang sering digunakan, yaitu :

Garis vertikal adalah garis yang menuju ke pusat bumi, yang umum dianggap sama dengan garis unting-unting.

Bidang mendatar adalah bidang yang tegak lurus garis vertikal pada setiap titik. Bidang horisontal berbentuk melengkung mengikuti permukaan laut.

Datum adalah bidang yang digunakan sebagai bidang referensi untuk ketinggian, misalnya permukaan laut rata-rata.

Elevasi adalah jarak vertikal (ketinggian) yang diukur terhadap bidang datum. Banch Mark (BM) adalah titik yang tetap yang telah diketahui elevasinya terhadap datum yang dipakai, untuk pedoman pengukuran elevasi daerah sekelilingnya.

Prinsip cara kerja dari alat ukur waterpass adalah membuat garis sumbu teropong horisontal. Bagian yang membuat kedudukan menjadi horisontal adalah nivo, yang berbentuk tabung berisi cairan dengan gelembung di dalamnya. Dalam menggunakan alat ukur waterpass harus dipenuhi syarat-syarat sbb :

Garis sumbu teropong harus sejajar dengan garis arah nivo. Garis arah nivo harus tegak lurus sumbu I. Benang silang horisontal harus tegak lurus sumbu I.

Pada penggunaan alat ukur waterpass selalu harus disertai dengan rambu ukur (baak). Yang terpenting dari rambu ukur ini adalah pembagian skalanya harus betul-betul teliti untuk dapat menghasilkan pengukuran yang baik. Di samping itu cara memegangnya pun harus betul-betul tegak (vertikal). Agar letak rambu ukur berdiri dengan tegak, maka dapat digunakan nivo rambu . Jika nivo rambu ini tidak tersedia, dapat pula dengan cara menggoyangkan rambu ukur secara perlahan-lahan ke depan, kemudian ke belakang, kemudian pengamat mencatat hasil pembacaan rambu ukur yang minimum. Cara ini tidak cocok bila rambu ukur yang digunakan beralas berbentuk persegi. Pada saat pembacaan rambu ukur harus selalu diperhatikan bahwa : 2BT = BA + BB Adapun : BT = Bacaan benang tengah waterpass BA = Bacaan benang atas waterpass BB= Bacaan benang bawah waterpass Bila hal diatas tidak terpenuhi, maka kemungkinan salah pembacaan atau pembagian skala pada rambu ukur tersebut tidak benar.

Dalam praktikum Ilmu Ukur Tanah ada dua macam pengukuran waterpass yang dilaksanakan, yaitu : 1. Pengukuran Waterpass Memanjang 2. Pengukuran Waterpass Melintang Rumus-rumus yang digunakan dalam pengukuran waterpass adalah a. Pengukuran Waterpas Memanjang Beda tinggi antara titik A dan B adalah :

hP1P2 = BTP1 BTP2


Adapun : hP1P2 = beda tinggi antara titik P1 dan P2 BTP1 = bacaan benang tengah di titik P1 BTP2 = bacaan benang tengah di titik P2

Jarak antara A dengan P1 adalah : do = 100 (BAP1 BBP1) Adapun : dAP = jarak antara titik A dan P BAA = bacaan benang atas di titik A BBA = bacaan benang bawah di titik A Dalam pengukuran waterpass memanjang, pesawat diletakkan di tengah-tengah titik yang akan diukur. Hal ini untuk meniadakan kesalahan akibat tidak sejajarnya kedudukan sumbu teropong dengan garis arah nivo.

b. Pengukuran Waterpass Melintang

Beda tinggi antara titik 1 dan 2 adalah : h12 = BT1 BT2

Adapun : h12 = beda tinggi antara titik 1 dan titik 2 BT1 = bacaan benang tengah di titik 1 BT2 = bacaan benang tengah di titik 2 Beda tinggi antara titik 1 dan titik P adalah : h1P = BT1 TP Adapun : h1P = beda tinggi antara titik 1 dan titik P BT1 = bacaan benang tengah di titik 1 TP = tinggi pesawat

Berikut adalah kesalahankesalahan yang biasa dilakukan di lapangan : 1. Pembacaan yang salah terhadap rambu ukur. Hal ini dapat di sebabkan karena mata si pengamat kabur, angka rambu ukur yang hilang akibat sering tergores, rambu ukur kurang tegak dan sebagainya. 2. Penempatan pesawat atau rambu ukur yang salah. 3. Pencatatan hasil pengamatan yang salah. 4. Menyentuh kaki tiga (tripod) sehingga kedudukan pesawat / nivo berubah.

B.

MAKSUD

Pengukuran ini mempunyai maksud untuk : Menentukan beda tinggi dari setiap titik pada jalan yang lurus serta menentukan elevasi setiap titik tersebut dari titik tetap (Bench Mark) yang telah ditetapkan. Menentukan kedalaman dasar saluran, tinggi tanggul kiri dan kanan serta tinggi as jalan di setiap titik yang berbeda agar dapat menggambarkan profil melintang.

C. PERALATAN

Alat-alat yang digunakan dalam pengukuran waterpass ini adalah sebagai berikut: Waterpass. Statip. Unting-unting. Payung. Dua buah rambu ukur. Meteran. Paku. Palu Cat. Kuas kecil.

D. CARA PELAKSANAAN

Urut-urutan pelaksanaan dari pengukuran waterpass adalah sebagai berikut: Pengukuran Waterpass Memanjang : 1. Menentukan titik awal pengukuran serta titik tetap (Banch Mark) yang digunakan. 2. Memberi tanda pada titik awal tersebut dengan menggunakan paku dan cat sebagai titik P1. 3. Menentukan titik A yang berjarak 25 meter didepan titik P1, dan titik P2 yang berjarak 25 meter didepan titik A dan seterusnya dengan memberi tanda dengan cat hingga titik terakhir, yaitu titik P11 sejauh 500 m dari titik awal.

4. Mendirikan tripod tepat diatas titik P1 dan meletakkan alat ukur waterpass diatas tripod tersebut dengan menyekrup bagian bawahnya. 5. Memasang Unting-unting dan mengusahakan agar unting-unting tersebut tepat menunjuk ke titik P1. 6. Mengatur sekrup pengungkit agar gelembung nivo terletak di tengah-tengah tabung. 7. Setelah nivo dalam keadaan seimbang, bak diletakkan di titik BM kemudian ditembak dari titik P1 tersebut (usahakan letak bak vertikal) 8. Kemudian benang horisontal dibaca oleh pengamat dan hasilnya dicatat oleh pencatat secara teliti agar memenuhi dua rumus waterpass, yaitu : d = 100 x (BA-BB) dan 2 x BT = BA + BB. Jika hasil pembacaan tidak memenuhi rumus diatas, pembacaan rambu ukur diulang kembali. 9. Setelah titik BM diukur, waterpas dipindahkan ke titik A kemudian titik P1 dan P2 ditembak/diukur. Setelah itu alat dipindahkan ke titik B untuk penembakan/pengukuran ke titik P2 dan P3,dan seterusnya hingga titik terakhir yaitu titik J dan melakukan penembakan kembali ketitik awal untuk bacaan pulang hingga titik A. 10. Melakukan penghitungan dan kesalahan yang diperbolehkan. Jika selisih beda tinggi antara pengukuran pergi dengan pengukuran pulang melampaui kesalahan ynag diijinkan, maka Pengukuran harus diulang kembali.

Pengukuran Waterpass Melintang :

sawat didirikan tepat diatas dititik P1 yang telah ditandai dengan cat. 2. Setelah unting-unting menunjuk tepat ke titik P1, sekrup pengukit diatur sedemikian rupa hingga gelembung nivo tepat ditengah-tengah. 3. Menentukan titik-titik yang akan ditentukan ketinggiannya, lalu mengukur jarak titik-titik tesebut dari pesawat. Titik-titik tersebut adalah titik 1, 2, 3, dst. 4. Menyipat titik-titik yang telah ditentukan tersebut serta titik BM, sementara pemegang rambu membetulkan posisi rambu ukur (baak) spaya tegak betul.

5. Setelah letak rambu ukur vertikal, benang horisontal dibaca oleh pengamat dan hasilnya dicatat oleh pencatat secara teliti agar memenuhi dua rumus waterpass, yaitu : d = 100 x (BA-BB) dan 2 x BT = BA + BB. Jika hasil pembacaan tidak memenuhi rumus diatas, pembacaan rambu ukur diulang kembali.

6. Setelah titik-titik tersebut disipat, maka pesawat dipindahkan ke titik P2 yang telah diberi tanda cat, kemudian mengulang langkah-langkah no.2 s/d no.5. prosedur ini diulang untuk posisi pesawat di P3, P4, dan seterusnya hingga titik terakhir, yaitu titik P11. 7. Melakukan penghitungan beda tinggi terhadap titik-titik tersebut.

E.

DATA DAN PERHITUNGAN

a.

Pengukuran Waterpass memanjang Elevasi titik awal, yaitu titik A adalah : pesawat di P1)

Elevasi A = Elevasi BM + (bacaan Benang Tengah BM tinggi = 82,5500 + (1,119 1,490) = 82,1790 m Elevasi B = Elevasi A + hAB = 82,1790 + (- 0,071) = 82,1080 m Dan seterusnya, seperti terlihat dalam tabel 1.1.

a.

Pengukuran Waterpass Melintang

Tempat Pesawat di titik A Elevasi 82,1790 m, dan tinggi pesawat 124 cm Elevasi 1 = Elevasi A + (tinggi pesawat di A BT1)

= 82,1790 + (1,240 1,115) = 82,3040 m Elevasi 2 = Elevasi A + (tinggi pesawat di A BT2) = 82,1790 + (1,240 1,063) = 82,3560 m Dan seterusnya.

v TITIK A Elevasi = + 82,179 m ; Tinggi Pesawat = 124 cm BACAAN BAK TITIK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 BA 1129 1077 1078 2086 2087 2088 1068 1088 1139 1115 1234 1284 1298 BT 1115 1063 1062 2069 2067 2065 1062 1062 1113 1111 1230 1230 1229 BB 1101 1049 1046 2052 2047 2042 1038 1036 1087 1107 1226 1176 1160 JARAK (m) 2,80 2,80 3,20 3,40 4,00 4,60 3,00 5,20 5,20 0,80 0,80 10,80 13,80 BEDA TINGGI (m) 0,125 0,052 0,001 -1,007 0,002 0,002 1,003 0 -0,051 0,002 -0,119 0 0,001 ELEVASI (m) 82,3040 82,3560 82,3570 81,3500 81,3520 81,3540 82,3570 82,3570 82,3060 82,3080 82,1890 82,1890 82,1900

v TITIK B Elevasi = + 82,1080 m ; Tinggi Pesawat =122 cm BACAAN BAK TITIK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 BA 1105 1054 1055 2058 2062 2065 1064 1067 1118 1132 1252 1267 1281 BT 1091 1040 1039 2041 2042 2041 1039 1040 1091 1091 1211 1212 1211 BB 1077 1026 1023 2024 2022 2017 1014 1013 1064 1050 1170 1157 1141 JARAK (m) 2,80 2,80 3,20 3,40 4,00 4,80 5,00 5,40 5,40 8,20 8,20 11,00 14,00 BEDA TINGGI (m) 0,129 0,051 0,001 -1,002 -0,001 0,001 1,002 -0,001 -0,051 0 -0,12 -0,001 0,001 ELEVASI (m) 82,2370 82,2880 82,2890 81,2870 81,2860 81,2870 82,2890 82,2880 82,2370 82,2370 82,1170 82,1160 82,1170

IK C Elevasi = + 82,0670 m ; Tinggi Pesawat =120 cm BACAAN BAK TITIK 1 2 3 4 5 6 7 BA 1051 1005 1008 2210 2218 2220 1023 BT 1037 991 992 2193 2197 2195 997 BB 1023 977 976 2176 2176 2170 971 JARAK (m) 2,80 2,80 3,20 3,40 4,20 5,00 5,20 BEDA TINGGI (m) 0,163 0,046 -0,001 -1,201 -0,004 0,002 1,198 ELEVASI (m) 82,2300 82,2760 82,2750 81,0740 81,0700 81,0720 82,2700

8 9 10 11 12 13

1024 1076 1089 1208 1218 1230

996 1048 1048 1165 1163 1160

968 1020 1007 1124 1108 1090

5,60 5,60 8,20 8,40 11,00 14,00

0,001 -0,052 0 -0,117 0,002 0,003

82,2710 82,2190 82,2190 82,1020 82,1040 82,1070

IK D Elevasi = + 81,9670 m ; Tinggi Pesawat =139 cm BACAAN BAK TITIK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 BA 1248 1236 1237 2652 2218 2643 1246 1248 1300 1313 1455 1467 1483 BT 1271 1223 1222 2632 2197 2619 1221 1220 1272 1271 1413 1411 1412 BB 1258 1210 1207 2620 2176 2595 1196 1192 1244 1229 1371 1355 1341 JARAK (m) -1,00 2,60 3,00 3,20 4,20 4,80 5,00 5,60 5,60 8,40 8,40 11,20 14,20 BEDA TINGGI (m) 0,119 0,048 0,001 -1,41 0,435 -0,422 1,398 0,001 -0,052 0,001 -0,142 0,002 -0,001 ELEVASI (m) 82,0860 82,1340 82,1350 80,7250 81,1600 80,7380 82,1360 82,1370 82,0850 82,0860 81,9440 81,9460 81,9450

IK E Elevasi = + 81,9070 m ; Tinggi Pesawat = 152 cm

BACAAN BAK TITIK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 BA 1414 1362 1364 2967 2978 2978 1376 1379 1430 1442 1581 1596 1610 BT 1400 1348 1348 2950 2956 2952 1349 1350 1401 1400 1539 1540 1539 BB 1386 1334 1332 2933 2934 2926 1322 1321 1372 1358 1497 1484 1468 JARAK (m) 2,80 2,80 3,20 3,40 4,40 5,20 5,40 5,80 5,80 8,40 8,40 11,20 14,20 BEDA TINGGI (m) 0,12 0,052 0 -1,602 -0,006 0,004 1,603 -0,001 -0,051 0,001 -0,139 -0,001 0,001

ELEVASI (m) 82,0270 82,0790 82,0790 80,4770 80,4710 80,4750 82,0780 82,0770 82,0260 82,0270 81,8880 81,8870 81,8880

IK F Elevasi = + 81,8180 m ; Tinggi Pesawat = 139 cm BACAAN BAK TITIK 1 2 3 BA 1394 1412 1443 BT 1380 1379 1381 BB 1366 1346 1319 JARAK (m) 2,80 6,60 12,40 BEDA TINGGI (m) 0,01 0,001 -0,002 ELEVASI (m) 81,8280 81,8290 81,8270

IK G