Anda di halaman 1dari 10

RINITIS VASOMOTOR

PENDAHULUAN Istilah Rinitis Vasomotor telah dikenal cukup luas, namun sebenarnya dapat dianggap sebagai nama yang salah. Berdasarkan pengertiannya saat ini, rinitis vasomotor bukanlah gangguan alergi atau peradangan, meskipun kata itis rinitis menunjukkan suatu keadaan radang dari struktur anatomi yang terlibat. Gangguan vasomotor bukan suatu penyakit alergi dan juga bukan suatu reaksi inflamasi. Gejalanya mirip dengan rinitis alergi tetapi etiologi pasti belum diketahui. Rudiger (1966) menyebut vasomotor rhinopathia ini sebagai suatu rinitis, tetapi diduga sebagai gangguan keseimbangan fungsi vasomotor. Oleh sebab itu rinitis vasomotor ini sering juga disebut sebagai vasomotor catarrh, atau vasomotor rinorrhea, nasal vasomotor instability, atau juga non spesifik allergi rhinitis. Rinitis vasomotor didefinisikan sebagai suatu gangguan fisiologis mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya atau meningkatnya aktifitas parasimpatis. Gangguan mukosa hidung ini merupakan akibat dua kekuatan yang saling berlawanan, aktifasi saraf parasimpatis yang menyebabkan pelebaran jaringan vaskuler sehingga terjadi sumbatan dan peningkatan produksi mukus, sementara aktivitas saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi. Akibat yang ditimbulkan adalah patensi hidung dan menurunnya produksi mukus. dari

ETIOLOGI Sampai saat sekarang ini etiologi dari rinitis vasomotor masih belum jelas. Biasanya etiologi tersebut dihubungkan dengan berbagai faktor yang mempengaruhi peningkatan aktifitas saraf parasimpatis. Beberapa faktor tersebut antara lain: 1. Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis seperti, rouwolfia serpetina, ergotamin, chlorpromazin, obat anti hipertensi, alkohol dan obat vasokonstriktor topikal. 2. Faktor fisik, perubahan suhu ruangan, suhu udara, iritasi seperti asap rokok, kelembaban yang tinggi dan bau-bauan yang merangsang. 3. Faktor psikis seperti rasa cemas, frustasi tegang dan konflik kejiwaan lainnya. 4. Faktor endokrin, seperti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamil dan hipotiroidisme.

PATOGENESIS Saraf otonom mukosa hidung berasal dari nervus vdianus yang mengandung serabut saraf simpatis dan serabut saraf parasimpatis. Rangsangan pada saraf parasimpatis menyebabkan dilatasi pembuluh darah dalam konka serta meningkatkan permeabilitas kapiler dan sekresi kelenjar. Sedangkan rangsangan pada serabut saraf simpatis menyebabkan efek sebaliknya. Mekanisme yang terjadi sebenarnya pada saraf otonom belum diketahui dengan pasti, tetapi mungkin hipotalamus bertindak sebagai pusat penerima impuls eferen, termasuk rangsangan emosional dari pusat yang lebih tinggi.

Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung semetara, seperti emosi, posisi tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dan sebagainya, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut. Pada penderita rinitis vasomotor mekanisme ini menjadi hiperaktif dan cenderung saraf parasimpatis lebih aktif. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya rinitis vasomotor bekerja berdasarkan mekanisme di atas, untuk lebih jelasnya diuraikan di bawah ini: 1. Obat-obatan Penggunaan jangka panjang obat-obatan yang menekan dan menghambat saraf simpatis akan dapat menyebabkan terjadinya kongesti kronis dimana membran hidung menjadi peka terhadap iritan, terutama jika diberikan secara intermiten. Setelah vasokontrikksi awal, terjadi vasodilatasi sekunder yang dapat menyebabkan terjadinya sumbatan hidung menjadi semakin buruk. Pemakaian obat-obatantopikal juga dapat mengubah kerja silia dan memcahkan lapisan pelindung mukus pelindung dalam rongga hidung. 2. Faktor Fisik Udara dingin umumnya menyebabkan vasokonstriksi, sedangkan udara hangat menyebabkan pembengkakkan akibat vasodilatasi. Perubahan suhu

lingkungan yang mendadak dapat merangsang hidung dan/atau rinore. 3. Faktor Psikis Berbagai rangsangan psikis seperti frustasi dan pengalaman yang

memalukkan atau berbagai kejadian emosional lainnya akan menyebabkan 3

hidung memberikan respon yang mirip dengan respon terhadap rangsangan yang merusak jaringan. Umumnya dikatakan, rasa takut dan tak bersemangat menyebabkan mukosa hidung menciut dan pucat, sementara kecemasan, konflik, frustasi dan rasa benci menyebabkan hiperemia, edema dan hipersekresi. 4. Faktor Endokrin Peningkatan kadar estrogen seperti yang terjadi pada wanita hamil akan dapat menimbulkan kengesti hidung, begitu pula halnya dengan efek yang disebabkan pil KB. Mekanisme yang sama juga dapat ditimbulkan oleh keadaan hipotiroideme, miksedema dan obat-obat anti tiroid.

GEJALA KLINIS Gejala yang didapatkan pada rinitis vasomotor adalah sebagai berikut: Hidung tersebumbat bergantian antara kiri dan kanan tergantung pada posisi pasien. Rinore yang mukus atau serous, kadang-kadang agak banyak. Bersin-bersin (jarang) dan tidak terdapat rasa gantal di mata. Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur oleh karena adanya perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab dan juga oleh asap rokok dan sebagainya. Berdasarkan gejala klinis tersebut maka rinits vasomotor dapat dibedakan atas 2 golongan yaitu:

1. Golongan Obstruksi (blockers): dapat timbul sepanjang hari, obstruksi tergantung pada posisi sipenderita, dan sekret bersifat mukoid. 2. Golongan Rinore (sneezers): sekret banyak dan encer, timbul sebelum dan sesudah bersin (serous atau mukous).

DIAGNOSIS Ditetapkan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta mencari faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan keseimbangan saraf otonom tersebut dan menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Pemeriksaan fisik Riniskopi anterior edema pada mukosa hidung konka berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik), bisa juga didapati mukosa hidung pucat (dibedakan dengan rinitis alergika) Permukaan konka licin atau bisa juga berbenjol/tidak rata. Terdapat sekret mukoid pada rongga hidung (biasanya sedikit), pada golongan rinore didapatkan sekret serosa dan jumlahnya banyak.

DIAGNOSIS BANDING - Rinitis alergika

PEMERIKSAAN TAMBAHAN Pemeriksaan laboratorium Dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergika. Pada rinitis vasomotor biasanya tidak dijumpai eoosinofil atau jika ada jumlahnya sedikit (< 25 % dari sel yang diperiksa). Tes kulit biasanya (-), jika positif hal terbut hanyalah suatu kebetulan. Pemeriksaan histologis Edema mukosa, dilatasi pembuluh darah terutama sinusoid dan aktifitas kelenjar yang meningkat.

PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan tergantung pada faktor penyebab dan gejala yang menonjol. Penatalaksanaan dibagi dalam: 1. Tindakan menghindari faktor penyebab 2. Pengobatan simptomatis Dekongestan oral Diatermi

Diatermi submukosa dari mukosa hidung terutama bermanfaat bagi anakanak yang menderita pembengkakan menetap pada konka nasalis inferior. Dua pertiga usapan diatermi atau jarum pembakar yang merah panas yang digerakkan dari belakang ke depan dan mengenai konka nasalis inferior, baik melalui atau di bawah mukosa akan diikuti oleh pengerutan bersikatrik. 6

Kauterisasi konka yang hipertrofi dengan larutan AgNO3 25 % atau

triklorasetat pekat Kortikosteroid lokal (budesonid, flutikason propionat)

3. Operasi Dengan cara bedah beku, elektrokauter, atau konkotomi konka inferior. 4. Neurektomi nervus vidianus Dilakukan dengan pemotongan pada nervus vidianus, bila dengan cara di atas tidak memberikan hasil dan biasanya pada keadaan rinore berat dan sudah berlangsung lama. Tindakan neurektomi ini dapat menimbulkan komplikasi, yaitu: Sinusitis Diplopia Buta Gangguan lakrimasi Neuralgia Anestesis infraorbita dan anestesis palatum

PROGNOSIS Prognosis pada golongan obstruksi lebih baik dari pada golongan rinore. Hal ini disebabkan karena golongan rinore sangat mirip dengan alergi. Oleh sebab itu diperlukan anamnesis dan pemeriksaan yang teliti untuk memastikan diagnosis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kasakeyan E, Rinitis Vasomotor: Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokkan, editor Soepardi EA, Iskandar N, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, edisi ketiga, cetakan ke-2, Jakarta, 1998: 107-8. 2. Boeis s, Fundamental of Otolarygology, 5th ed., WB Saunders Co., Philadelphia, 1997. 3. Kasakeyan E, Rinitis Vasomotor: Penatalaksanaan penyakit dan kelainan Telinga Hidung Tenggorokkan, editor Soepardi EA, Hadjat F, Iskandar N, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, edisi kedua, cetakan ke-2, Jakarta, 2000: 129-30. 4. Jones AS, Intrinsic Rhinitis: Scott-Browns Otolarygology, Rhinology, General editor Kerr AG, Sixth edition, Butterworth & Heinmann, London, 1997: 4/9/1-14. 5. Ludman H, Obstruksi Hidung: Petunjuk Penting Pada Penyakit Telinga Hidung Tenggorokkan (ABC OF EAR NOSE AND THROAT), Alih Bahasa Jensen L, Editor Oswari J, cetakan II, Hipokrates, Jakarta, 1996: 57.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. atas rahmat dan karuniaNya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan paper ini pada waktunya. Paper ini berjudul RINITIS VASOMOTOR. Paper ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Penyakit THT di RSU. Dr. Pirngadi Medan. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pembimbing Dr.Magdalena Hutagalung, Sp.THT karena berkat bantuan dan bimbingannya penulis dapat menyelesaikan paper ini dengan sebaik-baiknya dan rasa terima kasih yang sebesarbesarnya juga penulis ucapkan kepada supervisor dan staff di Bagian THT RSU. Dr. Pirngadi atas ilmu dan keterampilan yang penulis dapatkan selama 4 minggu mengikuti KKS di Bagian Penyakit THT RSU. Pirngadi Medan. Penulis menyadari paper ini jauh dari kesempurnaan baik dari isi maupun tata bahasanya. Namun penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Medan,

Desember 2002

Penulis

DAFTAR ISI

hal
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI PATOGENESIS GEJALA KLINIS DIAGNOSIS DIAGNOSIS BANDING PEMERIKSAAN TAMBAHAN PENATALAKSANAAN PROGNOSIS DAFTAR PUSTAKA .. i .. ii .. 1 .. 2 .. 3 .. 3 .. 6 .. 8 .. 8 .. 9 .. 9 .. 10 ..

10