Anda di halaman 1dari 9

Laboratorium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

RSUD A.W.Sjahranie Samarinda

Refleksi Kasus

VERUKA VULGARIS

Oleh : Amaliaturrahmah NIM. 06.55372.00315.09

Pembimbing : dr. M. Darwis Toena , Sp.KK

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Laboratorium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda 2012

ANAMNESIS A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Alamat :S : 18 tahun : Laki-laki :: SMA : Jalan Krama jaya

Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 12 januari 2012 di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

B. Keluhan Utama : Benjolan berwarna putih keabu-abuan di kaki dan tangan

C. Riwayat Penyakit sekarang : Benjolan berwarna putih keabu-abuan dikaki awalnya dialami pasien 1 tahun yang lalu, benjolan ini awalnya kecil, dan semakin membesar, muncul pertama kali di kaki kiri pasien , kemudian di kaki kanan, siku serta tangan pasien, pasien mengaku terkadang merasa gatal pada bagian tersebut dan menggaruknya, pasien juga mengaku pernah mencoba mengirisnya dengan silet, tetapi kemudian sedikit berdarah, pasien mengaku tidak ada cairan seperti nasi yang keluar. Benjolan ini semakin banyak sehingga pasien membawanya ke poliklinik kulit.

D. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat penyakit serupa (-)

E. Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat penyakit serupa (-)

PEMERIKSAAN FISIK A. STATUS GENERALISATA Keadaan umum Kesadaran Tanda Vital : Tampak sehat : Kompos Mentis, GCS E4V5M6 : Nadi : 88 x/menit RR : 20 x/menit TD : 110/60 mmHg

B. Status Dermatologis : Lokalisasi : regio antebrakhii dextra et sinistra, regio dorsum pedis

dextra, region genu sinistra Effloresensi : papul hiperkeratotik berwarna putih keabu-abuan, berbentuk

bundar dan cembung, berbatas tegas, berukuran 0,5 cm dengan permukaan yang kasar, fenomena koebner (+)

PEMERIKSAAN PENUNJANG : Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

DIAGNOSIS KERJA : Veruka vulgaris

DIAGNOSIS BANDING : Molluscum contangiosum

PENATALAKSANAAN 1. Non Medikamentosa Edukasi Keluhan bisa timbul kembali di tempat lain Jangan menyikat, menjepit, menyisir, mencukur, atau menggaruk daerah yang memiliki veruka, untuk menghindari penyebaran virus. 2. Tindakan: Elektrocauterisasi 3. Medikamentosa Asam Fusidat salep 2x1 Cefadroxil 2x1 tab Asam mefenamat 3x500 mg

PROGNOSIS : o Quo ad vitam o Quo ad fungsionam o Quo ad cosmeticam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

DISKUSI Diagnosis Veruka vulgaris pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Identitas pasien ini yaitu seorang laki-laki dengan usia 18 tahun, bila dibandingkan dengan literatur yang ada mengenai data epidemiologi untuk veruka akan ditemukan kesesuaian. Berdasarkan data epidemiologi kejadian veruka lebih sering terjadi pada anak dan dewasa muda terutama antara usia 5 - 20 tahun dan hanya 15% terjadi setelah usia 35 tahun.1,2,3 Pada comparathe study retrospektif dari 35 pasien common wart, umur pasien antara 18-32 tahun dan 61% diantaranya adalah laki-laki.4 Dari anamnesis didapatkan keluhan berupa adanya benjolan berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan yang kasar sejak 1 tahun yang lalu, awalnya terdapat dikaki kiri pasien dan kemudian muncul juga di lain tempat di kaki kanan, siku serta tangan pasien, benjolan ini semakin lama semakin banyak. Pada pemeriksaan fisik terutama status dermatologis di regio regio brakhii dextra et sinistra dan region dorsum pedis dextra didapatkan gambaran papul, berukuran 0,5 cm dengan permukaan

berwarna putih keabu-abuan, berbentuk bundar dan cembung,

yang kasar. Verruca vulgaris sering dikenal sebagai common wart adalah proliferasi jinak dari kulit dan mukosa yang disebabkan infeksi human papillomavirus (HPV). Kutil tidak bersifat kanker, namun memiliki kemungkinan menular dari orang ke orang, dan dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain pada orang yang sama.1 Veruka ialah hiperplasi epidermis disebabkan oleh human papiloma virus tipe tertentu, tempat predileksinya terutama di ekstremitas bagian ekstensor, walaupun demikian penyebarannya dapat ke bagian lain tubuh termasuk mukosa mulut dan hidung. Veruka ini bentuknya bulat, berwarna abu-abu, besarnya lentikular atau kalau berkonfluensi berbentuk plakat, permukaan kasar (verukosa). Dengan goresan dapat timbol autoinokulasi sepanjang goresan (fenomena Kobner). Pertumbuhan jinak ini disebabkan human papiloma virus, ini terjadi di berbagai permukaan kulit yang dilapisi epitel.2,5 HPV-1, -2, -4, -27, -57, dan -63 menyebabkan common wart.

1,2,6,7

Verruca vulgaris dengan klinis lesi hiperkeratotik, eksopitik dan berbentuk

kubah, papula atau nodul terutama terletak pada jari, tangan, lutut, siku atau lainnya pada situs trauma. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan adanya hiperplasia dari semua lapisan epidermis. Diagnosis banding pada pasien ini adalah moluskum kontagiosum karena memberikan gambaran efloresensi yang sama yaitu papula berwarna keputihan. Namun pada kasus ini, pasien tidak mengeluhkan adanya massa putih seperti nasi apabila benjolan dipijat. Ada beberapa faktor untuk menegakkan diagnosis ke arah veruka yaitu adanya gambaran permukaan yang kasar, kemudian muncul di ekstremitas bagian ekstensor seperti jari, tangan, lutut, siku atau lainnya pada situs trauma yang mana ini merupakan tempat prediliksi veruka, dari anamnesa didapatkan juga pasien mengaku pada veruka sempat sedikit berdarah saat pasin mencoba memotongnya dengan silet dan jepitan kuku. Dilatasi kapiler di veruka akan berdarah setelah dilakukan pencukuran pada permukaan yang hiperkeratotik.8,9 Adanya kapiler ini membantu untuk menegakkan diagnosa veruka. Penatalaksanaan veruka pada pasien ini adalah berupa edukasi menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit pasien bukan penyakit keturunan, dan tidak dicetuskan oleh makanan tertentu. Penyakit ini timbul akibat penyakit infeksi menular yang dapat timbul berulang, hindari tindakan menyikat, menjepit, menyisir atau mencukur daerah yang memiliki veruka, untuk menghindari penyebaran virus.10,11 Sebagaimana yang diketahui bahwa pengobatan yang paling umum

digunakan untuk veruka yakni menghancurkan daerah epidermis yang terinfeksi dengan virus. Pengobatan tersebut dapat melibatkan penggunaan topikal atau pendekatan bedah, pada veruka juga bisa diatasi dengan bahan kimia seperti asam asam retinoat atau asam salisilat
12,13

, sedangkan untuk pembedahan berupa: bedah

eksisi, Cryotherapy, kauter/ elektrokoagulasi maupun laser dapat menghancurkan veruka, tetapi bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut. 1,11,12,14 Tindakan khusus yang dilakukan pada pasien ini adalah dengan

elektrokauterisasi dengan blok anastesi untuk mengangkat papul-papul tersebut, 5

bedah listrik elektrokauter merupakan suatu tindakan bedah menggunakan alat bedah listrik yang dapat membangkitkan aliran listrik terkontrol untuk menghasilkan detruksi jaringan yang selektif, kemudian diberikan pengobatan topical berupa asam fusidat salep untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder yang ditimbulkan setelah tindakan bedah, melihat lokasi luka post operasi yang cukup banyak dan letaknya di daerah ekstrimitas bawah yang rentan untuk terkena infeksi dapat juga diberikan antibiotik sistemik berupa cefadroxil 2x1 dan juga diberikan anti nyeri golongan NSAID berupa asam mefenamat 3x1. Prognosis umumnya baik. Pada pasien ini prognosis quo ad vitam adalah bonam karena penyakit ini tidak mengancam jiwa, sebab dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda-tanda komplikasi. prognosis quo ad functionam adalah bonam karena fungsi bagian tubuh yang terkena tidak terganggu. Prognosis quo ad sanationam adalah bonam karena veruka vulgaris tidak mengganggu kehidupan sosial penderita, hanya saja yang perlu diingat bahwa angka rekurensi veruka cukup tinggi, sekitar 23% dari veruka regresi spontan dalam waktu 2 bulan, 30% dalam waktu 3 bulan dan 65% -78% dalam 2 tahun. Pasien yang sebelumnya telah terinfeksi memiliki risiko lebih tinggi untuk pengembangan kutil baru daripada mereka tidak pernah terinfeksi.12

DAFTAR PUSTAKA 1. Androphy, Elliot J., Rowy, Douglas R. Wart: Human Papiloma Virus, Common Wart edited by Klaus Wolff, Lowell A. Goldsmith, etc. in Fitzpatricks Dermatology In General Medicine, 7th Ed. McGraw-Hill: New York; 2008, p.1914-1922. 2. James, William D., Timothy G. Berger, and Dirk M. Elston. Viral Disease: Papovarirus Group in Andrews Diseases of The Skin Clinical Dermatology, 10th Ed. Saunders Elsevier Inc. Canada; 2006, p.403-412. 3. Darmstadt GL. Lane A. Cutaneous Viral Infections in Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM, eds. Nelson Textbook of Pediatrics 15thEd. WB Saunders Co. Philadelpia; 1996.p.1901-1903. 4. A.B, Jenson. at all. Human papillomavirus. Frequency and distribution in plantar and common warts. UK PubMed Center. 1982, 47(5):491-7. 5. Leman JA, Benton EC. Verrucas. Guidelines for management. Am J Clin Dermatol 2000;1:143-149. 6. Wile, Udo J. Kingery, Lyle B. The Etiology of Common Warts. JAMA. Singapore; 1919. p.970-973. 7. G, Orth. Characterization of a new type of human papillomavirus that causes skin warts. J. Firol; PubMed. USA; 1977.p.108-120. 8. Lipke, Michelle M. An Armamentarium of Wart Treatments. Clinical Medicine & Research. 2006:4.4:273-293\ 9. Kirnbauer R, Lenz P, Okun MM. Human Papillomavirus. In: Bolognia J, Jorizzo J, Rapini R, eds. Dermatology. 1st ed. London: Mosby; 2003:1217-1233. 10. Anonim. 2009. Veruka (online) diakses pada tanggal 10 januari 2012 dari www.medicastore/veruka/1r7rigiugoiog8.com 11. Hengge, UR. Papiloma Virus Diseases in Hautarzt Journal Vol.55. Pubmed. Germany; 2004. p.841-851. 12. Sterling, J.C. Viral Infection: Human Papiloma Virus, Common Wart in Rooks Textbook of Dermatology 7th Ed. Blackwell Publishing Inc. USA: 2004, p.25.4425.43.

13. Irrisandya. 2011. Penggunaan Asam Salisil Topikal Pada Veruka Vulgaris (online) diakses pada tanggal 10 januari 2012 dari www.E-Case/219u329iue.com 14. Leman JA, Benton EC. Verrucas. Guidelines for management. Am J Clin Dermatol 2000;1:143-14