Anda di halaman 1dari 25

Keperawatan Komunitas PENATALAKSANAAN PENYAKIT DM DI MASYARAKAT

Disusun Oleh: ANNISAH SEPWIKA SARI DINI ARTY AGGREY SWANNY LUKAS FRANZONA RINA WAHYUNI IMELDA SIRAIT 0911011014 0911011018 0911010 09110 09110 09110

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Departemen Kesehatan Nasional (Depkes, 2008) menyatakan bahwa penyakit tidak menular (noncommunicable disease) yang disingkat dengan PTM adalah salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan bentuk penyakit secara epidemiologi dari penyakit menular yang cenderung prevalensinya menurun menjadi penyakit tidak menular yang prevalensinya cenderung meningkat baik secara global maupun nasional. World Health Organization (WHO, 2011) menyatakan bahwa PTM adalah penyebab kematian utama secara global. Data statistik WHO (2008) didapatkan bahwa dari 57 juta kematian di dunia, sebanyak 36 juta (60%) kematian disebabkan karena PTM. Dan sebanyak 29% dari kematian yang disebabkan karena PTM terjadi di negara dengan tingkat hasil pendapatan penduduknya yang rendah dan menengah yang terjadi pada usia penduduk dibawah 60 tahun. Sedang di negara dengan tingkat pendapatan penduduknya tinggi, kematian akibat PTM terjadi berkisar 13%. Salah satu negara berkembang dengan tingkat pendapatan penduduknya rendah dan menengah adalah Indonesia. WHO (2008) menunjukkan bahwa angka kematian penduduk Indonesia akibat PTM adalah 582.277 kematian yang terjadi pada pria sedangkan pada wanita jumlah kematiannya yaitu 481.666. Penyebab utama kematian akibat PTM sebagaimana yang disampaikan WHO (2008) sebanyak 1,3 juta kematian (4%) disebabkan karena penyakit diabetes melitus. Angka statistik yang disampaikan WHO (2008) bahwa angka kematian akibat penyakit diabetes melitus di Indonesia sebanyak 400 angka kematian pria per 100.000 populasi dan 300 angka kematian wanita per 100.000 populasi.

Pada 2003 WHO memperkirakan jumlah penderita DM di dunia sebanyak 194 juta jiwa atau 5,1% dari jumah penduduk dunia 3,8 miliar dengan usia antara 20-79 tahun. Data statistik WHO (2012) menunjukkan pervalensi penderita DM di seluruh dunia dari berbagai usia yaitu sebanyak 171.000.000 penderita, dengan prediksi pada 2030 akan mengalami peningkatan tiga kali lipat yaitu 366.000.000 penderita. Sedangkan di Indonesia dari data WHO (2012) penderita DM pada 2000 yaitu 8.426.000, yang diprediksi pada 2030 akan mengalami peningkatan tiga kali lipat yaitu 21.257.000 penderita. Dari data statistik ini menjadikan Indonesia sebagai peringkat keempat negara terbanyak penderita DM setelah India, China, dan Amerika. Berdasarkan data laporan Riset Kesehatan Dasar (2007) didapatkan data bahwa secara nasional prevalensi DM yang didapatkan dari diagnosis tenaga kesehatan dan dengan gejala sebesar 1,1%. Sedangkan di Sumatera Utara prevalensi DM yang didapatkan dari diagnosis tenaga kesehatan dan dengan gejala yaitu sebesar 0,8%. Berdasarkan hasil survei yang didapat dari laporan Surveilens Terpadu Penyakit didapat data jumlah kasus 1.717 pasien rawat jalan di seluruh Rumah Sakit dan Puskesmas baik Kabupaten maupun Kota. Sebanyak 918 pasien melakukan rawat jalan dan sebanyak 998 pasien yang dirawat inap di seluruh Rumah Sakit Sumatera Utara (Setiabudi, 2009; Iskandar, 2012). Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sihombing (2008) didapatkan data sebanyak 355 penderita DM di 10 puskesmas di Kota Medan dari 39 Puskesmas yang ada di Kota Medan. Berdasarkan data yang ada bahwa angka kejadian diabetes melitus cukup tinggi, maka makalah ini akan menjelaskan tentang penatalaksanaan diabetes melitus di masyarakat. 1.2 Tujuan Setelah mengikuti mata kuliah keperawatan komunitas tentang

penatalaksanaan diabetes melitus:

1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi, jenis diabetes melitus, faktor resiko, diagnosa, serta manifestasi klinis 2. Mahasiswa masyarakat 3. Mahasiswa dapat menjelaskan asuhan keperawatan dari penyakit diabetes melitus dapat menjelaskan penatalaksanaan penyakit DM di

BAB II ISI 2.1 Definisi Diabetes Melitus DM adalah salah satu kelompok penyakit metabolik yang memiliki karakteristik yaitu terjadinya peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemi) dengan faktor penyebabnya adalah kerusakan dalam mensekresikan insulin, kerusakan dalam fungsi insulin atau disebabkan karena keduanya. (ADA, 2003 ; Smeltzer & Bare, 2008). Sedangkan Utaminingsih (2009) menyatakan bahwa DM adalah suatu penyakit dengan kondisi kadar glukosa darah tinggi di dalam tubuh disebabkan karena tubuh tidak dapat menggunakan insulin atau bahkan tidak dapat menghasilkan insulin secara adekuat. Menurut Price & Wilson (2005) DM merupakan suatu gangguan metabolik yang dapat terjadi pada seseorang yang disebabkan karena genetik atau klinis yang memiliki gejala yaitu tubuh seseorang tersebut kehilangan toleransi terhadap karbohidrat. 2.2 Klasifikasi Diabetes Melitus Secara garis besar DM diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu : a. DM Tipe 1 atau dikenal istilah Insulin Dependent Diabetes Melitus DM tipe 1 dapat terjadi disebabkan karena autoimun pada tubuh penderita yang mengakibatkan terjadinya kekurangan insulin secara absolut. Selain itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Price & Wilson (2005) bahwa DM Tipe 1 adalah suatu penyakit autoimun yang ditentukan secara genetik yang memiliki gejala-gejala yang akan berakhir pada tahap proses perusakan imunologik sel penghasil insulin. Prevalensi DM Tipe 1 banyak terjadi pada anak-anak. Akan tetapi dapat terjadi pada semua usia, biasanya dibawah usia 30 tahun. Cenderung terjadi pada orang yang memiliki tubuh kurus.

Etiologinya genetik, imunologik, atau idiopatik. Sering memiliki antibodi pulan lagerhans atau antibodi terhadap insulin sehingga penderita DM Tipe 1 akan memerlukan insulin untuk mempertahankan kelangsungan hidup (Smeltzer & Bare, 2008). b. DM Tipe 2 atau dikenal dengan istilah Noninsulin Dependent Diabetes Melitus DM Tipe 2 biasanya disebabkan karena faktor lingkungan sehingga penderita mengalami resisten insulin. (Smeltzer & Bare, 2008). Selain itu menurut Price & Wison (2005) DM Tipe 2 ditandai dengan kelainan sekresi dan kerja insulin sehingga terjadi resisten pada insulin. DM Tipe 2 juga merupakan salah satu gangguan metabolik dengan kondisi insulin yang diproduksi oleh tubuh tidak cukup jumlahnya atau cukup jumlahnya akan tetapi reseptor insulin di jaringan tidak berespon terhadap insulin tersebut (Lewis, 2004 ; Yusra, 2011). DM Tipe 2 biasanya disebabkan karena faktor lingkungan sehingga penderita mengalami resisten insulin. (Smeltzer & Bare, 2008). Selain itu menurut Price & Wison (2005) DM Tipe 2 ditandai dengan kelainan sekresi dan kerja insulin sehingga terjadi resisten pada insulin. DM Tipe 2 juga merupakan salah satu gangguan metabolik dengan kondisi insulin yang diproduksi oleh tubuh tidak cukup jumlahnya atau cukup jumlahnya akan tetapi reseptor insulin di jaringan tidak berespon terhadap insulin tersebut (Lewis, 2004 ; Yusra, 2011). DM Tipe 2 dapat terjadi di segala usia, akan tetapi biasanya menyerang usia di atas 30 tahun. Cenderung terjadi pada orang yang obesitas pada saat didiagnosis. Membutuhkan agen hipogligemik atua terkadang mmebutuhkan insulin dalam waktu yang singkat (Smeltzer & Bare, 2008). c. DM Gestasional DM gestational merupakan DM yang terjadi pada masa kehamilan biasanya terjadi trisemester kedua atau ketiga hidup (Smeltzer & Bare, 2008). Sebesar 2-5 % DM merupakan gestational. (Suyono, 2009). Penyebab DM gestational adalah karena hormon yang disekresikan oleh plasenta yang menghambat keja insulin, sehingga beresiko terjadinya bayi

makrosmia. Diatasi dengan diet dan insulin jika diperlukan (Smeltzer & Bare, 2008).

d. DM Penyebab Lain DM Penyebab Lain biasanya terjadi karena kelainan genetik pada fungsi sel beta, penyakit eksokrin pankreas, penggunaan obat-obatan atau zat kimia, infeksi, endokrinopati seperti akromegali, sindrom chusing (Soegondo, 2004). Penderita DM tipe lain ini mungkin memerlukan terapi insulin atau hanya dengan obat oral, tergantung pada kemampuan pankreas menghasilkan insulin (Smeltzer & Bare, 2008). 2.3 Faktor Resiko Faktor resiko adalah sesuatu atau faktor pencetus yang akan mempengaruhi terjadinya DM baik dalam bentuk kegiatan, zat / bahan, atau kondisi tertentu (Depkes RI, 2008). Faktor resiko pada DM terdiri dari faktor resiko yang dapat dimodifikasi dan faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi. a. Faktor resiko yang dapat dimodifikasi seperti berat badan, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia, diet tidak sehat dan seimbang, riwayat Toleransi Glukosa Terganggu (TGT <140-199 mg/dL) atau Gula Darah Puasa Terganggu (GDPT <140 mg/ dL) (Depkes RI, 2008). b. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu ras, genetik, umur, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan DM, riwayat melahirkan bayi dengan BB > 4000 gram (Depkes RI, 2008). 2.4 Diagnosa Diagnosa penyakit DM selalu mengalami perkembangan baik yang dilakukan oleh WHO, ADA, maupun PERKENI. Menurut WHO kriteria diagnosis DM ditegakkan dengan cara sebagai berikut : 1. Gejala Klasik DM + glukosa darah plasma sewaku 200 mg/dl (11,1 mmol/L)

2. Gejala klasik DM + glukosa plasma puasa 126 mg/dl (7,0 mol/L), puasa diartikan bahwa pasien tidak mendapatkan kalori tambahan minimal selama 8 jam 3. Glukosa plasma 2 jam pada Tes Toleransi Glukosa Oral 200 mg/dl (11,0 mmol/L). TTGO dilakukan dengan melakukan sesuai standart WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 gram glukosa anhidurs yang dilarutkan dalam air. Nilai TTGO setelah 2 jam pembebanan adalah 1. < 140 mg/ dL berarti dalam keadaan normal 2. 140-199 mg/ dL : Toleransi Glukosa Terganggu 3. 200 mg/dL : diagnosa DM Konsentrasi Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa sebagai Patokan Penyaring dan Diagnosis DM Bukan DM Konsentrasi glukosa darah Plasma Vena sewaktu (mg/dL) Darah Kapiler < 100 < 90 < 100 < 90 Belum Pasti DM 100-199 90-199 100-125 90-99 200 200 126 100 DM

Konsentrasi glukosa darah Plasma Vena spuasa (mg/dL) (Suyono, 2009) Darah Kapiler

Selain dengan cara tersebut diatas ada dua cara lagi untuk mendiagnosa DM, yaitu 1. Indeks Penentuan Derajat Kerusakan Sel Beta Hal ini dapat dinilai dengan konsentrasi insulin, proinsulin, sekresi peptida penghubung (C-Peptide). Nilai glycosilated hemoglobin (HbA1C), dengan nilai normal 6, dan jika diatas 6 didiagnosa sebagai DM (Suyono, 2009). 2. Indeks Proses Diabetogenik

Untuk penilaian proses diabetagonik dilakukan dengan pemeriksaan tipe dan subtipe HLA, adanya titer dan titr antibodi dalam sirkulasi yang ditunjukkan oleh pulau lagerhans (Suyono, 2009). 2.5 Manifestasi Klinis 2.6 Pilar Pengelolaan DM Pilar utama pengelolan DM ada empat, yaitu : 1. Perencanaan Makan Standart yang dianjurkan adalah makan dengan komposisi yang berimbang dalam hal karbohidrat, protein, lemak, sesuai dengan kecukupan gizi sebagai berikut : Karbohidrat Protein Lemak 60-70% 10-15% 20-25%

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut, dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal (Waspaji, 2004) 2. Latihan Jasmani Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit, yang sifatnya interval, ritme, kontinue. Sedapat mungkin mencapai sasaran 75-85% denyut nadi maksimal, disesuaikan dengan kemampuan dan penyakit penyerta. Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30 menit, olahraga sedang adalah berjalan cepat selama 20 menit, dan olahraga berat misalnya jogging (Waspaji, 2004) 3. Pengelolaan Farmakologis Sarana pengelolaan farmakologis diabetes dapat berupa : A. Obat hipoglikemik 1. Pemicu sekresi insulin : sulfonilurea, glinid

2. Penambah sensitivitas terhadap insulin : biguanid, tiazolidindon, penghambat glukosidase alfa B. Insulin 4. Penyuluhan kesehatan Penyuluhan untuk rencana pengelolaan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Edukasi diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan bagi pasien DM yang bertujuan untuk menunjang perubahan perilaku untuk meningkatkan pemahaman pasien akan penyakitnya, yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat optimal, dan penyesuaian keadaan psikologik serta kualitas hidup yang lebih baik (Waspaji, 2004). 2.7 Penatalaksanaan penyakit DM di Masyarakat 1.Pengendalian Diabetes Melitus Secara Terintegrasi dan Komprehensip Berdasarkan Upaya Pencegahan (Depkes RI, 2008) Upaya Pencegahan Sasaran Populasi sehat Populasi resiko Kasus DM Kasus komplikasi DM Kegiatan pokok pengendalian DM Penggerakan peran Penggerakan Penggerakan Pelayanan dan Primer Sekunder sekunder Tertier

serta peran

serta peran

serta spesifik sub

masyarakat dalam PHBS

masyarakat

masyarakat

spesifik dan

dalam deteksi dalam deteksi efisien dan lanjut faktor DM tindak dan dari lanjut resiko kasus DM

tindak efektif pasien dini dengan komplikasi DM

Upaya Pencegahan

Primer

Sekunder

sekunder

Tertier

Sasaran

Populasi sehat

Populasi resiko

Kasus DM

Kasus komplikasi DM

Tujuan Manfaat

/ 1.Mencegah timbulnya resiko DM 2.Mawas terhadap resiko DM

1.Mencegah faktor terjadinya DM

1.Mencegah adanya komplikasi

Mencegah kematian akibat komplikasi

diri 2.Mawas diri DM faktor terhadap terjadinya DM

2.Mawas diri DM terhadap komplikasi DM

Koordinator Direktorat penanggung Jenderal jawab Pengendalian Penyakit Penyehatan Lingkungan

Direktorat Jenderal Pengendalian

Direktorat Jenderal Pelayanan

Direktorat Jenderal Pelayanan Medik

dan Penyakit dan Medik Penyehatan Lingkungan

Tugas Pokok Puskesmas dalam Penatalaksanaan penyakit DM di masyarakat berdasarkan Depkes RI (2008) yaitu : 1. Melaksanakan deteksi dini terhadap faktor resiko DM di masyarakat 2. Melaksanakan penemuan dan tatalaksana kasus penyakit DM di puskesmas 3. Melaksanakan rujukan pasien DM ke RS 4. Melaksanakan surveilans epidemiologi DM 5. Menyelenggarakan penyuluhan KIE pengendalian DM kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan sektor swasta maupun masyarakat melalui berbagai metode dan media penyuluhan 6. Memfasilitasi pembentukan, pembinaan dan pemantapan jejaring kerja / kelompok kerja di masyarakat dalam bidang DM secara kesinambungan

10

7. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan di bidang DM serta mengirimkan ke Kabupaten/Kota

2.Penatalaksanaan penyakit DM di masyarakat khususnya di puskesmas a. Pendahuluan Pengertian Puskesmas Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional, merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelyanan secra menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok (Hadi, 2004). Pelayanan dasar yang diberikan di puskesmas adalah pelaynan kesehatan menyelurh terpadu yang meliputi : Preventif (upaya pencegahan), Promotif (Peningkatan Kesehatan), Kuratif (Pengobatan), dan Rehabilitatif (Pemulihan Kesehatan) (hadi, 2004) Pelayanan dasar penanganan DM di puskesmas secara terpadu dilaksanakan berdasarkan Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas yang merupakan bagian dari kegiatan pokok puskesmas, khususnya untuk pelayanan kasus DM di puskesmas. Selain kegiatan pokok pengobatan dasar, ada juga kegiatan penunjang pemeriksaan laboratorium, kegiatan pokok penyuluhan kesehatan, usaha peningkatan gizi, pencatatan dan pelaporan (Hadi, 2004). b. Tujuan Diharapkan dapat dijadikan pedoman untuk pemahaman pelayanan dasar penanganan DM di puskesmas dan pemahaman prosedur terpadu. c. Penatalaksanaan DM di Masyarakat dimulai dari Puskesmas

11

Pelayanan yang dilakukan di puskesmas adalah pelayanan kesehatan primer (Level 1) yaitu pelayanan kesehata yang terjangkau, murah, mudah, praktis dan sesuai dengan standar upaya pengobatan di Puskesmas. Pelayanan kesehatan terutama terdiri dari pelayanan promotif, preventif, kuaratif dan rehabilitatif. Untuk kasus pasien DM diutamakan pelayanan untuk mencegah terjadinya DM pada pasien yang mempunyai resiko tinggi terhadap penyakit Dm seperti kegemukan, hipertensi, umur > 40 tahun, adanya faktor keturunan dan ibu hamil serta mencegah komplikasi. Agar tujuan upaya pelayanan pengobatan DM di puskesmas dicapai sebaikbaiknya ditempuh kegiatan seperti berikut : 1. Kegiatan dalam gedung a. Pendaftaran, pasien seperti biasanya datang baik sendiri atau bedasarkan rujukan dari masyarakat (kader, posyandu, lansia, dll), rujukan dari pusling, puskesmas kelurahan serta rujukan dari poli umum, poli kulit atau poli paru (pelayanan semi spesialis di puskesmas pembina).Pendaftaran dilakukan di loket kemudian pasien

mendapatkan buku status kesehatan keluarga (rekam medik). b. Pemeriksaan di poli gizi/DM dimulai dengan melakukan diagnosis sendiri, mungkin anamnesis (mendapatkan riwayat penyakit) yang dilanjutkan dengan pemeriksaan gula darah puasa dan sesudah makan, pada umumnya pasien DM mengeluh gatal yang tidak sembuhsembuh, kesemutan, gejala khas DM (poliuri, polidipsi, polifagia) c. Penatalaksanaan DM : Mendapatkan riwayat lengkap atas pasien dengan komunikasi tepat guna (pertanyaan terarah dan mendengarkan secara sungguhsungguh apa yang dikemukan pasien dengan waktu yang cukup) untuk menentukan berat ringannya keadaan dan mempelajari sosio ekonomi pasien. Pemeriksaan fisik secara sistematis, cermat, tertutup dan sendiri Pemeriksaan kasus gizi pasien menentukan kecukupa gizi yang diperlukan

12

Pemeriksaan laboratorium (disesuaikan dengan sarana yang ada di puskesmas)

Penatalaksanaan : bila hasil pemeriksaan kadar gula darah terlihat diatas rata-rata) dan urine menunjukkan hasil positif maka langkah pertama adalah memberikan Penyuluhan Kesehatan terutama masalah DM, komplikais yang dapt terjadi serta cara

penanggulangannya dan pengaturan makanan, latihan jasmani, serta pemberian OHO jika perlu, obat yang tersedia di apotik puskesmas yaitu OHO generik (Glibeklamid dan klopropamid), glurenorm. Pemeriksaan radiologi juga dapat dilaksanakan di puskesmas pembina, juga pemeriksaan EKG yang hasilnya dikonsultasikan pada dokter ahli penyakit dalam atau ahli jantung. d. Pelayanan Kesehatan Menyeluruh dan Terpadu (kerjasama lintas program) Bila telah didiagnosis DM,maka harus diukur status gizinya untuk mengetahui kebutuhan kalori dan pemberian obat antidiabetik oral yang sesuai, serta juga penyuluhan kesehatan mengenai DM dan komplikasinya serta penyuluhan mengenai gizi (antara lain contoh takaran makanan yang diperlukan, leaflet tentang makanan pengganti bila diperlukan) Bila pasien dengan diagnosis DM disertai dengan hipertensi, retinopati, kelainan jantung, ginjal, atau ulkus maka dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Juga untuk pasien yang gagal diterapi dengan OHO, pasien yang bertambah kurus serta pasien DM dengan kehamilan terlebih dahulu dirujuk ke rumah sakit untuk mengetahui tindakan lebih lanjut. Untuk pasien DM dengan komplikasi yang ada di wilayah kerja puskesmas akan dijadikan kelompok binaan pada kegiatan pokok perawatan kesehatan masyarakat di luar gedung yaitu khususnya bagi pasien yang tidak berobat secara teratur akan dikunjungi petugas lapangan (pelayanan kesehatan menyuluruh dan terpadu).

13

Hali ini untuk memberikan pengertian pada keluarga dan psien terutama untuk mencegah adanya komplikasi DM lebih lanjut. Pencatata dan pelaporan, setiap pasein yang datang berobat ke puskesmas dicatat pada laporan kunjungan , data kesakitan (LB1) dan laporan kegiatan dari PKM, gizi, dan puskesmas serta laboratorium, pemakaian obat (LB2) dan pemeriksaan penunjang lain, juga laporan khusus registrasi pasien DM untuk intern peskesmas. 2. Kegiatan luar gedung a. Pembinaan peran serta masyarakat Untuk memantau pasien DM yang ada di wilayah kerja puskesmas, maka diperlukan kerja sama dengan PKK, kader kesehatan, dan lintas sektor terkait untuk memberikan bimbingan dan motivasi pada masyarakat dalam hal menangani masalah kesehatannya, kemudian memberi petunjuk untuk menggalli dan memanfaatkan sumber dan potensi yang ada pada setempat untuk menolong mereka dalam menanggulangi masalah penanganan DM di masyarakat. dalam hal ini dapat berupa kegiatan promotif (perubahan perilaku gaya hidup masyarakat khususnya pola makanan dan kegiatan olahraga) dan kegiatan preventif (upaya pencegahan pada masyarakat yang berisiko terjadinya DM). b. Kerja sama lintas sektoral Masalah dan kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat tidak hanya dalam bidang kesehatan, dengan sendirinya dalam membina peran serta masyarakat diperlukan kerja sama lintas sektoral. Dengan demikian pasien DM yang datang berobat ke Puskesmas mendapatkan pelayanan kesehatan yang meliputi : 1. Penyuluhan kesehatan (meliputi) tentang penyakit DM, pengaturan makanan, dan latihan jasmani) 2. Upaya penetapan masalah (anamnesa, pemeriksaan fisik, OHO, apabila perlu disertai terapi yang lain)

14

3. Pemeriksaan rutin laboratorium (kadar gula darah dan urine lengkap, pemeriksaan tambahan untuk kolesterol, trigliserida dan HbA1c) 4. Latihan jasmani berupa senam bersama 1 kali / minggu dan senam kaki 5. Program Perawatan kaki yang benar 6. Pemeriksaan radiologi (Puskesmas Pembina) 7. Pemantauan melalui kunjungan lapangan (Perkesmas) 8. Pemeriksaan rujukan (mata, syaraf, kulit, paru, jantung, dan ginjal) 9. Pecatatan dan pelaporan Pada dasarnya pelayanan yang dilaksanakan di puskesmas adalah lebih banyak bersifat promotif, dan preventif yaitu pencegahan terjadinya komplikasi yang lebih berat, dan kegiatan promotif yang juga berguna untuk merubah pola hidup bersih dan sehat, serta dapat digunakan sebagai skrining pasien yang berisiko DM, yaitu dari pemeriksaan di poli maupun rujukan dari masyarakat (melalui pembinaan peran serta masyarakat dan kerja sama lintas sektoral) (Hadi, 2004) 2.8 Analisa Kasus Skenario Kasus: Di RT 3 RW 5 kelurahan Margo Rukun terdapat penduduk yang menderita diabetes melitus berjumlah 300 orang, 55 % wanita yaitu sebanyak 180 orang dan 45 % laki-laki sebanyak 120 orang. Dari jumlah penduduk yang menderita diabetes melitus tersebut sebanyak 150 orang (50 %) usia dewasa dan 30% usia lansia sebanyak 90 orang, serta 20% ibu hamil sebanyak 60 orang. Dari data tersebut diketahui Diabetes Melitus dengan tipe IDDM 25% sebanyak 75 orang, NIDDM 35% sebanyak 105 orang, dan DM dengan gangren 30% sebanyak 90 orang, serta DM gestasional sebanyak 30 orang (10 %). Dari penduduk yang menderita DM sangat sedikit sekali penderita DM yang rutin memeriksakan kadar gula darahnya. Asuhan keperawatan ini menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi : pengkajian status kesehatan masyarakat, perumusan diagnosa keperawatan, dan perencanaan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan melibatkan kader kesehatan, tokoh masyarakat dan pimpinan wilayah tersebut.

15

Pengkajian Pengkajian menggunakan pendekatan community as partner meliputi : data inti dan data sub sistem. a. Data Inti komunitas meliputi ; 1. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas

Lokasi
o o o o o o o o

: Propinsi daerah tingkat 1 : Jawa Timur Kabupaten/ kotamadya : Pacitan Kecamatan : Sumber Asri Kelurahan : Margorukun Rw : 05 Rt : 03 Luas wilayah : 5.220 m2 Batas wilayah/wilayah Utara : Jalan raya melati Selatan : RT 06 /RW 04 Barat : RT 07 Timur : RT 18/ RW 03 Keadaan tanah menurut pemanfaatannya Pemukiman : 4550 m2

2. Data demografi 1) 2) 3) 4)

Jumlah penderita hipertensi Jumlah penderita TB Paru Jumlah penderita asma Jumlah penderita DM Berdasarkan jenis kelamin

: 250 orang : 65 orang : 20 orang : 300 orang

Laki-laki : 120 orang (45 %) Perempuan : 180 orang (55 %) Berdasarkan kelompok penderita DM Anak-anak Remaja Dewasa Lansia Ibu hamil Berdasarkan agama Islam Kristen Hindu ::: 150 orang (50 %) : 90 orang (30 %) : 60 orang (20%)

: 20 orang (80%) : 30 orang (10%) : 15 orang (5%)


16

Budha : 15 orang (5%) Konghucu :Katolik : Berdasarakan suku bangsa Jawa : 210 orang (70%) Madura : 75 orang (25%) Sunda : 9 orang (3%) WNI keturunan : 6 orang (2%) Jumlah penderita DM gangren : 90 orang Status perkawinan Kawin Tidak kawin Duda Janda b.Data sub sistem 1.Data lingkungan fisik a)

: 195 orang (65%) : 60 orang (20%) : 30 orang (10%) : 15 orang (5%)

Sumber air dan air minum Penyediaan Air bersih o PAM o Sumur o Sungai Penyediaan Air Minum PAM Sumur Sungai Lain-lain/air mineral Pengelolan Air Masak Masak Tidak dimasak Pengelolan Air Minum Selalu dimasak Air mentah Saluran pembuangan air/sampah

: 180 orang (60%) : 120 orang (40%) :: 150 orang (50%) : 90 orang (30%) :: 60 orang (20%) : 300 orang (100%) :: 300 orang (100%) :-

b)

Kebiasaan membuang sampah o Diangkut petugas o Dibuang sembarangan Pembuangan Air Limbah Got/parit Sungai

: 30% : 70% : 100% :-

17

c)

Jamban Kepemilikan jamban o Memiliki jamban o Tidak memiliki jamban Macam jamban yang dimiliki Septitank Disungai Keadaan jamban Bersih Kotor Keadaan rumah

: 80% : 20% : 75% : 25% : 45% : 55%

d)

Tipe rumah o Tipe A/permanen o Tipe B/semipermanen o tipe C/tidak permanen Status Rumah Milik rumah sendiri Kontrak Lantai Rumah Tanah Papan Tegel/keramik Ventilasi Ada Tidak ada Luas Kamar Tidur Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat Penerangan Rumah oleh Matahari Baik Cukup Kurang

: 210 orang (70%) : 75 orang (25%) : 15 orang (5%) : 180 orang (60%) : 120 orang (40%) : 30 orang (10%) : 90 orang (30%) : 180 orang (60%) : 240 orang (80%) : 60 orang (20%) : 180 orang (60%) : 120 orang (40%) : 120 orang (40%) : 150 orang (50%) : 30 orang (10%)

2.Fasilitas umum dan kesehatan a) 1)


2)

Fasilitas umum Sarana kegiatan kelompok Karang taruna Pengajian Ceramah agama PKK Tempat perkumpulan umum Balai desa Dukuh RW

: 1 kelompok : 2 kelompok : 1 kelompok : 1 kali per bulan : ada (1 buah) : ada (1 buah) : ada (1 buah)

18

RT Masjid/Mushola

: ada (1 buah) : ada (2 buah)

b) 1)

2)

Fasilitas kesehatan Pemanfaatan fasilitas kesehatan Puskesmas : 150 orang (50%) Rumah sakit : 50 orang (16,6%) Para dokter swasta : 25 orang (8,3%) Praktek kesehatan lain : 75 orang (25%) Kebiasaan check up kesehatan Rutin tiap bulan : 90 orang (30%) Jarang : 210 orang (70%)

3.Ekonomi a)

b)

c)

d)

Karekteristik pekerjaan PNS/ABRI Pegawai swasta Wiraswasta Buruh tani/pabrik Penghasilan rata-rata perbulan < dari UMR UMR 1.000.000,00 > dari UMR Pengeluaran rata-rata perbulan < dari UMR UMR 1.000.000,00 > dari UMR Kepemilikan usaha Toko Warung makanan UKM Tidak punya

: 60 orang (20%) : 60 orang (20%) : 30 orang (10%) :150 orang (50%) : 150 orang (50%) : 90 orang (30%) : 60 orang (20%) : 165 orang (55%) : 105 orang (35%) : 30 orang (10%) : 30 orang (10%) : 15 orang (5%) : 9 orang (3%) : 246 orang (82%)

4.Keamanan dan transportasi a) 1)


2)

3)

Keamanan Diet makan Kebiasaan makan makanan manis Kebiasaan makan makanan berlemak Lain-lain Kepatuhan terhadap diet Patuh Kadang-kadang Tidak patuh Kebiasaan berolah raga Sering Kadang-kadang

: 70% ( 210 org ) : 20% ( 60 org ) : 10% ( 30 org ) : 25% ( 75 org ) : 30% ( 90 org ) : 45% ( 135 org ) : 15% ( 45 org ) : 40% ( 120 org )

19

4)

5)

Tidak pernah Kebiasaan sehari-hari Memakai alas kaki Setiap saat Saat di luar rumah Jarang memakai Kebiasaan mencuci kaki sebelum tidur Sering Kadang-kadang Tidak pernah Transportasi

: 45% ( 135 org )

: 60% ( 180 org ) : 30% ( 90 org ) : 10% ( 30 org ) : 10% ( 30 org ) : 15% ( 40 org ) : 75% ( 225 org )

b) 1) 2)

3)

Fasilitas transportasi : Jalan raya, angkutan umum, ambulan Alat transportasi yang dimiliki Sepeda : 90 orang (30%) Motor : 120 orang (40%) Mobil : 6 orang (2%) Lain-lain/ becak : 84 orang (28%) Penggunaan sarana transportasi oleh masyarakat Angkutan umum Kendaraan pribadi : 165 orang (55%) : 135 orang (45%)

5.Politik dan pemerintahan a) Struktur organisasi : ada Terdapat kepala desa dan perangkatnya Ada organisasi karang taruna b) Kelompok layanan kepada masyarakat (pkk, karang taruna, panti, posyandu) c) Kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan : ada yaitu puskesmas d) Kebijakan pemerintah khusus untuk penyakit DM : belum ada e) Peran serta partai dalam pelayanan kesehatan : belum ada 6.Sistem komunikasi a) Fasilitas komunikasi yang ada Radio : 225 orang (75 %) TV : 165 orang (55 %) Telepon/handphone : 120 orang (40 %) Majalah/koran : 135 orang (45%) b) Fasilitas komunikasi yang menunjang untuk kelompok DM Poster tentang diet DM : ada Pamflet tentang penanganan DM : ada Leaflet tentang penanganan DM : ada c) Kegiatan yang menunjang kegiatan DM : Penyuluhan oleh kader dari masyarakat dan oleh petugas kesehatan dari Puskesmas : ada tapi jarang

20

7.Pendidikan Distribusi pendudukan berdasarkan tingkat pendidikan formal SD : 135 orang (45%) SLTP : 90 orang (30%) SLTA : 60 orang (20%) Perguruan tinggi : 15 orang (5%) 8.Rekreasi Tempat wisata yang biasanya dikunjungi taman kota dan alun alun. Ada program setahun sekali diadakan program wisata bersama kader kesehatan RT 05 RW 03 Kelurahan Margo Rukun.

21

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan DM merupakan salah satu penyakit tidak menular yang setiap tahun jumlahnya penderitanya meningkat disebabkan karena faktor resiko terhadap angka kejadian DM terus meningkat. DM merupakan salah satu penyakit metabolik yang disebabkan karena terjadinya kerusakan kerusakan tubuh dalam mensekresikan insulin atau fungsi dari insulin yang berkurang atau disebabkan karena keduanya sehingga menghasilkan gejala klinis seperti polifagia,poliuri, dan polidipsi. Jumlah penderita DM di masyarakat yang terus meningkat dan sering kejadian penderita DM tidak terdiagnosis sehingga datang ke pelayanan kesehatan sudah mengalami berbagai komplikasi akibat DM. Maka dilakukan upaya penatalaksanaan DM yang dipusatkan di puskesmas sebagai unit pemberi pelayanan dasar. 3.2 Saran Untuk para pembaca makalah ini disarankan untuk membaca lebih lanjut lagi tentang asuhan keperawatan diabetes melitus di komunitas.

22

DAFTAR PUSTAKA WHO. 2011. Noncommunicable disease report chapter 1 : Burden: mortality, morbidity and risk factors. Diunduh dari

http://www.who.int/nmh/publications/ncd_report_chapter1.pdf pada 23 Oktober 2012 WHO. 2008. Noncommunicable mortality. Diunduh dari http://

apps.who.int/gho/data/?vid=2490 pada 23 oktober 2012 WHO. 2008. Cardiovascular and diabetes mortality. Diunduh dari http:// apps.who.int/gho/data/# pada 23 oktober 2012 WHO. 2012. Prevalence of diabetes worldwide diunduh dari http://www.who.int/diabetes/facts/world_figures/en/index.html pada 24 Oktober 2012 WHO. 2012. Prevalence of diabetes in the WHO South-East Asia Region diunduh dari http://www.who.int/diabetes/facts/world_figures/en/index5.html pada 24 Oktober 2012 Depkes RI. 2008. Laporan Nasional Riset Dasar Kesehatan 2007 Sihombing, Bistok . 2008. Prevalensi Penyakit Periper Pada Populasi Penyakit Diabetes Melitus di Puskesmas Kota Medan. Medan : Usu Repository pada 23 oktober 2012 Soegondo, sidartawan. 2004. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus Terkini dalam Penatalaksanaan diabetes melitus. Jakarta : Balai Penerbit FKUI Suyono,slamet. 2009. Diabetes Melitus di Indonesia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakt Dalam. Jakarta Pusat : Internal Publishing Depkes RI,2008. Pedoman Pengendalian Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik. Diunduh dari
http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/bitstream/123456789/1359/1/BK2008Sep13.pdf pada 23 Oktober 2012

Smeltzer & Bare. 2008. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & suddart. Jakarta : EGC Utaminingsih, Wahyu Rahayu. 2009. Mengenal Penyakit Diabetes, Hipertensi, Jantung Dan Stroke Untuk Hidup Lebih Berkualitas. Yogyakarta : Media Ilmu

Price & Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 2. Jakarta : EGC Hadi, Zulhaini. 2004. Pelayanan Dasar Penanganan Diabetes Melitus di Puskesmas dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Jakarta : Balai Pustaka UI Waspaji, sarwono. 2004. Diabetes Melitus : Mekanisme Dasar Dan Pengelolaannya Yang Rasional Dalam Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta : Balai Pustaka UI Yusra, aini. 2010. Hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di Polikinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta . diunduh dari
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&frm=1&source=web&cd=2&ved=0 CCMQFjAB&url=http%3A%2F%2Flontar.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F20280162T%2520Aini%2520Yusra.pdf&ei=HdSdUPqWHovQrQfox4GYBg&usg=AFQjCNHNWzNyCw vQMCu8ja5BlZuEGwxeSQ&sig2=NQYPl1D4Ns-1mV5lL70n1g pada 10 November 2012