Anda di halaman 1dari 14

GINGIVITIS ASSOCIATED WITH DENTAL PLAQUE INDUCED WITH LOCAL CONTRIBUTING FACTORS (CALCULUS) AND MODIFIED BY SYSTEMIC FACTOR,

CAUSE IN PUBERTAL CONDITION

Disusun Oleh :

Marselly Laon, S.KG NIM 04094707033

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012

I.

INFORMASI KASUS

Identitas Pasien Nama : Bunga

Tempat/Tanggal Lahir : Palembang / 11 Desember 1999 Suku Jenis Kelamin Status Perkawinan Agama Alamat Telepon Pendidikan Terakhir Pekerjaan : Palembang : Perempuan : Belum Kawin : Islam : Jl. Anggrek Raya no. 92, Palembang : 081367656083 : SD : Pelajar

Anamnesis
Pasien datang ke Poli Gigi dan Mulut RSUD Muhammad Hoesin Palembang dengan keluhan banyak terdapat karang gigi pada gigi bawah depannya, gusinya bengkak dan sering berdarah ketika menggosok gigi, hal ini terjadi sejak 5 bulan yang lalu, saat awal pasien menstruasi, pasien ingin gigi dan gusinya dirawat.

Riwayat Kesehatan Umum


Baik. Tidak ada kelainan sistemik yang menggangu dalam perawatan gigi.

Riwayat Kesehatan Gigi


Pasien pernah menambal gigi belakang bawah kanan dan kirinya dengan tambalan hitam di puskesmas.

Pemeriksaan Radiografi Pemeriksaan radiografik dengan foto Panoramik pada tanggal 2 Agustus 2011

Gigi 37 dan 47 erupsi sempurna, akar belum menutup. Gigi 18, 28, 38 dan 48 belum erupsi. Gigi 36 dan 46 terdapat tumpatan.

Pemeriksaan Klinis Pada pemeriksaan kebersihan mulut pada awal kunjungan, kebersihan mulut pasien buruk dimana pada pemeriksaan Interdental Hygiene Index (HYG) dengan disclosing solution diperoleh hasil 0% (sebelum menyikat gigi) dan 32% (sesudah menyikat gigi). Selain itu pada pemeriksaan Papilla Bleeding Index (PBI) diperoleh hasil 2,96. Pada pemeriksaan OHI-S diperoleh hasil 4,3 dengan rincian indeks debris 2,67 dan indeks kalkulus 1,67. Data ini menunjukkan bahwa kebersihan mulut pasien buruk.

Pemeriksaan Ekstra Oral Muka Pipi Bibir Pinggiran Rahang : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan

Kelenjar Submandibular

: kanan tidak ada kelainan ; kiri tidak ada kelainan

Pemeriksaan Intra Oral Mukosa pipi Palatum Dasar mulut Lidah Oropharyngeal Saliva Kelenjar Limfe Frenulum Gingiva RA Gingiva RB Poket Karang gigi : kanan tidak ada kelainan ; kiri tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : normal : tidak ada kelainan : normal : tidak ada kelainan : normal : edema regio a, b, c dan hiperpigmentasi regio a ,b, c : edema regio d, e, f : poket regio a, b, c, e, f : supragingiva regio a, c, d, e, f dan subgingiva regio a, e

Pemeriksaan Poket Elemen Gigi Bukal/ Labial 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 4 2 2 2 2 2 2 2 1 2 Lingual/ Palatal 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 4 3 4 2 2 3 2 3 3 3 3 4 3 4 3 2 5 Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Mesial Distal Keterangan

24 25 26 27 37 36 35 34 33 32 31 41 42 43 44 45 46 47

2 3 3 3 1 2 1 2 1 2 4 3 4 3 3 3 3 2

2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 4 3 2 2 2 2 3 2

5 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4

4 4 4 4 2 3 3 3 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4

Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah

Pemeriksaan Gigi Elemen Bukal/ Gigi 16 14 24 37 36 35 44 45 Karies D3 Labial Lingual/ Palatal Karies D3 Tumpatan Karies D3 Karies D3 Tumpatan Pulpitis reversible Tumpatan GIC Pulpitis reversible Pulpitis reversible Tumpatan amalgam Buccoversi Pulpitis reversible Buccoversi Mesial Distal Oklusal Keterangan

46

Karies sekunder

Tumpatan amalgam

Etiologi
Etiologi dari kasus ini adalah inisiasi dari iritasi plak dengan faktor predisposisi berupa kalkulus yang terjadi pada masa pubertas.

Diagnosis
Gingivitis associated with dental plaque induced with local contributing factors (calculus) and modified by systemic factor, cause in pubertal condition.

Prognosis
1. Overall prognosis a. Umur pasien Pasien berumur 12 tahun mempunyai prognosis yang baik karena pada usia tersebut diperkirakan proses penyembuhan akan berlangsung lebih cepat. b. Kondisi Sistemik Baik c. Kooperatif Pasien Pasien sangat kooperatif dalam mengikuti perawatan. d. Lokasi Penyakit Pada semua region a b c d e f. e. Kerusakan Tulang Tidak terdapat kerusakan tulang f. Maloklusi Tidak terdapat maloklusi.

2. Prognosis individu a. Mobilitas Gigi Tidak ada gigi yang mobile pada kuadran III. b. Malposisi

Terdapat malposisi pada gigi 35 dan 45. c. Poket Terdapat poket pada regio a, b, c, e dan f. d. Morfologi gigi Tidak terdapat kelainan morfologi gigi. e. Kondisi Mukogingiva Terdapat hiperpigmentasi gingiva pada regio a, b dan c. Terdapat edema pada regio a, b, c, d, e dan f. f. Keterlibatan furkasi Tidak terdapat kerusakan tulang.

Kesimpulan yang didapat dari overall prognosis dan prognosis individu adalah baik.

II.

RENCANA PERAWATAN

FASE I (Etiotropik) Kontrol plak (Edukasi, Motivasi, Instruksi) Scalling dan root planing

EVALUASI Kontrol plak (kontrol dilakukan sebanyak 5 kali)

Jika tidak berhasil

FASE II (BEDAH) Jika berhasil Kuretase

FASE III (RESTORASI) Pro Konservasi : Restorasi GIC pada gigi 16, 24, 37 dan 44, tumpatan amalgam gigi 46. Pro Orthodonti : Perawatan orthodonti lepasan RA dan RB Fase IV (Kontrol Berkala) Recall at time Maintenance Kontrol Plak dan Scalling Pemeriksaan klinis.

III. HASIL PERAWATAN


Pemeriksaan HYG dan PBI

HYG (dalam %) No. 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol Pertama Kedua Ketiga Keempat Kelima PBI 1,46 0,42 0,5 0,42 0,1 Sebelum Menyikat Gigi 28,6 28,5 57,14 71,4 78,5 Setelah Menyikat Gigi 67,8 75 75 89,3 89,2

IV. PEMBAHASAN
Gingivitis Gingivitis merupakan inflamasi (peradangan) gusi yang paling sering terjadi dan merupakan respon inflamasi tanpa merusak jaringan pendukung. Gingivitis adalah suatu bentuk dari penyakit periodontal. Gingivitis yang menetap dapat berkembang dan menyebabkan kerusakan jaringan penyangga gigi. Gingivitis disebabkan oleh buruknya kebersihan mulut sehingga terbentuk plak di bagian gigi yang berbatasan dengan margin gingiva kemudian plak tersebut diinvasi oleh bakteri. Bakteri tersebut yaitu Actinobacillus actinomycetemcomitans dan Porphyromonas gingivalis. Hal ini terjadi karena sisa-sisa makanan yang tertinggal diantara sela-sela gigi atau di gusi. Jika dalam waktu 24 jam sisa makanan itu belum tersikat maka akan terbentuk plak. Hanya dalam beberapa hari plak yang tidak tersikat atau tidak terganggu sudah menimbulkan radang gusi tahap inisial. Ada tiga tahap radang gusi yaitu tahap inisial (2-4 hari), tahap lesi dini (4-7 hari) dan tahap lesi mantap (2-3 minggu). Pada tahap lesi mantap ini sudah terjadi kerusakan jaringan penyangga gigi. Gingivitis dapat disebabkan oleh berbagai faktor lokal dan sistemik :

1. Faktor lokal : Kalkulus, gangren radix, kebiasaan makan sebelah sisi, adanya karies gigi, mulut kering / hiposalivasi sehingga self cleansing tidak ada, adanya protesa atau restorasi yang kurang sempurna, bernafas dengan mulut dan kebiasaan menusuk gigi. 2. Faktor sistemik : Defisiensi vitamin (misalnya vitamin A, B dan C), penyakit sistemik seperti penyakit sifilis, rematik, anemia, diabetes mellitus, mengkonsumsi alkohol, mengkonsumsi obat-obatan yang mengandung Hg, Bi dan J. Selain itu perubahan hormonal pada masa kehamilan, pubertas, dan pada terapi steroid juga menyebabkan gusi lebih rentan terhadap infeksi bakteri. Klasifikasi menurut World Workshop pada tahun 1999 dalam Clinical Periodontics, ada dua kategori utama penyakit gingiva, masing-masing dengan berbagai subkelompok: 1. Dental plaque-induced gingival diseases 1. Gingivitis associated with plaque only 2. Gingival diseases modified by systemic factors 3. Gingival diseases modified by medications 4. Gingival diseases modified by malnutrition 2. Non-plaque-induced gingival lesions 1. Gingival diseases of specific bacterial origin 2. Gingival diseases of viral origin 3. Gingival diseases of fungal origin 4. Gingival diseases of genetic origin 5. Gingival manifestations of systemic conditions 6. Traumatic lesions 7. Foreign body reactions 8. Not otherwise specified

Karateristik Klinis dan Histologist Gingivitis Perubahan klinis Perdaraha gingiva Perubahan histologist dasar Ulserasi epitel sulkus dengan pelebaran kapiler yang meluas di bawah permukaan Warna kemerahan Pembengkakan Hilangnya tonus gingival Hilangnya stippling Konsistensi keras, kaku Hiperemia disertai dilatasi dan pelebaran kapiler Infiltrasi cairan dan eksudat sel radang ke ajringan ikat Inflamasi disertai rusaknya serabut gingival Edema pada jaringan ikat dibawahnya Fibrosis karena terjadinya inflamasi kronis dalam waktu yang lama Poket gigi Inflamasi disertai ulserasi epitel sulkus dan pembesaran gingiva

Gingivitis Pubertas Gingivitis pubertas adalah inflamasi pada gingiva yang disebabkan adanya perubahan hormonal, biasanya pada usia 11-14 tahun. Inflamasi ini berupa warna merah kebiruan, odema, dan pembesaran dihasilkan dari faktor lokal yang merupakan respon ringan gingival. Sebagai pendekatan terhadap orang dewasa, keparahan reaksi gingival berkurang, pengembalian menuju ke normal membutuhkan penghilangan faktor tersebut. Meskipun prevalensi dan keparahan penyakit gingival meningkat seiring dengan pubertas, gingivitis bukan merupakan kejadian yang universal selama periode ini, dengan kebersihan mulut yang baik, maka hal tersebut dapat dicegah. Penatalaksanaan gingivitis sebenarnya bersifat holistik, tidak hanya mencakup daerah periodontal saja, namun juga mencakup kesehatan gigi dan mulut secara keseluruhan. Secara garis besar, perawatan penyakit gingiva ini adalah 1. Scalling dan root planing Scalling dilakukan untuk menghilangkan endapan yang lunak dan keras pada daerah koronal dan epitel perbatasan (junctional epithelium). Root planing juga dilakukan karena permukaan akar merupakan tempat timbunan bakteri yang dapat masuk dalam tubuli dentin. Root planing yang baik meliputi pembersihan bakteri dan toksinnya,

pembersihan kalkulus serta semen dan dentin yang sakit, dapat menghasilkan permukaan akar yang secara biologis masih dapat diterima. 2. Antibakteri Pemberian obat kumur sebagai antibakteri dapat mematikan bakteri patogen periodontal juga dapat menghambat terbentuknya plak dental sehinng sangat dianjurkan penggunaannya. Obat-obat kumur yang dianjurkan antara lain adalah NaCl atau peroksida, obat kumur yang mengandung heksitidin atau klorheksidin. Antibakteri berupa obat kumur diberikan untuk kasus gingivitis dan periodontitis ringan. Pemberian metronidazol gel dan tetrasiklin juga banyak dipergunakan untuk terapi lokal. 3. Bedah periodontal Kuretase yaitu membersihkan jaringan nekrotik, jaringan granulasi akibat inflamasi kronis dan jaringan lain yang menyebabkan terjadinya poket.

Sebelum melakukan kuretase harus scalling terlebih dahulu. Gingivektomi yaitu penghilangan dinding ajringan lunak pada poket dan mengeliminasi gingival enlargement. Gingivoplasti yaitu tindakan bedah untuk mengembalikan kontur gingival fisiologis yang dapat mencegah kambuhnya penyakit periodontal. Setelah dilakukan perawatan, instruksikan pasien untuk menjaga kesehatan gigi dan mulutnya. Ajarkan pasien cara mennyikat gigi yang benar, disarankan juga menggunakan dental floss, periksa gigi setiap 6 bulan sekali, penggunaan obat kumur hanya untuk keadaan tertentu saja dan memperbaiki keadaan gigi geligi seperti penutupan karies / penambalan, memperbaiki kontur restorasi dan memperbaiki malposisi gigi.

V. KESIMPULAN
Gingivitis merupakan inflamasi (peradangan) gusi yang paling sering terjadi dan merupakan respon inflamasi tanpa merusak jaringan pendukung. Pada kasus gingivitis pasien Bunga perawatan dilakukan dengan scalling dan root planing. Hasil perawatan cukup memuaskan ditandai dengan tidak adanya inflamasi pada gingiva serta kebersihan OHI-S nya membaik. Kendala dalam pelaksanaan perawatan tersebut adalah pasien tidak dapat datang untuk kontrol sesuai jadwal yang seharusnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bimstein, Enrique dkk. 2001. Periodontal and Gingival Health and Disease Children, Adolescents, and Young Adults. United Kongdom : Martin Dunitz. Caranza. 2002. Clinical Periodontology. 9th ed. Philadelphia: W. B. Saunders Company. Fedi, PF dkk. 2004. Silabus Periodonti. Ed. Ke-4. Jakarta: EGC. Isnaniah, Malik. 2008. Kesehatan Gigi dan Mulut. Bandung : FKG Universitas Padjajjaran Salmiah, S. 2009. Gingivitis pada Anak. Medan: FKG USU. Wofl, Herbert dan Hassel Thomas. 2006. Periodontology. New York : Thieme