Anda di halaman 1dari 10

AKUNTANSI SYARIAH, APA YANG DITAKUTKAN??

Akuntansi Syariah melaju kencang seiring kian pesatnya perkembangan ekonomi syariah di Indonesia, terutama di bidang perbankan, sehingga bisnis perbankan berbasis syariah kini menjadi tren yang patut dibanggakan. Ikatan akuntan Indonesia (IAI) pun sejauh ini telah menerbitkan enam standar terkait dengan akuntansi syariah, PSAK 101 (penyajian dan pengungkapan laporan keuangan entitas syariah), PSAK 102 (murabahah), PSAK 103 (salam), PSAK 104 (istishna), PSAK 105 (mudharabah), dan PSAK 106 (musyarakah). Bisnis syariah dewasa ini mengalami perkembangan yang signifikan dan menjadi tren baru dunia bisnis di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim maupun non muslim Perkembangan ini terutama terjadi di sektor keuangan. Perbankan Syariah dan produk-produknya telah beredar luas di masyarakat, Asuransi Syariah dan Reksadana Syariah juga sudah mulai bermunculan. Perkembangan bisnis syariah ini menuntut standar akuntansi yang sesuai dengan karakteristik bisnis syariah sehingga transparansi dan akuntanbilitas bisnis syariah pun dapat terjamin Namun, sepertinya masih ada sejumput kebimbangan di beberapa kalangan menyikapi perkembangan ekonomi syariah, dan termasuk juga implikasinya terhadap akuntansi syariah. Apa sebenarnya yang melandasi kebimbangan atau bahkan menjadi sebuah ketakutan beberapa kalangan tersebut terhadap ekonomi dan akuntansi syariah? Haruskah perkembangan yang merupakan suatu keniscayaan tersebut disikapi dengan kebimbangan dan atau ketakutan? Apa pula bedanya dengan sistem barat? TEORI DAN KONSEP Dalam perekonomian Syariah seharusnya tercakup pula system akuntansinya. Artikel ini yang disarikan dari suatu telaah ilmiah, berusaha mengantarkan kepada pemahanan tentang bagaimana teori dan konsepkonsep akuntansi Syariah bisa diperoleh. Bagaimana teori akuntansi Islam bisa dikembangkan? Dari pelajaran tentang konstruksi teori-teori akuntansi konvesional ada sejumlah approach yang bisa ditempuh, seperti yang dikategorikan oleh Belkaoui (1992). Belkaoui memilah-milah cara pendekatannya dengan mengkategorikannya menjadi tradisional, regulatory dan yang lain-lainnya. Kategori terakhir ini termasuk cara-cara pendekatan peristiwa (event), perilaku (behavioral), sistem informasi manusia dan prediktif-positif, meski di sana-sini ada ketidakjelasan pokok pikiran akibat tumpang tindihnya kategori-kategori tersebut. Namun pula ada pendekatan induktif-empiris yang diperkenalkan Whittington (1986) yang merupakan upaya untuk mengembangkan suatu teori akuntansi berdasarkan generalisasi fenomena empiris. Pendekatan ini pula yang ditempuh oleh badan-badan akuntansi profesional di Amerika dan Inggris, seperti AICPA dan CCAB, di mana ada berbagai standar yang ditetapkan guna bisa mengatur praktek-praktek akuntansi. Dalam kurun dua dekade terakhir, teori induktif-empiris telah masuk ke dalam teori akunting positif (PAT), di mana para penganjurnya, Watts & Zimmerman (1986), berargumentasi bahwa teori akuntansi haruslah positif. Itu untuk menjelaskan apa, dan membantu memprediksi, peristiwaperistiwa masa mendatang. Bukan berusaha berkhotbah tentang apa yang seharusnya dilakukan. Inilah yang telah mendorong riset pasar modal menjadi mainstream dalam akunting. Namun kemudian pendekatan regulatory mengikuti pula penerapan paradigma keputusan-kegunaan. Kritik tajam terhadap PAT lalu bermunculan (antara lain Christenson, 1983;Tinker & Puxty, 1995). Dari titik pandang Islam, meski tetap harus pula dipertimbangkan cara pengambilan keputusan-keputusan strategisnya, hal

tersebut, pertama, tak bisa menjadi pengganti bagi teori normatif-deduktif karena antara lain suatu situasi positif bisa jadi merupakan penyimpangan dari pemahaman normative tentang Islam, sehingga tak bisa dijadikan landasan bagi pengembangan suatu teori. Lain dari itu, kedua, Islam telah memiliki prinsip-prinsip etika dan perilaku secara abadi, dan dengan demikian approach yang tak mengindahkan prinsip-prinsip tersebut tak akan bisa mewujudkan suatu masyarakat Islam. Point pertama tersebut khususnya benar jika dilihat bukti bahwa sekularitas dipisahkan dari hal-hal keimanan dalam kehidupan Barat, yang dampaknya juga kembali mengenai lingkungan Islam. Prinsip dan kebiasaan-kebiasaan akunting konvesional yang berasal dari approach empiris-deduktif tampak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam (Gambling & Karim, 1991;Khan, 1994a; Adnan & Gaffikin, 1998). Meski begitu, dengan kecenderungan tetap dipraktekkan dan dapat diterima secara umum sekarang, mengakibatkan adanya salah analis sehingga konsep akuntansi konvensional dipandang cocok untuk Islam. Hal sama dapat terjadi jika teori akuntansi Islam dikembangkan melalui pendekatan empiris-deduktif. Dari perspektif Islam, salah satu penggunaan yang mungkin untuk pendekatan positif ialah dalam menentukan konsesus dan kesepakatan atas berbagai tafsir prinsip- prinsip Syariah. Dalam Islam, di mana prinsip tak dinyatakan secara eksplisit dalam Al-Quran dan Sunnah dan lebih didasarkan pada penafsiran, berbagai aturan untuk suatu isu bisa sampai ke tujuannya secara bersamaan. Oleh karenanya Muslim biasanya akan mengambil opini mayoritas orang yang berpengetahuan untuk itu (Jumhur) sebagai yang paling otentik. Dengan begitu, riset positif yang bertujuan menemukan persepsi kaum ulama, sarjana dan mereka yang berilmu lainnya (termasuk para akuntan?) akan sangat berguna dalam membentuk opini mayoritas untuk suatu isu. Dalam pendekatan deduktif, prinsip-prinsip teoritis akuntansi secara logis diperoleh lewat deduksi berbagai asumsi dari aksioma atau prinsip-prinsip awalnya (Whittington, 1986). Pendekatan true income dalam teori akunting merupakan bentuk paling awal approach deduktif. Pendekatan ini berusaha menyelaraskan antara laba akuntansi dengan laba ekonomi yang menjadi pegangan para ekonom, dan dengan begitu sangat bergantung pada teori ekonomi. Namun Gambling dan Karim (1991) berargumentasi bahwa konsep income ekonomi tak bisa diterima dalam perspektif Islam karena hal-hal yang tak bisa diterima itu begitu fundamental bagi teori deduktif Barat. Misalnya, model tingkat ekonomi pengembalian modal (economic rate of return on capital) yang membentuk basis bagi kalkulasi pendapatan di muka dengan asumsi bahwa uang punya nilai waktu, yang dinyatakan Gambling dan Karim sebagai hal yang tak ada dalam Islam. Atas dasar ini, bagian dari teori akunting deduktif yang berlandasan teori ekonomi konvensional tampak bukan sebagai model yang cocok untuk menciptakan teori akuntansi Islam. Gambling dan Karim (1991) menyarankan approach normatif deduktif dalam penetapan standarstandar akunting karena Muslim harus mematuhi Syariah baik dalam aspek sosial maupun ekonomi kehidupan mereka. Pendekatan ini menurut mereka mencakup bagaimana memahami tujuan-tujuan laporan keuangan, rumus-rumus akuntansi dan definisi konsep-konsep prinsip Syariah. Ini akan membentuk dasar bagi kerangka struktural yang akan menjadi rujukan pengembangan prinsip-prinsip akuntansi. Ini adalah metodologi terbaik untuk sampai pada sebuah teori akuntansi Islami, karena prinsip atau aturan manapun yang didapat akan sejalan dengan pandangan serta nilainilai Islam. Lebih jauh, akuntansi teristimewa sangat penting bagi para investor Muslim, katakana misalnya dalam aturan bisnis Mudharabah atau Musharakah, karena larangan riba dalam Islam membuat mereka tak bisa mengharapkan pendapatan pasti dari modal yang telah dikeluarkan, tak pandang bagaimanapun kinerja perusahaan investasinya. Oleh karenanya evaluasi atas hasil investasi mereka tergantung pada konsep akuntansi di luar Islam,

karena tak adanya sumber informasi lain. Karim (1995) menawarkan dua metode di mana akuntansi Islami akan bisa tercapai. Pertama, tetapkan sasaran-sasaran berlandasan pada prinsipprinsip Islam dan ajaran-ajaran Islam. Pertimbangkan sasaran-sasaran tersebut dan bandingkan dengan pemikiran-pemikiran akuntansi kontemporer yang ada. Kedua, mulai dengan sasaransasaran yang ada dalam pemikiran akuntansi kontemporer, kemudian bandingkan dengan Syariah, lalu terima yang sejalan dengan Syariah dan tinggalkan yang tidak sejalan. Lalu, kembangkan hasil-hasil unik yang menjadi temuannya. AAOIFI (Accounting and Auditing Organization of Islamic Financial Institutions) sejak 1996 menerapkan cara pendekatan yang kedua tersebut. Lembaga ini berpendapat bahwa cara itu konsisten dengan prinsip-prinsip Islam lebih luas bahwa suatu pandangan tak selalu memerlukan konsep yang mesti diambil dari Syariah. Ditegaskan, cara pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip hukum Islam tentang hal-hal yang diperbolehkan (ibaha, permissibility) bahwa segala sesuatu diizinkan kecuali untuk hal-hal yang jelas dilarang Syariah. Dengan demikian, konsep informasi akuntansi berguna, seperti relevansi dan reliabilitas, bisa begitu saja dimasukkan dalam praktek akuntansi Islami oleh AAOIFI. Salah satu faktor kunci yang membedakan institusi-institusi keuangan Islam ialah perlunya mereka memperlihatkan kepatuhan (compliance) terhadap Syariah dalam segala aktivitas mereka. Di sini kurang adanya konsensus mengenai apakah transaksi-transaksi atau aktivitasaktivitas tertentu telah dipatuhi. Hal ini bisa menyebabkan kebingungan di antara para praktisi dan customer, selain akan membatasi penerimaan dan pengakuan lebih luas akan konsep tentang keuangan Islam. Industri keuangan Islam pun dengan demikian hanya dikendalikan oleh sedikit pakar terkemuka Syariah yang kerap bekerja untuk bank-bank berbeda atas penugasan komite Syariah. Kondisi ini juga akan bisa membatasi inovasi produk pengetahuan tentang Syariah. Ujung-ujungnya ialah menunjukkan diri patuh terhadap Syariah akan sulit karena institusi-institusi yang berbeda punya model-model governance mereka sendiri. Mereka menggunakan itu untuk menetapkan dan menguji kepatuhan mereka Hasil riset ini menawarkan hal-hal berikut yang bisa dijadikan pegangan: 1. Identifikasi prinsip-prinsip etika dan akuntansi Syariah dalam kaitannya dengan bisnis serta berbagai akitvitas lain yang mencakup fidusiari. Kemudian pertimbangkan dampak-dampaknya bagi akuntasi. Bandingkan itu dengan prinsipprinsip di mana bisnis gaya Barat dan organisasiorganisasi lainnya beroperasi di bawah kapitalisme. 2. Identifikasi sasaran-sasaran utama dan pengganti bagi akuntansi Islam berdasarkan prinsipprinsip etika Islam tersebut, dan pertimbangkan sasaransasaran itu dengan pemikiran akuntansi kontemporer. Langkah ini jangan terbatas pada pemikiran akuntansi arus besar (mainstream) saja, karena pengembangan dari pelaporan narratif dan non-traditional telah sedemikian meningkatnya sehingga para akuntan modern tak bisa lagi untuk tak mengindahkannya (Mathews & Perera, 1991). Perbandingan dengan pemikiran akuntansi modern bisa membuka jalan bagi dua maksud: pertama, identifikasi alternatif bagi teknik-teknik akuntansi yang dikembangkan di Barat dan yang bisa diterapkan ke dalam akuntansi Islami, dan, kenali prinsipprinsip akuntansi konvensional yang tak berbenturan dengan akuntansi Islami. 3. Identifikasi landasan teoritis dari akuntansi Islami, seperti misalnya apakah itu accountability, stewardship atau decisionusefulness. Ini terpaut erat dengan sasaransasarannya dan kemungkinan tak akan bisa terpisahkan.

4. Identifikasi para pengguna informasi akuntansi Islami, dan periksa untuk apa informasi itu mereka gunakan. Sampai pada suatu batas tertentu, pengunaanpenggunaanya akan bisa diidentifikasi lewat cara mempertimbangkan atuaran-aturan etika bisnis Islami. 5. Kembangkan ciri-ciri akuntansi Islami, misalnya informasi yang diperlukan serta prinsipprinsi valuasi dan pengungkapan (disclosure) yang akan memasukkan prinsipprinsip etika bisnis Islami. Juga, ini akan mencapai sasaran-sasaran akuntansi Islami sampai sejauh yang belum pernah diberikan definisinya oleh Syariah. 6. Upayakan konsensus di antara para ilmuwan dan akuntan mengenai sasaransasaran serta ciriciri tersebut, karena inilah salah satu metode untuk sampai kepada aturan Islam yang tak terdapat dalam Al- Quran (Kamali, 1991). Jika hasil riset ini telah secara benar tiba pada sasaransasaran serta ciri-ciri akuntansi Islami, maka mayoritas Muslim yang berpengetahun seharusnya sepakat, karena sebagaimana ditegaskan dalam hadist ummatku (dan umat manusia seluruhnya) tak akan sepakat mengenai suatu kesalahan, meski tentu di sana-sini akan terdapat ketidaksetujuan secara individual.** (Pratama Hadi). TEORI AKUNTANSI DAN AKUNTANSI SYARIAH Kenyataan menunjukkan bahwa ilmu akuntansi terus berkembang dan dikembangkan menuju akuntansi yang paling benar. Dunia ekonomi internasional telah mengenal konseptual dan praktik akuntansi dan akuntansi syariah yang kebanyakan diterapkan pada lembaga keuangan seperti di praktik perbankan. Teori akuntansi atau Accounting Theory. Secara umum akuntansi konvensional, membagi akuntansi menjadi dua kelompok besar, yaitu akuntansi keuangan (financial accounting) dan akuntansi manajemen (management accounting). Menurut Belkaoui (1996) teori akuntansi merupakan suatu sistem yang koheren pada tujuan (objectives) dan asumsi (assumptions) yang memerlukan perumusan standar yang berisi sesuai kondisi, fungsi, dan cakupan pelaporan keuangan (financial statements) beserta teknik praktisnya. Dengan kata lain, hal ini memerlukan proses penyusunan standar (standard-setting process) atau prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum (generally accepted accounting principles), harus menjadi acuan umum untuk mengembangkan teori akuntansi yang dapat diterima secara umum atau universal. Belkaoui (1996) juga menegaskan, bahwa teori akuntansi berkembang dan dikembangkan dalam asumsi yang berbeda-beda pada praktiknya menurut para pemikir/penulis akuntansi (writers), para peneliti (researchers), maupun para praktisi (practitioners). Asumsi-asumsi yang berbeda-beda tersebut membangun dan membentuk suatu teori melalu cara/jalan yang berbeda (various ways), sehingga teori akuntansi dibangun dalam pengaruh tiga hal: 1) berbagai paradigma, model, maupun frameworks yang berbeda yang berlomba untuk membentuk model akuntansi yang paling benar; 2) kepentingan tetap dari pihak-pihak tertentu (vested interest groups) telah mendominasi pendapat sehingga membentuk suatu paradigma yang dianggap benar secara umum; dan 3) adanya suatu politisasi (gradual politicization) yang terusmenerus mempengaruhi proses penyusunan standar. Teori akuntansi menurut Deegan (2000) cenderung spesifik ke teori akuntansi keuangan (financial accounting theory). Menurutnya teori akuntansi telah berkembang secara seimbang, antara paradigma, model, maupun asumsi-asumsi yang mendukung (support for) dan yang menentang (against) regulasi pada teori akuntansi yang telah

dibangun yang telah ada. Perkembangan akuntansi tersebut menghasilkan berbagai macam perspektif teoritikal (various theoretical perspectives) termasuk teori akuntansi positif (positive accounting theory), teori ekonomi politik (political economy theory), teori stakeholder, dan teori legitimasi (legitimacy theory). Perkembangan baru teori akuntansi memerlukan berbagai teori normatif (normative theory) dalam teori akuntansi, termasuk perkembangan berbagai pendekatan seperti akuntabilitas perubahan harga (changing prices). Jadi perspektif normatif yang berbeda pada akuntanbilitas organisasi bisnis/ perusahaan akan sebaik atau sesuai dengan berbagai projek maupun program kerangkan secara konseptual. Intinya antara perencanaan dan praktik telah sesuai berjalan dengan yang ditentukan perusahaan. Deegan (2000) juga menekankan dalam praktiknya, teori akuntansi dihadapkan dengan isu-isu lain seperti budaya di dunia internasional yang berbeda-beda dan bisa diperbandikan kebenarannya. Artinya budaya negara atau komunitas mana yang jika diperbandingkan membentuk teori akuntansi yang paling benar. Deegan (2000) juga menekankan teori akuntansi keuangan yang baik mampu menjelaskan: Mengapa dan bagaimana mengungkapkan atau memperlihatkan (disclosure) berbagai macam informasi keuangan (financial information). Akuntansi Syariah atau Islamic or Syariah Accounting. Teori dan praktik akuntansi syariah seiring sejalan dengan perkembangan teori dan praktik ekonomi Islam. Akuntansi syariah merupakan ilmu akuntansi atau akuntabilitas segala aset-aset dan aktivitas ekonomis suatu bisnis individu atau kelompok atau perusahaan yang bersumber hukum Al Quran dan As Sunnah untuk mencapai kekayaan atau kemakmuran yang sebenarnya atau Falah (Choudhury, 2005). Para ahli keuangan dan akuntansi syariah di Indonesia sepakat bahwa akuntansi syariah merupakan bukanlah tambal sulam atau manipulasi atau rekayasa dari akuntansi konvensional (Hidayat, 2002; Muhamad, 2002; Triyuwono, 2002). Pada dasarnya akuntansi syariah mengakui pendapat logis universal yang sesuai dengan hakekat kebenaran yang bersumber Al Quran dan As Sunnah, dimana akuntabilitas proses binis (business process) dan hasil bisnis (business result) dari aktivitas ekonomi secara penuh nilai adil (fairness fully) untuk kemakmuran umat manusia. Hal tersebut menunjukkan bahwa akuntansi syariah tidak berbasis faham kapitalis dan sosialis. Prinsip-prinsip dasar (primary principles), persamaan akuntansi (accounting equation), dan laporan keuangan (financial statements). Prinsip-prinsip dasar akuntansi syariah dan keuangan syariah berdasarkan prinsip-prinsip dasar dalam sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi konvensional berdasarkan aliran aktivitas ekonomi (the circular flow of economic activity) dengan segala cara kompetisi pasar, sehingga tidak benar-benar melindungi yang masyarakat lemah, dan tidak mempedulikan jika yang ekonomi kuat memonopoli. Dalam circular flow, sirkulasi dalamnya berupa: produk-produk, faktor produksi, dan uang, sedangkan sirkulasi besarnya berupa: rumah tangga produsen, rumah tangga konsumen, dan pemerintah. Jadi pemerintah sebagai pengendali utama dalam pengelolaan ekonominya, akan menggunakan paham tertentu yaitu paham kapitalis, sosialis, ataukah syariah. Persamaan entitas akuntansi Islam menurut Isgiyarta (2009) sebagai berikut: Dijelaskannya pula bahwa elemen laporan keuangan terdidari banyak elemen yaitu: 1. Aktiva 2. Sumber dana waktu terbatas atau pengganti Hutang

3. Sumber dana waktu tidak terbatas atau pengganti Ekuitas 4. Akumulasi dana margin keberlanjutan atau pengganti laba di tahan bukan hak pemegang saham 5. Pendapatan (revenue) 6. Beban (expense) 7. Keuntungan (gains) 8. Kerugian (loss) 9. Akumulasi Margin Keberlanjutan Usaha (pengganti laba) Adapun Neraca Akuntansi Islam, Laporan Keuangan Pokok, dan Laporan Arus Kas dapat dilihat pada tabel 1 di halaman akhir. Aktiva merupakan harta benda atau bentuk lain yang mempunyai nilai manfaat, dan dikuasai oleh perusahaan, yang akan digunakan untuk melakukan aktivitas operasional perusahaan. Sumber dana waktu terbatas merupakan sumber dana yang digunakan perusahaan untuk memperoleh aktiva, dan atau untuk melakukan operasional perusahaan, dengan jangka waktu penggunaannya terbatas. Sumber dana waktu tidak terbatas adalah sumber dana yang digunakan perusahaan untuk memperoleh aktiva, dan atau untuk melakukan operasional perusahaan, dengan jangka waktu penggunaanya tidak terbatas. Akumulasi margin keberlanjutan usaha merupakan sumber dana yang dikumpulkan perusahaan dari operasi selama berdirinya perusahaan melalui margin keberlanjutan usaha setiap periode. Pendapatan adalah arus masuk atau kenaikan aktiva yang diperoleh dari aktivitas usaha utama selama satu periode. Beban adalah arus keluar atau pemanfaatan jasa aktiva yang digunakan untuk melakukan aktivitas usaha utama entitas selama satu periode. Keuntungan adalah arus masuk atau kenaikan aktiva yang berasal dari aktivitas selain dari aktivitas utama, atau bukan dari penambahan dana baik dari dana waktu terbatas maupun tidak terbatas. Kerugian adalah arus keluar atau pemanfaatan jasa aktiva yang berasal dari aktivitas selain dari aktivitas utama, atau bukan pengurangan dana baik dari dana waktu terbatas maupun tidak terbatas. Margin keberlanjutan usaha adalah nilai sisa margin usaha setelah dikurangi kontribusi entitas kepada negara atau pajak, bagi hasil untuk sumber dana waktu terbatas, dan bagi hasil untuk sumber dana waktu tidak terbatas. Beban penelitian dan pengembangan item beban usaha; merupakan item yang terpisah dari item laporan kinerja lainnya (beban pemasaran dan beban administrasi dan umum), sebagai konsekuensi akan keberlanjutan usaha merupakan hal penting dalam pendirian perusahaan (Isgiyarta, 2009). Persamaan akuntansi dan laporan keuangan merupakan konsep umum dan logis atau rasional secara universal, sehingga akuntansi syariah mengakui dan boleh jadi menggunakan konsep tersebut. Namun, proses dan tujuan akhir yang berbeda yaitu: Apakah persamaan dan laporannya hanya untuk demi penumpukan aset dan modal? Artinya akuntansi syariah tidak menggunakan daftar dan laporan akuntansi yang tidak adil yang hanya menyejahterahkan para pemodal dengan tidak memperhatikan akuntabilasi proses para tenaga kerja penentu keberhasilan perusahaan. Pada intinya akuntansi syariah tidak mengakuntabilitas bunga (interest) dan atau tidak akuntabilitas perdagangan uang (money as trading) dalam produktifitas ekonomisnya. Menurut Barbara (2008), secara garis besar akuntansi syariah dalam akuntabilitasnya mengikuti prinsi-prinsip penting sistem ekonomi syariah, yaitu sebagai berikut: a. Fungsi utama uang adalah sebagai alat tukar dan bukan sebagai komoditi yang

dapat diperdagangkan. b. Tidak menggunakan konsep time value of money tetapi economic value of time. c. Melarang segala bentuk riba (termasuk bunga bank- sesuai jumhur ulama). d. Melarang semua kegiatan usaha yang mengandung unsure spekulasi (gharar) dan judi (maysir). e. Harta harus produktif dan tidak hanya berpusat pada segelintir orang saja. f. Bekerja/mencari nafkah hukumnya adalah wajib bagi setiap individu yang sekaligus bernilai ibadah. g. Prinsip keadilan dan transparasi dalam berusaha atau aktivitas ekonomis. h. Kewajiban tertib administrasi dalam rangka pertanggunjawaban di dunia dan akhirat dan menghindari kemungkinan terjadinya fitnah. i. Zakat, infaq, dan shodaqah berfungsi pula sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan bagi semua umat manusia di dunia. Akuntansi syariah memiliki tantangan dan kendala. Secara implikatif tantangan pada formulasi formal atau standar, dalam persamaan akuntansi dan laporan keuangan masih berkutat pada bagaimana aset sebagai aktiva sama dengan pasiva yang murni tanpa melibatkan bunga ataupun uang yang bersifat diperdagangkan. Sedangakan kendala, dikarenakan di negara yang bersangkutan, seperti di Indonesia masih melibatkan lembaga-lembaga keuangan yang masih menggunakan sistem bunga dan nilai perdagangan uang dalam berbagai bentuknya. Dengan tantangan dan kendala tersebut pembahasan berikutnya merupakan diskripsi perkembangan dan praktik akuntansi syariah terkhusus pada lembaga keuangan perbangkan di Indonesia. PERKEMBANGAN DAN PRAKTIK AKUNTANSI SYARIAH DI INDONESIA Menguraikan perkembangan dan praktik akuntansi syariah di Indonesia, akan lebih jelas ketika mempehatikan praktik bisnis dalam lembaga atau organisasi bisnis yang bersifat jasa, sebagaimana lembaga keuangan. Lembaga keuangan non bank seperti leasing, anjak piutang, consumer financing, modal ventura atau gabungan, penggadaian dan penjaminan. Dalam lembaga keuangan bank, terkhusus bank syariah telah berpraktik secara syariah, yaitu: ijarah, hawalah/hiwalah, murabahah, musyarakah, rahn, dan kafalah (Wiroso, 2008). Laporan laba rugi syariah dalam bank syariah merupakan hasil dari akuntabilitas pembagian hasil usaha. Laporan laba rugi syariah berupa pendapatan bank atas dana syirkah temporer dan pendapatan berbasis imbalan (fee base income). Dalam pendapatan atau penerimaan akuntansi syariah berdasakan prinsip distribusi hasil usaha dengan dua kategori, yaitu: pertama, bagi pendapatan atau revenue sharing, yang dibagikan adalah pendapatan dan jika shahibul maal mengalami kerugian dan menanggung kerugian maka usaha bisnisnya dilikuidasi dan jumlah aktiva lebih kecil dari kewajiban; kedua, bagi keuntungan atau profit sharing, yang dibagikan adalah keuntungan dan tidak bagi rugi atau loss shring, jika kerugian tidak dikarenakan kelalaian, kesengajaan, atau kecurangan mudharin ditanggung shahibul maal (Wiroso, 2008). Secara umum praktik akuntansi syariah pada perusahaan jasa perbankan di Indonesia sebagaimana pada tabel 2, 3, dan 4 beserta komparasinya dengan akuntansi konvensional. Table

Uang dalam konsep Ekonomi Islam: a. Uang hanya sebagai alat tukar => bukan sebagai komoditi (barang dagangan) b. Uang milik masyarakat => haram untuk ditimbun/ money hoarding c. Uang dengan nilai ekonomis waktu => bukan nilai waktu atas uang (economic value of time) => (not time value of money) d. Uang adalah flow concept => harus selalu berputar/ mengalir melalui proses produksi yg Islami e. Uang hanya boleh berkembang bila ditanamkan pada aktivitas-aktivitas ekonomis yang berwujud (tangible economic activities) table KETERBATASAN DAN RISET KE DEPAN Akuntansi syariah akan semakin kondusif berkembang ketika berada pada wilayah atau negara yang mempraktikkan paham syariah atau Islam secara penuh. Dimana regulasi dan sumber hukumnya murni pada Al Quran dan As Sunah dan tidak menerapkan regulasi dan sumber hukum dengan paham sosialis maupun kapitalis, sedangkan masyarakat sebagai umat manusia tidak dibeda-bedakannya ras, suku, dan agama atau kenyakinannya bahkan dihargai eksistensi perbedaan tersebut. Dikarenakan di negara Indonesia ini merupakan bukan negara Islam, sehingga praktik terhadap ekonomi Islam, keuangan Islam, dan akuntansi syariah masih dalam tingkat pilihan, dan kadang merupakan pilihan minoritas dari mayoritas umat Islam dalam hal ini, dan bahkan penyalahgunaan dan keterbatas pengetahuan paham Islam atau syariah ini dapat dimanfaatkan sebagai praktik ekonomi konvensional atau kapitalis yang berkedok atau bernamakan syariah atau Islam. Akuntansi syariah dengan akuntansi konvensional jelas berbeda sebagaimana wujudnya dalam tabel 1 dan yang lebih mendasari lagi akuntansi Islam atau syariah berjalan dengan asumsi dasar: a) keberlanjutan usaha; b) entitas akuntansi Islam terpisah dengan pemiliknya; c) syariah menjadi dasar ukuran kebenaran aktivitas bisnis; dan d) pertimbangan kemaslahatan umat. Umat muslim khususnya dan umat manusia secara umumnya, dikarenakan ajaran Islam adalah untuk seluruh umat manusia. Sedangkan International Accounting Standard memiliki asumsi dasar: Going concern perusahaan tetap berlanjut hidup terus dengan tanpa memperhatikan atau mempedukan adanya transaksi-transaksi pelipatgandaan bunga dan uang secara langsung ataupun tidak langsung yang tercatat dalam akuntansi. Dan Accrual bases yang cenderung mengutamakan keuangan tunai maupun non-tunai, sehingga penghimpunan keuangan non-tunai atau kredit ataupun hutang seberapa pun yang cenderung spekulatif dapat beresiko mematikan individu atau perusahaan yang bersangkutan. Namun, praktik ekonomi Islam, keuangan syariah, maupun akuntansi syariah di Indonesia justru menjadi menarik dan tantangan tersendiri bagi para pemikir, peneliti, dan tentu para praktisi. Dikarenakan Indonesia bukan negara dengan paham Islam sepenuhnya dan masyarakat Indonesia dengan ras, suku, dan agama yang lebih beragam tentunya akan lebih menghasilkan praktik ekonomi syariah yang lebih komplit akan kebenarannya yang diuji dalam hal keberagaman dan paham nasional

dari Republik Indonesia ini. Sebagai penutup, praktik syariah di bidang produk service terutama perbankan syariah telah berkembang pesat, sehingga merupakan tantangan riset dan praktik bagi para akademisi dan praktisi dalam mengembangkan praktik syariah di bidang manufacture atau produksi barang di Indonesia in

PENGERTIAN AKUNTANSI SYARIAH Pengertian Akuntansi Menurut Arren dan Lobbecke (2000:3) Akuntansi merupakan proses pencatatan, pengelompokan dan pengiktisaran kejadiankejadian ekonomi dalam bentuk yang teratur dan logis dengan tujuan menyajikan informasi keuangan yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan Menurut Belkoui (2000:34) akuntansi merupakan proses pengidentifikasian, pengukuran dan pengkomunikasian informasi ekonomi untuk memungkinkan pembuatan pertimbangan dan keputusan berinformasi oleh pengguna informasi Pengertian Syariah Menurut Imam Al-Qurthubi menyebut bahwa syariah adalah agama yang ditetapkan oleh Allah Swt untuk hamba-hamba-Nya yang terdiri dari berbagai hukum dan ketentuan Menurut Sri Nurhayati dan Wasilah (2008:2) Syariah adalah aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk dipatuhi oleh manusia dalam menjalani segala aktivitas hidupnya di dunia Pengertian Akuntansi Syariah Berdasarkan beberapa pengertian tentang akuntansi dan syariah, maka Akuntansi Syariah didefinisikan sebagai : Suatu proses penyajian laporan keuangan perusahaan dengan berdasarkan kepada ketentuan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT PERKEMBANGAN TRANSAKSI SYARIAH Akuntansi Syariah timbul karena tuntutan atas lembaga keuangan syariah, baik lembaga bank, maupun lembaga non bank Diterimanya secara internasional tentang transaksi perbankan secara syariah Rekam Jejak Perbankan Syariah (1963), yang selanjutnya tahun 1972 direstrukturisasi oleh Pemerintah Mesir menjadi Nasser SocialBank.

Dukungan Pemerintah Indonesia Muamalat Indonesia (1991) PP No. 72 Tahun 1992 bankan syariah diterbitkan UU No. 10 Tahun 1998 dan UU No. 23 Tahun 1999

Data Baku Perkembangan Perbankan Syariah Kantor 2003 2004 Bank Umum Syariah 2 3 Unit Usaha Syariah 8 15 BPRS 84 88 Jumlah Kantor 94 106 Sumber bank Indonesia Asuransi Syariah

2005 3 19 92 114

2006 3 20 105 128

2007 3 26 111 140

Company of Sudan Berlanjut ke Pakistan, Lebanon, Nigeria, Inggris, Rusia dan Australia

masih dipersiapkan. Hal yang sedang berkembang saat ini adalah transaksi investasi syariah dan sector keuangan non bank, seperti :

Isu Kontemporer Pertengahan Juni 2008, Dewan Perwakilan Rakyat RI mengesahkan UU Surat Berharga Syariah Nasional (SBSN) Tahun 2008 dan UU Perbankan Syariah Tahun 2008 Dengan diterbitkannya 2 UU tersebut, diharapkan Indonesia menjadi Pusat Ekonomi dan Keuangan Syariah Internasional (International Economic and Financial Hub) di Asia.

Beri Nilai