Anda di halaman 1dari 29

Sedimen dan batuan sedimen dapat diklasifikasikan berdasarkan penyusunnya atau asal usul terbentuknya, atau kombinasi keduanya.

Pembagian batuan sedimen ada di bawah ini MATERIAL KLASTIK TERRIGENOUS Material berasal dari partikel atau klastik batuan yang lebih tua. Klastik ini adalah detritus erosi dari batuan induk dan umumnya tersusun oleh mineral silikat ; istilah sedimen detrital dan sedimen siliciklastik juga digunakan untuk material ini. Ukuran klastik mulai dari partikel lempung (mikrometer) hingga bongkah (meter). Batupasir dan konglomerat menyusun sebanyak 20% - 25% batuan sedimen dalam rekaman stratigrafi dan batulumpur menyusun 60% dari jumlah total. KARBONAT Berdasarkan definisi, batugamping adalah batuan sedimen yang mengandung lebih dari 50% kalsium karbonat (CaCO3). Di lingkungan alam, bagian keras organisme, khususnya invertebrata seperti moluska, adalah sumber utama kalsium karbonat. Batugamping menyusun 10% - 15% batuan sedimen dalam rekaman stratigrafi. EVAPORASI Evaporasi adalah endapan yang terbentuk oleh pengendapan garam-garam dari air melalui proses penguapan. SEDIMEN VOLKANIKLASTIK Hasil dari erupsi volkanik atau hasil dari lapukan batuan volkanik. SEDIMEN LAINNYA Sedimen dan batuan sedimen lainnya adalah ironstone, sedimen fosfat, endapan organik (batubara dan serpih minyak), rijang (chert) (batuan sedimen silikaan). Volume ini semua hanya 5 % dari rekaman stratigrafi, tapi beberapa memiliki nilai ekonomi.

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

Sebagaimana dengan kebanyakan sistem klasifikasi, ada tumpang tindih dan daerah abu-abu pada skema ini. Beberapa lapisan batugamping terbentuk dari pengendapan kimiawi kalsium karbonat selama proses penguapan, dan dapat disebut endapan evaporit. Pada kasus lain ada penamaan yang tidak masuk akal ; batuan yang mengandung 51% butir pasir kuarsa dan 49% fragmen karbonatan diistilahkan batupasir karbonatan : dengan perbandingan yang sebaliknya (49% butir pasir kuarsa dan 51% fragmen karbonatan) disebut batugamping pasiran.

Gambar 2.1 Tabel penyusun-penyusun utama batuan sedimen

1. Pengenalan Batuan Sedimen Klastik Pada umumnya batuan sedimen dapat dikenali dengan mudah dilapangan dengan adanya perlapisan. Perlapisan pada batuan sedimen disebabkan oleh Perbedaan besar butir, seperti misalnya antara batupasir dan batulempung;

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

Perbedaan warna batuan, antara batupasir yang berwarna abu-abu terang dengan batulempung yang berwarna abu-abu kehitaman.

Disamping itu, struktur sedimen juga menjadi penciri dari batuan sedimen, seperti struktur silang siur atau struktur gelembur gelombang. Ciri lainnya adalah sifat klastik, yaitu yang tersusun dari fragmen-fragmen lepas hasil pelapukan batuan yang kemudian tersemenkan menjadi batuan sedimen klastik. Disamping itu kandungan fosil juga menjadi penciri dari batuan sedimen, mengingat fosil terbentuk sebagai akibat dari organisme yang terperangkap ketika batuan tersebut diendapkan. Batuan sedimen klastik diendapkan dengan proses mekanis, terbagi dalam

dua golongan besar dan pembagian ini berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara terbentuknya batuan tersebut berdasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk dilingkungan darat maupun dilingkungan laut. Batuan yang ukurannya besar seperti breksi dapat terjadi pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan di endapkan disekitar gunung tersebut dan dapat juga diendapkan dilingkungan sungai. Batuan batupasir bisa terjadi dilingkungan laut, sungai dan danau. Semua batuan diatas tersebut termasuk ke dalam golongan detritus kasar. Sementara itu, golongan detritus halus terdiri dari batuan lanau, serpih dan batua lempung dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini pada umumnya di endapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut dalam. Fragmentasi batuan asal tersebut dimulaiu dari pelapukan mekanis maupun secara kimiawi, kemudian tererosi dan tertransport menuju suatu cekungan pengendapan. Setelah pengendapan berlangsung sedimen mengalmi diagenesa yakni, proses proses proses yang berlangsung pada temperatur rendah di dalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi. Hal ini merupakan proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras.

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

Gambar 1.1 Kenampakan Umum Batuan Sedimen Klastik

2. Rangkaian Proses Diagnesa Batuan Sedimen Klastik Kompaksi Sedimen Yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat beban di atasnya. Disini volume sedimen berkurang dan hubungan antar butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat. Sementasi Yaitu turunnya material material di ruang antar butir sedimen dan secara kimiawi mengikat butir butir sedimen dengan yang lain. Sementasi makin efektif bila derajat kelurusan larutan pada ruang butir makin besar. Rekristalisasi Yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa atu sebelumnya.

Rekristalisasi sangat umum terjadi pada pembentukan batuan karbonat. Autiqenesis Yaitu terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenesa, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dlam suatu sedimen. Mineral autigenik ini yang umum diketahui sebagai berikut : karbonat, silica, klorita, gypsum dll. Metasomatisme Yaitu pergantian material sedimen oleh berbagai mineral autigenik, tanpa pengurangan volume asal.

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

3. Tekstur Batuan Sedimen Klastik Pada hakekatnya tekstur adalah hubungan antar butir / mineral yang terdapat di dalam batuan. Sebagaimana diketahui bahwa tekstur yang terdapat dalam batuan sedimen terdiri dari fragmen batuan / mineral dan matrik (masa dasar). Adapun yang termasuk dalam tekstur pada batuan sedimen klastik terdiri dari : 1. Besar Butir, Bentuk Butir, Kemas (Fabric), Pemilahan (Sorting), Sementasi, Porositas (kesarangan), dan Permeabilitas (Kelulusan). Besar Butir adalah ukuran butir dari material penyusun batuan sedimen diukur berdasarkan klasifikasi Wentword. 2. Bentuk butir pada sedimen klastik dibagi menjadi : Rounded (Membundar ), Sub-rounded (Membundar tanggung), Sub-angular (Menyudut tanggung), dan Angular (Menyudut).

Gambar 3.1 Sketsa tingkat kebundaran (roundness)

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

Gambar 3.2 Grafik perbandingan perkiraan kebundaran dan kebolaan. (menurut Pettijohn 1987).

3.

Kemas (Fabric) adalah hubungan antara masa dasar dengan fragmen batuan / mineralnya. Kemas pada batuan sedimen ada 2, yaitu : Kemas Terbuka, yaitu hubungan antara masa dasar dan fragmen butiran yang kontras sehingga terlihat fragmen butiran

mengambang diatas masa dasar batuan. Kemas tertutup, yaitu hubungan antar fragmen butiran yang relatif seragam, sehingga menyebabkan masa dasar tidak terlihat).

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

4.

Pemilahan (Sorting) adalah keseragaman ukuran butir dari fragmen penyusun batuan.

Gambar 3.3 Pemilahan (Sorting)

Gambar 3.4 Grafik Perbandingan Perkiraan Pemilahan (Harrel, 1984)

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

5.

Sementasi (Cement) adalah bahan pengikat antar butir dari fragmen penyusun batuan. Macam dari bahan semen pada batuan sedimen klastik adalah : karbonat, silika, dan oksida besi.

6.

Porositas (Kesarangan) adalah ruang yang terdapat diantara fragmen butiran yang ada pada batuan. Jenis porositas pada batuan sedimen adalah Porositas Baik, Porositas Sedang, Porositas Buruk.

7.

Permeabilitas (Kelulusan) adalah sifat yang dimiliki oleh batuan untuk dapat meloloskan air. Jenis permeabilitas pada batuan sedimen adalah Permeabilitas baik, Permeabilitas sedang, Permeabilitas buruk.

4. Penamaan Batuan Sedimen Klastik Batuan sedimen klastik dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis batuan atas dasar ukuran butirnya. Klasifikasi ukuran butir yang dipakai dalam pengelompokkan batuan sedimen klastik menggunakan klasifikasi dari Wentword seperti yang diperlihatkan pada Gambar berikut :

Gambar 4.1 Tabel Skala Ukuran Butir Wentworth, 1922

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

Gambar 4.2 Skala Ukuran Butir Wentworth, 1922 dengan komparasi berupa sketsa ukuran butir, dan lingkungan umum tempat pengendapannya

5. Spesifikasi Setiap Janis Batuan Sedimen Klastik 5.1 Kerikil dan Konglomerat Klastik berdiameter lebih dari 2 mm dibagi menjadi butiran, kerakal, berangkal, dan bongkah (Gambar 4.1). Nama yang diberikan untuk kerikil yang terkonsolidasi tergantung pada ukuran butir yang dominan ; contoh, jika kebanyakan klastik berdiameter antara 64 mm hingga 256 mm, batuannya disebut konglomerat berangkal (cobble conglomerate). Istilah breksi umumnya digunakan untuk konglomerat yang tersusun oleh klastik yang

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

bentuknya menyudut. Pada beberapa keadaan perlu dijelaskan bahwa suatu endapan adalah breksi sedimen atau breksi tektonik yang terbentuk oleh fragmentasi batuan dalam zona sesar akibat gesekan (friction) antara tubuh batuan yang bergerak. Campuran klastik membundar dan menyudut terkadang diistilahkan breksi-konglomerat. Terkadang kata benda rudite dan kata sifat ruditan digunakan; istilah ini sinonim dengan konglomerat dan konglomeratan. 5.1.1 Komposisi Kerikil dan Konglomerat Deskripsi selanjutnya kerikil dan konglomerat dapat dilihat dari kehadiran klastik yang ada. Jika semua klastik adalah material yang sama (contoh, granit semuanya), konglomerat disebut monomik. Konglomerat polimik mengandung klastik dari berbagai litologi yang berbeda, dan terkadang diistilahkan oligomik jika hanya terdapat dua atau tiga jenis klastik. Hampir semua litologi mungkin ditemukan sebagai klastik pada kerikil dan konglomerat. Litologi yang resistan adalah yang tahan terhadap pelapukan fisika dan kimia, memiliki peluang besar terdapat sebagai klastik dalam konglomerat. Faktor yang mengontrol resistansi tipe batuan termasuk mineral yang ada dan kemampuannya menghadapi pelapukan fisika dan kimia dalam lingkungan. Beberapa batupasir hancur menjadi fragmen berukuran pasir ketika tererosi karena butiran-butiran ini memiliki ikatan yang lemah untuk tetap bersatu. Faktor terpenting yang mengontrol jenis klastik yang ditemukan adalah batuan induk yang tererosi dalam daerah sumber. Kerikil akan tersusun oleh klastik batugamping jika daerah sumber hanya tersusun oleh batugamping. Dengan mengetahui jenis klastik dapat ditentukan sumber batuan sedimen konglomeratan.

10

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

5.1.2

Tekstur Konglomerat Lapisan konglomerat jarang tersusun sepenuhnya oleh material berukuran kerikil. di antara butiran, kerakal, berangkal ,dan bongkah akan sering hadir pasir sangat halus dan/atau lumpur : material yang lebih halus di antara klastik besar adalah matriks. Jika matriks berjumlah besar (> 20 %), batuan disebut konglomerat pasiran atau konglomerat lumpuran, tergantung pada ukuran butir matriks Konglomerat intraformasional tersusun dari klastik yang materialnya sama dengan matriksnya dan terbentuk sebagai hasil tersedimentasikan kembali (reworked) yang kemudian terlitifikasi setelah pengendapan. Proporsi kehadiran matriks adalah faktor penting dalam tekstur batuan sedimen konglomeratan susunan ukuran butir yang berbeda di dalamnya. Perbedaan yang umum adalah konglomerat yang clastsupported (maksudnya klastik saling bersentuhan dengan yang lainnya di seluruh batuan) dan yang matrix-supported (klastik dikelilingi oleh matriks). Istilah ortokonglomerat terkadang digunakan untuk

menunjukkan bahwa batuan itu clast-supported, dan parakonglomerat untuk tekstur matrix-supported. Tekstur ini penting untuk menentukan model transportasi dan pengendapan konglomerat (contoh, pada kipas aluvial). Susunan ukuran klastik dalam konglomerat juga penting dalam interpretasi proses pengendapan. Dalam aliran air, kerakal lebih mudah bergerak daripada berangkal dan bongkah. Endapan yang tersusun dari bongkah yang ditutupi oleh berangkal dan kerakal dapat

diinterpretasikan bahwa terbentuk dari aliran yang kecepatannya semakin menurun. Interpretasi ini adalah salah satu teknik dalam menentukan proses transportasi dan pengendapan batuan sedimen.

11

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

Gambar 5.1 Salah satu bentuk tata nama batuan sedimen klastik

5.1.3 Bentuk Klastik Bentuk klastik dalam kerikil dan konglomerat ditentukan oleh sifat pecahan batuan induk dan sejarah transportasinya (lihat kebundaran dan kebolaan klastik : Batuan yang bidang pecahnya pada semua arah membentuk kubus atau blok yang sama yang akan membentuk klastik spherical (seperti bola) ketika tepinya terbundarkan. Batuan induk yang hancur, seperti batugamping dan batupasir yang berlapis baik, membentuk klastik dengan satu sumbu lebih pendek dari dua sumbu lainnya (Krumbein & Sloss 1951). Diistilahkan bentuk oblate atau piringan (discoid). Bentuk klastik balok (rod) atau prolate tidak umum, umumnya terbentuk dari batuan metamorf dengan kemas linear yang

12

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

kuat. Ketika klastik discoid bergerak dalam aliran air akan terorientasi dan tertumpuk, dikenal dengan istilah imbrikasi. Tumpukan ini tersusun dalam pola yang paling stabil dalam aliran, dengan kemiringan klastik discoid ke arah hulu. Pada orientasi ini, air dapat mengalir dengan sangat mudah melewati sisi hulu klastik. Ketika orientasi kemiringan ke arah hilir, aliran pada tepi klastik menyebabkannya terorientasi kembali. Arah imbrikasi discoid kerakal dalam konglomerat dapat digunakan untuk menunjukkan arah aliran yang mengendapkan kerikil.

13

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

Gambar 5.2 Bentuk-bentuk klastik dapat dibagi ke dalam empat anggota: equant/spheroid, rod, disc dan blade. Bentuk klastik equant dan disc adalah bentuk yang paling umum. (menurut Tucker 1991).

Gambar 5.3 Imbrikasi yang dihasilkan oleh reorientasi kerakal dalam alsuatu aliran (arah aliran dari kiri ke kanan).

14

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

5.2 Pasir dan Batupasir Pasir didefinisikan sebagai sedimen yang mengandung butiran berukuran antara 63 m hingga 2mm. Rentang ukuran ini dibagi ke dalam lima interval : sangat halus, halus, sedang, kasar, dan sangat kasar. Perlu dicatat bahwa penamaan ini hanya berdasarkan ukuran partikel. Meskipun banyak batupasir mengandung kuarsa, istilah batupasir tidak berimplikasi pada jumlah kehadiran kuarsa dalam batuan, dan beberapa batupasir tidak mengandung butir kuarsa sama sekali. Sama dengan arenite, yaitu batupasir dengan matriks kurang dari 15% tidak berimplikasi terhadap komposisi klastik apapun. 5.2.1 Komposisi Batupasir Butir pasir terbentuk oleh hancuran batuan tua oleh proses pelapukan dan erosi (6.3, 6.6), dan dari material yang terbentuk di dalam lingkungan transportasi dan pengendapan. Hasil lapukan terbagi ke dalam dua kategori : butir mineral detrital, tererosi dari batuan yang lebih tua, dan sedimen-sedimen berukuran pasir dari batuan atau fragmen batuan. Butiran yang terbentuk di dalam lingkungan pengendapan umumnya berasal dari biogenik bagian dari tanaman atau hewan tapi ada beberapa yang terbentuk dari reaksi kimia. 5.2.2 Butiran Mineral Detrital Sangat banyak mineral yang berbeda yang terdapat dalam pasir dan batupasir, dan hanya yang paling umum yang akan dijelaskan di sini. KUARSA Kuarsa adalah mineral paling umum yang ditemukan sebagai butiran dalam batupasir dan batulanau. Sebagai mineral primer, kuarsa adalah penyusun utama batuan granitik, terdapat dalam beberapa batuan beku berkomposisi menengah (intermediate) dan tidak ada pada tipe batuan beku basa. Batuan metamorf seperti gneiss terbentuk

15

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

dari material granitik, dan banyak batuan metasedimen berbutir kasar mengandung proporsi kuarsa yang tinggi. Kuarsa adalah mineral sangat stabil yang tahan terhadap pelapukan kimia di permukaan bumi. Butiran kuarsa dapat hancur dan terabrasi selama transportasi, tapi dengan kekerasan 7 pada skala Mohs, butir kuarsa masih tersisa setelah transportasi yang panjang dan lama. Dalam sampel hand specimen butiran kuarsa menunjukkan sedikit variasi: jenis yang berwarna seperti smoky atau milky quartz dan amethyst terdapat juga tetapi kebanyakan kuarsa terlihat sebagai butir bening. FELDSPAR Kebanyakan batuan beku mengandung feldspar sebagai komponen utama. Feldspar sangat umum dan keluar dalam jumlah yang besar ketika granit, andesit, dan gabro, beberapa sekis dan gneiss terlapukkan. Namun feldspar terubah secara kimia selama pelapukan dan menjadi lebih halus daripada kuarsa, cenderung terubah (alteration) dan hancur selama transportasi. Feldspar hanya umum ditemukan dalam keadaan dimana pelapukan kimia batuan induk tidak terlalu hebat dan jarak transportasi ke lokasi pengendapan relatif pendek. K-Feldspar lebih umum sebagai butiran detrital daripada jenis natrium (Na) dan kaya kalsium karena secara kimia lebih stabil ketika mengalami pelapukan . MIKA Dua mineral mika yang paling umum adalah biotit dan muskovit, relatif berlimpah sebagai butiran detrital dalam batupasir, meskipun muskovit lebih tahan terhadap pelapukan. Mineral ini berasal dari batuan beku berkomposisi granitik sampai intermediate dan dari sekis dan gneiss dimana mineral ini terbentuk sebagai mineral metamorf. Bentuk lempengan (platy) butir mika membuat mereka terlihat berbeda dalam hand specimen dan di bawah mikroskop. Mika

16

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

cenderung terkonsentrasi terkumpul pada bidang lapisan dan sering memiliki daerah permukaan lebih luas daripada butir detrital lain dalam sedimen. Hal ini dikarenakan butir platy memiliki kecepatan pengendapan lebih rendah daripada butir mineral berbentuk kotak dengan massa dan volume yang sama, jadi mika bersuspensi lebih lama daripada butiran kuarsa atau feldspar yang bermassa sama. MINERAL BERAT Mineral yang umum ditemukan dalam pasir memiliki berat jenis sekitar 2,6 sampai 2,7 gr/cm3; contoh kuarsa memiliki berat jenis 2,65 gr/cm3. Kebanyakan batupasir mengandung sejumlah kecil, umumnya kurang dari 1% mineral yang memiliki berat jenis besar. Mineral ini memiliki berat jenis lebih dari 2,85 gr/cm3 dan secara tradisional dapat dipisahkan dengan mineral lainnya dengan menggunakan cairan; mineral umum akan mengambang dan mineral berat akan tenggelam. Mineral ini jarang terlihat dalam hand specimen dan terlihat pada sayatan tipis batupasir. Biasanya dapat diteliti setelah dikonsentrasikan dengan teknik pemisahan dengan cairan. Alasan untuk

mempelajarinya adalah karena mineral ini dapat menjadi ciri khas daerah sumber tertentu dan berharga dalam mempelajari sumber detritus. Mineral berat yang umum adalah zircon, turmalin, rutil, apatit, garnet, dan sejumlah mineral asesori batuan beku dan metamorf. MINERAL LAIN Mineral lain jarang terdapat dalam jumlah yang besar pada batupasir. Kebanyakan mineral umum dalam batuan beku silikat (contoh: olivin, piroksen, dan amfibol) hancur oleh pelapukan kimia. Oksida besi relatif berlimpah. Konsentrasi lokal mineral tertentu mungkin didapatkan jika berada dekat dengan sumber.

17

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

5.2.3

Fragmen Batuan Lapukan batuan yang telah ada sebelumnya, batuan beku, sedimen, dan metamorf menghasilkan fragmen berukuran pasir. Fragmen batuan berukuran pasir hanya ditemukan pada batuan berbutir halus sampai sedang karena kristal mineral dan butir tipe batuan kasar memiliki ukuran pasir yang kasar. Penentuan litologi fragmen batuan ini biasanya memerlukan sayatan tipis untuk mengidentifikasi mineralogi dan kemasnya Batuan beku seperti basal dan ryolit mudah terubah secara kimia di permukaan bumi dan hanya umum ditemukan dalam pasir yang terbentuk dekat dengan sumber material volkanik. Pantai di sekitar kepulauan volkanik seperti Hawai berwarna hitam, hampir

keseluruhannya terbuat dari butir batuan basal. Batupasir yang berkomposisi seperti ini jarang dalam rekaman stratigrafi, tapi butir tipe batuan volkanik umum dalam sedimen yang diendapkan dalam cekungan yang berhubungan dengan busur volkanik atau volkanisme rift. Fragmen sekis dan pelitik (berbutir halus) dari batuan metamorf dapat dikenali di bawah mikroskop dengan kelurusan kemas yang kuat yang dimiliki litologi ini; tekanan selama metamorfisme menghasilkan butiran mineral terorientasi kembali atau tumbuh dalam kelurusan yang tegak lurus terhadap gaya stress lapangan. Mika jelas menunjukkan kemas ini, tapi kristal kuarsa dalam batuan metamorf juga menampilkan kelurusan yang kuat. Batuan yang terbentuk oleh metamorfisme batuan kaya kuarsa lapuk menjadi butiran yang relatif tahan dan terdapat dalam batupasir. Fragmen batuan dari batuan sedimen dihasilkan ketika strata yang lebih tua terangkat, terlapukkan, dan tererosi. Butiran pasir dapat

18

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

reworked oleh proses ini dan butir-butir individu ini dapat mengalami sejumlah siklus erosi dan pengendapan kembali (6.6). Litologi batulumpur mungkin hancur menjadi butiran berukuran pasir, meskipun ketahanannya terhadap pelapukan selanjutnya selama transportasi bergantung sekali pada derajat kekerasan batulumpur. Potongan-potongan batugamping biasanya ditemukan sebagai fragmen batuan dalam batupasir meskipun batuan sebagian besar tersusun oleh butiran karbonatan, akan diklasifikasikan sebagai batugamping. Salah satu litologi paling umum yang terlihat sebagai butir pasir adalah rijang yang merupakan silika, material yang resistan. 5.2.4 Partikel Biogenik Potongan kecil kalsium karbonat ditemukan dalam batupasir, umumnya berupa hancuran cangkang moluska dan organisme lain yang memiliki bagian keras yang karbonatan. Diendapkan dalam lingkungan laut dangkal dimana organisme ini lebih berlimpah. Jika fragmen karbonatan menyusun 50% dari sampel besar (bulk) batuan maka dianggap sebagai batugamping. Fragmen tulang dan gigi mungkin ditemukan dalam batupasir dari berbagai jenis lingkungan tapi umumnya jarang. Kayu, benih dan bagian lain tanaman darat mungkin ada dalam endapan batupasir dalam lingkungan kontinen dan laut. 5.2.5 Mineral Authigenic Mineral yang kristalnya tumbuh dalam lingkungan pengendapan disebut mineral authigenic. Mineral ini berbeda dengan semua mineral yang terbentuk dari proses batuan beku atau metamorf dan selanjutnya tersedimenkan ke dalam lingkungan sedimen. Banyak mineral karbonat terbentuk secara authigenic, dan mineral lain yang penting yang terbentuk dengan cara ini adalah glaukonit, silikat besi berwarna hijau yang terbentuk dalam lingkungan laut dangkal. Glaukonit adalah

19

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

petunjuk penting limgkungan pengendapan. Glaukonit terbentuk ketika kecepatan sedimen lambat, dan berguna dalam analisis stratigrafi dan karena terbentuk dalam lingkungan pengendapan, penanggalan radiometri dari kristal glaukonit dapat digunakan untuk menentukan umur endapan. 5.2.6 Ketahanan Mineral dan Klastik Ketahanan butiran diukur dari kecenderungannya untuk

menyisakan bagian yang tidak terubah selama erosi, transportasi, dan pengendapan. Mineral seperti kuarsa dan fragmen batuan rijang memiliki ketahanan karena sedikit dipengaruhi oleh proses fisika dan kimia di permukaan bumi. Feldspar, mika, dan mineral silikat pembentuk batuan lainnya, dan fragmen batuan cenderung hancur dan tidak resisten. 5.2.7 Penamaan Batupasir dan Klasifikasinya Deskripsi batupasir meliputi beberapa informasi mengenai tipe butiran yang ada. Nama informal seperti batupasir mikaan digunakan ketika batuan mengandung mineral dalam jumlah tertentu, dalam hal ini mika dalam jumlah yang besar. Istilah seperti batupasir karbonatan dan ferruginous sandstone dapat juga digunakan untuk menunjukkan komposisi kimia tertentu, dalam hal ini adalah kalsium karbonat dan besi. Nama-nama ini untuk batupasir sangat berguna dan dianjurkan untuk deskripsi lapangan dan hand specimen, tapi bila telah menggunakan analisis petrografi yang lengkap, digunakan nama formal. Biasanya skema klasifikasi Pettijohn (1975).

Klasifikasi batupasir Pettijohn mengkombinasikan kriteria tekstur (proporsi matriks lumpuran / muddy matrix) dengan kriteria komposisi (persentase tiga komponen utama batupasir; kuarsa, feldspar, dan fragmen batuan). Segitiga QFL umum digunakan dalam sedimentologi klastik. Untuk menggunakan skema ini pada klasifikasi

20

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

batupasir, proporsi relatif kuarsa, feldspar, dan fragmen harus ditentukan terlebih dahulu dengan perkiraan visual atau

menghitungnya di bawah mikroskop: komponen lain seperti mika dan fragmen biogenik tidak diperhitungkan. Dimensi ketiga diagram klasifikasi digunakan untuk menampilkan tekstur batuan, proporsi relatif klastik dan matriks. Dalam batupasir, matriksnya adalah material lanau dan lempung yang terendapkan bersama dengan butiran pasir. Tahap selanjutnya adalah menghitung jumlah matriks lumpuran: jika jumlah matriks yang ada kurang dari 15%, batuan disebut arenite; antara 15% sampai 75% disebut wacke, dan jika volume batuan banyak tersusun oleh matriks berbutir halus maka diklasifikasikan sebagai batulumpur (mudstone) Kuarsa adalah tipe butiran paling umum dalam kebanyakan batupasir, jadi klasifikasi ini mengutamakan kehadiran butiran lain. Hanya 25% feldspar yang diperlukan dalam batuan agar bisa disebut feldspathic arenite, arkosic arenite atau arkose (ketiga istilah ini dapat digunakan bila batupasir kaya butiran feldspar). 25% fragmen batuan dalam batupasir disebut lithic arenite. Lebih dari 95% kuarsa harus ada dalam batuan agar dapat diklasifikasikan sebagai kuarsa arenite; batupasir dengan persentase sedang dari butiran feldspar atau fragmen batuan disebut subarkosic arenite dan sublithic arenite. Wacke juga dibagi ke dalam kuarsa wacke, feldspathic (arkosic) wacke dan lithic wacke, tapi tanpa subdivisi. Jika tipe butir selain daripada tiga komponen utama hadir dalam kuantitas penting (sedikitnya 5% atau 10%), kata imbuhan digunakan seperti kuarsa arenite mikaan: catatan bahwa contoh batuan ini tidak mengandung 95% butiran kuarsa sebagai proporsi semua butir yang ada, tapi 95% dari jumlah kuarsa, feldspar, dan fragmen batuan ketika dijumlahkan bersama.

Istilah greywacke terkadang digunakan untuk batupasir yang mungkin

21

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

juga disebut feldspathic atau lithic wacke. Greywacke adalah campuran fragmen batuan, kuarsa, dan butiran feldspar dengan matriks berukuran lempung dan lanau.

Gambar 5.4 Klasifikasi Pettijohn batupasir, sering disebut sebagai Tobleron plot. (menurut Pettikohn 1975).

5.3

Lempung, Lanau, dan Batulumpur Batuan sedimen klastik terrigenous berbutir halus cenderung menerima perhatian yang lebih kecil daripada kelompok endapan lain walaupun fakta bahwa jumlahnya paling umum dalam semua tipe batuan sedimen. Ukuran butir umumnya terlalu kecil bagi teknik optik, dan sampai mikroskop elektron (SEM) dan analisis difraksi sinar X dikembangkan diketahui sedikit tentang penyusun sedimen ini. Di lapangan, batulumpur tidak sering menunjukkan struktur sedimen dan biogenik yang jelas seperti terlihat dalam batuan klastik

22

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

yang lebih kasar dan batugamping. Singkapan umumnya sedikit karena tidak membentuk tebing yang curam, dan tanahnya menunjang pertumbuhan vegetasi yang menutupi singkapan. Kelompok sedimen ini cenderung untuk tidak terlihat, sebagaimana akan kita lihat dalam bab selanjutnya mengenai lingkungan pengendapan dan stratigrafi, sedimen ini dapat menyediakan informasi 5.3.1 sebanyak tipe batuan sedimen lainnya.

Pengertian Istilah-Istilah dalam Batulumpur Lempung adalah istilah tekstur untuk mendefinisikan partikel sedimen klastik berukuran sangat halus, berdiameter kurang dari 4 m. Partikel individu tidak terlihat dengan mata telanjang dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop optik berkekuatan tinggi. Mineral lempung adalah kelompok mineral filosilikat (phyllosilicate) yang penyusun utamanya berukuran lempung. Lanau adalah nama yang diberikan untuk material yang terdiri dari partikel berdiameter 4 m sampai 62 m. Rentang ukuran ini dibagi ke dalam kasar, sedang, halus, sangat halus. Butiran kasar lanau dapat terlihat dengan mata telanjang atau dengan lup. Lanau halus dibedakan dari lempung dengan sentuhan, akan terasa kesat (gritty) jika digosokkan ke gigi sedangkan lempung terasa halus atau lembut. Ketika partikel berukuran lempung dan lanau bercampur dalam proporsi yang tidak diketahui sebagai penyusun utama dalam sedimen yang tidak terkonsolidasi disebut material lumpur (mud). Istilah umum batulumpur dapat diaplikasikan untuk semua sedimen keras yang terbuat dari lanau dan/atau lempung. Jika dapat diketahui jumlah partikel terbanyak (lebih dari 2/3) berukuran lempung, batuan disebut batulempung, dan jika dominan berukuran lanau disebut batulanau: campuran yang terdiri dari lebih dari 1/3 untuk tiap-tiap komponen disebut batulumpur (Folk 1974, Blatt et al 1980). Istilah serpih (shale) terkadang digunakan untuk batulumpur (contoh, untuk teknik

23

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

pemboran) tapi alangkahnya baik menggunakan istilah ini hanya untuk batulumpur yang menunjukkan belahan (fissillity), memiliki

kecenderungan hancur dalam satu arah, sejajar dengan perlapisan. (Beda antara serpih dan slate: slate adalah istilah yang digunakan untuk batuan metamorf berbutir halus yang hancur sepanjang satu atau lebih bidang belahannya). 5.3.2 Lanau dan Batulanau Parameter tekstur dan mineralogi lanau lebih sulit ditentukan daripada batupasir karena partikelnya berukuran kecil. Hanya butiran lanau kasar yang dapat dengan mudah dianalisis dengan menggunakan mikroskop optik. Mineral resisten yang paling umum pada ukuran ini karena mineral lain akan sering mengalami kehancuran secara kimiawi sebelum mengalami kehancuran fisika ke ukuran ini. Kuarsa adalah mineral paling umum terlihat dalam endapan lanau. Mineral lain yang terdapat dalam tingkat ukuran sedimen ini termasuk feldspar, muskovit, kalsit, dan oksida besi diantara banyak komponen kecil lainnya. Fragmen batuan berukuran lanau hanya berlimpah dalam tepung batuan (rock flour) yang terbentuk oleh erosi gletser (glacier) .Dalam arus air lanau tersuspensi sampai aliran melambat atau hampir berhenti. Pengendapan lanau adalah karakteristik aliran berkecepatan rendah atau air tenang dengan gelombang yang kecil. Partikel berukuran lanau dapat tersuspensi di udara sebagai debu untuk periode yang lama dan mungkin terbawa tinggi sampai ke atmosfer. Angin yang kuat dapat membawa debu berukuran lanau sejauh ribuan kilometer dan mengendapkannya dalam lapisan lateral yang luas (Pye 1987). Hembusan angin lanau membentuk kenampakan endapan loess yang penting selama periode es (glacial).

24

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

5.3.3

Mineral Lempung Mineral lempung umumnya sebagai bentuk hasil lapukan feldspar dan mineral silikat lainnya. Mineral lempung adalah filosilikat yang struktur kristalnya berlapis serupa dengan mika, dan secara komposisi adalah aluminosilikat. Lapisan-lapisannya terbuat dari silika dengan ion aluminium dan magnesium, dengan atom oksigen yang mengikat lembaran-lembarannya. Dua pola perlapisan yang ada, pertama adalah dua lapis (kelompok kandite) dan yang kedua adalah tiga lapis (kelompok smectite). Sekian banyak mineral lempung yang berbeda yang terdapat dalam batuan sedimen (Tucker 1991) namun empat yang terumum dibahas disini Kaoliniet adalah anggota terumum kelompok kandite yang terbentuk dalam profil tanah yang hangat, lingkungan basah (humid) dimana air asam dengan hebat meluluhkan (leaching) litologi batuan induk seperti granit. Mineral lempung kelompok smectite termasuk lempung yang dapat mengembang (swelling clays) seperti

montmorilonite yang dapat menyerap air di dalam strukturnya. Montmorilonite adalah produk kondisi temperatur sedang (moderate) dalam tanah dengan pH netral sampai alkali. Juga terbentuk dibawah kondisi alkali dalam iklim kering (arid). Mineral lempung tiga lapis yang lain adalah illite yang berhubungan dengan mika putih muskovit. Illite adalah mineral lempung terumum dalam sedimen yang terbentuk dalam tanah pada suatu daerah dimana peluluhan terbatas. Chlorite adalah mineral lempung tiga lapis yang umum terbentuk dalam tanah dengan pencucian di bawah kondisi air tanah yang asam, dan dalam tanah di daerah iklim kering. Montmorilonite, illite, dan chlorite semuanya merupakan hasil pelapukan batuan volkanik, khususnya gelas volkanik.

25

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

Gambar 2.7 Struktur mineral-mineral lempung. menurut Tucker 1991).

5.3.4

Petrografi Mineral Lempung Identifikasi dan interpretasi mineral lempung memerlukan pendekatan teknologi yang lebih tinggi daripada yang diperlukan untuk sedimen kasar. Ada dua teknik utama, mikroskop elektron dan analisis difraksi sinar X (Tucker 1988). Gambar dari sampel dibawah mikroskop elektron dihasilkan dari elektron sekunder yang dihasilkan sinar elektron halus yang mengamati (scanning) permukaan contoh. Contoh yang berdiameter hanya beberapa mikrometer dapat

digambarkan dengan teknik ini, resolusinya lebih tinggi daripada mikroskop optik. Ini berguna untuk meneliti mineral lempung dan hubungannya dengan butiran lain dalam sebuah batuan. Perbedaan antara mineral lempung yang diendapkan sebagai butiran detrital dan yang terbentuk secara diagenesis di dalam sedimen dapat dibuat dengan menggunakan mikroskop elektron. Difraktometer sinar X dioperasikan dengan menembakkan sinar X pada bubuk mineral lempung atau disagregat lempung dan menentukan sudut yang dibiaskan oleh kisi-kisi kristal. Pola sudut bias

26

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

sinar X yang berbeda-beda adalah ciri mineral-mineral tertentu dan dapat digunakan untuk mengenali mineral yang ada. Analisis difraktometer sinar X relatif cepat dan mudah untuk menentukan komposisi mineral sedimen berbutir halus secara semi-kuantitatif. Juga digunakan untuk membedakan mineral karbonat yang memiliki sifat optik sama. 5.3.5 Sifat Partikel Lempung Karena ukurannya kecil dan berbentuk lempeng tipis, lempung bersuspensi dalam aliran fluida yang lemah dan hanya terendapkan ketika aliran melambat atau diam. Partikel lempung hadir sebagai suspensi dalam kebanyakan arus air dan udara, dan hanya terendapkan ketika aliran berhenti. Sekali-sekali mineral-mineral ini membentuk kontak partikel lempung yang cenderung melekat bersama kohesif. Kohesi ini berkaitan dengan film tipis air di antara dua partikel lempeng kecil yang memiliki efek gaya permukaan yang kuat (contoh lain sebagaimana dua lempeng gelas dapat tetap bersama karena film tipis air di antaranya) tapi adalah juga konsekuensi efek elektrostatis antara mineral lempung berkaitan dengan lapisan yang tidak sempurna di dalam struktur mineral. Sebagai hasil sifat kohesif lempung ini, mineral lempung dalam suspensi cenderung untuk mengalami flocculation (flocculation adalah perubahan yang berlangsung ketika fase penyebaran koloid membentuk rangkaian partikel tersendiri yang mampu terendapkan dari media dispersi. Dalam proses geologi, flocculation hampir tidak dapat dielakkan menghasilkan larutan koloid yang bercampur dengan larutan yang mengandung elektrolit) dan membentuk agregates kecil partikel individu. Kelompok flocculation ini memiliki kecepatan tenggelam lebih besar daripada partikel lempung individu dan akan diendapkan lebih cepat. Flocculation

27

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

bertambah pada kondisi air asin dan perubahan dari pengendapan air tawar ke air laut (contoh pada mulut delta atau di dalam estuaria : 12.1, 12.7). Partikel lempung ini kemudian terendapkan, kohesi

menyebabkan mereka tahan terhadap remobilisasi dalam aliran. Hal ini membuat pengendapan dan terjaganya sedimen halus dalam daerah yang dilalui aliran intermitten.

6. Gambar Beberapa Jenis Batuan Sedimen Klastik

Gambar 6.2 Breksi Gambar 6.1 Konglomerat

Gambar 6.4 Batulempung Gambar 6.3 Batupasir

28

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik

DAFTAR PUSTAKA
http://miningundana07.wordpress.com/2009/10/08/batuan-sedimen-klastik/ 26 Oktober 2010 http://www.geofacts.co.cc/2010/02/sedimen-klastik-terrigenous.html Oktober 2010 http://www.google.com/imghp diakses 26 Oktober 2010 diakses 26 diakses

29

Paper Praktikum Petrologi Acara Batuan Sedimen Klastik