Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Guru sebagai pendidik profesional memiliki peran yang sangat penting dalam usaha membentuk generasi yang cerdas dan kompetitif. Dalam Permendiknas No 16 Tahun 2007 dikemukakan bahwa kompetensi guru dikembangkan berdasarkan empat kompetensi dasar yaitu kompetensi

paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Salah satu kompetensi paedagogik guru yaitu menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Dengan demikian, sudah menjadi tugas seorang guru untuk mampu melakukan kegiatan penilaian dan evaluasi baik terhadap proses pembelajaran maupun hasil belajar peserta didik. Penilaian dan evaluasi memiliki arti yang berbeda, meskipun keduanya saling berkaitan. Penilaian merupakan proses pengumpulan informasi oleh guru yang akan digunakan untuk memberi keputusan terhadap hasil belajar peserta didik sehingga diperoleh profil kemampuan peserta didik sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum (Mundilarto, 2010). Sedangkan evaluasi menurut Arifin (2012:5) adalah suatu proses untuk menggambarkan peserta didik dan menimbangnya dari segi nilai dan arti. Menilai sesuatu dilakukan dengan cara mengukur dan wujud pengukuran itu berupa pengujian. Dalam dunia pendidikan pengujian ini lebih dikenal dengan istilah tes. Instrumen tes yang baik dapat meningkatkan kualitas hasil penilaian yaitu profil kemampuan peserta didik. Kegiatan penilaian dilakukan secara menyeluruh, baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotor. Ranah kognitif berkaitan dengan perilakuperilaku yang menekankan aspek intelektual. Ranah afektif berkaitan dengan perilaku-perilaku yang menekankan pada aspek perasaan dan emosi, sedangkan ranah psikomotor berkaitan dengan perilaku yang menekankan pada aspek keterampilan motorik.

Penilaian pada ranah kognitif siswa dilakukan untuk mengetahui profil kemampuan siswa yang berkaitan dengan aspek intelektual termasuk kemampuan berpikir. Pengertian berpikir menurut Sandtrock (2009:7) yaitu kegiatan memanipulasi dan mentransformasi informasi dalam memori. Kita berpikir untuk membentuk konsep, menalar, berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir secara kreatif dan memecahkan masalah. Secara umum, keterampilan berpikir terdiri atas empat tingkat, yaitu : menghafal (recall thinking), dasar (basic thinking), kritis (critical thinking) dan kreatif (creative thinking). Menghafal adalah tingkat berpikir paling rendah. Tingkat berpikir selanjutnya disebut sebagai keterampilan dasar. Berpikir kritis adalah berpikir yang memeriksa,

menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi dan masalah termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat dan menganalisis informasi. Tingkatan yang terakhir adalah berpikir kreatif yang meliputi kemampuan menyatukan ide, menciptakan ide baru, menarik kesimpulan yang biasanya menghasilkan sesuatu yang baru. Dua tingkat berpikir terakhir ini disebut keterampilan berpikir tingkat tinggi. Berpikir tingkat tinggi terjadi ketika seseorang mengambil informasi baru dan informasi yang tersimpan dalam memori dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan atau menemukan jawaban dalam situasi yang mungkin membingungkan

(Rianawati,2011). Presseisen dalam Poppy (2011:3) menyatakan Higher Order Thinking Skill (HOTS) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu pemecahan masalah, membuat keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Pada kegiatan berpikir tingkat tinggi ini terjadi proses transfer yaitu menerapkan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya, pada pembelajaran atau pemecahan masalah dalam situasi baru. Keterampilan berpikir tingkat tinggi ini tidak dapat dimiliki secara langsung oleh seseorang melainkan diperoleh melalui latihan. Sebagian aspek dari kemampuan berpikir tingkat tinggi pada proses pembelajaran dapat ditinjau dari taksonomi Bloom. Menurut Rianawati (2011:1) pada taksonomi Bloom terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi

bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Namun, kemampuan berpikir tingkat tinggi sebenarnya lebih dari sekedar menganalisis, mensistesis serta mencipta, melainkan juga mencakup proses menemukan (inquiry). Mengetahui profil kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dapat dilakukan dengan cara menguji siswa dalam hal memecahkan masalah yang disajikan dalam bentuk tes atau pemberian soal. Diperlukan soal yang Higher Level Question yaitu pertanyaan yang meminta siswa untuk menyimpulkan, memberikan hipotesis, menganalisis, menerapkan, mensisntesis, mengevaluasi, membandingkan, serta membayangkan yang menunjukkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Rianawati, 2011:1). Agar dapat menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir logis yang tinggi. Berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran di kelas, khususnya dalam menjawab pertanyaan karena siswa perlu menggunakan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya dan menghubungkannya dalam situasi baru. Berdasarkan uraian tersebut, dapat diketahui bahwa kegiatan penilaian dilakukan untuk menggali informasi kemampuan siswa termasuk mengidentifikasi kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pemberian tes sebagai instrumen penilaian dapat digunakan untuk mengetahui profil kemampuan berpikir tingkat tinggi. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Penyusunan Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Fisika pada Siswa SMP

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut: 1. Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat diidentifikasi dari kemampuan memecahkan masalah, mengambil keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif. 2. Kemampuan berpikir tingkat tinggi melibatkan keterampilan siswa dalam memanfaatkan pengetahuan dan pemahaman awal yang telah dimilkinya.

3.

Instrumen penilaian dapat digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi kemampuan berpikir tingkat tinggi.

4.

Siswa perlu dilatih untuk berpikir lebih kritis melalui soal yang merangsang kemampuan analisis, sintesis, evaluasi, kreatif dan mengandung proses inkuiri.

C. Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka dalam penelitian ini penulis melakukan pembatasan masalah agar penelitian terarah pada tujuan penelitian. Pembatasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. 2. Instrumen tes yang disusun berupa tes pilihan ganda Penyusunan instrumen tes kemampuan berpikir tingkat tinggi menggunakan indikator problem solving atau pemecahan masalah dan creative thinking atau berpikir kreatif 3. 4. Instrumen tes yang disusun terbatas pada materi fisika untuk siswa SMP Subjek penelitian adalah siswa SMP

D. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah, maka dapat dirumuskan masalah yaitu : Bagaimana karakteristik instrumen tes kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dimiliki oleh siswa SMP yang disusun?

E. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik instrumen tes kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa SMP yang disusun.

F. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain : 1. Tersusunnya instrumen tes kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk materi fisika SMP

2.

Sebagai bahan masukan dalam menyusun instrumen penilaian yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa

3.

Sebagai bahan acuan dalam penelitian lebih lanjut sehingga dapat memberikan sumbangan bagi upaya peningkatan mutu pendidikan