Anda di halaman 1dari 3

MIGRAIN

MIGRAIN Merupakan nyeri kepala berdenyut pada satu atau kedua sisi kepala dengan intensitas sedang sampai berat dan bertambah dengan aktivitas. Dapat disertai dengan mual dan atau muntah, atau fonofobia (sensitif terhadap suara) dan fotofobia (sensitif terhadap cahaya).

Migrain dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu: - Migrain klasik

Migrain jenis ini terjadi pada 25% dari keseluruhan penderita migrain. Penderita migrain jenis ini merasakan gejala tertentu yang muncul sebelum serangan migrain. Gejala-gejala sistem saraf tersebut disebut dengan aura. Sehingga migrain klasik ini disebut juga migrain dengan aura. Aura tersebut disebabkan pembuluh darah yang menuju ke otak dan jaringan sekitarnya mengecil sementara waktu. Aura tersebut meliputi aura visual, di mana penderita melihat titik-titik kecil yang banyak, atau melihat cahaya berbagai warna yang bergerak pelan pada salah satu mata, atau bisa juga melihat kilatan cahaya. Aura sensorik bisa berupa rasa kebas atau panas pada separuh badan. Aura motorik berupa kelemahan salah satu bagian anggota tubuh, kesulitan menelan atau bicara.

1/3

MIGRAIN

- Migrain tanpa aura

Migrain jenis ini adalah nyeri kepala migrain yang datang secara tiba-tiba, tanpa peringatan terlebih dulu. - Serangan migrain dapat dicetuskan oleh beberapa hal, antara lain:

- Makanan tertentu, seperti teh, coklat, keju, anggur merah, tomat, kentang, kacang. - Perubahan pola tidur, terlalu banyak atau kurang tidur. - Keseimbangan hormonal pada wanita - Stres - Aktivitas fisik, kurang atau terlalu banyak aktivitas - Merokok - Penghentian minum kopi Apabila tidak diterapi, serangan migrain akan berlangsung antara 4-72 jam. Secara garis besar, pengobatan migrain dapat dibagi menjadi 2, yaitu: - Dengan obat-obatan (farmaka) Dibedakan lagi menjadi 2, yaitu pengobatan saat serangan migrain dan pengobatan pencegahan. Saat terjadinya serangan, dapat digunakan obat-obatan pengurang rasa sakit yang tidak spesifik untuk migrain. Untuk pencegahan migrain, pengobatan diberikan dalam jangka waktu episodik, jangka pendek, atau jangka panjang. Pengobatan preventif ini harus selalu diminum tanpa melihat adanya serangan atau tidak. Terapi episodik diberikan apabila faktor pencetus nyeri kepala dikenal dengan baik sehingga sebelumnya bisa diberikan obat penghilang rasa nyeri. Terapi preventif jangka pendek diberikan apabila pasien akan terkena faktor risiko yang telah dikenal dalam jangka waktu tertentu, seperti migrain yang muncul saat menstruasi. Sedangkan terapi preventif jangka panjang diberikan dalam waktu beberapa bulan bahkan tahun tergantung respon pasien. Obat-obat yang digunakan untuk terapi preventif antara lain antidepresan, antikonvulsan, penghambat saluran kalsium, dll. Pasien sebaiknya membuat agenda harian nyeri kepala, sehingga frekuensi, lamanya, intensitas dan gejala penyerta nyeri kepala, faktor pencetus dan cara penanggulangannya dapat dipastikan.

2/3

MIGRAIN

- Pengobatan nonfarmaka Meliputi pemberian edukasi dan menenangkan pasien pada saat serangan. Pasien sebaiknya menghindari stimulasi sensoris yang berlebihan. Bila memungkinkan, beristirahat di tempat gelap dan tenang dengan dikompres dingin pada kepala. Terapi perilaku sangat berperan dalam mengatasi nyeri kepala. Termasuk di dalamnya adalah terapi relaksasi, cognitive-behaviour, biofeedback. Ada pula yang mengusulkan terapi alternatif seperti meditasi, hipnosis, akupunktur dan fitofarmaka.

Pasien dengan migrain yang terjadi pada saat menstruasi dianjurkan mengurangi garam. Olah raga yang teratur dan terarah umumnya sangat membantu. Terapi lain seperti toksin botulinum (botox) setiap 3 bulan sekali memberi hasil yang menjanjikan untuk terapi preventif migrain sedang sampai berat. Source : dr. Swarningasih, SpS Edited by : dr. Donny

3/3