Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA DASAR PERCOBAAN 5 TEKNIK PEMISAHAN (KROMATOGRAFI) Disusun Oleh : Finka Khairunnisa (10060312133) Kelas

Kelompok Assisten Hari / Tanggal Percobaan Hari / Tanggal Pengumpulan : Farmasi D :5 : Syifa Fatasyaa,S.Farm : Senin / 16 Desember 2012 : Senin / 7 Januari 2013

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT A PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2012

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA DASAR PERCOBAAN 5 TEKNIK PEMISAHAN (KROMATOGRAFI) I. Tujuan Tujuan dari percobaan ini yaitu agar dapat menguasai prinsip dan prosedur pemisahan senyawa kimia dengan teknik kromatografi

II.

Prinsip Dasar Prinsip dari perobaan ini yaitu dengan melakukan pemisahan dengan teknik

kromatografi.Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan campuran komponen ke masing-masing komponen penyusunnya berdasarkan perbedaaan kepolaran.

III.

Teori Dasar Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas) (Patnaik 2004). Teknik pemisahan ini memanfaatkan interaksi komponen dengan fase diam dan fase gerak serta sifat fisik dan sifat kimia komponen. Berdasarkan fase gerak dan fase diam yang digunakan, kromatografi dibedakan menjadi liquid-solid

chromatography (kromatografi dengan fase diam berwujud padat dan fase gerak berwujud cair), gas-solid chromatography (kromatografi dengan fase diam berwujud padat dan fase gerak berwujud gas), liquid-liquid chromatography (kromatografi dengan fase diam berwujud cair dan fase gerak berwujud cair), dan

gas-liquid chromatography (kromatografi dengan fase diam berwujud padat dan fase gerak berwujud gas) (Harvey 2000). Berdasarkan interaksi komponen dengan fase diam dan fase gerak, kromatografi dibedakan menjadi : 1. kromatografi adsorpsi (kromatografi dengan teknik penyerapan komponen oleh adsorben tertentu) 2. kromatografi partisi (kromatografi dengan partisi terjadi antara fase gerak dan fase diam) 3. kromatografi pertukaran ion (kromatografi yang dapat memisahkan senyawa dengan afinitas ion yang berbeda dengan resin penukar ion 4. kromatografi permeasi atau filtrasi (kromatografi berdasarkan perbedaan bobot molekul) (Skoog et al 2002). Berdasarkan bentuk ruang penyangganya, kromatografi dibedakan menjadi : 1.kromatografi planar (kromatografi dengan fase diam terletak pada permukaan datar) yang meliputi kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis serta kromatografi kolom (kromatografi dengan fase diam tertahan pada sebuah kolom) yang meliputi kromatografi manual, high performance liquid chromatography, dan kromatografi gas (Harvey 2000). Percobaan ini hanya melakukan aplikasi kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis. Prinsip dari kedua aplikasi tersebut adalah dengan meneteskan sampel pada kertas di garis startnya berulang-ulang. Setelah kering, kertas dimasukkan dalam pelarut jenuh dan dibiarkan bergerak menuju garis finish. Kromatografi lapis tipis menggunakan lempeng tipis/ plastik yang dilapisi adsorben sebagai penyangga. Kromatografi kertas menggunakan kertas sebagai penyangga (Rouessac 2007).

Jenis-Jenis Kromatografi a. Kromatografi Lapis Tipis Yaitu kromatografi yang menggunakan lempeng gelas atau alumunium yang dilapisi dengan lapisan tipis alumina, silika gel, atau bahan serbuk lainnya. Kromatografi lapis tipis pada umumnya dijadikan metode pilihan pertama pada pemisahan dengan kromatografi. b. Kromatografi Penyaringan Gel Merupakan proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi dekstran-molekul polisakarida linier yang mempunyai ikatan silang. Bahan ini dapat menyerap air dan membentuk susunan seperti saringan yang dapat memisahkan molekul-molekul berdasarkan ukurannya. Molekul dengan berat antara 100 sampai beberapa juta dapat dipekatkan dan dipisahkan. Kromatografi permeasi gel merupakan teknik serupa yang menggunakan polistirena yang berguna untuk pemisahan polimer. c. Elektroforesis Merupakan kromatografi yang diberi medan listrik disisinya dan tegak lurus aliran fasa gerak. Senyawa bermuatan positif akan menuju ke katode dan anion menuju ke anoda. Sedangkan kecepatan gerak tergantung pada besarnya muatan. d. Kromatografi Gas Kromatografi gas termasuk dalam salah satu alat analisa (analisa kualitatif dan analisa Ckuantitatif), kromatografi gas dijajarkan sebagai cara analisa yang dapat digunakan untuk menganalisa senyawa-senyawa organic. Kita telah mengetahui bahwa ada dua jenis kromatografi gas, yatiu kromatografi gas padat (KGP), dan kromatografi gas cair (KGC).

Dalam kedua hal ini sebagai fasa bergerak adalah gas (hingga keduanya disebut kromatografi gas), tetapi fasa diamnya berbeda. Meskipun kedua cara tersebut mempunyai banya persamaan. Perbedaan antara kedunya hanya tentang cara kerja. e. Kromatografi Kertas Kromatografi kertas merupakan salah satu metode pemisahan berdasarkan distribusi suatu senyawa pada dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak. Pemisahan sederhana suatu campuran senyawa dapat dilakukan dengan kromatografi kertas, prosesnya dikenal sebagai analisis kapiler dimana lembaran kertas berfungsi sebagai pengganti kolom. Kromatografi kertas adalah salah satu pengembangan dari

kromatografi partisi yang menggunakan kertas sebagai padatan pendukung fasa diam. Oleh karena itu disebut kromatografi kertas. Sebagai fasa diam adalah air yang teradsorpsi pada kertas dan sebagai larutan pengembang biasanya pelarut organik yang telah dijenuhkan dengan air. f. Kromatografi Kolom Merupakan suatu teknik pemisahan campuran komponen dimana campuran komponen yang terlarut pada pelarut akan dituang kedalan adsorbent pada kolom dan diolesi dengan pelarut yang sama atau berbeda.Kromatografi kolom menggunakan system padat-cair,dengan fase diamnya (adsorben) yang berbentuk padat atau solid dan fase geraknya (eluen) berbentuk cairan (liquid).Kromatografi kolom digunakan untuk keperluan preparative,yaitu untuk mengisolasi atau memisahkan sesuatu komponen tertentu dari campurannya. g. Kromatografi padatan cair (LSC)

Teknik ini tergantung pada teradsorpsinya zat padat pada adsorben yang polar seperti silika gel atau alumina. Kromatografi lapisan tipis (TLC) adalah salah satu bentuk dari LSC. Dalam KCKT kolom dipadati atau dipak dengan partikel-partikel micro or macro particulate or pellicular (berkulit tipis 37 -44 ).Sebagian besar dari KCKT sekarang ini dibuat untuk mencapai partikel-partikel microparticulate lebih kecil dari 20 . Teknik ini biasanya digunakan untuk zat padat yang mudah larut dalam pelarut organik dan tidak terionisasi. Teknik ini terutama sangat kuat untuk pemisahan isomer-isomer. h. Kromatografi partisi Teknik ini tergantung pada partisi zat padat diantara dua pelarut yang tidak dapat bercampur salah satu diantaranya bertindak sebagai rasa diam dan yang lainnya sebagai fasa gerak. Pada keadaan awal dari kromatografi cair (LSC), rasa diamnya dibuat dengan cara yang sama seperti pendukung pada kromatografi gas (GC). Fasa diam (polar atau nonpolar) dilapisi pada suatu pendukung inert dan dipak kedalam sebuah kolom. Kemudian rasa gerak dilewatkan melalui kolom. Bentuk kromatografi partisi ini disebut kromatografi cair cair (LLC) Untuk memenuhi kebutuhan akan kolom-kolom yang dapat lebih tahan lama, telah dikembangkan pengepakan fase diam yang berikatan secara kimia dengan pendukung inert. Bentuk kromatografi partisi ini disebut kromatografi fase terikat (BPC = Bonded Phase Chromatography). BPC dengan cepat menjadi salah satu bentuk yang paling populer dari KCKT. Kromatografi partisi (LLC dan BPC), disebut "fase normal" bila fase diam

lebih polar dari fase gerak dan "fase terbalik" bila fase gerak lebih polar dari pada fase diam.

IV.

Prosedur Percobaan 1.Kromatografi Kertas a. Kertas Whatman no.1 di potong menjadi persegi panjang

1 bhvjdjvhdjshvsdjjvbd

b. Dengan menggunakan pensil dibuat rencana penontolan untuk spot,d imulai dari spot 1-5 seperti gambar diatas.Spot 1 dan 5 ditotoli larutan standar karoten,spot 2,3,dan 4 ditotoli pigmen pasta tomat dalam berbagai konsentrasi. c.Penotolan dilakukan dengan menggunakan pipa kapiler.Pipa kapiler dimasukan kedalam hasil ekstraksi pasta tomat, kemudian diteteskan kedalam spot 2,3,dan 4.Spot 1 dan 5 ditetes berbeda. d. Pada area spot 3 dan 4 dilakukan penotolan kembali dengan pasta tomat,dibiarkan kering,lalu pada spot 4 ditotoli lagi dengan pasta tomat. -karoten dengan menggunakan pipa kapiler yang -

e.Untuk mengembangkan kromatografi disiapkan bejana yang terlebih dahulu dijenuhkan dan di dalamnya dikelilingi oleh kertas Whatman no.1 dengan fase gerak yang terdiri dari eter : aseton = 9:1 f.Kromatogram hasil penotolan dikembangkan dalam bejana

kromatografi,kemudian dibentuk menjadi lingkaran,kemudian diletakan dalam bejana dengan posisi spot berada di bawah bejana dekat dengan permukaan fase gerak,namun tidak mengenainya. g.Fase gerak dibiarkan naik dari permukaan bagian atas kromatogram,fasa gerak tidak boleh bermigrasi melebihi panjang kertas kromatogram. h.Setelah migrasi mencapai batas yg ditandai,kromatogram diangkat lalu dikeringkan. iSetelah kering masing-masing spot diamati dan ditentukan hasil Rfnya kemudian dibandingkan. 2. Kromatografi Lapis Tipis 1.dilakukan percobaan yang sama seperti pada kromatografi kertas akan tetapi spotnya hanya 2 yaitu pasta tomat dan -karoten ditotolkan pada plat KLT. 2.Plat KLT yang sudah ditotoli sampel dimasukan kedalam sebuah bejana/camber dengan fase gerak n-heksan : etanol = 4:1, fase gerak dibiarkan bermigrasi sampai batas yang telah ditentukan.kemudian di angkat dan dikeringkan. 3.spot pigmen diamati dibawah lampu UV

V.

Alat dan Bahan Percobaan Alat : 1. Timbangan 2. Tabung Reaksi 3. Kertas Whatman 4. Pengaduk Kaca 5. Pipa Kapiler 6. Bejana Bahan : 1. Tomat 2. Etanol 3. Diklorometan 4. Natrium Klorida 5. Natrium Sulfat 6. Anhidrat 7. -karoten 8. Petroleum Eter 9. Toluen 10. Aseton

VI.

Hasil Pengamatan dan Perhitungan 1.Kromatografi Kertas Pasta tomat yang pada awalnya berada dibawah kertas kromatogram setelah dimasukan kedalam camber beberapa menit bergerak/berpindah posisi akan tetapi tidak terjadi pemisahan secara sempurna.

Rf1 = 7,4/8,1 = 0,913 warna spot kuning Rf2 = 7,5/8,1 = 0,925 warna spot orange Rf3 = 7,5/8,1 = 0,925 warna spot orange Rf4 = 7,4/8,1 = 0,913 warna spot orange Rf5 = 7,3/8,1 = 0,901 warna spot kuning

2.Kromatografi Lapis Tipis

Rf1 = 1,8/7,1 = 0,253 ( -karoten) Rf2 = 6,7/7,1 = 0,943 (Pasta Tomat) -karoten lebih tertahan dalam fasa diam

VII.

Pembahasan 1.Kromatografi Kertas Sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah pasta tomat dan -

karoten,Pasta tomat merupakan komponen yang akan kita pisahkan sedangkan karoten digunakan sebagai bahan pembanding karena pasta tomat mengandung karoten. Pada Kromatografi kertas,Saat kertas kromatogram yang sudah ditotoli pasta tomat dimasukan kedalam chamber/bejana maka spot akan bergerak,dalam percobaan ini spot bergerak menuju batas yang sudah ditentukan akan tetapi tidak terjadi pemisahan,spot yang dihasilkan tingginya sama rata dan tidak terpisah,seharusnya spot-spotnya terpisah sehingga kita bisa mengidentifikasi komponen apa saja yang ada pada sampel. Hal ini terjadi karena beberapa kemungkinan,bisa jadi ada kesalahan peneliti,atau pasta tomat yang digunakan kurang baik, kemungkinan lainnya

kondisi chamber yang kurang jenuh.Karena umumnya proses penjenuhan memerlukan waktu yang cukup lama.Chamber/bejana harus dijenuhkan dengan maksud untuk menghilangkan uap air atau gas lain yang mengisi fase penjerap yang akan menghalangi laju eluen.Faktor yang mempengaruhi kejenuhan diantaranya semakin banyaknya pelarut,semakin kecil wadah,dan rapat. Eluen (fase gerak) yang digunakan dalam percobaan ini bersifat non-polar (tidak mudah larut dalam air),karena sampel juga bersifat non-polar, maka spot bisa naik dengan mengikuti fasa geraknya. Dalam percobaan ini Fase diam yang digunakan adalah selulosa yang merupakan penyusun dari kertas saring,sedangkan eluen yang digunakan adalah eter dan aseton dengan perbandingan 9:1 nilai Rf yang dihasilkan dari spot 1-5 berturut-turut adalah 0,913 0,925 0,925 0,913 0,901

Jarak antara jalannya pelarut bersifat relatif. Oleh karena itu, diperlukan suatu perhitungan tertentu untuk memastikan spot yang terbentuk memiliki jarak yang sama walaupun ukuran jarak plat nya berbeda. Nilai perhitungan tersebut adalah nilai Rf, nilai ini digunakan sebagai nilai perbandingan relatif antar sampel.Nilai Rf juga menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fase diam sehingga nilai Rf sering juga disebut faktor retensi. Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus berikut : Rf = Jarak yang ditempuh substansi/Jarak yang ditempuh oleh pelarut Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin besar pula jarak bergeraknya senyawa tersebut pada plat kromatografi lapis tipis.Saat

membandingkan dua sampel yang berbeda di bawah kondisi kromatografi yang sama, nilai Rf akan besar bila senyawa tersebut kurang polar dan berinteraksi dengan adsorbent polar dari plat kromatografi lapis tipis.Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasikan senyawa. Bila identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang sama maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki karakteristik yang sama atau mirip.Sedangkan, bila nilai Rfnya berbeda, senyawa tersebut dapat dikatakan merupakan senyawa yang berbeda. 2. Kromatografi Lapis Tipis Sama halnya dengan kromatografi kertas,pada percobaan KLT ini sampel yang digunaka masih berupa pasta tomat dan -karoten.Dari percobaan ini didapat nilai Rf untuk pasta tomat dan -karoten masing-masing sebesar 0,943 dan 0,253.

Kromatografi Lapis Tipis merupakan Suatu metode pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip partisi dan adsorpsi antara fase diam (adsorben) dan fase gerak (eluen), komponen kimia bergerak naik mengikuti cairan pengembang

karena daya serap adsorben (silika gel) terhadap komponen-komponen kimia tidak sama sehingga komponen dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda berdasarkan tingkat kepolarannya dan hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan. Spot yang terdapat pada KLT bisa kita lihat dengan menggunakan sinar UV. Mekanisme panampakan noda pada UV yaitu suatu molekul yang mengabsorbsi cahaya ultraviolet akan mencapai suatu keadaan tereksitasi dan kemudian memancarkan cahaya ultraviolet atau cahaya tampak pada waktu kembali ke fluoresensi. Kelebihan penggunaan kromatografi lapis tipis dibandingkan dengan kromatografi kertas adalah Lebih cepat dan lebih reproducible dari kromatografi kertas, untuk menyempurnakan pemisahan, lempeng dapat dibuat dengan campuran adsorben yaitu campuran homogen dari beberapa adsorben, satu lempeng dilapisi dengan adsorben yang berbeda-beda, satu lempeng dilapisi dengan campuran dua adsorben dengan konsentrasi bervariasi dari 0 % ke 100 % untuk adsorben yang satu dari ujung lempeng yang satu ke ujung lempeng yang lain dan sebaliknya, Area dari bercak lebih kompak dan jenis spray-reagents lebih banyak termasuk yang bersifat korosif dapat digunakan bila adsorben bukan selulosa. Keburukan dari teknik ini mungkin hanya pada prosedur pembuatan lempengnya yang memerlukan tambahan waktu, kecuali bila telah tersedia lempeng yang diproduksi secara komersial. tingkat dasar (emisi), emisi inilah yang digambarkan sebagai

Adapun manfaat dari Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yaitu : 1. 2. 3. 4. Pemeriksaan kualitatif dan kemurnian senyawa obat. Pemeriksaan simplisia hewan dan tanaman. Pemeriksaan komposisi dan komponen aktif sediaan obat. Penentuan kualitatif masing-masing senyawa aktif campuran senyawa obat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam kromatrografi lapis tipis yang juga mempengaruhi harga Rf : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan Sifat dari penyerap dan derajat aktivitasnya. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap. Pelarut (dan derajat kemurniannya) fase bergerak Derajat kejenuhan dari uap dalam mana bejana pengembangan yang digunakan Teknik percobaan, Arah dalam mana pelarut bergerak di atas plat. Jumlah cupilkan yang digunakan, Penetesan cuplikan dalam jumlah yang berlebihan. 8. 9. Suhu, Pemisahan-pemisahan sebaiknya dilakukan pada suhu tetap, Kesetimbangan, Ternyata bahwa kesetimbangan dalam lapisan tipis lebih penting dalam kromatografi, hingga perlu mengusahakan atmosfer dalam bejana jenuh dengan uap pelarut.

Prinsip

pemisahan

noda

adalah

berdasarkan

kepolarannya

sehingga

menghasilkan kecepatan yang berbeda-beda saat terpartisi dan terjadilah pemisahan. Untuk memisahkan noda dengan sebaik-baiknya maka digunakan kombinasi eluen non polar dengan polar. Apabila noda yang diperoleh terlalu tinggi, maka kecepatannya dapat dikurangi dengan mengurangi kepolaran. Namun apabila nodanya lambat bergerak atau hanya ditempat, maka kepolaran dapat ditambah. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam KLT : a. Lempeng yang akan digunakan harus diaktifkan terlebih dahulu agar pada proses elusi lempeng silica gel dapat menyerap dan berikatan dengan sampel. Pengaktifan lempeng dilakukan dalam oven pada suhu 1100C selama 30 menit. b. Chamber harus dijenuhkan untuk menghilangkan uap air atau gas lain yang mengisi fase penjerap yang akan menghalangi laju eluen. c. Pada saat penotolan, hendaknya sampel jangan terlalu pekat sebab pemisahannya akan sulit sehingga didapat noda berekor. d. e. Penotolan harus tepat sehingga didapatkan jumlah noda yang baik. Eluen yang digunakan harus murni sehingga tidak menghasilkan noda lain.

Noda-noda yang diperoleh biasanya berekor disebabkan karena : 1. Penotolan yang berulang-ulang dan letaknya tidak tepat 2. Kandungan senyawa yang terlalu asam atau basa 3. Lempeng yang tidak rata

VIII.

Jawaban Pertanyaan Pendahuluan

1. Mana yang lebih baik untuk memisahkan dan menditeksi komponen dalam jumlah kecil? kromatografi kolom atau kromatografi kertas? Jawab : Kromatografi kertas 2. Pigmen apa saja yang terdapat dalam pasta tomat yang digunakan pada percobaan kali ini?gambarkan strukturnya! Jawab : Tomat merah.Lycopen mengandung adalah pigmen lycopen yang sehingga warnanya ini dapat

antioksidan

kuat,antioksidan

memperlambat atau memprbaiki kerusakan akibat radikal bebas.Selain itu tomat juga mengandung -karoten dan lutein,serta vitamin A,Vitamin C,dan

Vitamin E,tomat juga kayak akan kalium. Struktur Lycopen

3. Bagaimana cara pembuatan plat kromatografi lapis tipis?Jelaskan! Jawab : Cara pembuatan plat KLT yaitu dengan silica gel yang diencerkan dengan akuades yang kemudian dituangkan dalam kaca holden penebar , diratakan satu arah , dan dikeringkan dalam oven.

IX.

Kesimpulan Dari Percobaan ini kita dapat mengetahui prinsip dan prosedur pemisahan senyawa kimia dengan teknik kromatografi (kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis) Prinsip dasar dari kromatografi yaitu pemisahan berdasakan kepolaran Jenis-jenis kromatografi ialah 1. Liquid Liquid Chromatography (LLC) 2. Liquid Solid Chromatography (LSC) 3. Ion-exchange chromatography 4. Exclusion chromatography 5. HPLC ( High Performance Liquid Chromatography) atau KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi). - Kromatografi Cair Retensif - Kromatografi Cair Non-retensif

Daftar Pustaka http://faradillahchemistry09.blogspot.com diakses pada tanggal 6 Januari 2013 pukul 19.58 WIB http://itatrie.blogspot.com/ diakses pada tanggal 27 Desember 2012 pukul 20.07 WIB http://chemedu09.wordpress.com/ diakses pada tanggal 27 Desember 2012 pukul 19.39 WIB http://www.chem-is-try.org/ diakses pada tanggal 27 Desember 2012 pukul 20.22 WIB Kromatografi.pdf diakses pada tanggal 27 Desember 2012 pukul 20.25 WIB Farmasi-effendi2.pdf diakses pada tanggal 27 Desember 2012 pukul 20.27 WIB http://duakatajiefarmasi.blogspot.com diakses pada tanggal 6 Januari 2013 pukul 21.52 WIB