Anda di halaman 1dari 16

LAB/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

Laporan Kasus

ERITRODERMA KARENA ALERGI OBAT

Oleh :

Disusun oleh:

Eka Anggi Fenny Puspasari Amaliaturrahmah

04.45431.00221.09 05.48839.00240 .09 06.55372.00315 .09

Pembimbing: dr. Daulat, Sp.KK

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Laboratorium/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda 2012

Abstrak

Latar belakang : Eritroderma adalah kelainan kulit yang jarang, yang mungkin disebabkan oleh infeksi, penyakit sistemik dan obat-obatan. Kasus : seorang pasien laki-laki umur 25 tahun datang dengan keluhan gatal seluruh tubuh sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. Diawali bercak kemerahan yang menyebar di seluruh tubuh. Pada 1 minggu terakhir kulitnya mengelupas disertai rasa mual dan demam. Sebelumnya pasien mengaku mengkonsumsi antibiotik secara rutin. Pasien didiagnosa eritroderma karena alergi obat dan dirawat inap mendapat terapi kortikosteroid serta terapi simptomatik lainnya. Diskusi : Eritroderma atau dikenal juga dengan nama dermatitis eksfoliativa adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema universalis (90% - 100%), biasanya disertai skuama, yang berlangsung dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. Terbagi menjadi primer, yaitu eritroderma tanpa diketahui penyebabnya dan sekunder, yaitu eritroderma yang diketahui penyebabnya. Salah satu jenis eritroderma eksfoliativa sekunder adalah alergi penggunaan obat. Kortikosteroid digunakan sebagai pilihan terapi menunjukkan hasil yang memuaskan selama perawatan.

Kata kunci : Eritroderma, sekunder eritroderma, kortikosteroid,

Abstract

Background: Erythroderma is a rare skin disorder that may be caused by a variety of underlying dermatoses, infections, systemic diseases and drugs. Case: This is case report of a 25 years old man, came with complaints of itching all over the body since 1 month before hospitalized. Starting reddish spots that spread throughout the body. In 1 week, patient felt peeling of his skin also accompanied by intense nausea and fever. Previously the patient admitted taking antibiotics regularly. Patients diagnosed with erythroderma due to allergy of drug and hospitalization received corticosteroid therapy and other symptomatic therapy. Discussion: Erythroderma or also known as dermatitis eksfoliativa is a skin disorder characterized by erythema universalis (90% - 100%), usually accompanied skuama, which took place within a few days to several weeks. Divided into primary, erythroderma is without known cause and secondary, which is a known cause. One type of secondary erythroderma eksfoliativa is allergic to the drug. Corticosteroids are used as a therapeutic option showed good results during the treatment.

Key words: Erythroderma, secondary erythroderma, corticosteroids

BAB I PENDAHULUAN

Dermatosis eritroskuamosa adalah penyakit kulit yang terutama ditandai dengan adanya eritema dan skuama. Salah satu contoh penyakit kulit yang tergolong dermatosis eritoskuamosa adalah eritroderma. Eritroderma atau dikenal juga dengan nama dermatitis eksfoliativa adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema universalis (90% - 100%), biasanya disertai skuama.1 Eritroderma merupakan salah satu kelainan kulit yang jarang. Diperkirakan angka kejadiannya adalah 1 sampai 2 orang per 100.000 populasi.2 Kelompok usia yang paling sering terkena adalah pada pasien berusia > 50 tahun, dan lebih banyak diderita oleh laki-laki dibanding perempuan. Pada anak-anak yang menderita eritroderma biasanya merupakan hasil dari pitiriasis rubra pilaris maupun dermatitis atopik yang meluas. Pada eritroderma sebesar 30,4% disebabkan karena perluasan penyakit kulit, cutaneus T cell lymphoma sebesar 3,2% dan idiopatik yang memiliki proporsi terbesar pada kasus eritroderma yaitu sebesar 49,5%.3,4 Berdasarkan etiologinya, penyakit ini dapat dibagikan dalam 2 kelompok, yaitu : 5 1) Eritroderma eksfoliativa primer, penyebabnya tidak diketahui. Termasuk dalam golongan ini eritroderma iksioformis konginetalis dan eritroderma eksfoliativa neonatorum (5 0%) 2) Eritroderma eksfoliativa sekunder, dimana penyebabnya bisa karena penggunaan obat secara sistemik, meluasnya dermatosis ke seluruh tubuh (dapat terjadi pada liken planus, psoriasis, pitiriasis rubra pilaris, pemflagus foliaseus, dermatitis seboroik dan dermatitis atopik), maupun eritroderma akibat penyakit sistemik termasuk keganasan seperti limfoblastoma. Patofisiologi eritroderma belum jelas, yang dapat diketahui adalah akibat suatu agen dalam tubuh, maka tubuh bereaksi berupa pelebaran pembuluh darah kapiler (eritema) yang universal. Pada eritroderma terjadi eritema dan skuama yang

merupakan pelepasan lapisan tanduk dari permukaan kulit sel sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat dan sel sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik / plak jaringan epidermis yang profus.6 Pada pasien eritroderma juga terjadi pelepasan stratum korneum yang mencolok yang menyebabkan kebocoran kapiler, hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negatif. Karena dilatasi pembuluh darah kulit yang luas, sejumlah besar panas akan hilang sehingga memberikan efek yang nyata pada keseluruh tubuh. Pada eritroderma akut dan kronis dapat menganggu mitosis rambut dan kuku berupa kerontokan rambut difus dan kehilangan kuku.1,6 Kehilangan skuama dapat mencapai 9 gram/m2 permukaan kulit atau lebih dalam sehari, sehingga menyebabkan kehilangan protein. Hipoproteinemia dengan berkurangnya albumin dan peningkatan relatif globulin terutama globulin merupakan kelainan yang khas. Edema sering terjadi, kemungkinan disebabkan oleh pergeseran cairan ke ruang ekstravaskular.1

Eritroderma Akibat Alergi Obat Waktu mulai masuknya obat hingga timbul penyakit bervariasi dapat segera sampai 2 minggu. Lesi awal berupa eritema menyeluruh, sedangkan skuama baru muncul saat penyembuhan.1,5 Untuk menegakkan diagnosa eritroderma akibat alergi obat, diperlukan anamnesa yang teliti; yang dimaksudkan alergi obat secara sistemik ialah masuknya obat dengan cara apa saja, misalnya melalui mulut, hidung, dengan cara suntikan atau infus, melalui rectum atau vagina. Pada eritroderma karena alergi obat, maka yang dicurigai sebagai kausanya harus dihentikan. Umumnya pengobatan eritroderma dengan kortikosteroid. Pada golongan I, dosis prednison 4 x 10 mg. Penyembuhan terjadi cepat, umumnya dalam beberapa hari atau minggu.1,9 Eritroderma yang disebabkan alergi obat secara sistemik prognosisnya baik. Penyembuhan golongan ini adalah yang tercepat dibandingkan dengan golongan lain.

BAB II LAPORAN KASUS

2.1 Anamnesis Identitas Pasien Nama Usia Agama Suku Status Pendidikan Pekerjaan Alamat MRS : Tn. P : 25 tahun : Islam : Jawa : Belum Menikah : SMA : Karyawan : Jl. Loa Janan RT. 02 No. III : Hari Sabtu, 07 Januari 2012

Anamnesa dan pemeriksaan fisik dilakukan pada hari , 08 Januari 2012 di ruang perawatan Dahlia

Keluhan Utama Gatal dan kulit yang mengelupas di seluruh tubuh

Riwayat Penyakit Sekarang Gatal seluruh tubuh dialami pasien sejak 1 bulan yang lalu. Awalnya pasien mengeluhkan bercak kemerahan yang awalnya muncul di kaki dan dengan cepat menyebar di seluruh bagian tubuh yang lain. 1 minggu terakhir pasien mengeluhkan kondisinya semakin parah, ditandai dengan adanya kulit yang mengelupas di seluruh tubuh pada wajah , tangan, kaki, perut. Selain itu, pasien juga mengeluhkan merasa lemah, mual dan demam yang naik turun.
5

4 bulan yang lalu pasien mengalami kecelakaan saat bekerja dan menyebabkan luka di kaki dan setelah itu pasien mendapat pengobatan berupa antibiotic Cefadroxil dan anti nyeri. Pasien mengaku rutin mengkonsumsi obat hingga 1 bulan yang lalu karena kakinya sering bengkak, dan bersamaan dengan keluhan gatal tersebut, pasien juga mengaku menderita diare dan mendapatkan pengobatan berupa antiobiotik dan anti diare tetapi pasien lupa nama obat tersebut. Pasien tidak ada mengeluhkan bercak kemerahan, kulit mengelupas, terasa berminyak dikepala seperti ketombe sebelumnya, keluhan adanya rambut rontok, penurunan berat badan yang drastis dan sering berkeringat malam juga tidak ada..

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit serupa sebelumnya disangkal pasien Riwayat penyakit sebelumnya tidak ada Riwayat alergi obat tidak diketahui pasien dan pasien belum pernah mengalaminya.

Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama

2.2 Pemeriksaan Fisik 2.2.1 Status Generalisata Keadaan Umum Kesadaran Tanda Vital Nadi Pernafasan Suhu Kepala : : : : : : : 96 x/menit 24 x/menit 380 C Anemis (-), pupil isokor, refleks pupil +/+, alopesia (-) Tampak sakit Sedang Compos Mentis, GCS E4V5M6

Leher Thorax :

pembesaran KGB (-), Peningkatan JVP (-), massa (-) Paru: Bentuk dada dan pergerakan simetris, vesikuler, rhonki (-/-), wheezing(-/-), Sonor (+/+) Jantung : S1 S2 tunggal regular, gallop (-), murmur (-)

Abdomen

flat, soefl, nyeri tekan (-), Hepar/Lien/Ginjal tidak teraba.

Ekstremitas atas & bawah : bawah (+)

Akral hangat (+), oedema pada ekstremitas atas (-) dan

2.2.2 Status Dermatologis a. Regio Generalisata Efloresensi: Makula eritematous dengan batas tidak tegas, Skuama halus (+), Ekskoriasi luas (+). b. Regio Pedis Dextra: Efloresensi: Makula eritematous batas tidak jelas, skuama halus, nyeri dan hangat pada perabaan, terdapat fluktuasi.

Gambar 2.1 Regio manus dextra et sinistra

Gambar 2.2 Regio pedis dextra et sinistra

Gambar 2.3 Regio fasialis

2.3 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Darah Lengkap - WBC - RBC - HGB - HCT - PLT - LED 9 Januari 2012

12,0 K/L 3,39 M/ L 10,8 g/dl 30,5 % 294 K/L 35

Elektrolit - Natrium - Kalium - Kloride Kimia Darah - Glukosa Sewaktu - SGOT - SGPT - Bilirubin Total - Bilirubin Direck - Bilirubin Indireck - Protein Total - Albumin - Globulin - Cholesterol - Asam Urat - Ureum - Creatinin 2.4 Diagnosis Kerja

140 mmol/L 2,8 mmol/L 104 mmol/L 160 mg/dl 27 UI 40 UI 0,2 0,1 0,1 5,4 3,5 1,9 137 3,8 27,9 0,7

1. Eritroderma karena alergi obat 2. Selulitis pedis

2.5 Diagnosis Banding Eritroderma karena psoariasis Eritroderma karena penyakit sistemik

2.6 Penatalaksanaan A. Non medikamentosa Banyak makan-minum tinggi protein, minum air putih, perbaikan cairan tubuh Bila masih menggigil, penderita tidak boleh mandi dulu. Setiap pagi seluruh tubuh diolesi oleum cocos.
9

Hindari menggaruk bagian tubuh yang gatal Hentikan pemakaian obat-obatan yang dapat menyebabkan eritroderma

B. Medikamentosa Infus RL 24 tpm Inj Gentamycin 2 x 80 mg/iv Inj Dexametason 2-0-0 amp/iv Inj Ranitidin 2x1 amp/iv Cetirizin tab 10 mg 1x1 bila gatal Oleum cocos 3 x sehari seluruh tubuh Kompres NaCl di luka basah jam, 2 x sehari gentamycin cream

2.7 Prognosis Ad Vitam Ad sanam : Ad bonam : Ad Bonam

Ad kosmetikam : Dubia ad bonam

10

BAB III PEMBAHASAN

Pasien Tn. P umur 25 tahun datang ke Poli RSUD AWS dengan keluhan gatal seluruh tubuh sejak 1 bulan sebelum masuk Rumah Sakit. Awalnya pasien

mengeluhkan kemerahan yang menyebar diseluruh tubuh. Dan 1 minggu terakhir pasien mengeluhkan kondisinya semakin parah, ditandai dengan adanya kulit yang mengelupas di seluruh tubuh. Empat bulan yang lalu pasien mengalami kecelakaan saat bekerja dan menyebabkan luka di kaki dan setelah itu pasien mendapat pengobatan berupa antibiotik Cefadroxil dan anti nyeri. Pasien mengaku rutin mengkonsumsi obat hingga 1 bulan yang lalu karena kakinya sering bengkak. Dan bersamaan dengan keluhan gatal tersebut, pasien juga mengaku menderita diare dan mendapatkan pengobatan berupa antiobiotik dan anti diare tetapi pasien lupa nama obat tersebut. Pasien sempat berobat ke poli klinik perusahaan, tetapi tidak ada perbaikan dan akhirnya pasien berobat ke RSUD AW Syahranie dan didiagnosa menderita eritroderma. Diagnosis eritroderma ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada pasien ini ditemukan eritema pada seluruh tubuh disertai dengan skuama tipis berwarna putih yang dialami pasien sejak 1 bulan yang lalu. Definisi dari eritroderma sendiri adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema universalis (90% - 100%), biasanya disertai skuama, yang berlangsung dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.1 Berdasarkan anamnesis juga ditemukan keluhan edema pada kedua kaki dan tangan serta pasien sering merasa menggigil. Edema sering terjadi pada pasien eritroderma, kemungkinan disebabkan oleh pergeseran cairan ke ruang ekstravaskular oleh karena adanya hipoproteinemia.1 Sedangkan keluhan menggigil pada pasien ini dapat terjadi karena adanya eritema universalis pada pasien ini. Eritema berarti terjadi

11

pelebaran pembuluh darah yang mengakibatkan aliran darah ke kulit meningkat, sehingga kehilangan panas bertambah. Akibatnya pasien merasa dingin dan menggigil. Pengendalian regulasi suhu tubuh menjadi hilang, sehingga sebagai

kompensasi terhadap kehilangan panas tubuh, sekujur tubuh pasien menggigil untuk dapat menimbulkan panas metabolik.1,6 Anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang yang cermat juga digunakan untuk mencari tahu kausa dari eritroderma pada pasien ini. Dari anamnesis pasien mengatakan ada mengkonsumsi obat sebelum keluhan muncul, baik berupa obat minum atau suntikan, sehingga kemungkinan eritroderma karena alergi obat. Pasien juga mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit kulit sebelumnya. Pada eritroderma yang disebabkan karena psoriasis ditemukan eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninggi daripada sekitarnya dengan skuama yang lebih tebal.5 Sedangkan pada pasien ini, eritema ditemukan universalis dan merata, serta tidak ditemukan adanya kelainan erimatosa yang agak meninggi. Pada sebagian pasien eritroderma karena psoriasis kadang hanya ditemukan eritema universal dan skuama, dan tanda-tanda psoriasis tampak setelah pemberian terapi kortikosteroid dan eritrodermanya berkurang.1 Tetapi pada pasien ini setelah eritrodermanya berkurang tidak ditemukan adanya tanda-tanda psoriasis, selain itu untuk menyingkirkan diagnosa banding yang lain seperti eritroderma akibat penyakit sistemik, pada pasien ini dari anamnesa, pasien mengaku tidak pernah menderita penyakit lain, dan dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya massa, splenomegali yang mengarah kepada keganasan, dan untuk nilai laboratoriumnya juga dalam batas normal. Diagnosis eritroderma yang disebabkan karena obat ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik pada pasien. Pada pasien ini mendapatkan terapi Inj Gentamycin 2 x 80 mg/iv, Inj Dexametason 2-0-0 amp/iv, Inj Ranitidin 2x1 amp/iv, Oleum cocos 3 x sehari seluruh tubuh, kompres NaCl di luka basah jam, 2 x sehari dan setelahnya dioleskan

12

Gentamycin salep. Pengobatan umum untuk eritroderma adalah kortikosteroid, dan pada pasien ini diberikan injeksi kortikosteroid berupa dexametason 2 ampul per hari. Cetirizine diberikan untuk mengurangi keluhan gatal yang dirasakan pasien, dimana pemberian antihistamin sedatif juga memberikan efek yang bermakna pada pasien yang mengeluhkan gatal.10 Terapi simptomatik juga diberikan pada pasien ini. Ranitidin injeksi diberikan karena pasien mengeluhkan adanya mual dan untuk mencegah tukak peptik akibat penggunaan kortikosteroid, mekanisme kerjanya secara kompetitif menghambat ikatan histamin dengan H2 reseptor di lambung sehingga cAMP intrasel menurun, maka sekresi asam lambung menurun. Pada eritroderma kronis diberikan juga diet tinggi protein, karena terlepasnya skuama mengakibatkan kehilangan protein.1 Oleh karena itu, pada pasien ini diberikan diet kaya protein. Kelainan kulit perlu pula diolesi emolien untuk mengurangi radiasi akibat vasodilatasi oleh eritema misalnya dengan krim urea 10% atau dengan minyak kelapa.1,3,10 Prognosis pada pasien ini adalah bonam. Pasien merespon baik terhadap terapi yang diberikan. Setelah 5 hari perawatan keadaan pasien menunjukkan perbaikan. Keluhan gatal dan skuama sudah berkurang, walaupun masih terdapat eritema. Pada perawatan hari ke-4, pasien tidak lagi mengeluhkan gatal dan skuama sudah jauh berkurang, hanya terdapat eritema. Hari ke-6 pasien diperbolehkan pulang dan rawat jalan.

13

BAB IV SIMPULAN

Telah dilaporkan kasus eritroderma karena alergi obat pada laki-laki berusia 25 tahun, dimana ditemukan eritema universalis disertai skuama tipis pada hampir seluruh regio tubuh. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang lain juga ditemukan oedem pada esktremitas. Prinsip penatalaksanaan pada eritroderma adalah dengan mengobati penyakit yang mendasarinya. Penatalaksanaan pada pasien ini adalah dengan pemberian kortikosteroid dan terapi simptomatik lainnya.

14

DAFTAR PUSTAKA 1. Djuanda, A. 2008. Dermatosis Eritroskuamosa. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi Kelima. Cetakan Ketiga. Editor : Djuanda A, Hamzah M, dkk.Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. 197-200. Sigurdsson V, Steegmans PH, van Vloten WA. 2001. The incidence of erythroderma: a survey among all dermatologists in The Netherlands. J Am Acad Dermatol. 45(5): 675-8. Wolff, K and Johnson, R.A. 2003. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of General Dermatology 6th Edition. New York : McGraw-Hill. Zalman, S. Agus, MD. 2009. ICD: Idiopathic Erythroderma May Signal Undiagnosed Cancer. Diakses tanggal 10 Januari 2011 (http://www.medpagetoday.com/erythroderma/) Hidayat, A. 2009. Eritroderma. Diakses tanggal 10 Januari 2011 (http://hidayat2.wordpress.com/2009/07/05/askep-eritroderma/)

2.

3.

4.

5.

6.

Lasimpala, N. 2011. Eritroderma. Makassar : Universitas Hasanudin.. (Online); Diakses tanggal 10 Januari 2011 (http://www.scribd.com/doc/47726198/ERITRODERMA) Bandyopadhyay, D., et al. 2010. Erythroderma.;. Dept. of Dermatology, R G Kar Medical College, Calcutta, India. Sanusi, H Umar, MD, et al. 2009. Erythroderma (Generalized Exfoliative Dermatitis. (Online); Diakses tanggal 10 Januari 2011 (http://emedicine.medscape.com/article/762236-overview) Daili, E., Sri Linuih, I Made Wisnu. 2005. Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia, Sebuah Panduan Bergambar. Jakarta : Medical Multimedia Indonesia.

7.

8.

9.

10. Health Issue Organization. 2011. Erythroderma - Symptoms & Treatment (Online); Diakses tanggal 10 Januari 2011dari (http://www.healthissues.org/skin-disorders/erythroderma.htm)

15