Anda di halaman 1dari 21

III. PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER (PLC) 3.

1 Tujuan
Setelah melaksanakan percobaan diharapkan mahasiswa dapat : a. Memahami prinsip kerja PLC b. Mengubah rangkaian kontrol konvensional menjadi rangkaian kontrol dalam bentuk ladder diagram dan kode mnemonic. c. Menginput program pengontrolan ke memori PLC dengan programming console dan komputer. d. Mengoperasikan rangkaian kontrol yang menggunakan PLC.

3.2 Teori Dasar


Dalam era globalisasi saat ini efisiensi menjadi tuntutan di segala bidang usaha sebagai salah satu kunci sukses dalam persaingan industri. Efisiensi industri berarti: a. Kecepatan dalam menghasilkan produk dari peralatan produksi b. Menurunkan biaya material dan efisiensi pemakaian tenaga kerja c. Meningkatkan kualitas d. Meminimalkan downtime dari mesin produksi. e. Biaya peralatan produksi murah. Programmable Controller memenuhi kebanyakan dari persyaratan diatas dan merupakan salah satu kunci dalam meningkatkan efisiensi produksi dalam industri. Berdasarkan pada standar yang dikeluarkan oleh National Electrical Manufactures Association (NEMA) ICS3-1978 Part.304 PLC didefinisikan sebagai berikut : PLC adalah suatu peralatan elektronik yang bekerja secara digital, memiliki memori yang dapat diprogram, menyimpan perintah-perintah untuk melakukan fungsi-fungsi khusus seperti logika, sequencing, timing, counting, dan aritmetika untuk mengontrol berbagai jenis mesin atau proses. Kelebihan PLC Beberapa persyaratan utama yang dimiliki oleh PLC. 1. Perangkat keras pengendalinya dapat diprogram dengan mudah dan cepat dan dapat diprogram ulang oleh pemakai. 2. Mampu beroperasi di industri tanpa memerlukan persyaratan lingkungan tertentu. 3. Mudah dipakai dan mudah dalam perawatan dan perbaikan. 4. Perangkat keras sistem kontrol tidak membutuhkan tempat dan daya yang besar.

3-1

5. Mampu berkomunikasi dengan sistem pusat pengumpul data untuk keperluan pemantauan operasi. 6. Dapat dikembangkan/ditambah struktur memorinya. 7. Biaya pemasangan dan operasi kecil. Struktur Kerja PLC Secara garis besar struktur kerja PLC dapat dijelaskan seperti pada Gambar 3.1.
Programming Device

Power Supply

Processor

Memori

Modul I/O

Input Device

Output device

Gambar 3.1. Struktur kerja PLC PLC bekerja berdasarkan data atau sinyal yang diterima dari peralatan luar (input device) seperti saklar, tombol atau sensor. Data yang masuk berupa sinyal-sinyal analog dan kemudian diubah oleh modul input menjadi sinyal-sinyal digital. Selanjutnya data yang telah diubah tersebut diproses di Central Processing Unit (CPU) dalam PLC. Sinyal tersebut diproses sesuai dengan program yang telah diinput ke dalam memorinya. Hasil kerjanya yang masih merupakan sinyal digital selanjutnya diteruskan ke modul output untuk diubah kembali menjadi sinyal-sinyal analog yang nantinya akan menggerakkan peralatan output (output device) seperti kontaktor atau relai. Modul I/O Modul I/O (Input-Output) adalah bagian dari PLC yang berfungsi mengubah sinyal dari peralatan input agar bisa diproses di CPU dan mengubah sinyal digital dari CPU menjadi sinyal analog ke peralatan output. PLC dengan tipe CPM1 mempunyai modul input yang tegangan kerjanya 24 volt. Tegangan 24 volt dihubungkan dengan pin COM sedangkan 0 volt dihubungkan dengan masing-masing peralatan input, atau bisa sebaliknya.

3-2

Output dari PLC CPM1 adalah bertipe kontak artinya secara internal terdapat kontak antara sepasang COM dengan pin 00, COM dengan pin 01 dan seterusnya. Karena ada kontak, maka dapat dihubungkan baik dengan tegangan AC (110/220 V) atau pun tegangan DC sehingga dapat digunakan untuk peralatan-peralatan output dengan tegangan kerja AC dan DC, tetapi perlu diperhatikan kemampuan arus dari kontaktor internal PLC.
COM
tombol tekan + 24 VDC Saklar batas

00 01 02 03

sensor

CPM1

04 05 06 07 08 09 10 11
Interlock contact 0 sensor cahaya

Gambar 3.2. Hubungan peralatan input dengan terminal input PLC Jenis input dan output dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan obyek yang akan dikontrol. Selain jenis peralatan input/output yang akan digunakan, perlu diperhatikan kebutuhan arus dari peralatan input. Apabila peralatan output yang akan diatur oleh PLC melebihi kemampuan arus dari internal PLC maka perlu diberi peralatan bantu sebagai interface sebelum ke peralatan yang membutuhkan arus besar.
fuse

COM 00 COM 01 COM 02


indikator

220 V 0

solenoid valve 24 V 0 motor listrik

CPM1

COM 03 COM
kontaktor

04
05 06 07

Gambar 3.3. Hubungan peralatan output dengan terminal output PLC 3-3

Jenis input dan output dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan obyek yang akan dikontrol. Selain jenis peralatan input/output yang akan digunakan, perlu diperhatikan kebutuhan arus dari peralatan input. Apabila peralatan output yang akan diatur oleh PLC melebihi kemampuan arus dari internal PLC maka perlu diberi peralatan bantu sebagai interface sebelum ke peralatan yang membutuhkan arus besar. Tipe modul I/O seperti dijelaskan di atas merupakan tipe digital. Selain itu juga terdapat modul I/O analog. Klasifikasi PLC OMRON berdasarkan kapasitas input/output ditunjukkan pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Klasifikasi PLC berdasarkan kapasitas I/O Jumlah nominal I/O 10 20 30 40 Input 6 point 12 point 18 point 24 point Output 4 point 8 point 12 point 16 point Power Supply AC DC AC DC AC DC AC DC Nomor model CPM1-10CDR-A CPM1-10CDR-D CPM1-20CDR-A CPM1-20CDR-D CPM1-30CDR-A CPM1-30CDR-D CPM1-40CDR-A CPM1-40CDR-D

Programming Device Programming device atau peralatan pemrograman yang biasa digunakan adalah seperangkat komputer dengan program syswin atau dengan menggunakan programming console. Jenis program yang biasa digunakan dalam pemrograman PLC adalah ladder diagram atau diagram tangga dan STL (statement list). Ladder Diagram Ladder diagram adalah suatu diagram mirip anak tangga yang menggambarkan urutan kerja dari sistem kontrol. Ladder diagram menggunakan simbol standar untuk merepresentasikan elemen rangkaian dan fungsi dalam sistem kontrol. Ladder diagram terdiri dari dua garis vertikal. Antara kedua garis-garis vertikal tersebut terdapat simbolsimbol switch contact normally open (NO), switch contact normally close (NC), timer, counter, dan output. Untuk menginput intruksi dalam bentuk ladder diagram ke PLC, digunakan komputer . STL (StatementLlist). Biasa juga disebut kode mnemonic. Statement list adalah suatu perintah untuk menuliskan ladder diagram di dalam pemrograman PLC yang dikembangkan oleh masing-masing pembuat PLC dan berbeda-beda cara penulisannya lewat unit pemrograman. Untuk menginput intruksi dalam bentuk kode mnemonic ke PLC, digunakan programming console. 3-4

Gambar 3.4 memperlihatkan elemen-elemen dasar PLC dan hubungannya dengan komputer sebagai peralatan pemrograman.

Gambar 3.4. Elemen-elemen dasar PLC yang dihubungkan dengan komputer sebagai peralatan pemrograman

Gambar 3.5. PLC CPM1-20CDR yang mempunyai 20 I/0 Sebagai peralatan komunikasi antara komputer dan PLC digunakan RS232C seperti pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6. 3-5

Sedangkan Gambar 3.7 memperlihatkan hubungan programing console dengan PLC.

Gambar 3.7. Hubungan programing console dengan PLC

Instruksi Dasar PLC Berikut ini menunjukkan beberapa instruksi dasar yang sering digunakan dalam pemrograman PLC. 1. LOAD (LD) Intruksi ini dibutuhkan jika urutan kerja pada suatu sistem kontrol hanya membutuhkan satu kondisi logika saja dan sudah dituntut untuk mengeluarkan satu output. Logikanya seperti kontak NO relai.

Gambar 3.8. Simbol ladder diagram untuk instruksi LOAD 2. LOAD NOT (LDNOT) Instruksi ini dibutuhkan jika urutan kerja pada suatu sistem kontrol hanya membutuhkan satu kondisi logika saja dan dituntut untuk mengeluarkan satu output. Logikanya seperti kontak NC relai.

Gambar 3.9. Simbol ladder diagram untuk instruksi LOAD NOT 3. AND Instruksi ini dibutuhkan jika urutan kerja pada suatu sistem kontrol membutuhkan lebih dari satu kondisi logika yang harus terpenuhi semuanya untuk mengeluarkan output. Logikanya seperti kontak NO relay. Gambar 3.10. Simbol ladder diagram untuk instruksi AND 3-6 satu

4. ANDNOT Instruksi ini dibutuhkan jika urutan kerja pada suatu sistem kontrol membutuhkan lebih dari satu logika yang harus terpenuhi semuanya untuk mengeluarkan satu output. Logikanya seperti kontak NC relay.

Gambar 3.11. Simbol ladder diagram untuk instruksi ANDNOT 5. OR Intruksi ini dibutuhkan jika urutan kerja pada suatu sistem kontrol membutuhkan salah satu dari beberapa kondisi logika untuk mengeluarkan satu output. Logikanya seperti kontak NC relay.

Gambar 3.12. Simbol ladder diagram untuk instruksi OR 6. ORNOT Intruksi ini dibutuhkan jika urutan kerja pada suatu sistem kontrol membutuhkan salah satu dari beberapa kondisi logika untuk mengeluarkan satu output. Logikanya seperti kontak NC relay.

Gambar 3.13. Simbol ladder diagram untuk instruksi ORNOT 7. OUT Instruksi ini berfungsi untuk mengeluarkan output jika semua kondisi logika ladder diagram sudah terpenuhi. Logikanya seperti kontak NO relay.

Gambar 3.14. Simbol ladder diagram untuk instruksi OUT

8. TIMER (TIM) Intruksi TIM (timer) dapat digunakan sebagai pewaktu delay-ON dan juga sebagai rangkaian delai. Sebenarnya instruksi TIM adalah instruksi pengurangan dari pewaktu yang membutuhkan nomor dari timer (mulai dari 0 hingga nomor terakhir ditentukan 3-7

sesuai dengan tipe PLC) dan nilai set (set value) yang berkisar dari 0000 sampai 9999 atau jika dikonversi ke dalam detik membentuk waktu 0 sampai 999,9 detik.
TIM N SV

N = Nomor timer #000 hingga #127 SV = Set Value (#0 9999)

Gambar 3.15. Simbol ladder diagram untuk instruksi TIMER 9. COUNTER (CNT) CNT (COUNTER) adalah sebuah alat penghitung. Penurunan bernilai satu hitungan setiap kali sebuah sinyal input berubah dari OFF ke ON. Counter harus diprogram dengan input hitung (CP), input reset (R), angka counter (N) dan nilai set (SV). Nilai set ini dapat berkisar dari 0000 sampai 9999.
CP CNT N R SV

= Nomor counter #0 12

SV = Set Value

Gambar 3.16. Simbol ladder diagram dari instruksi COUNTER Angka counter tidak boleh sama dengan angka timer karena keduanya terbagi dalam area data yang sama dalam memori PLC.

Dasar Pemrograman
Untuk membuat suatu program kontrol ke dalam PLC terlebih dahulu harus dilakukan hal-hal sebagai berikut. Membuat tabel perencanaan alamat internal input dan output dari PLC beserta peralatan yang terhubung dengannya.. Merancang ladder diagram. Jika menggunakan komputer sebagai peralatan pemrograman, maka instruksi dalam bentuk ladder diagram tersebut langsung diinput ke PLC. Menterjemahkan ladder diagram ke dalam kode mnemonic, jika menggunakan programming device sebagai peralatan pemrograman, kemudian menginputnya ke PLC. PLC yang telah diisi program dipasang pada sistem yang akan dikontrol.

Diagram alir pengoperasian PLC, diperlihatkan pada Gambar 3.17. 3-8

Gambar 3.17. Diagram alir pengoperasian PLC.

3-9

Jendela utama (main window) dari CX-Programmer diperlihatkan pada Gambar 3.18.

Gambar 3.18. Jendela utama CX-Programmer Prosedur pembuatan dan penginputan program (dengan CX-Programmer) pada PLC adalah sebagai berikut: - Aktifkan program CX-Programmer maka akan muncul tampilan pertama seperti pada Gambar 3.19(a). - Selanjutnya klik File New maka akan muncul tampilan seperti pada Gambar 3.19(b). Pada Device Type pilih CPM1(CPM1A), atau sesuai dengan tipe PLC yang akan digunakan. Pada Driver CPU Settings (Gambar c) CPU Type: pilih CPU20 (atau sesuai Tipe CPU yang akan digunakan). Pada Network Setting (Gambar d) Driver: Pilih Connection dan Data Format sesuai yang digunakan.

3-10

(a)

Klik File, New (b)

(c)

(d)

Gambar 3.19. Tampilan CX-Programmer dan Setting yang perlu dilakukan

- Setelah langkah-langkah tersebut di atas telah dilakukan maka muncul tampilan penyuntingan diagram tangga untuk CX Programmer 5.0, seperti pada Gambar 3.20. - Setelah program tersebut dibuat maka selanjutnya ditransfer ke PLC kemudian dijalankan dengan langkah sebagai berikut: Pada Menu PLC, klik Work Online, selanjutnya Transfer to PLC, dan Operating Mode Monitor (atau Run), seperti pada Gambar 3.21. 3-11

Gambar 3.20. Tampilan penyuntingan diagram tangga pada CX Programmer 5.0

Gambar 3.21. Transfer program ke PLC 3-12

Penginputan program dalam bentuk kode mnemonik dengan Programming Console Gambar 3.21 memperlihatkan programing console yang digunakan untuk melakukan pemrograman ataupun pengendalian secara langsung ke PLC. Pada console tersebut terdapat kunci yang dapat digerakkan ke tiga posisi sesuai dengan kerja yang diinginkan yaitu PROGRAM, MONITOR, dan RUN. o Program. Digunakan untuk membuat program atau membuat modifikasi atau perbaikan dari program yang telah ada. o Monitor. Digunakan untuk memantau atau mengubah setting dari counter dan timer ketika PLC sedang beroperasi. o RUN. Digunakan untuk mengoperasikan program tanpa bisa mengubah nilai setting awal seperti pada posisi monitor.

Gambar 3.22. Programming Console Pembagian fungsi dari console tersebut terdiri dari: o Komponen dasar program ladder: LD, digunakan untuk memasukkan input sebagai awal dari ladder. AND, digunakan untuk memasukkan input yang dihubung seri dengan input sebelumnya. OR, digunakan untuk memasukkan input yang dihubung paralel dengan input sebelumnya. NOT, digunakan bersama LD, AND atau OR untuk menandakan kontak NC (normally close), digunakan dengan OUT untuk menandakan output invers, dan untuk mendefinisikan fungsi aktif sesaat bila digunakan bersama FUN. 3-13

FUN, digunakan untuk memanggil fungsi yang diinginkan (contoh FUN (01) untuk fungsi END). SFT, digunakan untuk menampilkan operasi shift register. CNT, digunakan untuk fungsi COUNTER, maupun untuk output dari fungsi tersebut. TIM, digunakan untuk fungsi TIMER (mengeset penundaan waktu operasi), maupun untuk kontak output dari fungsi tersebut. OUT, merupakan output dari rangkaian. SHIFT, digunakan sebagai fungsi pengganti dari 4 tombol dengan kegunaan yang lebih, tertulis PLAY, RECord, Channel, dan CONTact. o Alamat dari operasi intruksi (DM, TR, LR, AR, CH, CONT, SHIFT) o Perintah pengoperasian console (EXT, CHG, SRCH, PLAY, DEL, MONTR, REC, INS, VER, PANAH ATAS/BAWAH). o Konfirmasi (WRITE) o Pembatalan perintah (CLR) o Entry numerik (0 - 9) Dari sisi software, console dipergunakan sebagai down load program ke PLC, dari sisi hardware untuk keperluan trouble shouting. Menginput Program Sebelum program diinput ke PLC, terlebih dahulu program yang masih berbentuk ladder diagram harus diubah kedalam bentuk kode nemonic. Untuk menginput proram baru kedalam memori PLC, memori PLC harus berada dalam keadaan kosong sehingga bila ada program lain dalam memori PLC, maka program tersebut terlebih dahulu harus dihapus. Menghapus program dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut (mode switch ke posisi program). Menekan tombol CLR sampai terlihat 00000 yang ditampilkan pada display, programming console. Memory PLC akan terhapus setelah menekan tombol berikut: SET NOT RESET

MONITOR

00000 MEMORY END HR CNT

CLR DM

Gambar 3.23. Tombol-tombol yang ditekan untuk menghapus memori. 3-14

Setelah memori kosong, tombol CLR ditekan sampai 00000 tampil dilayar. Setelah itu programmer dapat menginput instruksi-instruksi kedalam memori dan setiap selesai menginput satu instruksi diakhiri dengan menekan tombol WRITE. Mengedit Program Pada waktu menginput programing console, kadang-kadang terjadi kesalahan input. Apabila hal itu tersebut terjadi, maka data program yang salah tersebut harus dihapus. Untuk menghapus suatu data program dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut : Data yang akan dihapus dimunculkan pada monitor dengan menggunakan tombol panah atas atau bawah. Untuk menghapus data dilakukan dengan menekan tombol DEL pada programming console. Diakhiri dengan menekan panah ke atas. Untuk menyisipkan program dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Data yang berada di bawah data baru yang akan disisipkan dimunculkan pada monitor. Instruksi yang akan disisipkan diketik. Tombol INS ditekan. Diakhiri dengan menekan panah ke bawah.

3.3 Alat dan Bahan


1. PLC Omron CPM1-20CDR-A 2. Programming Console 3. Kontaktor 4. Obeng plat (-) 5. Obeng bunga (+) 6. Motor induksi tiga fasa atau beban listrik lainnya 7. Kabel-kabel

3-15

3.4 Langkah Percobaan


3.4.1. Pengontrolan Putaran Motor dalam Dua Arah Putaran Cara Kerja Sistem : Sistem di-ON dan di-OFF dengan 4 push button (PB). Jika PB 1 ditekan, maka motor berputar ke kanan (cw) ditandai dengan bekerjanya kontaktor 1 dan akan tetap berputar meskipun PB 1 dilepas. Motor akan OFF jika PB 2 ditekan. Jika PB 3 ditekan, maka motor berputar ke kiri (ccw) ditandai dengan bekerjanya kontaktor 2 dan akan tetap berputar meskipun PB 3 dilepas. Motor akan OFF jika PB 4 ditekan. Kontaktor 1 dan 2 tidak boleh bekerja bersamaan. Rangkaian daya dan rangkaian kontrol konvensional (wired logic) sistem tersebut diperlihatkan pada Gambar 3.24.

Gambar 3.24. Rangkaian daya dan kontrol pengoperasian motor dengan 2 arah putaran Langkah percobaan : 1. Buat tabel alamat dari peralatan input dan output pada PLC. 2. Buat ladder diagram dan kode mnemonic.yang memenuhi operasi seperti pada rangkaian kontrol konvensional.. 3. Masukkan program yang telah dibuat ke memori PLC dengan menggunakan komputer atau Programming Console (mode selector ke posisi program).

3-16

4. Hubungkan PLC dengan peralatan input dan output. 5. Amati cara kerja dari rangkaian dan bandingkan dengan sistem kontrol konvensional. 6. Buat analisisnya dan kesimpulan.

Gambar 3.25. Rangkaian pengawatan peralatan I/O dengan PLC untuk pengontrolan motor dalam dua arah putaran.

3.4.2 Pengontrolan Sistem Pemindah Barang Cara Kerja Sistem : Sistem berfungsi memindahkan barang dari satu tempat (A) ke tempat lain (B) dengan penggerak motor listrik. Waktu yang dibutuhkan dari tempat A ke B = 10 detik. Setelah sampai di B dibutuhkan waktu 5 detik untuk menurunkan barang tersebut. Setelah barang selesai diturunkan, motor berputar dengan arah balik untuk membawa tempat barang ke posisi A (dibutuhkan waktu 5 detik untuk sampai di A). Setelah sampai di tempat A dibutuhkan waktu 5 detik untuk menaikkan barang berikutnya untuk dibawa ke tempat B. Demikian seterusnya sampai sistem di-OFF-kan.

3-17

Langkah percobaan : 1. Buat tabel alamat dari peralatan input dan output pada PLC. 2. Buat ladder diagram yang memenuhi operasi seperti pada rangkaian konvensional. 3. Masukkan program yang telah dibuat ke memori PLC dengan menggunakan komputer atau Programming Console (mode selector ke posisi program). 4. Hubungkan PLC dengan peralatan input dan output. 5. Amati cara kerja sistem. 6. Buat analisisnya dan kesimpulan 7. Matikan sumber tegangan pada sistem dan percobaan selesai. Rangkaian pengujiannya dapat menggunakan rangkaian seperti pada Gambar 3.27 dengan hubungan peralatan I/O sesuai kebutuhan.

3.4.3 Pengaturan Lampu Lalu Lintas Cara Kerja Sistem : Salah satu aplikasi dari Timer adalah pengaturan lampu lalu lintas, yang terdiri dari 3 lampu yang menyala secara bergantian. Untuk memudahkan dalam simulasi, dimisalkan bahwa ketiga lampu tersebut menyala secara bergantian selama 5 detik. Diagram pewaktuannya diperlihatkan pada Gambar 3.26.

00001

00002

01000

01001

01002 5 det. 5 det. 5 det.

Gambar 3.26. Timing diagram simulasi pengaturan lampu lalu-lintas 3-18

Langkah percobaan : 1. Buat tabel alamat dari peralatan input dan output pada PLC. 2. Buat ladder diagram yang memenuhi operasi seperti pada rangkaian konvensional. 3. Masukkan program yang telah dibuat ke memori PLC dengan menggunakan komputer atau Programming Console (mode selector ke posisi program). 4. Hubungkan PLC dengan peralatan input dan output.

PROGRAMMING DEVICE: - KOMPUTER - PROGRAMMING CONSOLE

Peralatan Input
SW6 SW5 SW4

INPUT 11 10 09

OUTPUT 07

Peralatan Output

06

P
05 04

SW3 SW2 SW1

08 07 06

COM

PB6 05 PB5 04 PB4 03 PB3 02 PB2 01 PB1 00 MCB


COM

03 02
COM

01 CPM1A20CDR-A
COM

00
COM

220 VAC AC 220 V

24 VDC

MCB

220 V AC

Gambar 3.27. Rangkaian pengujian program aplikasi PLC 5. Amati cara kerja sistem. 3-19

6. Buat analisisnya dan kesimpulan 7. Matikan sumber tegangan pada sistem dan percobaan selesai. Rangkaian pengujiannya dapat menggunakan rangkaian seperti pada Gambar 3.27 dengan hubungan peralatan I/O sesuai kebutuhan. 3.4.4 Aplikasi Pengepakan Apel ke dalam Box Cara Kerja Sistem : PLC dapat digunakan untuk mengontrol proses pengepakan apel ke dalam boks (seperti pada Gambar 3.28a). Aplikasi semacam ini digolongkan pada aplikasi pengepakan (packing application), dan kasusnya bermacam-macam. Pada contoh aplikasi ini, ketentuannya adalah sebagai berikut: Saat tombol START diaktifkan (ON) maka konveyor pembawa boks akan jalan ON). Jika sensor boks (Sen_box) mendeteksi keberadaan boks maka konveyor pembawa boks akan berhenti dan konveyor pembawa apel mulai dijalankan. Sensor apel (Sen_Apel) akan menghitung hingga 10 buah apel, kemudian menghentikan konveyor pembawa apel (pencacah/counter apel akan direset) dan proses dijalankan dari awal lagi, demikian seterusnya hingga tombol STOP dipencet. Diagram pewaktuannya ditunjukkan pada Gambar 3.28b. Langkah percobaan : 1. Buat tabel alamat dari peralatan input dan output pada PLC. 2. Buat ladder diagram yang memenuhi operasi seperti pada rangkaian konvensional. 3. Masukkan program yang telah dibuat ke memori PLC dengan menggunakan komputer atau Programming Console (mode selector ke posisi program). 4. Hubungkan PLC dengan peralatan input dan output. 5. Amati cara kerja sistem. 6. Buat analisisnya dan kesimpulan 7. Matikan sumber tegangan pada sistem dan percobaan selesai. Rangkaian pengujiannya dapat menggunakan rangkaian seperti pada Gambar 3.27 dengan hubungan peralatan I/O sesuai kebutuhan.

3-20

(a)

(b) Gambar 3.28. (a). Sistem pengepakan apel ke boks (b). Diagram pewaktuan

3-21