Anda di halaman 1dari 10

BAB III LANDASAN TEORI

3.1 Programmable Logic Controller (PLC) 3.1.1 Pengertian PLC PLC (Programmable Logic Controllers) adalah komputer elektronik yang mudah digunakan (user friendly) yang memiliki fungsi kendali untuk berbagai tipe dan tingkat kesulitan yang beraneka ragam. Definisi PLC menurut Capiel (1982) adalah sistem elektronik yang beroperasi secara dijital dan didisain untuk pemakaian dilingkungan industri, dimana sistem ini menggunakan memori yang dapat diprogram untuk penyimpanan secara internal instruksi-instruksi yang mengimplementasikan fungsi-fungsi spesifik seperti logika, urutan, perwaktuan, pencacahan dan operasi aritmatik untuk mengontrol mesin atau proses melalui modul-modul I/O dijital maupun analog. Berdasarkan namanya konsep PLC adalah sebagai berikut: 1. Programmable Menunjukkan kemampuan dalam hal memori untuk menyimpan program yang telah dibuat yang dengan mudah diubah-ubah fungsi atau kegunaannya. 2. Logic Menunjukkan kemampuan dalam memproses input secara aritmatik dan logic (ALU), yakni melakukan operasi membandingkan, menjumlahkan, mengalikan, membagi, mengurangi, negasi, AND, OR, dan lain sebagainya. 3. Controller Menunjukkan kemampuan dalam mengontrol dan mengatur proses sehingga menghasilkan output yang diinginkan.

PLC ini dirancang untuk menggantikan suatu rangkaian relay skuensial dalam suatu sistem kontrol. Selain dapat diprogram, alat ini juga dapat

19

20

dikendalikan, dan dioperasikan oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan di bidang pengoperasian komputer secara khusus. PLC ini memiliki bahasa pemrograman yang mudah dipahami dan dapat dioperasikan bila program yang telah dibuat dengan menggunakan software yang sesuai dengan jenis PLC yang digunakan sudah dimasukkan. Alat ini bekerja berdasarkan input-input yang ada dan tergantung dari keadaan pada suatu waktu tertentu yang kemudian akan meng-ON atau mengOFF kan output-output. 1 menunjukkan bahwa keadaan yang diharapkan terpenuhi sedangkan 0 berarti keadaan yang diharapkan tidak terpenuhi. PLC juga dapat diterapkan untuk pengendalian sistem yang memiliki output banyak. Fungsi dan kegunaan PLC sangat luas. Dalam praktiknya PLC dapat dibagi secara umum dan secara khusus. Secara umum fungsi PLC adalah sebagai berikut: 1. Kontrol Sekuensial PLC memproses input sinyal biner menjadi output yang digunakan untuk keperluan pemrosesan teknik secara berurutan (sekuensial), disini PLC menjaga agar semua step atau langkah dalam proses sekuensial berlangsung dalam urutan yang tepat. 2. Monitoring Plant PLC secara terus menerus memonitor status suatu sistem (misalnya temperatur, tekanan, tingkat ketinggian) dan mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan proses yang dikontrol (misalnya nilai sudah melebihi batas) atau menampilkan pesan tersebut pada operator. Sedangkan fungsi PLC secara khusus adalah dapat

memberikan input ke CNC (Computerized Numerical Control). Beberapa PLC dapat memberikan input ke CNC untuk kepentingan pemrosesan lebih lanjut. CNC bila dibandingkan dengan PLC mempunyai ketelitian yang lebih tinggi dan lebih mahal harganya. CNC biasanya dipakai untuk proses finishing, membentuk benda

21

kerja, moulding dan sebagainya. Prinsip kerja sebuah PLC adalah menerima sinyal masukan proses yang dikendalikan lalu melakukan serangkaian instruksi logika terhadap sinyal masukan tersebut sesuai dengan program yang tersimpan dalam memori lalu menghasilkan sinyal keluaran untuk mengendalikan aktuator atau peralatan lainnya.

3.1.2 Bagian-bagian PLC a. Central Processing Unit (CPU) CPU merupakan pengatur utama, merupakan otak PLC. Mikrokontroler ATMEL merupakan mikrokontroler 8 bit, tidak jauh berbeda dengan PLC yang dapat dikatakan sebagai mikrokontroler 16 atau 32 bit. CPU ini berfungsi untuk melakukan komunikasi dengan PC, interkoneksi pada setiap bagian PLC, mengeksekusi program, serta mengatur input output sistem.

b. Bagian Modul Input dan Output Input merupakan bagian yang menerima sinyal elektrik dari sensor atau komponen lain dan sinyal itu dialirkan ke PLC untuk diproses. Ada banyak jenis modul input yang dapat dipilih dan jenisnya tergantung dari input yang akan digunakan. Jika input adalah limit switches dan pushbutton dapat dipilih input DC. Modul input analog adalah input khusus yang menggunakan ADC (Analog to Digital Conversion) dimana digunakan untuk input yang berupa variable seperti temperatur, kecepatan, tekanan dan posisi. Pada umumnya ada 8-32 input point setiap modul inputnya. Setiap point akan ditandai sebagai alamat yang unik oleh prossesor. Output adalah bagian PLC yang menyalurkan sinyal elektrik hasil pemrosesan PLC ke peralatan output. Besaran informasi atau sinyal elektrik itu dinyatakan dengan tegangan listrik antara 515 volt DC dengan informasi diluar sistem tegangan yang bervariasi

22

antara 24240 volt DC maupun AC. Konversi output biasanya mempunyai 6-32 output point dalam sebuah single module. Konversi output analog adalah tipe khusus dari modul output yang menggunakan DAC (Digital to Analog Conversion). Modul output analog dapat mengambil nilai dalam 12 bit dan mengubahnya ke- dalam signal analog. Biasanya signal ini 0-10 volt DC atau 4-20mA. Signal analog biasanya digunakan pada peralatan seperti motor yang mengoperasikan katup dan pneumatic position control device. Bila dibutuhkan, suatu sistem elektronik dapat ditambahkan untuk menghubungkan modul ini ke tempat yang jauh. Proses operasi sebenarnya di bawah kendali PLC mungkin saja jaraknya jauh, dapat saja ribuan meter.

c. Programmer (PM) Pemrograman dilakukan melalui keyboard sehingga alat ini dinamakan Programmer. Dengan adanya monitor maka dapat dilihat apa yang diketik atau proses yang sedang dijalankan oleh PLC. Bentuk PM ini ada yang besar seperti PC, ada juga yang berukuran kecil yaitu handeld programmer dengan jendela tampilan yang kecil, dan ada juga yang berbentuk laptop. PM dihubungkan dengan CPU melalui kabel. Setelah CPU selesai diprogram maka PM tidak dipergunakan lagi untuk operasi proses PLC sehingga bagian ini hanya dibutuhkan satu buah untuk banyak CPU.

d. Power Supply Catu daya (Power Supply) digunakan untuk memberikan tegangan pada PLC. Tegangan masukan pada PLC biasanya sekitar 24 VDC atau 220V AC. Pada PLC yang besar, catu daya biasanya diletakkan terpisah. Catu daya tidak digunakan untuk memberikan daya secara

23

langsung ke input maupun output, yang berarti input dan output murni merupakan saklar. Jadi pengguna harus menyediakan sendiri catu daya untuk input dan output PLC. Dengan cara demikian maka PLC itu tidak akan rusak.

e. Perintah-Perintah dalam PLC 1. LOAD (LD) Instruksi LOAD dimulai dengan barisan logic yang dapat diteruskan menjadi ladder diagram baris. Instruksi LOAD digunakan setiap kali baris baru dimulai. 2. LOAD NOT (LD NOT) Sebuah instruksi yang digunakan untuk memulai program dari sebuah instruksi atau bagian dari deret tersebut dan logikanya seperti contact NC relay. 3. AND Sebuah instruksi logika yang digunakan untuk sebuah rangkaian bersifat seri. Logika contactnya adalah NO relay. 4. AND NOT Sebuah instruksi logika yang digunakan untuk sebuah rangkaian bersifat seri. Logika contactnya adalah NC relay. 5. OR Sebuah instruksi logika yang digunakan untuk memprogram rangkaian bersifat paralel. Logika contactnya adalah NO relay. 6. OR NOT Sebuah instruksi logika yang digunakan untuk memprogram rangkaian bersifat paralel. Logika contactnya adalah NC relay. 7. OUT Sebuah instruksi yang digunakan untuk mengakhiri sebuah baris (anak tangga) dan tanda pengalamatan output. Logikanya seperti contact NO relay.

24

8. OUT NOT Sebuah instruksi yang digunakan untuk mengakhiri sebuah baris (anak tangga) dan tanda pengalamatan output. Logikanya seperti contact NC relay. 9. AND LOAD Instruksi yang dipergunakan untuk menghubungkan rangkaian awal dengan perintah LOAD yang dipasang secara seri. 10. OR LOAD Instruksi yang dipergunakan untuk menghubungkan rangkaian awal dengan perintah LOAD yang dipasang secara paralel. 11. KEEP Instruksi ini berfungsi untuk mempertahankan kondisi output untuk tetap ON walaupun input sudah OFF. Logika input diumpankan ke input SET untuk mematikannya dihubungkan ke input RESET.

3.2 Sensor Proximity 3.2.1 Pengertian Sensor Proximity Sensor proximity adalah sensor untuk mendeteksi ada atau tidaknya suatu obyek. Dalam dunia robotika, sensor proximity seringkali digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya suatu garis pembimbing gerak robot atau lebih dikenal dengan istilah Line Follower atau Line Tracer Robot, juga biasa digunakan untuk mendeteksi penghalang berupa dinding atau penghalang lain pada Robot Avoider. Jenis-jenis sensor garis: a. b. c. d. Kombinasi IR LED dan Photodiode atau Phototransistor Kombinasi LED superbright dan LDR Optosensor: Photoreflektif sensor Kamera

25

3.2.2 Prinsip Kerja Prinsip kerja Sensor proximity adalah memanfaatkan sifat cahaya yang akan dipantulkan jika mengenai benda berwarna terang dan akan diserap jika mengenai benda berwarna gelap. Sebagai sumber cahaya kita gunakan LED (Light Emiting Diode) yang akan memancarkan cahaya merah. Dan untuk menangkap pantulan cahaya LED, kita gunakan photodiode. Jika sensor berada diatas garis hitam maka photodioda akan menerima sedikit sekali cahaya pantulan. Tetapi jika sensor berada diatas garis putih maka photodioda akan menerima banyak cahaya pantulan. Berikut adalah ilustrasinya:

Gambar 3.1 Ilustrasi Sensor Proximity (sumber: http://kuliah.andifajar.com)

Sifat dari photodioda adalah jika semakin banyak cahaya yang diterima, maka nilai resistansi diodanya semakin kecil. Dengan melakukan sedikit modifikasi, maka besaran resistansi tersebut dapat diubah menjadi tegangan. Sehingga jika sensor berada diatas garis hitam, maka tegangan keluaran sensor akan kecil, demikian pula sebaliknya.

Gambar 3.2 Sensor Proximity

26

3.3 Elektropneumatic Elektropneumatik merupakan kombinasi energi antara pneumatik dan elektrik. Power pneumatik berasal dari compressed air, sedangkan elektrik berasal dari listrik. Peran PLC dalam hal ini adalah mengatur power supply ke komponen yang akan digerakkan (aktuator). Pada elektropneumatik, PLC mengatur on-off dari listrik yang mengakibatkan mengalir atau tidaknya tekanan udara ke aktuator (misalnya silinder) sehingga menghasilkan suatu gerakan tertentu. Komponen yang menggunakan elektropenumatik adalah solenoid valve. Solenoid valve menggerakkan katup (posisi buka/tutup) dikarenakan supply elektrik pada solenoid. Prinsip konversi sinyal elektrik ke sinyal pneumatik adalah sebagai berikut :

Gambar 3.3 Cara Kerja Solenoid Pneumatic (Sumber: http://www.kitomaindonesia.com)

Pada posisi normal (tidak ada sinyal elektrik), maka tidak ada udara yang mengalir dari katub 1, tetapi ada aliran udara dari katup 2 ke 3. Setelah ada sinyal listrik pada solenoid (valve diaktuasikan), maka akan mendorong silinder sehingga udara mengalir dari katup 1 ke 2 dan katup 3 menjadi tertutup.

3.4 Solenoid Solenoid adalah alat yang dapat mengubah energi listrik menjadi energi mekanik atau linier. Solenoid yang paling umum biasanya menggunakan medan magnet yang dibuat dari arus listrik yang ditrigger sebagai aksi kerja dorong atau tarik pada sebuah objek sebagai starter, valve, switch dan

27

latches. Jenis paling sederhana dari solenoid mengandalkan dua aspek utama untuk fungsi solenoid tersebut, yaitu sebuah kawat (atau berenamel) terisolasi yang dibentuk menjadi gulungan ketat, dan batang yang terbuat dari besi atau baja. Batang besi atau baja merupakan feromagnetik, sebuah properti yang dapat berfungsi sebagai elektromagnetik saat diberi arus listrik. Gambar dibawah menunjukkan bentuk solenoid yang digunakan.

Gambar 3.4 Solenoid

Ketika diberi arus listrik, kawat yang dibentuk menjadi koil menerima arus. Medan magnet yang dihasilkan menarik besi atau batang baja dengan kuat. Batang yang dihubungkan pada sebuah pegas bergerak ke kumparan dan akan tetap pada posisinya sampai arus dihentikan, kondisi pegas saat ini menjadi tertekan. Ketika arus dimatikan, pegas kembali ke posisi semula dan menarik batang besi atau baja pada posisi awalnya.

3.5 Kompresor Kompresor adalah alat pemampat atau pengkompresi udara dengan kata lain kompresor adalah penghasil udara mampat. Karena proses pemampatan, udara mempunyai tekanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan udara lingkungan (1atm). Dalam keseharian, kita sering memanfaatkan udara mampat baik secara langsung atau tidak langsung. Sebagai contoh, udara mampat yang digunakan untuk mengisi ban mobil atau sepeda motor, udara

28

mampat untuk membersihkan bagian-bagian mesin yang kotor di bengkelbengkel dan manfaat lain yang sering dijumpai sehari-hari.