Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM AKUNTANSI BIAYA KAJIAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN KAYU DI DESA GRENDENG KABUPATEN BANYUMAS

Disusun oleh:

1. Aef Saepul Anwar 2. Julyta Nurul Astria 3. Ariyanto 4. Tita Kurniawati 5. Maman Fathurrohman

(A0A011014) (A0A011022) (A0A011030) (A0A011034) (A0A011048)

PROGRAM DIPLOMA TIGA AGROBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2012

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM KAJIAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN KAYU DI DESA GRENDENG KABUPATEN BANYUMAS

Disusun oleh: 1. Aef Saepul Anwar 2. Julyta Nurul Astria 3. Ariyanto 4. Tita Kurniawati 5. Maman Fathurrohman (A0A011014) (A0A011022) (A0A011030) (A0A011034) (A0A011048)

Untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh nilai kelulusan mata kuliah Akuntansi Biaya pada Program Diploma Tiga Agrobisnis Fakultas Pertanian UNSOED Diterima dan disyahkan pada tanggal Purwokerto.

Menyetujui, Dosen Pembimbing Praktikum Ketua Kelompok,

Ir. Hj. Pudji Hastuti, MP NIP. 195604251986012001

Maman Fathurrohman NIM. A0A011048

SURAT BUKTI PRAKTIKUM Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan Nama Perusahaan Alamat perusahaan :Bapak Sutarno : Pemilik :UD. Ripin : Jln. Bougenvil,24 Gerendeng Purwokerto Utara 53122. Tlpn 085 292 480 478 Berkaitan dengan adanya kegiatan praktikum lapang ke industri pengolahan kayu di desa gerendeng yang merupakan bagian dari mata kuliah Akutansi Biaya, maka dengan ini kami menyatakan bahwa 5 (lima) mahasisawa yang namanya tersebut di bawah ini telah melaksanakan praktikum di perusahaan kami, yang terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 5. Aef Saepul Anwar ( A0A011014 ) Julyta Nurul Astria ( A0A011022 ) Ariyanto (A0A011030) Tita Kurniawati (A0A011034) Maman Fathurrohman (A0A011048)

Demikian surat bukti praktikum ini kami buat dengan ketentuan bahwa segala sesuatu akan di ubah dan dipertimbangkan kembali sebagaimana mestinya apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini.

Purwokerto, 11 Desember 2012 Pemilik home industri pengolahan kayu

Bapak Sutarno

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME atas kebaikannya, sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan praktikum lapang tersebut laporan hasil praktikum Akuntansi Biaya untuk analisis kajian finansial Usaha Pengolahan Kayu di kelurahan Grendeng purwokerto utara Kami menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan yang bersangkutan serta kerjasama temanteman praktikum ini tidak mungkin dapat terwujud dengan baik. Kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ir. Hj. Pudji Hastuti, MP selaku pengampu yang telah memberikan arahan atas praktikum ini 2. Bpk Sutarno selaku pemilik sekaligus manager usaha pengolahan kayu yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan tentang praktikum yang kami lakukan. 3. Semua pihak yang telah mendukung baik moril maupun materil, sehingga dapat terselesaikan laporan praktikum ini. Besar harapan kami laporan praktikum ini dapat diterima. Sekian kami ucapkan terima kasih.

Purwokerto, 11 Desember 2012

Tim Penulis

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN...i KATA PENGANTAR...ii DAFTAR ISI.iii BAB I PENDAHULUAN.1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA...4 BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM.12 BAB IV HASIL PRAKTIKUM13 BAB V PEMBAHASAN...22 BAB VI PENUTUP...........29 DAFTAR PUSTAKA30 LAMPIRAN...31

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Akuntansi biaya merupakan proses pencatatan, penggolongan,

peringkasan, penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa dengan cara cara tertentu atau penafsiran. Oleh karena itu diperlukan akuntansi biaya, dimana akuntansi biaya : Berfungsi untuk mengukur pengorbanan nilai masukan, Menghasilkan informasi bagi manajemen, Apakah kegiatan usahanya menghasilkan laba atau tidak? 1. Menentukan harga pokok a. Memenuhi kebutuhan pihak luar perusahaan Mencatat, menggolongkan, meringkas biaya, pembuatan produk/penyerahan jasa. Biaya : biaya historis. Tunduk pada prinsip akuntansi.

b. Memenuhi kebutuhan manajemen Mencatat, menggolongkan, meringkas biaya, pembuatan produk/penyerahan jasa. Biaya : biaya historis. Tunduk pada prinsip akuntansi.

B. Metode penentuan biaya produksi Cara memperhitungkan unsur unsur biaya kedalam cost produksi ada 2 pendekatan 1. Full Costing jangka panjang ( 1 tahun ) Full Costing adalah penentuan Cost produksi dengan memperhitungkan semua unsure unsure biaya produksi kedalam Cost produksi baik yang berperilaku Tetap maupun Variabel. Terdiri atas biaya bahan baku, biaya Tenaga Kerja Langsung, dan Biaya Overhead pabrik. 2. Variabel Costing jangka pendek ( 1 periode produksi )

Variabel

Costing

adalah

penentuan

Cost

produksi

dengan

memperhitungkan semua unsure unsure biaya produksi yang berperilaku Variabel kedalam Cost produksi. Terdiri atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya operasional pabrik Variabel. C. Menurut perilakunya a. BOP tetap adalah yang tidak berubah dalam kisaran perubahan volume kegiatan tertentu. b. BOP variabel adalah BOP yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. c. BOP semi variable adalah yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan tertentu. D. Persediaan dalam perusahaan manufaktur a. Persediaan bahan baku ( bahan mentah ) ialah bahan baku yang belum digunakan dalam proses produksi, biasanya masih tersimpan dalam gudang BB b. Persediaan barang ( pabrik ) dalam proses ialah merupakan bahan ( material ) yang belum selesai dalam proses produksi. Elemen barang dalam proses seperti diatas : Biaya Bahan Baku ( BBB ) Biaya Tenaga Kerja Langsung ( BTKL ) Biaya Overhead Pabrik ( BOP )

c. Persediaan Barang ( produk ) jadi ( selesai ) Merupakan barang ( material ) yang sudah selesai diproduksi & telah siap untuk dijual. Biasanya disimpan dalam gudang barang jadi. E. Harga Pokok Penjualan Kegiatan utama perusahaan dagang adalah membeli dan menjual barang. Nilai penjualan barang dagang dicatat sebagai penjualan, sedangkan nilai barang yang sudah terjual dicatat sebagai harga pokok penjualan.

Harga Pokok Penjualan ( HPP ) adalah harga perolehan barang dagang yang terjual, yaitu persediaan awal barang dagang ditambah pembelian bersih dikurangi persediaan akhir barang dagang.

Break Event Point adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari antara biaya tetap, biaya Variabel, keuntungan dan volume kegiatan, sering pula disebut Cost Profit volume analisis ( C.P.V. analisis ). Masalah Break-event baru muncul apabila suatu perusahaan disamping mempunyai biaya variable juga mempunyai biaya teteap. Manfaat Break-Even point : 1. Menentukan posisi laba/rugi perusahaan. 2. Menentukan penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. 3. Menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu.

F. Tujuan praktikum

1. Menyusun pengelompokan biaya berdasarka prilaku biaya, 2. Menghitung biaya, penerimaan dan pendapatan (keuntungan), 3. Menghitung harga pokok produksi, 4. Menghitung harga pokok penjualan, 5. Menghitung titik impas (break-even piont), 6. Menghitung mergin of safety (MOS), 7. Menghitung shut-down point, 8. Menghitung degree of operating leverage, 9. Menghitung laba kontribusi (kontribusi marjin)

II TINJAUAN PUSTAKA

a. Biaya Menurut Hansen dan Mowen (2004:40),biaya didefinisikan sebagai kas atau nilaie kuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberikanmanfaat saat ini atau di masa yang akan datang bagiorganisasi. Menurut Harnanto dan Zulkifli (2003:14), biaya adalah sesuatu yang berkonotasi sebagai pengurangyang harus dikorbankan untuk memperoleh tujuan akhir yaitu mendatangkan laba. Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu Yang Dibiayai. Biaya dibagi menjadi 2 golongan, yaitu: Biaya Langsung (direct cost), merupakan biaya yang terjadi dimana penyebab satusatunya adalah karena ada sesuatu yang harus dibiayai. Dalam kaitannya dengan produk, biaya langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya Tidak Langsung (indirect cost), biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai, dalam hubungannya dengan produk, biaya tidak langsung dikenal dengan biaya overhead pabrik. Rumus biaya: TC= FC+VC Keterangan: TC: Total Cost (biaya) FC: Fix Cost (biaya tetap) VC: Variable Cost (biaya variable)

Penerimaan Total Revenue atau penerimaan adalah seluruh pendapatan yang diterima dari hasil penjualan barang pada tingkat harga tertentu. Rumus Penerimaan: TR=PxQ Keterangan: TR: Total Revenue (penerimaan) P: Price (harga) Q: Quantity (kuantitas) Keuntungan (Laba) Commite On Terminology (Sofyan Syafri H.,2004) dalam Aliyal Azmi (2007:12) mendefinisikan laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi. Menurut Stice, Skousen (2009:240) laba adalah pengambilan atas investasi kepada pemilik. Hal ini mengukur nilai yang dapat diberikan oleh entitas kepada investor dan entitas masih memiliki kekayaan yang sama dengan posisi awalnya. Menurut Suwardjono (2008 : 464), laba dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan diatas biaya (biaya total yang melekat dalam kegiatan produksi dan penyerahan barang / jasa) Menurut Belkaoui (1993), Laba merupakan suatu pos dasar dan penting dari ikhtisar keuangan yang merniliki berbagai kegunaan dalam berbagai konteks. Laba pada umumnya dipandang sebagai suatu dasar bagi perpajakan, determinan pada kebijakan pembayaran dividen, pedoman investasi, dan pengambilan keputusan, dan unsur prediksi. Rumus Laba : Laba / Keuntungan TR: Total Revenue

Keterangan:

TC: Total Cost

b. Harga Pokok Produksi Pengertian harga pokok produksi menurut Hansen dan Mowen dalam bukunya Management Accounting adalah sebagai berikut : Harga pokok produksi adalah mewakili jumlah biaya barang yang diseleseikan pada periode tertentu.(2004 ; 48) Pengertian harga pokok produksi menurut Supriyono dalam bukunya Sistem Pengendalian Manajemen adalah sebagai berikut : Harga pokok produksi adalah aktiva atau jasa yang dikorbankan atau diserahkan dalam proses produksi yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik dan termasuk biaya produksi. (2002 ; 11) Pengertian harga pokok produksi menurut Garrison/Norren yang diterjemahkan oleh A. Totok Budi Santoso dalam bukunya Akuntansi Manajemen, menyatakan bahwa: Harga pokok produksi adalah sejumlah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik yang terjadi selama periode tertentu dan berkaitan juga dengan barang-barang setengah jadi. Pengertian harga pokok produksi menurut Garrison/Norren yang diterjemahkan oleh A. Totok Budi Santoso dalam bukunya Akuntansi Manajemen, menyatakan bahwa: Harga pokok produksi adalah sejumlah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik yang terjadi selama periode tertentu dan berkaitan juga dengan barang-barang setengah jadi. Metode Penentuan Harga Pokok Produksi Informasi biaya sangat bermanfaat untuk menentukan harga pokok produksi yang dihasilkan oleh perusahaan. Ada dua metode pendekatan didalam menentukan harga pokok produksi, yaitu :

a.

Full Costing

Metode penentuan harga pokok produksi yang membebankan seluruh biaya produksi sebagai harga pokok produksi yaitu : Full Costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi kedalam harga pokok produksi, yang terdiri dari : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik ysng bersifat variabel maupun tetap. ( Mulyadi, 1991,18 ) Penentuan Harga Pokok Produksi

Dengan Pendekatan metode Full Costing Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead Pabrik Variabel Biaya Overhead Pabrik Tetap XXX XXX XXX XXX + Harga Pokok Produksi XXX

b.

Variabel Costing

Metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya-biaya produksi yang bersipat variabel kedalam harga pokok produksi atau secara keseluruhan dapat didefenisikan sebagai berikut : Variabel costing adalah penentuan harga pokok yang hanya

memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel kedalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Penentuan Harga Pokok Produksi

Dengan Pendekatan Metode Variabel Costing Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead Pabrik Variabel XXX XXX XXX + Harga pokok Produksi XXX

c. Harga Pokok Penjualan Pengertian harga penjualan menurut Mulyadi (1997:349) dalam buku yang berjudul Akuntansi Manajemen adalah sebagai berikut: Harga jual suatu produk terbentuk dipasar sebagai interaksi antara jumlah permintaan dan penawaran dipasar. Harga pokok penjualan menurut Garisson/Norren dalam bukunya Akuntansi Manajer yang diterjemaahkan oleh A. Totok Budisantoso mengemukakan pengertian haarga jual sebagai berikut: Harga penjualan adalah biaya produksi ditambahkan kepersentase mark up atau laba. Harga pokok penjualan menurut Gill dan Chatton yang diterjemahkan oleh Prabaningtyas (2008:15), "Harga pokok penjualan (HPP), yaitu biaya pembuatan atau hrga pembelian yang melekat pada produk barang jadi yang dikirim dari pemasok ke pelanggan" Rumus Harga Pokok Penjualan: Harga pokok penjualan (HPP) = persediaan awal + pembelian bersih persediaan akhir

d. Titik Impas (Break Event Point) Break Event Point adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari antara biaya tetap, biaya Variabel, keuntungan dan volume kegiatan, sering pula disebut Cost Profit volume analisis ( C.P.V. analisis ).

Break Event Point adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi. Dengan kata lain, suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan atau revenue(penghasilan) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. Dan analisis Break Event adalah suatu cara untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu usaha tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh laba (dengan kata lain sama dengan nol). (Mulyadi,2001:230) Break Even Point adalah Posisi dimana perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian. BEP atau titik impas sangat penting bagi manajemen untuk mengambil keputusan untuk menarik produk atau mengembangkan produk, atau untuk menutup anak perusahaan yang profit center atau mengembankannya.(Darsono

Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:121)

Rumus Break Even Point (BEP)/Impas:

e. Margin of Safety (MOS) Margin of Safety menurut Syahrul dan Muhammad Afdi Nizar, Margin of Safety (batas keselamatan adalah perbedaan antara tingkat penjualan aktual dengan tingkat penjualan break even. Margin ini merupakan jumlah dimana penerimaan penjualan bisa turun sebelum kerugian terjadi, dan seringkali diekspresikan sebagai persentase dari penjualan yang dianggarkan.( Syahrul dan Muhammad Afdi

Nizar,2000:535)

Margin of Safety menurut Aliminsyah dan Padji, adalah suatu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat keamanan dari operasi suatu perusahaan yang menyangkut kemungkinan timbulnya kerugian atau permasalahan dalam penjualan produk yang tidak mustahil akan dialami perusahaan tersebut, dinyatakan dalam persentase.( Aliminsyah dan Padji, 2000:535)

Rumus Margin of Safety(MOS):

f. Titik Penutupan Usaha (Shut-down Point) Menurut Darsono dan Ari (2008:125)Titik penutupan usaha yaitu informasi yang dibutuhkan oleh manajemen tentang berapa jumlah nilai penjualan minimum sehingga perusahaan tidak layak untuk dilanjutkan (atau harus ditutup). Menurut Dwi & Rifka (2008:199)Titik penutupan usaha (shut down point) adalah titik potong antara garis total biaya dan garis total penghasilan. Rumus Shut-down Point:

g. Degree of Operating Leverage(DOL) Degree of Operating Leverage yaitu rasio dari perubahan persentase laba operasi terhadap perubahan persentase unit yang terjual atau total pandapatan (Bambang Riyanto, 2000) Rumus Degree of Operating Leverage(DOL):

h. Kontribusi (contribution margin)Laba Menurut Machfoedz (1996:299) contribution margin adalah sisa hasil penjualan dikurangi dengan biaya variabel. Jumlah margin kontribusi akan bisa digunakan untuk menutup semua biaya tetap dan setelah biaya tetap tertutup maka sisanya untuk menghasilkan laba periode yang bersangkutan. Menurut Garrison (1997:249) contribution margin adalah jumlah yang tersisa dari hasil penjualan setelah biaya variabel dikurangkan, yang dapat digunakan untuk membantu menutup biaya tetap dan kemudian mendapatkan laba untuk periode yang bersangkutan.

Rumus Laba Kontribusi (contribution margin):

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM a. Lokasi dan waktu praktikum Lokasi praktikum RT 02 / 04 : Jln. Bougenvile no. 24 kelurahan Grendeng

Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas : Selasa, 11 Desember 2012

Waktu pelaksanaan

b. Metode praktikum : 1. Alat dan bahan Alat : Alat tulis dan Kamera Bahan : lokasi usaha pengolahan kayu di UD Ripin 2. Prosedur kerja : Mencari data primer dan sekunder denagn cara melakukan wawancara secara langsung c. Jenis dan cara pengambilan data praktikum Kegiatan praktikum yang kami lakukan adalah secara

berkelompok, yakni terdiri dari 5 orang yang dikoordinator oleh 1 orang Ketua kelompok dan selebihnya adalah anggota kelompok. Sedangkan cara pengambilan data praktikum dilakukan secara kolektif yang terdiri atas data primer dan sekunder, kelompok kami sebagian berkonsultasi kepada pemilik sebagian pengambilan data dengan cara mencatat hasil apa yang disampaikan oleh pemilik perusahaan kayu tersebut.

BAB IV HASIL PRAKTIKUM

a. Keadaan umum perusahaan 1. Sejarah Usaha/Perusahaan Usada Dagang Ripin merupakan usaha pengolahan kayu yang berdiri sejak tahun 1985 yang didirikan oleh bapak Sutarno, yang saat itu diawali dengan niatan untuk mengisi waktu luang dan kegemarannya terhadap proses pengolahan kayu. Dengan kegemarannya terhadap pengolahan kayu ia memberanikan diri untuk memulai usaha tersebut dengan bermodalkan satu batang pohon dan satu tenaga kerja, yang menghasilkan produk utama berupa sebuah kursi yang dininai oleh masyarakat mempunyai kualitas dan daya jual yang baik. Sehinga pak sutarno memiliki semangat untuk mendalami usaha tersebut. Dan usahanya mengalami kemajuan pada tahun 1992. UD Ripin adalah perusahaan manufaktur bergerak di bidang produksi dan pengolahan kayu, khususnya pembuatan mebel dan aksesoris yang mengintegrasikan nilai estetis, fungsional dan kenyamanan. UD R ipin memproduksi beragam jenis produk kayu olahan yang dirancang mengacu pada prinsip desain modern, diantaranya adalah kusen, pintu, jendela, dan berbagai jenis mebel dan aksesoris. 2. Aspek Produksi Aspek produksi dari kegiatan pengolahan kayu meliputi, dari penyediaan bahan baku, diantaranya, kayu jenis Albasia, Mahoni, dan Akasia, kemudian kayu tersebut diolah hingga menadi bahan jadi. Dan penyediaan tenaga kerja dalam pengolahannya, yang berjumlah 15 orang.

3. Aspek Pemasaran Aspek pemasaran dari kegiatan UD Ripin pada awalnya melalui mulut ke mulut, sehingga usaha pengolahan kayu UD Ripin berkembang pesat seiring dengan berjalannya waktu, dan saat ini Usaha Dagang Ripin dapat memasokkan hasil produksinya sampai keluar kota, seperti kota Cirebon, Jogya, dan Surabaya. b. Pengelompokan biaya Tabel 1. Jenis Peralatan yang digunakan untuk Produksi pengolahan kayu selama 1 bulan di UD Ripin November 2012. No Jenis peralatan Jumlah alat Harga beli (Rp) Umur ekonomis (thn) 1 Mesin serut kayu 2 3 Mesin kral Mesin bor kayu 4 Mesin bobok 5 Mesin lori 2 70.000.000 10 583.333 1.002.776 4 8.000.000 5 133.333 1 2 800.000 2.000.000 3 3 22.222 55.555 5 5.000.000 2 Biaya penyusutan / bulan (Rp) 208.333

Jumlah biaya peralatan

Biaya penyusutan : Alat serut kayu = =

= Rp. 208.333/ bulan

Mesin kral

= Rp. 22.222,-/ bln Mesin bor kayu = =

= Rp. 55.555,-/ bln Mesin bobok = =

= Rp. 133.333,-/ bln Mesin lori = =

= Rp. 583.333,-/ bln

Tabel 2. BOP tetap produksi pengolahan kayu selama 1 bulan diUD Ripin November 2012. No Jenis biaya jumlah Total biaya tetap / bulan (Rp) 1 Penyusutan peralatan : a. Mesin serut kayu b. Mesin kral c. Mesin bor kayu d. Mesin bobok e. Mesin lori f. Pajak usaha Jumlah tota BOP tetap 4 2 133.333 583.333 300.000 1.302.776 1 2 22.222 55.555 5 208.333

Tabel 3. BOP Variabel Produksi pengolahan kayu selama 1 bulan diUD Ripin November 2012 No Jenis biaya Volume penggunaan 1 Biaya bahan baku (kayu albasia,akasia dan mahoni) 2 Tenaga kerja Langsung 3 4 5 6 7 Cat kayu Amplas Biaya pemasaran Biaya telphon Biaya listrik Jumlah total BOP variabel 30 kaleng 3 meter 35.0000 60.000 1.050.000 180.000 120.000 50.000 380.000 107.780.000 15 HOK 1.200.000 18.000.000 80 kubik glondongan 1.100.000 Harga (Rp) Total biaya variabel (Rp) 88.000.000

Tabel 4. Hasil produksi utama selama 1 bulan di UD Ripin November 2012 No Jenis barang utama yang di produksi 1 2 3 4 5 6 7 Meja Kursi Dipan Lemari 1 pintu Lemari 2 pintu Meja belajar Pintu 50 75 20 15 16 25 30 200.000 200.000 400.000 1.700.000 2.000.000 200.000 500.000 10.000.000 15.000.000 8.000.000 22.500.000 32.000.000 5.000.000 15.000.000 Volume hasil Harga penerimaan (Rp)

produksi/bulan satuan (Rp)

8 9

Jendela Rak buku

60 90

175.000 80.000

10.500.000 7.200.000 125.200.000

Jumlah total penerimaan produk utama

Tabel 5. Hasil produksi sampingan selama 1 bulan di UD Ripin November 2012 No Jenis produksi sampingan Volume hasil produksi sampingan/bulan 1 2 Kayu bakar Serbuk kayu 8 box mobil 50 karung 350.000 5.000 Harga (Rp) Jumlah penerimaan (Rp) 2.800.000 250.000 3.050.000

Jumlah penerimaan produk sampingan

c. Biaya, penerimaan, Pendapatan Biaya tetap o Mesin serut kayu o Mesin kral o Mesin bor kayu o Mesin bobok o Mesin lori o Pajak Perusahaan 5 x Rp. 1.000.000 : 24 1 x Rp. 800.000 : 36 = Rp.208.333 = Rp. 22.222 = Rp. 55.555 = Rp. 133.333 = Rp. 583.333 = Rp. 300.000 + Total biaya tetap Biaya Variabel o Biaya kayu 80 kubik x Rp 1.100.000 o Tenaga kerja 15 HOK x Rp. 1.200.000 o Cat kayu 30 kaleng x Rp. 35.000 = Rp. 88.000.000 = Rp. 18.000.000 = Rp. 1.500.000 = Rp 1.302.776

2 x Rp. 2.000.000 : 36 2 x Rp. 4.000.000 : 60 2 x Rp. 35.000.000 : 120 Rp. 3.600.000 : 12

o Amplas 3 meter x Rp. 60.000 o Biaya pemasaran o Biaya telphon o Biaya listrik

= Rp. = Rp. = Rp. = Rp.

180.000 120.000 50.000 380.000 +

Total biaya variabel Total Biaya (TC) TC = FC + VC = Rp. 1.302.776 + Rp. 107.780.000

= Rp. 107.780.000

= Rp. 109.082.776 Total Penerimaan produk utama TR = Q x P o 50 meja x Rp. 200.000 o 75 kursi x Rp 200.000 o 20 dipan x Rp 400.000 o 15 lemari 1 pintu x Rp 1.700.000 o 16 lemari 2 pintu x Rp 2.000.000 o 25 meja belajar x Rp 200.000 o 30 pintu x Rp 500.000 o 60 jendela x Rp 175.000 o 90 rak buku x Rp 80.000 = Rp 10.000.000 = Rp 15.000.000 = Rp 8.000.000 = Rp 22.500.000 = Rp 32.000.000 = Rp 5.000.000 = Rp 15.000.000 = Rp 10.500.000 = Rp 7.200.000 Rp 125.200.000

Total Penerimaan produk sampingan o 8 box mobil kayu bakar x Rp 350.000 o 50 karung serbuk kayu x Rp 5000 = = Rp 2.800.000 Rp 250.000 3.050.000

Total penerimaan produksi pengolahan kayu di UD Ripin = Totap penerimaan dari produk utama + total penerimaan produk sampingan = Rp 125.200.000 + Rp 3.050.000 Pendapatan () = TR TC = Rp 128.250.000 Rp. 109.082.776 = Rp 19.167.224 = Rp 128.250.000

d. Harga pokok produksi Metode Full Costing Biaya bahan baku Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead Pabrik Variabel Biaya Overhead Pabrik Tetap = Rp 88.000.000 = Rp 18.000.000 = Rp 107.780.000 = Rp 1.302.776

Harga pokok produksi Metode Varaibel Costing Biaya bahan baku Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead Pabrik Variabel

= Rp 215.082.776

= Rp 88.000.000 = Rp 18.000.000 = Rp 107.780.000 =Rp213.780.000

Jumlah

Pendapatan penjualan Biaya variabel

Rp 128.250.000 Rp 107.780.000

100 84.04

Laba kontribusi Biaya tetap Rp 20.470.000 Rp 1.302.776

5,96 1,02

Laba bersih Rp 19.167.224 14,95

e. Harga pokok penjualan (HPP) Harga pokok penjualan sama dengan harga pokok produksi karena tidak ada persediaan akhir. HPP = Rp 213.780.000 0 = Rp 213.780.000

f. Titik Impas ( Break- even Point)

= = Rp 8.142.350 g. Margin of Safety

= = 93,65 % h. Titik Penutupan Usaha (Shut-down Point) Asumsi biaya tunai dalam pemasaran hasil produk pengolahan kayu sebesar Rp 700.000

= =Rp 4.385.964 i. Laba Kontribusi Laba Kontribusi = Penerimaan Total Biaya Variabel = Rp 128.250.000 - Rp 107.780.000 = Rp 20.470.000

BAB V PEMBAHASAN

Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang memproses bahan mentah hingga berubah menjadi barang yang siap untuk dipasarkan, semua proses yang terjadi di UD Ripin umumnya melibatkan berbagai peralatan modern. Dalam melaksanakan praktikum Akutansi Biaya kami sepakat untuk mengamati Usaha Dagang Ripin untuk dijadikan sebagai objek pencarian data keuangan, perusahaan ini mengolah bahan baku kayu menjadikan hasil produk yaitu meabel atau peralatan rumah tangga. Pengelompokan biaya dalam UD Ripin terbagi menjadi biaya tetap, biaya variabel, BOP tetap dan BOP variabel. Biaya tetap adalah biaya peruahaan yang besarnya tidak dipengaruhi oleh volume kegiatan perusahaan, baik dalam produksi maupun dalam penjualan, biaya tetap ini termasuk gaji yang di keluarkan perusahaan untuk pegawai tetap , pembayaran bunga, sewa, depresiasi, dan biaya asuransi. Biaya variabel adalah biaya perusahaan yang besarnya sesuai dengan volume kegiatan usaha, contohnya biaya bahan baku. Biaya BOP variabel adalah BOP yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. BOP tetap adalah BOP yang tidak berubah dalam kisar perubahan volume kegiatan tertentu. biaya tetap UD Ripin terdiri peralatan seperti : mesin serut kayu, mesin krall, mesin bor kayu, mesin bobok, mesin lori dan pajak perusahaan. Biaya variabel UD Ripin terdiri dari bahan baku kayu, Tenaga kerja, Cat kayu, Amplas, Biaya pemasaran, Biaya telphon, Biaya listrik.

Dalam waktu sekali produksi (1 bulan) Usaha Dagang Ripin membutuhkan sebanyak 80 kubik glondong kayu, yang akan di jadikan sebagai meabel atau alat rumah tangga sebanyak 480 buah yang terdiri dari : meja, kursi, dipan, lemari 1 pintu, lemari dua pintu, meja belajar, pintu, jendela, dan rak buku. Dalam usahanya UD Ripin mempunyai 15 orang. Selain menghasilkan produk utama meabel atau alat rumah tangga, juga menghasilkan produk sampingan yaitu berupa serbuk kayu sebanyak 50 karung dan kayu bakar sebanyak 8 box mobil. Dalam waktu sebulan UD Ripin mendapatkan penerimaan sebesar Rp. 128.250.000 dengan penerimaan tesebut UD Ripin menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 19.167.224. Harga pokok produksi adalah penjumlahan dari 3 unsur biaya produksi, yaitu : bahan baku, upah tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. Metode penentuan harga pokok produksi : a) Full costing

Metode penentuan harga poko produksi yang bembebankan seluruh biaya produksi sebagai harga poko produksi, yaitu : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan BOP yang bersifat variabel dan tetap. Usaha Dagang Ripin memiliki HPP dengan metode full costing sebesar Rp. 215.082.776. b) Variabel costing

Metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang bersifat variabel kedalam harga pokok produksi atau secara keseluruhan, yaitu : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan BOP variabel. Usaha Dagang Ripin memiliki HPP dengan metode variabel costing sebesar Rp. 213.780.000. Titik impas

Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya). Sebelum memproduksi suatu produk, perusahaan terlebih dulu merencanakan seberapa besar laba yang diinginkan. Ketika menjalankan usaha maka tentunya akan mengeluarkan biaya produksi, maka dengan analisis titik impas dapat diketahui pada waktu dan tingkat harga berapa penjualan yang dilakukan tidak menjadikan usaha tersebut rugi dan mampu menetapkan penjualan dengan harga yang bersaing pula tanpa melupakan laba yang diinginkan. Hal tersebut dikarenakan biaya produksi sangat berpengaruh terhadap harga jual dan begitu pula sebaliknya, sehingga dengan penentuan titik impas tersebut dapat diketahui jumlah barang dan harga yang pada penjualan. Analisis break even sering digunakan dalam hal yang lain misalnya dalam analisis laporan keuangan. Dalam analisis laporan keuangan kita dapat menggunakan rumus ini untuk mengetahui: 1. 2. 3. tetap 4. Kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana Hubungan antara penjualan, biaya, dan laba Struktur biaya tetap dan variable Kemampuan perusahaan memberikan margin unutk menutupi biaya

perusahaan tidak mengalami laba dan rugi Selanjutnya, dengan adanya analisis titik impas tersebut akan sangat membantu manajer dalam perencanaan keuangan, penjualan dan produksi, sehingga manajer dapat mengambil keputusan untuk meminimalkan kerugian, memaksimalkan keuntungan, dan melakukan prediksi

keuntungan yang diharapkan melalui penentuan harga jual persatuan, produksi minimal, pendesainan produk, dan lainnya

Dalam penentuan titik impas perlu diketahui terlebih dulu hal-hal dibawah ini agar titik impas dapat ditentukan dengan tepat, yaitu: Tingkat laba yang ingin dicapai dalam suatu periode Kapasitas produksi yang tersedia, atau yang mungkin dapat

ditingkatkan Besarnya biaya yang harus dikeluarkan, mencakup biaya tetap

maupun biaya variable. Break even berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak

mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi, artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi itu dapat ditutupi oleh penghasilan penjualan. Total biaya( biaya tetap dan biaya variable) sama dengan total penjualan, sehingga tidak terjadi laba dan juga kerugian. Dalam UD Ripin mempunyai titik impas sebesar Rp 8.142.350, dengan titik impas tersebut artinya apabila pendapatan yang di peroleh UD Ripin sebesar Rp 8.142.350 atau dengan mendapatkan penerimaan penjualan sebesar Rp penjualan sebesar Rp 188.467.675 ( Rp 190.950.000 Rp 2.319.433 ). Dengan titik impas yang dihasilkan pemilik UD Ripin dapat mengetahui : a. Jumlah penjualan minimalyang harus dipertahankanagar perusahaan tidak mengalami kerugian. b. Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu. c. Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi. d. Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.

Break Eveb Point ( BEP ) akan bergeser atau berubah apabila: 1. Perubahan FC, terjadi sebagai akibat bertambahnya kapasitas

produksi, dimana perubahan ini ditandai dengan naik turunnya garis FC

dan TC-nya, maskipun perubahannya tidak mempengaruhi kemiringan garis TC. Bila Fcnaik BEP akan bergeser keatas atau sebaliknya. 2. Perubahan pada variabel cost ratio atau VC per unit, dimana

perubahan ini akan menentukan bagaimana miringnya garis total cost. Naiknya biaya VC per unit akan menggeser BEP ke atas atau sebaliknya. 3. Perubahan dalam sales price per unit. Perubahan ini akan

mempengaruhi miringnya garis total tevenue (TR). Naiknya harga jual per unit pada level penjualan yang sama walaupun semua biaya adalah tetap, akan menggeser kebawah atau sebaliknya. 4. Terjadinya perubahan dalam sales mix. Apabila suatu perusahaan

memproduksi lebih dari satu macam produk maka komposisi atau perbandingan antara satu produk dengan produk lain (sales mix) haruslah tetap. Apabila terjadi perubahan misalnya terjadi kenaikan 20% pada produk A sedangkan produk B tetap maka BEP pun akan berubah Apabila suatu perusahaan memproduksi lebih dari satu macam produk maka komposisi atau perbandingan antara satu produk dengan produk lain (sales mix) haruslah tetap. Apabila terjadi perubahan misalnya terjadi kenaikan 20% pada produk A sedangkan produk B tetap maka BEP pun akan berubah.

Mos (Margin of safety) Berhasil tidaknya suatu perusahaan pada umumnya ditandai dengan kemampuan manajemen di dalam melihat kemungkinan dan kesempatan di masa akan datang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena itu adalah tugas manajemen untuk merencanakan masa depan perusahaan, agar sedapat mungkin semua kemungkinan dan kesempatan di masa akan datang telah didasari oleh perusahaan dan telah direncanakan bagaimana menghadapinya sejak sekarang. Kegiatan pokok manajemen dalam merencanakan perusahaan adalah mengambil keputusan dalam memilih perumusan kebijaksanaan.

Manajer memakai margin pengalaman penjualan (margin of safety) untuk mengevaluasi kegiatan atau operasinya saat itu atau untuk mengukur resiko rencana bisnis baru. Semakin rendah margin of safety dari sebuah usaha, maka semakin tinggi resikonya. Sebaliknya semakin tinggi margin of safety penjualannya, maka semakin rendah tingkat resikonya.

Ukuran yang sering kali dipakai untuk menilai sukses tidaknya manajemen suatu perusahaan adalah laba yang diperoleh perusahaan. Dimana laba perusahaan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu : 1. Volume penjualan 2. Harga Jual Pokok 3. Biaya.

Apabila volume penjualan berubah sedangkan faktor-faktor yang lain (harga jual, ratio biaya variable, biaya tetap) tidak berubah maka perolehan laba juga akan berubah. Apabila harga jual per unit mengalami perubahan, sedangkan volume penjualan, biaya variable per unit, dan biaya tetap tidak berubah, maka perubahan laba akan juga mengalami perubahan. Sedangkan apabila biaya variabel per unit dan biaya tetap berubah sedangkan volume penjualan dan harga jual per unit tidak berubah, maka perolehan laba juga akan mengalami perubahan. Margin of safety adalah jarak dari penjualan nyata dengan tingkat break even (BE). Margin of safety merupakan hubungan antara volume penjualan yang dibudgetkan dengan volume penjualan pada titik impas. Apabila volume penjualan pada titik impas telah diketahui dan kemudian dihubungkan dengan penjualan yang dibudgetkan, maka,dapat diketahui batas keamanan yaitu berapa besar volume penjualan boleh turun asal perusahaan tidak menderita kerugian.

SHUT DOWN POINT adalah suatu titik di mana pada kondisi itu jika proses dijalankan maka perusahaan tidak akan mendapatkan laba tetapi juga tidak menimbulkan kerugian. Jika pabrik beroperasi pada kapasitas di bawah titik Shut Down Point maka pabrik akan mendapatkan rugi. Suatu usaha tidak layak secara ekonomis untuk dilanjutkan jika pendapatan penjualannnya tidak cukup untuk menutup biaya

tunainya.diketahui bahwa biaya tetap perusahaan tersebut sebesar Rp. 1.302.776 merupakan biaya tunai, titik penutupan usaha sebesar Rp. 4.385.964 . Hal ini berarti dibawah pendapatan penjualan sebesar Rp. 4.385.964, usaha perusahaan secara ekonomis tidak pantas dilanjutkan karena pendapatan penjualan dibawah jumlah terebut akan mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar biaya tunainya.

Laba Kontibusi Kelebihan pendapatan penjualan diatas biaya variabel Memberikan gambaran jumlah yang tersedia untuk menutup biaya tetap & menghasilkan laba. Semakin besar laba kontribusi, semakin besar kesempatan yang diperoleh perusahaan untuk menutup biaya tetap & untuk menghasilkan laba. Laba kontribusi perunit merupakan merupakan laba kontribusi dibagi dengan volume penjualan. Jika informasi laba kontribusi perunit dihubungkan dengan penggunaan sumber daya yang langka (scarce resources), manajemen akan memperoleh informasi kemampuan berbagai macam produk untuk menghasilkan laba. Informasi ini memberikan landasan bagi manajemen dalam pemilihan produk yang menghasilkan laba tertinggi.

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan Usaha pengolahan kayu pada UD Ripin dalam satu kali periode produksinya membutuhkan sebanyak 80 ubik glondongan yang akan dijadikan sebagai bahan utama untuk pembuatan mebel dan aksesoris seperti : meja, kursi, lemari dll, dimana pada awalnya pemasarannya dari mulut kemulut, hingga akhirnya UD Ripin dapat berkembang pesaat dengan seiring berjalannya waktu. Biaya yang dibutuhkan dalam satu kali periode produksi pengolahan kayu di UD Ripin sebesar Rp 109.082.776 denagn penerimaan penjualan sebesar Rp128.250.000, sehhingga dalam satu kali poroduksi UD Ripin mendapatkan keuntungan atau laba bersih sebesar Rp 19.167.224. Berdasarkan perhitungan BEP ( Break-even Point ) pada UD Ripin sebesar Rp 8.142.350, margin of safety pada UD Ripin 93,65 % , Titik Penutupan Usaha (Shut-down Point) Rp 4.385.964, Laba Kontribusi = Rp 20.470.000.

B. Saran Sebaiknya dalam pemasaran hasil produksi yaitu meabel bisa memanfaatkan teknologi moderen seperti membuat akun bloger yang memuat usaha tersebut, sehingga dalam pemasaranya tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas, sehingga tidak dapat menutup kemungkinan dapat menerima order dari luar kota maupun luar pulau yang dapat mempengarhui tingkat pendapatan.

DAFTAR PUSTAKA http://mbegedut.blogspot.com/2012/04/pengertian-definisi-harga-pokok.html http://celicarose.wordpress.com/2010/04/30/artikel-akuntansi/ http://sibukkerjatugas.wordpress.com/2011/12/13/konsep-laba-income-concept/ http://nneuivnieghina.wordpress.com/2011/12/29/hubungan-margin-kontribusidengan-perencanaan-laba-perusahaan/

LAMPIRAN