Anda di halaman 1dari 12

I.

PENDAHULUAN

Ekosistem air yang terdapat di daratan (inland water) secara umum dapat dibedakan menjadi 2 yaitu perairan lotik (lotic water) yang berarti perairan yang berarus deras dan perairan lentik (lentic water) yang berarti perairan menggenang. Perbedaan utama antara perairan lotik dan lentik adalah dalam kecepatan arus air. Perairan lentik mempunyai kecepatan arus yang lambat (0,001-0,01 m/s) serta terjadi akumulasi massa air yang berlangsung dengan cepat (Barus, 2004). Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat dengan cara membendung aliran sungai sehingga aliran air sungai menjadi terhalang (Bisowarno, 1984). Pembendungan sungai menyebabkan adanya zonazona yang secara longitudinal meliputi zona mengalir (riverine), zona transisi, dan zona tergenang (lakustrin). Tiap zona menghasilkan dinamika sifat fisik, kimiawi, dan biologi waduk yang spesifik (Wetzel, 2001). Jubaedah (2006) menambahkan bahwa, perubahan sistem tergenang tersebut diduga menyebabkan perubahan komposisi jenis dan populasi ikan. Anwar et al., (1984) juga menyatakan bahwa komposisi dan distribusi ikan sangat dipengaruhi oleh perubahan fisik, kimiawi, dan biologi perairan tersebut. Hal tersebut juga diperkuat oleh Tejerina et al., (2005) bahwa, kualitas air maupun struktur habitat akan mempengaruhi komposisi jenis ikan. Menurut Soeriatmadja (1981), komposisi ikan dapat ditunjukan dengan banyaknya jenis-jenis penyusun populasi yang disertai dengan jumlah individu perliter air. Komposisi dan kelimpahan organisme penyusun suatu populasi menunjukkan struktur komunitas organisme tersebut dalam suatu tempat tertentu. Komposisi suatu komunitas adalah suatu keadaan kualitatif dan kuantitatif 1

komunitas pada suatu ekosistem. Secara kualitatif meliputi jenis, sedangkan secara kuantitatif meliputi panjang, berat, dan jumlah. Waduk berbeda secara jelas dengan ekosistem danau alami. Waduk memiliki morfologi yang kurang stabil dibandingkan dengan danau karena mendapatkan pengaruh dari daerah tangkapan air disekitarnya. Namun kebanyakan danau dan waduk memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai tempat penampung air (Wetzel, 2001). Ghufran et al., (2007) menyebutkan bahwa, pada umumnya waduk dibangun untuk beberapa kebutuhan misalnya untuk irigasi, penyedia energi listrik melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA), penyedia air minum, pengendali banjir, rekreasi, perikanan, dan transportasi. Waduk Panglima Besar Soedirman (PB Soedirman) yang terletak di Kecamatan Wanadadi dan Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, merupakan waduk yang berfungsi sebagai PLTA, pengendali banjir, irigasi, perikanan, transportasi, pariwisata, dan rumah tangga (Wibowo, 2004). Pemanfaatan waduk di berbagai sektor dan berbagai aktivitas manusia di sekitar waduk akan memberikan dampak negatif terhadap ekosistem waduk tersebut, Waduk PB Soedirman akan mengalami perubahan-perubahan ekologis sehingga kondisinya sudah berbeda dengan kondisi alami yang semula (Barus, 2004). Pemanfaatan air Waduk PB Soedirman yang sangat beragam di satu sisi membutuhkan kualitas air waduk yang baik serta memenuhi persyaratan tertentu. Sebaliknya pemanfaatan waduk bagi berbagai aktivitas masyarakat tersebut juga memberikan imbas terhadap penurunan kualitas airnya. Dalam upaya

mempertahankan umur fungsi waduk, diperlukan informasi penting mengenai sistem perairan waduk sebagai petunjuk untuk penyusunan kebijakan dan

pengelolaan. Salah satu aspek informasi mengenai sistem perairan tersebut adalah informasi kondisi kualitas airnya. Perairan ekosistem terbuka seperti waduk umumnya dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya (Jubaedah, 2006). Waduk menerima masukan air secara terus menerus dari sungai yang mengalirinya, sehingga perairan waduk cenderung menerima bahan-bahan organik dan anorganik yang terangkut bersamaan dengan air yang masuk. Konsentrasi zat-zat yang terdapat di waduk merupakan resultan dari zat-zat yang berasal dari aliran air yang masuk (Payne, 1986). Oleh karena itu, kualitas perairan waduk sangat tergantung pada kualitas air sungai yang mengalirinya. Keberadaan bahan-bahan organik dalam perairan tersebut dapat menyebabkan penurunan kualitas perairan waduk, sehingga tidak sesuai lagi dengan jenis peruntukannya sebagai sumber air baku air minum, pariwisata, habitat ikan dan sebagainya (Khosla et al., 1995). Sumber air utama Waduk PB Soedirman berasal dari Sungai Serayu yang mendapat masukan dari daerah aliran sungai (DAS) yang masuk ke Sungai Serayu, yaitu Sungai Lumajang dan Sungai Kandangwangi (Wibowo, 2004). Tata guna lahan di DAS Serayu yang mengalir dari Dataran Tinggi Dieng Kabupaten Wonosobo sampai ke Waduk PB Soedirman berupa areal pertanian, perkebuan, dan pemukiman penduduk yang dimungkinkan membawa banyak bahan organik dan anorganik yang berasal dari aktivitas di areal tersebut. Selain itu, bahan organik juga berasal dari aktivitas perikanan dalam keramba jaring apung (KJA), aktivitas masyarakat disekitar waduk, keberadaan vegetasi di tepi waduk, dan gulma perairan di dalam waduk juga ikut memberikan kontribusi terhadap peningkatan bahan organik di perairan waduk tersebut.

Penurunan kualitas lingkungan perairan dapat diidentifikasi dari perubahan parameter fisik, kimiawi, dan biologi perairan. Perubahan parameter fisik, kimiawi tersebut menyebabkan menurunnya kualitas perairan waduk. Parameter fisik merupakan parameter yang dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu melalui visual, penciuman, peraba dan perasa. Sedangkan parameter kimiawi didefinisikan sebagai sekumpulan bahan/zat kimia yang keberadaannya dalam air mempengaruhi kualitas air. Selanjutnya secara keseluruhan parameter biologi mampu memberikan indikasi apakah kualitas air pada suatu perairan masih baik atau sudah kurang baik, hal ini dinyatakan dalam jumlah dan jenis biota perairan yang masih dapat hidup dalam perairan (Effendi, 2003). Parameter fisik perairan antara lain ditentukan oleh suhu, kecepatan arus, kekeruhan, warna, bau, dan rasa. Parameter kimiawi perairan seperti oksigen terlarut, karbondioksida bebas, pH, dan BOD. Aspek biologi adalah jasad-jasad perairan seperti plankton, benthos, dan organisme lainnya (Odum, 1994). Penetrasi cahaya merupakan bentuk pencerminan daya tembus intensitas cahaya matahari ke dalam perairan. Bahan yang melayang akan mempengaruhi penetrasi cahaya matahari yang masuk dalam perairan sehingga akan membatasi fotosintesis dan berpengaruh terhadap produktivitas primer perairan

(Welch, 1952). Cahaya matahari merupakan sumber energi utama dalam ekosistem perairan (Effendi, 2003). Menurut Harper (1992), penetrasi cahaya disamping mengakibatkan peningkatan suhu, penetrasi cahaya juga merupakan sumber energi bagi fitoplankton untuk mengubah CO2 menjadi C6H12O6 dengan menghasilkan O2.

Suhu air merupakan faktor penting dalam lingkungan perairan. Suhu dapat mempengaruhi kehidupan bioata akuatik. Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan kenaikan aktivitas fisiologis organisme dan menyebabkan kelarutan oksigen menjadi berkurang (Asdak, 1995). Hal ini menyebabkan organisme air akan mengalami kesulitan untuk melakukan respirasi (Barus, 2002). Menurut Pescod (1973), untuk mendukung kehidupan organisme dibutuhkan kondisi yang dapat ditoleransi, karena setiap organisme memiliki kisaran suhu yang berbeda-beda dalam kehidupanya. Odum (1994)

menambahkan, organisme akuatik seringkali mempunyai toleransi yang sempit terhadap perubahan suhu. Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua organisme untuk respirasi, proses metabolisme yang menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan, dan untuk dekomposisi bahan organik dalam perairan. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2005). Kelarutan oksigen dalam air terbatas dan hanya berkisar 9 mg/l pada suhu 20C (Sawyer dan MC Carty, 1978 dalam Salmin, 2005). Kandungan oksigen terlarut semakin rendah dengan bertambahnya kedalaman. Besarnya kandungan oksigen pada permukaan perairan berkaitan dengan aktifitas fotosintesis oleh fitoplankton. Sedangkan rendahnya kandungan oksigen pada lapisan bawah berkaitan dengan penguraian bahan organik (Sulawesty dan Yustiawati, 1999). Jika persediaan oksigen di perairan sangat sedikit maka perairan tersebut tidak baik bagi ikan dan makhluk hidup lainnya yang hidup di air, karena akan mempengaruhi kecepatan makan dan pertumbuhan ikan (Wardana, 1995).

Karbondioksida (CO2) bebas merupakan faktor pembatas bagi kehidupan ikan. Selain berperan sebagai faktor pembatas, CO2 juga merupakan bahan utama dalam aktivitas fotosintesis. CO2 yang dalam perairan alami merupakan hasil proses difusi dari atmosfer, air hujan, dekomposisi bahan organik dan hasil respirasi organisme akuatik. Kadar CO2 bebas yang tinggi pada perairan menujukan respirasi yang cepat pada organisme perairan (Ghufran et al., 2007). Dalam perairan biasanya terkandung CO2 bebas kurang dari 10 mg/l. CO2 bebas dapat menghambat penyerapan oksigen dalam darah apabila ditemukan dalam kadar tinggi. Derajat keasaman lebih dikenal dengan istilah pH (puissance negative de H), merupakan banyaknya ion H+ yang terkandung dalam air. Menurut Pescod (1973), nilai pH dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain aktifitas biologis, misalnya fotosintesis dan respirasi organisme. Boyd dan Lichtkoppler (1986) menambahkan, pH air sangat dipengaruhi oleh CO2 sebagai substansi asam. pH air mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan tumbuhan dan hewan air, sehingga dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan (Odum, 1994). Kondisi perairan yang bersifat sangat asam atau sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Hilangnya oksigen di perairan selain akibat dari proses respirasi juga karena oksigen dimanfaatkan oleh mikroba untuk mengoksidasi bahan organik yang merupakan proses dekomposisi aerobik (Effendi, 2003). Menurut Pescod (1973) dalam Salmin (2005), BOD didefinisikan sebagai banyaknya O2 yang diperlukan oleh organisme untuk memecah bahan organik pada kondisi aerobik,

tetapi untuk mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan. BOD disebut juga sebagai angka indeks untuk tolak ukur tingkat pencemaran dari limbah yang berada dalam suatu sistem perairan (Asdak, 1995). Makin besar nilai BOD, makin tinggi pula tingkat pencemarannya. Proses penguraian senyawa organik biasanya diukur selama 5 hari (BOD5), karena diketahui dari hasil jumlah senyawa organik yang diuraikan sudah mencapai 70%. Pengukuran BOD didasarkan kepada kemampuan mikroorganisme untuk menguraikan senyawa organik secara biologis. Namun untuk bahan-bahan kimia nonbiodegradable, seperti senyawa minyak dan buangan kimia lainnya akan sangat sulit atau bahkan tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme, sehingga perlu dilakukan pengukuran terhadap jumlah oksigen yang dibutuhkan dalam proses oksidasi kimia yang dikenal sebagai COD (Chemical Oxygen Demand). COD merupakan gambaran jumlah oksigen total yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik yang bersifat biodegradable maupun nonbiodegradable menjadi CO2 dan H2O (Boyd dan Lichtkoppler, 1986). Keberadaan fosfor di perairan sangat penting terutama berfungsi dalam pembentukan protein dan metabolisme bagi organisme. Fosfor juga berperan dalam transfer energi di dalam sel misalnya adenosine triphosfate (ATP) dan adenosine diphosphate (ADP). Orthofosat merupakan bentuk fosfat yang dapat dimanfaatkan langsung oleh tumbuhan air (Barus, 2004). Orthofosfat dapat bersenyawa dengan ion-ion Al, Fe, Mg, dan Ca yang merupakan salah satu sebab rendahnya kandungan orthofosfat dalam perairan. Konsentrasi fosfat dalam perairan alami pada umumnya tidak melebihi 0,1 mg/l. Kandungan fosfat yang

melebihi kebutuhan normal organisme akuatik akan meningkatkan kesuburan perairan dan merangsang pertumbuhan fitoplankton (Wardoyo, 1981). Nitrogen dalam perairan tawar biasanya ditemukan sedikit dalam bentuk molekul N2 terlarut, ammonia (NH3-N), ammonium (NH4-N), nitrit (NO2-N), nitrat (NO3-N), dan sejumlah persenyawaan organik (Odum, 1994). Sumber nitrogen yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan adalah nitrat dan ammonia. Kandungan nitrat di perairan tidak tercemar biasanya lebih tinggi daripada kadar ammonia. Nitrat adalah bentuk utama dari nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga. Nitrat sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil, sedangkan nitrit biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit di perairan karena bersifat tidak stabil terhadap keberadaan oksigen (Effendi 2003). Reaksi nitrit dengan oksigen akan merubah nitrit menjadi nitrat, sedangkan pada perairan anaerob nitrit dapat berubah menjadi ammonia. Nitrit dan ammonia bersifat racun bagi organisme perairan, meskipun daya racun nitrit lebih rendah dari ammonia (Spotte, 1979). Kadar nitrit melebihi 0,05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan. Kandungan nitrat yang tidak meracuni organisme jika kadarnya tidak melebihi 1 mg/l. Kandungan ammonia yang aman bagi kehidupan ikan tidak melebihi 0,02 mg/l. Lathal ammonia bagi berbagai jenis ikan berkisar antara 0,2-2,0 mg/l (Widyastuti et al., 2005). Waduk merupakan suatu ekosistem air tawar yang produktif yang didalamnya terdapat komponen abiotik dan komponen biotik yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi (Thohir, 1985). Penurunan kualitas air akan menyebabkan terjadinya perubahan ekologis pada perairan, sehingga berpengaruh

terhadap keanekaragaman organisme yang hidup di dalamnya, termasuk ikan (Koesbiono, 1979). Keanekaragaman jenis yang tinggi di suatu perairan menunjukkan keadaan komunitas yang baik, sebaliknya keanekaragaman yang kecil berarti telah terjadi ketidakseimbangan ekologis di perairan tersebut. Suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi bila terdapat banyak spesies dengan jumlah individu masing-masing spesies relatif merata. Bila suatu komunitas hanya terdiri dari sedikit spesies dengan jumlah individu yang tidak merata maka komunitas tersebut mempunyai keanekaragaman yang rendah (Koesbiono, 1979). Odum (1994) juga menyatakan bahwa, keanekaragaman biota merupakan bukti yang digunakan untuk melihat ada tidaknya tekanan terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh adanya eksplorasi. Berdasarkan konsep lingkungan, kondisi yang berbeda akan menghasilkan organisme yang berbeda pula. Diantara komponen biotik, ikan merupakan salah satu organisme yang rentan terhadap perubahan lingkungan terutama yang diakibatkan oleh aktivitas manusia baik langsung maupun tidak langsung (Connel, 1987). Setiap jenis ikan agar dapat hidup dan berkembang dengan baik harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat ikan itu hidup. Ikan yang berkembang di perairan waduk mempunyai toleransi tertentu terhadap perubahan kualitas air dan makanan ikan (Koesbiono, 1979). Nikolsky (1963) menyatakan bahwa, setidaknya ada tiga alasan utama bagi ikan untuk memilih tempat hidup yaitu sesuai dengan kondisi tubuhnya, tersedianya sumber makanan yang banyak, dan cocok untuk perkembangbiakan dan pemijahan.

Ikan Familia Bagridae merupakan salah satu ikan yang hidup di perairan waduk PB Soedirman. Ikan Familia Bagridae adalah ikan berkumis yang hidup di perairan tawar yang terdapat di kawasan tropika Afrika, Asia Tenggara, dan Asia Timur. Anggota Familia Bagridae dapat ditemukan pada sungai-sungai di pulau Jawa dengan kriteria perairan yang keruh, arus lambat dan kondisi substrat lunak (Hee, 2002). Beberapa jenis ikan bersifat nokturnal, tetapi yang hidup di perairan keruh aktif sepanjang hari. Beberapa ikan bersuara seperti katak pada waktu ditangkap. Ikan familia Bagridae merupakan penghuni dasar air dan memakan segala macam makanan. Ikan Familia Bagridae merupakan ikan konsumsi yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Oleh karena itu, ikan jenis ini banyak ditangkap oleh masyarakat (Kottelat et al.,1993). Ikan Familia Bagridae pada umumnya memiliki ciri-ciri seperti tubuhnya tidak bersisik atau biasanya memiliki sirip tambahan berupa kulit, sirip punggung berjari-jari keras yang tajam, sirip ekor bercagak (bercabang) dengan ujung agak berlekuk atau tegak, sirip dubur pendek, lubang hidung berjauhan dengan satu sungut hidung di bagian belakang dan langit-langit bergerigi (Saanin, 1984). Kottelat et al., (1993) menambahkan bahwa, ikan Familia Bagridae memiliki sirip dada, sirip lemak yang besar dan mulut melengkung, sungut-sungut rahang umumnya sangat panjang. Duri sirip dada sangat kuat dan bergerigi. Beberapa jenis tertentu memiliki kekhususan pola warna berbentuk bercak maupun garis. Menurut Kottelat et al., (1993), Familia Bagridae terdiri dari 5 genus yaitu Pelteobagrus, Mystus, Leiocassis, Bagroides, dan Bagrichthys. Ciri-ciri morfologi Pelteobagrus yaitu pola warna kulit terdiri atas garis warna hitam memanjang sepanjang sisi badan dan beberapa bercak besar sepanjang pangkal

10

sirip dubur. Genus Mystus memiliki mata yang tidak tertutup oleh kulit dan umumnya sungut lebih panjang dari kepala. Leiocassis memiliki gigi-gigi pada pinggiran belakang sirip punggung yang mengarah ke bawah dan umumnya sungut lebih pendek dari kepala. Bagroides memiliki sirip lemak relatif lebih kecil dibandingkan dengan genus Bagrichthys yang mempunyai sirip lemak yang panjang. Daerah Aliran Sungai Serayu dibendung dibagian tengah oleh adanya Waduk PB Soedirman, namun sungai ini masih mengalir dan bermuara di Kabupaten Cilacap. Menurut penelitian Yuliawan (2009), ditemukan 3 spesies ikan dari Familia Bageidae di Sungai Serayu dari bagian tengah (setelah Waduk PB Soedirman) sampai hilir yaitu Mystus nigriceps (Senggaringan), Mystus nemurus (Baceman), dan Mystus mycracanthus (Keting). Namun sejauh ini masih sedikit informasi tentang komposisi ikan Familia Bagridae di perairan Waduk PB Soedirman serta keterkaitanya dengan perubahan kualitas air, sehingga penelitian ini perlu untuk dilakukan. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu : 1. 2. Bagaimana kondisi kualitas air Waduk PB Soedirman saat ini. Bagaimana komposisi ikan Familia Bagridae yang terdapat di dalam perairan Waduk PB Soedirman. 3. Bagaimana korelasi sifat fisik, kimiawi perairan, dengan komposisi ikan Familia Bagridae yang terdapat di perairan Waduk PB Soedirman. Berdasarkan perumusan masalah tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. Mengetahui kondisi kualitas air Waduk PB Soedirman saat ini.

11

2.

Mengetahui komposisi ikan Familia Bagridae yang terdapat di dalam perairan Waduk PB Soedirman.

3.

Mengetahui korelasi antara sifat fisik, kimiawi perairan, dengan komposisi ikan Familia Bagridae yang terdapat di perairan Waduk PB Soedirman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi awal

untuk pemanfaatan dan pengembangan Waduk PB Soedirman yang didasarkan pada kondisi kualitas air dan komposisi ikan dari familia Bagridae.

12

Beri Nilai