Anda di halaman 1dari 23

PBL 2 BLOK 30 PENEMUAN MAYAT YANG MENCURIGAKAN

Program Studi Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

KASUS: Suatu hari anda di datangi penyidik untuk membantu mereka dalam memeriksa suatu tempat kejadian perkara (TKP). Menurut penyidik, TKP adalah sebuah rumah yang cukup besar milik seorang pengusaha dan istrinya ditemukan meninggal dunia di dalam kamar yang terkunci didalam. Anaknya yang pertama kali mencurugai hal itu (08.00) karena si ayah yang biasanya bangun untuk lari pagi, hari ini belum keluar dari kamarnya. Ia bersama dengan pak ketua RT melaporkannya pada polisi. Penyidik telah membuka kamar tersebut dan menemukan kedua orang tersebut tiduran ditempat tidurnya dan dalam keadaan mati. Tidak ada tanda-tanda perkelahian diruang tersebut, segalanya masih tertata rapi sebagaiman biasa, tutur anaknya. Dari pengamatan sementara tidak ditemukan luka-luka pada kedua mayat dan tidak ada barang yang hilang. Salah seorang penyidik ditelpon oleh petugas asuransi bahwa ia telah dihubungi oleh anak si pengusaha berkaitan dengan kemungkinan klaim asuransi jiwa pengusaha tersebut.

Pendahuluan Di masyarakat sering terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Dalam menangani berbagai kasus ini diperlukan ilmu kedokteran forensik untuk membantu proses peradilan dalam arti luas yang meliputi tahap penyidikan sampai sidang pengadilan. Diperlukan bantuan dokter untuk memastikan sebab, cara, dan waktu kematian pada peristiwa kematian tidak wajar karena pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan atau kematian yang mencurigakan. Pemeriksaan suatu perkara pidana di dalam suatu proses peradilan pada hakikatnya adalah bertujuan untuk mencari kebenaran materil terhadap perkara pidana tersebut. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hukum ini, diperlukan bantuan ahli
PBL 2 BLOK 30 1

didalam bidang kedokteran forensik untuk membuat jelas jalannya rangkaian peristiwa perkara pidana tersebut. Hal ini dapat dilihat dari ilmu yang berkaitan dengan, aspek hukum, prosedur medikolegal, tanatologis, teknik pemeriksaan dan segala sesuatu yang terkait supaya dapat benar-benar memanfaatkan pengetahuan kedokteran untuk kepentingan pengadilan. Hasil pemeriksaan dan laporan tertulis akan digunakan sebagai petunjuk atau pedoman dan alat bukti dalam menyidik, menuntut dan mengadili perkara pidana maupun perdata. Dalam kasus ini, dikatakan bahwa suami istri meninggal di dalam kamar tanpa diketahui penyebabnya, oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan untuk mencari apa sebenarnya penyebab kematian pasangan ini.

1. ASPEK HUKUM Hukum pidana yang berkaitan dengan profesi dokter tentang kejahatan terhadap tubuh dan jiwa manusia, yang berkaitan dengan kasus PBL 2 mencakup antara lain: 1,2 a. Pasal 89 KUHP Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan

b. Pasal 338 KUHP Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

c. Pasal 339 KUHP Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.

d. Pasal 340 KUHP


PBL 2 BLOK 30 2

Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun

e. Pasal 356 KUHP Pidana yang ditentukan dalam pasal 351, 353, 354 dan 355 dapat ditambah dengan sepertiga: 1) Bagi yang melakukan kejahatan itu terhadap ibunya, bapaknya, menurut undang-undang, isterinya atau anaknya. 2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang pejabat ketika atau karena menjalankan tugasnya yang sah. 3) Jika kejahatan dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan untuk dimakan atau diminum.

2. PROSEDUR MEDIKOLEGAL Prosedur medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran. Ruang lingkup prosedur medikolegal adalah pengadaan visum et repertum, pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahli di dalam persidangan, kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran, penerbitan surat kematian dan surat keterangan medik, pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka (psikiatri forensik), dan kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik.1,2

Kewajiban Dokter Membantu Peradilan


PBL 2 BLOK 30 3

Pasal 133 KUHAP (mengatur kewajiban dokter untuk membuat keterangan ahli)2 1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. 2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Penjelasan Pasal 133 KUHAP a. Ayat 2): Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan. Menurut pasal 133 KUHAP permintaan visum et repertum merupakan wewenang penyidik, resmi dan harus tertulis, visum et repertum dilakukan terhadap korban bukan tersangka dan ada indikasi dugaan akibat peristiwa pidana. Bila pemeriksaan terhadap mayat maka permintaan visum disertai identitas label pada bagian badan mayat, harus jelas pemeriksaan yang diminta, dan visum tersebut ditujukan kepada ahli kedokteran forensik atau kepada dokter di rumah sakit. Menurut pasal 133 KUHAP keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, jika bukan dari keterangan seorang ahli disebut keterangan saja.2

Pasal 134 KUHAP 1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban. 2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.

PBL 2 BLOK 30

3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

Pasal 179 KUHAP 1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. 2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenarbenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Hak Menolak Menjadi Saksi/Ahli Pasal 120 KUHAP 1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus. 2) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.

Bentuk Bantuan Dokter bagi Peradilan dan Manfaatnya Pasal 184 KUHAP 1) Alat bukti yang sah adalah: a. Keterangan saksi b. Keterangan ahli c. Surat d. Petunjuk e. Keterangan terdakwa 2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

PBL 2 BLOK 30

Pasal 186 KUHAP Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Penjelasan Pasal 186 KUHAP Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.

Pasal 187 KUHAP Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu. b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tatalaksana yang menjadi tanggungjawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan. c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya. d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.

Pasal 65 KUHAP Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seseorang yang mempunyai keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya.

PBL 2 BLOK 30

Sangsi bagi Pelanggar Kewajiban Dokter Pasal 216 KUHP 1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak Sembilan ribu rupiah. 2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum. 3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah sepertiga.

Pasal 222 KUHP Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau

menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pasal 224 KUHP Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau juru bahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia harus melakukannya: 1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan. 2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.

PBL 2 BLOK 30

Pasal 522 KUHP Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia kedokteran Pasal 1 PP No 10/1966 Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran.

Pasal 322 KUHP 1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah. 2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu.

Bedah Mayat Klinis, Anatomis dan Transplantasi Pasal 2 PP No 18/1981 Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut: a. Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat setelah penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat ditentukan dengan pasti; b. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila di duga penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang atau masyarakat sekitarnya;

PBL 2 BLOK 30

c. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila dalam jangka waktu 2 x 24 (dua kaii duapuluh empat) jam tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal dunia datang ke rumah sakit.

Pasal 70 UU Kesehatan ayat 2 Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat.

3. Tanatologi 1,2 Adalah ilmu yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Dikenal beberapa istilah tentang mati yaitu: a. Mati somatis (mati klinis) yang terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskular dan sistem pernafasan yang menetap (irreversible). b. Mati suri (suspended animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistem kehidupan di atas yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. c. Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. d. Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernafasan dan kardiovaskular masih berfungsi dengan bantuan alat. e. Mati otak (mati batang otak) adalah bila telah terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum.

Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat yang dapat timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian. Setelah beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas yang memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti.
PBL 2 BLOK 30 9

Perubahan dini yang terjadi antaranya adalah pernafasan berhenti yang dinilai selama lebih dari 10 menit secara inspeksi, palpasi dan auskultasi; terhentinya sirkulasi yang dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba; kulit pucat tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya karena mungkin terjadi spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan; tonus otot menghilang dan relaksasi; pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian dan pengeringan kornea yang menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat dihilangkan dengan meneteskan air. Perubahan lanjut (tanda pasti kematian) sebagai berikut: 1. Lebam mayat (livor mortis) Setelah kematian klinis, maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak warna merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Selain untuk tanda pasti kematian, lebam mayat juga dapat digunakan untuk memperkirakan sebab kematian, mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah terjadinya lebam mayat yang menetap dan memperkirakan saat kematian. Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan. 2. Kaku mayat (rivor mortis) Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolism tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut aktin dan myosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan myosin menggumpal dan otot menjadi kaku. Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) kea rah dalam (sentripetal). Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan selama 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas fisik sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil dan suhu lingkungan tinggi. Dapat digunakan juga untuk memperkirakan saat kematian. Terdapat
PBL 2 BLOK 30 10

kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat yaitu cadaveric spasm (kekakuan otot yang terjadi saat kematian dan menetap), heat stiffening (kekakuan otot akibat koagulasi protein oleh panas) dan cold stiffening (kekakuan sendi akibat paparan dingin). 3. Penurunan suhu tubuh (algor mortis) Terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda yang lebih dingin melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi. Grafik penurunan suhu tubuh ini hampir berbentuk kurva sigmoid atau seperti huruf S. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban udara, bentuk tubuh, posisi tubuh dan pakaian. Selain itu suhu saat mati perlu diketahui untuk perhitungan perkiraan saat kematian. 4. Pembusukan (decomposition, putrefaction) Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja bakteri. Autolisis adalah pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel pascamati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan. Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk ke jaringan. Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii. Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S dan HCN serta asam amino dan asam lemak. Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pascamati berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah. Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira 36 jam pasca mati. Dengan identifikasi spesies lalat dan mengukur panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut, yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat mati. Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26.5 derajat Celcius hingga sekitar suhu normal tubuh), kelembaban dan udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. 5. Adiposera Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Terutama terdiri dari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk oleh hidrolisis lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak jenuh pasca mati yang tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf yang termumifikasi dan kristal-kristal sferis dengan gambaran radial. Adiposera akan
PBL 2 BLOK 30 11

membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga bertahun-tahun sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih dapat dimungkinkan. Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembaban dan lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang menghambat adalah air yang mengalir yang membuang elektrolit. Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera karena derajat keasaman dan dehidrasi jaringan bertambah. 6. Mummifikasi Adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput dan tidak membusuk karena kuman tidak dapat berkembang pada lingkungan yang kering. Terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu).

Beberapa perubahan lain dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian. Di antaranya adalah: 1. Perubahan pada mata. Kekeruhan kornea yang menetap mulai kira-kira 6 jam pascamati, 10-12 jam pascamati kekeruhan terjadi baik pada mata yang ditutup/tidak. Setelah mati, tekanan bola mata turun. Hingga 30 menit pascamati tampak kekeruhan makula dan memucatnya diskus optik. Selama 2 jam pertama pascamasti retina pucat, daerah sekitar diskus dan sekitar makula menjadi kuning (perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pascamati). Saat itu pola vaskular koroid berupa bercak-bercak berlatar merah dengan pola segmentasi yang jelas, setelah 3 jam pascamati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat. Setelah 6 jam pascamati batas diskus kabur dan hanya pembuluh besar yang bersegmentasi yang terlihat dengan latar belakang kuning-kelabu. Dalam 12 jam pascamati pada diskus hanya dikenali dengan adanya konvergensi beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Setelah 15 jam hanya makula saja yang tampak, berwarna coklat gelap. 2. Perubahan dalam lambung. Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi. Adanya makanan tertentu dapat menyimpulkan korban memakan makanan tersebut beberapa jam sebelum mati.

PBL 2 BLOK 30

12

3. Perubahan rambut. Kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4mm/hari, panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian. 4. Pertumbuhan kuku. Pertumbuhan kuku sekitar 0,1mm per hari dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila dapat diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku. 5. Perubahan dalam cairan serebrospinal. Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80mg% menunjukkan kematian belum 24 jam, kadar kreatin kurang dari 5mg% dan 10mg% masing-masing menunjukkan kematian belum mencapai 10 dan 30 jam. 6. Dalam cairan vitreus terjadi peningkatan kadar Kalium yang cukup akurat untuk memperkirakan saat kematian antara 24 hingga 100 jam pascamati. 7. Perubahan semua kadar komponen darah setelah kematian. 8. Reaksi supravital yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup.

4. PEMERIKSAAN a. Tempat Kejadian Perkara Pada TKP tidak ditemukan benda-benda yang mencurigakan Tidak terdapat ceceran darah dan muntah Tidak tercium bau dari tubuh dan mulut mayat, sehingga kemungkinan kematian karena diracuni dengan sianida atau arsen dapat disingkirkan. b. Pemeriksaan Luar 1,2,3,4 Pada jenazah laki-laki dan perempuan ditemukan: Lebam mayat berwarna merah kebiruan gelap pada seluruh bagian tubuh dibagian belakang Ditemukan ujung-ujung jari, kuku, dan bibir berwarna kebiruan Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang sedikit bercampur dengan darah. Ini terjadi akibat peningkatan aktivitas pernapasan pada fase dispnea pada orang yang meninggal dengan asfiksia yang disertai sekresi selaput lendir saluran napas bagian atas. Keluar masuknya udara yang cepat dalam saluran
PBL 2 BLOK 30 13

sempit akan menimbulkan busa yang kadang-kadang bercampur darah akibat pecahnya kapiler. Kapiler yang lebih mudah pecah adalah kapiler pada jaringan ikat longgar, misalnya pada konjungtiva bulbi, palpebra dan subserosa lain. Kadang-kadang dijumpai pula di kulit wajah. Pada mata didapatkan bintik-bintik perdarahan yang dikenal dengan Tardieau spot. Hal ini terjadi karena peningkatan permeabilitas pembuluh darah yang biasa terjadi pada kasus asfiksia. Pada sklera tidak ditemukan ikterik atau tanda-tanda kelainan. Warna kulit normal, tidak ditemukan bekas suntikan pada tubuh korban. c. Pemeriksaan Dalam 1,2,3,4 Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer, karena fibrinolisin darah yang meningkat paska kematian. Belakang bibir terdapat luka lecet yang timbul akibat tertekannya bibir ke arah gigi Batang tenggorok dan cabangnya terdapat busa halus Kerongkongan terdapat busa-busa halus, selaput lendirnya bewarna putih menunjukkan adanya asfiksia Pembendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi lebih berat, berwarna lebih gelap dan pada pengirisan banyak mengeluarkan darah Hati bewarna merah, permukaannya rata, tepinya tajam dan perabaan kenyal padat. Penampang hati bewarna merah coklat dan gambaran hati tampak jelas. Lambung berisi makanan yang setengah terema terdiri dari nasi dan sayur. Selaput lendirnya bewarna putih dan menunjukkan lipatan yang biasa, tidak terdapat kelainan d. Pemeriksaan Toksikologi 6,7 Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan tambahan. Karena mayat ditemukan dalam keadaan mencurigakan, maka pemeriksaan ini diperlukan untuk mengetahui apakah korban meninggal karena keracunan atau sebab lain. Sampel dari toksikologi forensik pada umumnya adalah spesimen biologi seperti: cairan biologis (darah, urin, air ludah), jaringan biologis atau organ tubuh. Preparasi sampel adalah salah satu faktor penentu keberhasilan analisis toksikologi forensik disamping kehadalan penguasaan metode analisis instrumentasi. Berbeda
PBL 2 BLOK 30 14

dengan analisis kimia lainnya, hasil indentifikasi dan kuantifikasi dari analit bukan merupakan tujuan akhir dari analisis toksikologi forensik. Seorang toksikolog forensik dituntut harus mampu menerjemahkan apakah analit (toksikan) yang diketemukan dengan kadar tertentu dapat dikatakan sebagai penyebab keracunan (pada kasus kematian). Spesimen untuk analisis toksikologi forensik biasanya diterok oleh dokter, misalnya pada kasus kematian tidak wajar spesimen dikumpulkan oleh dokter forensik pada saat melakukan otopsi. Spesimen dapat berupa cairan biologis, jaringan, organ tubuh. Dalam pengumpulan spesimen dokter forensik memberikan label pada masing-masing bungkus/wadah dan menyegelnya. Label seharusnya dilengkapi dengan informasi: nomer indentitas, nama korban, tanggal/waktu otopsi, nama spesimen beserta jumlahnya. Pengiriman dan penyerahan spesimen harus dilengkapi dengan surat berita acara menyeran spesimen, yang ditandatangani oleh dokter forensik. Toksikolog forensik yang menerima spesimen kemudian memberikan dokter forensik surat tanda terima, kemudian menyimpan sampel/spesimen dalam lemari pendingin freezer dan menguncinya sampai analisis dilakukan. Prosedur ini dilakukan bertujuan untuk memberikan rantai perlindungan/pengamanan spesimen (chain of custody).

Jenis Pemeriksaan 1. Kristalografi. Bahan yang dicurigai berupa sisa makanan/minuman, muntahan, isi lambung dimasukan ke dalam gelas beker, dipanaskan dalam pemanas air sampai kering, kerimudian dilarutkan dalam aceton dan disaring dengan kertas saring. Teteskan filtrate yang didapat dan periksa dibawah mikroskop. Bila bentuk Kristal-kristal seperti sapu, ini adalah golongan hidrokarbon terklorisasi. 2. Kromatografi lapisan tipis. Kaca berukuran 20cmx20cm, dilapisi dengan absorben gel silikat atau dengan alumunium oksida, lalu dipanaskan dalam oven 110 C selama 1 jam. Filtrate yang akan diperiksa pada kaca, disertai dengan tetesan lain yang telah diketahui golongan dan jenis serta konsentrasinya sebagai pembanding. Ujung kaca TLC dicelupkan ke dalam pelarut, biasanya n-Hexan. Celupan tidak boleh mengenai tetesan tersebut diatas. Dengan daya kapilaritas maka pelarut akan ditarik keatas sambil melarutkan filitrat-filitrat tadi. Setelah itu kaca TLC dikeringkan lalu disemprot dengan reagensia Paladum klorida 0,5% dalam HCL pekat, kemudian dengan
PBL 2 BLOK 30 15

Difenilamin. Pada uji sampel organ hati, darah, dan urin terdapat temazepam dan oksazepam. Di dalam tubuh diazepam akan termetabolisme membentuk desmitildiazepam dan kemudian akan terhidrolisis membentuk oksazepam, sebagaian kecil akan termetabolisme membentuk temazepam. Sehingga dari temuan analisis dapat disimpulkan korban juga telah mengkonsumsi diazepam.

PBL 2 BLOK 30

16

Tabel 1. Kasus-kasus toksikologi forensik

Jenis Kasus Kematian yang tidak wajar (mendadak)

Pertanyaan yang muncul Apakah ada keterlibatan obat atau racun sebagai penyebab kematiannya?

Litigasi Kriminal: Pembunuhan Sipil: klaim tanggungan asuransi, tuntunan kepada pabrik farmasi atau kimia

Kematian di penjara

Kecelakaan, pembunuhan yang melibatkan racun atau obat terlarang?

Kriminal: pembunuhan Sipil: gugatan tanggungan dan konpensasi terhadap pemerintah

Kematian pada kebakaran

Apakah ada unsur penghilangan jejak pembunuhan?

Kriminal: pembunuhan Sipil: klaim tanggungan

Apa penyebab kematian: CO, racun, kecelakaan, atau pembunuhan? Kematian atau

asuransi

Berapa konsentrasi dari obat dan Malpraktek kedokteran, gugatan terhadap fabrik farmasi Apakah ada interaksi obat?

timbulnya efek samping metabolitnya? obat berbahaya akibat salah pengobatan Kematian yang tidak wajar di rumah sakit Kesalahan terapi?

Apakah pengobatannya tepat?

Klaim malpraktek, tindak kriminal, pemeriksaan oleh komite ikatan profesi kedokteran (IDI)

Kecelakaan yang fatal di tempat kerja, sakit akibat tempat kerja,

Apakah ada keterlibatan racun, alkohol, atau obat-obatan? Apakah kematian akibat

Gugatan terhadap employer, Memperkerjakan kembali

PBL 2 BLOK 30

17

pemecatan

human eror? Apakah sakit tersebut diakibatkan oleh senyawa kimia di tempat kerja? Pemecatan akibat terlibat penyalahgunaan Narkoba?

Kecelakan fatal dalam mengemudi

Meyebabkan kematian? Adakah keterlibatan alkohol, obat-obatan atau Narkoba? Kecelakaan, atau pembunuhan?

Kriminal: Pembunuhan, kecelakaan bermotor Sipil: klaim gugatan asuransi

Kecelakaan tidak fatal atau mengemudi

Apakah kesalahan pengemudi? Mengemudi dibawah pengaruh

Kriminal: Larangan Mengemudi dibawah pengaruh Obat-obatan atau Narkona Sipil: gugatan pencabutan atau pengangguhan SIM

dibawah pengaruh obat- obat-obatan atau Narkoba? obatan

Penyalahgunaan Narkoba

Penyalahgunaan atau pasient yang sedang mengalami terapi rehabilitasi narkoba

Kriminal: Sipil: rehabilitasi

Farmaseutikal dan Obat palsu, atau tidak memenuhi syarat standar Forensik Farmasi

Identifikasi bentuk sediaan, kandungan sediaan obat, penggunaan obat palsu.

Kriminal: pengedaran obat ilegal. Sipil: tuntutan penggunan obat palsu terhadap dokter atau yang terkait

PBL 2 BLOK 30

18

5. INTERPRETASI TEMUAN Pada pemeriksaan luar mayat, pada kedua-dua mayat didapatkan tanda-tanda asfiksia, tidak didapatkan luka, memar atau sebarang tanda kekerasan. Pada pemeriksaan dalam mayat, didapatkan hasil yang menjurus ke arah asfiksia. Pada pemeriksaan toksikologi, pada uji sampel organ hati, darah dan urin, didapatkan temazepam dan oksazepam. Hasil pemeriksaan pada kedua mayat adalah sama. Berdasarkan kasus, interpretasi temuan melalui pemeriksaan luar dan dalam (bedah jenazah) pada mayat laki-laki ini, dapat dibuat kesimpulan tentang sebab, cara dan mekanisme kematian seperti yang dicantumkan dalam bagian kesimpulan Visum et Repertum yang dibuat.

6. SEBAB KEMATIAN, CARA KEMATIAN dan MEKANISME KEMATIAN Sebab mati adalah penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab atas terjadinya kematian. Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian. Bila kematian terjadi sebagai akibat suatu penyakit semata-mata maka cara kematian adalah wajar (natural death). Kematian tidak wajar (unnatural death) dapat terjadi sebagai akibat kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Kadangkala pada akhir suatu penyidikan, penyidik masih belum dapat menentukan cara kematian dari yang bersangkutan, maka dalam hal ini kematian dinyatakan sebagai kematian dengan cara yang tidak ditentukan. Mekanisme kematian adalah gangguan fisiologik dan atau biokimiawi yang ditimbulkan oleh penyebab kematian sedemikian rupa sehingga seseorang tidak dapat terus hidup. Berdasarkan kasus di atas, penyebab kematiannya disebabkan karena asfiksia akibat pembekapan dengan benda lunak; mekanisme kematian adalah udara tidak bisa masuk dan keluar dengan bebas dari paru-paru akibat pembekapan. Pembekapan pada orang dewasa biasanya hanya terjadi pada orang yang tidak berdaya seperti orang tua, orang sakit berat, dan orang yang berada dalam pengaruh obat atau minuman keras. Dalam contoh kasus, korban adalah sepasang suami istri, kemungkinan yang dapat terjadi adalah suami istri ini berada dalam pengaruh obat tidur; cara kematiannya adalah tidak wajar.
PBL 2 BLOK 30 19

7. VISUM ET REPERTUM Visum et repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter, berisi temuan dan pendapat berdasarkan keilmuannya tentang hasil pemeriksaan medis terhadap manusia atau bagian dari tubuh manusia, baik hidup maupun mati, atas permintaan tertulis (resmi) dan penyidik yang berwenang (atau hakim untuk visum et repertum psikiatrik) yang dibuat atas sumpah atau dikuatkan dengan sumpah, untuk kepentingan peradilan.1 Beberapa jenis visum et repertum yaitu visum et repertum korban hidup termasuk visum et repertum perlukaan, visum et repertum kejahatan susila, visum et repertum jenazah (korban mati akibat tindak pidana atau dugaan tindak pidana) dan visum et repertum psikiatrik (dibuat oleh dokter specialis psikiatri, biasanya untuk menilai kejiwaan terdakwa).1 Visum et repertum adalah alat bukti yang sah berupa surat (Pasal 184 jo Pasal 187 butir c KUHAP). Ketentuan umum pembuatan visum et repertum adalah: 1. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa. 2. Bernomor, bertanggal dan di bagian kiri atasnya dicantumkan kata Pro Justitia. 3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa singkatan dan tidak menggunakan istilah asing. 4. Ditandatangani dan diberi nama jelas pembuatnya serta dibubuhi stempel instansi tersebut. Pada umumnya visum et repertum terdiri dari 5 bagian yang tetap, yaitu: 1. Bagian Pembukaan Kata Pro Justitia yang diletakkan di bagian atas. Kata ini menjelaskan bahwa visum et repertum khusus dibuat untuk tujuan peradilan. Visum et repertum tidak membutuhkan meterai untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti di depan sidang pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum. 2. Bagian Pendahuluan Bagian ini sebenarnya tidak diberi judul Pendahuluan, melainkan langsung merupakan uraian tentang identitas dokter pemeriksa, instansi pemeriksa, tempat dan waktu dilakukannya pemeriksaan, instansi peminta visum et repertum, nomor dan tanggal surat permintaan, serta identitas yang diperiksa sesuai dengan yang tercantum di dalam surat permintaan visum et repertum tersebut. Di bagian ini dicantumkan ada/tidaknya label identifikasi dari pihak penyidik, bentuk dan
PBL 2 BLOK 30 20

bahan label serta isi label identifikasi yang dilekatkan pada benda bukti, biasanya pada ibu jari kaki kanan mayat. 3. Bagian Pemberitaan Bagian ini diberi judul Hasil Pemeriksaan. Bagian ini memuat semua hasil pemeriksaan terhadap barang bukti yang dituliskan secara sistematik, jelas dan dapat dimengerti oleh orang yang tidak berlatar belakang pendidikan kedokteran. Pada pemeriksaan jenazah, bagian ini terbagi tiga bagian, yaitu Pemeriksaan luar, Pemeriksaan dalam (bedah jenazah) dan Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan pendukung lainnya. 4. Bagian Kesimpulan Bagian ini diberi judul Kesimpulan. Dalam bagian ini dituliskan kesimpulan pemeriksa atas seluruh hasil pemeriksaan dengan berdasarkan keilmuannya atau keahliannya. Pada pemeriksaan jenazah, bagian ini berisikan setidak-tidaknya jenis perlukaan atau cedera, kelainan yang ditemukan, penyebabnya serta sebab kematiannya. Apabila memungkinkan, tuliskan juga saat kematian dan petunjuk penting tentang kekerasan ataupun pelakunya. 5. Bagian Penutup Bagian ini tanpa judul, melainkan langsung berupa uraian kalimat penutup yang menyatakan bahwa visum et repertum ini dibuat dengan sebenarnya, berdasarkan keilmuan serta mengingat sumpah dan sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

8. PROGRAM JAMINAN KEMATIAN Jaminan Kematian diperuntukkan bagi ahli waris dari peserta program Jamsostek yang meninggal bukan karena kecelakaan kerja. Jaminan Kematian diperlukan sebagai upaya meringankan beban keluarga baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan berupa uang. Pengusaha wajib menanggung iuran Program Jaminan Kematian sebesar 0,3% dengan jaminan kematian yang diberikan adalah Rp 12 Juta terdiri dari Rp 10 juta santunan kematian dan Rp 2 juta biaya pemakaman dan santunan berkala. Program ini memberikan manfaat kepada keluarga tenaga kerja seperti: 5 1. Santunan Kematian: Rp 10.000.000,PBL 2 BLOK 30 21

2. Biaya Pemakaman: Rp 2.000.000,3. Santunan Berkala: Rp 200.000,-/ bulan (selama 24 bulan)

Tata Cara Pengajuan Jaminan Kematian Pengusaha/keluarga dari tenaga kerja yang meninggal dunia mengisi dan mengirim form 4 kepada PT Jamsostek (Persero) disertai bukti-bukti: 5 1. Kartu peserta Jamsostek (KPJ) Asli tenaga Kerja yang Bersangkutan 2. Surat keterangan kematian dari Rumah sakit/Kepolisian/Kelurahan 3. Salinan/Copy KTP/SIM dan Kartu Keluarga Tenaga Kerja bersangkutan yang masih berlaku 4. Identitas ahli waris (photo copy KTP/SIM dan Kartu Keluarga) 5. Surat Keterangan Ahli Waris dari Lurah/Kepala Desa setempat 6. Surat Kuasa bermeterai dan copy KTP yang diberi kuasa (apabila pengambilan JKM ini dikuasakan)

Kesimpulan Pada dua mayat ini tidak ditemukan tanda kekerasan yang berarti, namun terdapatnya busah halus kemerahan dan bercak merah pada mata menunjukkan kemungkinan asfiksia karena adanya pembekapan. Pembekapan pada orang tua biasanya terjadi pada keadaan tidak berdaya, baik karena sakit atau berada dalam pengaruh obat-obatan. Oleh karena itu dalam kasus ini terdapat kemungkinan bahwa mayat dibekap setelah mengkonsumsi obat dengan jenis diazepam, berdasarkan adanya temuan zat yang mengandung diazepam pada pemeriksaan urin dan hati.

PBL 2 BLOK 30

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono s, et all. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1997; h. 5-37. 2. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Prosedur Medikolegal. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. 1994; h: 11-25. 3. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Autopsi Pada Kasus Kematian Akibat Kekerasan. Teknik Autopsi Forensik. 2000; h: 56-61. 4. Pemeriksaan Kedokteran Forensik pada Korban Meninggal. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/17381311, 4 Januari 2012. 5. Jamsostek. Program jaminan Kematian. 2010. Di unduh dari

http://www.jamsostek.co.id/content/i.php?mid=3&id=18, 5 Januari 2012. 6. Keracunan Obat. 2006. Di unduh dari

http://reef_forensik.webs.com/keracunanobat.htm, 5 Januari 2012. 7. Wirasuta, M.A. Buku Ajar Analisis Toksikologi Forensik. 18 Desember 2009. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/27303128/Analisis-Toksikologi-

Forensik, 6 Januari 2012.

PBL 2 BLOK 30

23