Anda di halaman 1dari 16

MATERI BATUBARA 1

BATUBARA
Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisa unsur memberikan rumus formula empiris seperti : C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.

Umur Batubara
Pembentukan batubara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu (jtl), adalah masa pembentukan batubara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit batubara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk. Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batubara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di pelbagai belahan bumi lain.

Materi Pembentuk Batubara


Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:

Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan batubara dari perioda ini. Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batubara dari perioda ini. Pteridofita, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batubara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat. Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian seperti di Australia, India dan Afrika. Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

Kelas dan Jenis Batubara


Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.

Antrasit adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%. Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batubara yang paling banyak ditambang di Australia. Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus. Lignit atau batubara coklat adalah batubara yang sangat lunak yang mengandung air 3575% dari beratnya. Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.

Pembentukan Batubara
Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batubara disebut dengan istilah pembatubaraan (coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:

Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut. Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.

Batubara di Indonesia
Batu Bara. Salah satu sumber daya energi fosil di Indonesia yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, selain minyak bumi dan gas, adalah batubara. Jumlah sumber batubara yang telah diketahui mencapai 36 milyar ton. Namun secara ekonomi, jumlah batubara yang dapat ditambang masih terbatas. Jumlah cadangan terbukti (proven reserves) baru mencapai 5 milyar ton. Sisanya masih bersifat terduga atau terindikasi (inferred/indicated reserves) dan hipotetik (hypothetical reserves). Hal ini berarti bahwa untuk meningkatkan jumlah cadangan terbukti diperlukan upaya yang kontinyu melalui eksplorasi secara intensif. Sementara itu, sebagian besar dari jumlah sumber daya tersebut (sekitar 60%) tergolong pada kualitas batubara berperingkat rendah (low rank coal) atau dikenal sebagai jenis lignitik. Ciri dari jenis batubara ini adalah tinginya kandungan kadar air total (30% 40%) dan rendahnya nilai kalor

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

(<5.000 kkal/kg). Sebagian besar jenis batubara ini terdapat di Sumatera bagian selatan, dan sisanya tersebar di Sumatera bagian tengah, Kalimantan Timur bagian utara dan Kalimantan Selatan.
POTENSI SUMBERDAYA BATUBARA INDONESIA DATA TAHUN 2003 (Sumber : Direktorat Inventarisasi Sumberdaya Mineral, 2003) Terukur 12,45 milyar ton Terindikasi 20,53 milyar ton Terunjuk 24,31 milyar ton Hipotetik 0,53 milyar ton TOTAL 57,82 milyar ton

Sebagian besar batubara ditambang secara terbuka (open pit), sedangkan di lain pihak, lahan untuk kepentingan lainnya, seperti pertanian, kehutanan, pemukiman, dan lain-lain, semakin meningkat. Dengan demikian, penambangan batubara secara terbuka dalam skala besar akan rawan terhadap masalah kebutuhan dan tumpang tindih lahan dengan kepentingan lainnya.
PENYEBARAN POTENSI SUMBERDAYA BATUBARA INDONESIA (Sumber : Direktorat Inventarisasi Sumberdaya Mineral, 2003) Sumatera Selatan 38,45 % Kalimantan Timur* 33,83 % (Model Percontohan) Kalimantan Selatan 15,00 % Riau 3,56 5 Jambi 2,75 % Kalimantan Tengah 2,42 Sumatera Barat 1,24 % Kalimantan Barat 0,91 % Bengkulu 0,34 % Lain-lain 1,50 % Lokasi: Kalimantan Timur (Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Samarinda, Balikpapan dan sekitarnya). Secara geologi, penyebaran seam daerah ini menerus dan sangat homogen.

Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batubara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batubara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi. Batubara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batubara yang berkadar abu dan sulfur rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batubara Miosen. Sebaliknya, endapan batubara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batubara ini terbentuk

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan sebagian besar Kalimantan.

Endapan Batubara Eosen


Endapan ini terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai sekitar Tersier Bawah atau Paleogen pada cekungan-cekungan sedimen di Sumatera dan Kalimantan. Ekstensi berumur Eosen ini terjadi sepanjang tepian Paparan Sunda, dari sebelah barat Sulawesi, Kalimantan bagian timur, Laut Jawa hingga Sumatera. Dari batuan sedimen yang pernah ditemukan dapat diketahui bahwa pengendapan berlangsung mulai terjadi pada Eosen Tengah. Pemekaran Tersier Bawah yang terjadi pada Paparan Sunda ini ditafsirkan berada pada tatanan busur dalam, yang disebabkan terutama oleh gerak penunjaman Lempeng Indo-Australia.[2] Lingkungan pengendapan mula-mula pada saat Paleogen itu non-marin, terutama fluviatil, kipas aluvial dan endapan danau yang dangkal. Di Kalimantan bagian tenggara, pengendapan batubara terjadi sekitar Eosen Tengah - Atas namun di Sumatera umurnya lebih muda, yakni Eosen Atas hingga Oligosen Bawah. Di Sumatera bagian tengah, endapan fluvial yang terjadi pada fasa awal kemudian ditutupi oleh endapan danau (nonmarin).[2] Berbeda dengan yang terjadi di Kalimantan bagian tenggara dimana endapan fluvial kemudian ditutupi oleh lapisan batubara yang terjadi pada dataran pantai yang kemudian ditutupi di atasnya secara transgresif oleh sedimen marin berumur Eosen Atas.[3] Endapan batubara Eosen yang telah umum dikenal terjadi pada cekungan berikut: Pasir dan Asam-asam (Kalimantan Selatan dan Timur), Barito (Kalimantan Selatan), Kutai Atas (Kalimantan Tengah dan Timur), Melawi dan Ketungau (Kalimantan Barat), Tarakan (Kalimantan Timur), Ombilin (Sumatera Barat) dan Sumatera Tengah (Riau). Dibawah ini adalah kualitas rata-rata dari beberapa endapan batubara Eosen di Indonesia.
Kada Kadar r air Kadar air inher abu total en (%ad) (%ar) (%ad ) 10.00 7.00 9.00 4.00 11.00 4.40 8.00 15.00 12.00 <8.00 10.00 (ar)

Tambang

Cekungan

Perusahaan

Zat terbang (%ad)

Belerang (%ad)

Nilai energi (kkal/kg) (ad)

Satui Senakin Petangis Ombilin

Asam-asam Pasir Pasir Ombilin

PT Arutmin Indonesia PT Arutmin Indonesia PT BHP Kendilo Coal

41.50 39.50 40.50 36.50

0.80 0.70 0.80

6800 6400 6700

PT Bukit Asam 12.00 6.50 PT Allied Indo 4.00 Coal

0.50 - 0.60 6900 6900 (ar)

Parambahan Ombilin

37.30 (ar) 0.50 (ar)

(ar) - as received, (ad) - air dried, Sumber: Indonesian Coal Mining Association, 1998

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

Endapan Batubara Miosen


Pada Miosen Awal, pemekaran regional Tersier Bawah - Tengah pada Paparan Sunda telah berakhir. Pada Kala Oligosen hingga Awal Miosen ini terjadi transgresi marin pada kawasan yang luas dimana terendapkan sedimen marin klastik yang tebal dan perselingan sekuen batugamping. Pengangkatan dan kompresi adalah kenampakan yang umum pada tektonik Neogen di Kalimantan maupun Sumatera. Endapan batubara Miosen yang ekonomis terutama terdapat di Cekungan Kutai bagian bawah (Kalimantan Timur), Cekungan Barito (Kalimantan Selatan) dan Cekungan Sumatera bagian selatan. Batubara Miosen juga secara ekonomis ditambang di Cekungan Bengkulu. Batubara ini umumnya terdeposisi pada lingkungan fluvial, delta dan dataran pantai yang mirip dengan daerah pembentukan gambut saat ini di Sumatera bagian timur. Ciri utama lainnya adalah kadar abu dan belerang yang rendah. Namun kebanyakan sumberdaya batubara Miosen ini tergolong sub-bituminus atau lignit sehingga kurang ekonomis kecuali jika sangat tebal (PT Adaro) atau lokasi geografisnya menguntungkan. Namun batubara Miosen di beberapa lokasi juga tergolong kelas yang tinggi seperti pada Cebakan Pinang dan Prima (PT KPC), endapan batubara di sekitar hilir Sungai Mahakam, Kalimantan Timur dan beberapa lokasi di dekat Tanjungenim, Cekungan Sumatera bagian selatan. Tabel dibawah ini menunjukan kualitas rata-rata dari beberapa endapan batubara Miosen di Indonesia.
Kadar Kadar air Kadar Perusahaan air total inheren abu (%ar) (%ad) (%ad) PT Kaltim Prima Coal PT Kaltim Prima Coal PT Kideco Jaya Agung 9.00 13.00 24.00 14.00 16.00 18.00 4.00 7.00 3.00 4.20 4.30 5.30 4.00 Zat Belerang terbang (%ad) (%ad) 39.00 37.50 40.00 40.10 37.80 34.60 40.00 0.50 0.40 0.20 0.50 0.90 0.49 0.10

Tambang Cekungan

Nilai energi (kkal/kg)(ad) 6800 (ar) 6200 (ar) 5200 (ar) 6100 (ad) 5800 (ad) 5300 (ad) 5950 (ad)

Prima Pinang

Kutai Kutai

Roto South Pasir Binungan Tarakan Lati Air Laya Paringin Tarakan Sumatera bagian selatan Barito

PT Berau Coal 18.00 PT Berau Coal 24.60 PT Bukit Asam PT Adaro 24.00 24.00

(ar) - as received, (ad) - air dried, Sumber: Indonesian Coal Mining Association, 1998

Sumberdaya Batubara
Potensi sumberdaya batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batubara walaupun dalam jumlah

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Sulawesi. Di Indonesia, batubara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel) yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batubara jauh lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp 0,74/kilokalori sedangkan batubara hanya Rp 0,09/kilokalori, (berdasarkan harga solar industri Rp. 6.200/liter). Dari segi kuantitas batubara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi Indonesia. Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun ke depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batubara dan mengubahnya menjadi energis listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan melalui polutan CO2, SO2, NOx dan CxHy cara ini dinilai kurang efisien dan kurang memberi nilai tambah tinggi. Batubara sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih bermakna dan efisien jika dikonversi menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain yang bernilai ekonomi tinggi. Dua cara yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah likuifikasi (pencairan) dan gasifikasi (penyubliman) batubara. Membakar batubara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan teknologinya secara continue, yang bertujuan untuk mencapai efisiensi pembakaran yang maksimum, cara-cara pembakaran langsung seperti: fixed grate, chain grate, fluidized bed, pulverized, dan lain-lain,
masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya.

Gasifikasi Batubara
Coal gasification adalah sebuah proses untuk merubah batubara padat menjadi gas batu bara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses pemurnian gas-gas ini CO (karbon monoksida), karbon dioksida (CO2), hidrogen (H), metan (CH4), dan nitrogen (N2) dapat digunakan sebagai bahan bakar. hanya menggunakan udara dan uap air sebagai reacting-gas kemudian menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata mempunyai tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah. Tetapi, batubara bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat didalamnya adalah sulfur dan nitrogen, bila batubara ini terbakar kotoran-kotoran ini akan dilepaskan ke udara, bila mengapung di udara zat kimia ini dapat menggabung dengan uap air (seperti contoh kabut) dan tetesan yang jatuh ke tanah seburuk bentuk asam sulfurik dan nitrit, disebut sebagai "hujan asam" acid rain. Disini juga ada noda mineral kecil, termasuk kotoran yang umum tercampur dengan batubara, partikel kecil ini tidak terbakar dan membuat debu yang tertinggal di coal combustor, beberapa partikel kecil ini juga tertangkap di putaran combustion gases bersama dengan uap air, dari asap yang keluar dari cerobong beberapa partikel kecil ini adalah sangat kecil setara dengan rambut manusia.

Bagaimana membuat batubara bersih


Ada beberapa cara. Contoh sulfur, sulfur adalah zat kimia kekuningan yang ada sedikit di batubara, pada beberapa batubara yang ditemukan di Ohio, Pennsylvania, West Virginia dan eastern states lainnya, sulfur terdiri dari 3 sampai 10 % dari berat batu bara, beberapa batu bara yang ditemukan di Wyoming, Montana dan negara-negara bagian sebelah barat lainnya sulfur
ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

hanya sekitar 1/100ths (lebih kecil dari 1%) dari berat batubara. Penting bahwa sebagian besar sulfur ini dibuang sbelum mencapai cerobong asap. Satu cara untuk membersihkan batubara adalah dengan cara mudah memecah batubara ke bongkahan yang lebih kecil dan mencucinya. Beberapa sulfur yang ada sebagai bintik kecil di batu bara disebut sebagai "pyritic sulfur " karena ini dikombinasikan dengan besi menjadi bentuk iron pyrite, selain itu dikenal sebagai "fool's gold dapat dipisahkan dari batubara. Secara khusus pada proses satu kali, bongkahan batubara dimasukkan ke dalam tangki besar yang terisi air , batubara mengambang ke permukaan ketika kotoran sulfur tenggelam. Fasilitas pencucian ini dinamakan "coal preparation plants" yang membersihkan batubara dari pengotor-pengotornya. Tidak semua sulfur bisa dibersihkan dengan cara ini, bagaimanapun sulfur pada batubara adalah secara kimia benar-benar terikat dengan molekul karbonnya, tipe sulfur ini disebut "organic sulfur," dan pencucian tak akan menghilangkannya. Beberapa proses telah dicoba untuk mencampur batubara dengan bahan kimia yang membebaskan sulfur pergi dari molekul batubara, tetapi kebanyakan proses ini sudah terbukti terlalu mahal, ilmuan masih bekerja untuk mengurangi biaya dari prose pencucian kimia ini. Kebanyakan pembangkit tenaga listrik modern dan semua fasilitas yang dibangun setelah 1978 telah diwajibkan untuk mempunyai alat khusus yang dipasang untuk membuang sulfur dari gas hasil pembakaran batubara sebelum gas ini naik menuju cerobong asap. Alat ini sebenarnya adalah "flue gas desulfurization units," tetapi banyak orang menyebutnya "scrubbers" karena mereka men-scrub (menggosok) sulfur keluar dari asap yang dikeluarkan oleh tungku pembakar batubara.

Membuang NOx dari batubara


Nitrogen secara umum adalah bagian yang besar dari pada udara yang dihirup, pada kenyataannya 80% dari udara adalah nitrogen, secara normal atom-atom nitrogen mengambang terikat satu sama lainnya seperti pasangan kimia, tetapi ketika udara dipanaskan seperti pada nyala api boiler (3000 F=1648 C), atom nitrogen ini terpecah dan terikat dengan oksigen, bentuk ini sebagai nitrogen oksida atau kadang kala itu disebut sebagai NOx. NOx juga dapat dibentuk dari atom nitrogen yang terjebak didalam batubara. Di udara, NOx adalah polutan yang dapat menyebabkan kabut coklat yang kabur yang kadang kala terlihat di seputar kota besar, juga sebagai polusi yang membentuk acid rain (hujan asam), dan dapat membantu terbentuknya sesuatu yang disebut ground level ozone, tipe lain dari pada polusi yang dapat membuat kotornya udara. Salah satu cara terbaik untuk mengurangi NOx adalah menghindari dari bentukan asalnya, beberapa cara telah ditemukan untuk membakar barubara di pemabakar dimana ada lebih banyak bahan bakar dari pada udara di ruang pembakaran yang terpanas. Di bawah kondisi ini kebanyakan oksigen terkombinasikan dengan bahan bakar daripada dengan nitrogen. Campuran pembakaran kemudian dikirim ke ruang pembakaran yang kedua dimana terdapat proses yang mirip berulang-ulang sampai semua bahan bakar habis terbakar. Konsep ini disebut "staged combustion" karena batubara dibakar secara bertahap. Kadang disebut juga sebagai "low-NOx burners" dan telah dikembangkan sehingga dapat mengurangi kangdungan Nox yang terlepas di uadara lebih dari separuh. Ada juga teknologi baru yang bekerja seperti "scubbers" yang membersihkan NOX dari flue gases (asap) dari boiler batu bara. Beberapa dari alat ini menggunakan bahan kimia khusus yang disebut katalis yang mengurai bagian NOx menjadi gas

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

yang tidak berpolusi, walaupun alat ini lebih mahal dari "low-NOx burners," namun dapat menekan lebih dari 90% polusi Nox. DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK GEOLOGI TUGAS GEOLOGI BATUBARA
Dua tahap penting yang dapat dibedakan untuk mempelajari genesa batubara adalah gambut dan batubara. Dua tahap ini merupakan hasil dari suatu proses yang berurutan terhadap bahan dasar yang sama (tumbuhan). Secara definisi dapat diterangkan sebagai berikut (Wolf, 1984) : Gambut adalah batuan sedimen organik yang dapat terbakar, berasal dari tumpukan hancuran atau bagian dari tumbuhan yang terhumifikasi dan dalam kondisi tertutup udara (di bawah air), tidak padat, kandungan air lebih dari 75% (berat) dan kandungan mineral lebih kecil dari 50% dalam kondisi kering. Batubara adalah batuan sedimen (padatan) yang dapat terbakar, berasal dari tumbuhan, berwarna coklat sampai hitam, yang sejak pengendapannya terkena proses fisika dan kimia, yang mana mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya. Untuk menjadi batubara, ada beberapa tahapan yang harus dilewati oleh bahan dasar pembentuknya. Pada tiap tahapan ada proses yang terjadi dan prosesproses tersebut unik untuk tiap tahapan. Proses-proses ini tergantung pada banyak faktor. Mempelajari genesa batubara secara lengkap memerlukan banyak disiplin ilmu yang saling mendukung (Botani, Kimia, Geologi, Fisika, dsb). Pada bahan kuliah ini akan diuraikan secara umum mulai dari perkembangan tumbuh-tumbuhan (evolusi tumbuh-tumbuhan dalam kaitannya dengan evolusi bumi) sebagai bahan dasar pembentuk batubara, faktor yang mempengaruhi terjadinya gambut sebagai tahap awal terjadinya batubara dengan tipenya masing-masing, proses-proses yang terjadi dan faktor penyebabnya selama perkembangan dari gambut menjadi batubara, serta manfaat pengetahuan genesa untuk eksplorasi penambangan, pengolahan dan pemanfaatan. Sebelum mulai dengan genesa maka akan diperkenalkan klasifikasi dan Istila h r a n k pada batubara, sehingga tidak menjadikan penghalang untuk mengenal tahap-tahap yang dicapai, yang akan selalu disebut dengan r a n k / peringkat, karena batubara merupakan suatu nama yang mencakup semua tahap yang dicapai dalam prosesnya setelah stadium gambut terlewati (Tabel 1). Istilah r a n k / peringkat dipakai untuk menyatakan tahap yang telah dicapai oleh batubara dalam urutan proses pembatubaraan.R a n k bukanlah suatu besaran yang dapat diukur tetapi ditentukan berdasarkan beberapa faktor. Ada beberapa parameter yang dipakai untuk menentukanr a n k batubara (Tabel 1) dan setiap parameter mempunyai ruang pakai tersendiri dalam kaitannya denganr a n k yang dicapai. Hampir setiap negara penghasil batubara dengan jumlah yang besar memiliki istilah tersendiri untuk menyatakanr a n k-nya. Sebagai contoh diberikanr a n k batubara untuk ASTM (Amerika) dan DIN (Jerman). Berdasarkanr a n k yang dicapai maka batubara dapat diklasifikasikan. Ada banyak sekali klasifikasi batubara. Beberapa klasifikasi dibuat hanya untuk keperluan pemanfaatan dan perdagangan batubara (berkaitan dengan kualitas) dan ini kebanyakan tidak berkaitan dengan genesanya,
ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

atau mencerminkan genesanya. Sebagai pengetahuan umum tentang batubara sebelum mempelajari genesa maka pada bagian awal sekali disinggung sedikit tentang pengenalan orang terhadap batubara. Pengetahuan tentang genesa batubara tidak terlepas dari kejadian bumi itu sendiri, karena perkembangan bumi disertai dengan perkembangan iklim yang berikutnya dikaitkan dengan perkembangan makhluk hidup (terutama dalam hal ini tumbuhan). Sejarah geologi perkembangan bumi membawa akibat distribusi endapan batubara secara geografis dan secara waktu geologi seperti yang dijumpai keberadaannya saat ini. Tidak setiap tempat di bumi ini mempunyai endapan batubara dan tidak setiap waktu geologi menghasilkan endapan batubara yang ekonomis. Di dalam pegangan kuliah ini juga akan diterangkan komposisi batubara secara makroskopis maupun mikroskopis. Pengamatan batubara secara makroskopis bisa memberikan informasi tentang cara terjadinya endapan batubara yang bersangkutan. Lebih lagi pengamatan secara mikroskopis akan sangat membantu penafsiran genesa suatu endapan batubara, karena setiap komponen mikroskopis batubara (maseral) mempunyai genesa masing-masing. Pengetahuan kimia organik batubara sangat berperan dalam mempelajari genesa batubara. Hampir seluruh studi tentang endapan batubara saat ini disertai dengan hasil analysa geokimia organiknya, disamping secara mikroskopis. Kelengkapan dengan hasil analisis paleobotanik juga sangat memberikan hasil interpretasi yang lebih baik lagi. Dari gabungan metode ini bisa diketahui bukan saja lingkungan pengendapannya tetapi juga sampai pada jenis tumbuhan pembentuknya dan juga proses yang terjadi dan dominan dari sekian banyak proses yang tercakup dalam proses pembatubaraan. Sebagai bagian akhir akan diperkenalkan genesa batubara Indonesia yang terkenal dengan kandungan abu dan sulfur yang rendah, kandungan vitrinit yang selalu sangat dominan (terutama densinit, ulminit atau desmocolinit, telocolinit dan vitrodetrinit). 2. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN BATUBARA 2.1. SEJARAH BATUBARA Diperkirakan orang China mengenal dan menambang batubara sejak beberapa abad sebelum Masehi (Chengi mines). Lama sesudah itu Marcopolo (1280) menyebutnya sebagai benda ajaib dari Cina. Filosof dari Yunani Theophrastos (muridnya Aristoteles) mengenal batubara dan menyebutnya dengan anthrax geodes yang merupakan asal dari kata Antrasit yang dikenal sekarang. Sejarah geologi mengenal dua jaman (great era) pembentukan humolith (humolith adalah suatu istilah yang diperkenalkan oleh Patonie tahun 1920 untuk mencakup gambut, lignit dan batubara), seperti pada Tabel 2. Pertama adalah Anthracolithicum yang dimulai dari Jaman Karbon Bawah sampai dengan Perm. Ini merupakan masa pembentukan batubara yang maha hebat (khususnya Jaman Karbon). Contohnya Amerika Utara dan Eropa. Sebagian besar batubara jaman ini terjadi pada belahan bumi bagian utara. Formasi ini pernah mencapai kedalaman lebih dari 3 mil dan membentang dari Skotlandia sampai dengan Silesia (Polandia). Kedua adalah dari Kretasius Bawah sampai dengan Tersier. Hampir seluruh lignit dan brown coal terbentuk pada jaman ini. Kecuali batubara di Moskow Basin yang berasal

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

dari Jaman Karbon Bawah. Selanjutnya seluruh endapan gambut diasumsikan terjadi pada Jaman Kuarter. Seluruh endapan batubara Indonesia terbentuk pada Jaman Tersier. Walaupun demikian masih dapat dibedakan antara batubara paleogen (endapan batu bara yang terbentuk pada cekungan intramontain; Ombilin, Bayah, Kalimantan Tenggara, Sulawesi Selatan, dsb) dan neogen (untuk batubara yang terbentuk pada cekungan foreland; Tanjung Enim dan delta; hampir semua endapan batubara di Kalimantan Timur). 2.2. DISTRIBUSI ENDAPAN BATUBARA DI DUNIA Lapangan batubara dengan produksi yang besar seperti USA, Inggris, Jerman, Rusia,Cina, Jepang, Australia, Afrika Selatan, Canada dan India. Negara-negara tersebut memproduksi 2/3 dari produksi batubara dunia dan dengan cadangan 96% dari cadangan batubara dunia (Van Krevelen, 1993). Disamping itu negara-negara tersebut memiliki batubara denganr a n k dari brown coal sampai dengan antrasit dan dengan cara penambangan konvensional bermula sejak Revolusi Industri (Inggris) sampai dengan awal abad ini (Afrika Selatan). 2.3. PERKEMBANGAN BUMI DAN TERJADINYA ENDAPAN BATUBARA Dengan adanya era dan distribusi endapan batubara yang tertentu di muka bumi ini maka beberapa pertanyaan atau teka-teki kemudian timbul bagi para ahli batubara , seperti : a. Kenapa hanya pada periode tertentu saja batubara terbentuk. b. Kenapa hanya pada tempat tertentu saja batubara terbentuk. c. Bagaimana bisa batubara dari tempat yang berjauhan dapat dikorelasikan sedangkan batubara yang berdekatan sangat sulit dikorelasikan. Pertanyaan ini bisa dijawab dengan Geologi Modern (continental drift dan perkembangannya), Paleontologi (paleobotani/evolusi flora) dan Climatologi (siklus iklim dalam kaitannya dengan perkembangan atau pergeseran benua). Dulu orang beranggapan bahwa bumi itu diam. Tetapi berikutnya disepakati bahwa bumi itu bergerak dan dinamis. Dikenal 3 fase dalam perkembangan konsep teori ini (Van Krevelen, 1993) : Theories of the continental drift. Theories of ocean floor spreading (pemekaran lantai samudera). Theories of the plate tectonics (tektonik lempeng).

Geologi Batubara
Genesa Batubara

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

Batubara adalah batuan sediment (padatan ) yang dapat terbakar, berasal dari tumbuhan, yang pada kondisi tertentu tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna karena aktivitas bakteri anaerob, berwarna coklat sampai hitam yang sejak pengendapannya terkena proses fisika dan kimia, yang mana mengakibatkan pengayaan kandungan karbon. Proses pembentukan batubara dari tumbuhan melalui dua tahap, yaitu : 1. Tahap pembentukan gambut (peat) dari tumbuhan yang disebut proses peatification Gambut adalah batuan sediment organic yang dapat terbakar yang berasal dari tumpukan hancuran atau bagian dari tumbuhan yang terhumifikasi dan dalam keadaan tertutup udara ( dibawah air ), tidak padat, kandungan air lebih dari 75 %, dan kandungan mineral lebih kecil dari 50% dalam kondisi kering. 2. Tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut proses coalification Lapisan gambut yang terbentuk kemudian ditutupi oleh suatu lapisan sediment, maka lapisan gambut tersebut mengalami tekanan dari lapisan sediment di atasnya. Tekanan yang meningkatakan mengakibatkan peningkatan temperature. Disamping itu temperature juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman, disebut gradient geotermik. Kenaikan temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh aktivitas magma, proses pembentukan gunung api serta aktivitas tektonik lainnya. Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dimana terjadi proses pengurangan kandungan air, pelepasan gas gas ( CO2, H2O, CO, CH4 ), penigkatan kepadatan dan kekerasanb serta penigkatan nilai kalor.Komposisi batubara terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P, dan unsur unsur lain (air, gas, abu). Secara Horisontal maupun Vertikal endapan batubara bersifat heterogen.Perbedaan secara horisontal disebabkan oleh:

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

Potensi Batubara di Kalimantan Tengah


Batubara yang menyusun suatu formasi/lapisan batubara pada awalnya berupa gambut atau akumulasi bahan serupa yang kemudian mengalami pembusukan, melalui proses kompaksi dan panas dalam waktu yang sangat panjang maka gambut akan berubah menjadi batubara. Batubara di Indonesia banyak di gunakan untuk bahan bakar, industri semen, PLTU dan dalam jumlah kecil dalam peleburan timah dan nikel. Batubara di Kalimantan Tengah sudah mulai ditambang sejak awal abad 19 tambang batubara didekat Muara Teweh sudah di tambang sejak tahun 1910 dan mampu menghasilkan sekitar 7.000 ton pertahun saat itu. Produksi berkurang sejak Perang Dunia ke II dan kemudian berhenti total sekitar tahun 1960. Survey penyelidikan batubara di Kalimantan Tengah telah di lakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi baik pemerintah maupun perusahaan asing, salah satunya PT. BHP-Biliton yang telah memprediksikan bahwa terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori >7.000 berkualitas baik (> 8.000 kal/gr) juga di temukan di Kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara. Pertambangan Batu Bara terdapat di Kabupaten Gunung Emas, Kotawaringin Timur, Kabupaten Katingan, Kabupaten Katowaringin Barat. Di Daerah ini batubara banyak di temukan di Muara Bakah, Bakanon, Sungai Montalat, Sungai Lahei, Sungai Maruwai dan sekitarnya. Beberapa lapisan batubara mempunyai ketebalan mencapai 1,5 7 meter dan mempunyai kualifikasi Cooking Coal dengan kandungan sebagai berikut : - Kandungan air : 8,74 15,53 % - Volatile Matter : 0,39 1,76 % - Karbon : 38,44 48,66 % - Sulfur : 0,35 0,46 % - Nilai Kalori : 7.000 8.000 cal/gr. - CSN : 5 7

Potensi Batubara di Kalimantan Selatan


Kalimantan Selatan kaya akan sumberdaya pertambangan dan galian, diantaranya batu bara. Potensi batu bara cukup besar dengan kualitas yang baik, serta keberadaanya hampir menyebar di seluruh Kabupaten. Beberapa daerah yang memiliki potensi batubara diantaranya Kabupaten (Kotabaru, Tabalong, Balangan, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan dan Banjarbaru).

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

Potensi Batubara di Jambi

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

Lokasi : - Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari; Cadangan 218.937.180 barel, Kecamatan Mestrong Kabupaten Muarojambi; Cadangan. 323.868.100 barel, - Kecamatan Kota Baru Jambi; Cadangan 408.986.030 barel, - Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari; Cadangan 15.309.840 barel, - (Setiti) Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muarojambi Cadangan 14.836.630 barel & - (Sungai gelam) Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muarojambi Cadangan 47.738.120 barel, - Kecamatan sekernan Kabupaten Muarojambi; Cdgn 28.695.500 barel, - Kecamatan Muara Bulian Cadangan 33.971.400 barel, - (Petaling) Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muarojambi Cadangan 174.307.510 barel, '-Kecamatan skernan Kabupaten Muarojambi cdgn 566.100 barel, - Kecamatan Mestong Kabupaten Muarojambi Cdgn 3.739.750 barel. -(jambi merang) Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muarojambi Cadangan belum ditemukan.

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

BAB I PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG Sumber daya batubara (Coal Resources) di Indonesia cukup besar dengan total cadangan kurang lebih 39 milyar ton. Bila diasumsikan laju pertumbuhan produksi batubara mencapai 12,4 % per tahun, maka batubara Indonesia dapat dimanfaatkan hingga tahun 2166. Lokasi cadangan umumnya berada di Sumatera (64%) dan Kalimantan (35%). Sementara itu daerah-daerah lain seperti pulau Jawa dan Sulawesi walaupun cadangannya sedikit tetapi telah dimanfaatkan, karena di kedua daerah tersebut lokasi konsumen tidak jauh. Sehingga batu bara tetap ekonomis untuk dimanfaatkan. Di pulau Jawa, banyak pemakai batubara untuk berbagai keperluan, sedangkan di Sulawesi terdapat pabrik semen dengan kapasitas yang cukup besar. Cadangan batu bara Indonesia saat ini berjumlah sekitar 7 miliar ton yang terdiri dari batu bara berkualitas rendah, yaitu lignite (49%), dan sub-bituminous (26%), serta batu bara berkualitas tinggi yaitu

ATPN BY SYAMSURI

MATERI BATUBARA 1

bituminous (24%) dan antrachite (1%). Cadangan batubara (Coal Reserves) adalah bagian dari sumber daya batubara yang telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang Batubara berkualitas rendah ditandai dengan kandungan air yang tinggi dan karbon yang rendah. Sementara itu, batu bara berkualitas tinggi memiliki kandungan air yang rendah dan karbon yang tinggi, dan umumya dijual ke pasar ekspor internasional Sebelum melakukan eksploitasi maka diperlukan suatu tahapan eksplorasi yang akan memudahkan dalam penentuan suatu cebakan-cebakan batubara, menentukan kecenderungan akumulasi endapan batubara dan penyebarannya secara lateral. Disamping itu potensi kuantitas dan kualitas dari sumberdaya batubara dapat ditentukan dari tahapan eksplorasi. Eksplorasi batu bara umumnya dilaksanakan melalui empat tahap, survei tinjau, prospeksi, eksplorasi pendahuluan dan eksplorasi rinci. Tujuan penyelidikan geologi ini adalah untuk mengidentifikasi keterdapatan, keberadaan, ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas, serta kualitas suatu endapan batu bara sebagai dasar analisis/kajian kemungkinan dilakukannya investasi. Tahap penyelidikan tersebut menentukan tingkat keyakinan geologi dan kelas sumber daya batubara yang dihasilkan. I.2 MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN Makalah ini mempunyai tujuan yaitu : a.Memahami cara metode eksplorasi batubara yang baik dan benar dalam penemuan sumberdaya batubara. b.Mengetahui berbagai cara pemetaan geologi yang dapat digunakan dalam membantu kegiatan eksplorasi batubara. c. Memahami metode-metode yang diterapkan dalam eksplorasi batubara, yaitu : metode geofisika dan metode geokimia. d.Mengetahui metode pemboran yang biasa digunakan untuk eksplorasi batubara. I.3 METODE PENULISAN Metode penulisan makalah ini adalah metode analisis deksriptif yang dilakukan melalui penyaduran telaah pustaka yang relevan dengan masalah yang sedang dikaji. Bahan kajian tersebut berasal dari media cetak (buku, jurnal ilmiah) dan media internet.

ATPN BY SYAMSURI