Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

Kanker serviks atau sering dikenal dengan kanker mulut rahim/kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina).

Gambar 1. Organ Reproduksi Wanita.3 Kanker serviks adalah pertumbuhan sel yang tidak normal pada daerah mulut atau leher rahim. Serviks adalah bagian bawah dari uterus atau rahim, di atas saluran vagina. Kanker serviks tumbuh ketika sel-sel yang abnormal di saluran serviks berkembang biak di luar kontrol dan membentuk lesi prakanker. Bila berlanjut, lesi tersebut berubah menjadi tumor dan menyebar ke jaringan sekitarnya, bahkan hingga ke dinding panggul. Perubahan menjadi sel kanker ini memakan waktu antara 10 hingga 15 tahun.3 Menurut Globacan (2002) di seluruh dunia setiap tahun ada 493.243 wanita terdiagnosa kanker serviks, 273.505 meninggal. Di dunia, lebih dari 700 wanita meninggal setiap hari karena kanker serviks. Di Indonesia, kanker serviks menempati urutan pertama kanker pada wanita. Setiap hari di Indonesia ada 40 orang wanita terdiagnosa dan 20 wanita meninggal karena kanker serviks. Karena kanker serviks merupakan penyakit yang telah diketahui penyebabnya dan telah diketahui perjalanan penyakitnya. Ditambah juga sudah ada metode deteksi dini kanker serviks dan adanya pencegahan dengan vaksinasi, seharusnya angka kejadian dan kematian akibat

kanker servik dapat diturun. Banyaknya kasus kanker serviks di Indonesia disebabkan pengetahuan tentang kanker servik yang kurang sehingga kesadaran masyarakat untuk deteksi dini pun masih rendah.4 Kanker serviks merupakan hasil akhir dari lesi pra kanker yang berjalan pelan tetapi progresif sehingga deteksi dan penanganan lesi pra kanker merupakan faktor yang paling penting untuk menurunkan angka kejadian kanker serviks.2

BAB II PEMBAHASAN MATERI


2.1 Pendahuluan Kanker serviks merupakan penyakit kanker perempuan yang menimbulkan kematian terbanyak akibat penyakit kanker terutama di negara berkembang. Diperkirakan dijumpai kanker serviks baru sebanyak 500.000 orang di seluruh dunia dan sebagian besar terjadi di negara berkembang. Salah satu penyebabnya adalah karena infeksi human Papilloma Virus (HPV) yang merangsang perubahan perilaku sel epitel serviks. Dalam perkembangan kemajuan di bidang biologi molekuler dan epidemiologi tentang HPV, kanker serviks disebabkan oleh virus HPV. Banyak penelitian dengan studi kasus kontrol dan kohort didapatkan risiko relatif hubungan antara infeksi HPV dan kanker serviks antara 20 sampai 70. Infeksi HPV merupakan penyakit menular seksual yang utama pada populasi, dan estimasi terjangkit berkisar 14 - 20% pada negara-negara di Eropa sampai 70% di Amerika Serikat, atau 95% di populasi di Afrika. Lebih dari 70% kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV tipe 16 dan 18. Infeksi HPV mempunyai prevalensi yang tinggi pada kelompok usia muda, sementara kanker serviks baru timbul pada usia tiga puluh tahunan atau lebih. Tahap awal munculnya kanker serviks dimulai dengan mutasi sel secara bertahap, tetapi progresif dan akhirnya berkembang menjadi karsinoma. Kanker serviks dapat menyebar melalui pembuluh darah, pembuluh limfa atau langsung ke organ vital lain seperti parametrium, korpus uterus, vagina, kandung kencing dan rectum.5 2.2 Faktor Resiko Berhubungan dan disebabkan oleh infeksi virus papilloma humanis (HPV) khususnya tipe 16, 18, 31, dan 45. Faktor risiko secara umum yang berhubungan dengan kanker serviks adalah aktivitas seksual pada usia muda (< 16 tahun), hubungan seksual dengan multipartner, menderita HIV atau mendapat penyakit/penekanan kekebalan (immune suppressive) yang bersamaan dengan infeksi HPV, dan perempuan perokok.

Leher/mulut rahim terletak di dalam vagina dan merupakan pintu masuk ke dalam rahim. Seperti halnya jenis kanker lain, kanker serviks belum diketahui penyebabnya secara pasti. Namun berdasarkan analisis para ahli faktor resiko lain timbulnya kanker serviks adalah sebagai berikut :

Infeksi bakteri atau jamur dalam waktu yang lama. Mengakibatkan rusaknya sel-sel yang kemudian berubah menjadi sel kanker. Wanita yang sering berganti-ganti pasangan Wanita berusia di atas 40 tahun lebih rentan terkena kanker serviks. Semakin bertambah usia maka semakin tinggi risikonya. Daya tahan tubuh yang lemah Kebiasaan merokok Hubungan seksual di usia yang terlalu muda Keputihan yang berlangsung terus-menerus dan tidak diobati. Membasuh kemaluan dengan air yang tidak bersih, sehingga terinfeksi kuman dan bakteri. Pemakaian pembalut wanita yang mengandung bahan dioksin (bahan pemutih yang dipakai untuk memutihkan pembalut hasil daur ulang dari barang bekas). Memiliki terlalu banyak anak (lebih dari 5 anak).5

2.3 Tanda dan Gejala Tanda-tanda dini kanker serviks mungkin tidak menimbulkan gejala. Tanda-tanda dini yang tidak spesifik seperti sekret vagina yang agak berlebihan dan kadang-kadang disertai dengan bercak perdarahan. Gejala umum yang sering terjadi berupa perdarahan pervaginam (pascasanggama, perdarahan di luar haid) dan keputihan. Pada penyakit lanjut keluhan berupa keluar cairan pervaginam yang berbau busuk, nyeri panggul, nyeri pinggang dan pinggul, sering berkemih, buang air kecil atau buang air besar yang sakit. Gejala penyakit yang residif berupa nyeri pinggang, edema kaki unilateral, dan obstruksi ureter.1

2.4 Patofisiologi Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). Histologi antara epitel gepeng berlapis (squamous complex) dari portio dengan epitel kuboid/silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks kanalis serviks. Pada wanita SCJ ini berada di luar ostius uteri eksternum, sedangkan pada wanita umur > 35 tahun, SCJ berada di dalam kanalis serviks. Tumor dapat tumbuh :
1. Eksofilik mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa yang mengalami infeksi

sekunder dan nekrosis. 2. Endofilik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stomaserviks dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus. 3. Ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas. Serviks normal secara alami mengalami proses metaplasi/erosio akibat saling desakmendesak kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan masuknya mutagen, porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula fisiologik dapat berubah menjadi patologik melalui tingkatan NIS I, II, III dan KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma invasif.. Sekali menjadi mikroinvasif atau invasif, proses keganasan akan berjalan terus. Periode laten dari NIS I s/d KIS 0 tergantung dari daya tahan tubuh penderita. Umumnya fase pra invasif berkisar antara 3 20 tahun (rata-rata 5 10 tahun). Perubahan epitel displastik serviks secara kontinyu yang masih memungkinkan terjadinya regresi spontan dengan pengobatan / tanpa diobati itu dikenal dengan Unitarian Concept dari Richard. Hispatologik sebagian besar 95-97% berupa epidermoid atau squamos cell carsinoma sisanya adenokarsinoma, clear cell carcinoma/mesonephroid carcinoma dan yang paling jarang adalah sarcoma.6

2.5 Diagnosis Tes Pap smear pada saat ini merupakan alat skrining yang diandalkan. Lima puluh persen pasien baru kanker serviks tidak pernah melakukan tes Pap smear. Tes Pap smear direkomendasikan pada saat mulai melakukan aktivitas seksual atau setelah menikah. Setelah tiga kali pemeriksaan tes Pap smear tiap tahun, interval pemeriksaan dapat lebih lama (tiap 3 tahun sekali). Bagi kelompok perempuan yang berisiko tinggi (infeksi HPV, HIV, kehidupan seksual yang berisiko) dianjurkan pemeriksaan tes Pap smear setiap tahun. Pemastian diagnosis dilaksanakan dengan biopsi serviks. Diagnosis kanker serviks diperoleh melalui pemeriksaan klinis berupa anamnesis, pemeriksaan fisik dan ginekologik, termasuk evaluasi kelenjar getah bening, pemeriksaan panggul dan pemeriksaan rektal. Biopsi serviks merupakan cara diagnosis pasti dari kanker serviks, sedangkan tes Pap smear dan atau kuret endoserviks merupakan pemeriksaan yang tidak adekuat. Pemeriksaan radiologi berupa foto paru-paru, pielografi intravena atau CT-scan merupakan pemeriksaan penunjang untuk melihat perluasan penyakit, serta menyingkirkan adanya obstruksi ureter. Pemeriksaan laboratorium klinik berupa pemeriksaan darah tepi, tes fungsi ginjal, dan tes fungsi hati diperlukan untuk mengevaluasi fungsi organ serta menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan.1 2.6 Stadium Stadium kanker serviks ditetapkan secara klinis. Stadium klinis menurut FIGO membutuhkan pemeriksaan pelvik, jaringan serviks (biopsi konisasi untuk stadium IA dan biopsi jaringan serviks untuk stadium klinik lainnya), foto paru-paru, pielografi intravena (dapat pula digantikan dengan foto CT-scan). Untuk kasus-kasus stadium lebih Ianjut diperlukan pemeriksaan sistoskopi, proktoskopi, dan barium enema.1

Stadium 0 Stadium I Stadium IA

Stadium kanker serviks menurut FIGO 2000 Karsinoma in situ, karsinoma intraepithelial Karsinoma masih sebatas di serviks (penyebaran ke korpus diabaikan) Invasi kanker ke stroma hanya dapat di diagnosis secara mikrokospik. Lesi yang dapat dilihat secara makrokospik walau dengan invasi yang superfisial dikelompokan pada stadium IB

I A1 I A2 Stadium IB IB 1 IB 2 Stadium II II A II B Stadium III

Invasi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih 3,0 mm dan lebar lesi horizontal tidak lebih dari 7 mm Invasi ke stroma lebih dari 3 mm tapi kurang dari 5 mm dan perluasan horizontal tidak lebih dari 7 mm Lesi yang tampak terbatas pada serviks atau secara mikroskopik lesi lebih luas dari stadium I A2 Lesi yang tampak tidak lebih dari 4 cm dari dimensi terbesar Lesi yang tampak lebih dari 4 cm dari diameter terbesar Tumor telah menginvasi di luar uterus tetapi belum mengenai dinding panggul atau sepertiga distal/bawah vagina Tanpa invasi ke parametrium Sudah menginvasi parametrium Tumor telah luas kedinding panggul dan atau mengenai sepertiga bawah vagina dan atau telah menyebabkan hidronefrosis atau tidak berfungsinya ginjal

III A III B Stadium IV IV A IV B

Tumor telah meluas kesepertiga bawah vagina dan tidak menginvasi ke perametrium,tidak sampai dinding panggul Tumor telah meluas ke dinding panggul dan atau telah menyebabkan hidronefrosis Tumor telah meluas ke luar organ reproduksi Tumor menginvasi ke mukosa kandung kemih atau rectum dan atau keluar rongga panggul minor Metastatis jauh penyakit mikroinvasif,invasi stroma dengan kedalaman 3mm atau kurang dari membrane basalis epitel tanpa invasi ke rongga pembuluh limfe/darah atau melekat dengan lesi kanker serviks.
7

2.7 Histopatologik Kasus dapat diklasifikasikan dalam karsinoma serviks bila pertumbuhan primernya dari serviks. Delapan puluh lima persen jenis histopatologik adalah karsinoma sel skuamosa, 10% adenokarsinoma, dan 5% adenoskuamosa, sel jernih, sel kecil, sel verukosa dan lain-lain. Derajat diferensiasi dengan berbagai metode dapat menunjang diagnosis, tetapi tidak dapat memodifikasi stadium klinis. Secara histopatologik kanker serviks dibagi menjadi: Neoplasia intraepitel serviks, derajat III, Karsinoma skuamosa insitu, Karsinoma skuamosa (berkeratinisasi, tidak berkeratinisasi, verukosa), Adenokarsinoma insitu, Adenokarsinoma insitu tipe endoservikal, Adenokarsinoma endometrioid, Adenokarsinoma sel jernih, Karsinoma adenoskuamosa, Karsinoma kistik adenoid, Karsinoma sel jernih dan Karsinoma undifferentiated. Derajat histopatologik diferensiasi baik, diferensiasi sedang dan diferensiasi buruk.1 2.8 Pengobatan 2.8.1 Pembedahan Tindakan pembedahan dapat dilakukan pada kanker serviks sampai stadium IIA dan dengan hasil pengobatan seefektif radiasi, akan tetapi mempunyai keunggulan dapat meninggalkan ovarium pada pasien usia pramenopause. Kanker serviks dengan diameter lebih dari 4 cm menurut beberapa peneliti lebih baik diobati dengan kemoradiasi daripada operasi. Histerektomi radikal mempunyai mortalitas kurang dari 1%. Morbiditas termasuk kejadian fistel (1% sampai 2%) kehilangan darah, atonia kandung kemih yang membutuhkan kateterisasi intermiten, antikolinergik, atau alfa antagonis.
Stadium I A1 tanpa invasi limfovaskuler: Konisasi serviks atau histerektomia

totalis simpel. Risiko metastasis ke kelenjar getah bening/residif 1%.


Stadium I A1 dengan invasi limfovaskuler, stadium I A2. Modifikasi

histerektomia radikal (tipe II) dan limfadenektomia pelvik. Stadium I Al dengan invasi limfovaskuler didapati 5% risiko metastasis kelenjar getah bening.
Stadium I A2 berkaitan dengan 4% sampai 10% risiko metastasis kelenjar

getah bening.
8

Stadium I B sampai stadium II A: Histerektomia radikal (tipe III) dan

limfadenektomia pelvik dan para-aorta.


Radiasi ajuvan diberikan pascabedah pada kasus dengan risiko tinggi (lesi

besar, invasi limfovaskuler atau invasi stroma yang dalam). Radiasi pasca bedah dapat mengurangi residif sampai 50%.1

2.8.2 Radioterapi
Terapi radiasi dapat diberikan pada semua stadium, terutama mulai stadium II B

sampai IV atau bagi pasien pada stadium yang lebih kecil tetapi tidak merupakan kandidat untuk pembedahan. Penambahan Cisplatin selama radioterapi whole pelvic dapat memperbaiki harapan hidup 30% sampai 50%.
Komplikasi radiasi yang paling sering adalah komplikasi gastrointestinal

seperti proktitis, kolitis, dan traktus urinarius seperti sistitis dan stenosis vagina.
Teleterapi dengan radioterapi whole pelvic diberikan dengan fraksi 180 - 200

cGy perhari selama 5 minggu (sesuai dengan dosis total 4500 - 5000 cGy) sebagai awal pengobatan. Tujuannya memberikan radiasi seluruh rongga panggul, parametrium, kelenjar getah bening iliaka, dan para-aorta.
Teleterapi kemudian dilanjutkan dengan brakiterapi dengan menginsersi

tandem dan ovoid (dengan dosis total ke titik A 8500 cGy dan 6500 cGy ke titik B) melalui 2 aplikasi. Tujuan brakiterapi untuk memberikan radiasi dosis tinggi ke uterus, serviks, vagina, dan parametrium.
Titik A adalah titik 2 cm superior dari ostium uteri eksterna dan 2 cm lateral

dari garis tengah uterus. Titik ini berada di parametrium.


Titik B adalah titik 2 cm superior dari ostium uteri eksterna dan 5 cm lateral dari

garis tengah uterus. Titik ini berada di dinding pelvis.


Radioterapi ajuvan dapat diberikan pada pasien pasca bedah dengan risiko

tinggi.1

2.8.3 Kemoterapi Kemoterapi terutama diberikan sebagai gabungan radio-kemoterapi ajuvan atau untuk terapi paliatif pada kasus residif. Kemoterapi yang paling aktif adalah Cisplatin. Carboplatin juga mempunyai aktivitas yang sama dengan Cisplatin. Jenis kemoterapi lainnya yang mempunyai aktivitas yang dimanfaatkan dalam terapi adalah Ifosfamid dan pac-litaxel. Sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat ini bekerja terutama terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi, semakin aktif sel-sel kanker tersebut berproliferasi disebut Kemoresponsif, maka semakin peka terhadap lambat sitostatika proliferasinya hal ini sebaliknya semakin maka

kepekaannya semakin rendah. Hal ini disebut Kemoresisten. Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah :
1. O b a t

golongan

A l k yl a t i n g

agent,

platinum

C o m p o u n s , dan

Antibiotik Anthrasiklin obat golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di intisel, sehingga sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi.
2. Obat golongan Antimetabolit , bekerja langsung pada molekul basa inti sel,

yang berakibat menghambat sintesis DNA.


3. Obat

golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid ,

dan

Taxanes

bekerja pada gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel.
4. Obat golongan enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat

sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA darisel-sel kanker tersebut.7 Pemilihan metode terapi pada ca serviks berdasarkan pembagian stadium klinis, derajat diferensiasi patologis, ukuran tumor. a) Terapi Operasi tindakan kuratif pada kanker serviks stadium awal
Ia1: dengan histerektomi (pengangkatan uterus) total, bila perlu konservasi fungsi

reproduksi, dapat dengan konisasi (pengeluaran sebagian jaringan serviks sedemikian rupa sehingga yang dikeluarkan berbentuk kerucut (konus), dengan kanalis servikalis sebagai sumbu kerucut)

10

Ia2: dengan histerektomi radikal modifikasi ditambah pembersihan kelenjar limfe kavum pelvis bilateral
Ib1 IIa: dengan histerektomi radikal modifikasi atau histerektomi radikal ditambah

pembersihan kelenjar limfe kavum pelvis bilateral; pasien usia muda dapat mempertahankan ovary. b) Radioterapi Radioterapi radikal Sesuai untuk karsinoma serviks uteri stadium IIb IV. Tujuannya adalah agar lesi primer serviks uteri dan lesi sekunder yang mungkin timbul semuanya mendapat dosis radiasi maksimal, tapi tidak melebihi dosis toleransi radiasi organ dalam abdomen dan pelvis Radioterapi praoperasi Digunakan untuk stadium Ib2/IIa atau tumor serviks tipe tumbuh ke dalam, kanalis servikalis sangat jelas membesar. Radioterapi membuat lesi mengecil, meningkatkan keberhasilan operasi, menurunkan vitalitas sel kanker dan penyebaran intraoperatif, sehingga mengurangi risiko timbulnya rekurensi sentral. Radioterapi pascaoperasi Untuk pasien yang secara patologik terbukti terdapat metastasis di kelenjar limfe kavum pelvis, kelenjar limfe para-aorta abdominal, jaringan parametrium, tumor menginvasi lapisan otot dalam serviks uteri, tampak tumor residif di vagina residual. c) Kemoterapi
Terutama digunakan untuk terapi kasus stadium sedang dan lanjut pra-operasi atau

kasus rekuren, metastasis. Untuk tumor ukuran besar, relatif sulit diangkat secara operasi, kemoterapi dapat mengecilkan tumor, meningkatkan keberhasilan operasi. Terhadap pasien radioterapi, tambahan kemoterapi yang sesuai dapat meningkatkan sensitivitas terhadap radiasi, sedangkan bagi pasien stadium lanjut yang tidak sesuai untuk operasi atau radioterapi, kemoterapi dapat membawa efek paliatif.
Pada tingkat klinik IVa dan IVb penyinaran hanya bersifat paliatif. Pemberian

kemoterapi dapat dipertimbangkan. Pada penyakit yang kambuh satu tahun sesudah penanganan lengkap, dapat dilakukan operasi jika terapi terdahulu adalah radiasi dan prosesnya masih terbatas pada panggul. Jika operasi tak mungkin dilakukan, harus
11

dipilih kemoterapi bila syarat2nya terpenuhi. Menggunakan bentuk regimen yang terdiri dari kombinasi beberapa sitostatika (polikemoterapi). Jika terapi terdahulu adalah operasi, sebaiknya dilakukan penyinaran jika prosesnya masih terbatas dalam panggul (lokoregional). Bila penyebaran sudah lanjut, pilih kemoterapi.10 2.9 Faktor Prediposisi Faktor utama yang menimbulkan residif termasuk invasi limfovaskuler, metastasis ke kelenjar getah bening, kedalaman invasi stroma, batas sayatan operasi, dan ukuran tumor. Jenis karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma tidak berbeda prognosisnya. Faktor lain untuk timbulnya residif termasuk ploidi DNA tumor dan ekspresi onkogen khusus (HER2/neu).1 2.10 Rute Penyebaran Perluasan kanker serviks dapat secara langsung, melalui aliran getah bening sehingga bermetastasis ke kelenjar getah bening ilika interna/eksterna, obturator, para aorta, ductus thoracicus, sampai ke skalen kiri; penyebaran ke kelenjar getah bening inguinal melalui ligamentum rotundum. Penyebarannya juga melalui pembuluh darah/hematogen.1 2.11 Pengamatan Lanjut Sebagian besar residif terjadi dalam waktu 2 tahun setelah diagnosis. Dalam 2 tahun pertama, pasien dianjurkan melakukan pemeriksaan setiap 3 bulan. Pada tahun ketiga sampai tahun ke lima, pemeriksaan dianjurkan setiap 6 bulan, dan selanjutnya setiap 1 tahun. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan kelenjar getah bening, pemeriksaan pelvis, rektal dan tes Pap smear. Pemeriksaan foto paru-paru atau CT-scan hanya dilakukan atas indikasi dari pemeriksaan klinis atau gejala yang timbul. Daerah organ terjadinya residif (pasien yang tidak diradiasi) adalah puncak vagina (25%), pelvis (25%), daerah di luar pelvis (50%). Bila terjadi residif sentral (tidak ada metastasis jauh), dipertimbangkan eksenterasi pelvik dengan mortalitas operasi 2% dan morbiditas jangka panjang lebih dari 50%. Bila residif didapati jauh di luar pelvis, dipertimbangkan untuk kemoterapi dengan response rate 20%.1

12

2.12 Pencegahan 2.12.1 Vaksin kanker serviks a) Pengertian vaksinasi dilakukan dengan memasukkan serum antibodi ke dalam tubuh. Pada vaksin kanker serviks, yang dimasukkan adalah bagian dari virus HPV ( human papilloma virus ), yaitu kulit/cangkangnya yang telah dipurifikasikan dan dilarutkan dalam cairan tertentu sehingga bisa merangsang tubuh untuk memproduksi antibodi/zat kekebalan tubuh terhadap HPV (human papilloma virus). Tingginya tingkat serum antibodi ini berkolerasi dengan tingkat paparan (daerah) yang terinfeksi sehingga membuat antibodi bekerja menetralisir virus dan mencegah masuknya virus ke dalam sel. b) Cara kerja vaksin Vaksin ini dibuat dari non-infectious HPV-like particles (VLP), yakni virus kosong yang sudah tidak lagi mengandung elemen yang bersifat ganas. Pola kerja vaksin HPV sama seperti vaksin lain. Bila vaksin disuntikkan ke tubuh maka tubuh bereaksi membentuk antibody terhadap virus yang sesuai. Antibody ini selanjutnya akan menolak HPV resiko tinggi sekalipun. Makin muda usia maki tinggi kadar antibody yang terbentuk. c) Indikasi vaksin Idealnya vaksinasi diberikan sebelum adanya bahaya infeksi HPV. Seperti diketahui pada 70 persen kasus, infeksi HPV menyebar melalui hubungan seksual dan HPV dapat menginfeksi semua orang. Maka pemberian vaksinasi pada masa sebelum kontak seksual merupakan saat paling baik. Vaksin ini memang belum masuk program nasional imunisasi, tetapi Satgas Imunisasi IDAI merekomendasikan untuk memberikan vaksin HPV pada remaja perempuan sejak usia 10 tahun. Yang perlu ditekankan adalah, vaksinasi ini paling efektif apabila diberikan pada perempuan berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual. Namun bukan berarti wanita yang sudah menikah atau berhubungan seksual tidak boleh mendapatkannya. Hanya saja angka proteksinya tidak setinggi pada golongan sebelumnya

13

d) Cara Pemberian Vaksin Untuk mencegah kanker mulut rahim diberikan dengan cara disuntikkan di bagian lengan secara Intramuscular. Suntikan dilakukan sebanyak tiga kali. Suntikan pertama dianggap sebagai titik awal. Suntikan kedua dilakukan sekitar satu atau dua bulan setelah suntikan pertama. Sedangkan suntikan ketiga enam bulan setelah suntikan pertama. e) Efek Samping Efek samping yang sering dikeluhkan adalah demam dan kemerahan, nyeri, dan bengkak di tempat suntikan. Efek samping yang sering ditemui lainnya adalah berdarah dan gatal di tempat suntikan. 8 2.12.2 Pap Smear Pengenalan luas tes Papanicolaou, atau''Pap Smear''untuk skrining kanker serviks telah dikreditkan dengan secara dramatis mengurangi insiden dan kematian kanker serviks di negara maju. Hasil Pap smear abnormal mungkin menunjukkan adanya intraepithelial neoplasia serviks (perubahan berpotensi premaligna di leher rahim) sebelum kanker telah dikembangkan, memungkinkan pemeriksaan dan pengobatan pencegahan mungkin. Rekomendasi untuk seberapa sering Pap smear harus dilakukan bervariasi dari setahun sekali untuk sekali setiap lima tahun. ACS merekomendasikan bahwa skrining kanker serviks harus dimulai sekitar tiga tahun setelah timbulnya hubungan seks vagina dan / atau selambat-lambatnya dua puluh satu tahun. Pedoman bervariasi pada berapa lama untuk melanjutkan skrining, tetapi wanita juga disaring yang tidak memiliki Pap abnormal dapat menghentikan skrining sekitar usia 65 (USPSTF) untuk 70 (ACS). Jika penyakit premaligna atau kanker leher rahim terdeteksi dini, dapat dimonitor atau diperlakukan relatif noninvasively, dan tanpa mengganggu kesuburan.9 2.12.3 Metode Iva Untuk deteksi dini kanker serviks, selain test Pap Smear, metoda lain yang dapat menjadi pilihan adalah IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). IVA digunakan untuk mendeteksi abnormalitas sel serviks Anda setelah mengoleskan larutan asam
14

asetat (asam cuka3-5%) pada leher rahim. Asam asetat menegaskan dan menandai lesi pra-kanker dengan perubahan warna agak keputihan (acetowhite change). Hasilnya dapat diketahui saat itu juga atau dalam waktu 15 menit. Metode IVA mengandung kelebihan dibanding test Pap smear, karena sangat sederhana (dapat dilakukan di Puskesmas), hasilnya cukup sensitif dan harganya amat terjangkau (mulai Rp. 5000). Berbeda dengan test Pap smear, pemeriksaan dengan metode IVA juga dapat dilakukan kapan saja, termasuk saat menstruasi, saat asuhan nifas atau paska keguguran. Bila hasilnya bagus, kunjungan ulang untuk tes IVA adalah setiap 5 tahun.9

15

BAB III ANALISA KASUS

3.1

STATUS PASIEN 1. Identitas Nama Umur Nama Suami Umur Alamat Pekerjaan Agama RM Masuk tanggal 2. Anamnesa Keluhan :Perut kiri bawah nyeri sampai tembus kebelakang punggung mulai dari 1 tahun yang lalu,kadang keluar air seperti keputihan encer bening dan berbau (-), Gatal (+), BAB tidak lancar darah segar waktu BAB tapi jarang, mual (+), Bersuami Haid : Berapa lama: 24 tahun : sudah tidak haid Siklus(berapa kali): Lama haid: Banyak/sedikit encer/gumpal: Merasa sakit sebelum/selama/sesudah haid warna: Berbau: Flour Warna Anak : (+) : Bening :3 Berapa lama: 1 hari Banyak/sedikit/berbau: Bau (-) Hidup: 3 Mati: 16

: Ny.Sumartin : 49 Tahun : Alm. Bunaun : 55 tahun : Jln. Karato batu RT 5 RW 1 :: Islam : 469042 : 25-11-2012 Pukul 10.30 WIB

Berapa kali: 1x HPHT: (menarche): 14 tahun

Yang paling kecil: 24 tahun Abortus: -

Partus yl(SB/EF/EV/SU): SB

Penyakit-penyakit yang telah lama diderita: Hipertensi (-), Diabetes mellitus (-), sesak (-), alergi (-) Anamnesa keluarga(tumor dsb) : tidak ada keluarga yang menderita tumor 3. Status Generalis Keadaan umum: cukup Nadi: 73x/menit 4. Status localis Abdomen : Nyeri tekan perut bagian bawah atas simpisis (+) Genetalia eksterna: Per vag (-) , fluxus (-) Pemeriksaan dalam(VT): Tidak dilakukan Diagnosa/Diagnosa banding:
P30003 AB 0 dengan suspect Ca Cervix

temp: 36,2c Nafas: 28x/menit

TD: 130/90mmHg

Usul pemeriksaan lain: USG Foto thoraks Perencanaan terapi:


Transfusi PRC golongan A sampai HB 10 gr/dl

17

3.2

FOLLOW UP P30003 Ab 0 dengan suspect Ca cervix dan Hydronefrosis sedang bagian kiri, pasien pindahan flamboyan dan tiba di Melati jam 12:00 wib S: Nyeri tekan perut bagian bawah
Makan/Minum: +/+

28 November 2012 12.00 wib

BAB/BAK: +/+ Mobilisasi: + O: KU:cukup Anemis:+/+


TD:130/90 mmHg

Nadi: 84x/menit RR: 24x/menit


Suhu: 36,5C

HB : 8,2 gr/dl A:
P30003 Ab 0 dengan suspect Ca cervix dan hidronefrosis sedang

bagian kiri P: Infus RL Transfusi PRC gol A Ranitidin Ketorolac ciprofloxacin 29 November 2012 S:
18

Nyeri tekan perut bagian bawah Makan/Minum: +/+ BAB/BAK: +/+ Mobilisasi: + O: KU:cukup Anemis: +/+ TD:130/70 mmHg Nadi: 86x/menit RR: 27x/menit Suhu: 36,9C A: P30003 Ab 0 dengan suspect Ca cervix dan hidronefrosis sedang bagian kiri hari pertama P: Transfusi PRC gol A Besok cek HB Observasi TTV 30 November 2012 S: Nyeri tekan perut bagian bawah Makan/Minum: +/+ BAB/BAK: +/+ Mobilisasi: + O: KU: cukup Anemis: +/+

19

TD: 140/90 Nadi: 93x/menit RR: 23x/menit Suhu:36,7C HB : 10,3 gr/dl A: P30003 Ab 0 dengan suspect Ca cervix dan hidronefrosis sedang bagian kiri hari kedua P: Cek HB hasil HB 10,3gr/dl Besok biopsy Observasi TTV 1 Desember 2012 S: Tidak ada keluhan Makan/Minum: +/+ BAB/BAK: +/+ Mobilisasi: + O: KU: cukup Anemis: -/ TD: 120/80 Nadi: 84x/menit RR: 27x/menit Suhu:36,9C A: P30003 Ab 0 dengan suspect Ca cervix dan hidronefrosis sedang bagian kiri hari ketiga P:
20

Observasi TTV

2 Desember 2012 S: Tidak ada keluhan Makan/Minum: +/+ BAB/BAK: +/+ Mobilisasi: + O: KU: cukup Anemis: -/ TD: 110/70 Nadi: 74x/menit RR: 22x/menit Suhu:36,6C A: P30003 Ab 0 dengan suspect Ca cervix dan hidronefrosis sedang bagian kiri hari keempat P: Pasien boleh pulang

21

BAB IV PEMBAHASAN KASUS 4.1.Anamnesa Tujuan menanyakan identitas pasien :


Untuk mengetahui umur pasien, karena ada beberapa keganasan yang berhubungan dengan usia lanjut Untuk mengetahui pasien telah menikah berapa kali dan berapa lama Dari alamat pasien dapat diketahui latar belakang sosial pasien serta lingkungan tempat tinggal yang berpengaruh pada status gizi dan tingkat kebersihan pasien

Dari anamnesa umum didapatkan bahwa pasien mengeluh perut kiri bawah nya nyeri sampai tembus kebelakang punggung mulai dari 1 tahun yang lalu,kadang keluar air seperti keputihan encer bening dan berbau (-), Gatal (+), BAB tidak lancar darah segar waktu BAB tapi jarang, mual (+). Pasien mengeluh nyeri perut kiri bawah yang tembus sampai kebelakang punggung merupakan salah satu gejala dari ca serviks dan pasien jg mengatakan keluar air seperti keputihan encer yang juga merupakan gejala dari ca serviks. Dari anamnesa khusus didapatkan : sudah tidak haid HPHT: Siklus(berapa kali): (menarche): 14 tahun Lama haid: Banyak/sedikit encer/gumpal: Merasa sakit sebelum/selama/sesudah haid warna: Berbau: 22

Haid yang sudah berhenti pada usia pasien yang 49 tahun merupakan hal yang wajar karena Menopause rata-rata terjadi pada usia 50 tahun, tetapi bisa terjadi secara normal pada wanita yang berusia 40 tahun. Biasanya ketika mendekati masa menopause, lama dan banyaknya darah yang keluar pada siklus menstruasi cenderung bervariasi, tidak seperti biasanya. Pasien mendapatkan haid pada umur 14 tahun artinya dalam batas normal.Tidak terjadi menarche precocs. Riwayat penyakit Dahulu : Flour Warna Anak Abortus: Anamnesa keluarga(tumor dsb) : tidak ada keluarga yang menderita tumor Status Generalis : Keadaan umum: cukup Nadi: 73x/menit Status localis : Abdomen : Nyeri tekan perut bagian bawah atas simpisis (+) Genetalia eksterna: Per vag (-) , fluxus (-) Pemeriksaan dalam(VT): Tidak dilakukan Usul pemeriksaan lain:
USG hasil nya : Ca serviks dengan hidronefrosis sedang bagian kiri Foto thoraks hasil nya : Cardiomegali ringan dan tidak tampak tanda

Tekanan Darah tinggi (-) Diabetes mellitus (-) Asthma (-) Alergi (-) : (+) : Bening :3 Berapa lama: 1 hari Banyak/sedikit/berbau:Bau (-) Hidup: 3 Mati: Partus yl(SB/EF/EV/SU): SB

Anamnesa Ginekologi

Yang paling kecil: 24 tahun

temp: 36,2c Nafas: 28x/menit

TD: 130/90mmHg

metastase paru
23

Keputihan yang terjadi pada pasien ini bisa merupakan tanda dari ca serviks yaitu keputihan yang encer, didapat kan juga anamnesa dari keluarga yang tidak mempunyai riwayat pernah menderita tumor atau kelainan jenis lain. Pada pemeriksaan abdomen hanya didapatkan nyeri tekan tanpa teraba ada nya massa dan pada pemeriksaan dalam tidak dilakukan dan per vaginam nya baik flour atau fluxus tidak terlihat,untuk memastikan diagnosa dilakukan pemeriksaan penunjang berupa USG dan Foto thoraks.

24

BAB V KESIMPULAN Dari anamnesa umum didapatkan bahwa pasien Ny.Sumartin 49 tahun Para 3 Hidup 3 Abortus 0 dengan suspek ca serviks datang ke RSUD Moh.Saleh yang merupakan pasien pindahan dari ruang flamboyan ke melati dengan keluhan sejak 1 tahun mengalami nyeri perut yang tembus sampai ke punggung lalu hal ini menunjukan bahwa penyakit yang diderita nya merupakan penyakit yang sudah kronis, dan penderita mengeluh bahwa sering keluar cairan encer seperti keputihan tidak berbau tapi terasa gatal yang sudah lama di derita nya, hanya pasien mengatakan bahwa keluar cairan encer seperti keputihan itu hilang timbul dan bertahan hanya 1 hari saja, hal ini menunjukan tanda kearah keganasan, dari anamnesa juga pasien mengatakan bahwa berat badan nya turun akhir-akhir ini dan mempunyai keluhan sering susah saat buang air besar yang kadang disertai darah,dan saat pasien masuk ruang melati HB pasien rendah sehingga harus diberikan transfusi darah PRC golongan A agar HB nya 10gr/dl dan bisa dilakukan biopsi. Sebelum itu untuk memastikan diagnosa maka dilakukan pemeriksaan penunjang berupa USG dan foto thoraks, yang hasil dari USG nya mengatakan terdapat massa yang diduga ca serviks dan ada nya hidronefrosis sedang yang disebabkan oleh proses keganasan dari ca serviks tersebut,dari klasifikasi stadium kanker menurut FIGO karena telah terdapat hidronefrosis maka stadium kanker untuk pasien ini adalah stadium III,dan untuk mengetahui apakah ada metastase dari ca serviks ke paru maka dilakukan foto thoraks yang hasil nya terdapat cardiomegali ringan tetapi tidak didapatkan tanda-tanda dari metastase ke paru. Hasil lab tanggal 30 november HB dari pasien 10,3 gr/dl sehingga pada tanggal 1 desember dilakukan biopsi oleh dr. Hytriawan Sp.OG dan pada tanggal 2 desember pasien mengatakan tidak ada keluhan sehingga pasien diperbolehkan untuk pulang. Terapi untuk kanker serviks stadium III adalah radioterapi atau kemoterapi dan tidak dilakukan pembedahan.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo, Sarwono prof.Dr.dr.Sp.OG.Ilmu Kandungan; Penerbit Pustaka Sarwono

Prawirohardjo: Jakarta 2009.


2. Praton Hari dr.sp. OG. Pedoman diagnosis dan terapi bagian kebidanan dan kandungan;

RSU Dokter Soetomo: Surabaya 2008. 3. Anonymous, Kanker Serviks, available from http://majalahkesehatan.com/mengenalkanker-serviks/. Accessed on December 2 2012 4. Anonymous, Kanker Serviks, available from http://www.suaradokter.com/2009/07/kanker-serviks/. Accessed on December 2 2012 5. Anonymous, Kanker serviks, available from http://gravicaherbal.com/kanker-serviks/. Accessed on December 2 2012
6. Anonymous, Definisi dan Etiologi kanker serviks, Available from

http://jfikriamrullah.wordpress.com/2011/07/14/laporan-pendahuluan-kanker-cerviks-cacervix-definisi-etiologi-manifestasi-klinik-patofisiologi-asuhan-keperawatan/. Accessed on December 2 2012


7. Anonymous, Laporan Kasus Ca cervix, Available from

http://id.scribd.com/doc/56909893/laporan-kasus-ca-cervix. Accessed on December 2 2012


8. Anonymous, Vaksin ca cerviks, Available from

http://ayicuwie.wordpress.com/2012/02/26/vaksin-ca-cerviks/. Accessed on December 2 2012


9. Anonymous, Pencegahan kanker serviks, Available from

http://www.cancerhelps.com/pencegahan-kanker-serviks.htm. Accessed on December 2 2012

26

10. Anonymous, Karsinoma servik, Available from

http://medicalsnote.blogspot.com/2012/07/karsinoma-servik.html. Accessed on December 2 2012

27