Anda di halaman 1dari 22

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

BAB I PENDAHULUAN

A. Teori Singkat Pengertian Poligon. Poligon adalah rangkaian garis khayal diatas permukaan bumi yang merupakan garis lurus yang menghubungkan titik-titik dan merupakan suatu obyek pengukuran. Poligon juga biasa disebut sebagai rangkaian segi banyak untuk pembuatan peta.

Pengukuran Poligon. Ada dua macam pengukuran poligon, yaitu : Pengukuran jarak mendatar. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan menggunakan pita ukur (roll meter) dan melalui pembacaan benang pada alat ukur theodolit untuk mengetahui jarak optis (D).

Pengukuran sudut mendatar.

By LD. Muh. Ichwan

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

Pengukuran sudut mendatar dalam hal ini adalah selisih antara dua arah yang berlainan. Ada dua macam sudut mendatar / sudut horizontal dalam ilmu ukur tanah, yaitu : o Sudut arah ( ) yaitu selisih antara A dan B. A B B o Sudut jurusan ( ) atau sudut azimuth yaitu sudut yang terbentuk berdasarkan sumbu Y atau sudut yang dibentuk searah putaran jarum jam sampai sudut yang ditentukan. Y A A

X Bentuk-Bentuk Poligon. a. Poligon Terbuka,

Poligon terbuka terdiri atas tiga bagian yaitu :

Poligon Lepas yaitu poligon yang apabila titik awalnya diketahui atau hanya satu titik yang diketahui koordinatnya. Poligon Terikat yaitu poligon yang titik awal dan titik akhirnya diketahui koordinatnya. Poligon Terikat Sempurna yaitu apabila dua titik awal dan titik akhir

By LD. Muh. Ichwan

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

yang diketahui koordinatnya. b. Poligon Tertutup. Pada bentuk geometri ini sesungguhnya sama dengan poligon terbuka, hanya sisi akhirnya yang merupakan sisi awal dari poligon tersebut.

P0 P3
20

P1
30

Ket : P2
0

= Sudut luar = Sudut dalam

B. Tujuan Praktikum 1. Tujuan Instruksional Umum : Memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk dapat mengerti dan memahami cara-cara penggunaan alat theodolit dengan tepat. Tujuan Instruksional Khusus : Memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk melakukan identifikasi setiap jenis pengukuran, yaitu : jarak, beda tinggi, dan sudut yang diperlukan untuk penggambaran kerangka dasar pemetaan. C. Lokasi dan Waktu Praktikum Lokasi praktikum kelompok VIII yaitu pada daerah Lapangan Lakidende Kendari. Dengan patok pertama berada di depan Stadion Lakidende. Dan kembali ke patok awal dengan metode pengukuran poligon tertutup. Praktikum ukur tanah ini dilaksanakan pada hari rabu, tanggal 02 Juli 2008, dimulai
By LD. Muh. Ichwan

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

pada pukul 09.00 Wita dan berakhir pada pukul 13.30 Wita. D. Alat dan Bahan Yang Digunakan. Dalam melaksanakan praktikum ini, alat dan bahan yang digunakan di lapangan sebagai berikut : Pesawat Theodolit lengkap, Pesawat theodolit sebagai alat ukur universal yang disamping dapat mengukur sudut horizontal dan sudut vertikal juga dapat menentukan beda tinggi. Alat ukur theodolit secara umum memiliki bagian-bagian sebagai berikut : a. b. c. Pegangan, Alat pembidik, berfungsi untuk membidik secara kasar sasaran bidik. Alat pencatat digital, berfungsi sebagai pembacaan sudut horizontal dan sudut vertikal. d. Pengatur mikrometer, berfungsi untuk mengatur garis skala pembacaan (nonius). e. Klem penyetel tinggi, berfungsi untuk membuka dan mengunci pergerakan vertikal teropong. f. Gelang penyetel jarak, berfungsi untuk titik fokus lensa yang berguna untuk memperjelas obyek yang dibidik. g. Okuler teropong, berfungsi untuk memperjelas nampaknya benang sebagai standar pembacaan. h. Sekrup penyetel tinggi, berfungsi untuk menggerakkan secara halus teropong kearah vertikal. i. Sekrup penyetel putaran, berfungsi untuk mengatur pergerakkan putaran horizontal secara halus.
By LD. Muh. Ichwan

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

j.

Klem penyetel putaran, berfungsi untuk mengunci dan membuka putaran alat ke arah horizontal.

k. l.

Pelat dasar berkaki tiga yang dapat dibuka. Nivo kotak, berfungsi untuk mengetahui kedataran alat.

m. Nivo tabung (alhidade), berfungsi untuk mengetahui kedataran alat. n. Unting-unting optis, berfungsi untuk mengetahui ketetapan posisi alat terhadap patok. o. Tiga buah sekrup penyetel, berfungsi untuk mengatur kedudukan nivo.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini :


Pegangan

Okuler Teropong Pengunci

Layar Bacaan Sudut

Pengatur Nivo

2. Rambu (Bak) Ukur, berfungsi untuk mengetahui nilai pembacaan. 3. Roll meter, berfungsi untuk mengukur jarak antar patok. 4. Payung, berfungsi untuk melindungi pesawat dari sinar matahari maupun hujan karena lensa teropong pada pesawat sangat peka terhadap sinar matahari. 5. Kompas, berfungsi untuk menentukan arah utara dari titik yang diukur. 6. Parang, berfungsi untuk memotong rumput atau tanaman lain yang menghalangi pembacaan bak ukur. 7. Patok, berfungsi sebagai suatu tanda dimana kita meletakkan rambu ukur untuk
By LD. Muh. Ichwan

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

mengukur suatu titik di lapangan. 8. Palu, berfungsi dalam pemasangan patok. Disamping alat dan bahan utama diatas, masih ada beberapa hal penting yang harus dipersiapkan guna memperlancar praktikum yaitu : Blanko data dan alat tulis lainnya guna menulis hasil pembacaan data yang diperoleh dilapangan. Kalkulator yang sangat berguna untuk melakukan koreksi atau perhitungan sederhana dilapangan. Catatan lapangan yang dibuat sesuai dengan data dan metode yang dipergunakan. Pengetahuan dasar pengukuran yang sangat membantu jalannya praktikum. E. Tim Pengukur Kelompok kami adalah kelompok V yang beranggotakan : a. Budi Irawan b. LD. Irham c. Yunita Malik d. Feri Fadli e. Firman Haritma

By LD. Muh. Ichwan

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

BAB II PROSEDUR KERJA A. Teknik Pengukuran. Poligon Memanjang. Dalam pengukuran poligon, penentuan posisi suatu titik menggunakan sistim koordinat dan yang dipakai adalah sistim koordinat kartesian yang dinyatakan dengan absis dan ordinat. Titik yang dimaksud disini adalah berupa pilar ( bench mark ) atau patok kayu. Untuk penentuan titik dilakukan pengukuran sudut dan jarak. Pengukuran sudut dan jarak disini ada dua macam yaitu sudut vertikal dan sudut horizontal sementara jarak yang dimaksud adalah jarak lurus dan horizontal. Adapun profil memanjang terbagi dua yaitu : Poligon memanjang tertutup yaitu teknik pengukuran poligon yang berputar mengelilingi suatu bidang, dimana titik pengukuran merupakan titik akhir pengukuran. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini : U 0 P0 P
1

P5

P4 P
3

P2

Poligon memanjang terbuka yaitu teknik pengukuran poligon dimana titik awal pengukuran bukan merupakan titik akhir pengukuran. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan gambar dibawah ini : U
By LD. Muh. Ichwan

P1 P0 P2

P3
7

Pn

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

Sistim Tachimetri Sistim tachimetri adalah suatu teknik pengukuran dimana alat hanya berdiri pada suatu titik dan dapat menembak lebih dari satu titik untuk menentukan posisi dan ketinggian titik tersebut. Sistim Kisi (Grid) Sistim kisi (grid) adalah sistim pengukuran sebagai jaringan siku-siku yang diterapkan di daerah tanpa peta dan tanpa bangunan.

B.

Sistim Pengukuran. Supaya suatu pengukuran sudut dapat dilakukan dengan tepat sistim sumbu-sumbu pada suatu theodolit harus memenuhi syarat-syarat berikut : 1. LL VV, Sumbu nivo tabung (alhidade) tegak lurus pada sumbu pertama, 2. 3. ZZ HH, Garis bidik tegak lurus pada sumbu kedua, HH VV, Sumbu kedua tegak lurus pada sumbu pertama, 4. Sumbu nivo indeks harus sejajar dengan garis bidik yang disetel horizontal atau indeks yang automatis harus bekerja.

By LD. Muh. Ichwan

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

C.

Prosedur Pelaksanaan Praktikum 1. Peninjauan Lapangan. Peninjauan lapangan langsung kita lakukan terlebih dahulu sekaligus pemasangan patok-patok poligon (segi banyak) keliling. a. Patok harus cukup tertanam dalam tanah, b. Harus digambar sketsa kedudukannya, c. Tinggi patok dari tanah 5 10 cm, d. Jarak antar patok 25 100 m dan bila memungkinkan patok tersebut diberi label atau nomor patok.

Pengukuran Poligon (Sudut Poligon). a. b. Keluarkan pesawat theodolit dari tempatnya, Statif dipasang diatas patok yang akan diukur beda tingginya dan poringnya dikontrol (nivo dilihat) diusahakan agar berada diposisi mendatar,

sehingga mudah untuk men-stabilkan nivo theodolit, c. Pesawat theodolit dipasang diatas piringan statif dan sekrup pengunci pesawat dikencangkan, d. Cermin pencahayaan dibuka agar cahaya tampak lebih terang dalam pesawat, e. Senteran patok dikontrol, apakah posisi patok sudah tepat berada pada lingkaran hitam yang ada pada pesawat, f. Posisi nivo pesawat distabilkan, diatur sedemikian rupa sehingga nivo stabil dengan memutar sekrup penyetel (pemutaran kencang/longgar agar dihindari),
By LD. Muh. Ichwan

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

g. h.

Dengan kompas menentukan arah utaranya, Mengatur sudut skala horizontal sehingga pada ninous 00 0 00 00 dengan membidik teropong kearah utara,

i.

Bak ukur diletakkan pada patok yang telah ditentukan, selanjutnya pesawat diarahkan ke patok yang telah dipasangkan bak ukur kemudian melakukan pembacaan : Benang Benang Atas L1 (Ba), Benang Bawah L2 (Bb) dan Benang Tengah i (Bt),

Sudut Vertikal, Sudut Horizontal. j. Langkah selanjutnya adalah memindahkan pesawat ke patok berikutnya, kemudian mengatur kedudukan vertikal dan horizontalnya. Lalu pesawat dinolkan ( 00 0 00 00 ) pada patok sebelumnya setelah itu pesawat diputar searah jarum jam ke patok selanjutnya, k. Setiap data hasil pembacaan dimasukkan ke dalam blanko data yang telah disediakan, l. Sebelum pesawat dipindahkan, maka tinggi pesawat diukur terlebih dahulu.

m. Lakukan hal yang sama pada patok-patok selanjutnya hingga pengukuran selesai.

D.

Kesalahan Yang Terjadi Dalam Pengukuran Dalam melakukan pengukuran kita tidak luput dari kesalahan-kesalahan.

By LD. Muh. Ichwan

10

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

Kesalahan itu dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu : Kesalahan Besar ( Mistakes Blunder ) Kesalahan besar (Mistakes Blunder) adalah kesalahan pengukuran yang terjadi akibat kekeliruan dalam pengukuran. Misalnya angka yang seharusnya 47,84 ditulis 48,74. Kesalahan ini bila melebihi dari batas kewajaran maka pengukuran harus diulang. Kesalahan Sistimatis ( Sistimatic Error ) Kesalahan yang terjadi pada setiap kali pengukuran. Umumnya kesalahan ini terjadi karena alat ukur itu sendiri. Misalnya panjang roll meter yang tidak tepat atau mungkin peralatan ukurnya sudah tidak sempurna. Kesalahan ini dapat dihilangkan dengan perhitungan koreksi atau mengkaligrasi alat/memperbaiki alat. 3. Kesalahan Yang Tidak

Terduga/Acak ( Accidental Error ) Kesalahan acak yaitu kesalahan pengukuran yang terjadi secara kebetulan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Kesalahan ini dapat terjadi karena hal hal yang tidak diketahui dengan pasti dan tidak diperiksa. Misalnya ada getaran pada alat ukur itu sendiri ataupun pada permukaan tanah. Kesalahan ini dapat dikoreksi dengan melakukan observasi beberapa kali, dan dari observasi tersebut diambillah nilai rata rata sebagai hasil pengukuran.

E.

Rumus Rumus Yang Digunakan. Untuk perhitungan Patok Utama, perhitungan dasar yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Perhitungan Jarak Optis Patok Utama ( DOn)
By LD. Muh. Ichwan

11

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

Rumus : DOn= ( Ba Bb ) x 100

Dimana : DOn = Ba Bb = = Jarak Optis Patok Utama (m) Benang Atas Patok Utama (mm) Benang Bawah Patok Utama (mm)

2. Perhitungan Sudut Horizontal ( ) Rumus : = 1 + 2 + 3 + . . . . + n Dimana : n = = Jumlah Sudut Horizontal Sudut Horizontal

3. Perhitungan Koreksi Sudut a) Jumlah Kesalahan Terkoreksi ( K ) K = (n 2) . 180 0

Rumus :

Dimana : K n
By LD. Muh. Ichwan

= = =

Jumlah Kesalahan Terkoreksi Banyaknya Titik Pengamatan Jumlah Sudut Horizontal


12

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

(n 2). 180 0

Jumlah Sudut Teoritis Untuk Data Sudut Luar

(n + 2)

(n 2) Untuk Data Sudut Dalam

b) Koreksi Sudut Horizontal ( ) = - K / n

Rumus : Dimana : K n

= = =

Koreksi Sudut Tiap Titik Sudut Horizontal Jumlah Kesalahan Terkoreksi Banyaknya Titik Pengamatan

4. Perhitungan Azimuth Benar ( n ) Rumus : n = n-1 n 180 0 Dimana : n n-1 n = = = = Azimuth Benar Sudut Yang Dicari Azimuth Benar Titik Sebelumnya Koreksi Sudut Tiap Titik Sudut Horizontal Sudut Horizontal Titik Yang Ditinjau
n = n-1 + n 180 n = n-1 n + 180
0 0

Sudut Luar Sudut Dalam

5. Perhitungan Jarak Proyeksi ( DPn ) Rumus : DPn = DOn . Cos )


2

( 90

By LD. Muh. Ichwan

13

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

Dimana : DPn = DOn = = Jarak Proyeksi (m) Jarak Optis Patok Utama (m) Sudut Vertikal Patok Utama

6. Perhitungan Jarak Horizontal ( DXn ) Rumus : DXn = DPn . Sin n Dimana : DXn = DPn = n = Jarak Horizontal Yang Ditinjau (m) Jarak Proyeksi Titik Yang Ditinjau (m) Azimuth Benar Sudut Yang Telah Dikoreksi

7. Perhitungan Jarak Vertikal ( DYn ) Rumus : Dimana : DYn = DPn . Cos n DYn = DPn = n = Jarak Vertikal Yang Ditinjau (m) Jarak Proyeksi Titik Yang Ditinjau (m) Azimuth Benar Sudut Yang Telah Dikoreksi

8. Perhitungan Koreksi Jarak Horizontal ( DXn ) Rumus : DXn = DPn x DP

D X Dimana : DXn = DPn


By LD. Muh. Ichwan

Koreksi Jarak Sudut Horizontal (m) Jarak Proyeksi Titik Yang Ditinjau (m)
14

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

DP DX

= =

Jumlah Jarak Proyeksi (m) Jumlah Jarak Sudut Horizontal (m)

9. Perhitungan Koreksi Jarak Vertikal ( DYn ) Rumus : DYn = DPn x DP

D Y Dimana : DYn = DPn DP DY = = =

Koreksi Jarak Sudut Vertikal (m) Jarak Proyeksi Titik Yang Ditinjau (m) Jumlah Jarak Proyeksi (m) Jumlah Jarak Sudut Vertikal (m)

10. Perhitungan Koreksi Linier ( L ) Rumus : L = Dimana : L DX DY DP = = = = Koreksi Linier (m) Jumlah Jarak Sudut Horizontal (m) Jumlah Jarak Sudut Vertikal (m) Jumlah Jarak Proyeksi (m)

( D X ) 2 + ( DY ) 2
D P

11. Perhitungan Koordinat Titik Terhadap Sumbu Horizontal ( Xn ) Rumus : Dimana : Xn Xn-1
By LD. Muh. Ichwan

Xn = Xn-1 + DXn-1 DXn-1 = = Koordinat Sumbu Horizontal Yang Ditinjau (m) Koordinat Sumbu Horizontal Titik Sebelumnya (m)
15

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

DXn-1 = DXn =

Jarak Horizontal Titik Sebelumnya (m) Koreksi Jarak Sudut Horizontal Titik Sebelumnya (m)

12. Perhitungan Koordinat Titik Terhadap Sumbu Vertikal ( Yn ) Rumus : Yn = Yn-1 + DYn-1 DYn-1 Dimana : Yn Yn-1 = = Koordinat Sumbu Vertikal Yang Ditinjau (m) Koordinat Sumbu Vertikal Titik Sebelumnya (m) Jarak Vertikal Titik Sebelumnya (m) Koreksi Jarak Sudut Vertikal Titik Sebelumnya (m)

DYn-1 = DYn =

13. Perhitungan Beda Tinggi Patok Utama ( Hn ) Rumus : Hn = Tpswt + DOn Sin 2 ( 90 ) Bt Dimana : Hn = Beda Tinggi Patok Utama (m) Tinggi Pesawat (m) Jarak Optis Patok Utama (m) Sudut Vertikal Patok Utama Benang Tengah (mm)
0

Tpswt = DOn Bt = = =

14. Perhitungan Koreksi Beda Tinggi Patok Utama ( H ) Rumus : H = H n


By LD. Muh. Ichwan

16

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

Dimana : H H n = = = Koreksi Beda Tinggi Patok Utama (m) Jumlah Beda Tinggi Patok Utama (m) Banyaknya Titik Pengamatan

15. Perhitungan Tinggi Titik Patok Utama ( Pn ) Rumus : Pn = Pn-1 + Hn-1 + H Dimana : Pn Pn-1 = = Tinggi Titik Patok Utama (m) Tinggi Titik Patok Sebelumnya (m) Beda Tinggi Patok Sebelumnya (m) Koreksi Beda Tinggi Patok Utama (m)

Hn-1 = H =

16. Perhitungan Luas Areal Pengukuran ( L ) Rumus : L=

( X n .Yn +1 ) ( Yn . X n +1 )
2

Dimana : L X Y = = = Luas Areal Pengukuran ( m2 ) Koordinat Titik Terhadap Sumbu Horizontal (m) Koordinat Titik Terhadap Sumbu Vertikal (m)

Untuk perhitungan patok detail, perhitungan dasar yang digunakan adalah sebagai berikut : 17. Perhitungan Jarak Optis Patok Detail ( DOndet )
By LD. Muh. Ichwan

17

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

Rumus : DOndet = ( Ba Bb ) x 100 Dimana : DOndet Ba Bb = = = Jarak Optis Patok Detail (m) Benang Atas (mm) Benang Bawah (mm)

18. Perhitungan Azimuth Benar ( ndet ) Rumus : ndet = n ndet - n Dimana : ndet = n = Azimuth Benar Detail Sudut Yang Dicari Azimuth Benar Patok Utama Sudut Horizontal Detail

ndet =

19. Perhitungan Jarak Proyeksi Detail ( DPndet ) Rumus : Dimana : DPndet DOndet DPndet = DOndet . Cos ( 90 0 ) = = =
2

Jarak Proyeksi Detail (m) Jarak Optis Patok Detail (m) Sudut Vertikal Detail

20. Perhitungan Jarak Horizontal Detail ( DXndet ) Rumus : DXndet = DPndet . Sin ndet
By LD. Muh. Ichwan

18

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

Dimana : DXndet DPndet ndet =Jarak Horizontal Detail Yang Ditinjau (m) =Jarak Proyeksi Detail Titik Yang Ditinjau (m) =Azimuth Benar Detail Sudut Yang Telah Dikoreksi

21. Perhitungan Jarak Vertikal Detail ( DYndet ) Rumus : DYndet = DPndet . Cos ndet Dimana : DYndet DPndet ndet = = = Jarak Vertikal Detail Yang Ditinjau (m) Jarak Proyeksi Detail Titik Yang Ditinjau (m) Azimuth Benar Detail Sudut Yang Telah Dikoreksi

22. Perhitungan Koordinat Detail Terhadap Sumbu Horizontal ( Xndet ) Rumus : Xndet = Xn DXndet Dimana : Xndet Xn DXndet = = = Koordinat Detail Terhadap Sumbu Horizontal (m) Koordinat Sumbu Horizontal Patok Utama (m) Jarak Horizontal Detail Yang Ditinjau (m)

23. Perhitungan Koordinat Detail Terhadap Sumbu Vertikal ( Yndet ) Rumus : Dimana : Yndet Yn
By LD. Muh. Ichwan

Yndet = Yn DYndet = Koordinat Detail Terhadap Sumbu Vertikal (m) = Koordinat Sumbu Vertikal Patok Utama (m)
19

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

DYndet

Jarak Vertikal Detail Yang Ditinjau (m)

24. Perhitungan Beda Tinggi Patok Detail ( Hndet ) Rumus :

Dimana :

Hndet = Tpswt + DOndet Sin 2 ( 90 0 ) Bt


Beda Tinggi Patok Detail (m) Tinggi Pesawat (m) Jarak Optis Patok Detail (m) Sudut Vertikal Patok Detail Benang Tengah Patok Detail (mm)

Hndet = Tpswt = DOndet = Bt = =

25. Perhitungan Tinggi Titik Detail ( Pndet ) Rumus : Pndet = Pn Hndet Dimana : Pndet Pn = = Tinggi Titik Patok Detail (m) Tinggi Titik Patok Utama (m) Beda Tinggi Patok Detail (m)

Hndet =

By LD. Muh. Ichwan

20

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil praktikum yang kami lakukan, maka dapat kami simpulkan bahwa : 1. Poligon adalah rangkaian garis khayal diatas permukaan bumi yang merupakan garis lurus yang menghubungkan titik-titik dan merupakan suatu obyek pengukuran. Poligon juga biasa disebut sebagai rangkaian segi banyak untuk pembuatan peta. 2. Theodolit adalah alat ruang yang digunakan untuk mengukur jurusan, jarak dan beda tinggi titik dipermukaan tanah, 3. Untuk mendapatkan hasil yang benar maka hasil pengukuran sudut jurusan, jarak dan beda tinggi harus mendapatkan koreksi dengan ketentuan tidak melebihi batas toleransi, 4. Untuk mendapatkan tinggi titik dipermukaan tanah guna penggambaran peta kontur maka diperlukan pengukuran beda tinggi pada poligon. 5. Kesalahan yang cukup besar dalam pengukuran ini karena kurangnya ketelitian dalam membaca alat ukur terutama pengukur belum berpengalaman. B. Saran Saran-saran yang dapat kami berikan bertolak dari kesimpulan yang kami buat
By LD. Muh. Ichwan

21

39

Laporan Praktikum Survey dan Pengukuran Theodolit

adalah agar waktu pelaksanaan praktikum dapat dipercepat sehingga dalam pembuatan laporan tidak terlalu terburu-buru.

By LD. Muh. Ichwan

22