Anda di halaman 1dari 5

Fenomenologi sebagai suatu gerakan filsafat hingga memperoleh bentuk seperti sekarang ini, pertama kali diintrodusir oleh

filsuf Jerman Edmund Gustav Aibercht Husserl, lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari keluarga yahudi. Di universitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika, dan filsafat. Mulanya di Leipzig kemudian juga di Berlin dan Wina. Di Wina ia tertarik pada filsafat dari Brentano. Dia mengajar di Universitas Halle dari tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916 dan akhirnya di Freiburg. Dalam beberapa waktu, ia sempat terkenal sebagai orang yang ahli dalam bidang matematika di Berlin. Namun keahliannya di bidang matematika tidak menghalanginya untuk terus menekuni bidang filsafat. Ia menekuni bidang filsafat di bawah arahan Brentano, dan akhirnya Husserl sebagai seorang muridnya banyak dipengaruhi oleh Brentano1, yang mempunyai pengaruh besar di Universitas Wina. Suatu tempat yang mempunyai peran memadukan pemikiran skolastik dan empirisisme. Pola pikir Wina ini telah mempengaruhi Husserl yang ditandai dengan adanya ajaran intensionalitas. Pengaruh itu juga diakui oleh Mary Warnoct dengan berpendapat bahwa: Husserl as well known, referred to this programme as the origin of phenomenology: his conversion of the scholastic concept of intentionality into a descriptive root-concept of psychology constitutes a great discovery2. Disinilah dia menyerap kedalaman filsafat dan sekaligus membuka wawasannya. Dia memandang Brentano tidak sebatas guru melainkan sebagai sosok yang mampu mengubah jalan hidupnya yang sempat keterjeng keragu-raguan untuk menjatuhkan pillihan apakah tetap menekuni matematika sebagai profesi ataukah filsafat. Brentano adalah figure yang mengubahnya menjadi berani memilih filsafat dari pada matematika. Ia juga mengajar sebagai dosen tamu di Berlin, London, Paris, dan Amsterdam, dan Prahara. Husserl meninggal pada tahun 1938 di Freiburg. Untuk menyelamatkan warisan intelektualnya dari kaum Nazi, semua buku dan catatannya dibawa ke Universitas Leuven di Belgia. Husserl meninggal dunia di Freiburg pada tanggal 27 April 1938 dalam usia 79 tahun akibat penyakit pneumonia.

Smith, Barry, and DavidWoodruff Smith (ed.). 1995. The Cambridge Companion toHusserl, USA: Camrbidge University Press. 2 Huijbers, Teo. 1986. Manusia Merenungkan Makna Hidupnya, Yogyakarta: Kanisius.

Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani : phainestai yang berarti menunjukan dan menampakan diri sendiri. Sebagai aliran epistemologi, fenomenologi di perkenalkan oleh Edmund Husserl (1859-1938), meski sebenarnya istilah tersebut telah digunakan oleh beberapa filsuf sebelumnya. Secara umum pendangan fenomenologi ini bisa dilihat pada dua posisi, yang pertama ia merupakan reaksi terhadap dominasi positiveme sebagaimana di gambarkan di atas, dan yang kedua, ia sebenarnya sebagai kritik terhadap pemikiran kritisisme Imanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomenon fenomenon. 3 Seperti yang telah kita ketahui, konsepsi Kant tentang peoses pengetahuan manusia adalah suatu proses sintesa antara apa yang mereka sebut

dengan apriori dan aposteriori. Pertama merupakan aktivitas rasio yang aktif dan dinamis dalam membangun, dan berfungsi sebagai bentuk (form) pengetahuan. Sedangkan yang kedua merupakan terapan pengalaman yang berfungsi sebagai isi (matter) pengetahuan, yang terdiri dari fenomena objek. Karena rasio bersifat aktif dalam mengkonstruk fenomena menjadi pengetahuan sesuai dengan kategori kategori rasio, maka pengetanuan manusia tidak mungkin menjangkau noumena.4 Dari sini tampak bahwa Kant menggunakan kata fenomena untuk

menunjukan penampakan sesuatu dalam kesadaran sedangkan noumena adalah realitas ( das Ding an Sich) yang berada di luar kesadaran pengamat. Menurut Kant, manusia hanya dapat mengenal fenomena fenomena yang nampak dalam kesadaran, bukan noumena yaitu realitas di luar ( berupa benda benda atau nampak tetap menjadi objek kesadaran kita ) yang kita kenal. Noumena yang selalu tetap menjadi teka teki dan tinggal sebagai x yang tidak dapat di kenal karena ia terselubung dari kesadaran kita. Fenomena yang nampak dalam kesadaran kita ketika berhadapan dengan realitas ( noumena ) itulah yang kita kenal. Melihat warna merah, misalnya tidak lain adalah hasil terapan indra yang membentuk pengalaman batin yang diakibatkan oleh sesuatu dari luar. Warna merah itu sendiri merupakan realitas yang tidak di kenal pada diri sendiri. Ini berarti kesadaran kita tertutup dan terisolasi dari realitas. Demikianlah, Kant sebenarnya mengakui adanya realitas
3

Muslih Mohammad, Filasat ilmu ( kajian atas asumsi dasar paradigma dan kerangka teori ilmu pengetahuan) , Yogyakarta : Penerbit Belukar, 2008 , hal. 144 4 Ibid hal. 145

eksternal yang berada di luar diri manusia, yaitu sebuah realitas itu ia sebut das Ding as Sich (objek pada dirinya sendiri) atau noumena, tetapi menurutnya, manusia tidak ada sarana ilmiah untuk mengetahuinya. Sebagai reaksi terhadap pemikiran sebelumnya, maka berikut ini akan dibahas dua pandangan fenomenologi yang cukup penting yaitu prinsip epoche dan eidetic vision dan konsep dunia kehidupan. Jadi , Fenomenologi adalah ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelat kesadaran5. Pertanyaannya, bagaimana esensi-esensi tersebut, tanpa terkontaminasi kecenderungan psikologisme dan naturalisme. Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Tanpa penundaan asumsi naturalisme dan psikolgisme, kita akan terjebak pada

dikotomi. Dikotomi diartikan sebagai klasifikasi ke dalam dua kelas sebagai sifatsifat paradoks yang berpasangan, pembagian dua konsep yang bertentangan satu sama lain (subyek-obyek yang menyesatkan/bertentangan satu sama lain).

Tujuan epoche adalah mengembalikan sikap kita kepada dunia, yakni sikap yang menghayati, bukan memikirkan benda-benda. Contohnya, saat mengambil gelas, saya tidak memikirkan secara teoritis (tinggi, berat dan lebar) melainkan menghayatinya sebagai wadah penampung air untuk diminum. Ini yang hilang dari pengalaman kita, kalau kita menganut asumsi naturalisme. Dan ini yang kembali dimunculkan oleh Husserl. Akar filosofis fenomenologi Husserl ialah dari pemikiran gurunya, Franz Brentano. Dari Brentanolah Husserl mengambil konsep filsafat sebagai ilmu yang rigoris, Rigoris merupakan suatu sikap pikiran di mana dalam pertentangan pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan, bersikeras mempertahankan pandangan yang sempit dan ketat (sikap pikiran di mana dalam pertentangan pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan). Sebagaimana juga bahwa filsafat terdiri atas deskripsi dan bukan penjelasan kausal.

Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif, Yogyakarta: Jalasutra, 2005, hlm. 151

Setelah tahun 1908 Fenomenologi Husserl

menjadi fenomenologi

Transendental. Dia berpendapat dalam periode ini bahwa kesadaran bukan bagian dari kenyataan, melainkan asal dari kenyataan. Husserl menolak kesadaran bipolaritas (kesadaran dan alam, subyek dan obyek). Artinya kesadaran tidak menemukan obyek-obyek. Obyek-obyek diciptakan oleh kesadaran. Dengan pendapat ini, Husserl dekat dengan idealisme. Bagi ilmu-ilmu, kesadaran dan alam memang tampak sebagai dua pola dalam kenyataan, namun harus dipasang dalam suatu ideologi idealitas yang hanya masih menerima satu pola, yaitu kesadaran. Salah satu hal yang muncul sebagai hasil fenomenologi Husserl ialah perhatian baru untuk intensionalitas kesadaran6. Kesadaran kita tidak dapat dibayangkan tanpa sesuatu yang disadari. Supaya ada kesadaran memang diandaikan tiga hal, yaitu bahwa ada suatu subyek yang terbuka untuk obyek-obyek yang ada. Fakta bahwa kesadaran selalu terarah kepada obyek-obyek disebut intensionalitas (dari kata intendere artinya menuju ke). Kiranya tidak tepat mengatakan bahwa kesadaran mempunyai intensionalitas, karena kesadaran itu justru intensionalitas. Entah kita sungguh-sungguh melihat suatu pemandangan itu, bila kita masih menyadari perbedaan antara kedua kemungkinan ini maka kita tetap menyadari sesuatu. Kesadaran tidak pernah pasif melulu. Karena menyadari sesuatu berarti mengubah sesuatu. Hal yang disadari dijadikan sesuatu yang ada bagi saya. Kesadaran itu bukan berarti suatu cermin atau foto. Kesadaran itu suatu tindakan. Artinya terdapat interaksi antara tindakan kesadaran dengan obyek kesadaran. Namun interaksi ini tidak boleh dianggap sebagai kerjasama antara dua unsur yang sama penting. Karena akhirnya, hanya ada kesadaran, obyek yang disadari itu hanyalah suatu ciptaan kesadaran. Pengalaman subyek harus selalu dipandang sebagai pengalaman yang terlibat secara aktif dengan dunia. Kesadaran tidak tertutup dari dunia, tetapi selalu menuju, mengarah dan membuka pada dunia. Oleh karena itu kita tidak boleh memikirkan pengalaman dalam kesadaran manusia seperti obyek dalam kardus.

Hamersma, Herry, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1983. hlm. 117

Pengalaman bukan sebuah celah yang mana dunia, hadir terpisah darinya, menerobos masuk. Itu tidak sama halnya dengan menarik sesuatu yang asing ke dalam kesadaran. Pengalaman adalah pagelaran yang mana bagi saya, sosok yang mengalami, wujud yang dialami ada di sana dan di sana sebagaimana adanya dengan seluruh muatannya dan modus berada di mana pengalaman sendiri. Lewat intensionalitas, yang melekatkannya7. Supaya dengan intuisi kita dapat menangkap hakekat obyek-obyek, maka dibutuhkan tiga reduksi. Reduksi-reduksi ini yang menyingkirkan semua hal yang mengganggu kalau kita ingin mencapai wesenschau Reduksi pertama:

menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. Sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus diajak bicara. Dua: menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki dan diperoleh dari sumber lain. Tiga: menyingkirkan seluruh reduksi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan oleh orang lain harus, untuk sementara dilupakan. Kalau reduksi-reduksi ini berhasil, gejala sendiri dapat memperlihatkan diri, menjadi fenomin (memperlihatkan diri).8

Gahral Adian, Donny, Percik Pemikiran Kontemporer (sebuah Pengantar komprehensif)

Yogyakarta: Jalasutra, 2005. Hal 141


8

Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, jakarta: Gramedia, 1983, hlm. 114