Anda di halaman 1dari 15

Nuciana Siti Andrianti 1102011197

LI. 1 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI FEMUR DAN KOKSAE LO. 1.1 ANATOMI MAKROSKOPIK LO.1.2 KINESIOLOGI LI.2 MEMAHAMI DAN MEJELASKAN FRAKTUR LO.2.1 DEFINISI LO.2.2 KLASIFIKASI LO.2.3 ETIOLOGI LI. 3 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FRAKTUR KOLUM FEMORIS LO.3.1 DEFINISI LO.3.2 ETIOLOGI LO.3.3 KLASIFIKASI LO.3.4 PATOFISIOLOGI LO.3.5 MANIFESTASI LO.3.6 PEMERIKSAAN LO.3.7 TATALAKSANA LO.3.8 KOMPLIKASI LO.3.9 PROGNOSIS

LI. 1 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI FEMUR DAN KOKSAE

LO. 1.1 ANATOMI MAKROSKOPIK

LO.1.2 KINESIOLOGI (hal 51 buku dok.syam)

LI.2 MEMAHAMI DAN MEJELASKAN FRAKTUR LO.2.1 DEFINISI

Fraktur adalah putusnya hubungan suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan (E. Oerswari, 1989 : 144). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000 : 347). Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat, 1999 : 1138). Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bias terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok (FKUI, 1995:543).
LO.2.2 KLASIFIKASI

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan keseluruh ketebalan tulang. Sudut patah Fraktur transversal adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Pada fraktur semacam ini, segmen segmen itu akan stabil, dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips. Fraktur oblik adalah fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki. Fraktur spiral timbul akibat torsi pada ekstremitas. Yang menarik adalah bahwa jenis fraktur rendah energy ini hanya menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak, dan fraktur semacam ini cenderung cepat sembuh dengan imobilisasi luar. Fraktur Multipel pada Satu Tulang. Fraktur segmental adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang yang menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darahnya. Fraktur semacam ini sulit ditangani. Biasanya satu ujung yang tidak memiliki pembuluh darah menjadi sulit untuk menyembuh, dan keadaan ini mungkin memerlukan pengobatan secarah bedah.

Fraktur kominuta adalah serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan dengan lebih dari dua frakmen tulang. Fraktur Impaksi Fraktur kompresi terjadi ketika dua tulang menumbuk (akibat tubrukan) tulang ke tiga yang berada diantaranya, seperti satu vertebra dengan dua vertebra lainnya. Fraktur pada korpus vertebra ini dapat didiagnosis dengan radiogram. Pandangan lateral dari tulang punggung menunjukkan pengurangan tinggi vertical dan sedikit membentuk sudut pada satu atau beberapa vertebra. Pada orang muda, fraktur kompresi dapat disertai perdarahan retroperitoneal yang cukup berat. Seperti pada fraktur pelvis, pasien dapat secara cepat menjadi syok hipovolemik dan meninggal jika tidak dilakukan pemeriksaan denyut nadi, tekanan darah dan pernafasan secara akurat dan berulang dalam 24 sampai 48 jam pertama setelah cedera. Ileus dan retensio urine dapat juga terjadi cedera ini. Fraktur Patologik Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainnya. Tulang sering kali menunjukkan penurunan densitas. Penyebab yang paling sering dari frakutr-fraktur semacam ini adalah tumor primer atau tumor metastasis. Fraktur Beban (kelelahan) lainnya Fraktur beban atau fraktur kelelahan terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru diterima untuk berlatih dalam angkatan bersenjata atau orang-orang yang baru saja memulai latihan lari. Pada saat awitan gejala timbul, radiogram mungkin tidak menunjukkan adanya fraktur. Tetapi, biasanya setelah 2 minggu, timbul garisgaris radiopak linear tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Fraktur semacam ini akan sembuh dengan baik jika tulang diimobilisasi selama beberapa minggu. Tetapi, jika tidak terdiagnosis, tulang-tulang itu dapat bergeser dari tempat asalnya dan tidak menyembuh dengan seharusnya. Jadi, setiap pasien yang mengalami nyeri berat setelah peningkatan aktivitas kerja tubuh, mungkin mengalami fraktur dan seharusnya diproteksi dengan memakai tongkat, atau bidai gips yang tepat. Setelah dua minggu dilakukan pemeriksaan radiografi.

Fraktur Greenstick Fraktur greenstick adalah factor tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. Korteks tulangnya sebagian masih utuh, demikian juga periosteum. Fraktur-fraktur ini akan segera sembuh dan segera mengalami remodeling ke bentuk dan fungsi normal. Fraktur Avulsi Fraktur avulsi memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tenon ataupun ligamen. Biasanya tidak ada pengobatan yang spesifik yang diperlukan. Namun, bila diduga akan terjadi ketiakstabilan sendi atau hal-hal lain yang menyebabkan kecatatan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk membuang atau meletakkan kembali fragmen tulang tersebut pada banyak kasus. Fraktur Sendi Catatan khusus harus dibuat untuk fraktur yang melibatkan sendi, terutama apabila geometri sendi terganggu secara bermakna. Jika tidak ditangani secara tepat, cedera semacam ini akan menyebabkan osteoarthritis pasca trauma yang progresif pada sendi yang cedera tersebut. DESKRIPSI FRAKTUR Terbuka terhadap Lingkungan Tertutup (simple) dan terbuka (gabungan) adalah istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan fraktur. Fraktur tertutup atau simple adalah fraktur dengan kulit yang tida3k ditembus oleh fragmen tulang, sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan. Secara teknik, fraktur terbuka atau gabungan adalah fraktur dengan kulit ektremitas yang terlibat telah ditembus. Konsep penting yang perlu diperhatikan adalah apakah terjadi kontminasi oleh lingkungan pada tempat terjadinya fraktur tersebut. Frakmen fraktur dapat menembus kulit pada saat terjadinya cedera, terkontaminasi, kemudian kembali hampir pada posisi semula. Pada keadaan seperti ini maka operasi untuk irigasi, debdrimen, dan pemberian antibiotika secara intervena mungkin diperlukan untuk mencegah terjadinya osteomyelitis. Pada umumnya, operasi irigasi dan debriment pada fraktur terbuka harus dilakukan dalam waktu 6 jam setelah terjadinya cedera untuk mengurangi kemungkinan infeksi.

LO.2.3 ETIOLOGI

Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu : 1) Cedera Traumatik a. Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit di atasnya. b. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. c. Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. 2) Fraktur Patologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur. dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut : a. Tumor Tulang ( Jinak atau Ganas ) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif. b. Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri. c. Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. 3) Secara Spontan Disesbabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.
LI. 3 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FRAKTUR KOLUM FEMORIS LO.3.1 DEFINISI Fraktur kolum femur adalah fraktur yang terjadi pada daerah leher tulang femur. Fraktur = patah tulang, kolum = leher , femur = paha. LO.3.2 ETIOLOGI Pada umumnya, cedera ini terjadi dalam 2 populasi yang berbeda, 1. muda, individual yang aktif dengan aktivitas yang rutin seperti contohnya pelari atau athelet. Fraktur leher femur pada pasien usia muda biasanya disebabkan oleh trauma karena energy yang besar. Fraktur ini sering dihubungkan dengan cedera multipel dan nekrosis avaskular dan non union.

2.

individu yang berumur tua dengan osteoporosis. Individu yang berumur tua juga rentan terjadi stress fraktur leher femur, meskipun fraktur pinggul lebih sering terjadi. Hasil dari cedera bergantung pada (1) luasnya cedera (missal jumlah patahan atau jumlah dislokasi, kemudian terganggunya sirkulasi), (2) adekuatnya reduksi, dan (3) adekuatnya fiksasi. Penentuan komplikasi kecacatan pada fraktur leher femur memerlukan perhatian yang cermat untuk penanganannya. Fraktur kolum femur termasuk fraktur intrakapsular yang terjadi pada bagian proksimalfemur, yang termasuk kolum femur adalah mulai dari bagian distal permukaan kaput femorissampai dengan bagian proksimal dari intertrokanter. Fraktur kolum femur dapat disebabkanoleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerahtrochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan olehtrauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah.

LO.3.3 KLASIFIKASI A. Klasifikasi fraktur kolum femur menurut Gardens adalah sebagai berikut : Grade I : Fraktur inkomplit ( abduksi dan terimpaksi) Grade II : Fraktur lengkap tanpa pergeseranc. Grade III : Fraktur lengkap dengan pergeseran sebagian (varus malaligment) Grade IV : Fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian segmen yang bersinggungan.

B. Klasifikasi Pauwels untuk fraktur kolum femur juga sering digunakan. Klasifikasi ini berdasarkan atas sudut yang dibentuk oleh garis fraktur dan bidang horizontal pada posisi tegak. Tipe I : garis fraktur membentuk sudut 30 dengan bidang horizontal pada posisi tegak. Tipe II : garis fraktur membentuk sudut 30-50 dengan bidang horizontal pada posisitegak. Tipe III: garis fraktur membentuk sudut >50 dengan bidang horizontal pada posisitegak.

LO.3.4 PATOFISIOLOGI Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma gangguan adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan metabolic, patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik yang terbuka ataupun tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan pendarahan, maka volume darah menurun. COP menurun maka terjadi peubahan perfusi jaringan. Hematoma akan mengeksudasi plasma dan poliferasi menjadi edem lokal maka penumpukan di dalam tubuh. Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat menimbulkan ganggguan rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai tulang dan dapat terjadi revral vaskuler yang menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggau. Disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi dan kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit. Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma gangguan metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri. Selaian itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggu, disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar. Pada umumnya pada

pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan dilakukan immobilitas yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada tempatnya sampai sembuh. (Sylvia, 1995 : 1183) Fraktur intrakapsuler ini (collum femur) dapat disebabkan oleh trauma langsung (direct) dan trauma tidak langsung (indirect). Pada trauma langsung biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trokanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan). Sedangkan pada trauma tidak langsung disebabkan karena gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Karena kepala femur terikat kuat dengan ligament di dalam asetabulum oleh ligament iliofemoral dan kapsul sendi, mengakibatkan fraktur di daerah kolum femur. Pada dewasa muda apabila terjadi fraktur intrakapsuler (collum femur) berarti traumanya cukup hebat. Sedangkan pada fraktur kolum femur ini kebanyakan terjadi pada wanita usia tua (60 tahun ke atas) dimana tulangnya sudah mengalami osteoporotik. Trauma yang dialami oleh wanita tua ini biasanya ringan (jatuh kepeleset di kamar mandi).(2,6) Beberapa teori telah dikembangkan untuk menjelaskan mekanisme stres patah tulang leher femur dan biomekanik dari pinggul. Nordin dan Frankel menggambarkan biomekanik dari pinggul. Beban pada leher femoralis bisa melebihi 3-5 kali berat badan ketika seseorang sedang berjalan. Gravitasi bekerja pada pusat massa tubuh, yang menghasilkan torsi pada aspek medial sendi pinggul. Torsi ini diimbangi oleh kontraksi gluteus medius dan minor. Beban total pada kepala femur adalah jumlah pasukan menghasilkan kekuatan-kekuatan 2 torsi. Kemudian, kekuatan-kekuatan di kepala femur disebarkan melalui leher femoralis ke poros, yang membuat sejumlah besar stres pada leher femoralis sebagai akibat dari kompresi dan kelenturan. Ketegangan minimal atau kompresi terjadi pada aspek superior leher femur selama sikap berdiri dengan kaki satu normal. Ketika ketegangan meningkat, aspek inferior dari leher femoralis mengambil alih beban redaman kekuatan kompresi. Bila pasien membungkuk ke depan, stres diinduksi pada aspek superior kepala femoralis, namun traksi berlawanan dari otot abduktor juga terjadi. Oleh karena itu, jika otot gluteus medius lelah, tekanan ditempatkan sepenuhnya pada aspek superior dari leher femur. Tekanan ini dapat mempengaruhi pasien terhadap terjadinya stress fraktur leher femur. Jika otot abduktor kelelahan dan tidak mampu memberikan ketegangan normal, tegangan tarikan di leher femoralis meningkat. Kelelahan otot telah terlibat sebagai faktor yang berkontribusi dalam berkembangnya stres fraktur. Ketidakseimbangan otot menyebabkan perubahan dalam penerapan stres di leher femoralis yang dapat melebihi kemampuan tulang untuk merespon stres. Kelelahan otot sekunder akibat aktivitas berulang dapat mengurangi kapasitasnya dalam menyerap goncangan sehingga tegangan mencapai puncak yang lebih tinggi terjadi di leher femoralis. Hal ini dapat mengakibatkan kelainan gaya berjalan, yang, pada gilirannya, dapat mengubah pusat gravitasi tubuh dan perubahan pola stres ditempatkan pada leher femoralis. Pada tahun 1960, Frankel mengusulkan bahwa patah tulang leher femur terjadi pada rasio beban aksial lebih tinggi dibandingkan dengan beban lentur. Berubahnya keseimbangan otot juga dapat meningkatkan risiko patah tulang pinggul. Teori lain adalah bahwa jatuh mengenai pinggul dengan pukulan langsung ke trokanter lebih besar dapat menghasilkan gaya aksial sepanjang leher, membuat fraktur impaksi. Kombinasi gaya aksial dan rotasi juga telah diusulkan sebagai mekanisme terjadinya fraktur stress leher femur. Sindrom malalignment menggabungkan anteversion leher femur, genu valgum, meningkatnya

Q-angle, tibia vera, dan kompensasi pronasi kaki yang tidak memungkinkan individu untuk mengkompensasi secara berlebihan. Panjang kaki yang tidak sesuai juga dapat mempengaruhi individu untuk terjadi cedera karena adanya distribusi yang tidak merata pada stres dan ketegangan di persendian panggul) LO.3.5 MANIFESTASI 1. Deformitas Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : a. Rotasi pemendekan tulang. b. Penekanan tulang. 2. Bengkak : Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur. 3. Echimosis dari perdarahan Subculaneous. 4. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur. 5. Tenderness / keempukan. 6. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur didaerah yang berdekatan. 7. Kehilangan sensasi ( mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya syaraf/perdarahan ). 8. Pergerakan abnormal. 9. Dari hilangnya darah. 10. Krepitasi (Black, 1993: 199). LO.3.6 PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik Inspeksi: pemeriksaan dimulai dengan observasi pasien selama evaluasi. Pasien dengan patah tulang leher femur biasanya tidak dapat berdiri. Perhatikan krista iliaka untuk setiap perbedaan ketinggian, yang mungkin menunjukkan perbedaan panjang kaki-fungsional. Alignment dan panjang ekstremitas biasanya normal, Menilai setiap atrofi otot atau asimetri juga penting. Palpasi: Tentukan tumpuan di daerah pangkal paha anterior dan pinggul. Keadaan fisik yang paling umum dari fraktur stres adalah nyeri tulang lokal, namun leher femur relatif dalam dan nyeri tulang atau kelembutan mungkin tidak ada.

Meraba trokanter untuk setiap kelembutan yang mungkin mengindikasikan radang kandung lendir trochanterica. Rentang gerak: Tentukan rentang gerak untuk fleksi panggul, ekstensi, abduksi, adduksi, dan rotasi internal dan eksternal dan untuk lengkungan lutut dan ekstensi. Temuan termasuk rasa sakit dan pembatasan pada akhir rentang gerak pasif pada pinggul. Melakukan pelururus-kaki pasif, Thomas, dan uji regangan rektus femoris. Periksa band iliotibial dengan melakukan Ober tes untuk berbagai gerakan pinggul, menilai sendi tulang belakang dan ekstremitas bawah, Periksa kembali baik secara aktif dan pasif, melihat fleksi ke depan, kelenturan samping, dan ekstensi. Melakukan uji pelurusan-kaki dan tes Lasegue dan tanda-tanda Bragard. Seorang pasien dengan paha anterior dan nyeri lutut sebenarnya mungkin memiliki patologi pada sendi pinggul. Pasien dengan nyeri reproduksi dengan rotasi pinggul internal, rotasi eksternal, atau manuver provokatif lainnya lebih lanjut dapat membedakan patologi pinggul dari keterlibatan tulang belakang. Kekuatan otot: tes otot secara manual penting untuk menentukan apakah ada kelemahan dan apakah distribusi kelemahan sesuai dengan setiap cedera saraf. Selain itu, mengevaluasi stabilisator dinamis panggul, termasuk fleksor panggul, ekstensor, dan abduktornya. Trendelenburg adalah indikasi kelemahan abductor panggul. Uji fleksi panggul (L2, L3), ekstensi (L5, S1, S2), abduksi (L4, L5, S1), dan adduksi (L3, L4). Pemeriksaan sensorik: Setelah pemeriksaan sensoris, penurunan dermatomal atau hilangnya sensasi dapat menunjukkan atau mengecualikan kerusakan saraf tertentu. refleks peregangan otot sangat membantu dalam evaluasi pasien datang dengan nyeri pinggang. refleks abnormal dapat menunjukkan kelainan akar saraf. Asimetri refleks yang paling signifikan, sehingga refleks pasien harus dibandingkan dengan sisi kontralateral. Uji Hop: Sekitar 70% dari pasien dengan stres fraktur tulang femur, uji hop menunjukkan hasil tes positif. Uji hop yaitu menyuruh pasien melompat-lompat untuk memancing timbulnya gejala.

Gambar : beberapa pemeriksaan fisik untuk panggul

Gambar : Thomas sign

Pemeriksaan Penunjang :
Plain radiografi Radiografi polos sebagai langkah awal dalam hasil pemeriksaan patah tulang panggul. Tujuan utama film x-ray adalah untuk menyingkirkan setiap patah tulang yang jelas dan untuk menentukan lokasi dan luasnya fraktur. Radiografi dapat menunjukkan garis fraktur pada aspek superior dari leher femur, yang merupakan lokasi ketegangan patah tulang. Bone scanning Bone scan dapat membantu ketika patah stres, tumor, atau infeksi. Bone scan adalah indikator yang paling sensitif dari stres tulang, tetapi mereka memiliki kekhususan. MRI MRI telah terbukti akurat dalam penilaian okultisme patah tulang dan dapat diandalkan apabila dilakukan dalam waktu 24 jam dari cedera, namun mahal. Dengan MRI, fraktur stres biasanya muncul sebagai garis patahan pada korteks dikelilingi oleh zona intens edema di rongga medula. Dalam sebuah studi oleh Quinn dan McCarthy, T1-tertimbang MRI temuan yang ditemukan menjadi 100% sensitive. MRI menunjukkan bahwa temuan yang 100% sensitif, spesifik, dan akurat dalam mengidentifikasi fraktur leher femur.

LO.3.7 PENATALAKSANAN TERAPI: Perawatan fraktur leher femur tergantung pada usia pasien. Pada anak-anak di bawah usia 16 tahun dengan fraktur undisplaced dan berdampak patah tulang dapat ditangani dengan gips atau traksi. Untuk mendeteksi dislokasi, pemeriksaan Roentgen sangat penting pada setiap minggu selama satu bulan. Jika fraktur terdapat dislokasi maka harus tetap dilakukan pembedahan dengan pin atau sekrup. Antara umur16 sampai 60 tahun (orang yang aktif dengan deposit tulang baik) dengan patah leher femur baik yang tidak ada dislokasi dan ada dislokasi tetap dilakukan fiksasi dengan sekrup pinggul dinamis (Kompresi platewith plat) atau beberapa sekrup. Gambar : Dynamic hip screw Fraktur impaksi dapat dirawat dengan istirahat dan traksi untuk beberapa minggu diikuti dengan latihan yang lembut. Jika bagian fraktur terpisah maka operasi dilakukan. Di luar usia 60 tahun (orang yang kuang aktif atau dengan deposit tulang yang sedikit) semua patah leher femur undisplaced dan dislokasi dilakukan perawatan dengan pemindahan kepala femoralis dan penggantian dengan prostesis (ujung atas femur tulang buatan) seperti Austin Moore atau bipolar. Fraktur impaksi dirawat sama dengan sebelumnya. Gambar : Prosthesis Austin Moore Berikut foto sinar x menunjukkan fraktur leher femur pada anak laki-laki berusia 13 tahun. Foto pertama diambil 20 hari setelah fraktur. Anda dapat melihat rekahan dislokasi. Foto selanjutnya diambil 1 hari setelah pembedahan memperbaiki fraktur dengan sekrup. Foto yang paling bawah menunjukkan fraktur bersatu setelah 2 bulan.

Gambar : pemasangan sekrup pada fraktur leher femur dan Penyatuan fraktur. Berikut foto seorang pasien laki-laki berusia 35 tahun yang datang berobat 1 bulan setelah mempertahankan fraktur leher femur dislokasi. Foto pertama menunjukkan fraktur. Dia berhasil dioperasi dengan osteotomy valgus (berbentuk baji memotong tulang) dan fiksasi dari fraktur dengan plat samping dan sekrup. Foto kedua diambil 2 bulan setelahnya. Sekarang memungkinkan pasien untuk berjalan dengan bantalan berat parsial pada ekstremitas. Foto ketiga diambil lima bulan setelah operasi. Sekarang fraktur telah bersatu.

Gambar: Fraktur dan 2 bulan setelah pemasangan sekrup dan Lima bulan setelah pemasangan sekrup

LO.3.8 KOMPLIKASI Non-Union Kegagalan bersatunya fraktur ini terjadi karena fiksasi internal yang tidak sempurna. Bila ini terjadi, pasien mengeluh sakit dan ketidakstabilan dalam berjalan. Pada kondisi ini maka dilakukan osteotomy intertrochanteric (McMurray) pada kelompok usia muda dan penggantian arthroplasty pada orang

tua. Pada pasien yang sangat tua dengan kondisi umum yang buruk, hanya memungkinkan dilakukan perawatan untuk menjaga tumpuan kaki pasien. Terdapat banyak penyebab : buruknya pasokan darah, tidak sempurnanya reduksi, tidak mencukupinya fiksasi, dan lambatnya penyembuhan yang merupakan tanda khas untuk fraktur intra-artikular. AvascularNekrosis Nekrosis Avascular kepala femur adalah komplikasi yang tak terduga setelah dilakukan semua jenis fiksasi internal. Pasien mengeluhkan rasa sakit di pinggul dan pincang. Ada pembatasan semua gerakan dari pinggul dengan kejang otot. Pada radiografi tampak densitas meningkat di kepala femur. Perawatan pada tahap awal adalah dengan beristirahat, traksi. Ketika diindikasikan, osteotomy atau arthroplasty dapat dilakukan. Osteoarthritis Nekrosis avaskular atau kolapnya kaput femoris dapat mengakibatkan osteoarthritis sekunder setelah beberapa tahun. Kalau terdapat banyak kehilangan gerakan sendi dan kerusakan meluas ke permukaan sendi, diperlukan penggantian sendi total. LO.3.9 PROGNOSIS Tergantung pada sifat fraktur, atlet mungkin atau mungkin tidak kembali ke premorbid berfungsi. Sebuah fraktur stres dari leher femoralis dapat mengakhiri karir atlet meskipun dirawat dengan benar. Diagnosis dini dan pengobatan dapat mencegah dislokasi fraktur dan dengan demikian meningkatkan prognosis. ..

dapus : http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/109/jtptunimus-gdl-ranumhapsa-5402-2-babii.pdf dan http://bedahmataram.org/index.php?option=com_content&view=article&id=93:fraktur-leher-atau-kolum-femur&catid=39:refrat-ortopedi&Itemid=79 dan ,http://www.scribd.com/doc/97648474/77/Fraktur-Kolum-Femur dan ,http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/05/fraktur_femur_files_of_drsmed_fkur.pdf dan http://www.scribd.com/doc/85117490/KLASIFIKASI-FRAKTUR

Anda mungkin juga menyukai