Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN METODE KUADRAT Disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum Ekologi Tumbuhan

Oleh : Roseanni Kushargena Ayub Ratta Darmawan Vera Anzela Nadia Istiqomah Nugraha Putra Maulana Dwi Prasetya Aghita 140410060010 140410060043 140410060058 140410060066 140410060067 140410060079

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2008

ANALISA VEGETASI I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Analisis vegetasi merupakan salah satu cara untuk mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan hal yang diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosasi konkrit, berbeda dari inventarisasi hutan yang titik beratnya terletak pada komposisi jenis pohon. Perbedaan inilah yang nantinya akan mempengaruhi cara sampling. Dari segi floristis ekologi random sampling hanya mungkin digunakan apabila lapangan dan vegetasi yang diteliti homogen, seperti misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai systematic sampling atau bahkan purposive sampling pun boleh digunakan pada suatu keadaan tertentu. Metode plot adalah prosedur yang umum digunakan untuk sampling berbagai tipe organisme. Plot biasanya berbentuk segi empat atau kuadrat bahkan juga lingkaran. Metode plot dapat digunakan untuk sampling tumbuhan bawah sampai pohon atau bahkan juga hewan. Untuk keperluan sampling tumbuhan , terdapat dua cara penerapan metode plot, yaitu : 1) Metode petak tunggal : kurva spesies area/ minimal area 2) Metode petak ganda : metode kuadrat Namun pada praktikum kali ini, metode yang akan dilakukan adalah metode kuadrat. Metode kuadrat dicetuskan oleh Frederick Edward Clement (1874-1945) (Pound & Clement, 1898). Kuadrat adalah berupa bingkai dengan banyak bentuk yang dapat ditempatkan di atas tanaman sehingga penutupannya dapat diestimasi dan dihitung serta dicatat jenisnya. Kuadrat digunakan untuk mendefinisikan contoh area dan biasanya dibuat dari kayu, logam atau plastik kaku yang direntangkan, dilem, dilas atau dipalang bersama untuk membentuk kuadrat. Tiga faktor yang diperkirakan berhubungan dengan penggunaan kuadrat : 1. Distribusi tumbuhan 2. Bentuk dan ukuran kuadrat

3. Jumlah pengamatan yang dibutuhkan untuk mendapatkan estimasi kerapatan


yang memadai.

Pada metode kuadrat yang harus diperhatikan dalam hal pengambilan bentuk, ukuran dan jumlah kuadrat. Perbedaan tipe vegetasi membutuhkan ukuran kuadrat yang berbeda pula.Sejumlah kajian telah mengevaluasi ukuran kuadrat dan tidak ada rekomendasi konsisten yang sudah dibuat mengenai ukuran untuk dipergunakan. Ukuran yang paling sering digunakan adalah :

0,25 m2 untuk bryophyta, lichens dan alga 0,25 16 m2 untuk rumput dan herba tinggi, semak pendek atau makrofita akuatik 25-100 m2 untuk komunitas semak tinggi 400-2500 m2 untuk pohon Analisis vegetasi dengan metode kuadrat yaitu suatu analisa vegetasi

dengan menggunakan satuan kuadrat yaitu parameter frekuensi, dominansi, kerapatan dan nilai penting. 1.2 Identifikasi Masalah Identifikasi masalah yang ingin diketahui pada praktikum ini adalah :

1) Jenis tumbuhan apa saja yang ada pada daerah sampel. 2) Frekuensi dan kerapatan relatif tumbuhantumbuhan yang ada di daerah sampel.
1.3 Maksud, Tujuan dan Kegunaan Praktikum Adapun maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui komposisi dan dominansi suatu spesies serta struktur komunitas di suatu daerah. Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat melakukan pengukuran beragam kelompok vegetasi dengan ukuran yang tetap. Sedangkan kegunaan praktikum ini adalah untuk melatih mahasiswa untuk menganalisa struktur komiunitas dan komposisi tumbuhan yang terdapat di suatu daerah. 1.4 Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum Kuadrat ini dilakukan pada hari Selasa, 18 November 2008. Dimulai pada pukul 08.00-13.00 WIB. Bertempat di Arboretum Universitas Padjadjaran Jatinangor. II. TINJAUAN PUSTAKA Vegetasi adalah keseluruhan kehidupan tetumbuhan atau himpunan semua jenis tumbuhan pada suatu daerah (Rifai, 2002). Danserau (1957) dalam MuellerDombois & Ellenberg (1974) mendefinisikan struktur vegetasi sebagai organisasi

dalam ruang dari individu-individu yang membentuk bidang (dan dengan perluasan dari suatu tipe vegetasi atau asosiasi tumbuhan), dan dia menyatakan bahawaelemen primer dari struktur adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi, dan penutupan. Struktur vegetasi dalam ekologi tumbuhan dibagi ke dalam lima bagian, yaitu : fisiognomi vegetasi, struktur biomasa, struktur bentuk kehidupan, struktur tumbuhan, dan struktur tegakan. Kelima struktur tersebut merupakan kesatuan yang utuh dan saling Sedangkan menurut menunjang satu sama lain (Mueller dan Ellenberg, 1974). didasarkan pada data: 1. Fisiognomi vegetasi 2. Struktur dan susunan komponen vegetasi 3. Fungsi sifat-sifat fenotipik 4. Komposisi susunan floristik 5. Dinamika suksesi 6. Hubungan habitat dengan keadaan lingkungan 7. Sejarah vegetasi. Menurut Wyat-Smith dalam Soerianegara (1984) dalam Husodo (2008) dalam suatu analisis vegetasi, tumbuhan digolongkan ke dalam 4 kategori berdasarkan ukuran tinggi dan diameter batang, yaitu: Semai (seedling), permulaan mulai dari kecambah sampai tinggi 1,5 meter. Pancang (sapling), permulaan dengan tinggi 1,5 meter atau lebih, pohon muda dengan diameter kurang dari 10 meter. Tiang (pole), pohon dengan diameter kurang dari 10cm. Pohon dewasa dengan diameter lebih dari 35 cm. Menurut Ewusie (1990) dalam Husodo (2003), pada dasarnya analisis vegetasi dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu ciri kualitatif, yang bersifat gambaran dari komunitas dan ciri kuantitatif, yang diperoleh dari hasil penghitungan. Untuk pengukuran kuantitas pada suatu komunitas, sampel yang lebih penting untuk diambil adalah jumlah individu atau densitas (= kelimpahan), frekuensi (jumlah plot atau saat dimana ditemukan spesies pada kuadrat kecil yang telah ditandai atau poin sampel yang telah ditandai), penutupan, baik pada area puncak dan tunas atau pada basal area (Mueller-Dombois & Ellenberg, 1974). Banyak pertanyaan akan muncul saat kita mempelajari sebarapa pentingnya spesies tanaman tertentu dalam sebuah komunitas: Berapa luasnya distribusi dari spesies ini. Berapa sering kehadiran spesies tanaman ini dalam komunitas tersebut. Seberapa luas ruang atau plot ditemukannya spesies tersebut. Bila

Fosberg (1958, dalam Rahmat, 2002) satu klasifikasi vegetasi yang rasional haruslah

kita dapat menjawab pertanyaan ini, maka kita bisa menguasai beberapa ilmu yang menarik dan penting. Banyak sekali metode penelitian dan pengamatan yang dapat dilakukan untuk menjawab sejumlah pertanyaan di atas. Bila hanya membutuhkan informasi yang gamblang mengenai setiap spesies tanaman dalam sebuah komunitas, maka cukup apabila kita hanya menggunakan studi kuantitatif. Contohnya, untuk mengestimasi kelimpahan dari setiap spesies, kita hanya membutuhkan persiapan sederhana dengan mencatat spesies yang muncul dan mengkategorikan setiapnya dalam kelimpahan, frekuensi. Hal ini tentunya sulit dilakukan bila melihat kenyataan di lapangan. Informasi kuantitatif yang sangat akurat bisa didapatkan bila tim pengamat mengidentifikasi,menghitung dan mengukur semua tanaman yang ada. Pada area yang besar hal ini tentunya bisa saja dilakukan, apabila memugkinkan. Tetapi hal ini tidak perlu dilakukan lagi semenjak para ahli ekologi berhasil menemukan teknik pengambilan sampel yang dapat memberikan hasil yang sama dalam waktu yang singkat. Salah satu dari teknik tersebut adalah dengan menggunakan metode kuadrat. Ukuran Kuadrat Baik ketinggian maupun kepadatan dari tanaman di sebuah area studi harus diperhatikan ketika kita memutuskan berapa besar ukuran kuadrat yang harus dibuat. Kuadrat tersebut harus cukup besar sehingga terkandung jumlah tanaman yang signifikan, dan juga harus cukup kecil agar memudahkan kita untuk mengidentifikasi, menghitung dan agar tidak memakan waktu yang terlalu panjang. Jenis Kuadrat Jika satu jenis kuadrat telah dipilih, maka tipe variasi informasi informasi yang dilihat dan kegunaannya. a). List quadrat. Pada kuadrat tipe ini, tanaman yang berada di plot diidentifikasi dan diberi nama. Tidak ada penghitungan jumlah individu. Jika list quadrat memungkinkan untuk digunakan di area studi, maka kita bisa mengkalkulasi frekuensi kemunculan setiap spesies, yang adalah, jumlah kuadrat di mana setiap spesies muncul. b). Count quadrat. Di sini, baik jumlah maupun nama dari setiap spesies turut dicantumkan. Informasi mengenai ketinggian dan diameter biasanya juga dicatat. Count quadrat mendeterminasi nilai jual dari kayu gelondongan tersebut. lebih banyak digunakan dalam survei kayu gelondongan di mana hal ini berguna untuk bisa didapatkan dari kuadrat tersebut. Penamaan kuadrat disesuaikan dengan tipe

c). Cover quadrat. Dalam studi ekologi seringkali kita harus megetahui berapa persentase dari permukaan tanah di area studi yang ditutupi spesies tertentu. Dan cover quadrat digunakan untuk memenuhi hal tersebut. d). Chart quadrat. Sebuah chart quadrat adalah peta untuk membuat skala sebuah plot, dapat menunjukkan posisi dari bermacam-macam tanaman. Walaupun hal ini memakan waktu banyak, tetapi chart quadrat sangat berguna bila kita berencana untuk mempelajari area yang sama dalam periode waktu yang panjang. Bentuk dari Kuadrat Kata kuadrat yang berarti plot persegi sering sekali digunakan dalam metode analisis vegetasi. Tetapi, bentuk plot yang persegi panjang dan bulat lebih sering digunakan.Pemilihan bentuk dalam metode ini sangat bergantung pada vegetasi alam yang akan diinvestigasi. Plot bentuk bulat biasanya memberikan hasil yang lebih valid untuk vegetasi tingkat rendah bila dibandingkan dengan penggunaan plot persegi dengan besar atau luas yang mirip di tempat yang sama. Tambahan lagi, plot bentuk bulat lebih mudah didenahkan atau digambarkan. Jika hanya plot kecil yang dibutuhkan, satu seri simpul dapat dibuat dengan arah acak dari titik pusat. Plot bukat yanglebih besar dapat didenahkan. Plot bulat ini sangat efektif bila digunakan untuk daerah vegetasi tingkat rendah. Plot persegi empat dan persegi panjang dapat digunakan pada vegetasi di ketinggian berapapun. Plot persegi panjang biasanya memberikan hasil yang lebih akurat bila dibandingkan dengan penggunaan plot persegi empat dengan besar atau luas yang sama di tempat yang sama. Hal ini dikarenakan lebih mudah untuk mendeteksi variasi vegetasi di sebuah area jika bentuk sebuah plot memanjang. Oleh sebab itu, plot persegi panjang ini terutama berguna di daerah seperti bukit berpasir di mana kondisi lingkungan dan tipe vegetasinya memiliki kemiringan. Dalam kasus panjang-lebar seperti ini poros yang panjang dari plot tersebut harus disambungkan ke arah pusat kemiringan. Kuadrat persegi panjang yang biasa dipakai memiliki dengan rasio 1:2, 1:4 atau 1:8. Kuadrat persegi dan persegi panjang dapat dibentuk dengan menggunakan meteran. Sementara yang lebih besar bisa ditandai dengan empat pancang dan tali. Langkah pertama adalah mendenahkan sebuah kuadrat dengan membentuk sudut

yang tepat dari ujung kuadrat. Hal ini bisa dilakukan dengan meletakkan dua pancang dengan jarak 9 meter satu sama lainnya lalu meletakkan dua pancang yang lain dengan jarak yang sama (9 meter), dan antara dua pancang yang satu dengan dua pancang yang lain berjarak 15 meter, sehingga terbentuklah plot persegi panjang. A. Pengukuran densitas atau kelimpahan dalam kuadrat Parameter ini berhubungan dengan penghitungan individu per unit area. Penghitungan ini biasanya dilakukan dalam kuadrat kecil yang ditempatkan beberapa kali dalam suatu komunitas, lalu jumlah individu per spesies tersebut dikalkulasikan untuk sampel area total oleh kuadrat kecil dan hasilnya menunjukan kelimpahan spesies per unit area yang cocok, seperti meter persegi, are atau hektar. Penghitungan ini mungkin merupakan konsep analitis termudah untuk dimengerti, namun terkadang menyebabkan beberapa kesulitan dalam aplikasinya seperti sulit mengidentifikasi individu, efek marginal dari kuadrat, dan waktu yang dibutuhkan untuk menghitung individu herba dan semak. Ukuran kuadrat harus berhubungan dengan ukuran dan jarak individu, karena menghitung spesies dengan jumlah individu yang banyak tidak akan dapat selesai secara akurat dalam plot besar kecuali mereka terbagi-bagi atau individu tersebut ditandai setelah masing-masing dijumlahkan satu persatu. Ukuran kuadrat biasanya bervariasi dalam limit untuk stratum dengan ketinggian masing-maisng. Biasanya, ukuran yang digunakan untuk pohon, kuadrat 10 x 10 m; untuk pohon semak sampai ketinggian 3 m, kuadrat 4 x 4 m; dan untuk lapisan herba, kuadrat 1 x 1m. Clapham (1932) dan kawan-kawan (seperti Bormann 1953) telah mendemonstrasikan bahwa bentuk dari kuadrat densitas juga memiliki efek terhadap akurasi penghitungan. Bentuk persegi panjang ternyata lebih eisien dibandingkan bentuk persegi atau lingkaran, karena umunya terdapat kecenderungan merumpun dalam vegetasi (Greig-Smith, 1964 dalam Mueller-Dombois & Ellenberg, 1974). B. Ketepatan Frekuensi Berhubungan dengan jumlah waktu/plot dimana spesies muncul dalam poin sampel atau plot yang telah ditandai. Ditujukan dengan fraksi total, biasanya dalam persen. Tidak ada penghitungan yang terlibat, hanya pencatatan kehadiran spesies. Dalam penempatannya, spesies dicatat tanpa memperhatikan kuantitas atau jumlah individu. Untuk membandingkan komunitas yang berbeda, frekuensi ditunjukan dalam persentasi dari jumlah total penempatan, disebut persentasi frekuensi atau index frekuensi.

Frekuensi adalah parameter kuantitatif yang paling umum digunakan untuk analisis hutan semak dan komunitas herba dalam studi deskiptif Amerika Utara (Mueller-Dombois & Ellenberg, 1974). Frekuensi memberikan sedikit atau tidak ada indikasi dari penutupan sewaktu ditentukan dalam kuadrat. Spesies dengan jumlah individu sedikit dan tersebar melewati area sampel akan memberikan nilai frekuensi yang tinggi, walaupun penutupannya mungkin kurang signifikan. Spesies dengan beberapa individu tetapi area puncak atau basalnya lebar hingga menutupi porsi yang tinggi dari area sampel akan memberikan frekuensi yang rendah. Walau begitu, ini semua bergantung pada kriteria tumbuhan mana yang termasuk atau tidak dalam penghitungan frekuensi. C. Pengukuran Penutupan Biasanya penutupan didefinisikan sebagai proyeksi secara vertikal dari area puncak atau tunas suatu spesies pada permukaan tanah yang ditunjukan sebagai fraksi atau persen dari area tertentu. Selain area puncak, penutupan juga secara tidak langsung memproyeksikan area basal dari permukaan tanah. Basal area, memperlihatkan garis bentuk area suatu tanaman pada permukaan tanah. Konsep basal area ini terkadang digunakan untuk bentuk hidup caespitose seperti serangkaian rumput, Pada vegetasi herba rendah, penutupan terkadang dapat dipetakan dengan menggunakan kuadrat kecil. Sebagai contoh, dalam kuadrat meter persegi atau frame, garis bentuk dari area puncak pada spesies tertentu atau sistem tunas basal atau dasarnya dapat digambarkan dengan skala pada selembar kertas. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membagi-bagi meter persegi menjadi 100 dm dan dengan memberi nomer koordinat pada frame kuadrat, biasanya 1 sampai 10. Bentuk puncak atau basal tunas dan area yang ditempati oleh berbagai bentuk tumbuhan akan dapat dipindahkan cukup akurat pada lembaran kertas. Dalam penghitungan penutupan tumbuhan, metode pemetaan kuadrat ini memiliki dua keterbatasan utama yaitu 1. Penutupan tumbuhan hanya ditunjukan secara diagram. Hal tersebut tetap harus diukur. 2. Metode ini hanya terbatas pada tumbuhan yang bentuk penutupan tunasnya hampir 100 persen. Tidak dapat digunakan untuk penutupan tumbuhan heterogen atau campur, dimana sistem tunasnya bercampur baur. Metode ini tidak dapat dipergunakan secara baik untuk memperoleh sampel tumbuhan yang mewakili spesies yang penutupannya melewati area lebih besar. Hal ini berguna hanya untuk analisis detail dari area kecil, seperti untuk kuadrat permanen.

III. METODOLOGI 3,1 Metode Umum Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah metode petak ganda atau petak kuadrat yaitu dengan menggunakan banyak petak yang letaknya tersebar secara merata dan dilakukan dengan sistematis. 3.2 Alat dan Bahan Alat/Bahan Alat tulis Kompas Meteran Patok Tali raffia 3.3 Metode Pengumpulan Data 3.3.1 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada metode kuadrat ini menggunakan teknik survey yaitu dengan menginventarisasi/ mencatat seluruh jenis tumbuhan yang ada di plot/ petak Fungsi/Kegunaan/Parameter yang diukur Mencatat data yang diperoleh Menentukan koordinat jalur transek Mengukur luas plot Membatasi petak/ plot menandai luas petak/ plot

3.3.2

Tata Cara/Prosedur Pertama, tentukanlah daerah yang akan dibuat plot dan dikumpulkan

sampel tumbuhannya dengan cara acak (random) atau secara sistematik. Buatlah plot dengan cara bertingkat dan menandai dengan patok dan tali rafia dengan ukuran yang bervariasi (1m x 1m; 2m x 2m; 4m x 4m). Setelah pembuatan plot, lakukan pengamatan dan hitunglah jumlah tumbuhan yang ada pada tiap plot, menyesuaikan dengan kriteria yang telah ditentukan : plot 1m x 1m = jenis rumput-rumputan; 2m x 2m = tumbuhan herba, semak dan 4m x 4m = pancang. Buatlah tabulasi data dari data yang telah diperoleh dan analisa frekuensi, kerapatan, dominansi dan indeks nilai pentingnya. Untuk mengetahu dominansi pohon maka harus diukur diameter batang setinggi dada (DBH) dan akan didapat basal areanya dengan rumus lingkaran, sedangkan untuk semak dan tumbuhan penutup tanah digunakan luas penutupan kanopi dengan persentase, namun pada umumnya persentase penutupannya lebih dari 100% per plot karena tumpang tindih.

3.4 Analisis Data 3.4.1 Analisis Data Lapangan Dari data yang dipeoleh dari setiap plot yang dibuat maka hitung dan analisis frekuensi mutlak dan relatif, dominansi mutlak dan relatif dan kerapatan mutlak dan relatif serta indeks nilai penting. Frekuensi mutlak (Fm) : menunjukkan kepadatan suatu spesies dari seluruh plot yang dibuat, dicatat berdasarkan kepadatan suatu spesies di seluruh plot pengamatan. Fm = jumlah plot ditemukan jenis jumlah seluruh plot pengamatan

Frekuensi relatif (FR) : keepadatan suatu spesies dari seluruh kepadatan spesies lain dari seluruh plot dalam satuan persentase. FR = frekuensi mutlak dari suatu jenis x 100% Frekuensi mutlak dari seluruh spesies

Kerapatan (densitas) mulak (Km) : menunjukkan jumlah individu per unit area (luas) atau unit volume. Km = jumlah total individu untuk spesies ke-I Luas total plot pengamatan yang disampling

Kerapatan relatif (Kr) : perbandingan jumlah individu spesies ke-I dengan jumlah total individu seluruh spesies dalam satuan persentase. KR = kerapatan mutlak suatu spesies ke- I Kerapatan mutlak total seluruh spesies x 100%

Untuk kerapatan dapat digunakan susunan kadar kerapatan Braun Blanquet (1927) yang lebih terperinci dan mudah dilakukan . kadar kerapatan ada 2 skala yaitu : 1) kelas pertama merupakan kombinasi dari banyaknya individu suatu jenis dengan kerimbunan daripada spesies tesebut dan 2) skala kedua membentuk gambaran tentang pengelompokannya : r : satu atau sangat sedikit individu, dan penutupannya 1 %

+ : sedikit sampai beberapa individu, penutupannya < 1% 1 : beberapa sampai banyak individu, penutupannya 1-5% 2 : sangat banyak individu, penutupannya 5-25% 3 : penutupannya 25-50%, jumlah individu bebas 4 : penutupannya 50-75%, jumlah individu bebas 5 : penutupannya 75-100%, jumlah individu bebas Sedangkan skala Domin Krajinan, dalam menaksir kerapatan penutupan (cover abundance) : 10 : kerimbunan 100% 9 : kerimbunan 75 % 8 : kerimbunan 50-75% 7 : kerimbunan 33-50% 6 : kerimbunan 25-33% 5 : kerimbunan 10-25% 4 : kerimbunan kecil 5-10% 3 : kerimbunan kerap 1-5% 2 : kerimbunan <1% 1 : kerimbunan jarang sekali + : kerimbunan kecil, terisolasi Dominansi mutlak (Dm) : penutupan (coverage) spesies terhadap seluruh plot pengamatan Dominansi relatif (DR) : perbandingan luas basal area suatu spesies dengan luas basal area seluruh spesies pada plot pengamatan dalam satuan persentase. DR = dominansi mutlak spesies ke-I x 100% dominansi mutlak seluruh spesie pada plot Indeks Nilai Penting (Important Value)/ INP : merupakan suatu besaran yang menunjukkan dominansi atau kekuasaan suatu jenis terhadap jenis-jenis lainnya pada suatu vegetasi tertentu dan merupakan hasil penjumlahan dari FR, KR dan DR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan Kelompok 9 Data Fisik Intensitas Cahaya pH Tanah Suhu Udara : 210 Candela : 5,03 : 27,3 C PLOT 1x1 m Kadar penutupan per plot (%) 1 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 5 2 2 TOTAL 2 2 DM BB 30% 10% 30% 15% 5% 20% 20% 80% 20% 10% 240% 0.13 0.04 0.13 0.02 0.02 0.04 0.08 0,33 0.08 0.04 0,913 DR (%) 21.429 7.143 21.429 3.571 3.571 7.143 14.286 36,49 14.286 7.143 100
o

Suhu Tanah Kelembaban tanah Kelembaban Udara

: 24,3 oC : 62 % : 78,3 %

Nama Tumbuhan Rumput teki (Cyperus rotundus) Rumput gajah Ilalang Putri malu (Mimmosa pudica) Semanggi (marsiles crenata) Kembang telang (Clitoria ternatea) Oxalidaceae Lamiaceae Rumput A Rumput B

PLOT 2x2 m Plot Nama Tumbuhan Oxalidaceae Rumput jarum Tapak liman (Elephantopus scaber) Ki Rinyuh (Eupathorium odoratum) Areuy patuk manuk (Thunbergia alata) Pilea sp Spesies A Spesies B Spesies C TOTAL 15 19 10 1 1 4 7 12 10 4 25 2 1 1 136 2 3 FM 0,67 0,67 0,67 0,67 0,33 25 0,67 0,33 0,33 0,33 4,67 FR (%) 14,3 14,3 14,3 14,3 7,1 14,3 7,1 7,1 7,1 100 KM 19 26 22 11 4 50 2 1 1 136 KR (%) 13.971 19.118 16.176 8.088 2.941 36.765 1.471 0.735 0.735 100 DM 0.14 0.191 0.162 0.081 0.029 0.368 0.015 0.007 0.007 1 DR (%) INP (%) 13.971 19.118 16.176 8.088 2.941 36.765 1.471 0.735 0.735 100 28.09 38.38 32.50 16.32 5.95 73.67 3.01 1.54 1.54 200.00

PLOT 4x4 m Plot Nama Tumbuhan Takokak (Solanum torvum) Sengon (Albizzia falcataria) Saliara (Lantana camara) Pilea sp Pisang (Musa paradisiaca) Verbenaceae TOTAL PLOT 8x8 m 160 1 6 67 2 25 25 6 3 26 2 3 FM 0,33 0,67 0,33 0,67 0,33 0,33 2,66 FR (%) 12,4 25,2 12,4 25,2 12,4 12,4 100 KM KR (%) 6 3,8 93 58,00 2 1,3 50 31,3 6 3,8 3 1,9 160 100 DM 0.038 0.581 0.013 0.313 0.038 0.019 1 DR (%) INP (%) 3.75 58.125 1.25 31.25 3.75 3.912 58.958 1.387 31.815 3.912

1.875 2.018 100 300.000

Plot Nama Tumbuhan Pulai (Alstonia scolaris) Baragalan Jeruk Purut (Citrus hystrix) Kelapa (Cocos nucifera) Bisbul (Diospiros discolor) Kapuk (Ceiba petandra) Sengon (Albizzia falcataria) Kembang pulcherima) Pohon A Pohon B TOTAL 1 12 Merak (Caesalpinia 1 1 1 1 1 1 1 2 1 0,33 1 0,33 0,33 3,64 1 2 3 FM 0,67 0,33 0,33 0,33 0,33 0,33 0,33

FR (%) 18,4 9,1 9,1 9,1 9,1 9,1 9,1 9,1 9,1 9,1 100

KM

KR (%) 2 16,7 1 8,3 1 8,3 1 8,3 1 8,3 1 8,3 2 16,7 1 8,3 1 8,3

DM 0.167 0.083 0.083 0.083 0.083 0.083 0.167 0.083 0.083 0.083 1

DR (%) 16.667 8.333 8.333 8.333 8.333 8.333 16.667 8.333 8.333 8.333 100

INP (%) 17,021 8.5 8.5 8.5 8.5 8.5 17,021 8.5 8.5 8.5 300

1 8,3 12 100

DATA ANGKATAN 2006 Plot 1m x 1m (dengan memakai kadar kerapatan Braun Blanquet )

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Nama Spesies Rumput teki Rumput gajah Rumput raksasa (ilalang) Mimosa Semanggi Kembang telang Oxalidaceae Graminae (rumput biasa) Cyperus rotundus Tumbuhan melata Centosoma pubescens Rumput pita Andropogon sp Cynodon dactylon Rumput padi Cyperus alternifolius Thunbergia alata Cyperus brevifolius Tembagaan Rumput A (10) Rumput B (7) Rumput C (9) Spesies E (10) Spesies A (2) JUMLAH 1 2 3 4 1 3 5 2 1

2 3 2 1

Kelompok / Plot DM 5 6 7 8 9 10 11 12 2 + 1 8 4 3 4 2 2 2 25 2 2 + 5 1 + 2 1 1 2 2 2 2 2 4 2 2 2 2 1 1 1 2 4 12 2 1 3 3 + 1 + 1 1 1 2 2 + 3 2 + 3 3 1 6 3 3 2 2 3 96

DR 8% 25% 5% 2% 1% 2% 2% 4% 2% 2% 1% 12% 2% 1% 3% 1% 1% 2% 3% 3% 6% 3% 2% 3% 100%

Plot 2m x 2m No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama spesies 1 Oxalidaceae Rumput Jarum Tapak liman Kirinyuh Arey patuk manuk Pilea sp Bauhinia purpurea Kacang-kacangan Bixaolerona Caesalpinia pulcherima P. spicata Galinggem Oxalis Papilionaceae Euphatorium podoratum Sawo Belanda Pseudoelephanthopus scaber Mimosa pudica Canna indica Ageratum conizoides Terminalia cahapa(ketapang) Syzigium sp Tempuyung(Soncus arvensis) Centela asiatica 2 3 4 5 Kelompok/plot 6 7 8 9 10 11 12 12 26 22 3 11 5 4 2 50 Total 12 26 38 23 6 51 20 18 1 3 10 4 2 5 1 1 75 35 5 40 1 4 1 1 Fm 0.083 0.083 0.333 0.416 0.166 0.166 0.166 0.083 0.083 0.166 0.083 0.083 0.083 0.083 0.083 0.083 0.333 0.5 0.083 0.25 0.083 0.166 0.083 0.083 FR (%) 1% 1% 4% 5% 2% 2% 2% 1% 1% 2% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 4% 6% 1% 3% 1% 2% 1% 1% Km 0.25 0.54 0.79 0.47 0.13 1 0.42 0.38 0.02 0.06 0.21 0.08 0.04 0.1 0.02 0.02 1.56 0.72 0.1 0.83 0.02 0.08 0.02 0.02 KR (%) 1% 2% 3% 2% 0% 4% 1% 1% 0% 0% 1% 0% 0% 0% 0% 0% 5% 2% 0% 3% 0% 0% 0% 0% Dm 12 26 38 23 6 51 20 18 1 3 10 4 2 5 1 1 75 35 5 40 1 4 1 1 DR 1% 2% 3% 2% 0% 4% 1% 1% 0% 0% 1% 0% 0% 0% 0% 0% 5% 3% 0% 3% 0% 0% 0% 0% INP 3% 5% 10% 9% 3% 9% 5% 4% 1% 3% 3% 2% 1% 2% 1% 1% 15% 11% 2% 9% 1% 3% 1% 1%

8 3

1 19 18 1 2 10 4 2 5 1 1 2 2 1

32 15 35

2 1 5 3 1 3 1 1

39 7 2 1

25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53

Gomprena sp Stachytarpheta sp. Cana hibrida Lantana camara (saliara) Kerma Stachytarpeta jamaicensis Adas Salvia sp Ocimum basilicum Euphatorium odoratum Jarong ungu Kaliandra Merry gold Babandotan Mimosa pigra Tithonia diversifolia Urena lobata Chromolaena odorantha Wedelia triloba Euphatorium inufolium Centrosoma sp Seedling Leguminacae Ipomea sp Spes A(11) Spes B(11) Spes C(11) Spes D (11) Spes E (11)

2 18 1 1 21 49 31 6 3 2 1 4

2 5 3 12 215 4 2 385 2 6 12 2 3 14 2 2 2 1 1 4 2

14 24 19 1 13

7 15 5 2 11

2 18 22 50 31 6 3 2 1 4 14 24 19 1 15 5 3 12 215 8 4 385 2 6 9 30 12 5 25

0.083 0.083 0.166 0.166 0.083 0.083 0.083 0.083 0.083 0.083 0.083 0.083 0.083 0.083 0.166 0.083 0.083 0.083 0.083 0.166 0.166 0.083 0.083 0.083 0.166 0.333 0.416 0.166 0.166

1% 1% 2% 2% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 2% 1% 1% 1% 1% 2% 2% 1% 1% 1% 2% 4% 5% 2% 2%

0.04 0.38 0.46 1.04 0.65 0.13 0.06 0.04 0.02 0.08 0.29 0.5 0.4 0.02 0.31 0.1 0.06 0.25 4.48 0.17 0.08 8.02 0.04 0.13 0.19 0.62 0.25 0.1 0.52

0% 1% 2% 4% 2% 0% 0% 0% 0% 0% 1% 2% 1% 0% 1% 0% 0% 1% 15% 1% 0% 28% 0% 0% 1% 2% 1% 0% 2%

2 18 22 50 31 6 3 2 1 4 14 24 19 1 15 5 3 12 215 8 4 385 2 6 9 30 12 5 25

0% 1% 2% 4% 2% 0% 0% 0% 0% 0% 1% 2% 1% 0% 1% 0% 0% 1% 15% 1% 0% 28% 0% 0% 1% 2% 1% 0% 2%

1% 4% 5% 9% 6% 2% 1% 1% 1% 2% 3% 5% 4% 1% 4% 2% 1% 3% 32% 3% 3% 56% 1% 2% 3% 9% 7% 3% 6%

54 55 56

Spes F (11) Spesies G Tumbuhan A Jumlah

3 8 64

3 8 64 1391

0.083 1% 0.06 0% 3 0% 0.083 1% 0.17 1% 8 1% 0.083 1% 1.33 5% 64 5% 7.727 100% 28.93 100% 1391 100%

1% 2% 10% 300%

Plot 4mx 4m No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Nama spesies Mimosa pigra Mimosa pudica Solanum torpum Syzigium sp Sengon Pilea sp Musa paradisiacal Lantana camara (Saliara) Takokak Bauhinia purpurea B.olerana C.pulcherima Jarak jarong ungu (Stachytarpeta jamaicensis) Arachis sp Citrus sp Tectonia grandis Bambu sp Jelata Swietenia Calliandra calothyrsus Tapak liman semu Katuk Kelompok/plot 1 2 3 4 5 6 7 8 9 9 1 11 15 1 2 7 Total 10 11 12 44 3 93 50 6 2 6 11 68 1 13 93 50 9 3 6 6 4 8 1 1 1 5 1 53 1 1 31 34 2 0.005 0.015 0.005 0.02 0.005 0.005 0.01 0.01 0.005 0.005 0.005 0.01 0.005 0.005 0.005 0.01 0.005 0.005 0.005 0.005 0.005 0.005 0.005 2% 7% 2% 9% 2% 2% 5% 5% 2% 2% 2% 5% 2% 2% 2% 5% 2% 2% 2% 2% 2% 2% 2% 0.057 0.354 0.005 0.068 0.484 0.26 0.047 0.016 0.031 0.031 0.021 0.042 0.005 0.005 0.005 0.026 0.005 0.276 0.005 0.005 0.161 0.177 0.01 3% 16% 0% 3% 22% 12% 2% 1% 1% 1% 1% 2% 0% 0% 0% 1% 0% 12% 0% 0% 7% 8% 0% 11 68 1 13 93 50 9 3 6 6 4 8 1 1 1 5 1 53 1 1 31 34 2 3% 16% 0% 3% 22% 12% 2% 1% 1% 1% 1% 2% 0% 0% 0% 1% 0% 12% 0% 0% 7% 8% 0% 7% 39% 3% 15% 46% 26% 9% 6% 5% 5% 4% 8% 3% 3% 3% 7% 3% 27% 3% 3% 17% 18% 3% Fm FR Km KR Dm DR INP

1 6 4 7 1 1 1 3 1 53 1 1

31 34 2

24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

Starchypeta indica Verbenaceae Kirinyuh Spesies Q Spesies R Spesies A spesies C Spesies F Spesies 4 Pancang A Kacang A Jumlah

9 4 1 1 1 1 1 1 1 1

9 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 428

0.005 2% 0.01 5% 0.005 2% 0.005 2% 0.005 2% 0.005 2% 0.005 2% 0.005 2% 0.005 2% 0.005 2% 0.005 2% 0.22 100%

0.047 2% 0.036 2% 0.005 0% 0.005 0% 0.005 0% 0.005 0% 0.005 0% 0.005 0% 0.005 0% 0.005 0% 0.005 0% 2.224 100%

9 2% 7 2% 1 0% 1 0% 1 0% 1 0% 1 0% 1 0% 1 0% 1 0% 1 0% 428 100%

6% 8% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 300%

Plot 8m x 8m No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama spesies Bauhinia purpurea C. pulcherima B. olerana Musa paradisiacal Syzigium sp Tamarindus indica Scimawalichi Poh pohan Pulai Citrus sp Cocos nucifera Bisbul(Diosphiros discolor) Kapuk Baragala Pohon (ky cynometra) Sengon Caesalpinea Fillicium decipiens Acacia sp. Cananga odorata Tectona grandis Hibiscus stilaceus Artocarpus communis Pappilionaceae A(1) Anona muricata Kelompok/plot Total Fm 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 3 3 0.0013 2 2 0.0013 2 2 0.0013 1 12 13 0.0026 4 2 1 1 8 0.0052 1 1 0.0013 1 1 0.0013 1 1 0.0013 2 2 0.0013 1 2 3 0.0026 1 1 0.0013 1 1 2 0.0026 1 1 0.0013 1 1 0.0013 1 1 0.0013 2 2 0.0013 1 1 2 0.0026 1 1 0.0013 1 1 0.0013 1 1 0.0013 1 1 0.0013 1 1 0.0013 1 1 0.0013 1 1 0.0013 3 3 0.0013 FR 2% 2% 2% 4% 7% 2% 2% 2% 2% 4% 2% 4% 2% 2% 2% 2% 4% 2% 2% 2% 2% 2% 2% 2% 2% Km 0.0039 0.0026 0.0026 0.0169 0.0104 0.0013 0.0013 0.0013 0.0026 0.0039 0.0013 0.0026 0.0013 0.0013 0.0013 0.0026 0.0026 0.0013 0.0013 0.0013 0.0013 0.0013 0.0013 0.0013 0.0039 KR 4% 2% 2% 15% 10% 1% 1% 1% 2% 4% 1% 2% 1% 1% 1% 2% 2% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 4% Dm 3 2 2 13 8 1 1 1 2 3 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 3 DR 4% 2% 2% 15% 10% 1% 1% 1% 2% 4% 1% 2% 1% 1% 1% 2% 2% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 4% INP 10% 6% 6% 34% 26% 4% 4% 4% 6% 12% 4% 8% 4% 4% 4% 6% 8% 4% 4% 4% 4% 4% 4% 4% 10%

26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Abrus precatorius Mangifera indica Areca cathecu Averhoa carambola Cassia sp Palem Callophylum inophylum Spatodea campanulata Gnetum gnemon Bombacaceae Ficus sp Galinggem Euphorbiaceae Ficus lyrata Spesies A (3) Spesies D (4) Spesies G (2) Spesies H (2) Spesies N (6) Pancang A (7) Pohon A (9) JUMLAH

1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1

1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 1 1 2 2 1 1 84

0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0026 4% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0013 2% 0.0702 100%

0.0013 1% 0.0013 1% 0.0039 4% 0.0013 1% 0.0013 1% 0.0013 1% 0.0013 1% 0.0013 1% 0.0013 1% 0.0013 1% 0.0013 1% 0.0026 2% 0.0013 1% 0.0013 1% 0.0039 4% 0.0013 1% 0.0013 1% 0.0026 2% 0.0026 2% 0.0013 1% 0.0013 1% 0.1092 100%

1 1% 1 1% 3 4% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 1 1% 2 2% 1 1% 1 1% 3 4% 1 1% 1 1% 2 2% 2 2% 1 1% 1 1% 84 100%

4% 4% 10% 4% 4% 4% 4% 4% 4% 4% 4% 6% 4% 4% 12% 4% 4% 6% 6% 4% 4% 300%

4.2 Pembahasan 4.2.1. Pembahasan Data Kelompok 9 Pada plot 1x1 m praktikan mengambil sampel dengan criteria ground cover, yaitu tanaman sebagai penutup lapisan tanah dengan ketinggian maksimal tidak lebih dari 1 m. Yang termasuk ke dalam golongan tumbuhan Ground cover diantaranya didominasi golongan rumput-rumputan. Jenis rumput yang banyak ditemukan di semua plot diantaranya rumput teki (Cyperus rotundus) dan rumput gajah. Sedangkan yang memiliki dominansi tertinggi adalah dari kelompok Lamiaceae pada daerah 3 karena penutupannya hampir di seluruh plot 1x1 m di daerah tersebut. Dari 3 plot 1x1 m yang dibuat, rumput teki dan famili Lamiaceae kadar penutupannya relative paling tinggi. Pada plot 1x1 digunakan metode Braun Blanket untuk menghitung susunan kadar kerapatan karena jumlah individu spesies rumput-rumputan terlalu banyak sehingga sulit dihitung. Penggunaan metode ini juga berfungsi untuk melihat presentase kerapatan/penutupan golongan rumput di daerah pengamatan. Selain itu, dengan metode ini memudahkan praktikan melihat dan menghitung kerapatan tumbuhan penutup lapidsan tanah tersebut (ground cover). Jenis rumput yang dimaksud adalah tumbuhan yang memiliki ketinggian di bawah 50 cm . Menurut Soerianegara, tumbuhan golongan penutup lapisan tanah ini temasuk dalam stratifikasi tumbuhan tipe E dengan ukuran ketinggian antara 0-1 m. Jenis rumput yang menempati indeks nilai penting tertinggi adalah dari golongan Lamiaceae sebesar 36,49 %. Hal ini menunjukan bahwa gologan tersebut dapat hidup dengan baik di lokasi tersebut dan dapat membentuk komunitas tersendiri secara berkelompok sehingga mampu menguasai area tersebut. Selain itu, nilai penting trtinggi ini dapat menunjukkan daya adaptasi yang relatif lebih tinggi terhadap faktor lingkungan sekitarnya dibanding dengan kelompok ground cover lainnya. Pada setiap plot 1x1 kuadrat kelompok, hampir semua kelompok menunjukan bahwa komposisi rumput-rumputan terdapat dalam daerah yang dicuplik. Hal ini berarti bahwa vegetasi rumput cukup adaptif terhadap lingkungan. Sedangkan pada plot 2x2 yang digunakan untuk mengetahui struktur komunitas dari herba, didapat kerapatan terbesar pada spesies Pilea sp sebesar 36,76%. Tumbuhan yag diamati pada plot ini masuk ke dalam stratifikasi tumbuhan tipe D, yaitu lapisan tumbuhan perdu, herba, dan semak dengan ketinggian antara 1-4 m. Kerapatan tertinggi Pilea sp menunjukkan tumbuhan tersebut berada dalam jumkah yang lebih banyak dibandingkan jenis tumbuhan herba yang lain di plot 2x2 m. Spesies ini juga memiliki nilai penting terbesar, yaitu 73,67 %. Hal ini menunjukkan daya adaptasi yang relative lebih tinggi dibandingkan dengan jenis tumbuhan herba lain di plot 2x2m, kemudian hal ini juga menunjukkan bahwa Pilea sp memiliki peran yang cukup penting dalam komunitas di daerah pengamatan dilihat dari jumlahnya yang paling dominant.

Pada plot 4x4 yang digunakan untuk mengetahui struktur komunitas dari kategori pancang, didapat kerapatan terbesar pada spesies Albizzia falcataria yaitu sebesar 58 %. Spesies yang menempati indeks nilai penting tertinggi yaitu Albizzia falcataria sebesar 58,96 %. Albizzia falcataria dapat tumbuh di mana saja dan tidak memerlukan perlakuan khusus untuk merawatnya, sehingga memiliki dominansi paling banyak dari pada tumbuhan pancang yang lain. Tumbuhan yang tergolong pancang adalah tumbuhan kayu dengan diameter batang kurang dari 10 cm. Dan pada plot 8x8 yang digunakan untuk mengetahui struktur komunitas dari kategori tiang, didapat kerapatan dan nilai indeks penting tertinggi pada tumbuhan pulai (Alstonia scolaris) yaitu masing-masing sebesar 16, 7% dan 17,021%. Hal ini mungkin berkaitan dengan budidaya tanaman tersebut di area arboretum. Tumbuhan yang tergolong tiang adalah tumbuhan kayu yang memiliki diameter batang sama dengan lebih dari 10 cm. ELEPHANTOPUS SCABER L. Klasifikasi Divisi Sub divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis Spermatophyta Angiospermae Dicotyledoneae Asterales Asteraceae Elephantopus Elephentopus scaber L.

Nama daerah Tapak Liman OXALIDACEAE Klasifikasi Divisi Sub divisi Kelas Bangsa Suku Spermatophyta Angiospermae Dicotyledoneae Geraniaies Oxalidaceae

ALBIZZIA FALCATARIA Kingdom Phylum Plantae - Haeckel, 1866 - Plants Magnoliophyta - Sinnott, 1935 Ex Cavalier-Smith, 1998 - Flowering Plants Subkingdom Viridaeplantae - Cavalier-Smith, 1981

Subphylum Infraphylum Class Subclass Superorder Order Family Genus Species

Euphyllophytina Radiatopses - Kenrick & Crane, 1997 Magnoliopsida - Brongniart, 1843 - Dicotyledons Rosidae - Takhtajan, 1967 Fabanae - R. Dahlgren Ex Reveal, 1993 Fabales - Bromhead, 1838 Fabaceae - Lindley, 1836 - Bean Family Albizzia Albizzia falcataria

LANTANA CAMARA Spesies : Nama Inggris : Nama Indonesia : Lantana camara Linn. Sage, wild sage Kembang telek, tembelekan Herba batang berbulu dan berduri serta berukuran lebih kurang 2 m. Daunnya kasar, beraroma dan berukuran panjang beberapa sentimeter dengan bagian tepi daun yang bergerigi. Bercabang banyak, ranting bentuk segi empat, ada varietas berduri dan ada varietas yang tidak berduri. Daun tunggal, Deskripsi : duduk berhadapan bentuk bulat telur ujung meruncing pinggir bergerigi tulang daun menyirip, permukaan atas berambut banyak terasa kasar dengan perabaan permukaan bawah berambut jarang. Bunga dalam rangkaian yang bersifat rasemos mempunyai warna putih, merah muda, jingga kuning, dsb. Buah seperti buah buni berwarna hitam mengkilap bila sudah matang. Distribusi/Penyebaran : Tumbuhan yang berasal dari Amerika tropis ini bisa ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian 1.700 m dpl. Ditemukan pada tempat-tempat terbuka yang terkena sinar Habitat : matahari atau agak ternaung.Terdapat sampai 1.700 m dpl., di tempat panas, banyak dipakai sebagai tanaman pagar.

SOLANUM TORVUM Klasifikasi

Divisi Sub divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis

Spermatophyta Angiospermae Dicotyledoneae Solanales Solanaceae Solanum Solanum torvum

Nama daerah takokak CEIBA PENTANDRA Spesies : Nama Inggris : Nama Indonesia : Ceiba pentandra Gaertn. Kapok, (white) silk-cotton tree Kapuk Merupakan pohon dengan tinggi mencapai 70 m. Akar menyebar horizontal, di permukaan tanah. Batang dengan atau tanpa cabang, kadang-kadang berduri. Daun majemuk, berseling; memanjang - lanset, gundul. Bunga bisexual; kelopak menggenta, di bagian luar gundul; mahkota bunga Deskripsi : memanjang-bulat telur terbalik, bersatu pada pangkal, biasanya berwarna putih kotor dengan bau seperti susu, di bagian dalam gundul dan di bagian luar berambut lebat seperti sutra; benang sari bersatu pada pangkal dalam kolom staminal, kepala sari bergelung atau seperti ginjal. Buah ketika masak berubah menjadi coklat, dengan banyak biji. Biji bulat telur, coklat tua, putih, kuning muda atau berwarna seperti sutra. Asal dan penyebaran geografi Kapuk adalah Amerika Tropik. Dari sana meyebar ke Afrika, sepanjang pantai barat dari Senegal ke Angola. Tanaman ini dibawa dari Afrika ke Asia Distribusi/Penyebaran : untuk dibudidayakan. Kapuk terlukis di relief Jawa sejak 1000 Setelah Masehi. Kini, tanaman ini dibudidayakan di seluruh daerah tropik, terutama di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand. Habitat : Kapok tumbuh bagus pada ketinggian di bawah 500 m. Temperatur malam hari di bawah 17C. Untuk hasil bagus, tumbuh baik pada 20N dan 20S. Kapok menyukai curah hujan yang melimpah selama periode vegetatatif dan lebih

kering pada periode berbunga dan berbuah. Curah hujan sebaiknya sekitar 1500 mm per tahun. Periode kering tidak lebih dari 4 bulan dengan curah hujan kurang dari 100 mm per bulan, dan dalam periode ini, total curah hujan 150300 mm. Di daerah yang lebih kering, persediaan air terdapat di dalam tanah. Di delta Mekong (Vietnam), dimana curah hujan tidak mencukupi, kapok tumbuh bagus di sepanjang sungai. Untuk hasil yang bagus, tanaman ini sebaiknya ditanam di tanah yang bagus, di Indonesia ditanam di tanah lempung vulkanik. Pohon ini mudah rusak oleh angin yang kuat. di Indonesia, daerah datar di sepanjang sisi jalan dan sungai dipilih untuk penanaman tanaman ini, selama lokasi tersebut cukup sinar matahari dan pengairan. Di Jawa dan Sulawesi kapok juga ditanam di lereng pegunungan.. Perbanyakan : Kapuk diperbanyak dengan biji atau stek. Biji disebarkan dalam garis semai 2530 cm. Jika tanah tidak subur, harus disiapkan 10 hari sebelum biji ditebarkan. Ketika tanaman muda mencapai tinggi 1215 cm, mereka dapat diletakkan di bawah cahaya matahari penuh. Tanaman yang tidak menerima banyak sinar matahari tumbuh tinggi dan kurus. Tanaman muda ditanam di ladang ketika berumur 810 bulan. Metode lain adalah dengan menaburkan biji langsung ke ladang yang telah dibersihkan. 3 biji ditaburkan setioap lubang dan sekitar 2 - 3 bulan berikutnya, seedling dijarangkan menjadi satu per lubang. Kapuk mudah diperbanyak dengan stek, diameter 58 cm dan panjang 1.21.8 m, dari kayu yang berumur 23 tahun. Stek diambil dari cabang yang tegak. Pohon ditanam dari biji lebih baik daripada yang dari stek, tetapi berkembang lebih lambat dan tidak terjadi persilangan. Kemudian sekarang di Indonesia direkomendasikan bahwa kecambah diokulasikan pada pohon dari klon dengan hasil panen yang tinggi. Okulasi dilakukan pada permulaan musim hujan dan kecambah yang telah diokulasi ditanam di ladang ketika kuncup tumbuh menjadi tunas sepanjang 1 m. Dalam penanaman komersial di Jawa, kapok ditanam dengan jarak 8 - 12 m.; Di Asia Tenggara, pohon kapuk ditanam di sekitar desa, di lahan

petani atau di penanaman komersial. Tanaman ini juga ditanam di sepanjang jalan dan di sekeliling ladang. Di Jawa, kapuk sangat jarang ditanam sebagai tanaman yang diperjualbelikan. Tanaman ini digabungkan dengan bermacammacam tanaman, seperti ketela pohon (Manihot esculenta Crantz), kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dan turmeric (Curcuma longa L.). Di Kamboja digabungkan dengan tanaman satu tahunan seperti jagung, kapas dan kedelai selama 23 tahun pertama setelah penanaman pohon. Beberapa penanaman di Jawa Timur menyarankan untuk menanam jagung dan kedelai di bawah pohon pada waktu musim hujan.. MIMOSA PUDICA Klasifikasi Divisio Subdivisio Classis Ordo Familia Genus Spesies Spermatophyta Angiospermae Dicotyledonae Rosales Mimosaceae Mimosa Mimosa pudica L. Putri malu merupakan herba memanjat atau berbaring atau setengah perdu dengan tinggi antara 0,3 1,5 m.Putri malu tumbuh liar di pinggir jalan, tempat tempat terbuka yang terkena sinar matahari. Tumbuhan asli Amerika tropis ini dapat ditemukan pada ketinggian 1 1200 m dpl. CLITORIA TERNATEA Spesies : Nama Inggris : Nama Indonesia : Nama Lokal : Deskripsi : Clitoria ternatea Butterfly pea, ordofan pea, blue pea, Asian pigeon-wings Bunga biru Bunga biru (Malay), kembang telang (Jawa, Sunda), Bunga telang (Makassar), Bunga temenraleng (Bugis), Saya ma gulele (Ternate), Bisi (Halmahera Utara) Tumbuhan ini tergolong ke dalam famili Leguminosae atau kacang-kacangan. Hidupnya merambat dan membelit.daunnya bersirip ganjil. Daun pelindungnya berjumlah 2-3 pasang

berbentuk telur atau jorong. Permukaan daun dan batangnya berbulu. Untuk bunganya, warnanya biru, jarang berwarna putih. Bentuknya seperti kupu-kupu. Jumlah bunganya biasanya terdapat beberapa tangkai, sedangkan di ketiak daun berjumlah satu bunga. Bila bunga dibuahi, maka dihasilkan polong yang berbentuk garis lebar, dan tipis. Di dalamnya terdapat banyak biji. Bentuk bijinya tak berlipat dan terdapat pusar biji. Distribusi/Penyebaran : Jawa, Sunda, Maluku, Ternate, Sulawesi Selatan. Kembang teleng (Clitoria ternatea l) sering ditemukan hidup Habitat : menjalar di pagar-pagar rumah di pedesaan. Tempat yang cocok untuk hidupnya adalah di dataran rendah hingga ketinggian 700 meter. 4.2.2. Pembahasan Data Angkatan Jenis rumput yang paling banyak ditemukan di plot 1 x 1 m dari semua kelompok adalah spesies rumput gajah, begitu pula yang memiliki dominansi tertinggi adalah rumput gajah yaitu sebanyak 25%, ini menujukan bahwa rumput gajah penutupannya hampir di seluruh plot masing-masing kelompok di daerah tersebut. Pada plot 1x1 digunakan metode Braun Blanket untuk menghitung susunan kadar kerapatan karena jumlah individu spesies rumput-rumputan terlalu banyak sehingga sulit dihitung. Penggunaan metode ini juga berfungsi untuk melihat presentase kerapatan/penutupan golongan rumput di daerah pengamatan. Selain itu, dengan metode ini memudahkan praktikan melihat dan menghitung kerapatan tumbuhan penutup lapidsan tanah tersebut (ground cover). Jenis rumput yang dimaksud adalah tumbuhan yang memiliki ketinggian di bawah 50 cm . Menurut Soerianegara, tumbuhan golongan penutup lapisan tanah ini temasuk dalam stratifikasi tumbuhan tipe E dengan ukuran ketinggian antara 0-1 m. Jenis rumput yang menempati indeks nilai penting tertinggi adalah dari golongan rumput gajah sebesar 25%. Hal ini menunjukan bahwa gologan tersebut dapat hidup dengan baik di lokasi tersebut dan dapat membentuk komunitas tersendiri secara berkelompok sehingga mampu menguasai area tersebut. Selain itu, nilai penting trtinggi ini dapat menunjukkan daya adaptasi yang relatif lebih tinggi terhadap faktor lingkungan sekitarnya dibanding dengan kelompok ground cover lainnya. Pada setiap plot 1x1 kuadrat kelompok, hampir semua kelompok menunjukan bahwa komposisi rumput-rumputan terdapat dalam daerah yang dicuplik. Hal ini berarti bahwa vegetasi rumput cukup adaptif terhadap lingkungan.

Pada plot 2x2 didapat kerapatan terbesar yaitu seedling sebesar 28%. Tumbuhan yang diamati pada plot ini masuk ke dalam stratifikasi tumbuhan tipe D, yaitu lapisan tumbuhan perdu, herba, dan semak dengan ketinggian antara 1-4 m. Kerapatan tertinggi seedling menunjukkan tumbuhan tersebut berada dalam jumkah yang lebih banyak dibandingkan jenis tumbuhan herba yang lain di plot 2x2 m. Spesies ini juga memiliki nilai penting terbesar, yaitu 56%. Hal ini menunjukkan daya adaptasi yang relative lebih tinggi dibandingkan dengan jenis tumbuhan herba lain di plot 2x2m, kemudian hal ini juga menunjukkan bahwa seedling memiliki peran yang cukup penting dalam komunitas di daerah pengamatan dilihat dari jumlahnya yang paling dominant. Pada plot 4x4 didapat kerapatan terbesar pada spesies Albizzia falcataria yaitu sebesar 22%. Spesies yang menempati indeks nilai penting tertinggi yaitu Albizzia falcataria sebesar 46%. Albizzia falcataria dapat tumbuh di mana saja dan tidak memerlukan perlakuan khusus untuk merawatnya, sehingga memiliki dominansi paling banyak dari pada tumbuhan pancang yang lain. Tumbuhan yang tergolong pancang adalah tumbuhan kayu dengan diameter batang kurang dari 10 cm. Dan pada plot 8x8 didapat kerapatan dan nilai indeks penting tertinggi pada Musa paradisiaca yaitu masing-masing sebesar 15% dan 34%. Hal ini mungkin berkaitan dengan budidaya tanaman tersebut di area arboretum. VI. KESIMPULAN Setelah dilakukan pengamatan dan pembahasan pada data yang diperoleh, maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1.

Pada data kelompok plot 1x1, kerapatan terbesar dimiliki oleh spesies

Cyperus rotundus, dan famili Lamiaceae, yaitu sebesar 8,8%. Spesies yang menempati indeks nilai penting tertinggi adalah Lamiaceae sebesar 36,49 %.

2.

Pada data angkatan plot 1x1, kerapatan terbesar dimiliki oleh spesies

rumput gajah yaitu sebesar 25%. Spesies yang menempati indeks nilai penting tertinggi adalah rumput gajah sebesar 36,49 %.

3.

Pada data kelopmpok plot 2x2, kerapatan terbesar dimiliki oleh Pilea sp

sebesar 36,76%. Pilea sp juga menempati urutan indeks nilai penting tertinggi yaitu sebesar 73,67%. 4. Pada data angkatan plot 2x2, kerapatan terbesar dimiliki oleh seedling sebesar 28%.

Seedling juga menempati urutan indeks nilai penting tertinggi yaitu sebesar 56%. 5. Pada data kelompok plot 4x4, kerapatan terbesar dimiliki oleh spesies Albazzia falcataria yaitu 58%. Spesies yang menempati indeks nilai penting tertinggi yaitu Albazzia falcataria sebesar 58,96%. 6. Pada data angkatan plot 4x4, kerapatan terbesar dimiliki oleh spesies Albazzia falcataria yaitu 22%. Spesies yang menempati indeks nilai penting tertinggi yaitu Albazzia falcataria sebesar 46% 7. Pada data kelompok plot 8x8, kerapatan terbesar dimiliki oleh spesies Alstonia scolaris sebesar 16,7%. Demikian pula spesies yang memiliki nilai penting tertiggi yaitu Alstonia scolaris sebesar 17,021%. 8. Pada data angkatan plot 8x8, kerapatan terbesar dimiliki oleh spesies Musa paradisiaca sebesar 15%. Demikian pula spesies yang memiliki nilai penting tertiggi yaitu Musa paradisiaca sebesar 34%. 5. Kekuasaan, kerapatan dan dominansi tiap-tiap spesies terhadap spesies lainnya pada setiap plot dipengaruhi daya adaptasi spesies terhadap lingkugan dan pembudidayaan spesies tersebut di arboretum.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim1.

Vegetation

Analysis

Methods.

http://www.hkflora.com/v2/

vegetation/veget_analysis_methods.php Anonim2 .Vegetation Analysis www.tuhsd.k12.az.us/Corona_del_Sol_HS/ departments/ Science/veganalysis.html-2k Djufri. .http://www .pk.ut.ac.id/jmst/jurnal_2004.2/djufri.htm-515k Dumbois-Mueller D., and Ellenberg H. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. New York: Wiley International Edition Husodo, T. 2008. Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. Jatinangor: Jurusan biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran Odum, EP. 1996. Dasar-Dasar Ekologi edisi ketiga. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press Rifai, Mien A., 2002. Kamus Biologi / Penyusun Akhir Mien A. Rifai. cet. 2-. Jakarta:Balai Pustaka
Soerianegara, I. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor : IPB

LAMPIRAN - Data Mentah Plot 1x1 m Nama Tumbuhan (Daerah A) Rumput teki (Cyperus rotundus) Rumput gajah Rumput raksasa Mimmosa pudica Semanggi Kembang telang (Clitoria ternatea) Oxalidaceae Nama Tumbuhan (Daerah B) Rumput gajah Rumput (A) Rumput (B) Rumput Teki (Cyperus rotundus) Nama Tumbuhan (Daerah C) Rumput (C) Rumput teki (Cyperus rotundus) Mimmosa pudica Graminae Kembang telang (Clitoria ternatera) Plot 2x2 m Nama Tumbuhan Oxalidaceae Rumput jarum Tapak liman (Elephantopus scaber) Ki Rinyuh (Eupathorium odoratum) Areuy patuk manuk (Thunbergia alata) Pilea sp Spesies A Spesies B Spesies C 25 2 1 1 25 4 1 10 1 15 19 10 Plot 2 4 7 12 3 Kadar Penutupan 20 % 10 % 30 % 5% 5% 10 % 20 % Kadar Penutupan 60 % 20 % 10 % 10 % Kadar Penutupan 80 % 10 % 10 % 20 % 10 %

Plot 4x4 m Nama Plot

Tumbuhan Takokak (Solanum torvum) Sengon (Aibizia falcataria) (seedling) Saliara (Lantana camara) Pilea sp Pisang (Musa paradisiaca) Verbenaceae Plot 8x8 m Nama Tumbuhan Pulai (Aistonia colaris) Baragalan Jeruk purut (Cytrus hystrix) Kelapa (Cocos nucifera) Bisbul (Diospiros discolor) Kapuk (Ceiba petandra) Sengon (Albizia falcataria) Caesalpinea pulcherima Pohon A Pohon B (kaya Cinometra)

1 6

67

26

25

25 6 3

1 1 1

Plot 2 1

1 1 1

1 2 1 1 1