Anda di halaman 1dari 5

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Nama : Yusuf Zaelana

NIM

: 101411032

  • 4.1. Hasil Percobaan

Hasil percobaan yang dinyatakan dalam hasil pengukuran pH, Total dissolved solid (TDS), kandungan zat kimia dalam bentuk ion yang dinyatakan dengan daya hantar listrik (DHL) dan tingkat kekeruhan dapat dilihat pada Tabel a.1 dan Tabel a.2 (Lampiran 1). Hasil pengukuran pH, TDS, DHL dan kekeruhan untuk limbah tekstil sebelum diadsorpsi dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Hasil Pengukuran pH, TDS, DHL dan Kekeruhan untuk Limbah Tekstil Sebelum diadsorpsi

No

Variabel Pengamatan

Nilai (Hasil Pengukuran)

1

Volume Limbah Asli

5 Liter

2

Pengenceran

4 kali, total 20 Liter

3

pH

7,58

4

TDS

2280 mg/L

5

DHL

3,42 ms

6

Kekeruhan

78,96 NTU

Air limbah tekstil yang akan diolah dilewatkan ke dalam dua buah kolom yang berisi adsorben berbeda yaitu karbon aktif dan abu sekam padi. Partikel-partikel yang terdapat pada air limbah tekstil akan terserap ke dalam pori-pori kedua adsorben tersebut dan secara fisika akan terbentuk ikatan antara partikel adsorben dengan partikel pengotor atau partikel zat kimia yang ada dalam air limbah tekstil. Pada praktikum ini dilakukan pengambilan sampel setiap 5 menit sekali hingga menit ke-50 untuk analisa parameter kekeruhan, DHL, TDS dan pH dari air keluaran.

4.2.

Pengaruh Waktu Proses Adsorpsi terhadap Penentuan Waktu Backwash dan Pengurangan Bahan Cemaran (TDS, DHL, Kekeruhan) Pada Proses Adsorpsi

Lamanya waktu pengolahan air limbah tekstil atau penyerapan partikel kimia oleh

partikel adsorben dalam proses adsorpsi akan mempengaruhi kualitas air keluaran (effluent). Pengaruh lamanya waktu proses adsorpsi terhadap pH effluen ditunjukkan oleh Gambar 1.1 (Lampiran II).

4.2. Pengaruh Waktu Proses Adsorpsi terhadap Penentuan Waktu Backwash dan Pengurangan Bahan Cemaran (TDS, DHL, Kekeruhan)

Gambar 1.1 Kurva Pengaruh Waktu Adsorpsi Terhadap pH effluen

Berdasarkan kurva diatas secara umum baik adsorpsi menggunakan adsorben abu sekam padi maupun karbon aktif, efluen hasil keduanya mengalami kenaikan pH di awal waktu proses. Hal ini disebabkan seiring bertambahnya waktu adsorpsi maka semakin meningkat pula proses penyerapan ion-ion logam dalam air limbah tekstil oleh molekul adsorben dan ion-ion logam tersebut melepas pasangan anion-anionnya sehingga efluen mengandung banyak anion yang mengakibatkan pH effluen meningkat (bertambah basa).

Setelah proses adsorpsi mencapai menit ke-25, pH effluen hasil penyerapan oleh kedua adsorben mengalami penurunan. Kecenderungan terjadinya hal ini disebabkan karena kedua adsorben telah mencapai kondisi yang jenuh yang mengakibatkan menurunnya kemampuan adsorben menyerap partikel kimia atau pengotor dalam air limbah tekstil, sehingga semakin lama maka pH effluen semakin menurun dan akan mencapai pH yang sama seperti limbah aslinya. Pada saat adanya kecenderungan pH effluen menurun inilah perlakuan backwash diperlukan sebagai proses pencucian dan pembebasan partikel kimia atau pengotor

dalam adsorben sehingga adsorben dapat dipakai kembali seperti seharusnya. Pada praktikum ini, praktikan tidak melakukan backwash, namun meningkatnya kembali pH effluen pada menit akhir proses adsorpsi dapat terjadi karena adanya proses terlarutnya partikel-partikel yang telah diserap oleh adsorben selama kondisi jenuhnya keluar menuju keluaran yang mengakibatkan adsorben mengalami kondisi refresh layaknya di-backwash.

Pengaruh lamanya waktu proses adsorpsi juga berpengaruh terhadap parameter lain

seperti nilai TDS, DHL dan kekeruhan efluen yang masing-masing ditunjukkan oleh

Gambar 1.2, Gambar 1.3 dan Gambar 1.4 (Lampiran II).

dalam adsorben sehingga adsorben dapat dipakai kembali seperti seharusnya. Pada praktikum ini, praktikan tidak melakukan backwash,

Gambar 1.2 Kurva Pengaruh Waktu Adsorpsi Terhadap Nilai TDS Effluen

dalam adsorben sehingga adsorben dapat dipakai kembali seperti seharusnya. Pada praktikum ini, praktikan tidak melakukan backwash,

Gambar 1.3 Kurva Pengaruh Waktu Adsorpsi Terhadap Nilai DHL Effluen

Gambar 1.3 Kurva Pengaruh Waktu Adsorpsi Terhadap Nilai DHL Effluen Gambar 1.4 Kurva Pengaruh Waktu Adsorpsi

Gambar 1.4 Kurva Pengaruh Waktu Adsorpsi Terhadap Kekeruhan Effluen

Dari pengamatan terhadap ketiga kurva diatas secara umum semakin lama proses adsorpsi maka nilai TDS, DHL dan kekeruhan semakin menurun sampai kedua adsorben mencapai keadaan optimalnya sebelum mengalami kejenuhan. Kemudian setelah efluen mencapai nilai TDS, DHL dan kekeruhan terendah yang merupakan nilai pengurangan optimalnya maka analisa effluen menunjukkan kecenderungan nilai TDS, DHL dan kekeruhan semakin meningkat yang menunjukkan kedua adsorben telah mencapai kondisi jenuh.

Dari perbandingan kedua adsorben berdasarkan kedua garis kurva diatas, secara umum baik pada analisa nilai TDS, DHL maupun kekeruhan yang paling cepat mengalami kondisi jenuh adalah adsorben abu sekam padi. Pengamatan pada menit ke-20 merupakan nilai optimal pengurangan TDS, DHL dan kekeruhan oleh adsorben abu sekam padi yang lebih cepat jenuh dengan adanya kenaikan nilai TDS, DHL dan kekeruhan pada menit ke-25 dibanding dengan adsorben karbon aktif yang mengalami kondisi jenuh pada menit ke-30. Hal ini menyebabkan adsorben abu sekam padi akan lebih cepat mengalami perlakuan backwash yaitu pada menit ke-25 dan adsorben abu sekam padi akan lebih sering di- backwash daripada adsorben karbon aktif.

4.3.

Pengaruh Jenis Adsorben yang Berbeda pada Penurunan Parameter TDS, DHL,

Kekeruhan serta Perubahan pH dengan Proses Adsorpsi Pada pengolahan limbah tekstil atau limbah lainnya, kesesuaian antara jenis adsorben dengan adsorbat yang akan dipisahkan dari larutannya perlu diperhatikan untuk efektifitas dan efisiensi penggunaan adsorben yang digunakan, waktu proses dan perlakuan backwash.

Efektifitas adsorben karbon aktif dan abu sekam padi dalam menurunkan nilai TDS, DHL, kekeruhan serta pengaruh terhadap perubahan pH dengan proses adsorpsi ditunjukkan oleh

Gambar 1.1, Gambar 1.2, Gambar 1.3 dan Gambar 1.4 (Lampiran II).

Pada Gambar 1.1 kedua adsorben bekerja hampir sama dalam merubah pH efluen yaitu dengan rentang pH sekitar 7,9 sampai 8,45. Effluen limbah tekstil tersebut masih sesuai dengan baku mutu limbah cair tekstil yang dipersyaratkan menurut Kep.Men.Neg.L.H No :

Kep-51/MENLH/10/1995 yaitu rentang pH sekitar 6,0 sampai 9,0.

Sedangkan pengaruh jenis adsorben terhadap nilai TDS, DHL, dan kekeruhan masing- masing ditunjukkan oleh Gambar 1.2, Gambar 1.3 dan Gambar 1.4 (Lampiran II). Berdasarkan kurva pada ketiga gambar tersebut dapat dikatakan bahwa adsorben abu sekam padi lebih efektif dalam menurunkan nilai TDS, DHL, dan kekeruhan dibanding dengan adsorben karbon aktif. Hasil percobaan tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa abu sekam padi lebih cocok dijadikan sebagai adsorben dan lebih efektif dalam penyerapan partikel kimia atau pengotor dalam air limbah tekstil dibanding adsorben yang lain. Namun kemampuan lebih efektif inilah yang menyebabkan adsorben abu sekam padi akan lebih cepat dan lebih sering mengalami perlakuan backwash dikarenakan penyerapan partikel dari air limbah tekstil yang lebih optimal dan akan lebih mudah mengalami kondisi jenuh dibanding dari adsorben karbon aktif.