Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH BEBAN OPERASIONAL PENERBANGAN PT GARUDA INDONESIA TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN JASA PENERBANGAN PERIODE 2005-2011 Oleh: SITI

AL IYAH NUR KHOLISHAH (109082000 107) No.HP 085693099205 NURUL HIDAYATI (109082000108) No. HP 085694741992 Dosen Pembina: Tony S. Chendrawan, ST. SE., MSI Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ABSTRACT The Effect ofFlight Operations Expenses PT Garuda Indone sia on Income Level of Service Flight Period 2005 -2011 This research purpose to detect how operation expenses to Income level of service flight PT. Garuda Indonesia Persero. Data is secunder data, where data got from website PT Garuda Indonesia. Data obtainedfrom annual report PT Garuda Indonesia Period 2005-2011. In annual report presentedfinancial statement. From financial statement counted operation e xpenses and Income level of service flight. The research that used with us is taken the sample of our research is Garuda Indonesia company in 7 years, this sample is make our research easily than we have to inspect all years from the beginning this company until now. We use survey method and the prosedure of our research using time series because we inspect 1 company but in many years that is 5 years. The result of this research is in simultanly the inspecting between operating cost PT Garuda Indonesia company to income level of service in 7 years is effecting positively and the significant to operating cost PT Garuda Indonesia company the amount is 0,85, temporally in partially, and the other factors that effecting the amount grades is 0,15 influenced by count 0,8 while F table 22,79 equal T count is bigger than T table 2,447 of matter this means that calculation expressing acceptable positive and strong relation. Keywords: Operation Expenses, Income level of service flight .
I. PENDAHULUAN Dunia bisnis selalu terkait dengan yang namanya persaingan. Globalisasi merupakan faktor yang memperkuatnya persaingan dalam bisnis. Perusahaan yang memiliki daya saing yang tinggi dari berbagai tingkatan mulai dari nasional sampai tingkat internasional, maka akan mampu bertahan. Kebertahanan suatu perusahaan adalah prioritas dari setiap perusahaan. Salah satu cara agar mampu bersaing dan bertahan adalah dengan strategi manajemen yang baik. Tujuan perusahaan komersial adalah untuk mencapai profit yang tinggi. Elemen dalam tolak ukur profit biasanya adalah dilihat dari

besarnya pendapatan usaha. Banyak strategi yang harus dimiliki perusahaan untuk mencapai pendapatan yang tinggi. Baik bagi perusahaan dagang maupun perusahaan jasa, haruslah memiliki kualitas produk yang baik bagi klien atau pelanggan. Inovasi serta mampu menjawab segala kebutuhan konsumen, senjata produsen yang harus tajam. dalam artian sesuai dan tepat sasaran. Sehingga pelanggan loyal dan melekat dalam produk yang dikeluarkan produsen atau perusahaan tersebut. Dalam dunia bisnis tak kenal batasan waktu dan jarak. Kecanggihan teknologi telah menembus batasan yang tersebut. Globalisasi dan teknologi kini telah menjadi dua sisi mata uan g logam yang sulit dipisahkan. Waktu menjadi harga yang mahal bagi setiap individu aktif di zaman sekarang ini. Waktu bagi mereka seperti mesin uang. Ketika mesin uang terhenti semenit saja maka mempengaruhi siklus lainnya. Selain itu bagi individu aktif batasan jarak antar kota, pulau bahkan negara pun harus mampu ditembus. Melihat adanya fenomena ini membuat semakin pesatnya pertumbuhan bisnis transportasi baik darat, laut dan udara. Terlebih

dengan adanya masalah kemacetan. Setidaknya adanya jasa penerbangan menjawab permasalahan jarak dan waktu bagi mereka konsumen yang membutuhkan. Oleh karena itu banyak sekali perusahaan yang berkembang di Indonesia yang bergerak di bidang jasa penerbangan. Salah satunya adalah PT Garuda Indonesia (persero). Perusahaan Penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero), atau disingkat Garuda Indonesia, merupakan maskapai penerbangan yang cukup disegani di kawasannya. Garuda Indonesia mengoperasikan sebanyak 49 pesawat terbang yang melayani berbagai destinasi domestik d an internasional di kawasan Asia Pasifk, dan Timur Tengah. Garuda Indonesia juga memiliki berbagai usaha di bidang pariwisata dan hospitality (Aerowisata), sistem reservasi (Abacus Distribution Systems), penyedia layanan teknologi informasi travel dan transportasi (Lufthansa Systems Indonesia) dan pemeliharaan pesawat terbang (Garuda Maintenance Facility AeroAsia) dan seluruhnya mempekerjakan lebih dari 5.900 karyawan. Di tahun 006, Garuda Indonesia melayani sekitar 39.000 penerbangan dengan jumlah penumpang mencapai lebih dari 9 juta orang.

Tabel.1 Beban Operasional Penerbangan dan Pendapatan Jasa Penerbangan Tahun 2005 2011 Pendapatan Jasa Tahu Beban Operasional Penerbangan Penerbangan n 2005 6.724.294.914.210 11.538.166.118.993 2006 2007 2008 2009 2010 2011 6.801.782.012.831 7.271.032.162.126 9.947.992.668.187 8.096.690.036.626 11.512.752.414.696 15.848.635.480.137 12.343.167.640.539 14.213.489.645.359 19.349.675 .420.104 17.860.373.610.109 19.534.331.480.504 27.164.569.877.846

Sumber: annual report garuda Indonesia 2005 -2011 (diolah)

Di tahun 2007 beban operasionalnya hanya meningkat 0,78% ini merupakan peningkatan terendah yang selama periode tujuh tahun. Namun peningkatan pendapatan Gambar I. Beban operasional dan Pendapatan (Dalam Triliun Rupiah) PT garuda Indonesia (persero) 2005-2011 sumber: www.garuda-indonesia.com(diolah) Berdasarkan sajian table terlihat bahwa setiap tahunnya pendapatan usaha PT Garuda Indonesia (persero). Pada ta hun 201 1 terjadi peningkatan pendapatan sebesar 39,1%, beban operasional pun meningkat 33%. Menurut laporan direktur utama Pada bulan Februari 2011 Garuda Indonesia melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia dan sukses meraih sebesar Rp 3,3 triliun. Penambahan modal tersebut telah memperbaiki fundamental keuangan Perusahaan, termasuk kemampuan arus kasuntuk aktivitas investasi bagi peremajaan armada Garuda Indonesia. Seiring dengan peningkatan jumlah penumpang dan efisi ensi beb an operasional secara keseluruhan, Garuda Indonesia mampu membukukan peningkatan pendapatan usaha dan laba bersih yang signifikan pada tahun 2011. Secara perhitungan matematis selama 7 tahun peiode penelitian tahun 2011 terjadi peningkatan pertumbuhan sebesar 6,25%. Dan beban operasional meningkat sebesar 7,21 %. P ert u mb uh an p ad a ta hu n 20 10 pendapatan meningkat 1,32% dan beban operasional meningkat sebesar 5,78%. Tahun 2006-2008 PT Garuda Indonesia (persero) juga mengalami peningkatan. Tahun 2006 pendapatan usaha meningkat 10,19%. Pertumbuhan pendapatan ditahun inilah yang merupakan peningkatan tertingi selama periode tujuh tahun, dalam penelitian ini. Seda ngkan, beban operasional mengalami peningkatan 0,66%. sebesar 1,53% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Untuk tahun 2008 peningkatan pendapatan dan beban operasional hamper sejajar. Pendapatan meningkat 4,21% sedangkan beban operasional meningkat 4,45%. Tahun 2009 merupakan tahun yang sulit bagi industri penerbangan sebagai dampak dari krisis global. Industri penerbangan dunia menghadapi harga avtur yang melonjak secara signifkan sementara jumlah penumpang dan angkutan kargo menurun secara tajam, sehingga hal tersebut mengakibatkan yield penumpang dan kargo industri penerbangan global menurun hingga sebesar 14%. Kondisi ini pada gilirannya mengakibatkan pendapatan airline global mengalami penurunan hingga 15% dan industri penerbangan global mengalami kerugian hingga sebesar US$ 9,4 miliar. Inte rnational Air Transport Associat ion (IATA) melaporkan 26 perusahaan penerbangan mengalami kebangkrutan dan berhenti beroperasi sepanjang tahun 2009. Namun secara perhitungan matematik selama eriode tujuh tahun penurunan pendapatan sebesar 1,22% dan beban operasional menurun 3,08%. II. KAJIAN PUSTAKA A. Pengaruh Operasional Pendapatan Jasa Beban terhadap

Perusahaan dalam menjaga keberlangsungan usahanya akan menyusun suatu anggaran beban operasional. B eban operasional

memiliki peranan yang aktif dalam meningkatkan pendapatan usaha suatu per us a ha an . B eb an o per as io n al merupakan bentuk tanggungjawab manajemen atas pengendalian beban operasional yang dikeluarkan dan mendorong kebijakan yang telah ditetapkan hubungannya dengan beban operasional. B. Teori Beban Operasional Menurut M.Hanafi dan Abdul Halim (2007:57) menyatakan bahwa : beban operasional merupakan asset keluar atau pihak lain memanfaatkan asset perusahaan atau munculnya utang atau kombinasi antar ketiganya selama periode dimana perusahaan memproduksi dan menyerahkan barang, memberikan jasa, atau melaksanakan aktivitas lain yang merupakan operasi pokok perusahaan. Secara umum beban operasional diartikan sebagai beban yang terjadi dalam kaitannya dengan operasi yang dilakukan perusahaan dan diukur dalam satuan uang (Fikri Zaenuri, 2012:18).) beban operasional merupakan beban yang dikeluarkan dalam proses untuk menhasilkan pendapatan penjualan (Weygandt et. al., 2007). Menurut Suandy dan Jessica (2008) menyatak an bah wa b eban dapat digolongkan dalam 2 (dua) golongan, yaitu Beban operasional dan beban nonoperasional. Beban operasional adalah beban yang digunakan untuk operasi perusahaan, seperti beban operasional penerbangan. Beban nonoperasional merupakan beban yang tidak berhubungan langsung dengan operasional perusahaan, seperti beban bunga. Beban operasional utama dalam menopang kegiatan operasional penerbangan, yaitu bahan bakar, pemeliharaan dan perbaikan, serta beban pelayanan penumpang. C. Pendapatan Usaha (Jasa) Menurut pengertian akuntansi keuangan, pendapatan adalah peningkatan ju mlah aktiva atau

penurunan kewajiban suatu organisasi akibat dari penjualan barang dan jasa kepada pihak lain dalam periode akuntansi tertentu. Pada perusahaan jasa, pendapatan diperoleh dari pen ye rahan jasa (Fuad et. al., 2006:168). Menurut Ikatan Akuntansi ndonesia (IAI) (2007:23) pendapatan adalah arus masuk bruto manfaaat ekonomi yang timbul dari aktifitas normal perusahaan selama periode yang dapat menigkatkan tingkat equitas dalam suatu perusahaan yang tidak berasal dari kontribusi modal. Pendapatan hanya terdiri dari arus masuk bruto manfaat ekonomi yang diterima oleh perusahaan untuk dirinya sendiri. Jumlah yang ditagih untuk atau dan atas nama pihak ketiga bukan merupakan pendapatan karena tidak menghasilkan manfaat ekonomi bagi perusahaan dan tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas. Menurut Accounting Principles Board Statement (Assegaf, 2001:9) ada tiga unsur pendapatan sebagia berikut: 1. Penjualan hasil produksi barang dan jasa merupakan unsur pendapatan pokok perusahaan 2. Imbalan yang diterima atas penggunaan aktiva atau sumber-sumber ekonomi perusahaan oleh pihak lain dapat menjadi unsur pendapatan lain-lain bagi perusahaanjenis lain. 3. Penjuaan aktiva diluar barang dagang merupakan unsue pendapatan lain-lain suatu perusahaan. Menurut IAI (2007:23) mendefinisikan pengukuran pendapatan adalah proses penempatan jumlah uang untuk mengajui dan memasukan setiap unsure laporan keuangan dalam lapoaran laba rugi. Menurut Skousen dan Stice (Akbar, 2009:568) terdapat lima dasar pengukuran dalam pendapatan: 1. Biaya historis (historical cost) merupakan nharga tunai

ekuivalen yang diperlukan untuk barang dan jasa pada tanggal perolehan (akuisisi). 2. Biaya Pengantian saat ini (Curre nt replacement cost), merupakan harga tunai yang kan dibayarkan sekarang untuk membeli natau mengganti jenis barang atau jasa yang sama yang tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaiakan kewajiban. 3. Nilai pasara saat ini (Current market value), merupakan harga tunai ekuivalen yang dapt diperoleh dengan menjual aktiva dalam likuidasi sebelumnya atau yang dilaksanakan searah. 4. Nilai bersih yang dapat di realisasikan (Net realizable value), merupakn jjumlah kas yang diharapkan akan diterima atau dibayarkan dari hasil pertukaran aktiva atau kewajiban dalam kegiatan normal suatu perusahaan. 5. Nilai sekarang atau diskonto, merupakan aktiva yang dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih dimasa depan y a n g didiskontokan dari nilai yang diharapkan dapat memberikan hasil. Teori Pendapatan (J.M. Keynes), disebut juga dengan teori Liquidity Preference yang menyatakan bahwa motif seseorang senang memegang uang tunai karena didorong oleh tiga motif, yaitu: motif untuk bertransaksi, mbotif untuk berjagajaga, motif spekulasi. D. Teori Hipotesis Pengertian Hipotesis Dalam Penelitian. Hipotesa berasal dari penggalan kata hypo yang artinya di bawah dan thesa yang artinya kebenaran, jadi hipotesa yang kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan ejaan B ahasa Indonesia menjadi hipotesa dan berkembangan menjadi Hipotesa. Pengertian Hipotesa menurut Sutrisno Hadi adalah tentang

pemecahan masalah. Sering kali peneliti tidak dapat memecahkan permasalahannya hanya dengan sekali jalan. Permasalahan itu akan diselesaikan segi demi segi dengan cara mengajukan pertanyaanpertanyaan untuk tiap-tiap segi, dan mencari jawaban melalui penelitian yang dilakukan. 1. Jenis-jenis hipotesa Menurut Suharsimi Arikunto, jenis Hipotesa penelitian pendidikan dapat di golongkan menjadi dua yaitu: a. Hipotesa Kerja, atau disebut juga dengan Hipotesa alternatif (Ha). Hipotesa kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok. b. Hipotesa Nol (Null hypotheses) Ho. Hipotesa nol sering juga disebut Hipotesa statistik,karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik. Bertolak pada pemikiran diatas dapat penulis kemukakan bahwa dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis kerja dan hipotesis nihil (nol). Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan be nar . Ke ga g al an m eru m us k an hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata. Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang b aik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni: a. Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan m a sa la h dan di ny at ak an d ala m proposisiproposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban

b.

c.

d.

e.

f.

g.

atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian. Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk, menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen. Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabelatau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis. Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen harus ada (atau dapat dikembangkan) yangakan menggambarkan. ukuran yang valid dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergan tung pada eksistensi metode metode untuk mengujinya, baik metode pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi. Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang sebenarnya. Peneliti harus memiliki

hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu, ruang, atau unit analisis yang jelas. Jadi, hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan di antara variabel, s e b a g a i m a n a k o n d i s i d i b a w a h hubungan yang diharapkan untuk dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan. h. Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit. 2. Fungsi Hipotesis Menurut Indriantoro dan Supomo (2002) hipotesis menyatakan hubungan yang diduga secara logis antara dua variabel atau lebih dalam rumusan proposisi yang dapat diuji secara empiris. Hipotesis dalam penelitian kuantitatif dikembangkan dari telaah teoritis sebagai jawaban sementara dari masalah atau pertanyaan penelitian yang memerlukan pengujian secara empiris. Beberapa fungsi penting hipotesis dalam penelitian kuantitatif, antara lain sebagai berikut (Indriantoro dan Supomo, 2002): a. Hipotesis menjelaskan masalah penelitian dan pemecahan masalah. b. Hipotesis menyatakan variabelvariabel penelitian yang perlu diuji secara empiris. c. Hipotesis digunakan sebagai

pedoman untuk memilih metode metode pengujian data. d. Hipotesis menjadi dasar untuk membuat kesimpulan penelitian. Budi Sasongko (2011) melakukan penelitian tentang ana analisa pengaruh biaya operasional terhadap tingkat pendapatan pada PT Jasa Marga, Tbk periode 2006 -2011. Hasilnya menyatakan besarnya pendapatan yang diperoleh PT Jasa Marga, Tbk dalam periode 7 tahun terkahir sangat dipengaruhi dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Selain itu korelasi antara biaya operasional dan pendapatan jasa menunjukkan searah dan sangat kuat. Berdasarkan argument tersebut, peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut: Ha1: Beban operasional berpengaruh : positifterhadap pendapat pendapatan jasa III. METODE PENELITIAN A. Sampel dan Prosedur Populasi dalam penelitian ini adalah PT Garuda Indonesia (persero) segmenjasa penerbangan. Dalam laporan k e u a n g a n y a n g d i j a d i k a n objek penelitian merupak konsolidasi dari berbagai segmen usaha PT Garuda Indonesia yang kami anggap sebagai pupolasi. Sampel yang digunakan menggunakan times series 7 tahun dari banyak tahun yang ada untuk mempermudah penelitian. Dan unit analisis ini berfokus pada Sampel segmen jasa penerbangan. B. Pengu jian Hipo tesis Untuk menguji hipotesis dalam penilitian ini analisis jalur untuk memperlihatkan hubungan antara variable dependen dengan variable independen bersifat korelatif dan kasualitas. Untuk me ngetahui p engaruh masing-masing variabel yaitu variabel masing X dan Y dalam perusahaan PT Garuda Indonesia (persero) berupa beban operasional yang

merupakan variabel independent dan tingkat pendapatan jasa penerbangan yang merupakan variabel dependent. Adapun uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur (path path analysis analysis) dan menggunakan time series yang mana dilihat dari satu perusahaan namun terdiri dari beberapa tahun sample dari populasi tahun. Y=a+Bx C. Model Penelitian Hubungan Struktur jalur antara variabel X da n variab el Y dapat dijelaskan sebagain berikut:

Gambar 3. Antar Variabel

Model

Hubungan

IV. HASIL PENELITIAN A. Pengaruh-Pengaruh Pengaruh beban operasional terhadap pendapatan jasa yan g dihasilkan selama periode 7 tahun. Analisis dalam data dalam penelitian ini menggunakan metode analisi jalur ( (path analysis). Adapun persamaan yang diperoleh dari proses analis adalah sebagai berikut: Y= 8,295+0,8*X Errorvar = 0,150 2 R =0,850 Nilai R atau koefisien determinasi multiple sebesar 0,850 memperlihatkan besarnya pengaruh beban operasional PT Garuda Indonesia terhadap pendapatan usaha (jasa penerbangan) yang dihasilkan selama periode 7 tahun. Sementara itu nilai errorvar yaitu sebesar 0,150
2

memperlihatkan besarnya peng aruh faktor lain diluar beban operasional yang secara keseluruhan terhadap tingkat pendapatan usaha (jasa penerbangan) yang dihasilkan yaitu sebesar 0,150. B. Pengaruh beban operasional PT Garuda Indonesia terhadap pendapatan usaha yang dihasilkan selama periode 7 tahun secara parsial. Koefesien regresi tingkat pendapatan (X) adalah 0,8. Hal ini menunjukan bahwa setiap peningkatan variabel beban operasional sebesar satu satuan nilai akan meningkatkan tingkat pendapatan jasa (Y) sebesar 0,8. Satu satuan nilai dengan asumsi variabel lainnya adalah konstant. Dari persamaan yang didapat kita dapat mengetahui hasil pengujian secara parsial antara pendapatan usaha (Y) dengan beban operasional (X), dengan cara membandingkan T hitung dengan T tabel. Jika T hitung nilainya lebih besar dibanding dengan nilai T tabel, maka H i p o t e si s y a n g d i a j u k a n a d a l a h signifikan. Artinya bahwa tingkat biaya operasional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pendapatan jasa. Sebaliknya apabila nilai T hitung nilainya lebih kecil dibanding dengan nilai T tabel, maka Hipotesis yang diajukan adalah tidak signifikan. Dari persamaan diatas dapat kita lihat nilai T hitung nilainya sebesar 4,324. Bila kita bandingkan dengan nilai T tabel (2,447) yang diperoleh melihat di tabel T makadiperoleh nilai sebesar 2,447 dapat kita simpulkan bahwa secara parsial v a r i a b e l beban operasional (X) berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pendapatanjasa (Y). C. Uji Hipotesis

maka Hipotesis yang diajukan adalah signifikan y a n g b e r a r t i b e b a n o p e r a s i o n a l mempengaruhi tingkat pendapatan jasa. Sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak dan H1 diterima, karena sesuai dengan tabel T, Ho ditolak dan H1 diterima apabila nilai signifikansinya lebih dari 0,5 atau setengah dari 1. V. IMPLIKASI PENELITIAN Implikasi penelitian pengaruh biaya operasional ter hadap pendapatan usaha selama periode 7 tahun terhadap perusahaan PT Garuda Indonesia (persero) memiliki tingkat signifikansi yang baik karena dalam hipotesis dijelaskan bahwasanya Ho ditolak d a n H 1 d i t e r i m a . N i l a i T h i t u n g dibandingkan dengan dengan nilai T tabel yaitu 2,227. Nilai T hasil perhitungan diatas ternyata lebih besar dari pada nilai T pada tabel yaitu nilai 4,324 dengan 2,227 maka sudah dipastikan pengaruh biaya operasional dengan pendapatan usaha sangatlah berpengaruh kuat. Koefesien regresi tingkat pendapatan (X) adalah 0,8, hal ini menunjukan bahwa setiap peningkatan variabel beban operasional sebesar satu satuan nilai akan meningkatkan pendapatan jasa (Y) sebesar 0,8. Sat u satuan nilai dengan asumsi variabel lainnya adalah konstant. Jadi jika terjadi perubahan X sebesar mungkin akan berpengaruh terhadap nilai Y karena dalam persamaan statisitk Y=a+Bx.

VI. DAFTAR PUSTAKA Chendrawan, Tony, Pengaruh Penerapan Total Equity Management Terhadap Perilaku ProduktifKaryawan , Vol. 121, Edisi Februari 2011. Fikri Zaenuri, Analisis Pengaruh Variabel Biaya Operasional, Volume Pembiayaan Murabahah, bagi Hasil DPK, Inflasi dan BI Rate terhadap Margin Murabahah, FE UI,Jakarta, 2012. Fuad M., H. Christin, Nurlela, Sugiarto, Paulus, Y.E.F, Pengantar

Hasil perhitungan diatas dan perbandingan antara T hitung dengan T tabel. Jika T hitung nilainya lebih besar dibanding dengan nilai T tabel,

Bisnis, Cetakan Kelima, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006 Ghozali Imam dan Anis Chariri. 2007. Teori Akuntansi : Badan Penerbit Universitas Diponegoro Indriantoro Nur, Supomo Bambang, Metodologi P e n e l i t i a n Bisnis untuk Akuntansi & Manajemen , Cetakan Kedua, B P F E , Yogyakarta, 2002 Suandy Erly, Jessica, Praktikum

Akuntansi Manual dan Komputerisasi dengan MYOB, Salemba Empat, Jakarta, 2008. Stice K. Earl, Stice D. James, Skosusen Fred. K. Intermediate Accounting, Ed 1,. Salemba Empat, Jakarta, 2004. Weygandt Jerry J, Kieso Donald E, Kimmel Paul D, Accounting PrinciplesPengantar Akuntansi, Edi si Ketuj uh, Sale mba E mpat, 2007