Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA III

DEGRADASI FOTOKATALISIS LIMBAH ZAT WARNA DALAM PELARUT AIR MENGGUNAKAN FOTOKATALIS OKSIDA LOGAM

(K3-3)

DISUSUN OLEH : Nama NIM Jurusan Asisten Tanggal :Aristo Tyas Pratama : 07/252976/PA/11480 : Kimia : Wuri Apriyana : 3, 10, dan 17 Desember 2009

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2009

I. TUJUAN PERCOBAAN Kompetensi yang diharapkan: 1. Memahami prinsip degradasi fotokatalisis menggunakan bahan semikonduktor. 2. Memahami penentuan efisiensi proses degradasi zat warna menggunakan fotokatalis oksida logam. 3. Memahami efektivitas degradasi fotokatalisis zat warna menggunakan oksida logam. 4. Pemahaman kesadaran lingkungan dan alternatif pengolahan limbah yang bersifat ramah lingkungan dan tidak mahal. Keterampilan yang diharapkan: 1. Menguasai teknologi fotokatalis beserta penerapannya. 2. Mampu membuat desain penelitian fotokatalis. 3. Mampu mengoperasikan dan menganalisis data hasil analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis.

II. DASAR TEORI 1. Fotokatalisis Fotokatalis adalah reaksi yang melibatkan cahaya ( fotoreaksi) dan mengalami peningkatan kecepatan reaksi akibat adanya katalis yang mengabsorbsi energi cahaya ultraviolet (UV) sehingga menghasilkan senyawa pereduksi dan pengoksidasi pada permukaan katalis. Proses diatas didasarkan pada kemampuan ganda suatu material semikonduktor (misalnya TiO2, ZnO, Fe2O3, CdS, ZnS) untuk menyerap foton dan melakukan reaksi transformasi antar muka material secara simultan. Dengan pencahayaan ultra violet ( l < 405 nm) permukaan TiO2 mempunyai kemampuan menginisiasi reaksi kimiawi. Dalam media air, kebanyakan senyawa organik dapat dioksidasi menjadi karbon dioksida dan air, berarti proses tersebut dapat membersihkan air dari pencemar organik. Senyawa-senyawa anorganik seperti sianida dan nitrit yang beracun dapat diubah menjadi senyawa lain yang relatif tidak beracun. Sementara dengan mengelola sisi reduksi proses tersebut, karbon dioksida dapat diubah menjadi alkohol, suatu cara produksi zat organik yang berguna, mirip dengan proses fotosintesa pada tumbuhan.

2. Fotodegradasi Fotodegradasi adalah proses peruraian suatu senyawa (biasanya senyawa organik) dengan bantuan energi foton. Proses fotodegradasi memerlukan suatu fotokatalis, yang umumnya merupakan bahan semikonduktor. Prinsip fotodegradasi adalah adanya loncatan elektron dari pita valensi ke pita konduksi pada logam semikonduktor jika dikenai suatu energi foton. Loncatan elektron ini menyebabkan timbulnya hole (lubang elektron) yang dapat berinteraksi dengan pelarut (air) membentuk radikal OH. Radikal bersifat aktif dan dapat berlanjut untuk menguraikan senyawa organik target. Diantara beberapa logam fotokatalis, oksida Ti dilaporkan memiliki aktivitas yang cukup besar dan efektif selain murah dan non toksik. Dalam reaksi fotokatalis dengan TiO2 dalam bentuk kristal anatase TiO2 dilaporkan sebagai komponen aktif sedangkan dalam bentuk rutile kurang menunjukkan aktifitasnya. TiO2 dengan bentuk kristal anatase dan rutile jika dikenai suatu sinar UV dengan < 385 nm untuk anatase dan = 405 nm untuk rutile, akan menghasilkan spesies ditunjukkan H+ pada permukaannya. Oleh karenanya TiO2 mampu mengoksidasi spesies kimia yang mempunyai potensi redoks yang lebih kecil. Pengurangan ukuran kristal berguna untuk menekan rekombinasi fotoeksitasi electron (e-) dan lubang (H+) (Fatimah, 2005).
3. TiO2

TiO2 merupakan kristal yang berwarna putih dengan indek bias sangat tinggi dan titik lebur 1855C. TiO2 memiliki struktur semikonduktor yaitu struktur elektronik yang dikarakterisasi oleh adanya dua macam pita tingkatan energi elektronik (pita valensi dan pita konduksi ). Jarak antara dua pita sering disebut sebagai band gap energy (Eg). TiO2 mempunyai tiga bentuk kristal :

Gambar 1. Struktur kristal TiO2.

Beberapa faktor akan mempengaruhi aktivitas fotokatalis TiO2, salah satu yang terpenting adalah bentuk kristalnya. Untuk kepentingan pengolahan limbah, dispersi TiO2 pada pengemban berpori (mesoporous material) memberikan keuntungan lebih khususnya secara ekonomis. Aktivitas TiO2 montmorillonit dapat dimanfaatkan untuk fotodegradasi zat warna dan pada fotodegradasi senyawa organik dari limbah cair industri tekstil. Fotokatalisis merupakan suatu proses yang dibantu oleh adanya cahaya dan material katalis. Dengan pencahayaan ultra violet ( < 405 nm) permukaan TiO2 mempunyai kemampuan menginisiasi reaksi kimiawi. Dalam media air, kebanyakan senyawa organik dapat dioksidasi menjadi karbon dioksida dan air, berarti proses tersebut dapat membersihkan air dari pencemar organik. Senyawa-senyawa anorganik seperti sianida dan nitrit yang beracun dapat diubah menjadi senyawa lain yang relatif tidak beracun. Sementara dengan mengelola sisi reduksi proses tersebut, karbon dioksida dapat diubah menjadi alkohol, suatu cara produksi zat organik yang berguna, mirip dengan proses fotosintesa pada tumbuhan. Penyinaran permukaan TiO2 (bersifat semikonduktor) menghasilkan pasangan elektron dan hole positif pada permukaannya juga menjadikan permukaan tersebut bersifat polar dan/atau hidrofilik (suka akan air) dan kemudian berubah lagi menjadi nonpolar dan/atau hidrofobik (tidak suka air) setelah beberapa lama tidak mendapatkan penyinaran lagi. Sifat hidrofilik dan hidrofobik, salah satunya, ditandai dengan ukuran sudut kontak butiran air pada permukaan lapisan tipis TiO2 tersebut, yaitu sedikit lebih besar dari 50 derajat pada saat sebelum disinari kemudian berubah menjadi mendekati 0 derajat setelah disinari. Material dengan sudut kontak sekecil itu akan sangat hidrofilik (superhidrofilik). Manfaat dari superhidrofilisitas permukaan adalah kotoran yang bersifat suka air pada setiap bagian permukaan akan terbawa saat air mengalir di atas permukaan tersebut. Sementara kotoran yang tidak suka air (minyak) yang berarti nonpolar atau hidrofobik akan tergelincir saat berada pada permukaan yang sangat hidrofilik. Sebagai tambahan kotoran nonpolar (kebanyakan zat organik) yang tertinggal di permukaan lapisan tipis TiO2 secara pelahan akan hancur, dipecah menjadi, karbon dioksida dan air akibat proses fotokatalisis (Gunlazuar, 2003). 4. Metilen Blue

Metil biru merupakan pewarna thiazine yang kerap digunakan sebagai bakterisida dan fungsida pada akuarium. Di beberapa tempat penggunaan bahan ini sudah semakin tidak populer karena diketahui mempunyai pengaruh buruk terhadap filtrasi biologi dan kemampuan warnanya untuk melekat pada kulit, pakaian, dekorasi akuarium dan peralatan lainnya termasuk lem akuarium. Diduga bahan inipun dapat berakibat buruk pada tanaman. Metilen blue merupakan senyawa aromatis heterosiklik dengan rumus molekul C16H18N3SCl. Pada suhu kamar berupa padatan hijau gelap, yang jika dilarutkan dalam air akan menjadi larutan berwarna biru. Larutan metilen blue dapat memberikan warna biru apabila berada pada lingkungan dengan tingkat oksidasi yang tinggi.

Gambar 2. Struktur kimia metilen blue. 5. Spektrofotometer UV Visible Spektrofotometer sinar tampak dan Ultraviolet ( UV-Vis) merupakan suatu alat yang melibatkan spectra energi dan spektrofotometri.. Sinar merupakan salah satu kriteria untuk mengidentifikasi suatu objek. Pada analisis spektrokimia, spektrum radiasi elektromagnetik digunakan untuk menganalisis spesies kimia dan menelaah interaksinya dengan radiasi elektromagnetik. Persamaan Planck menunjukkan bahwa E = hv, dimana E adalah energi foton, v, frekuensinya, sedangkan h adalah tetapan Planck (6,624 x 10-27 erg detik). Suatu foton memiliki energi tertentu dan dapat menyebabkan transisi tingkat energi suatu atom atau suatu molekul. Karena spesies kimia mempunyai tingkat energi yang berbeda-beda, maka transisi perubahan energinya juga berbeda. Berarti suatu spektrum yang diperoleh dengan memplot beberapa fungsi frekuensi terhadap frekuensi radiasi elektromagnetik adalah khas untuk spesies kimia tertentu dan berguna untuk identifikasi. Prinsip dasar analisis spektrometri yaitu larutan sampel menyerap radiasi elektromagnetik dan jumlah intensitas radiasi yang diserap oleh larutan sampel dihubungkan dengan konsentrasi analit dalam sampel. Komponen-komponen pokok yang ada pada spektrofotometri meliputi sumber radiasi, monokromator, tempat cuplikan, detektor dan pencatat hasil.

Analisis dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis ini menggunakan energi cahaya dalam range antara energi sinar tampak yang mendekati energi sinar UV. Sumber sinar UV dapat berasal dari lampu fluoresence, lampu uap merkuri, dengan lampu yang didesain untuk mereduksi sinar tampak dan menyamai spektrum ultraviolet.

Gambar 3. Spektra sinar UV-Vis Energi pada gelombang sinar UV-Vis menyebabkan suatu elektron mengalami transisi ke tingkat energi yang lebih tinggi. Alat ini dapat digunakan untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif. Secara kualitatif, spesies kimia akan memberikan serapan pada panjang gelombang yang spesifik, sedangkan analisis kuantitatif dapat dihitung dengan menggunakan hukum Lambert-Beer, yang menyatakan bahwa absorbansi akan sebanding dengan konsentrasi.

Dimana A adalah absorbansi yang terukur, I0 adalah intensitas cahaya yang masuk pada panjang gelombang ditentukan, I adalahIntensitas sinar yang dipancarkan, L panjang wadah sample, dan c konsentrasi spesies. Spektrofotometer UV-Vis mengukur kuat cahaya melewati suatu sampel ( I), dan sebagai pembandingnya adalah kuat cahaya sebelum melewati sampel ( Io). Perbandingan I / Io disebut transmitansi dan pada umumnya dinyatakan sebagai persentase (% T). Absorbansi, A, didasarkan pada transmitans itu: A = log(%T)

Gambar 4. Diagram of a single-beam UV/vis spectrophotometer.

III. ALAT DAN BAHAN

1. Alat : peralatan gelas, lemari UV atau sinar matahari, spektrofotometer UV-Vis, sentrifuse, magnetic stirrer.
2. Bahan : TiO2, sinar matahari atau UV, metilen blue, akuades.

IV. CARA KERJA

1. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimal Metilen Blue. Dibuat larutan metilen blue dengan konsentrasi 3 ppm. Larutan tersebut kemudian ditentukan absorbansi maksimumnya menggunakan spektrofotometer UVVis dengan range panjang gelombang 550-700 nm.
2. Penentuan kurva standar absorbansi.

Disiapkan larutan metilen blue dengan konsentrasi 1-5 ppm masing-masing 10 ml. Kelima larutan dengan berbeda konsentrasi tersebut kemudian di analisis absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada maksimal yang didapat pada langkah 1. Dari data kemudian dibuat kurva absorbansi vs konsentrasi. 3. Penentuan degradasi metilen blue dengan variasi konsentrasi metilen blue. Sebanyak 0,05 gr TiO2 masing-masing ditambahkan kedalam 50 ml larutan metilen blue dengan konsentrasi 3, 4, 5, dan 6 ppm. Keempat campuran kemudian disinari dengan menggunakan UV pada lemari UV sambil diaduk menggunakan

magnetic stirrer selama 2 jam. Setelah 2 jam berlalu, keempat campuran dipisahkan berdasarkan fasanya menggunakan sentrifuse. Cairan dari keempat campuran dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada maksimal. Hitung % degradasi dari setiap variasi konsentrasi.
4. Penentuan degradasi metilen blue dengan variasi berat TiO2.

Disiapkan 6 buah larutan metilen blue dengan konsentrasi % degradasi maksimal yang diperoleh dari langkah 4 masing-masing sebanyak 50 ml. kedalam setiap larutan ditambahkan TiO2 dengan berat bervariasi dari 0,01 0,06 gr. Campuran kemudian disinari dengan menggunakan UV pada lemari UV sambil diaduk menggunakan magnetic stirrer selama 2 jam. Setelah 2 jam berlalu, keempat campuran dipisahkan berdasarkan fasanya menggunakan sentrifuse. Cairan dari keempat campuran dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada maksimal. Hitung % degradasi dari setiap variasi berat TiO2.

V. HASIL PERCOBAAN 1. Penentuan Serapan Maksimal Metilen Blue Data hasil analisis dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1. Data absorbansi metiln blue.
(nm) 550 555 560 565 570 575 580 585 590 595 A 0,03 0,033 0,038 0,044 0,051 0,06 0,067 0,078 0,091 0,102 (nm) 600 605 610 615 620 625 630 635 640 645 A 0,118 0,129 0,139 0,143 0,147 0,151 0,161 0,174 0,188 0,212 (nm) 650 655 660 665 670 675 680 685 690 695 700 A 0,231 0,25 0,269 0,273 0,264 0,227 0,173 0,123 0,089 0,057 0,041

Gambar 5. Kurva absorbansi vs .


2. Penentuan kurva standar absorbansi

Tabel 2. Data absorbansi larutan metilen blue standar.


konsentr asi 1 2 3 4 5 A 0,179 0,351 0,535 0,695 0,928

Gambar 6. Kurva absorbansi standar. 3. Penentuan degradasi metilen blue dengan variasi konsentrasi metilen blue. Tabel 3. Data degradasi metilen blue.
Konsentr asi awal 3 4 5 6 Absorba nsi 0,076 0,205 0,245 0,402 Konsentr asi sisa 0,495 1,196 1,413 2,266 % terfotodegra dasi 83,51 70,11 71,74 62,23

Gambar 7. Kurva hubungan % terfotokatalisis vs Konsentrasi.


4. Penentuan degradasi metilen blue dengan variasi berat TiO2

Tabel 4. Data degradasi metilen blue.


berat TiO2 (gr) 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 Konse ntrasi awal (ppm) 3 3 3 3 3 3 Konse ntrasi sisa 0.707 0.652 0.772 0.745 0.663 0.848 % terfotode gradasi 76.45 78.26 74.28 75.18 77.90 71.74

Absor bansi 0,115 0,105 0,127 0,122 0,107 0,141

Gambar 8. Kurva % terfotodegradasi vs berat TiO2.

VI. PEMBAHASAN

Telah dilakukan percobaan K3-3 dengan judul Degradasi Fotokatalisis Limbah Zat Warna Dalam Pelarut Air Menggunakan Fotokatalis Oksida Logam. Limbah zat warna yang digunakan pada percobaan ini adalah metilen blue. Metilen blue adalah sejenis pewarna yang digunakan untuk pewarnaan tekstil dan sangat berbahaya bagi manusia. Limbah zat warna yang merupakan hasil samping pengolahan tekstil jika masuk ke lingkungan dapat menyebabkan dampak yang berbahaya. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut dibutuhkan cara yang mudah dan murah tapi efektif untuk mendegradasi zat warna yang ada di lingkungan. Dari berbagai macam penelitian mengenai degradasi zat warna, terdapat cara yang cukup efektif yaitu dengan metode fotodegradasi dengan menggunakan fotokatalis TiO2. Proses ini terjadi dengan memanfaatkan energi matahari sehingga cukup praktis. Pada percobaan ini digunakan dua jenis variasi, yaitu variasi konsentrasi metilen blue, dan variasi berat TiO2. Percobaan ini diawali dengan menentukan panjang gelombang () dimana terjadi absorbansi maksimum pada metilen blue. Dari percobaan yang telah dilakukan didapat bahwa maks untuk metilen blue adalah sebesar 665 nm, maksudnya adalah pada panjang gelombang sebesar 665 nm ini metilen blue dapat menyerap sinar secara optimal, atau sebesar 665 nm dapat diadsorb secara optimal oleh metilen blue. Dengan mengetahui maks ini, nantinya akan berguna untuk mengidentifikasi metilen blue yang telah terfotodegradasi. Pada perlakuan pertama yaitu dengan variasi konsentrasi metilen blue, digunakan konsentrasi 3, 4, 5, dan 6 ppm. Tujuan dari perlakuan ini adalah untuk mengetahui konsentrasi dimana metilen blue dapat terfotodegradasi secara maksimal. Setiap 50 ml variasi konsentrasi metilen blue diatas ditambahkan dengan 0,05 mg TiO2, kemudian dimasukan kedalam lemari UV agar terjadi proses fotodegradasi. Proses penyinaran dengan UV juga disertai dengan pengadukan keempat campuran, pengadukan ini bertujuan supaya seluruh bagian campuran dapat disinari secara merata, sehingga proses fotodegradasi dapat berlangsung optimal. Setelah penyinaran selama waktu tertentu, campuran disentrifuse untuk memisahkan antara larutan metilen blue dengan TiO2, kemudian diukur absorbansinya menggunakan

spektrofotometer UV-Vis. Pada variasi konsentrasi ini, konsentrasi dimana fotodegradasi terjadi maksimal, seperti terlihat pada gambar 7, adalah 3 ppm. Pada gambar 7 terlihat bahwa % fotodegradasi menurun dengan meningkatnya konsentrasi, hal ini dapat dijelaskan bahwa TiO2 dengan berat yang sama akan menyebabkan degradasi metilen blue dengan jumlah yang sama, misal, TiO2 seberat 0,05 gr akan mendegradasi metilen blue sebesar x ppm. Dengan membandingkan antara konsentrasi terdegradasi dan konsentrasi awal maka akan diketahui bahwa % terfotodegradasi berbanding terbalik dengan konsentrasi awal. % terfotodegradasi = [terfotodegradasi] / [awal] % terfotodegradasi 1 / [awal] Dengan konsentrasi terfotodegradasi yang sama dan konsentrasi awal yang semakin besar, maka % terfotodegradasi akan semakin berkurang. Namun jika kita perhatikan gambar 7, konsentrasi 4 ppm menunjukan penurunan % terfotodegradasi yang drastis dibanding dengan data-data yang lain, hal ini mungkin terjadi karena proses penyinaran yang kurang sempurna, sehingga menyebabkan konsentrasi metilen blue yang terfotodegradasi akan lebih sedikit. Untuk perlakuan ke-2 yaitu variasi berat TiO2, digunakan variasi berat 0,01; 0,02; 0,03; 0,04; 0,05; dan 0,06 gr TiO2. Tujuan dari variasi ini adalah untuk mengetahui berat TiO2 optimal untuk memfotodegradasi metilen blue. Pada perlakuan ini, konsentrasi metilen blue yang digunakan adalah yang memiliki % fotodegradasi terbesar, yaitu 3 ppm. Sama dengan perlakuan pada variasi konsentrasi, keenam larutan metilen blue 3 ppm yang telah ditambahkan TiO2 masing-masing seberat variasi diatas, disinari dengan UV dalam lemari UV sambil disertai dengan pengadukan menggunakan magnetic stirrer. Setelah penyinaran selama waktu tertentu, campuran disentrifuse untuk memisahkan larutan metilen blue dari TiO2, kemudian larutan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pada variasi berat TiO2 ini, hasil percobaannya dapat dilihat pada tabel 4 dan gambar 8. Data pengamatan yang diperoleh cukup fluktuatif, sehingga kita tidak dapat mengambil kesimpulan mengenai pengaruh variasi berat TiO2 dalam fotodegradasi metilen blue. Secara teoritis kita mengetahui bahwa katalis tidak mempengaruhi letak kesetimbangan reaksi, tetapi katalis berfungsi mempercepat tercapainya kesetimbangan. Semakin banyak katalis yang digunakan maka reaksi akan berjalan semakin cepat hingga tercapai kesetimbangan. Pada kasus ini, reaksi akan berlangsung paling cepat pada

penambahan TiO2 sebesar 0,06 gr, sedangkan reaksi yang paling lambat terjadi pada penambahan TiO2 sebesar 0,01 gr. Jika kita menggunakan perbandingan laju reaksi antara setiap penambahan TiO2 dari 0,01 hingga 0,06 gr, pada waktu yang sama maka larutan dengan TiO2 seberat 0,06 gr seharusnya mengalami fotodegradasi yang paling besar. v = [C] / t [C] v Sesuai persamaan di atas, konsentrasi terfotodegradasi akan sebanding dengan laju reaksi, sedangkan laju reaksi akan dipengaruhi oleh jumlah katalis. Sehingga dengan katalis TiO2 yang besar, maka laju fotodegradasi akan semakin cepat, sehingga pada waktu yang sama, maka fotodegradasi akan terjadi lebih banyak dibandingkan reaksi dengan TiO2 yang sedikit. Tetapi pada tabel 4 dan gambar 8, datanya tidak mengikuti teori diatas, hal ini mungkin disebabkan karena pada saat penyinaran pengadukan yang terjadi tidak sempurna, disebabkan karena magnetic stirrer tidak sama dengan jumlah larutan, maka terpaksa menggunakan 1 magnetic stirrer untuk mengaduk dua larutan. Hal ini menyebabkab TiO2 tidak tersebar secara merata dalam larutan sehingga fotodegradasi yang tejadi tidak berlangsung pada setiap bagian larutan. Penyinaran yang sempurna mungkin hanya terjadi pada larutan dengan variasi berat TiO2 0,02 dan 0,05 gr saja, sedangkan larutan yang paling tidak sempurna penyinarannya adalah larutan dengan variasi berat TiO2 0,06 gr. Reaksi fotodegradasi terkatalisis memerlukan empat komponen yaitu: sumber cahaya (foton), senyawa target, oksigen dan Fotokatalis. Proses fotokatalisis menggunakan TiO2 dapat diamati pada skema berikut;

Sesuai dengan skema diatas, dapat diketahui bahwa proses fotodegradasi dengan TiO2 berlangsung dalam 4 tahap. Tahap pertama yaitu TiO2 menerima energi foton dari suatu sinar misalnya lampu UV. Proses fotodegradasi dapat terjadi jika energi foton yang diperoleh lebih besar daripada energi bandgap antara pita valensi dan pita konduksi, jika energinya lebih kecil maka elektron tidak akan mempunyai cukup energi untuk naik ke

pita konduksi. Energi ini mengakibatkan 1 elektron pada pita valensi TiO 2 memiliki energi yang cukup untuk naik ke pita konduksi, dengan naiknya 1 elektron ke pita konduksi, maka terbentuk satu hole pada pita valensi. Kemudian pada tahap berikutnya hole pada pita valensi dan 1 elektron pada pita konduksi akan terjebak pada permukaan TiO2. Hole yang terdapat pada permukaan ini kemudian akan bereaksi dengan OH- yang terbentuk dari dissosiasi air. Reaksi antara hole dan ion hidroksida inikemudian akan membentuk suatu radikal OH yang sangat reaktif, dan dapat bereaksi dengan komponen organik sehingga komponen organik tersebut dapat terdegradasi menjadi suatu senyawa yang lebih kecil, dan tidak berbahaya. Dalam hal ini, metilen blue akan terdegradasi sesuai dengan persamaan reaksi berikut: 2 C16H18N3SCl + 51 O2 2 HCl + 2 H2SO4 + 6 HNO3 + 32 CO2 + 12 H2O Metilen blue akan terdegradasi menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana seperti air, karbon dioksida, asam sulfat, asam nitrat, dan asam klorida dengan perbandingan tertentu sesuai dengan koefisienya. Pada percobaan ini bentuk kristal TiO2 yang digunakan adalah bentuk anatase dan rutile, sedangkan brookite tidak digunakan karen tidak mempunyai aktifitas fotokatalitik disebabkan karena band gap energinya yang sangat besar. TiO2 yang disintesis pada suhu kamar akan menghasilkan bentuk kristal anatase, sedangkan jika dilakukan pemanasan sampai suhu 140C akan membentuk rutile. Bentuk brookite akan terjadi jika pemanasan terus dilakukan hingga mencapai suhu 700C.

VII.KESIMPULAN Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Kemampuaan TiO2 sebagai fotokatalis dalam menyediakan h+ , sistem tersebut

mampu menghasilkan radikal hidroksi sebagai oksidator kuat secara kontinu sesuai dengan sumber fotonnya. 2. Pada variasi konsentrasi, banyaknya zat yang terfotokatalis hampir sama sehingga % terfotokatalis menurun seiring meningkatnya konsentrasi zat warna.
3. Pada variasi berat TiO2, % terfotokatalis tidak dapat ditentukan secara signifikan

karena kekurangtepatan perlakuan.

I. DAFTAR PUSTAKA Basolo, Fried and Ralph G. Pearson, 1967, Mechanisms of Inorganic Reactions, Wiley Eastern Private Ltd, New Delhi Fatimah, 2005, Sintesis TiO2/zeolit Sebagai Fotokatalis pada Pengolahan Limbah Cair Industri Tapioka Secara Adsorpsi-Fotodegradasi, TEKNOIN, Vol. 10, No. 4, 257-267 Gunlazuar, Jarnuzi, 2003, Fotokatalisis pada Permukaan TiO2, http://chem-is-try.org, akses 26 Desember 2009. Khopkar, S.M.2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press, Jakarta, Halaman 199227 Wijaya, Karna, et al, 2006, Utilisasi TiO2-zeolit dan Sinar UV untuk Fotodegradasi Zat Warna Congo Red, Jurnal Berkala MIPA, UGM, Yogyakarta. http://wikipedia.org, Methylen Blue, upload: 21 December 2009 at 12:38, akses 26 Desember 2009 jam 22.00. Zhang, Yao Jun, et al, 2008, Synthesis of TiO2 Nanotubes Coupled with CdS Nanoparticles and Production of Hydrogen by Photocatalytic Water Decomposition, Materials Letters 62 38463848.

II. PENGESAHAN

Mengetahui Asisten

Yogyakarta, 27 Desember 2009 Praktikan

Wuri Apriyana

Aristo Tyas Pratama