Anda di halaman 1dari 24

Tindak Kekerasan Sehingga Menyebabkan Kematian Siti Nurjawahir Bt Rosli NIM: 10.2009.

323 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jl.Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510 Email: purple_lilac90@yahoo.com BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
Semua makhluk biologis akan mati dan cara mati masing-masing adalah berbeda walaupun pada dasarnya kematian adalah disebabkan ketiadaan oksigen di otak. Ilmu kedokteran forensik disebut juga ilmu kedokteran kehakiman, merupakan salah satu mata ajaran wajib dalam rangkaian pendidikan kedokteran di Indonesia, dimana peraturan perundangan mewajibkan setiap dokter baik dokter, dokter spesialis kedokteran forensik, spesialis klinik untuk membantu melaksanakan pemeriksaan kedokteran forensik bagi kepentingan peradilan bilamana diminta oleh polisi penyidik. Dengan demikian, dalam penegakan keadilan yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, bantuan dokter dengan pengetahuan Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal yang dimilikinya amat diperlukan.1 Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang berlaku setelah kematian serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. 1 Traumatologi adalah cabang ilmu kedokteran forensic yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya dengan berbagai tindak kekerasan.Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan menjadi kekerasan mekanik,fisika dan kimia. 1

1|Page

TUJUAN
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mempelajari mengenai ilmu kedokteran forensic dari aspek hukum dan prosedur medikolegal melibatkan profesi kedokteran. Selain itu, mempelajari mengenai tindak kekerasan yang menyebabkan perlukaan akibat benda tajam hingga menyebabkan kematian dan memahami prosedur dan teknis pemeriksaan luar dan dalam pada mayat.

SKENARIO
Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati tertelungkup. Ia mengekana kaos dalam(oblong) dan celana panjang yang dibagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawah. Lehernya terikat dengan lengan baju(yang kemudiannya diketahui sebagai baju milik nya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu setinggi 60cm. posisi tubuh relative mendatar,namun leher memang terjerat oleh baju tersebut. Tubuh mayat tersebut telah membusuk,namun masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Perlu diketahui bahwa rumah terdekat dari TKP adalah sekitar 2km. TKP adalah suatu daerah perbukitan yang berhutan cukup berat.

BAB II PEMBAHASAN
i. Prosedur Medikolegal 1,2 Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur identifikasi jenasah adalah : A. Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam KUHP pasal 133: 1.Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. 2.Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 3.Mayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. B. Undang-undang Kesehatan Pasal 79 1.Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia juga kepada pejabat pegawai negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam UU No 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. 2|Page

2. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang : a.Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan. b.Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan. c.Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha. d.Melakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain. e.Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti. f.Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan. g.Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti sehubungan dengantindak pidana di bidang kesehatan. 3.Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan menurut UU No 8 tahun 1981 tentang HAP. Kewajiban dokter membantu peradilan Pasal 133 KUHAP Pasal 179 KUHAP 1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. 2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenarbenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Bentuk bantuan dokter bagi peradilan dan manfaatnya Pasal 183 KUHAP o Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya.1,2,3 Pasal 184 KUHAP 1) Alat bukti yang sah adalah: - Keterangan saksi - Keterangan ahli - Surat - Pertunjuk - Keterangan terdakwa 2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan. Pasal 186 KUHAP o Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Pasal 180 KUHAP 1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan. 3|Page

2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang. 3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) Sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter Pasal 216 KUHP 1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah. 2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum. 3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya dapat ditambah sepertiga. Pasal 222 KUHP o Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pasal 224 KUHP o Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia harus melakukannnya: 1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan. 2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan. Pasal 522 KUHP o Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah. Bedah Mayat Klinis Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia. 4|Page

Pasal 2 PP No 18/1981

Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut: Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat setelah penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat ditentukan dengan pasti; o Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau masyarakat sekitarnya. o Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya terdekat, apabila dalam jangka waktu 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal dunia datang ke rumah sakit. Pasal 70 UU Kesehatan (2) Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat.2 o

ii. Aspek hokum 1,2 Undang-udang yang berkaitan dengan tindak kekerasan atau penganiayaan sehingga menyebabkan kematian : Pasal 338 KUHP o Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun Pasal 339 KUHP o Pembunuhan yang diikuti,disertai atau didahului oleh sesuatu perbuatan pidana,yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudahkan pelaksanaannya,atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan ataupun untuk memastikan penguasaan barangyang diperolehnya secara melawan hukum diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun. Pasal 340 KUHP o Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam,karena pembunuhan dengan rencana(moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 25 tahun.

iii. Personal Identifikasi 3,6 Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan. 5|Page

Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal, jenazah yang telah membusuk, rusak, hangus terbakar dan pada kecelakaan massal, bencana alam atau huru-hara yang mengakibatkan banyak korban mati, serta potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi yang tertukar atau diragukannya orang tuanya. Tujuan dari identifikasi forensik adalah: Kebutuhan etis dan kemanusiaan. Pemastian kematian seseorang secara resmi dan yuridis. Pencatatan identitas untuk keperluan administratif dan pemakaman. Pengurusan klaim di bidang hukum publik dan perdata. Pembuktian klaim asuransi, pensiun dan lain-lain. Upaya awal dalam suatu penyelidikan kriminal.

Peran Identifikasi Forensik Peran identifikasi forensik adalah: Pada orang hidup : - Semua kasus medikolegal. - Orang yang didakwa pelaku pembunuhan. - Orang yang didakwa pelaku pemerkosaan. - Identitas bayi baru lahir yang tertukar, untuk menentukan siapa orang tuanya. - Anak hilang. Pada jenazah, dilakukan pada keadaan: Kasus peledakan. Kasus kebakaran. Kecelakaan kereta api atau pesawat terbang. Banjir. Kasus kematian yang dicurigai melanggar hukum.

Metode Identifikasi Forensik Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positip (tidak meragukan). Secara garis besar ada dua metode pemeriksaan, yaitu: a. Identifikasi primer : Merupakan identifikasi yang dapat berdiri sendiri tanpa perlu dibantu oleh kriteria identifikasi lain. Teknik identifikasi primer yaitu : Pemeriksaan DNA Pemeriksaan sidik jari Pemeriksaan gigi

6|Page

Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan dua sampai tiga metode pemeriksaan dengan hasil positif. b. Identifikasi sekunder : Pemeriksaan dengan menggunakan data identifikasi sekunder tidak dapat berdiri sendiri dan perlu didukung kriteria identifikasi yang lain. Identifikasi sekunder terdiri atas cara sederhana dan cara ilmiah. Cara sederhana yaitu melihat langsung ciri seseorang dengan memperhatikan perhiasan, pakaian dan kartu identitas yang ditemukan. Cara ilmiah yaitu melalui teknik keilmuan tertentu seperti pemeriksaan medis. Ada beberapa cara identifikasi yang biasa dilakukan, yaitu: 1) Pemeriksaan sidik jari Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari antemortem. Pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi akurasinya dalam penentuan identitas seseorang, oleh karena tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari yang sama. 2) Metode visual Metode ini dilakukan dengan cara keluarga/rekan memperhatikan korban (terutama wajah). Oleh karena metode ini hanya efektif pada jenazah yang masih utuh (belum membusuk), maka tingkat akurasi dari pemeriksaan ini kurang baik. 3) Pemeriksaan dokumen Metode ini dilakukan dengan dokumen seperti kartu identitas (KTP, SIM, kartu golongan darah, paspor dan lain-lain) yang kebetulan dijumpai dalam saku pakaian yang dikenakan. Namun perlu diingat bahwa dalam kecelakaan massal, dokumen yang terdapat dalam saku, tas atau dompet pada jenazah belum tentu milik jenazah yang bersangkutan. 4) Pengamatan pakaian dan perhiasan Metode ini dilakukan dengan memeriksa pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenzah. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui merek, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang semuanya dapat membantu identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah. Untuk kepentingan lebih lanjut, pakaian atau perhiasan yang telah diperiksa, sebaiknya disimpan dan didokumentsikan dalam bentuk foto. 5) Identifikasi medik Metode ini dilakukan dengan menggunakan data pemeriksaan fisik secara keseluruhan, meliputi tinggi dan berat badan, jenis kelamin, warna rambut, warna tirai mata, adanya luka bekas operasi, tato, cacat atau kelainan khusus dan sebagainya. Metode ini memiliki akurasi yang tinggi, oleh karena dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara atau modifikasi. 6) Pemeriksaan Gigi Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi yang dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar x, cetakan gigi serta rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi dan sebagainya. Bentuk gigi dan rahang merupakan ciri khusus dari seseorang, sedemikian khususnya sehingga dapat dikatakan tidak ada gigi atau rahang yang identik pada dua orang yang berbeda, bahkan kembar identik sekalipun.

7|Page

7) Serologi Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan golongan darah yang diambil baik dari tubuh korban atau pelaku, maupun bercak darah yang terdapat di tempat kejadian perkara. Ada dua tipe orang dalam menentukan golongan darah, yaitu: Sekretor : golongan darah dapat ditentukan dari pemeriksaan darah, air mani dan cairan tubuh. Non-sekretor : golongan darah hanya dari dapat ditentukan dari pemeriksaan darah. 8) Metode ekslusi Metode ini digunakan pada identifikasi kecelakaan massal yang melibatkan sejumlah orang yang dapat diketahui identitasnya. Bila sebagian besar korban telah dipastikan identitasnya dengan menggunakan metode identifikasi lain, sedangkan identitas sisa korban tidak dapat ditentukan dengan metode tersebut di atas, maka sisa diidentifikasi menurut daftar penumpang. 9) Identifikasi kasus mutilasi Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan apakah potongan berasal dari manusia atau binatang. Bila berasal dari manusia ditentukan apakah potongan tersebut berasal dari satu tubuh. Untuk memastikan apakah potongan tubuh berasal dari manusia dilakukan beberapa pemeriksaan seperti pengamatan jaringan secara makroskopik, mikroskopik dan pemeriksaan serologik berupa reaksi antigen-antibodi. 10) Identifikasi kerangka Identifikasi ini bertujuan untuk membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila memungkinkan dapat dilakukan rekonstruksi wajah. Kemudian dicari pula tanda kekerasan pada tulang serta keadaan kekeringan tulang untuk memperkirakan saat kematian. 11) Forensik molekuler Pemeriksaan ini memanfaatkan pengetahuan kedokteran dan biologi pada tingkatan molekul dan DNA. Pemeriksaan ini biasa dilakukan untuk melengkapi dan menyempurnakan berbagai pemeriksaan identifikasi personal pada kasus mayat tak dikenal, kasus pembunuhan, perkosaan serta berbagai kasus ragu ayah (paternitas). iv. Pemeriksaan Pada Mayat Jika korban dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis, maka dokter punya kewajiban untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi atau menyuruh keluarga korban untuk melapor ke polisi. Korban yang melapor terlebih dahulu ke polisi pada akhirnya juga akan dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis sekaligus pemeriksaan forensik untuk dibuatkan visum et repertumnya. Secara umum dokter bertugas mengumpulkan bukti adanya kekerasan, keracunan, tanda persetubuhan, penentuan usia korban dan pelacakan benda bukti yang berasal dari pelaku. Pemeriksaan Luar 1,5,7,8 Pada pemeriksaan tubuh mayat sebelah luar, untuk kepentingan forensik, pemeriksaan harus dilakukan dengan cermat, meliputi segala sesuatu yang terlihat, tercium, maupun teraba, baik terhadap benda yang menyertai mayat, pakaian, perhiasan, sepatu dan lain-lain, juga terhadap tubuh mayat itu sendiri. 8|Page

Agar pemeriksaan dapat terlaksana dengan secermat mungkin, pemeriksaan harus mengikuti suatu sistimatika yaitu mulai dengan : 1. Label mayat. Mayat laki-laki yang dikirimkan untuk pemeriksaan kedokteran forensik diberi label dari pihak kepolisian, merupakan sehelai label berwarna merah muda dengan materai lak merah terikat pada ibu jari kaki kanan. Adalah kebiasaan yang baik, bila dokter pemeriksa dapat meminta keluarga terdekat dan mayat untuk sekali lagi melakukan pengenalan/pemastian identitas. 2. Tutup mayat. Mayat seringkali dikirimkan pada pemeriksa dalam keadaan ditutupi oleh sesuatu. Jenis/bahan, warna serta corak dari penutup ini dicatat. Bila terdapat pengotoran pada penutup, catat pula letak pengotoran serta jenis/bahan pengotoran tersebut. 3. Bungkus mayat. Mayat kadang-kadang dikirimkan pada pemeriksa dalam keadaan terbungkus. Bungkus mayat ini harus dicatat jenis/bahannya, warna, corak, serta adanya bahan yang mengotori. Dicatat pula tali pengikatnya bila ada, baik mengenai jenis/bahan tali tersebut, maupun cara pengikatan serta letak ikatan tersebut. 4. Pakaian. Pakaian mayat dicatat dengan teliti, mulai dan pakaian yang dikenakan pada bagian tubuh sebelah atas sampai tubuh sebelah bawah, dari lapisan yang terluar sampai lapisan yang terdalam. Pakaian dari korban yang mati akibat kekerasan atau yang belum dikenal, sebaiknya disimpan untuk barang bukti. Bila ditemukan saku pada pakaian, maka saku ini harus diperiksa dan dicatat isinya dengan teliti pula. 5. Perhiasan. Perhiasan yang dipakai oleh mayat harus dicatat pula dengan teliti. Pencatatan meliputi jenis perhiasan, bahan, warna, merk, bentuk serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut. Benda di samping mayat. Bersamaan dengan pengiriman mayat, kadangkala disertakan pula pengiriman benda di samping mayat, misalnya bungkusan atau tas. 6. Tanda kematian Di samping untuk pemastian bahwa korban yang dikirimkan untuk pemeriksaan benar-benar telah mati, pencatatan tanda kematian ini berguna pula untuk penentuan saat kematian. Waktu/saat dilakukannya pemeriksaan terhadap tanda kematian ini dicatat agar pencatatan terhadap tanda kematian ini bermanfaat. 7. Tanda-tanda pasti kematian : A. Lebam mayat (livor mortis) 9|Page

Lebam mayat dapat di gunakan untuk tanda pasti kematian ; memperkirakan sebab kematian, mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah terjadi lebam mayat yang menetap dan memperkirakan saat kematian. Terhadap lebam mayat, dilakukan pencatatan letak/ distribusi lebam, adanya bagian tertentu di daerah lebam mayat yang justru tidak menunjukkan lebam (karena tertekan pakaian, terbaring di atas benda keras dan lain-lain). Warna dari lebam mayat serta intensitas lebam mayat (masih hilang pada penekanan, sedikit menghilang atau sudah tidak menghilang sama sekali). Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya gravitasi, mengisi vena dan venula, membentuk bercak darah berwarna ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluih darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak pada 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8- 12 jam. Sebelum waktu itu, lebam mayat masih hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi mayat diubah. Memucatnya lebam mayat akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan membentuk lebam mayat di tempat terendah yang baru. Kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut. Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah perut dan dada. Mengingat pada lebam mayat darah terdapat didala pembuluh darah, maka keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan resapan darah tidak menghilang. B.Kaku mayat (rigor mortis) Distribusi kaku mayat serta derajat kekakuan pada beberapa sendi (daerah dagu/tengkuk, lengan atas, siku, pangkal paha, sendi lutut) dicatat dengan menentukan apakah mudah atau sukar dilawan. Apabila ditemukan adanya spasme kadaverik (cadaveric spasm) maka ini harus dicatat dengan sebaik-baiknya, karena spasme kadaverik memberi petunjuk apa yang sedang dilakukan oleh korban saat terjadi kematian. Kaku mayat timbul 1-3 jam postmortem, dipertahankan 6-12 jam, dimulai dari otot kecil : rahang bawah, anggota gerak atas, dada, perut dan anggota bawah kemudian kaku lengkap dalam 6-12 jam dan dipertahankan 24-48 jam. Faktor yang mempercepat terjadinya rigor mortis, yaitu : 10 | P a g e

Aktivitas fisik pra kematian / pre mortal. Suhu tubuh tinggi. Konstitusi berupa tubuh kurus. Suhu lingkungan tinggi. Umur yaitu anak-anak dan orang tua. Gizi yang jelek. Kekakuan yang menyerupai kaku mayat : 1. Cadaveric spasm (instantaneous rigor) akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal 2. Heat stiffening : o kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude) pada kasus mati terbakar 3. Cold stiffening o o o terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot

C. Penurunan suhu tubuh (algor mortis) kecepatan penurunan suhu tubuh dipengaruhi oleh suhu sekeliling, aliran dan kelembapan udara, bentuk tubuh, posisi tubuh, dan pakaian.

D. Pembusukan Pembusukan terjadi karena atas 2 mekanisme yaitu : autolysis mikroorganisme : bakteri pathogen dalam usus

Faktor-faktor yang mempengaruhi cepat-lambatnya pembusukan mayat, yaitu : a. Dari luar 1) Mikroorganisme/sterilitas. 2) Suhu optimal yaitu 21-380C (70-1000F) mempercepat pembusukan. Berhenti pada suhu 2120F 3) Kelembaban udara yang tinggi mempercepat pembusukan. 4) Sifat medium. Udara : air : tanah = 8 : 2 : 1 (di udara pembusukan paling cepat, di tanah paling lambat). Hukum Casper. b. Dari dalam

11 | P a g e

1) Umur. Bayi yang belum makan apa-apa paling lambat terjadi pembusukan. 2) Konstitusi tubuh. Tubuh gemuk lebih cepat membusuk daripada tubuh kurus. 3) Keadaan saat mati. Udem, infeksi dan sepsis mempercepat pembusukan. Dehidrasi memperlambat pembusukan. 4) Seks. Wanita baru melahirkan (uterus post partum) lebih cepat mengalami pembusukan. 8. Identifikasi umum Tanda umum yang menunjukkan identitas mayat seperti jenis kelamin/bangsa/ras/ umur/warna kulit/status gizi/berat badan/panjang atau tinggi badan/zakar disirkumsisi atau tidak/striae albicans ada atau tidak

9.Identifikasi khusus Rajah/tattoo : letak,bentuk,warna,tulisan dan dokumentasi foto Jaringan parut : disebabkan penyembuhan luka atau bekas luka operasi Callus Kelainan kulit Anomali dan cacat pada tubuh

10. Pemeriksaan rambut Distribusi/warna/keadaan rambut/sifat rambut

11. Pemeriksaan mata Kelopak mata terbuka/tertutup Apakah ada kekerasan pada mata/kelainan Apakah ada pembuluh darah yang melebar/bintik atau bercak perdarahan

12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung Bentuk daun telinga dan hidung Kelainan dan tanda kekerasan yang ditemukan Apakah ada cairan/busa/darah yang keluar

13. Pemeriksaan mulut dan rongga mulut Meliputi bibir,lidah,rongga mulut dan gigi Data gigi yang lengkap Apakah ada sumbatan/benda asing dalam rongga mulut

14. Pemeriksaan alat kelamin Apakah ada kelainan atau tanda kekerasan

15. Lain-lain 12 | P a g e

Tanda perbendungan/ikterus/sianosis/edema Bekas pengobatan Bercak kotoran

16. pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan/luka Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya dengan berbagai tindak kekerasan. Berdasarkan kasus korban mempunyai tanda-tanda kekerasan oleh benda tajam. Ada tiga hal yang ciri khas/ hasil dari trauma yaitu : 1. Adanya luka 2. Perdarahan dan atau skar 3. Hambatan dalam fungsi organ Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkanoleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik , atau gigitan hewan atau juga gangguan pada ketahanan jaringan tubuh yang disebabkan oleh kekuatan mekanik eksternal, berupa potongan atau kerusakan jaringan, dapat disebabkan oleh cedera atau operasi. Pemeriksaan terhadap luka : a.Penyebab luka Gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk benda yangmengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk bulat panjang akan meninggalkan negative imprint oleh timbulnya marginal haemorrhage. Luka lecet tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka. b.Arah kekerasan Pada luka lecet geser dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal inisangat membantu dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara. c.Cara terjadinya luka luka akibat kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Bagian tubuh yang biasanya terlindung jarang mendapat luka pada suatu kecelakaan. Daerah terlindung ini misalnya daerah ketiak, sisi depan leher, lipat siku, dan lain-lain. Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh. Pada korban pembunuhan yang sempat mengadakan perlawanan, dapat ditemukan luka tangkis yang biasanya terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak tangan. Pada korban bunuh diri, luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan(tentative wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar. d.Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan oleh kekerasan yang menyebabkan luka harus dapat dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar luka yang terjadi semasa korban masih hidup (luka intravital) perhatikan tanda intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka

13 | P a g e

tanda intravitalitas : ditemukannya resapan darah, proses penyembuhan luka,sebukan sel radang, pemeriksaan histo-enzimatik, pemeriksaan kadar histamin bebas dan serotonin jaringan Gambaran umum luka yang diakibatkan oleh benda tajam seperti : 1 Tepi dan dinding luka yang rata Berbentuk garis Tiada jembatan jaringan Dasar luka berbentuk garis/titik Kedua sudut luka lancip Kedalaman luka tidak melebihi panjang luka Satu sudut luka lancip,satu lagi tumpul (benda tajam bermata satu) Kedua sudut luka lancip (benda tajam bermata dua) Tabel 1 : Perbedaan pada trauma tajam dan tumpul 4 Pembeda bentuk luka Tepi luka jembatan jaringan folikel rambut terpotong dasar luka sekitar luka Tajam Teratur Rata tidak ada ya/tidak garis/titik bersih Tumpul tidak tidak rata ada/tidak Tidak tidak teratur bisa lecet/memar

Tabel 2 : Ciri-ciri luka akibat kekerasan tajam pada kasus pembunuhan,bunuh diri dan kecelakaan 4 Pembunuhan Sembarang Banyak Terkena (+) (-) Mungkin ada Bunuh Diri Terpilih Banyak Tidak (-) (+) (-) Kecelakaan Terpapar >1 Terkena (-) (-) Mungkin ada

Lokasi luka Jumlah luka Pakaian Luka tangkisan Luka percobaan Cedera Sekunder

Kematian akibat pembunuhan menggunakan kekerasan : dapat dilakukan dengan benda tumpul, benda tajam, maupun senjata api. Pembunuhan dengan kekerasan tumpul, luka dapat terdiri dari luka memar, luka lecet maupun luka robek. Perhatikan adanya luka tangkis yang terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah

14 | P a g e

Pembunuhan dengan kekerasan tajam, perhatikan bentuk luka, tepi luka, sudut luka, keadaan sekitar luka serta lokasi luka. Cari kemungkinan terdapatnya lukatangkis di daerah ekstensor lengan bawah serta telapak tangan. Luka biasanya terdapat beberapa buah, distribusi tidak teratur Pembunuhan dengan senjata api, penembakan dapat dilakukan dari berbagai jarak dan luka yang ditemukan dapat merupakan luka tembak masuk jarak dekat,sangat dekat atau jarak jauh dan jarang luka tembak tempel. 17. Pemeriksaan terhadap patah tulang Tentukan letak patah tulang dan sifat/jenis patah tulang tersebut

Perkiraan Saat Kematian 1 Perubahan pada mata : Kekeruhan menyeluruh pada kornea terjadi kira-kira 10-12 jam pasca mati Perubahan dalam lambung : Pengosongan lambung yang terjadi dalam 3-5 jam setelah makan terakhir, misalnya sandwich akan dicerna dalam waktu 1 jam sedangkan makan besar membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna. Kecepatan pengosongan lambung ini dipengaruhi oleh penyakit-penyakit saluran cerna, konsistensi makanan dan kandungan lemaknya. Perubahan rambut : Panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian, kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari Pertumbuhan kuku : Pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1 mm/hari Perubahan dalam cairan serebrospinal : Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, Kadar nitrogen non protein kurang 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam Metode Entomologik : Larva Musca domestica mencapai panjang 8 mm pada hari ke-7, berubah menjadi kepompong pada hari ke-8, menjadi lalat pada hari ke-14. Larva Sarcophaga cranaria mencapai panjang 20 mm pada hari ke-9, menjadi kepompong pada hari ke-10 dan menjadi lalat pada hari ke-18. Necrophagus species akan memakan jaringan tubuh jenazah. Sedangkan predator dan parasit akan memakan serangga Necrophagus. Omnivorus species akan memakan keduanya baik jaringan tubuh maupun serangga. Telur lalat biasanya akan mulai ditemukan pada jenazah sesudah 1-2 hari postmortem. Larva ditemukan pada 6-10 hari postmortem. Sedangkan larva dewasa yang akan berubah menjadi pupa ditemukan pada 12-18 hari. Reaksi supravital : Reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Rangsang listrik dapat menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati, mengakibatkan sekresi kelenjar sampai 60-90 menit pasca mati, trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati

15 | P a g e

Dalam hal pemeriksaan terhadap luka-luka pada korban kita harus hati-hati sekali berhubungan karena keterangan yang jelas akan dapat membantu kalangan penyidik dan penegak hukum lainnya untuk mengungkapkan keadaan sebenarnya. Oleh karena itu di dalam pemeriksaan korban kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 3,5,6 1. Jumlah luka 2. Lokalisasi luka 3. Arah luka 4. Ukuran luka (panjang, lebar, dalamnya). 5. Bersih dan kotornya luka 6. Luka baru atau luka lama 7. Luka antemortem atau post mortem 8. Sifat luka dan bentuknya 9. Letak dan posisi senjata 10. Adanya darah atau benda asing pada senjata 11. Letak dan sifat darah pada korban dan pada pakaian serta situasi tempat sekitar kejadian 12. Tanda perlawanan yang dapat dilihat dari pakaian ataupun tubuh dan situasi tempat kejadian Mengenai lokalisasi harus disebut sehubungan dengan daerah-daerah yang berdekatan misalnya terhadap garis tengah tubuh, pusat, papila mamae, dan lain-lain. Pemeriksaan lebih dalam harus dilakukan untuk mengetahui apakah organ-organ dalam ikut tertusuk atau tidak dan harus dicatat jumlah darah yang terdapat di dalam rongga-rongga tubuh. Ukuran yang tepat (dalam sentimeter) harus ditentukan dan tidak boleh ukuran kira-kira saja. v. Visum et Repertum 1,3,6,8 Permintaan Keterangan Ahli oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis, dan hal ini secara tegas telah diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (2), terutama untuk korban mati. Jenasah harus diperlakukan dengan baik, diberi label identitas dan penyidik wajib memberitahukan dan menjelaskan kepada keluarga korban mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan . Mereka yang menghalangi pemeriksaan jenasah untuk kepentingan pengadilan diancam hukuman sesuai dengan pasal 222 KUHP, yaitu Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.1 Penggunaan keterangan ahli dalam hal ini Visum Et Repertum adalah untuk keperluan pengadilan. Oleh karena itu, Keterangan Ahli ini hanya boleh diberikan kepada penyidik (instansi) yang memintanya. Keluarga korban atau pengacaranya dan pembela tersangka pelaku pidana tidak dapat meminta keterangan ahli langsung kepada dokter pemeriksa, melainkan harus melalui aparat peradilan (penyidik, jaksa atau hakim). Maksud pembuatan VeR adalah sebagai salah satu barang bukti (corpus delicti) yang sah di pengadilan karena barang buktinya sendiri telah berubah pada saat persidangan berlangsung. Jadi VeR merupakan barang bukti yang sah karena termasuk surat sah sesuai dengan KUHP pasal 184.

16 | P a g e

Ada 5 barang bukti yang sah menurut KUHP pasal 184, yaitu: 1.Keterangan saksi 2.Keterangan ahli 3.Keterangan terdakwa 4.Surat-surat 5.Petunjuk Ada 3 tujuan pembuatan VeR, yaitu: 1.Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim 2.Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat 3.Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat kesimpulan VeR yang lebih baru Ada beberapa jenis VeR yaitu : 1. Visum et Repertum perlukaan (termasuk keracunan) 2. Visum et Repertum kejahatan susila 3. Visum et Repertum jenazah 4. Visum et Repertum psikiatrik Jenazah yang diminta VeR harus diberi label yang memuat identitas mayat,di-lak dengan diberi cap jabatan,diikat pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lain. Menurut KUHP pasal 133, pada surat permintaan VeR harus tertulis dengan jelas jenis pemeriksaan yang diminta, apakah pemeriksaan luar jenasah atau pemeriksaan bedah mayat. Autopsi dilakukan setelah penyidik memberitahu keluarga korban dan menerangkan maksud dan tujuan pemeriksaan. Menurut KUHP pasal 134, autopsi diteruskan setelah ahli keluarga member keizinan atau setelah 2 hari tidak ada tanggapan apa pun dari keluarga korban. Jenasah hanya bisa dibawa pulang dan diberi surat keterangan kematian setelah semua pemeriksaan yang diminta oleh penyidik telah dilakukan. Dari pemeriksaan dapat disimpulkan sebab kematian korban, jenis luka, jenis kekerasan penyebabnya dan waktu kematian. vi. Tinjauan kasus Interpretasi peristiwa dan hasil berdasarkan kasus : 1. Mayat laki-laki yang dijumpai telah mulai membusuk dan mati dalam keadaan tertelungkup di sungai penuh batu-batuan dan bagian bawah celana panjang yang digulung hingga setengah tungkai bawah. Pembusukan mulai tampak 24 jam pasca kematianberupa warna kehijauan pada perut kanan bawah disebabkan terbentuknya sulf-met-Hb. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh tubuh dan bau busuk akan tercium. Turut diperhatikan keadaan sekitar TKP yang mungkin mempengaruhi proses pembusukan menjadi lebih cepat.

17 | P a g e

Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata yaitu 36-48 jam pasca mati. Dengan mengidentifikasi spesies lalat dan panjang larvanya maka dapat diketahui usia larva tersebut yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian korban. Korban mati dalam keadaan tertelungkup maka harus dipastikan apakah kepalanya terbenam di dalam air atau tidak walaupun pada saat dijumpai sungai dalam keadaan kering. Bawah celana yang digulung harus dicurigai bahwa sebelumnya sungai ini tidak kering dan si korban berencana untuk menyeberangi sungai atau mungkin juga digulung oleh pembunuh untuk mengelirukan penyidik.

2. Lehernya terikat dengan lengan baju miliknya sendiri dan ujung lengan baju yang lain terikat ke pohon perdu setinggi 60cm. Posisi tubuh saat ditemui relative mendatar. Korban ditemui memakai kaos oblong sahaja, dan dengan kaos luar yang dipakai digunakan untuk mengikat lehernya. Dengan ketinggian pohon yang rendah dan posisi tubuh yang mendatar, dapat disangkal bahwa korban mati karena bunuh diri. Pemeriksaan dalam harus mendapatkan hasil kematian bukanlah disebabkan asfiksia mekanik untuk menyangkal dugaan bunuh diri.

3. Ada satu luka terbuka ditemui di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri sesuai kekerasan akibat benda tajam. Luka terbuka di daerah ketiak kiri menunjukkan pembuluh darah yang putus,maka kemungkinan pembuluh darah yang putus adalah pembuluh darah besar yang menyebabkan korban meninggal karena perdarahan yang massif. Luka terbuka di daerah tungkai bawah kiri dan kanan menunjukkan kemungkinan korban cuba untuk melepaskan diri dan menggunakan kaki untuk menyerang pembunuhnya memandangkan tangan dan leher terikat atau mungkin juga luka karena terkena batu-batuan di sungai. Pada pemeriksaan dilihat bagaimana dengan tepi luka,dinding luka,kedalaman dan sudut luka. Dipastikan apakah luka pada tungkai adalah luka tangkis akibat perkelahian atau tidak,dan apakah luka di daerah ketiak bersifat fatal dan tunggal

18 | P a g e

Contoh Visum et Repertum 8 PRO JUSTITIA

VISUM ET REPERTUM No: 01 / VRJ / II/ 2011 Atas permintaan tertulis dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Tengah Resor Kota Besar Semarang, melalui suratnya tanggal 4 Juni 2011, Nomor Polisi : R/80/VER/II/2011/RESKRIM , yang ditandatangani oleh Ferdy Sandra, SH, MH, pangkat AKP, NRP. 74120041, dan diterima tanggal 5 Juni 2011, pukul 03:20 WIB, maka dengan ini saya dr. X, sebagai dokter yang bekerja pada Rumah Sakit XX, menerangkan bahwa telah dilakukan pemeriksaan luar dan dalam pada tanggal 25 Februari 2011 pukul 03:45 WIB di Instalasi Kedokteran Forensik dan Kamar Jenazah Rumah Sakit XX, atas jenazah, yang berdasarkan surat permintaan tersebut di atas nama Daniel, umur 24 tahun, jenis kelamin laki-laki, pekerjaan sebelum meninggal dunia Mahasiswa, alamat Jalan Kuburan 4 no.2 RT 004 RW 002, Meruya Selatan, Jakarta Barat. Jenazah tersebut ditemukan di Jalan Melanglang Buana, Semarang, diduga meninggal dunia akibat pembunuhan.

HASIL PEMERIKSAAN : Dari pemeriksaan luar dan dalam atas tubuh jenazah tersebut diatas ditemukan fakta-fakta sebagai berikut: A. FAKTA YANG BERKAITAN DENGAN IDENTITAS JENAZAH : 1. Identitas Umum Jenazah : a. Jenis kelamin : Laki-laki. b. Umur : Kurang lebih dua puluh lima tahun c. Berat badan : Tujuh puluh koma lima kilogram. d. Panjang badan : Seratus tujuh puluh delapan sentimeter. e. Warna kulit : Putih f. Ciri rambut : Warna hitam, lurus, pendek g. Keadaan gizi : Gizi cukup, indeks masa tubuh dua puluh dua koma nol sembilan 2. Identitas Khusus Jenazah :

a. b. c. d.

Tato Jaringan parut Tahi lalat Tanda lahir

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada 19 | P a g e

e. Cacat fisik : Tidak ada f. Penutup jenazah : kain berwarna putih berbahan katun tanpa merk g. Pakaian : kaos oblong berwarna putih. Terdapat bercak darah pada ketiak kiri.
Celana panjang bahan berwarna abu-abu, dengan kantong empat buah di paha atas kanan dan kiri, serta di kanan dan kiri bokong, keempat kantong tidak ada isinya dan digulung setinggi tungkai bawah. h. Benda disamping jenazah : - Kemeja berwarna ungu muda dengan motif kotak-kotak merk "Polo. Perhiasan : terdapat sebuah jam tangan merk ellesse yang terpasang pada pergelangan tangan kiri B. FAKTA YANG BERKAITAN DENGAN WAKTU TERJADINYA KEMATIAN : 1. Lebam mayat : 2. Kaku mayat : 3. Pembusukan : Ada.

C . FAKTA DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN LUAR: 1. Permukaan kulit tubuh : a. Kepala: Daerah berambut : tiada kelainan Wajah: b. Leher : Bekas jeratan yang samar c. Bahu : Bahu kanan : Tidak ada kelainan Bahu kiri : Tidak ada kelainan d. Dada : Tidak ada kelainan e. Punggung : Tidak ada kelainan g. Bokong : Tidak ada kelainan h. Dubur : - Lingkar dubur : Tidak ada kelainan - Liang dubur : Tidak ada kelainan i. Anggota gerak - Anggota gerak atas : o Kanan : Tidak ada kelainan. o Kiri : luka terbuka bawah ketiak dengan diameter 2cm,kedalaman 3cm - Anggota gerak bawah : o Kanan : luka-luka kecil 1cm x 2cm 20 | P a g e

Kiri : luka-luka kecil 1cm x 2cm

2. Bagian tubuh tertentu a. Mata : o Alis mata : Warna hitam, tidak ada kelainan. o Bulu mata : Warna hitam, tidak ada kelainan. o Kelopak mata : Tidak ada kelainan o Selaput kelopak mata : Tidak ada kelainan o Selaput biji mata : Tidak ada kelainan o Selaput bening mata : Tidak ada kelainan o Pupil mata : Bentuk bulat, ukuran garis tengah nol koma enam sentimeter, kanan dan kiri sama. o Pelangi mata : Warna hitam b. Hidung : o Bentuk hidung : Tidak ada kelainan o Permukaan kulit hidung : Tidak ada kelainan. o Lubang hidung : Tidak ada kelainan c. Telinga : o Bentuk telinga : Tidak ada kelainan. o Permukaan daun telinga : Tidak ada kelainan. o Lubang telinga : Tidak ada kelainan d. Mulut : o Bibir atas : Tidak ada kelainan. o Bibir bawah : Tidak ada kelainan. o Selaput lendir mulut : Tidak ada kelainan. o Lidah : Tidak ada kelainan o Gigi geligi : Gigi rahang atas: Gigi lengkap, gigi seri pertama sebelah kanan patah, geraham belakang ketiga kanan dan kiri sudah tumbuh o Gigi rahang bawah: Gigi lengkap, geraham belakang ketiga kanan dan kiri sudah tumbuh o Langit-langit mulut : tidak ada kelainan f. Alat kelamin :Laki-laki o Pelir : Belum disunat. Tidak ada kelainan o Kantung buah pelir : Tidak ada kelainan o Lain-lain : Tidak ada kelainan. 2. Tulang - Tulang : a. Tulang tengkorak : tiada kelainan b. Tulang wajah : tiada kelaianan c. Tulang belakang : Tidak ada kelainan d. Tulang-tulang dada : Tidak ada kelainan e. Tulang-tulang punggung :Tidak ada kelainan f. Tulang-tulang panggul : Tidak ada kelainan 21 | P a g e

g. Tulang anggota gerak : Tidak ada kelainan. D . FAKTA DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN DALAM: 1. Kepala bagian dalam : a. Kulit kepala bagian dalam : b. Tulang Tengkorak : c. Selaput keras otak : d. Selaput lunak otak : e. Otak besar : f. Otak kecil : g. Dasar tengkorak : 2. Leher bagian dalam a. Lidah : b. Pada kulit leher bagian dalam : c. Kerongkongan : d. Tulang rawan cincin, tulang pangkal lidah, rawan gondok : 3. Rongga Dada : a. Kulit bagian dalam : b. Otot dinding dada : c. Tulang dada : d. Tulang-tulang Iga : e. Paru kanan : f. Paru kiri : g. Jantung : 4.Rongga Perut : a. Kulit perut bagian dalam : b. Tirai usus menutupi sebagian besar usus c. Rongga perut : d. Lambung : e. Usus : f. Hati : g. Limpa : h. Ginjal kanan : i. Ginjal Kiri : 5. Rongga Panggul : a. Kandung kemih : b. Prostat :

22 | P a g e

KESIMPULAN : Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dari pemeriksaan atas jenazah tersebut, maka saya simpulkan bahwa telah diperiksa jenazah seorang, laki-laki, umur kurang lebih dua puluh lima tahun, warna kulit putih, kesan gizi cukup. Dari hasil pemeriksaan didapatkan bekas luka akibat kekerasan benda tajam. Berupa sebuah luka terbuka di bawah ketiak kiri dengan diamater 2cm dan kedalaman luka 3cm. Terdapat tanda- tanda perdarahan yang masif. Sebab kematian adalah luka terbuka akibat kekerasan benda tajam yang menyebabkan perdarahan masif.

PENUTUP : Demikianlah keterangan tertulis ini saya buat dengan sesungguhnya, dengan mengingat sumpah sewaktu menerima jabatan sebagai dokter.

Semarang, 5 Juni 2011 Dokter Yang Memeriksa,

dr. X.

23 | P a g e

KESIMPULAN
Traumatologi forensik adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan pengertian luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. Trauma dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat dan penyebab kecederaan (trauma), etiologi luka, derajat kualifikasi luka, bentuk luka, waktu kematian terjadinya luka, dan aspek medikolegal luka. Visum et repertum merupakan salah satu bentuk bantuan dokter dalam penegakan hukum dan proses peradilan. Visum et repertum merupakan alat bukti yang sah dalam proses peradilan sehingga harus memenuhi hal-hal yang disyaratkan dalam sistem peradilan. Sebuah VeR yang baik harus mampu membuat terang perkara tindak pidana yang terjadi dengan melibatkan bukti-bukti forensik yang cukup. Penentuan derajat atau kualifikasi luka memegang peranan penting bagi hakim dalam menentukan beratnya sanksi pidana yang harus dijatuhkan sesuai dengan rasa keadilan. Bagi praktisi kesehatan diharapkan agar dapat mengupayakan prosedur pembuatan VeR khususnya VeR perlukaan yang memenuhi standar karena memiliki dampak yuridis yang luas dan dapat menentukan nasib seseorang.

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik FKUI, 1997; Hal . 1-54. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran, Bagian Kedokteran Forensik FKUI ;1994; hal. 1-25. Yandi, Fahriza,Riana,Elly. Buku roman forensic,Identifikasi Forensik, Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Lambung Mangkurat ; Juli-Agustus 2009;hal. 15-22. Yandi, Fahriza,Riana,Elly. Buku roman forensic, Traumatologi, Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Lambung Mangkurat ; Juli-Agustus 2009;hal. 6680. Teknik autopsi forensic, Bagian Kedokteran Forensik FKUI, 2000; hal.12-44 Syaulia Andirezek. Romans forensic, Edisi 20. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Indonesia. Pedoman teknik pemeriksaan dan interpretasi luka dengan orientasi medikolegal atas kecederaan. Jakarta, 2005. Afandi D. Visum et repertum perlukaan :aspek medikolegal dan penentuan derajat luka, Bagian Kedokteran Forensik FK Universitas Riau, Maj Kedokt Indon, Volum: 60, Nomor: 4 April 2010.

4.

5. 6. 7.

8.

24 | P a g e