Anda di halaman 1dari 56

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Di era globalisasi saat ini persaingan perusahaan sangat ketat sekali

sehingga memicu perusahaan untuk bekerja keras meningkatkan berbagai kemampuan yang kompetitif dalam segala aspek kehidupan. Salah satu cara yang ditempuh perusahaan yaitu dengan memberikan pelayanan yang maksimal kepada para konsumen mereka, baik dibidang usaha manufaktur maupun dibidang usaha layanan jasa. Mengingat ketatnya persaingan bisnis sekarang, maka konsekuensi yang harus diterima perusahaan bagaimana mengelola secara maksimal sumber daya yang di miliki sehingga diperoleh laba yang optimal. Untuk mencapai semua itu maka diperlukan suatuh alat ukur kinerja perusahaan. Pengukuran kinerja perusahaan merupakan salah satu yang sangat diperlukan untuk menetukan keberhasilan dalam mencapai tujuan tersebut. Penilaian kinerja merupakan suatu tindakan pengukuran yang dilakukan terhadap berbagai aktivitas perusahaan yang digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang pelaksanaan suatuh rencana. Sedangkan menurut Mulyadi (2001:353) penilaian kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan personal berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Untuk melakukan penilaian kinerja suatuh perusahaan diperlukan informasi kegiatan operasional perusahaan tersebut. Adapun informasi yang bisa dipakai untuk penilaian kinerja perusahaan adalah laporan keuangan. Dengan

menganalisis laporan keuangan perusahaan akan diperoleh informasi yang benar dan lengkap atas kinerja perusahaan tersebut. Kinerja sebuah perusahaan lebih banyak diukur berdasarkan rasio-rasio keuangan selama satu periode tertentu. Pengukuran kinerja berdasarkan rasio keuangan ini belum dapat memuaskan keinginan pihak manajemen khususnya bagi para penyandang dana atau investor. Bagi pihak penyandang dana analisis rasio belum cukup untuk mengetahui apakah modal yang telah ditanamkannya di masa yang akan datang akan memberikan tingkat hasil yang sesuai harapan. Untuk melengkapi analisis rasio keuangan kemudian berkembanglah metode analisis baru, dimana metode ini dalam mengukur kinerja dapat secara tepat memperhatikan sepenuhnya kepentingan dan harapan penyedia dana.

Metode yang dimaksud adalah model Economic Value Added (EVA) yang dikenal dengan nama konsep nilai tambah ekonomis. EVA dikembangkan dan di populerkan oleh Stern Steward Management Service merupakan perusahaan

konsultan dari amerika serikat. Adapun menurut Brigham & Houston (2006:68) EVA adalah suatu estimasi dari laba ekonomis yang sebenarnya dari bisnis untuk tahun yang bersangkutan dan sangat jauh berbeda dari laba akuntansi. Dengan kata lain EVA merupakan pengukuran pendapatan sisa (residual income) yang mengurangkan biaya-biaya modal terhadap laba operasi. EVA berangkat dari konsep Cost of Capital yang mengukur nilai tambah yang dihasilkan suatu

perusahaan dengan cara mengurangi laba bersih sesudah pajak dengan biaya modal yang timbul sebagai akibat dari investasi yang dilakukan. PT Oscar Mas merupakan salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang Kontraktor dan penjualan alat berat. Untuk itu PT Oscar Mas Dalam penentuan kebijakan investasi, pemilik, manajer dan penanam modal sangat membutuhkan informasi yang berkaitan dengan penilaian kinerja perusahaan yang diketahui berdasarkan hasil analisis laporan keuangan tersebut. Didalam melakukan penilaian kinerja keuangan perusahaan PT Oscar Mas belum

menerapakan EVA, tetapi perusahaan masih menggunakan rasio-rasio keuangan. Rasio keuangan menekankan pada accounting profit sehingga dalam perhitungan pendapatan tidak mengikutsertakan biaya modal (cost of capital). Dalam hal ini belum cukup meyakinkan pihak invetor apakah modal yang telah ditanamkan di masa yang akan datang dapat memberikan tingkat hasil seperti yang diharapkan. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, PT.Oscar Mas bisa menerapkan konsep baru dalam menilai kinerja keuangan suatu perusahaan secara tepat dengan memperhatikan sepenuhnya kepentingan dan harapan penyedia dana yaitu tingkat pengembalian atas modal yang ditanamkan di perusahaan. Konsep yang dimaksud adalah Economic Value Added (EVA). Konsep ini lebih menekankan pada economic profit yaitu pendapatan atau nilai tambah dihitung dengan

mengurangkan seluruh biaya termasuk biaya modal (cost of capital). Sehingga dengan konsep EVA dapat diketahui berapa sebenarnya biaya yang harus dikeluarkan sehubungan dengan pemakaian modal perusahaan, melalui

perhitungan biaya modalnya. Dengan demikian, EVA mencoba mengukur nilai

tambah yang dihasilkan suatu perusahaan dengan cara mengurangi biaya modal (cost of capital) yang timbul sebagai akibat investasi yang dilakukan. Penerapan konsep EVA dalam suatu perusahaan akan membuat perusahaan lebih memfokuskan perhatian pada penciptaan nilai perusahaan. Hal ini merupakan keunggulan EVA dibandingkan dengan metode lain. Selain itu keunggulan EVA yang lain adalah EVA dapat dipergunakan tanpa memerlukan data pembanding. Serta EVA juga tetap berguna untuk dijadikan acuan pertimbangan dalam hal biaya modal sebagai konpensasi atas dana yang digunakan untuk membiayai invetasi tersebut. Dalam hal ini sangatlah penting penilaian kinerja yang dilakukan perusahaan, karena apabila perusahaan mengalami kemajuan dalam setiap tahun maka para investor akan menanamkan modalnya didalam perusahaan. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk membuat penelitian dengan judul Analisis Penerapan Economic Value Added (EVA) Dalam Penilaian Kinerja Keuangan Pada PT OSCAR MAS 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahan Bagaimana Analisis Penerapan Economic Value Added dalam Penilaian Kinerja Keuangan Pada PT Oscar Mas?.

1.3 Ruang Lingkup Permasalahan Agar pembahasan ini terarah dan tidak menyimpang dari permasalahan, maka penulis hanya membahas tentang analisis penerapan Economic Value Added dalam Penilaian Kinerja Keuangan Pada PT Oscar Mas dalam periode 2010 dan 2011. 1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian Untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan jika diukur dengan menerapkan analisis Economic Value Added dalam Penilaian Kinerja Keuangan Pada PT Oscar Mas. 1.4.2 Manfaat Penelitian 1. Bagi Perusahaan Memberikan informasi bagi perusahaan mengenai pentingnya penerapan Economic Value Added dalam Penilaian Kinerja Keuangan Pada PT Oscar Mas 2. Bagi Penulis Menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman penulis dalam melakukan penelitian tentang analisis Economic Value Added dalam Penilaian Kinerja Keuangan Pada PT Oscar Mas

3. Bagi Akademisi

Sebagai bahan referensi dalam melakukan bidang penelitian analisis Economic Value Added dalam Penilaian Kinerja Keuangan Pada PT Oscar Mas. 1.5 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dalam penyusunan tugas akhir ini terdiri dari lima bab, yaitu: BAB 1 PENDAHULUAN Dalam bab ini penulis menjelaskan latar belakang, perumusan masalah, ruang lingkup permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian dan sistematika penulisan. BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN Dalam bab ini diuraikan mengenai teori-teori yang berkaitan dengan penerapan Economic Value Added dalam penilaian kinerja keuangan, yang terdiri dari pengertian Penilaian Kinerja, Laporan Keuangan, pengertian analisis Economic Value Added, penelitian terdahulu dan kerangka pemikiran serta paradigma penelitian. BAB III OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN

Dalam bab ini diuraikan mengenai objek penelitian, metodologi penelitian yang terdiri dari operasional variabel, sumber dan teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini berisikan gambaran umum perusahaan, struktur organisasi PT Oscar Mas dan menyajikan data keuangan yang akan digunakan dalam menganalisis permasalahan. Bab ini juga membahas dan menghitung Net Operating Profit After Tax (NOPAT), Mengidentifikasi Invested Capital, Menetukan Weight Average Cost Of Capital (WACC) yang wajar, Menghitung Economic Value Added (EVA). BAB V SIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan hasil akhir dari penulisan yang berisikan simpulan dari hasil pembahasan dalam bab IV, selanjutnya diberikan saran perbaikannya

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1

Landasan Teori

2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Dalam praktiknya laporan keuangan suatu perusahaan dibuat untuk melihat kondisi keuangan perusahaan, untuk itu laporan keuangan harus disusun sesuai sesuai dengan aturan atau standar yang berlaku. Hal ini perlu dilakukan agar laporan keuangan mudah dibaca dan dimengerti. Laporan keuangan yang disajikan perusahaan sangat penting bagi manajemen dan pemilik perusahaan. Disamping itu, banyak pihak yang memerlukan dan berkepentingan terhadap laporan keungan yang dibuat perusahaan, seperti pemerintah, kreditur, investor maupun para supplier. Laporan keuangan dibuat untuk memberikan gambaran kemajuan perusahaan secara periodik, data dalam laporan keuangan harus mencerminkan sifat-sifat laporan keuangan. Menurut Kasmir (2008:7) laporan keuangan adalah laporan yang menunujukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu. Sedangkan menurut Harahap (2007:201) laporan keuangan

merupakan ouput dan hasil akhir dari proses akuntansi. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan informasi bagi pemakainya sebagai salah satu dasar dalam proses pengambilan keputusan. Adapun laporan keuangan yang lengkapa Menurut PSAK No.1 terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut: a. Laporan Posisi Keuangan pada akhir periode b. Laporan laba rugi komprehensif selama periode c. Laporan perubahan ekuitas selama periode d. Laporan arus kas selama periode
e. Catatan atas laporan keuangan pada awal periodekompratif yang disajikan

ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan atau ketika entitas mereklasifikasikan pos-pos dalam laporan keuangannya. Dari definisi-definisi diatas maka laporan keuangan sangatlh penting karena dengan adanya laporan keuangan dapat diketahui perkembangan dan prospek perusahaan dimasa yang akan datang. 2.1.2 Sifat Laporan Keuangan Menurut Kasmir (2008:11) sifat laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Fakta-fakta yang telah dicabut (recorded fact) 2. Prinsip-prinsip dan kebiasaan dalam akuntansi (accounting convention and

postulate)

10

3. Pendapat pribadi (personal juggement)

2.1.3 Unsur-Unsur Laporan Keuangan Menurut PSAK No.1 unsur laporan keuangan yang berkaitan secara langung dengan pengukuran posisi keuangan adalah sebagai berikut:
1. Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari

peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan.
2. Liabilitas adalah hutang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa

lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi. 3. Ekuitas adalah hak residual atas aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Sedangkan tujuan yang berkaitan dengan pengukuran kinerja dalam laporan laba rugi yaitu: 1. Penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatuh periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal. 2. Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk arus kas keluar atau berkurangnya aset atau terjadinya kewajiban

11

yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal. 2.1.4 Tujuan Laporan Keuangan Adapun tujuan laporan keuangan menurut PSAK No.1 adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan manajemen mereka. keuangan atas juga menunjukkan sumber Harahap daya hasil yang

peratnggungjawaban dipercayakan kepada

penggunaan menurut

Sedangkan

(2007:132)

menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut:


1. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva

dan kewajiban serta modal suatu perusahaan. 2. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam aktiva netto perusahaan yang timbul dari kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba. 3. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan didalam menaksir potensi perusahaan.
4. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam

aktiva dan kewajiban suatu perusahaan, seperti informasi mengenai aktivitas pembiayaan dan investasi.

12

5. Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan

dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakaian laporan keuangan seperti informasi mengenai akuntansi yang dianut perusahaan. 2.2 Penilaian Kinerja

2.2.1 Pengertian Penilaian Kinerja Pengukuran kinerja merupakan pengukuran perilaku manusia dalam melaksanakan peran yang dimainkan dalam mencapai tujuan organisasi. Pengukuran kinerja bertujuan untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang dinginkan. Menurut Waluyo dalam gunawan (2006:23) istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya) yang dicapai oleh seseorang. Penilaian kinerja sebagai suatu tindakan pengukuran yang dilakukan terhadap berbagai aktifitas perusahaan yang digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang pelaksanaan suatu rencana. Penilaian kinerja dalam suatuh perusahaan sangat penting sekali karena dengan adanya penilaian kinerja maka akan memotivasi karyawan untuk melaksanakan pekerjaannya sesuai yang diharapkan oleh suatu perusahaan atau organisasi. 2.2.2 Manfaat Penilaian Kinerja

13

Menurut Rudianto (2006:213) manfaat dari penilaian kinerja dapat digunakan oleh pihak manajemen dalam hal sebagai beriku:
1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian

personal secara maksimum. 2. Membantu pengambilan keputusan yang berkaitan dengan penghargaan personal seperti: promosi, transfer dan pemberhentian. 3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan personal dan untuk menyediakan kreteria seleksi dan evaluasi program pelatihan personal. 4. Menyediakan suatuh dasar untuk mendistribusikan penghargaaan. 2.2.3 Tahap Penilaian Kinerja Menurut Mulyadi (2001:420) tahapan penilaian kinerja dilaksanakan dalam dua tahap utama yaitu 1. Tahap persiapan
a.

Penentuan daerah pertanggungjawaban dan manajer yang bertanggung jawab.

b. c.

Penetapan kreteria yang dipakai untuk mengukur kinerja Pengukuran kinerja yang sesungguhnya.

2. Tahap penilaian

14

a.

Perbandingan kinerja yang sesungguhnya dengan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

b.

Penetuan penyebab timbulnya penyimpangan kinerja sesungguhnya dari yang ditetapkan dalam standar.

c.

Penegakan prilaku yang diinginkan dan tindakan yang digunakan untuk mencegah perilaku yang tidak diinginka.

2.2.4 Tolak Ukur Kinerja Keuangan Perusahaan Young and OBryne (2001:427), menguraikan tolak ukur kinerja keuangan kedalam kategori-kategori untuk membantu dalam melakukan analisis yaitu sebagai berikut: 1. Pengukuran pendapatan risidual, seperti nilai tambah ekonomis yang diperoleh dengan mengurangi biaya modal, termasuk utang dan ekuitas dari laba operasi, apakah diukur atas basis akuntansi akrual atau arus kas.
2. Komponen pendapatan residual, merupakan elemen-elemen dari pendapatan

residual, tetapi khususnya yang tidak dimasukan biaya modal. Oleh karena itu pengukuran yang lebih terperinci atau terpisah-pisah dibandingkan pendapatan residual dan dapat dikatakan secara lebih langsung dan bertanggung jawab dari manajer menengah, contoh EBIT (Earning Before Interest and Tax / Laba Bersih Setelah Pajak.). NOPAT (Net Operating Profit After Tax / Laba Bersih Setelah Pajak.)

15

3. Pengukuran

berdasarkan

pasar,

diperoleh

dari

pasar

dan

termasuk

pengembalian saham total / Total Shareholder Return (TSR), nilai tambah pasar / Market Value Added (MVA), pengembalian kelebihan (Excess Returm) dan nilai tambah mendatang / Future Growth Value (FGV). Oleh karena itu, pengukuran berdasarkan pasar membutuhkan perkiraan yang dapat diandalkan untuk nilai ekuitas, hal ini hanya tersedia untuk kesatuan yang diperdagangkan secara periodik.
4. Pengukuran arus kas, dirancang untuk melakukan akuntansi akurat dan

termasuk arus kas dari operasi / Cash Flow Operation (CFO). Aru kas bebas dan arus kas pengembalian atas investasi (CFROI).
5. Pengukuran pendapatan tradisional, termasuk tolak ukur yang telah difokuskan

eksekutif korforasi dan analisis eksternal selama beberapa dekade seperti pendapatan bersih dan pendapatan bersaham / Earning Per Share (EPS). 2.2.5 Penilaian Kinerja Dengan Laba Akuntansi Menurut Harahap (2007:299) laba akuntansi merupakan perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari transaksi perusahaan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan itu. Pada umumnya ada beberapa cara yang digunakan pihak manajemen dalam mengukur kinerja dengan menggunakan laba akuntansi seperti:
1. ROI (Return On Investment)

16

Return On Investment (ROI) merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keselurhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan. Secara eksternal ROI digunakan oleh pemegang saham sebagai indikator keberhasilan suatuh perusahaan sedangkan secara internal, ROI digunakan untuk mengukur kinerja yang berhubungan dengan divisi. Sedangkan menurut Hanif dan Darsono Prawironegoro (2009:88) ada tiga keuntungan ROI sebagai suatu alat ukur kinerja sebagai berikut: 1. Mendorong manajer untuk memberikan perhatian yang lebih luas terhadap hubungan antara penjualan, biaya dan investasi yang seharusnya menjadi fokus bagi manajer investasi. 2. Mendorong efisiensi biaya 3. Bisa mengurangi investasi yang berlebihan. Akan tetapi ROI juga mempunyai kelemahan antara lain: 1. Manajer pusat investasi cenderung menolak investasi yang bisa menurunkan ROI pusat pertanggung jawabannya, walaupun akan meningkatkan

profitabilitas perusahaan secara keseluruhan. 2. Mendorong manajer pusat investasi berprilaku mementingkan kepentingan jangka pendek tanpa memperhatikan kepentingan jangka panjang. 2. Residual Income (RI)

17

RI merupakan alternatif pengukuran kinerja yang biasanya menggunakan dasar ROI. RI adalah selisih antara laba operasi dengan tingkat pengembalian minimum dari aktiva perusahaan. Akan tetapi menurut Mulyadi (2001:) RI memeliki kelebihan yaitu: a. Penggunaan RI sebagai pengukuran kinerja pusat laba mengakibatkan semua pusat laba memiliki sasaran laba yang sama untuk investasi yang sebanding, yaitu sebsar beban modal yang ditentukan oleh kantor pusat.
b. RI menggunakan tarif beban modal yang berbeda untuk aktiva yang memiliki

rasio yang berbeda. Namaun RI juga memiliki kelemahan antara lain: a. Sangat sulit membandingkan kinerja devisi secara langsung, jika RI dipaki untuk menilai kinerja
b. RI juga mendorong orientasi jangka pendek (myopic Behaviour). RI sebagai

pengukur kinerja sangat dipengaruhi oleh depresiasi aktiva tetap, karena biasanya perhitungan RI didasarkan atas laba bersih akuntansi maka kinerja sesunggunya tidak dapat dicerminkan RI.
3. Rasio-Rasio Keuangan (Financial Rasio)

Analisis

laporan

keuangan

perusahaan

pada

dasarnya

merupakan

penghitungan ratio-ratio untuk menilai keadaan keuangan perusahaan di masa lalu, saat ini dan kemungkinannya di masa depan. Ada beberapa cara yang dapat digunakan di dalam menganalisa keadaan keuangan perusahaan, tetapi analisa

18

dengan menggunakan ratio merupakan hal yang sangat umum dilakukan di mana hasilnya akan memberikan pengukuran relatif dari operasi perusahaan. Data pokok yang di gunakan dalam rasio ini adalah laporan laba rugi dan laporan neraca perusahaan. Dengan kedua laporan ini akan dapat ditentukan sejumlah rasio dan selanjutnya ratio ini dapat digunakan untuk menilai beberapa aspek tertentu operasi perusahaan. Secara umum rasio keuangan terbagi atas beberapa rasio anatara lain, Liquidity Ratio, Leverage Ratio, Activity Ratio, Profitabilitas Ratio, Growth Rasio dan Valuation Ratio. 2.3 Economic Value Added

2.3.1 Definisi Economic Value Added Menurut James C. Van Horne (2007:141) EVA adalah laba operasional bersih setelah pajak (Net Operating Profit After Tax-NOPAT) dikurangi beban nilai biaya modal untuk modal yang digunakan. EVA merupakan pendekatan khusus yang menghitung laba ekonomi yang dikembangkan oleh perusahaan konsultan Stern Stewart & Co. Sedangkan menurut Hanif dan Darsono (2009:88) EVA dapat diperoleh dengan mengurangkan beban modal (capital charge) dari laba operasi bersih (net operating profit). Beban modal diperoleh dari perkalian antara jumlah aktiva yang digunakan dengan suatu tingkat tarif (rate). Selain itu menurut Tunggal (2008:340) EVA adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, yang menyatakan bahwa kesejahteraan dapat

19

tercipta jika perusahaan mampu memenuhi biaya operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital). Adapun menurut Brigham & Houston (2006:68) EVA adalah suatu estimasi dari laba ekonomis yang sebenarnya dari bisnis untuk tahun yang bersangkutan dan sangat jauh berbeda dari laba akuntansi. Dengan kata lain EVA merupakan pengukuran pendapatan sisa (residual income) yang mengurangkan biaya-biaya modal terhadap laba operasi. 2.3.2 Konsep Economic Value Added (EVA) Menurut Tunggal (2008:343) Economic Value Added adalah pengukuran kinerja yang didasari nilai pemegang saham yang dihasilkan, baik itu bertambah maupun berkurang. EVA menyajikan suatuh ukuran yang baik mengenai sampai sejauh mana perusahaan telah memberikan tambah pada nilai pemegang saham. Oleh karenanya, jika manajer berfokus pada EVA, hal ini akan dapat membantu memastikan bahwa mereka telah menjalankan operasi dengan cara yang konsisten dengan tujuan untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Perhatikan pula bahwa EVA dapat dihitung untuk divisi-divisi sekaligus juga untuk perusahaan secara keseluruhan, sehingga dapat menjadi dasar yang berguna untuk

menentukan kompensasi manajerial pada seluruh tingkatan. Menurut Tunggal (2008:350) perhitungan EVA dapat dilakukan dengan rumus-rumus sebagai berikut:
1. Menghitung Net Operating Profit After Tax (NOPAT)

20

Nopat adalah laba yang diperoleh dari operasi perusahaan setelah dikurangi pajak penghasilan, tetapi termasuk biaya keuangan (financial cost) dan non cash bookkeping entries seperti biaya penyusutan. NOPAT dapat dihitung dengan rumus:
NOPAT = Pendapatan Operasi + Pendapatan Bunga + Pendapatan Ekuitas + Pendapatan Ekuitas + Pendapatan Investasi Lainnya Pajak Penghasilan Pembebasan Pajak Terhadap Biaya Bunga

2.

Mengidentifikasi Invested Capital Invested Capital adalah jumlah seluruh pinjaman perusahaan diluar pinjaman jangka pendek tanpa bunga (non-interest bearing liabilities), seperti utang dagang, biaya yang masih harus dibayar, utang pajak, dan uang muka pelanggan. Invested Capital dapat dihitung dengan rumus: Invested Capital = Kas + Working Capital Requirement + Aktiva Tetap

Working Capital Requirement = (Pesediaan + Piutang Dagang + Aktiva Lancar Lainnya) (Utang Dagang + Biaya-biaya yang Masih Harus Dibayar + Uang muka pelanggan)

3. Menetukan Weight Average Cost of Capital (WACC)

Cost of Capital merupakan tingkat pengembalian investasi minimum untuk mendapatkan Reqquiredrate of Return (tingkat pengembalian yang

21

diharapakan oleh investor atau kreditur dan pemegang saham), biaya modal pada suatu perusahaan tidak hanya bergantung pada biaya utang dan pembiayaan ekuitas, tetapi juga seberapa banyak dari masing-masing itu dimiliki dalam struktur modal. Hubungan ini dihubungkan dengan Weight Average Cost of Capital dari perusahaan tersebut. Weight Average Cost of Capital (WACC) dapat dihitung dengan formulasi sebagai berikut:

WACC

Utang/Pembiayaan

Total

(Biaya

Utang)

(1-T)

Ekuitas/Pembiayaan Total (Biaya Ekuitas)

Keterangan: WACC = Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang T = Pajak Atas Pendapatan

Biaya hutang dihitung dengan rumus: Kdt = Kd (1-T)

Kd Kdt T

= Tingkat Bunga Pinjaman = Biaya Utang Setelah Pajak (Cost of Debt) = Pajak Atas Pendapatan

Biaya Ekuitas Dihitung dengan Rumus:


EAT ROE = Modal Sendiri

Keterangan:

22

ROE EAT

= Return on Equity = Earning After Tax

4. Menghitung EVA Perusahaan Setelah menghitung WACC, hasil tersebut dikalikan dengan interest capital untuk memperoleh nilai capital charge, selanjutnya EVA dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
EVA = NOPAT Capital Charge

EVA = NOPAT (Interest Capital x WACC)

Keterangan: NOPAT Capital Charge WACC = Pendapatan Bersih Operasi Setelah Pajak = Biaya Modal = Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang

2.3.3 Kelebihan dan Kelemahan Konsep EVA Menurut Hanif dan Darsono (2009:88) penilaian kinerja dengan metode Analisis EVA memiliki kebaikan sebagai berikut:
1. Manajer pusat investasi cenderung menerima investasi yang menurut ROI tidak

menguntungkan ROI sehingga tidak menerima walaupun secara perusahaan keseluruhannya menguntungkan.
2. Memungkinkan penggunaan Cost of Capital yang berbeda-beda pada jenis

aktiva.

23

Akan tetapi EVA mempunyai kelemahan karena kurang informatif karena tidak dinyatakan dalam rasio sehingga sulit digunakan sebagai alat pembanding. Jadi, jika suatu perusahaan di mana pendapatan dalam suatu periode hanya mampu menutupi beban operasional dan beban bunga serta membayar dividen pemegang saham, maka periode itu perusahaan gagal menciptakan nilai tambah.
2.3.4 Perbedaan Laba Akuntansi (Accounting Profit) dengan Laba Ekonomi

(Economic Profit) Menurut James C. Van Horne (2007:142) perhitungan laba akuntansi secara eksplisit mempertimbangkan beban pendanaan ekuitas. Laba akuntansi

merupakan perbedaan antara revenue yang direalisasi yang timbul dari transaksi pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tersebut. ROI, RI dan financial ratio merupakan cara-cara menilai kinerja keuangan berdasarkan laba akuntansi. Laba ekonomi adalah sumber penciptaan nilai perusahaan. Perbedaan yang mencolok antara pengukuran laba akuntansi dengan laba ekonomi yang dikenal dengan EVA adalah laba bersih versi akuntansi hanya memperhitungkan biaya modal dari hutang dan tidak memperhitungkan biaya modal dari ekuitas. Sedangkan laba ekonomi memperhitungkan biaya modal dari hutang dan biaya modal dari ekuitas. Dengan kata lain EVA mampu mengidentifikasi seberapa jauh kemampuan perusahaan untuk menciptakan nilai bagi pemilik perusahaan.
2.1.5 Tolak Ukur Economic Value Added (EVA)

24

Menurut Gatot Wijayanto dalam Fatimah (2011:14) penilaian EVA dapat dinyatakan sebagai berikut: a. Apabila EVA > 0, berarti nilai EVA positif yang menunjukkkan telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan. b. Apabila EVA = 0, menunjukkan posisi impas atau Break Even Point c. Apabila EVA < 0, yang berarti EVA negatif menunjukkan tidak terjadi proses nilai tambah. Dari penjelasan diatas dapat digambarkan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Tabel 2.1 Tolak Ukur EVA Nilai EVA Ada EVA>0 nilai Kesimpulan ekonomis lebih, Laba Perusahaan setelah Positif semua

perusahaan

membayarkan

kewajiban pada para penyandang dana atau kreditur sesuai ekspektainya. Tidak ada nilai ekonomis lebih, tetapi Positif

EVA = 0

perusahaan mampu membayarkan semua kewajibannya pada para penyandang dana atau kreditur sesuai ekspektasinya.

25

Perusahaan tidak mampu membayarkan Tidak kewajuban pada para penyandang dana ditemukan, atau EVA<0 kreditur sebagai mana

dapat

yang namun jika pun laba, tidak dengan sesuai

diharapkan ekspektasi Return saham tidak ada dapat dicapai.

yang diharapkan. Sumber: Skripsi Fatimah Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pada dasarnya EVA berfungsi sebagai: 1. Indikator tentang adanya penciptaan nilai dari sebuah investasi 2. Indikator kinerja sebuah perusahaan dalam setiap kegiatan operasional ekonomisnya. 3. Pendekatan baru dalam pengukuran kinerja perusahaan dengan

memperhatikan secara adil pera penyandang dana atau pemegang saham.

2.4

Penelitian Terdahulu

26

Tabel 2.2 Paradigma Penelitian No 1 Nama Jec Alexsander (2007) Analisis Value sebagai Penilaian Keuangan Perkebunan Judul Hasil

Economic Penerapan EVA sangat baik Added (EVA) dilakukan karena dengan Alternatif metode Kinerja memberikan Pada PT kinerja Nusantara perusahaan dana relatif di EVA dapat informasi keuangan bagi dan tidak

VII Unit Usaha Sule penyandang Plasma Gunung Megang informasi Muara Enim mudah kinerja

manipulasi. PT

Adanya peningkatan dalam keuangan Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Sule Plasma Gunung Enim. 2 M.Gunawan (2011) Analisis Penerapan Dengan diterapkannya Megang Muara

Economic Value Added konsep EVA dalam menilai dalam penilaian kinerja kinerja keuangan diperoleh keuangan pada PT Tania nilai Mandiri Palembang yang positif pada Sentosa setiap tahunnya.

27

Fatimah (2011)

Analisis EVA Sebagai Dari hasil metode ini nialai Alternatif PT Angkasa Penilaian tambah Pura II setiap ekonomi positif tahunnya. (EVA) pada Yang yang perusahaan Kinerja Keuangan Pada diperoleh Cabang SMB II

menandakan bahwa tingkat pengembalian dihasilkan

melebihi biaya modal yang diminta oleh investor atas investasi yang dilakukan. Dimana perusahaan menghasilkan menciptakan nilai bagi investor
Sumber: Skripsi Universitas Binadarma

2.5 Kerangka Pemikiran dan Paradigma Penelitian Untuk melihat suatu kinerja keuangan perusahaan maka perlu dilakukan penilaian kinerja keuangan. Penilaian kinerja merupakan suatu perhitungan tingkat efektivitas dan efisiensi suatu perusahaan dalam kurun waktu tertentu untuk mencapai hasil yang optimal. Penilaian kinerja timbul karena adanya perbedaan antara hasil aktual yang dicapai dengan hasil yang telah dianggarkan sebelumnnya. Di indonesia konsep EVA sebagai altenatif penilaian kinerja yang berdasarkan laba ekonomi dinilai tergolong baru untuk diterapkan. Pada umunya perusahaan-perusahaan di Indonesia masih menerapkan pengukuran kinerja keuangan konvensional. EVA memiliki arti penting sebagai bisnis yang memberikan informasi tentang kondisi ekonomi perusahaan dan hasil usahanya

28

dalam periode tertentu. Menurut Brigham & Houston (2007:68) EVA adalah suatuh estimasi dari laba ekonomis yang sebenarnya dari bisnis untuk tahun yang bersangkutan dan sangat jauh berbeda dari laba akuntansi. Dengan kata lain EVA merupakan pengukuran pendapatan sisa (residual income) yang mengurangkan biaya-biaya modal terhadap laba operasi. EVA merupakan tolak ukur yang menggambarkan jumlah absolute dari pemegang saham yang diciptakan pada periode tertentu, biasanya dalam satu tahun. Adapun langkah untuk menghitung EVA dapat dilakukan dengan cara Menghitung NOPAT (Net Operating After Taxe), Mengidentifikasi Inveted Capital, Menentukan WACC (Weigted Average Cost Of Capital), serta menghitung EVA perusahaan tersebut. Dengan cara diatas maka nantinya akan dikethui bagaimana penilaian kinerja keuangan PT.Oscar Mas dengan menggunakan analisis Economic Value Added (EVA). Dengan Economic Value Added (EVA) tersebut maka akan diketahui kinerja keuangan PT.Oscar Mas apakah perusahaan menghasilkan

EVA positif atau negatif, apabila EVA positif maka PT.Oscar Mas menciptakan nilai tambah bagi investor akan tetapi apabila EVA negatif berarti PT.Oscar Mas menghancurkan modal yang di investasikan investor. Serta EVA juga mampu menutupi kelemahan dari analisis rasio keuangan yang selama ini digunakan PT.Oscar Mas dan EVA juga dapat membantu pihak yang berkepentingan dalam hal ini pihak investor dan manajemen dalam mengambil keputusan serta kebijakan untuk perusahaan. Diharapkan apabila PT.Oscar Mas menerapkan penilaian kinerja dengan menggunakan konsep EVA maka dapat terlihat dengan baik

29

kinerja keuangan perusahan serata para investor mau menanamkan modalnya ke PT.Oscar Mas. Berdasarkan uraian analisis diatas maka paradigma penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Laporan Keuangan Neraca dan Laba/Rugi

Analisi Economic Value Added (EVA)

Kinerja Keuangan Perusahaan

Gambar 2.1 Paradigma Penelitian

30

BAB III OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT Oscar Mas yang beralamat di Komplek Palembang Star Blok AA-5 Jalan Letjen Harun Sohar Palembang . 3.2 Teknik Pengumpulan Data Menurut Sugiyono (2006:129), ada dua sumber pengumpulan data, yaitu:
1. Data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung dari objek yang

diteliti. Dalam pengumpulan data primer ini penulis melakukan dengan cara sebagai berikut: a. Observasi atau pengamatan Penulis Melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap kegiatan yang ada untuk memperoleh hasil data yang dibutuhkan. Penulis juga mengadakan observasi langsung pada bagian keuangan di PT Oscar Mas. b. Interview (wawancara) Penulis melakukan wawancara kepada pihak yang berhubungan dengan kepentingan untuk penelitian dalam hal ini karyawan dan staf bagian departemen akuntansi atau keuangan PT Oscar Mas.

31

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung. Data ini

diperoleh penulis dengan cara membaca buku di perpustakaan dan berbagai laporan yang dikeluarkan perusahaan berupa sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi, pembagian tugas dan wewenang, dan prosedur penyusunan laporan. 3.3 Teknik Analisis Data Menurut Sugiyono (2005:13), teknik analisis data merupakan suatuh analisis yang digunakan untuk menganalisis data atau informasi yang telah diperoleh dari hasil penilitian. Analisis data mempunyai tujuan untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada suatuh penelitian. Adapun yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Teknik analisis Deskriptif Kualitatif yaitu teknik pengumpulan datanya berupa keterangan-

keterangan dan uraian mengenaia teori dan hasil yang didapat dari hasil penelitian sehingga diperoleh gambaran yang jelas mengenai permasalahan yang akan dibahas.

32

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT Oscar Mas merupakan perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang didirikan secara hukum terdaftar dibawah hukum Indonesia pada tanggal 8 februari 2007 dengan kuasa akta cabang oleh notaris Fauzi Agus, S.H. Sejak didirikan perusahaan selalu menjaga dan memelihara kepercayaan yang diberikan oleh principal dan pelanggan dengan memposisikan diri sebagai sebuah perusahan yang menawarkan produk yang berkualitas. PT.Oscar Mas terdaftar di Direktorat Jendral Pajak dengan No NPWP 02.417.088.8-307.001. PT. Oscar Mas merupakan perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan barang dan jasa dibidang supplier dan konstruksi. Adapun barang yang diperdagangkan disini merupaka alat-alat berat yang bekerjasama dengan Hyundai Heavy Industries, XGMA dan Chenglong. 4.1.2 Visi dan Misi PT Oscar Mas a. Visi PT Oscar Mas Adapun Visi dari PT Oscar Mas adalah menjadi perusahaan pemasok alat berat terkemuka dengan kualitas terbaik yang kreatif, inovatif,

bertanggung jawab dan berorientasi kepada kepuasan pelanggan.

33

b. Misi PT Oscar Mas 1. Menjalin Hubungan kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan dengan reputasi baik dan dapat dipercaya pelanggan maupun principal 2. Memberikan produk-produk berkualitas tinggi dengan pelayanan yang prima. 3. Mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk mendukung dan memperkuat bisnis kami. 4. Turut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bangsa kita.

4.1.3 Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas .1 Struktur Organisasi Struktur organisasi merupakan sebuah rangka yang mencerminkan secara keseluruhan dari bagian tugas dan tanggung jawab pengelompokan suatuh penentuan hubungan kerja antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Agar organisasi suatuh perusahaan dapat berjalan dengan baik, maka perlu penyusunan dalam suatuh struktur organisasi sehingga bagian yang satu dengan yang lain dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan pekerjaan masing-masing. Struktur organisasi biasanya dinyatakan dalam bentuk bagan organisasi. PT.Oscar Mas memiliki struktur organisasi lini (garis) dimana setiap bawahan bertanggung jawab atas tugas dan wewenang kepada suatu atasan. Struktur organisasi PT.Oscar Mas dapat dilihat sebagai berikut:

34

Gambar 4.1 Struktur Organisasi

DIREKTUR

MANAGER KEUANGAN

MANAGER TEKHNIK

MANAGER OPERASIONAL

DEVISI PEMASARAN

DEVISI LOGISTIK

KARYAWAN

Sumber: PT.Oscar Mas

35

.2 Pembagian Tugas dan Wewenag Berdasarkan struktur organisasi diatas maka akan dijelaskan tugas dan wewenang dari masing-masing bagian: DIREKTUR 1. Menberikan pengarahan dan bimbingan kepada bawahan 2. Memberikan informasi kepada atasan yang berhubungan dengan operasional kinerja dalam perusahaan 3. Menandatangi surat-surat yang berhubungan dengan perusahaan 4. Memilih, menetapkan, mengawasi, memberikan tugas dan tanggung jawab kepada bawahan. MANAJER KEUANGAN 1. Menyelenggarakan kegiatan administrasi dan keuangan perusahaan yang meliputi kegiatan akuntansi, kegiatan keuangan/perpajakan asuransi serta tagihan. 2. Membantu direktur dalam menyelenggarakan finasial manajemen untuk mendukung terlaksananya kegiatan perusahaa.
3. Meneyelenggarakan informasi dan pelaporan yang akurat dan tepat waktu,

baik kebutuhan internal manajemen perusahaan maupun ekstern seperti owner. 4. Membuat laporan evaluasi/analisa pelaksaan dan kemajuan perusahaan serta RKAP perusahaan terutama dalam kaitannya dengan keuangan.

36

5. Mengawasi pembayaran yang dilakukan oleh kasir dan menganalisa situasi

keuangan perusahaan dengan membandingkan cash flow dengan realisasi. MANAJER OPERASIONAL 1. Melakukan koordinasi kegiatan operasional terhadap seluruh aktivitas perusahaan dalam lingkup pembidangnya 2. Membantu direktur dalam menyelenggarakan kegiatan operasional perusahaan secara koordinir dan sesuai saran yang telah ditetapkan oleh perusahaan. 3. Melakukan pengawasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh semua koordinator pembidangnya mencakup kualitas, biaya dan jadwal. 4. Melakukan evaluasi dan analisa dari semua kegiatan teknis dan operasional yang telah dilakukan serta menyusun langkah-langkah perbaikan. MANAJER TEKNIK 1. Melakukan koordinasi kegiatan teknis terhadap seluruh aktivitas perusahaan dalam lingkup bidangnya. 2. Membantu direktur dalam menyelenggarakan kegiatan teknis perusahaan secara koordinir sesuai saran yang telah ditetapkan oleh perusahaan. 3. Melakukan pengawasan terhdap pekerjaan yang dilakukan oleh semua koordinator bidang yang mencakup kualitas, biaya dan jadwal. 4. Melakukan evaluasi dan analisa dari semua kegiatan teknis yang telah dilakukan serta menyusun rencana/langkah-langkah perbaikan.

37

4.2 Penerapan Economic Value Added 4.2.1 Laporan Keuangan Untuk menganalisis penerapan EVA maka di perlukan laporan keuangan. laporan keuangan memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil peratnggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Adapun laporan yang dibutuhkan untuk analisis penerapan konsep EVA yaitu laporan Neraca dan Laporan Laba Rugi. Adapun laporan keuangan PT. Oscar Mas tahun 2010 dan 2011sebagai berikut:

38

PT OSCAR MAS NERACA Per 31 Desember 2010 (Dalam Rupiah)

ASSET ASSET LANCAR Kas dan Setara Kas Piutang Usaha Piutang lain-lain Persedian Pajak Dibayar Dimuka Jumlah Aktiva Lancar ASSET TIDAK LANCAR Aktiva Tetap (setelah dikurangi akumulasi penyusutan Rp.524.785.106 Pada tahun 2010) Aktiva lain-lain Jumlah Aktiva Tidak Lancar JUMLAH AKTIVA KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN LANCAR Hutang Usaha Hutang Bank Hutang Pajak 1.437.500 3.367.923.100 450.027.263 4.261.913.369 3.697.250.000 7.959.163.369 13.536.660.243 374.503.074 4.233.854.415 383.582.500 585.556.885 5.577.496.874

39

Biaya yang Masih Harus Dibayar Jumlah Kewajiban Lancar EKUITAS Modal Saldo Laba Saldo Laba Awal Tahun Laba Tahun Berjalan Saldo Laba Akhir Tahun Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS -

2.019.918 3.821.407.781

8.175.350.000

1.539.902.462 1.539.902.462 9.715.252.462 13.536.660.243

Sumber: Laporan Keuangan PT.Oscar Mas

40

PT OSCAR MAS NERACA Per 31 Desember 2011 (Dalam Rupiah)

ASSET ASSET LANCAR Kas dan Setara Kas Piutang Usaha Piutang lain-lain Persedian Pajak Dibayar Dimuka Jumlah Aktiva Lancar ASSET TIDAK LANCAR Aktiva Tetap (setelah dikurangi akumulasi penyusutan Sebesar Rp.1.538.607.713 Pada tahun) Aktiva lain-lain Jumlah Aktiva Tidak Lancar JUMLAH AKTIVA KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN LANCAR Hutang Usaha Hutang Bank Hutang Pajak Biaya yang Masih Harus Dibayar 119.543.420 1.550.912.744 35.921 3.212.508 7.081.040.763 3.697.250.000 10.778.290.763 14.710.391.516 367.795.977 2.995.433.456 34.960.000 386.305.068 147.606.252 3.932.100.753

41

Jumlah Kewajiban Lancar EKUITAS Modal Saldo Laba Saldo Laba Awal Tahun Laba Tahun Berjalan Saldo Laba Akhir Tahun Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS

1.673.704.593

8.175.350.000

1.539.902.462 3.321.434.461 4.861.336.923 13.036.686.923 14.710.391.516

Sumber: Laporan Keuangan PT.Oscar Mas

42

PT OSCAR MAS LAPORAN LABA RUGI Per 31 Desember 2010 (Dalam Rupiah)

PENDAPATAN USAHA BEBAN POKOK PENDAPATAN LABA KOTOR BEBAN USAHA Beban Penjualan Beban Umum dan administrasi Jumlah Beban Usaha LABA USAHA PENGHASILAN DAN BEBAN LAI-LAIN Penghasilan Lain-lain Beban Bunga Beban Lain-lain Jumlah Beban Lain-lain Bersih LABA BERSIH SEBELUM PAJAK Pajak Penghasilan LABA BERSIH SETELAH PAJAK
Sumber: Laporan Keuangan PT.Oscar Mas

16.768.608.589 13.274.772.518 3.493.836.071

75.286.738 780.580.325 955.867.063 2.537.969.009

1.150.000 310.781.470 25.450.360 335.081.580 2.202.887.428 662.984.966 1.539.902.462

43

PT OSCAR MAS LAPORAN LABA RUGI Per 31 Desember 2011 (Dalam Rupiah)

PENDAPATAN USAHA BEBAN POKOK PENDAPATAN LABA KOTOR BEBAN USAHA Beban Penjualan Beban Umum dan administrasi Jumlah Beban Usaha LABA USAHA PENGHASILAN DAN BEBAN LAI-LAIN Penghasilan Lain-lain Beban Bunga Beban Lain-lain Jumlah Beban Lain-lain Bersih LABA BERSIH SEBELUM PAJAK Pajak Penghasilan LABA BERSIH SETELAH PAJAK
Sumber: Laporan Keuangan PT.Oscar Mas

27.215.196.904 20.750.620.700 6.464.576.204

278.778.515 1.265.418.974 1.544.197.489 4.920.378.715

540.320 115.387.908 14.521.326 129.368.914 4.791.009.801 1.469.575.340 3.321.434.461

4.2.2 Analisis Penerapan EVA pada PT.Oscar Mas

44

PT.Oscar Mas dalam melakukan penilaian kinerja keuangan masih menggunakan analisis rasio laporana keuangan dan belum menggunakan EVA. Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam melakukan analisis EVA adalah sebagai berikut:
1. Menghitung Net Profit After Tax (NOPAT)

NOPAT merupakan laba yang diperoleh dari operasi perusahaan setelah dikurangi pajak penghasilan, tetapi termasuk biaya keuangan (financial cost) dan non cost bookeping entries seperti biaya penyusutan. Nilai NOPAT dapat dihitung dengan mengalikan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan satu dikurangi tarif pajak. Tarif pajak yang digunakan perusahaan adalah tarif pajak progresif yaitu sebesar 30%. Adapun rumus NOPAT adalah sebagai berikut:

NOPAT = EBIT (1-T) EBIT Keterangan NOPAT : Net Operating Profit After Tax EBIT T EBT Interest : Earning Before Interest And Tax : Tax : Earning Before Tax : Beban Bunga = EBT + Interest

Dengan rumus diatas dapat dihitung NOPAT tahun 2011 dan 2010 sebagai berikut: NOPAT 2011

45

EBT Interest T

: 4.791.009.801 : 115.387.908

: 30%

NOPAT = (4.791.009.801 + 115.387.908) x (1-30%) = 4.906.397.709 x 70% = 3.434.478.396 NOPAT 2010 ` EBT Interest T NOPAT : 2.202.887.428 : 310.781.470

: 30% = ( 2.202.887.428 + 310.781.470 ) x (1-30%) = 2.513.668.898 x 70% = 1.759.568.229 Dari perhitungan NOPAT diatas menunjukan bahwa PT Oscar Mas telah

baik dalam melakukan kegiatan operasi usahnya hal ini dapat terlihat dari perkembangan NOPAT dari tahun 2010 sebesar Rp. 1.759.568.229 dan di tahun 2011 sebesar Rp. 3.434.478.396. Ini berarti terjadi kenaikan terhadap NOPAT pada tahun 2011 terhadap NOPAT tahun 2010. Hal ini disebabkan oleh pendapatan yang diperoleh perusahaan meningkat serta biaya-biaya keuangan yang ada menurun. Adapun hasil NOPAT yang di peroleh PT.Oscar Mas dalam posisi yang baik hal ini dikarenakan NOPAT merupakan laba bersih setelah pajak, oleh karena itu NOPAT akan memberikan dampak yang positif sehingga terjadinya peningkatan pada nilai EVA perusahaan.

46

2. Mengidentifikasi Invested Capital

Invested Capital adalah jumlah keseluruhan keuangan perusahaan terlepas dari kewajiban jangka pendek, pasiva yang tidak menanggung bunga seperti utang, upah yang akan jatuh tempo dan pajak yang akan jatuh tempo. Invested capital merupakan jumlah pinjaman perusahaan diluar pinjaman jangka pendek tanpa bunga (non-interest bearing liabilities), seperti utang dagang, biaya yang masih harus dibayar, utang pajak dan uang muka pelanggan. Perhitungan invested capital dapat dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan operasi dan pendekatan keuangan. Dalam menentukan invested capital penulis menggunakan pendekatan keuangan di mana sumber modal perusahaan yang berasal dari pinjaman dan ekuitas ditambahkan karena pendekatan keuangan lebih sederhana. Adapun invested capital dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut: Invested Capital = Kas + Working Capital Requirement + Aktiva Tetap
Working Capital Requirement = (Pesediaan + Piutang Dagang + Aktiva Lancar

Lainnya) (Utang Dagang + Biaya-biaya yang Masih Harus Dibayar + Uang muka pelanggan)

Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Invested Capital

47

PT. Oscar Mas

Uraian Kas dan Setara kas Working Capital Requirement (WCR) (+) Piutang Usaha (+) Piutang Lain-lain (+) Persedian (+) Pajak dibayar Dimuka (-) Hutang Usaha (-) Hutang Bank (-) Hutang Pajak (-) Biaya yang Masih Harus Dibayar Total Working Capital Requirement (WCR) (+) Aktiva Invested Capital Peningkatan
Sumber: Data yang diolah

2010 374.503.074

2011 367.795.977

4.233.854.415 2.995.433.456 383.582.500 34.960.000 585.556.885 386.305.068 147.606.252 (1.437.500) (119.543.420) (3.367.923.100 (1.550.912.744) ) (450.027.263) (35.921) (2.019.918) (3.212.508) 1.381.586.019 1.890.600.183 4.261.913.369 7.081.040.763 6.018.002.462 9.339.436.923 55,19 %

Dari tabel 4.2 diatas terlihat bahwa perhitungan invested capital yang mana terdiri dari pos-pos yang terkait, dimana didapatkan nilai invested capital sebesar Rp. 6.018.002.462 pada tahun 2010 dan Rp. 9.339.436.923 untuk tahun 2011. Hal ini terjadi peningkatan invested capital pada tahun 2011 terhadap tahun invested capital tahun 2010 sebesar 55,19 %. Dalam hal ini terjadi peningkatan invested capital perusahaan sehingga akan berdampak pada nilai EVA, karena apabila terjadi peningkatan invested capital maka nilai EVA perusahaan akan menurun.
3. Menentukan Weight Average Cost Of Capital (WACC) yang wajar

Weight Average Cost Of Capital (WACC) adalah pengembalian minimum atas modal yang di butuhkan untuk mengganti pinjaman dan ekuitas yang didapatkan. Dengan kata lain, pengembalian yang diharapkan oleh penyedia dana

48

jika modal itu diinvestasikan kedalam suatu proyek, aktiva atau perusahaan dengan risiko yang seimbang. Biaya utang adalah nilai rata-rata dari tarif bunga jangka panjang dan jangka pendek perusahaan. Sedangkan biaya ekuitas adalah pengembalian yang diminta oleh investor untuk membuat investasi ekuitas dalam perusahaan tersebut. Sesuai ketentuan direktorak jendral pajak, tarif pajak (tax rate) yang dikenakan pada prusahaan yang ada di Indonesia adalah maksimum 30%. Berdasarkan laporan perekonomian Indonesia tahun 2010 dan 2011 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) tarif suku bunga pinjaman atau kredit investasi yang berlaku pada bank umum pada 2010 dan 2011 dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4.2 Perkembangan Bunga Pinjaman Pada Bank Umum Tahun 2010 dan 2011 Keterangan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata
Sumber: Bank BI

2010 13.24 13.21 12.72 12.62 12.59 12.70 12.60 12.40 12.41 12.38 12.35 12.28 12.625

2011 12.25 12.20 12.18 12.16 12.16 12.13 12.11 12.10 12.06 12.02 11.97 12.04 12.115

49

Perhitungan Modal Sendiri, Biaya Ekuitas, Biaya Utang dan Total Pembiayaan (dalam ribuan rupiah)
Modal Sendiri = Modal Saham + Tambahan Modal setor + Saldo Laba

Tahun 2010 Tahun 2011

= 8.175.350.000 + 1.539.902.462 = 9.715.252.462 = 8.175.350.000 + 4.861.336.923 = 13.036.686.923

Biaya Ekuitas = Earning After Tax / Modal Sendiri

Tahun 2010 Tahun 2011

= 1.539.902.462 / 9.715.252.462 = 0.158 = 3.321.434.461 / 13.036.686.923 = 0.254

Biaya Hutang = Bunga Pinjaman (1 - Tarif Pajak)

Tahun 2010 Tahun 2011

= 0.126 x (1 0.30) = 0.088 = 0.121 x (1 0.30) = 0.084

Total Pembiayaan = Utang + Ekuitas

Tahun 2010 Tahun 2011


WACC

= 3.821.407.781 + 9.715.252.462 = 13.536.660.243 = 1.673.704.593 +13.036.686.923 = 14.710.391.516 = [(Utang/Pembiayaan Total) (Biaya Utang) (1-T) + [(Ekuitas/Pembiayaan Total) (Biaya Ekuitas)

Tahun 2010

= [(3.821.407.781/13.536.660.243) (0.088) (0.70) + [(9.715.252.462 /13.536.660.243) (0.158)] = 0.130

Tahun 2011

= [(1.673.704.593 /14.710.391.516) (0.084) (0.70) + [(13.036.686.923/14.710.391.516) (0.254)] = 0.225

Hasil perhitungan dapat dilihat dalam tabel 4.4 dibawah ini

50

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan WACC PT. Oscar Mas Dalam Ribuan Rupiah dan Pecahan
Jumlah (Rp) Tahun
2010 2011

Utang
3.821.407.781 1.673.704.593

Ekuitas
9.715.252.462 13.036.686.923

Total Pembiayaan (Rp)


13.536.660.243 14.710.391.516

1-Tarif Pajak (1-30)


0.70 0.70

Biaya

Utang
0.088 0.084

Ekuitas
0.158 0.254

WACC
0.130 0.225

Sumber: Laporan Keuangan PT.Oscar Mas

Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa modal rata-rata tertimbang atau WACC pada tahun 2010 sebesar 0.130 dan 0.225 pada tahun 2011. Setelah mendapatkan nilai WACC kemudian menghitung Capital Charge dengan cara mengalikan nilai WACC dengan Invested Capital . Hasil perhitungan capital charge adalah sebagai berikut.

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Capital Charge PT.Oscar Mas


Tahun WACC Invested Capital (Rp) Capital Charge (Rp)

2010 2011

0.130 0.225

6.018.002.462 9.339.436.923

782.340.320 2.101.373.307

Sumber: Laporan Keuangan PT.Oscar Mas

Dari tabel 4.4 terlihat bahwa setelah memperhitungkan pos-pos terkait, ternyata didapatkan nilai capital charge sebesar Rp. 782.340.320 pada tahun 2010 dan Rp. 2.101.373.307 pada tahun 2011. Hal ini telah terjadi peningkatan capital charge pada tahun 2011 terhadap capital charge pada tahun 2010.

51

Peningkatannya sebesar

168,6 % untuk tahun 2011. Peningkatan ini disebabkan

oleh adanya peningkatan pada invested capital dan Weight Average Cost Of Capital yang meningkat. Semakin besar nilai capital charge akan memberikan dampak menurunkan nilai EVA sehingga proses penciptaan nilai akan menurun. 4. Perhitungan EVA PT. Oscar Mas Pada dasarnya EVA merupakan laba operasi bersih sesudah pajak

(NOPAT) yang kemudian dikurangi dengan nilai biaya modal (capital charge). Perhitungan EVA pada PT Oscar Mas dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan EVA PT Oscar Mas Uraian NOPAT (-) Capital Charge EVA 2010 1.759.568.229 782.340.320 977.227.909 2011 3.434.478.396 2.101.373.307 1.333.105.089

Sumber: Laporan Keuagan PT Oscar Mas

Pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa setelah memperhitungkan pos-pos terkait, ternyata didapatkan EVA sebesar Rp. 977.227.909 pada tahun 2010 dan Rp. 1.333.105.089 untuk tahun 2011. Hal ini telah terjadi kenaikan nilai EVA pada tahun 2011 terhadap EVA tahun 2010 sebesar

36,41% hal ini disebakan oleh adanya kenaikan

52

capital charge. Nilai EVA perusahaan menghasilkan nilai positif yang berarti kinerja keuangan perusahaan baik dan terjadi peningkatan kinerja keuangan pada perusahaan.
4.2.3 Analisis Penerapan

Economic Value Added (EVA) Dalam Penilaian

Kinerja Keuangan Pada PT Oscar mas Dari hasil analisis yang dilakukan penulis terhadap penilaian kinerja keuangan pada PT. Oscar Mas menggunakan EVA maka didapat hasil perhitungan EVA yang positif dimana nilai untuk tahun 2011 dan tahun 2010 masing-masing sebesar Rp. 1.333.105.089 dan Rp. 977.227.909 berarti secara ekonomis sudah adanya proses nilai tambah yang diciptakan perusahaan dan juga terjadi peningkatan. Dilihat dari analisis penerapan EVA yang dilakukan maka kinerja keuangan perusahaan PT. Oscar Mas dapat dikatan baik karena telah menciptakan nilai tambah bagi penyandang dana dalam hal ini investor. EVA yang positif, artinya perusahaan tersebut menciptakan nilai atau kekayaan (modal) begitu sebaliknya apabila EVA negatif maka perusahaan tersebut menunjukan penghancuran nilai. Dalam jangka panjang hanya perusahaan-perusahaan yang mampu membentuk kekayaan saja yang dapat bertahan. EVA merupakan tujuan perusahaan untuk meningkatkan nilai atau value added dari modal yang telah ditanamkan pemegang saham dalam operasi perusahaan. Oleh karena itu Konsep EVA mampu menutupi kelemahan dari analisis rasio keuangan sehingga kedua alat pengukur kinerja keuangan dapat membantu pihak-pihak yang bersangkutan dalam hal ini pihak manajemen PT.Oscar Mas dan investor. EVA juga memberikan pengukuran yang lebih baik

53

atas nilai tambah yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham. Oleh karena itu manajer yang menitikberatkan pada EVA dapat diartikan telah beroperasi pada cara-cara yang konsisten dan sejalan dengan pemegang saham. Titik berat penerapan EVA berdasarkan pada laba operasi setelah pajak dan biaya modal yang sesungguhnya, oleh karena itu apabila EVA diterapkan dalam suatu perusahaan dapat memberikan keyakinan terhadap kinerja keuangan dari perusahaan tersebut dan dengan metode EVA menghindarkan kemungkinan manipulasi yang akan dilakukan perusahaan.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan Untuk melihat suatu perusahaan baik atau tidak dalam pelaksanaannya maka bisa kita lihat dari hasil laporan keuangannya. Untuk menilai laporan keuangan bisa dilakukan dengan analisis rasio keuangan atau analisis yang lainnya. Adapun dalam penilaian kinerja keuangan PT.Oscar Mas menggunakan analisis penilaian dengan metode EVA diperoleh hasil yang sangat baik, hal ini dikarenakan perusahaan PT.Oscar Mas dapat menciptakan nilai tambah ekonomis. Berdasarkan analisis yang dilakukan penulis maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

54

1. PT.Oscar Mas dalam melakukan penilaian kinerja keuangan masih

menggunakan rasio keuangan, analisis ini hanya menekankan pada accounting profit tetapi tidak menekankan pada cost of capital. Analisis ini belum meyakinkan pihak investor sebagai penyandang dana karena investor menginginkan adanya nilai tambah dari dana yang diinvestasikan.
2. Hasil perhitungan EVA setelah diterapkan pada PT.Oscar Mas dalam

tahun 2011 dan 2010, didapat nilai EVA yang positif . Artinya penilaian kinerja keuangan PT.Oscar Mas menggunkan EVA sudah baik karena perusahaan telah dapat menciptakan nilai tambah bagi para investor.

5.2 Saran Saran yang diberikan penulis pada PT.Oscar Mas dalam penilaian kinerja keuangan dengan menggunakan konsep EVA sabagai berikut:
1. Apabila PT.Oscar Mas menerapkan konsep EVA dalam melakukan

penilaian kinerja keuangan maka perusahaan dapat lebih meyakinkan para penyandang dana atau investor bahwa modal yang ditanamkan mempunyai nilai tambah ekonomis serta EVA memperhitungkan biaya setiap modal yang ditanamkan serta analisis EVA lebih akurat perhitungannya dan menggambarkan kondisi keuangan sebenarnya.
2. Dengan diterapkan EVA maka perusahaan bisa lebih memperhatikan

kebijaksanaan struktur modalnya dan EVA juga merupakan ukuran praktis, mudah dihitung dan mudah digunakan sehingga merupakan salah

55

satu bahan pertimbangan dalam mempercepat pengambilan keputusan bisnis. Akan tetapi EVA juga mempunyai kelemahan yaitu hanya mengukur hasil akhir saja, maka dari itu sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut dalam melakukan penilaian kinerja keuangan sehingga meningkatkan kepercayaan investor.

56