Anda di halaman 1dari 9

MODUL V ARUS PERMUKAAN DAN SIRKULASI LAUT

I.

TUJUAN Adapun tujan dari praktikum modul arus permukaan dan sirkulasi laut ini diharpkan praktikan dapat : 1. Memahami, mengerti, serta dapat membedakan antara arus pasut dan arus residu. 2. Menggambarkan system koordinat yang akan digunakan dalam perhitungan. 3. Memahami dan mengerti metode pengukuran, pengenalan data serta analisisnya untuk penelitian tentang arus permukaan.

II.

TEORI DASAR 2.1 Definisi Arus Arus dan sirkulasi merupakan suatu system gerakan massa air laut ke arah vertikal maupun horizontal yang membangkitkan adanya keseimbangan distribusi massa dan temperature. Gerakan-gerakan tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor dominan seperti pasang, surut, angin, dan perbedaan densitas. Berdasarkan faktor terjadinya, macammacam arus antara lain arus geostropik, arus ekman, arus antitropik, dll. Dalam mempelajari arus kita juga mengenal spiral Ekman dan transport Ekman. Fenomena spiral Ekman ini terjadi apabila angin berhembus di dekat permukaan laut (atau danau) menyebabkan arus permukan dan diikuti dengan pola arus dibawanya berbentuk spiral. Rata-rata dari gerakan massa air laut terhadap kedalaman tersebut dinamakan transport Ekman. Arus laut secara umum digambarkan dalam bentuk skematik sebagai berikut

Gambar 1 : Skema arus laut

2.1.1

Arus Pasang surut Arus pasang surut adalah pergerakan massa air laut secara horizontal yang dihubungkan dengan naik turunya permukaan air laut. Arus pasang surut ini disebabkan oleh adanya fenomena pasang surut air laut. Pada waktu pasang surut disuatu perairan, maka arus laut akan bergerak menuju arah pasang, sebaliknya arus bergerak dari daerah yang mengalami pasang pada saat surut. Arus pasang surut akan mengalami perubahan pergerakan pada saat elevasi maksimum maupun minimum. Gerakan arus pasang surut ada dua tipe, yaitu Gerakan rotasi dan Gerakan berubah arah. Gerakan arus berbentuk elips, dimana arah rotasi searah dengan putaran jaraum jam di BBU dan berlawanan arah dengan jarum jam di BBS.

2.1.2

Arus Residu Arus residu adalah kolom air rata-rata yang telah melalui current meter pada suatu periode tertentu. Data pengolahan arus residu dapat kita analisis penyebab dominan terjadinya arus residu, dengan melihat bagaimana periode ulang dari magnetudenya, atau bentuk siklus dari pembentuknya. Diagram vector dinamik adalah suatu metode analisis dari arus residu yang menggunakan data yang dihasilkan dari current meter yaitu dengan menghitung panjang kolom air yang melewati current meter. Metode ini digunakan untuk mendapatkan kecepatan rata-rata dan transport air rata=rata dengan perhitungan komponen-komponen arus residu secara sistematis maupun pengeplatoan dengan vector dinamik. Ini digambarkan secara geometris oleh suatu tanda panah yang mempunyai panjang sebanding dengan magnetode kecepatan arusnya danarah yang tepat dengan arus tersebut. Arus residu sendiri dibagi menjadi beberapa mavam yaitu : 1. Arus tetap merupakan arus yang selalu ada walaupun pada perairan tersebut tidak terjadi hembusan angin ataupun pasang surut. Arus tetap ini terbagi atas dua macam yaitu arus konfeksi dan arus dasar 2. Arus gradient atau arus geostropik merupakan arus yang ditinjau karena adanya kemiringan (slope) bidang isobar dengan bidang datar. Arus geostropik ini bergerak pada bagian interior air laut (daerah yang jauh dari permukaan dasar laut) dan tidak dipengaruhi oleh adanya gaya gesekan, baik gesekan dasar maupun angin dipermukaan. 3. Arus angina tau biasa disebut dengan arus ekman, merupakan arus dilapisan permukaan yang ditimbulkan oleh angin.

2.2

Metode Pengukuran Arus Dalam melakukan pengamatan arus biasa dilakukan dengan menggunakan beberapa alat, diantaranya adalah 1. Floater / pelampung 2. Alat penentu posisi. Ada beberapa alat penentuan posisi, yaitu: a) Optic. Penggunaan alat optic ini mengacu pada perpotongan dua titik ukur. b) Elektronik. Alat elektronik ini menggunakan gelombang elektromagnetik sebagai media untuk penentuan posisi, yang diukur adalah jarak antara pelampung dan kapal. Alat ini biasanya terdiri dari 2 bagian, yaitu: 1. Remote set merupakan stasiun pemancara yang berada didarat yang bersifat pasif. 2. Master merupakan pemancar dan penerima yang dipasang di kapal,yang terdiri dari: DMU(Distance Master Unit) Display untuk membaca jarak antara pelampung dan kapal pada interval waktu tertentu dan dalam satuan meter. c) Satelit. Dari penggunaan satelit ini didapatkan koordinat pelampung, dengan meplotkan pada peta yang sesuai didapatkan baseline dua titik sehingga diketahui jarak antara kedua titik tersebut. Pengolahan data dilakukan secara kinematik. Untuk melihat perubahan posisi (dalam hal ini adalah pelampung) dilakukan dengan dua cara : Sextant : ditempatkan pada kapal survey dan ditembakan pada kedua titik didarat yang posisinya telah diketahui ( lihat gambar dibawah ini)

Theodolit : ditempatkan di dua titik didarat yang posisinya diketahui dan ditempatkan pada kapal survey/pelampung (lihat gambar dibawah)
2 P1

1 P2

Secara elektromagnetik, dimana penentuan posisi kapal survey didasarkan pada pengukuran jarak (Km) dan sudut (derajat). Salah satu metode ini dikenal sebagai electronic posistioing system. 2.2.1 Pengukuran Arus Metode Lagrange Pengukuran arus dengan metode lagrange pada prinsipnya adalah mengikuti jejak partikel air laut yang digerakan oleh arus. Peralatan pengukuran yang di perlukan berupa pelampung dan alat penentu arah seperti kompas tembak, theodolit atau plane table. Pengukuran biasanya dilakukan di dua tempat pantai yang berbeda posisinya, sementara itu pelampung dilepas ditengah laut. Untuk interval waktu tertentu posisi pelampung dihitung dari kedua tempat tersebut sehingga pergerakannya dapat diamati dan dicatat. Pengukuran Arus Metode Euler Pada dasarnya pengukuran arus memberikan informasi mengenai medan kecepatan disetiap tempat dilaut. Bila kita ingin melakukan analisis dengan metode euler maka yang akan kita lakukan adalah menempatkan alat pengukur kecepatan dan arah arus (current meter). Current meter dapat diletakan pada kedalaman dan posisi tertentu untuk mencatat arah dan kecepatan arus dilaut yang kita amati. Apabila data-data pengukuran diseluruh titik dalam daerah yang akan kita tinjau kita plot kedalam peta maka akan didapatkan pola sebaran arus pada saat tertentu.

2.2.2

III.

ALAT DAN BAHAN A. Alat pengukuran 1. Current meter pada prinsipnya merupakan alat yang dilengkapi rotor, kumparan, dan skala penunjuk kecepatan dimana setalah alat diturunkan rotor mulai berputar, ekor menggerakan badan alat kearah sesuai dengan datangnya arus. Besar nilai arus biasa dibaca pada skala penunjuk yang ada diatas kapal survey/tersimpan pada memori yang terdapat pada current meter tersebut. 2. kompas tembak digunakan untuk menentukan arah arus yang mana penentuannya berdasarkan arah atau posisi pelampung (bola duga). 3. Pelampung yang diberi hambatan atau resisten body untuk pengukuran arus. 4. Theodolit atau plane table alat untuk mengukur sudut dan arah. 5. Stop watch/jam digunakan untuk penentuan selang waktu yang digunakan dalam pengamatan. B. Alat pengolahan data 1. Kertas kalkir 2. Spidol/pensil warna 3. Kalkulator 4. Alat tulis 5. Laptop 6. Diktat dan referensi yang lain

IV.

TUGAS PRAKTIKUM A. Pengukuran arus dengan metode lagrange Dari hasil pengukuran dilapangan diperoleh data primer yang akan diolah lebih lanjut. Dari pengamatan arus didapat data berupa sudut pada kedua thedolit dan waktu yang akan diolah untuk mendapatkan posisi dan kecepatan arus. Adapun langkah-langkah pengolahan data arus sebagai berikut : 1. Penentuan sistem koordinat yang akan digunakan dalam perhitungan.(lihat pada gambar berikut) 2. Menghitung sudut A (sudut antara AB dan AP) A= sudut pengamatan AB - A 3. Menghitung sudut B (sudut antara AB dan BP) B= B - sudut pengamatan BA 4. Menghitung azimuth AP Azimuth AP = azimuth AB A 5. Menghitung azimuth BP

Azimuth BP = azimuth AB + 180 + B 6. Menghitung jarak thedolit A dengan pelampung (AP) Jarak AP Diaman p = 180 - (A+B) 7. Menghitung antara theodolit B dengan pelampung BP\ Jarak BP 8. Menentukan posisi pelampung pada sumbu x dari theodolit A (XP1) XP1 9. Menentukan posisi pelampung pada sumbu y dari theodolit A (YP1) YP1 10. Menentukan posisi pelampung pada sumbu x dari theodolit B (XP2) XP2 11. Menentukan posisi pelampung pada sumbu y pada theodolit B (YP2) YP2 12. Menentukan posisi fix pelampung pada sumbu x (XP) XP 13. Menentukan posisi fix pelampung pada sumbu y (YP) YP 14. Menentukan selisih jarak dalam arah sumbu x (DEL X) DEL X = XP2 XP1 15. Menentukan selisih jarak dalam arah sumbu y (DEL Y) DEL Y = YP2 YP1 16. Menentukan komponen kecepatan dalam arah x (u)

Dimana T adalah selang waktu pembacaan posisi pelampung (30s). 17. Menentukan komponen kecepatan dalam arah y (v)

18. Menentukan magnitude kecepatan arus (speed).

19. Menentukan arah dari magnitude kecepatan arus dengan menggunakan prinsip kwadran system koordinat kartesian. Mula-mula kita tentukan terlebih dahulu sudut dengan menggunakan rumus : ( )

Setelah sudut diperoleh maka dapat ditentukan arah dari speed tersebut yaitu: Jika u > 0 dan v > 0, maka arah = Jika u > 0 dan v < 0, maka arah = 180 - Jika u < 0 dan v < 0, maka arah = 180 + Jika u < 0 dan v > 0, maka arah = 360 + 20. Pengeplotan hasil kedalam peta Hasil yang diplotkan kedalam peta adalah koordinat titik XP dan YP, sehingga dapat diperoleh gambaran pola arusnya.

B. Pengamatan Arus Metode Euler Pengukuran arus menggunakan metode Euler dilakukan dengan menggunakan current meter yang hasilnya berupa data-data (data terlampir). Dari data tersebut dilakukan pengolahan data dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Untuk masing-masing waktu pengambilan data kita gambarkan vectorvektor kecepatan arus untuk masing-masing kedalaman, dimana besar vector menunjukkan arah terhadap arah utara (00) dengan arah searah jarum jam. 2. Dalam praktikum ini kedalaman pengukuran diklasifikasikan kedalam tiga golongan, yaitu: Kedalaman 1 : 0,2 d Kedalaman 2 : 0,5 d Kedalaman 3 : 0,8 d

Dimana d adalah kedalaman perairan. 3. Tentukan resultan dari vector plot kecepatan arus tersebut.

C. Analisis Hubungan Data Angin dengan Arus Permukaan

Untuk menganalisis hubungan antara angin dengan arus permukaan, kita buat vector plot kecepatan angin dari data yang diberikan. Langkah-langkah pengolahan datanya adalah sebagai berikut : 1. Untuk masing-masing waktu pengambilan data kita gambarkan vectorvektor kecepatan angin (seperti pada point B). 2. Untuk data kecepatan angin dikonversikan dari satuan knot menjadi cm/detik. 1 knot = 44,703 cm/detik. 3. Tentukan resultan dari vector plot kecepetan angin. 4. Lakukan interpretasi pengaruh angin terhadap pergerakan arus dengan bertambahnya kedalaman (bandingkan dengan point B dan C).

D. Arus Residu, Arus Pasut a. Arus Residu Dalam praktikum ini akan menganalisis tentang arus residu untuk mengetahui pengaruh arus yang dominan dalam pembentukan arus residu tersebut. Adapun cara pengolahannya sebagai berikut : 1. Waktu total pengamatan ( T ) merupakan data awal yang diketahui. 2. Interval waktu antara dua pembacaan (T) merupakan data awal yang diketahui. 3. Kecepatan arus ( V )merupakan data awal yang diketahui. 4. Arah dengan satuan derajat merupakan data awal yang diketahui. 5. Perpanjangan kolom air yang melalui current meter selama waktu antara dua pembacaan disebut juga sebagai jarak ( D). D = V x T 6. Kecepatan arah Timur-Barat (Vx) Vx = V sin (Arah) 7. Jumlah total kecepatan arah Timur-Barat ( 8. Kecepatan arah Utara-Selatan (Vy) Vy = V cos (Arah) 9. Jumlah total kecepatan arah Utara-Selatan ( ) )

10. Jarak dalam arah Timur-Barat (Dx) Dx = D sin (Arah) 11. Jumlah total jarak dalam arah Timur-Barat ( 12. Jarak arah Utara-Selatan (Dy) Dy = D cos (Arah) 13. Jumlah total jarak arah Utara-Selatan ( 14. Menghitung nilai Vx rata-rata (Vrx) dan nilai Vy rata-rata (Vry)

15. Menghitung nilai A dan B 16. Menghitung perpindahan residu dan menentukan magnitude kecepatan arus residu ( ( ) )

b. Arus Pasut 1. Menghitung komponen arus pasut ( R )

2. Menghitung arah komponen pasut ( ) ( )