Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Herpes Simpleks termasuk penyakit yang umum diderita masyarakat. Penyakit yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II, ini memang tidak mematikan, namun keberadaannya cukup mengganggu.9 Penyakit ini tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria maupun wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi primer oleh virus herpes simpleks tipe I biasanya dimulai pada usia anak anak, sedangkan infeksi oleh virus herpes simpleks tipe II biasanya terjadi pada decade II atau III, dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual.3 Virus herpes simpleks dapat menular dari seseorang ke orang lain melalui kontak yang dekat. Anda bisa mendapatkan virus herpes simpleks dari menyentuh luka herpes. Banyak orang, mendapatkan herpes simpleks dari orang yang terinfeksi yang tidak memiliki luka.1 Sekali seseorang terinfeksi virus herpes, virus tidak pernah meninggalkan tubuh. Setelah wabah pertama, virus berpindah dari sel-sel kulit ke sel-sel saraf. Virus tetap dalam sel-sel saraf selamanya. Tapi biasanya hanya tinggal di sana. Pada tahap ini, virus dikatakan tertidur atau dormant.1,2 Ada beberapa pengobatan penyakit herpes yang dapat digunakan untuk mengobati penyebab herpes. Pengobatan ini ada yang menggunakan pengobatan medis, ada juga yang menggunakan pengobatan secara tradisional. Semua jenis pengobatan ini dapat menghentikan gejala herpes.9 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa definisi dari herpes simpleks ? 2. Apa etiologi dan faktor predisposisi herpes simpleks ? 3. Bagaimana epidemiologi herpes simpleks ? 4. Bagaimana patofisiologi herpes simpleks ? 5. Apa saja gejala dan tanda herpes simpleks ? 6. Bagaimana cara mendiagnosis herpes simpleks ? 7. Apa saja diagnosis banding dari herpes simpleks ?

8. Bagaimana penatalaksanaan herpes simpleks ? 9. Bagaimana prognosis dan Apa saja komplikasi herpes simpleks ? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui definisi dari herpes simpleks 2. Mengetahui etiologi dan faktor predisposisi herpes simpleks 3. Mengetahui epidemiologi herpes simpleks 4. Mengetahui patofisiologi herpes simpleks 5. Mengetahui gejala dan tanda herpes simpleks 6. Mengetahui cara mendiagnosis herpes simpleks 7. Mengetahui diagnosis banding dari herpes simpleks 8. Mengetahui penatalaksanaan pada herpes simpleks 9. Mengetahui prognosis dan Apa saja komplikasi herpes simpleks. 1.4 Manfaat Teoritis Makalah ini diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan dan landasan teori herpes simpleks. Praktis Makalah ini diharapkan mampu memberikan landasan ilmiah dalam penanganan pada kondisi herpes simpleks.

BAB II HERPES SIMPLEKS


2.1 Definisi Herpes simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok diatas kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun rekurens.3 Sinonim : Fever blister, cold store, herpes febrilis, herpes labialis, herpes progenitalis (genitalis). 2.2 Etiologi dan Faktor Predisposisi Ada delapan Human Herpes Viruses (HHVs) yang telah diidentifikasi yaitu : Herpes simplex virus (HSV) -1 (HHV-1), Herpes simplex virus (HSV) -2 (HHV-2), Varicella-zoster virus (VZ V, atau HHV-3), Epstein-Barr virus (EBV, atau HHV-4), Cytomegalovirus (CMV, atau HHV-5), HHV-6, HHV-7, dan HHV8 (Kaposi sarcoma-associated virus).5 Herpes simpleks disebabkan oleh virus herpes simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II yang merupakan virus DNA. Pembagian tipe I dan II berdasarkan karakteristik pertumbuhan pada media kultur, antigenic marker, dan lokasi klinis (tempat predileksi).3 Labialis: HSV-1 (8090%), HSV-2 (1020%). Urogenital: HSV-2 (70 90%), HSV-1 (1030%).5 Virus herpes simpleks dapat menular dari seseorang ke orang lain melalui kontak yang dekat. Anda bisa mendapatkan virus herpes simpleks dari menyentuh luka herpes. Banyak orang, mendapatkan herpes simpleks dari orang yang terinfeksi yang tidak memiliki luka. Hal ini disebut sebagai asymptomatic viral shedding.1 Kebanyakan yang terinfeksi HSV-1 (herpes simpleks tipe I) adalah bayi atau anak. Virus ini dapat ditularkan melalui kontak kulit-ke-kulit dengan orang dewasa yang membawa virus. Orang dewasa tidak harus memiliki luka untuk menyebarkan virus.1

Seseorang dengan HSV-1 (herpes simpleks tipe I) dapat menularkannya kepada orang lain melalui: berciuman, menyentuh kulit seseorang, berbagi objek seperti perak, lip balm, atau pisau cukur.1 Kebanyakan orang mendapatkan herpes genital dari HSV-2 (herpes simpleks tipe II), saat berhubungan seks. Jika seseorang melakukan oral seks, hal ini dapat menyebar HSV-1 pada alat kelamin. Ibu dapat menularkan virus herpes kepada bayi mereka selama proses persalinan. Jika bayi lahir pada episode pertama ibu menderita herpes genital, bayi dapat mengalami masalah serius.1 Beberapa orang yang lebih rentan untuk terinfeksi HSV-2 (herpes simpleks tipe II) adalah : perempuan, orang yang memiliki banyak pasangan seks, berhubungan seks untuk pertama kalinya di usia muda, memiliki infeksi menular seksual yang lain, memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena penyakit atau obat-obatan.1 Sekali seseorang terinfeksi virus herpes, virus tidak pernah meninggalkan tubuh. Setelah wabah pertama, virus berpindah dari sel-sel kulit ke sel-sel saraf. Virus tetap dalam sel-sel saraf selamanya. Tapi biasanya hanya tinggal di sana. Pada tahap ini, virus dikatakan tertidur atau dormant. Beberapa hal yang dapat memicu (bangunnya) virus adalah: Stres, Penyakit, Demam, terpapar sinar matahari, periode menstruasi, pembedahan, obat-obatan dan hubungan seksual.1,2

Gambar 1 Herpes Simpleks Virus7

2.3

Epidemiologi Herpes simplex virus (HSV) merupakan infeksi endemik di Amerika

Serikat dan merupakan penyebab infeksi genital berulang dan penyakit ulseratif oral. Infeksi herpes genital dapat disebabkan oleh virus tipe 2 (HSV-2), atau tipe 1

(HSV-1) (jarang). Meskipun sebagian besar infeksi tidak menunjukkan gejala, infeksi, HSV genital baik tipe 1 atau 2, dapat menyebabkan vesikular dan penyakit colitis pada orang dewasa dan penyakit sistemik berat pada neonatus dan individu yang immunocompromised. Infeksi HSV genital meningkatkan risiko akuisisi HIV pada orang yang terinfeksi.6 Penyakit ini tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria maupun wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi primer oleh virus herpes simpleks tipe I biasanya dimulai pada usia anak anak, sedangkan infeksi oleh virus herpes simpleks tipe II biasanya terjadi pada decade II atau III, dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual.3 2.4 Patofisiologi Infeksi HSV primer terjadi melalui hubungan yang dekat dengan seseorang yang terinfeksi virus pada bagian peripheral, permukaan mucosal, atau sekresi. Infeksi terjadi melalui inokulasi ke permukaan mukosa yang rentan atau luka di kulit. Setelah terpapar HSV, virus bereplikasi dalam sel epitel, sehingga menyebabkan lisis sel yang terinfeksi, pembentukan vesikel, dan peradangan lokal.5 Infeksi primer HSV terjadi pada bagian inokulasi mukosa, dengan infeksi retrograde menyebarkan ke ganglia saraf sensorik. Mengikuti resolusi dari infeksi primer, HSV memasuki keadaan laten disensorik saraf ganglia dari mana reaktivasi dapat terjadi menyebabkan infeksi aktif pada setiap bagian mukosa yang diinervasi oleh saraf ganglia tersebut.6 Selama infeksi HSV primer, natural killer cells merupakan efektor penting imunitas. Aktivasi mereka tergantung pada produksi beberapa sitokin terhadap respon infeksi. Sitokin ini juga memiliki efek langsung dan tidak langsung yang penting untuk membatasi replikasi virus.6 Pada respon imun yang matang, HSV clearance dari jaringan yang terinfeksi dimediasi oleh sel T, termasuk cytokine-mediated effector mechanisms dan sitolisis langsung sel yang terinfeksi virus. Pada tikus dan manusia, baik sel T CD4 dan CD8 penting dalam resolusi infeksi. Antibodi mungkin memainkan peran terbatas dalam mengendalikan infeksi HSV juga.6

Efisiensi dari respon imun tampaknya mempengaruhi jumlah virus pada masa laten dalam ganglia. Meskipun elemen yang berkonstribusi dalam kontrol ini masih belum diketahui, tampaknya interferon- (IFN-) memiliki peranan yang penting. IFN- mengaktifkan gen antivirus yang menghambat replikasi HSV dan mungkin diperlukan untuk awal penurunan titer virus HSV local.6 2.5 Gejala dan Tanda Periode Inkubasi : 2 - 20 hari (rata-rata 6 hari) selama infeksi primer.5 Banyak orang yang terinfeksi virus herpes tidak pernah merasakan apaapa. Jika tanda-tanda atau gejala terjadi, seseorang mungkin mengalami:1 Kesemutan, gatal, atau terbakar : sebelum vasikel muncul, kulit bisa kesemutan, gatal, atau terasa terbakar untuk satu atau dua hari.1 Luka: Satu atau lebih, vesikel berisi cairan mungkin muncul. vesikel pecah dan sering membentuk kerak. Luka pertama kali muncul antara 2 sampai 20 hari setelah seseorang memiliki kontak dengan orang yang terinfeksi. Luka dapat berlangsung 7 sampai 10 hari.1 Herpes oral (HSV-1): Kebanyakan vesikel muncul di bibir atau sekitar mulut. Terkadang vesikel terbentuk pada wajah atau di lidah. Meskipun ini adalah tempat yang paling umum untuk menemukan herpes oral, luka dapat muncul di mana saja pada kulit.1 Herpes genital (HSV-2): Luka biasanya terjadi pada penis, vagina, bokong, atau anus. Perempuan dapat memiliki luka di dalam vagina. Seperti herpes oral, luka tersebut dapat muncul di mana saja pada kulit.1 Gejala mirip flu. Demam nyeri otot, atau pembengkakan kelenjar getah bening di leher (herpes mulut) atau pangkal paha (herpes genital).1 Masalah buang air kecil : orang (paling sering perempuan) dengan herpes genital mungkin mengalami kesulitan buang air kecil atau memiliki perasaan terbakar saat kencing.1 Infeksi mata (herpes keratitis). Kadang-kadang virus herpes simpleks dapat menyebar ke salah satu atau kedua mata. Jika ini terjadi, Anda dapat mengalami sakit, sensitivitas cahaya, discharge, dan perasaan berpasir di mata. Tanpa pengobatan yang tepat, dapat mengakibatkan jaringan parut pada mata.

Jaringan parut dapat menyebabkan pengelihatan berawan dan bahkan kehilangan penglihatan.1 Infeksi HSV ini berlangsung dalam tiga tingkat yaitu :3 1. Infeksi Primer Tempat predikleksi HSV tipe I didaerah pinggang keatas terutama didaerah mulut dan hidung, biasanya dimulai pada saat anak anak. Inokulasi dapat terjadi secara kebetulan, misalnya kontak kulit pada perawat, dokter gigi, atau pada orang yang sering menggigit jari (herpetic Whitelow). Virus ini juga sebagai penyebab herpes ensefalitis. Infeksi primer oleh HSV tipe II mempunyai tempat predileksi di daerah pinggang ke bawah, terutama di daerah genital, juga dapat menyebabkan herpes meningitis dan infeksi neonatus.3 Daerah preileksi ini sering kacau karena adanya hubungan seksual sperti oro-genital, sehingga herpes yang terdapat didaerah genital kadang kadang disebabkan oleh HSV tipe I sedangkan didaerah mulut dan rongga mulut dapat disebabkan HSV tipe II.3 Infeksi primer berlangsung lebih lama dan lebih berat, kira kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malese, dan anoreksia, dan dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional.3 Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel yang berkelompok diatas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen, dan dapat menjadi krusta dan kadang kadang mengalami ulserasi yang dangkal, biasanya sembuh tanpa sikatriks. Pada perabaan tidak terdapat indurasi. Kadang kadang dapat timbul infeksi sekunder sehingga member gambaran yang tidak jelas. Umumnya didapati pada orang yang kekurangan antibody virus herpes simpleks. Pada wanita ada laporan yang mengatakan bahwa 80% infeksi HSV pada genitalia ekterna disertai infeksi pada serviks.3 2. Fase Laten Fase ini berarti pada penderita tidak ditemukan gejala klinis, tetapi HSV dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis.3

3. Infeksi Rekurens Infeksi ini berarti HSV pada ganglion dorsalis yang dalam keadaan tidak aktif, dengan mekanisme pacu menjadi aktif dan mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis. Mekanisme pacu itu dapat berupa trauma fisik (demam, infeksi, kurang tidur, hubungan seksual, dan sebagainya), trauma psikis (gangguan emosional, menstruasi), dan dapat pula timbul akibat jenis makanan dan minuman yang merangsang.3 Gejala klinis yang timbul lebih ringan dari pada infeksi primer dan berlangsung kira kira 7 10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal local sebelum timbul vesikel berupa rasa panas, gatal, dan nyeri. Infeksi rekurens ini dapat timbul pada tempat yang sama (loco) atau tempat lain/tempat disekitarnya (non loco).3

Gambar 2 Herpes Labialis5

Gambar 3 Infeksi Virus Herpes Simpleks pada kulit perioral, bibir, dan lidah 5

Gambar 4 Herpes Simpleks Tipe I1

Gambar 5 Herpes Genital pada Vulva10

Gambar 6 Herpes Simpleks Tipe II8

10

2.6

Diagnosis Diagnosis ditegakkan melalui anamneses, gejala klinis, dan pemeriksaan

laboratorium.1 Selama wabah, dokter sering dapat mendiagnosa herpes simpleks dengan melihat lesi. Untuk mengkonfirmasi bahwa pasien memiliki herpes simpleks, dokter bisa mengambil swab/hapusan dari lesi dan mengirim swab/hapusan ini ke laboratorium. Bila tidak ada lesi, tes medis lainnya, seperti tes darah (blood test), dapat menemukan virus herpes simpleks.1 Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan antara lain :5 1. Direct Microscopy Tzanck Smear Cairan dari vesikel utuh dioleskan tipis-tipis pada slide mikroskop, dikeringkan,dan diwarnai dengan baik Wright atau Giemsa stain. Positif, jika terdeteksi acantholytic keratinocytes atau multinucleated giant acantholytic keratinocytes. Positif dalam 75% kasus awal, baik primer atau berulang.5

Gambar 7 Positive Tzanck Smear : A giant, Multinucleated keratonocytes5

2. Antigen Detection DFA Monoclonal antibodies, specific untuk HSV-1 dan HSV-2 antigens, mendeteksi dan membedakan antigen HSV pada smear dari lesi.5 3. Dermatopathology Ballooning dan reticular epidermal degeneration, acantholysis, dan intraepidermal vesicles; intranuclear inclusion bodies, multinucleate giant keratinocytes; multilocular vesicles. Immunoperoxidase techniques dapat

11

digunakan untuk mengidentifikasi HSV-1 and HSV-2 antigens dalam formalin-fixed sampel jaringan.5 4. Cultures Kultur HSV positif biopsi.5 5. Serology Antibodi terhadap glikoprotein (g) G1 dan (g) G2 untuk mendeteksi dan membedakan apakah telah terinfeksi HSV-1 dan HSV-2.5 Infeksi HSV primer dapat didokumentasikan oleh demonstration of seroconversion. Herpes yang berulang dapat dikesampingkan jika seronegatif untuk antibodi HSV. 6. Polymerase Chain Reaction Untuk menentukan urutan HSV-DNA dalam jaringan, hapusan, atau sekresi.5 2.7 Diagnosis Banding Herpes simpleks di daerah sekitar mulut dan hidung harus dibedakan dengan impetigo vesiko bulosa. Pada daerah genitalia harus dibedakan dengan ulkus durum, ulkus mole, dan ulkus mikstum, maupun ulkus yang mendahului penyakit limfoganuloma venerum.3 2.8 Penatalaksanaan Sampai saat ini belum ada terapi yang memberikan penyembuhan radikal, artinya tidak ada pengobatan yang dapat mencegah episode rekurens secar tuntas. Pada lesi yang dini dapat digunakan obat topical berupa salap/krim yang mengandung preparat idoksuridin (stoxil, viruguent, virunguent-P) dengan cara aplikasi, yang sering dengan interval beberapa jam. Preparat asiklovir (zovirax) yang dipakai secara topical tampaknya memberikan masa depan yang lebih cerah. Asiklovir ini cara kerjanya mengganggu replikasi DNA virus. Klinis hanya bermanfaat bila penyakit sedang aktif. Jika timbul ulserasi dapat dilakukan kompres. Pengobatan oral berupa preparat asiklovir tampaknya memberikan hasil yang lebih baik, penyakit berlangsung lebih singkat dan masa rekurensnya lebih panjang. Dosisnya 5 x 200 mg sehari selama 5 hari. Pengobatan parenteral dengan dari bagian mukokutan atau spesimen jaringan

12

asiklovir terutama ditujukan kepada penyakit yang lebih berat atau jika timbul komplikasi pada alat dalam. Begitu pula dengan preparat adenine arabinosid (vitarabin). Interferon sebuah preparat glikoprotein yang dapat menghambat reproduksi virus juga dapat dipakai secara parenteral.3 Untuk mencegah rekurens macam macam usaha yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan imunitas selular, misalnya pemberian preparat lupidon H (untuk HSV tipe I) dan lupidon G (untuk HSV tipe II) dalam satu seri pengobatan. Pemberian levamisol dan isoprinosin atau asiklovir secara berkala menurut bebrapa penyelidik memberikan hasil yang baik. Efek levamisol dan isoprinosin ialah sebagai imunostimulator. Pemberian vaksinasi cacar sekarang tidak dianut lagi.3 2.9 Prognosis dan Komplikasi Selama pencegahan rekurens masih merupakan problem, hal tersebut secara psikologik akan memberatkan penderita. Pengobatan secara dini dan tepat memberikan prognosis yang lebih baik, yakni masa penyakit berlangsung lebih singkat dan rekurens lebih jarang.3 Pada orang dengan gangguan imunitas, misalnya pada penyakit penyakit dengan tumor di system retikuloendotelial, pengobatan dengan imunosupresan yang lama atau fisik yang sangat lemah, menyebabkan infeksi ini dapat menyebar ke alat alat dalam dan dapat fatal. Prognosis akan lebih baik seiiring dengan meningkatnya usia pada orang dewasa.3 Komplikasi serius jarang terjadi pada orang sehat dengan herpes simpleks. komplikasi paling sering terjadi pada bayi yang belum lahir, bayi yang baru lahir, dan orang-orang yang memiliki penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh yang lemah, HIV / AIDS, atau memiliki transplantasi organ.1 Herpes ensefalitis atau meningitis. vesikel yang meluas mungkin menjadi bagian dari parahnya penyakit pada bayi baru lahir, anak-anak yang lemah atau orang dewasa yang imunosupresi. Eczema herpeticum: pasien dengan eczema atopik biasanya rentan terhadap meluasnya infeksi herpes simpleks pada kulit. Herpes simpleks dapat menyebabkan dendritic ulcers berulang sehingga menyebabkan jaringan parut pada kornea. Pada beberapa pasien, infeksi herpes simpleks berulang diikuti oleh eritema multiforme.4

13

2.10

Pencegahan

Herpes Oral (Herpes Simpleks Tipe I) Jika anda memilik luka di wajah : Jangan mencium siapapun, jangan berhubungan seks oral, jangan berbagi barang barang seperti alat makanan dari perak, cangkir, handuk, dan lipbalm. Jika anda merasa kesemutan, terbakar, gatal, atau nyeri dimana anda memiliki luka herpes, jagalah daerah tubuh anda jauh dari orang lain.1 Penyebaran luka dapat dicegah kebagian tubuh lainnya dengan : cuci tangan setelah menyentuh luka, menggunakan kapas-tip untuk menerapkan obat pada luka herpes.1 Genital Herpes (Herpes Simpleks Tipe II) Bila Anda memiliki luka atau gejala herpes jangan berhubungan seks dengan pasangan yang tidak terinfeksi. Gunakan kondom lateks untuk menurunkan resiko penyebaran virus. Tetapi anda juga harus tahu bahwa dengan penggunaan kondom, penyebaran virus masih mungkin terjadi.1 Jika Anda sedang hamil segera beritahu dokter jika anda atau pasangan anda memiliki herpes genital untuk mencegah menularkan virus kepada bayi anda.1 2.11 Herpes Genitalis Pada Kehamilan Bila pada kehamilan timbul herpes genitalis, perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena melalui placenta virus dapat sampai ke sirkulasi fetal serta dapat menimbulkan kerusakan atau kematian pada janin. Infeksi neonatal mempunyai angka mortalitas 60% separuh dari yang hidup, menderita cacat neurologic atau kelainan pada mata.3 Kelainan yang timbul pada bayi dapat berupa ensefalitis,

keratokonjungtivitis, atau hepatitis; disamping itu dapat pula timbul lesi pada kulit. Beberapa ahli kandungan mengambil sikap partus secara sectio caesaria, bila pada saat melahirkan ibu menderita infeksi ini. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum ketuban pecah atau paling lambat enam jam setelah ketuban pecah.3 Di Amerika Serikat frekuensi herpes neonatal adalah 1 per 7500 kelahiran hidup. Bila transmisi terjadi pada trimester I cenderung terjadi abortus; sedangkan

14

bila trimester II, terjadi prematuritas. Selain itu dapat terjadi transmisi pada saat intrapartum.3

15

BAB III PENUTUP


Kesimpulan Herpes simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok diatas kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun rekurens.3 Virus herpes simpleks dapat menular dari seseorang ke orang lain melalui kontak yang dekat. Anda bisa mendapatkan virus herpes simpleks dari menyentuh luka herpes. Banyak orang, mendapatkan herpes simpleks dari orang yang terinfeksi yang tidak memiliki luka. Hal ini disebut sebagai asymptomatic viral shedding.1 Penyakit ini tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria maupun wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi primer oleh virus herpes simpleks tipe I biasanya dimulai pada usia anak anak, sedangkan infeksi oleh virus herpes simpleks tipe II biasanya terjadi pada decade II atau III, dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual.3 Sekali seseorang terinfeksi virus herpes, virus tidak pernah meninggalkan tubuh. Setelah wabah pertama, virus berpindah dari sel-sel kulit ke sel-sel saraf. Virus tetap dalam sel-sel saraf selamanya.3 Diagnosis ditegakkan melalui anamneses, gejala klinis, dan pemeriksaan laboratorium.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. American Academy of Dermatology. 2012. Herpes Simplex.
http://www.aad.org/skin-conditions/dermatology-a-to-z/herpes-simplex

diakses tanggal 20 september 2012 2. BCCDC Clinical Prevention Services. 2012. Genital Herpes Simplex Virus (HSV). BC Center for Disease Control. 3. Handoko, Ronny P. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin : Herpes Simpleks. Jakata : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal : 381 383 4. J.A.A. Hunter et al. 2002. Clinical Dermatology : Herpes Simplex Third Edition. UK : Blackwell Publishing. Page 208 209 5. Klaus Wolff and Richard Allen Johnson. 2009. Fitzpatricks Color Atlas And Synopsis Of Clinical Dermatology Sixth Edition. USA : Mc Graw Hill. Page 813-822 6. Peter Leone,MD. 2007. CURRENT Diagnosis & Treatment of Sexually Transmitted Diseases : Genital Herpes. USA : Mc Graw Hill. Page : 84 91 7. http://www.bio.davidson.edu/people/sosarafova/Assets/Bio307/jehodge/page
01.html diakses tanggal 25 september 2012

8. http://healthtipsyard.com/disease-and-its-cure/genital-herpes-hsv/# tanggal 25 september 2012

diakses

9. http://www.penyakitkelamin.net/penyakit-kelamin-herpes-simpleks.html diakses tanggal 25 september 2012 10. http://en.wikipedia.org/wiki/File:SOA-Herpes-genitalis-female.jpg tanggal 26 september 2012 diakses