Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Salah satu faktor pendukung keberhasilan dalam usaha pembenihan ikan secara buatan, terutama apabila usaha tersebut dituntut untuk menghasilkan jumlah benih yang banyak dengan kualitas yang baik serta kontinyu, maka perlu pengelolaan induk yang baik. Dari pengelolaan induk yang baik akan diperoleh induk-induk ikan yang berkualitas, sehingga pada gilirannya akan menghasilkan benih-benih yang banyak dan berkualitas pula. Keberhasilan suatu kegiatan pembenihan dapat diketahui dari output berupa benih ikan yang dapat dihasilkan dalam satu periode kultur. Secara teknis, banyak sekali faktor penting yang menentukan keberhasilan kegiatan pemeliharaan benih. Oleh karena itu, diperlukan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas benih, salah satunya adalah dengan meningkatkan kelangsungan hidup melalui pengelolaan pakan, kesehatan dan kualitas air pemeliharaan.

B. Tujuan Setelah mempelajari bahan ajar ini diharapkan Anda mampu mengelola induk ikan serta mampu mengelola penetasan telur dan pemeliharaan larva.

BAB II PEMBAHASAN

A. Induk Ikan 1. Persyaratan induk Induk yang dipergunakan dalam produksi benih lele dumbo harus berasal dari caloncalon induk terpilih. Adapun persyaratan calon induk yang baik adalah : a. Calon induk betina dan jantan harus berasal dari keturunan yang berbeda (induk berbeda), karena apabila satu induk maka akan dominan menghasilkan keturunan (benih) ikan yang jelek seperti pertumbuhan lambat, rentan terhadap penyakit, pertumbuhan tidak seragam, dsb. b. Sehat. Induk yang sehat akan menghasilkan benih ikan yang sehat juga, demikian juga sebaliknya. c. Bentuk tubuh proporsional. Ikan yang memiliki bentuk tubuh proporsional biasanya mencirikan ikan sehat dan pertumbuhan yang normal. Ikan yang terlalu gemuk tidak baik karena biasanya fekunditasnya sedikit dan mengalami kendala dalam mengeluarkan telurnya. Sedangkan ikan yang kurus disamping fekunditasnya sedikit juga mencirikan pertumbuhan yang lambat, jadi jelek apabila digunakan untuk indukan. d. Tidak cacat. Induk yang cacat disamping dapat menurutkan sifat jeleknya juga akan menimbulkan kendala lain apabila digunakan sebagai indukan.

2. Penentuan induk Dalam kegiatan produksi pembenihan ikan lele dumbo secara buatan, agar kegiatan dapat berjalan dengan kontinyu, hal yang harus diperhatikan adalah ketersediaan induk. Kebutuhan induk bisa saja diperoleh dengan cara membeli dari masyarakat yang memelihara induk ikan lele, namun yang menjadi permasalahan adalah kita tidak dapat memastikan apakah induk tersebut secara keseluruhan memenuhi persyaratan untuk induk yang baik. Oleh sebab itu induk yang digunakan sebaiknya berasal dari induk hasil pengelolaan kita. Selain kebutuhan induk dari segi persyaratan kualitas, persyaratan dari segi kuantitas juga sangat penting untuk diperhatikan. Apabila kita ingin melakukan kegiatan pembenihan lele dumbo secara buatan, maka kebutuhan induk yang optimal adalah 30 pasang. Perhitungan ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap kali produksi sebanyak 50.000 75.000 ekor benih dibutuhkan 5 pasang induk, satu periode

pembenihan selama 2 bulan sampai benih siap untuk dipanen dan dijual. Induk akan matang gonad kembali dalam 2 bulan apabila dipelihara dengan baik, namun untuk menjaga kualitas induk sebaiknya induk dipijahkan 2 - 3 kali saja selama setahun.

3. Penempatan induk Dalam pemeliharaan induk, induk ikan jantan sebaiknya dipelihara secara terpisah dengan induk ikan betina. Hal ini dilakukan agar lebih memudahkan dalam pengelolaan, pengontrolan, dan yang terpenting untuk mencegah terjadinya memijah di luar kontrol kita atau dimasyarakat petani diistilahkan mijah maling.

4. Pemeliharaan Induk Dalam pemeliharaan induk ikan lele, ada beberapa hal yang penting diperhatikan yang berhubungan dengan tingkah laku (behavior)nya, yaitu: Kanibalisme, yaitu ikan-ikan saling memangsa dimana ikan besar memangsa ikan yang berukuran kecil, terutama saat kondisi kurang pakan (lapar). Untuk menghindari sifat kanibal hendaknya pakan diberikan dalam jumlah yang cukup kepada ikan lele yang kita pelihara. Disamping itu penyortiran untuk memisahkan ikan yang besar dan kecil penting dilaksanakan. Rheo taxis, ikan lele akan berenang dan mengikuti arah atau melawan arus air. Apabila terdapat air yang masuk atau keluar dari kolam yang bocor ikal lele akan bisa lolos melalui tempat yang bocor tersebut. Oleh sebab itu hendaknya jangan sampai terdapat kebocoran pada kolam pemeliharaan. Ikan lele dapat loncat setinggi 0,5 m, dan melata di atas tanah. Ini dapat mengakikatkan ikan lele lolos dari wadah pemeliharaan. Untuk menghindari lolosnya ikan lele sebaiknya pematang dibuat tinggi atau kolam ditutup dengan jaring, bias juga dipasang pagar yang tinggi terbuat dari bambu. Ikan nocturnal, yaitu aktif mencari makan pada malam hari. Agar pemberian pakan efektip maka sebaiknya dilakukan pada malam hari Oleh karena itu dalam pemeliharaan induk, agar induk dapat hidup sehat dan dapat selalu siap memijah sesuai waktunya, disamping memperhatikan hal-hal tersebut di atas, juga perlu memperhatikan hal-hal seperti : pemberian pakan, pengelolaan kualitas dan kuantitas air, dan pengendalian hama dan penyakit. a. Pemberian pakan

Agar diperoleh kematangan induk yang memadai, setiap hari induk di beri pakan bergizi. Jenis pakan yang diberikan yaitu pakan buatan berupa pellet sebanyak 3 5 % perhari dari dari total bobot induk yang dipelihara. Ada juga induk lele diberi pakan berupa limbah peternakan ayam (ayam mati) yang di bakar atau direbus atau dibakar terlebih dahulu. Pakan diberikan dua sampai tiga kali sehari pada pagi, sore dan malam hari. b. Pengelolaan kualitas air Dalam pemeliharaan induk lele dumbo, kualitas air tidak terlalu berpengaruh. Induk lele dumbo termasuk ikan yang mampu hidup pada kondisi kualitas air yang jelek sekalipun, asalkan air tidak tercemar oleh limbah kimia berbahaya. Karena kemampuannya hidup pada perairan yang terbatas sekalipun, maka sering induk lele dumbo ini dipelihara pada bak atau wadah yang airnya tidak mengalir. Agar lele dumbo dapat hidup dengan nyaman yang perlu diperhatikan adalah volume atau ketinggian air wadah jangan sampai berkurang. Ketinggian air sebaiknya dipertahankan minimal 75 cm agar induk tidak mudah stres oleh gangguan dari lingkungan sekitar seperti suara bising, lalulalang orang, dsb. c. Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering mengganggu induk lele dumbo adalah berupa biawak, ular, dan ikanikan predator seperti gabus, belut, atau dari teman-temannya sejenis yang berukuran lebih besar. Predator umumnya mengganggu apabila pada lingkungan perairan tidak tersedia cukup pakan, sehingga terjadilah pemangsaan kepada ikan yang lebih kecil. Sedangkan penyakit relatif jarang menyerang. Namun jenis-jenis jamur Saprolegnia sp, kadang-kadang sering menyerang, terutama sehabis indukinduk ikan selesai memijah. Biasanya jamur menyerang apabila terdapat luka pada tubuh induk ikan. d. Pemilihan Induk Matang Gonad Tidak semua induk yang dipelihara dapat dipijahkan. Hal ini disebabkan karena belum tentu semua induk telah matang kelamin dan siap dipijahkan. Sebelum dipijahkan, induk jantan dan betina dipilih sesuai dengan persyaratan. Salah satu persyaratan yang mutlak adalah induk telah berumur 1 tahun, baik jantan maupun betina. Pemilihan induk dilakukan dengan cara mengeringkan kolam induk, baik kolam induk jantan maupun betina, sehingga induk-induk lele dumbo akan terkumpul. Selanjutnya induk-induk tersebut ditangkap dengan menggunakan seser dan ditampung dalam wadah seperti drum/tong plastik. Ciri-ciri induk betina lele dumbo yang siap untuk dipijahkan sebagai berikut:

Bagian perut tampak membesar ke arah anus dan jika diraba terasa lembek. Lubang kelamin (urogenital) berwarna kemerahan dan tampak agak membesar. Jika bagian perut secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar beberapa butir telur berwarna hijau tua dan ukurannya relatif besar dan seragam (homogen). Pergerakan lamban. Ciri-ciri induk jantan lele dumbo yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut : Alat kelamin (genital papilla) tampak jelas memerahm terutama pada ujungnya. Warna tubuh dan sungutnya kemerah-merahan. Tubuh ramping dan gerakannya lincah Setelah kita berhasil memperoleh induk-induk yang matang gonad, induk-induk itu sebaiknya di berok selama lebih kurang 24 jam sebelum dipijahkan. 5. Pengecekan Pengelolaan Induk 1. Pemberian pakan 2. Pengelolaan kualitas air 3. Pengendalian hama dan penyakit 4. pemilihan induk matang gonad

B. Benih Ikan 1. Perencanaan Pemeliharaan Benih Hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada perencanaan pemeliharaan benih ikan lele adalah: a. Penyesuaian kondisi suhu air media pemeliharaan larva, mulai dari pengukuran kondisi suhu awal sampai dengan pengkondisian penyesuaian suhu yang dibutuhkan. Pemilihan metode pengkondisian penyesuaian suhu yang akan digunakan dan jenis peralatan yang diperlukan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan. b. Penyediaan oksigen terlarut pada air media pemeliharaan larva, mulai dari pengukuran oksigen terlarut awal sampai penyediaan oksigen terlarut yang sesuai dengan kebutuhan. Pemilihan cara penyediaan oksigen terlarut yang akan digunakan dan jenis peralatan yang diperlukan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan. c. Penentuan padat penebaran benih, hal ini berkaitan erat dengan : 1) berapa lama dan sampai ukuran berapa benih ikan lele akan dipelihara; 2) apakah selama pemeliharaan akan dilakukan

sortasi dan grading atau tidak, apabila dilakukan sortasi dan grading akan berapa kali sortasi dan grading tersebut dilakukan; dan 3) berapa banyak jumlah dan ukuran wadah yang diperlukan. d. Perhitungan kebutuhan pakan, hal ini berkaitan dengan : 1) jenis dan bentuk pakan apa saja yang akan diberikan; 2) dosis pakan yang diberikan untuk setiap jenis yang akan diberikan, 3) cara pemberian pakannya; dan 4) frekuensi pemberian pakan serta waktunya. e. Pengelolaan kualitas air, hal ini berkaitan dengan : 1) apa metode atau cara yang akan digunakan; 2) peralatan dan bahan apa saja yang diperlukan; dan 3) bagaimana waktu dan penjadwalan pengelolaan kualitas tersebut. f. Pengontrolan kesehatan dan pertumbuhan benih, hal ini berkaitan dengan: 1) metode atau cara yang akan digunakan; 2) bagaimana waktu dan penjadwalan pengamatan kondisi kesehatan dan pertumbuhan dilakukan; dan 3) peralatan dan bahan apa saja yang diperlukan 2. Alur Pemeliharaan Benih Alur Kegiatan Hasil kegiatan penetasan telur dan pemeliharaan larva Penyesuaian kondisi suhu Penyediaan oksigen terlarut Perhitungan pada penebaran Aklimatisasi Pelepasan benih Pengelolaan kualitas air Pemberian pakan Pengamatan kesehatan dan pertumbuhan Sortasi dan grading pemeliharaan benih 3. Pemeliharaan Benih a. Penebaran benih Setelah berumur 15 20 hari, maka benih lele dapat dipanen untuk dijual atau dipelihara kembali di wadah pemeliharaan benih. Benih dapat dipelihara hingga mencapai ukuran tertentu yang siap dibesarkan. Lama waktu pemeliharaan benih tersebut berbeda sesuai dengan tujuannya. Benih dipelihara selama 30 45 hari untuk mencapai ukuran 1 3 cm, atau selama 60 hari untuk mencapai ukuran 5 8 cm. Untuk mencapai ukuran 1 3 cm, benih dapat dipelihara

didalam kolam/wadah pemeliharaan benih dengan padat tebar antara 500 1000 ekor/m2. Sedangkan untuk mencapai ukuran 5 8 cm, benih dapat dipelihara dengan padat tebar 300 700 ekor/m2. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari saat suasana teduh untuk menghindari fluktuasi suhu yang dapat menyebabkan benih menjadi stress. Sebelum ditebarkan, benih diadaptasikan perlahan lahan kepada lingkungannya yang baru. Proses adaptasi ini disebut dengan aklimatisasi. Aklimatisasi pada benih dapat dilakukan dengan cara mengapungkan kantong pengangkutan di permukaan air selama 3 5 menit untuk menyesuaikan suhu air didalam kantong dengan suhu didalam wadah pemeliharaan. Selain itu, sebelum dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan, air dari kolam pemeliharaan sebaiknya dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam kantong pengangkutan agar kualitas air yang ada didalam kantong sama dengan yang ada di dalam wadah pemeliharaan. b. Pengelolaan kualitas air Di dalam kegiatan budidaya, memelihara ikan berarti memelihara air. Pengelolaan air ini bertujuan untuk menyediakan lingkungan yang optimal bagi ikan agar tetap bisa hidup dan tumbuh maksimal. Prinsipnya adalah memasukkan bahan yang bermanfaat (terutama O2) dan membuang bahan yang tidak bermanfaat atau bahkan membahayakan (seperti feses, NH3, NO2, CO2) keluar sistem produksi budidaya. Bentuk pengaturan air lainnya adalah pengaturan kualitas air yang meliputi kualitas fisik air (suhu,cahaya, salinitas). Selain itu, pengelolaan air dilakukan dalam bentuk aerasi air, pergantian air, pemupukan air, pengaturan ketinggian air atau penutupan pintu air. Beberapa persyaratan kualitas air ini adalah: a). Suhu Perubahan suhu yang tinggi dalam suatu perairan akan mempengaruhi proses metabolisme, aktifitas tubuh dan syaraf ikan. Suhu optimal untuk pertumbuhan ikan air tawar tergantung pada jenis ikan yang dibudidayakan. Untuk induk ikan lele yang dipelihara dalam wadah berupa bak, perubahan suhu yang terjadi dapat distabilkan/dikembalikan pada kondisi semula dengan melakukan penambahan air baru untuk menurunkan suhu perairan dan menutup atap dengan terpal atau plastik yang menyerap panas untuk menaikkan suhu. Kisaran suhu normal yang optimal bagi pemeliharaan larva adalah 28 30 0 C. Suhu rendah dibawah normal dapat menyebabkan ikan mengalami lethargi, kehilangan nafsu makan, dan menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Ikan jangan dibiarkan berada dalam suhu yang terlalu dingin hanya karena alasan untuk menghemat listrik. Sebaliknya pada suhu yang terlalu tinggi ikan dapat mengalami

stress pernapasan dan bahkan dapat menyebabkan kerusakan insang permanen. Peningkatan suhu kadang-kadang diperlukan untuk meningkatkan laju metabolisma ikan sehingga perlakuan tersebut diharapkan dapat menolong mempercepat proses penyembuhan suatu penyakit, dan atau mempercepat siklus hidup suatu parasit sehingga parasit tersebut dapat segera dihilangkan. Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa semakin hangat air maka oksigen terlalut akan semakin sedikit, oleh karena itu intensitas aerasi perlu ditingkatkan. Perubahan suhu mendadak dapat menyebabkan ikan mengalami "shock". Hal ini sering terjadi terutama pada saat memasukan ikan baru kedalam suatu wadah dimana usaha penyesuaian suhu tidak dilakukan dengan baik, atau pada saat menambahkan air baru yang memiliki temperatur tidak sama. Penurunan suhu secara perlahan, seperti terjadi apabila heater tidak berfungsi, jarang menimbulkan shock, meskipun demikian temperatur hendaknya dikembalikan ke kondisi semula secara perlahan-lahan dalam waktu satu jam atau lebih. Dalam kasus temperatur terlalu panas, seperti akibat thermostat yang tidak berfungsi dengan baik, maka intentsitas aerasi hendaknya ditingkatkan untuk mengkompensasi kadar oksigen terlarut yang rendah, dan biarkan temperatur air dingin secara alami. Apabila suhu meningkat sampai melebihi 32C, dan apabila ikan masih bertahan hidup, maka penggantian air sebanyak 20% dengan air dingin bisa dilakukan. Pengembalian air hendaknya dilakukan secara perlahan dengan cara penyiponan dan peningkatan aerasi. Alat ukur yang digunakan untuk melihat suhu ini adalah dengan menggunakan termometer. Suhu dapat diturunkan atau ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan menggunakan perangkat tertentu. Untuk meningkatkan suhu dapat digunakan heater. Heater hendaknya selalu terendam air, Heater yang terekspos ke udara terbuka secara tidak sengaja seperti pada saat penggantian air dapat menyebabkan kerusakan fatal pada heater tersebut, dan bahkan bisa menimbulkan shock listrik. Untuk itu matikan heater sebelum melakukan penggantian air atau sebelum melakukan kegiatan apapun yang menyebabkan terjadinya penurunan ketinggian air. Untuk menurunkan suhu air dan mempertahankannya pada suhu rendah, dapat digunakan chiller. Chiller merupakan alat yang akan menyerap panas dari air dan membebaskannya ke udara. Prinsip kerjanya kurang lebih sama dengan prinsip kerja alat pendingin ruangan atau lemari pendingin. b). Derajat keasaman (pH) Tolok ukur untuk menentukan kondisi suatu perairan adalah pH (derajat keasaman). Derajat keasaman suatu perairan menunjukkan tinggi rendahnya konsentrasi

ion hidrogen perairan tersebut. Kondisi perairan dengan pH netral sampai sedikit basa sangat ideal untuk kehidupan ikan lele. Suatu perairan yang berpH rendah dapat mengakibatkan aktivitas pertumbuhan menurun atau ikan menjadi lemah serta lebih mudah terinfeksi penyakit dan biasanya diikuti dengan tingginya tingkat kematian. Nilai pH untuk pemeliharaan ini adalah 7,8 8,2. Untuk mengetahui nilai pH suatu perairan dapat digunakan kertas lakmus atau pH meter. c). Oksigen terlarut (DO) Konsentrasi dan kesediaan oksigen terlarut (DO) dalam air sangat dibutuhkan ikan dan organisme air lainnya untuk hidup. Konsentrasi oksigen dalam air dapat mempengaruhi pertumbuhan dan konversi pakan serta mengurangi daya dukung perairan. Kandungan oksigen terlarut yang optimal bagi ikan lele adalah > 4 ppm. Apabila kandungan DO < 5 ppm maka kebutuhan ikan akan oksigen berkurang sehingga menyebabkan nafsu makan ikan menurun dan menghambat pertumbuhan ikan. Semakin lama ikan menjadi mati. Kandungan oksigen terlarut dalam air wadah pemeliharaan dapat dilihat/diamati dengan menggunakan alat berupa DO meter. Untuk menambah kandungan oksigen terlarut dalam bak pemeliharaan dapat dilakukan dengan penambahan aerasi atau pergantian air baru guna memperbaiki kualitas air. d. Pergantian air Pergantian air bertujuan untuk membuang feses, sisa pakan atau kotoran yang mengendap di dasar perairan. Untuk membuang bahan yang tidak bermanfaat tersebut dapat dilakukan dengan cara menyipon kotoran dan membuangnya ke luar wadah. Berbeda dengan pemasukan air, dalam pergantian air, air dalam bak pemeliharaan dibuang terlebih dahulu melalui outlet sehingga diharapkan feses, NH3, NO2, CO2 ikut terbawa. Kemudian air yang dibuang tersebut diganti dengan air baru yang dimasukkan dalam inlet. Air yang dibuang adalah yang berada di dasar wadah. Apabila pemeliharaan ikan dilakukan di dalam bak budidaya, penyiponan harus dilakukan untuk mempertahankan kualitas air yang ada dalam wadah. Penyiponan disini dilakukan untuk membuang kotoran yang tidak terbuang pada saat pergantian air. Penyimpanan merupakan tindakan penyedotan air menggunakan selang. Penyimpanan harus dilakukan secara hati-hati agar larva tidak ikut tersedot keluar dan kotoran di dasar serta dinding bak tidak teraduk, karena kotoran yang teraduk dapat menyebabkan ikan menjadi stress. Air yang ikut terbuang pada saat penyiponan dapat digantikan dengan air baru yang memiliki kualitas air yang

sama dengan air media pemeliharaan untuk menghindari adanya fluktuasi kualitas air yang terlalu tinggi, seperti suhu atau pH, yang dapat menyebabkan larva stress dan kemudian mati. Bentuk kegiatan pengelolaan kualitas air lainnya adalah pengaturan ketinggian air, yang dimaksudkan untuk menciptakan kondisi suhu yang sesuai dan stabil bagi ikan yang dipelihara. Pergantian air dilakukan setiap 2 3 hari sekali sebanyak 50 70 % dari volume total. Pergantian air ini dapat dilakukan secara flowthrough selama beberapa menit/jam atau dilakukan dengan cara membuang air lama terlebih dahulu hingga tersisa sebanyak 30 50% dan kemudian menggantinya dengan air baru. d. Pemberian pakan Pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha pemeliharaan benih ikan lele, karena ikan yang dipelihara harus tumbuh hingga mencapai ukuran tertentu dengan biomassa yang baik. Oleh karena itu, ikan yang dipelihara harus diberi pakan dengan jumlah dan nutrisi yang cukup dan sesuai untuk menumbuhkan jaringan otot atau daging. Jumlah dan jenis pakan yang dikonsumsi oleh ikan akan menentukan asupan energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan daging. Selama masa pemeliharaan, selain pakan alami, benih juga membutuhkan pakan tambahan berupa pellet apung. Pakan ini diberikan dengan dosis 3 - 5% dari bobot seluruh benih yang dipelihara dengan frekuensi pemberian pakan 3 4 kali sehari. Pakan ditebarkan disalah satu sudut kolam supaya lebih efektif dan efisien, karena pakan yang berlebihan akan menumpuk di dasar kolam dan bisa menjadi sumber penyakit bagi ikan lele. Secara berkala, jumlah pakan harian yang diberikan disesuaikan dengan pertambahan bobot ikan dan populasi. Penyesuaian ini dilakukan dengan sampling untuk memantau populasi dan pertumbuhan ikan lele. e. Pengamatan kesehatan dan pertumbuhan Masalah terbesar yang sering dianggap menjadi penghambat budidaya ikan lele adalah munculnya serangan penyakit. Penyakit pada lele akan muncul setelah dua minggu lele ditebar. Lele mudah terserang penyakit karena lele merupakan ikan yang tidak bersisik, sehingga kulitnya tidak dapat terlindungi apabila terkena gangguan lingkungan. Apabila terluka, maka lele dapat mengeluarkan lendir yang berlebihan, sehingga memberikan kesempatan bagi bakteri untuk hidup dan berkembangbiak. Penyakit yang sering menyerang ikan lele adalah dari jenis jamur, bakteri dan parasit. Penyakit ini akan menyerang apabila kualitas air pemeliharaan ikan memburuk, misalnya rendahnya kandungan oksigen terlarut, pH yang terlalu asam, terjadinya fluktuasi suhu yang mendadak. Selain itu, kekurangan vitamin dan mineral, malnutrisi, serta

pakan yang membusuk juga menjadi penyebab serangan penyakit pada larva ikan. Pencegahan merupakan tindakan yang paling efektif dibandingkan dengan pengobatan. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah adanya serangan penyakit tersebut adalah: Melakukan pergantian air secara teratur Pemberian pakan yang cukup, tepat ukuran, dan bergizi baik, sehingga daya tahan tubuh lele meningkat dan lele tidak mudah terserang penyakit Menghindarkan lele dari kondisi stress, seperti pada saat pergantian air atau kondisi lingkungan yang tidak mendukung, seperti fluktuasi suhu air yang mendadak Melakukan pemisahan antara lele yang sehat dengan lele yang lemah/sakit agar tidak terjadi penularan penyakit dari satu lele ke ikan lele yang lainnya Mengontrol kondisi kualitas air media, terutama pada air media yang akan digunakan untuk melakukan pemeliharaan ikan lele Ikan lele yang telah terserang penyakit dapat dideteksi secara dini melalui gejala gejala yang timbul, seperti: Lele cenderung berdiam diri dan mengapung didasar perairan Gerakannya lambat dan tidak responsive terhadap rangsangan lingkungan Lele sering menggosok gosokkan badannya di dinding bak atau ke benda lain Nafsu makan menurun atau tidak mau makan sama sekali Kulit melepuh dan timbul pendarahan di bagian tubuh tertentu Lendir yang melapisi tubuh berkurang sehingga tidak terasa licin Berdasarkan jenisnya, maka penyakit yang menyerang ikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu penyakit non-infeksi dan infeksi. Penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibat adanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi tidak menular, sementara penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen. f. Sortasi dan grading Selama masa pemeliharaan, perlu dilakukan pemantauan pertumbuhan bobot, panjang dan populasi ikan lele yang dipelihara, sehingga asset dalam kolam dapat ditentukan dan jumlah pakan yang harus diberikan secara harian dapat dihitung. Beberapa tujuan dilakukannya pemantauan populasi dan pertumbuhan ikan yang kita pelihara adalah untuk mengetahui informasi mengenai laju pertumbuhan ikan, karena laju pertumbuhan ikan dapat digunakan untuk menganalisis nafsu makan ikan dan waktu panen, sedangkan informasi kesehatan ikan digunakan

untuk menentukan teknik penanganan ikan selanjutnya. Dengan melihat nafsu makan ikan, maka akan diketahui mengenai kondisi lingkungan pemeliharaan, sehingga dapat diambil langkah antisipasi untuk memperbaiki kualitas air pemeliharaan tersebut. Salah satu cara yang dilakukan untuk melakukan pemantauan ikan adalah melalui kegiatan sampling. Sampling dilakukan dengan mengambil beberapa contoh ikan untuk selanjutnya diukur atau dihitung. Data yang didapat kemudian digunakan untuk menduga bobot rata rata dan jumlah ikan lele yang dipelihara. Sampling dapat dilakukan setiap 2 4 minggu sekali atau sesuai dengan tujuan sampling. Dari data sampling tersebut dapat diketahui nilai FCR.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan dari makalah ini diantaranya : 1. Induk yang dipergunakan dalam produksi benih lele dumbo harus berasal dari caloncalon induk terpilih 2. Ssetiap kali produksi sebanyak 50.000 75.000 ekor benih dibutuhkan 5 pasang induk, satu periode pembenihan selama 2 bulan sampai benih siap untuk dipanen dan dijual 3. Benih dipelihara selama 30 45 hari untuk mencapai ukuran 1 3 cm, atau selama 60 hari untuk mencapai ukuran 5 8 cm. Untuk mencapai ukuran 1 3 cm, benih dapat dipelihara didalam kolam/wadah pemeliharaan benih dengan padat tebar antara 500 1000 ekor/m2.

DAFTAR PUSTAKA

. 2002. Fishery Science, The Unique Contributions of Early Life Stages. Blackwell Science Ltd, USA. Bachtiar, Yusuf. 2006. Panduan Lengkap Budidaya Lele Dumbo. Agro Media Pustaka, Jakarta. Eddy Afrianto dan Evi Liviawaty. Teknik Pembuatan Tambak Udang. 2001. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius, Jakarta. Effendi, Mohamad Ichsan MI, Prof, DR, M.Sc. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pusaka Nusatama. Jakarta. Effendi,I. 2004. Pengantar Akuakultur, Penebar Swadaya, Jakarta. Gufron, H. Kordi dan Andi Baso Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. PT Rineka Cipta, Jakarta. Jangkaru, Z. 1994. Pembesaran Ikan Air Tawar di Berbagai Lingkungan Pemeliharaan. Penebar Swadaya, Jakarta. Lesmana. D.S, 2001. Kualitas Air Untuk Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta. Murhananto, Ir. 2002. Pembesaran Lele Dumbo di Pekarangan. Agro Media Pustaka, Jakarta. Najiyati, Sri. 2004. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penebar Swadaya, Jakarta. Susanto Heru, 1996. Teknik Pemijahan Ikan Ekonomis. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta