Anda di halaman 1dari 10

PSIKOSOMATIK

A. Definisi Menurut literatur yang ada, Psikosomatik berasal dari kata Psiko atau Psyche yang artinya Jiwa, sedang Soma artinya badan, jadi ilmu ini mempelajari kaitan antara jiwa dan badan. Ilmu ini menegaskan bahwa faktor psikologis memegang peranan sangat penting dalam perkembangan semua penyakit. Gangguan psikosomatik adalah salah satu gangguan jiwa yang paling umum ditemukan dalam praktek umum. Istilah ini terutama digunakan untuk penyakit fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor kejiwaan/ psikologis. Istilah ini diperkenalkan oleh seorang dokter Jerman Heinroth ke dalam kedokteran Barat. Pada tahun 1818 ia menerbitkan desertasi yang menekankan pentingnya faktor psikososial dalam perkembangan penyakit fisik. Sebenarnya, kurang lebih 400 tahun SM ahli filsafat Hipocrates sudah mengutarakan pentingnya peran faktor psikis pada penyakit. Pada abad pertengahan Paracelcus seorang ahli kimia menyatakan bahwa kekuatan batin memiliki pengaruh terhadap kekuatan seseorang1[1]. Pada perkembangannya, psikosomatik disebut juga dengan psikosomatis, somatisasi, neurofisiologi, dan sebagainya, yang pada intinya mempunyai satu makna. Psikosomatik adalah gangguaan fisik yang disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dan sosial. Seseorang jika emosinya menumpuk dan memuncak maka hal itu dapat menyebabkan terjadinya goncangan dan kekacauan dalam dirinya. Jika faktor-faktor yang menyebabkan memuncaknya emosi itu secara berkepanjangan tidak dapat dijauhkan, maka ia dipaksa untuk selalu berjuang menekan perasaannya. Perasaaan tertekan, cemas, kesepian dan kebosanan yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya. Jadi Psikosomatik dapat disebut sebagai penyakit gabungan, fisik dan mental, dimana yang sakit sebenarnya jiwanya, tetapi menjelma dalam bentuk sakit fisik. Beberapa penyakit fisik dianggap sangat rentan diperburuk oleh faktor mental seperti stres dan kecemasan, di antaranya: gangguan kulit, muscoskeletal (otot, sendi dan saraf), pernafasan, jantung, kemih, kelenjar, mata dan saraf. Pusing, keringat dingin, tangan basah, sakit perut dan melilit juga terjadi dikarenakan akibat dari pikiran, yang merupakan gejala dari psikosomatik.
1[1] Budihalim S, Sukatman D. 1999. Psikosamatis. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta. Hal. 591592

Gejala penyakit ini banyak terjadi pada wanita dan pria mulai dari usia remaja sampai dewasa, bahkan lanjut usia. Gangguan psikosomatis atau somatisasi adalah gangguan psikis yang menyebabkan gangguan fisik. Pendek kata, psikosomatik adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif dan/atau masalah emosi. Masalah emosi itu antara lain rasa berdosa, merasa punya penyakit, stress, depresi, kecewa, kecemasan atau masalah emosi negatif lainnya. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalaminya. Perlu diketahui bahwa pikiran dapat menyebabkan gejala fisik. Sebagai contoh, ketika seseorang takut atau cemas dapat memacu detak jantung yang cepat, jantung berdebar, merasa sakit, gemetar (tremor), berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala, dan bernafas cepat. Gejalagejala fisik tersebut melalui saraf otak mengirim impuls tersebut ke berbagai bagian tubuh, dan pelepasan adrenalin ke dalam aliran darah.

B. Gejala-gejala Sindroma psikosomatik mempunyai gejala fisik berupa; (1) penyakit salah satu sistem tubuh yang paling rentan bagi pasien, misalnya; asma (sistem respiratorius), neurodermatitis (sistem integumentum), ulkus peptikum (sistem digestivus), artritis rematik (sistem muskuloskeletal), PJK dan aritmia (sistem kardiovaskuler), dan migrain (sistem neurologik). Pada sindroma psikosomatik ini dijumpai pula (2) patologi organ (+) dan (3) mekanisme patofisiologik (+). Gejala psikis berupa (1) munculnya gejala sistem tersebut berkaitan dengan waktu dan stimulus lingkungan yang secara psikologis bermakna bagi pasien dan (2) faktor psikologis tersebut bukan merupakan gangguan mental yang spesifik. Psikosomatis ditandai dengan adanya keluhan dengan gejala fisik yang beragam. Namun umumnya penderita mengalami atau mengeluhkan beberapa gejala berikut: mual, muntah, sendawa, sakit perut, rasa pedih, kulit gatal, pusing, nyeri saat berhubungan seksual2[2] Para penderita psikosomatik, umumnya mengeluhkan gangguan yang berkaitan dengan sistem organ, seperti : 1. Kardio-vaskuler: keluhan jantung berdebar-debar, cepat lelah 2. Gastro-intestinal: keluhan ulu hati nyeri, mencret kronis
2[2] http://health.detik.com/read/2010/05/15/141532/1357538/770/gangguan-psikosomatis. diakses tanggal, 27 Mei 2012

3. Respiratorlus: keluhan sesak napas, asma 4. Dermatologi: keluhan gatal, eksim 5. Muskulo-skeletal: keluhan encok, pegal, kejang 6. Endokrinologl: keluhan hipertiroidi, hipotiroidi, dismenorea 7. Urogenital: kehuhan masih ngompoh, gangguan gairah seks 8. Serebro vaskuler: keluhan pusing, sering lupa, sukar konsentrasi, kejang epilepsi. Selain itu, masalah kejiwaan yang menyertainya yaitu gejala anxietas dan gejala depresi3[3].

C. Proses Terjadinya Psikosomatik Untuk memahami terjadinya penyakit psikosomatis kita perlu mencermati hukum pikiran dan pengaruh emosi terhadap tubuh. Ada banyak hukum yang mengatur cara kerja pikiran, salah duanya adalah: Setiap pikiran atau ide mengakibatkan reaksi fisik. Simtom yang muncul dari emosi cederung akan mengakibatkan perubahan pada tubuh fisik bila simtom ini bertahan cukup lama. Hukum pertama mengatakan setiap pikiran atau ide mengakibatkan reaksi fisik. Bila seseorang berpikir, secara konsisten, dan meyakinkan dirinya bahwa ia sakit jantung, maka cepat atau lambat ia akan mulai merasa tidak nyaman di daerah dada, yang ia yakini sebagai gejala sakit jantung. Bila ide ini terus menerus dipikirkan dan akhirnya ia menjadi sangat yakin, menjadi belief, karena gejalanya memang benar adalah gejala sakit jantung maka, sesuai dengan bunyi hukum yang kedua, ia akan benar-benar sakit jantung4[4]. Biasanya orang tidak akan secara sadar menginginkan mengalami sakit tertentu. Umunya yang mereka rasakan adalah suatu perasaan tidak nyaman, secara emosi. Sayangnya mereka tidak mengerti bahwa perasaan tidak nyaman ini sebenarnya adalah salah satu bentuk komunikasi dari pikiran bawah sadar ke pikiran sadar. Ada lima cara pikiran bawah sadar berkomunikasi dengan pikiran sadar. Bisa melalui perasaan, kondisi fisik, intuisi, mimpi, dan dialog internal. Umumnya pikiran bawah sadar menyampaikan
3[3] Annisa, Haris, Hasim, et. all. (2011). Efek / Pengaruh Stress Terhadap Neurofisiologi (Psikosomatis). UPN
Veteran. Hal. 7 4[4] Adi W Gunawan. Memahami penyakit psikosomatik. http://www.pembelajar.com/memahami-penyakitpsikosomatis. diakses pada 27 Mei 2012

pesan melalui perasaan atau emosi tertentu. Bila emosi ini tidak ditanggapi atau diperhatikan maka ia akan menaikkan level intensitas pesannya menjadi suatu bentuk gangguan fisik dan terjadilah yang disebut dengan penyakit psikosomatis. Dalam mata kuliah psikologi faal dijelaskan, bahwa semua proses dari hormon itu melibatkan sistem limbik setelah sebelumnya melewati hipofase (hipotalamus). Sistem limbik ini adalah pusat dari segala emosi yang terjadi pada manusia. Sehingga secara otomatis, pertumbuhan dan perkembangan hormon dipengaruhi oleh perasaan atau emosi.5[5] Otak manusia selain merupakan pusat pikir (otak besar) yang merupakan pusat kesadaran, juga merupakan pusat emosi (otak kecil maupun batang otak). Jadi sebenarnya antara pikiran dan emosi terdapat jalinan yang sangat erat karena semuanya terjadi di otak. Berdasarkan anatomi seperti inilah, maka muncul istilah kecerdasan emosi, yaitu bagaimana orang bisa mengelola emosi sehingga berguna untuk meningkatkan kualitas hidup. Emosi pada gilirannya akan mempengaruhi kerja sistem saraf, hormonal maupun fungsi otak lainnya. Orang yang cerdas secara emosi akan mampu mengintegrasikan kerja seluruh bagian otaknya sehingga mampu berfungsi secara optimal. Misalnya, ketika menghadapi suatu persoalan, otak kecil akan bereaksi sehingga memacu pengeluaran hormon yang ada di otak. Hormon ini pada gilirannya akan mempengaruhi kerja kelenjar hormon lainnya yang ada di tubuh, misalnya seperti kelenjar adrenal yang terdapat pada ginjal. Bagian dalam kelenjar adrenal memproduksi hormon adrenalin yang menyebabkan reaksi emosi takut dan hormon noradrenalin yang menyebabkan emosi marah. Karena rangkaian seperti inilah maka kita bisa merasakan emosi marah atau takut dan berbagai macam emosi lainnya dalam jangka waktu yang agak lama. Apalagi karena hormon-hormon tersebut diserap oleh tubuh dengan perlahan-lahan. Hormonhormon ini pada gilirannya akan mempengaruhi reaksi saraf otonom dalam jangka waktu yang agak lama juga. Inilah sebabnya mengapa orang yang mengalami stres atau emosi yang tinggi dalam jangka waktu yang lama akhirnya mudah menjadi sakit ini disebabkan fungsi organ tubuh yang tidak seimbang lagi ( mengalami ketegangan dalam jangka waktu yang lama) sehingga mengganggu metabolisme maupun daya tahan tubuh.6[6]
5[5] Buku catatan mata kuliah Psikologi Faal pada Selasa, 15 Mei 2012, dengan mata kuliah tentang HORMON 6[6] Siswanto. 2006. Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit Andi

D. Faktor-faktor Penyebab Psikosomatik David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Sebagai contoh kasus yang lain adalah seorang salesman yang sangat sukses namun memiliki kecemasan sangat tinggi dan selalu berusaha menghindar untuk berjabat tangan. Padahal dalam menjalankan aktivitasnya ia seringkali harus berjabat tangan memperkenalkan diri dengan pelanggannya. Setelah dilakukan hipnoanalisis ternyata saat ia masih remaja ia sering melakukan masturbasi dan ia ketakutan membayangkan orang-orang yang dikenalnya akan bisa mengenali keburukannya 2. Organ Language / Unresolved problem Ini adalah salah satu cara pikiran bawah sadar berbicara pada kita tentang masalah yang belum terselesaikan. Caranya adalah dengan memberi rasa sakit pada bagian tertentu tubuh kita. Jadi masalah itu dimunculkan dalam bentuk symptom. Dengan adanya symptom diharapkan pikiran bawah sadar mendapatkan perhatian dari pikiran sadar. Makna symptom ini adalah, Saya tidak suka apa yang sedang anda lakukan. Inilah penyakit yang bersifat psikosomatis. Jadi klien perlu dibantu menemukan akar masalahnya jauh di pikiran bawah sadarnya. Seringkali apa yang tampaknya menjadi masalah, menurut pikiran sadar, ternyata berbeda dengan yang dinyatakan oleh pikiran bawah sadar. 3. Motivation Symptom yang dialami seseorang sering kali mempunyai tujuan tersembunyi demi keuntungan orang tersebut. Contohnya adalah seorang anak yang malas sekali belajar sehingga ulangannya

mendapatkan nilai jelek semua. Ternyata hal ini adalah salah satu upayanya agar mendapatkan teguran dari orangtua. Ia menyamakan teguran dengan perhatian. Contoh lain lagi adalah kasus pada seorang wanita yang mengalami migrain. Setelah diselidiki lebih dalam ternyata pikiran bawah sadar wanita ini membuat wanita ini mengalami migrain karena dengan demikian suami dan anak-anaknya memperhatikannya. Bila dalam kondisi normal, tanpa migrain, keluarganya biasanya sibuk sendiri dan kurang memperhatikan wanita ini. 4. Past Experience Pengalaman masa lalu yang menyakitkan, sesuai dengan persepsi pikiran bawah sadar, mempunyai pengaruh yang sangat kuat dan bertahan lama. Contohnya adalah phobia. Ketakutan akan sesuatu, yang terjadi di masa lalu, terbawa hingga masa kini dan sangat mengganggu seseorang. 5. Identification Pada kasus ini klien mengidentifikasikan dirinya dengan satu figur yang ia kagumi. Contoh kasusnya adalah seorang klien yang sering ditipu oleh rekan kerjanya. Ternyata ia mengidolakan seorang tokoh bisnis yang dulunya ditipu berkali-kali sehingga akhirnya bisa sukses dan makmur. Identifikasi ini adalah sebuah program yang bekerja sangat halus yang jika digunakan dengan baik maka akan menghasilkan sesuatu yang positif. Satu hal yang perlu diingat bila kita menggunakan identifikasi adalah apapun yang melekat pada seorang figur biasanya akan ikut terserap juga walau terkadang ini bertentangan dengan nilai hidup kita. 6. Self-punishment Perasaan bersalah atas apa yang telah dilakukan di masa lalu sering kali termanifestasi dalam sebuah perilaku untuk menghukum diri sendiri. Terapi dilakukan dengan membantu klien untuk bisa memaafkan dirinya sendiri atas kesalahan tersebut atau yang dirasa sebagai suatu kesalahan yang ia lakukan 7. Sugesstion/Imprint Imprint adalah sebuah kepercayaan/belief yang ditanamkan ke pikiran klien, biasanya oleh figur yang oleh klien dipandang memiliki otoritas. Seorang wanita berumur 40 an tahun menderita batuk puluhan tahun. Tak ada pengobatan yang bisa menyembuhkan batuknya. Akhirnya ia pun mencoba hipnoterapi dan setelah dilakukan hipnoanalisis akhirnya terungkap pada saat ia berusia 4 tahun ia sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Ia menderita batuk yang sangat parah. Ayah

ibunya ada di sisi ranjangnya saat seorang dokter mengatakan bahwa ia tak akan pernah sembuh dari batuknya. Perkataan dokter ini langsung membuatnya ketakutan dan saat itulah perkataan sang dokter menjadi sebuah kebenaran yang diterima pikiran bawah sadarnya.7[7]

E. Cara Mencegah Psikosomatik Karena psikosomatis adalah penyakit yang disebabkan oleh proses psikis yang dialami sehingga berpengaruh terhadap fisik, maka tak ada jalan lain untuk mencegahnya kecuali dengan memahami secara betul apa yang terjadi dan dinginkan oleh diri. Pada konteks inilah, konsep self-theory yang dikatakan oleh Carl Roger menjadi penting, dengan asumsi, bahwa yang paling mengetahui dirinya adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Jika menggunakan teorinya Freud, maka seseorang harus berusaha sekuat mungkin untuk mendamaikan antara id dengan superego-nya sehingga dapat meminimalisasi terjadinya konflik atau neurotik. Namun, hal ini akan sulit sekali karena tak ada kebutuhan dari id yang selamanya mulus jika melewati filter dari superego. Sehingga konsep humanistik, dalam kondisi ini, dapat mengambil perannya, yaitu sebuah konsep yang berusaha untuk menyadarkan kemanusiaan manusia. Sederhanya, konsep humanistik ini mengajarkan manusia untuk mengaktualisasikan diri, berprilaku yang baik dan benar, jujur, dan sadar akan potensi diri. Pada proses selanjutnya, konsep tentang spiritualitas dapat juga dijadikan acuan. Selanjutnya berupa anjuran untuk memperbaiki kondisi lingkungan dalam keluarga, sosial ekonomi, dan juga di lingkungan pekerjaannya. Sebab, tidak jarang penyebab masalah psikis adalah orang-orang yang berada di sekitarnya, atau mungkin significan other dalam hidupnya. Dengan adanya sosialisasi yang baik, seseorang akan mudah untuk berpikir terbuka dan berpikir positif, yang secara otomatis akan menjadikannya lebih sehat. Baik fisik maupun psikis. Untuk itulah, seseorang wajib memahami sungguh-sungguh masalah psikosomatis ini. Lebihlebih para praktisi medis. Mereka harus lebih proaktif dan bertindak profesional sehingga masyarakat/pasien tidak (di)-jatuh-(kan) pada pemaksaan terselubung alias medikalisasi.

F. Cara Mengobati Psikosomatik

7[7] Annisa, Haris, Hasim, et. all. (2011). Efek / Pengaruh Stress Terhadap Neurofisiologi (Psikosomatis). UPN Veteran. Hal. 7-9

Perkembangan dalam terapi ilmu kedokteran dewasa ini-- sesuai dengan definisi WHO tahun 1994 tentang "konsep sehat"-- adalah sehat secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, maka terapi pun seyogyanya dilakukan secara holistik. Maksudnya, tidak hanya gejala fisik saja yang ditangani tetapi pemeriksaan pada faktor-faktor psikis yang biasanya sangat mendominasi penderita psikosomatis pun menjadi prioritas. Selain itu, bagi seorang dokter seyogyanya mampu menyakinkan dan menenangkan penderita penyakit psikosomatis ini sehingga mereka tidak terlalu memikirkan kondisi penyakitnya. Berempati dalam mendengarkan segala keluhan penderita yang berkaitan dengan masalah kehidupan yang dihadapinya sebagai salah satu cara terapi (ventilasi) juga menjadi salah satu tugas dokter dalam menangani penyakit ini. Dengan demikian penderita akan lebih merasa tenang. Seorang dokter juga seyogyanya memberikan re-edukasi dan re-assurance. Ini dimaksudkan untuk meyakinkan dan menjamin penderita bahwa segala masalah yang dihadapi dapat diatasi. Biasanya pada tahap ini peran dokter/psikiater atau rohaniwan sangat membantu8[8] Ada dua macam pengobatan untuk gangguan psikosomatik, pengobatan fisik dan mental. Pengobatan fisik disesuaikan dengan penyakit yang diderita. Sedangkan perawatan mental dapat dilakukan dengan hipnoterapi, obat, atau dengan bantuan psikolog. Gejala psikosomatis bisa saja diringankan dengan obat-obatan semisal penahan rasa sakit, seperti Antalgin, Postan maupun parasetamol. Namun itu hanya menahan sementara, dan gejala penyakit akan muncul kembali berulang-ulang, dan kadang dalam bentuk yang berbeda-beda. Obat-obatan hanya menangani gejala. Selama penyebabnya (program pikiran dan emosi negatif) masih ada, gejala penyakit akan terus timbul.9[9] Pada dasarnya penyakit psikosomatis merupakan hal yang sederhana. Mengapa? Karena begitu masalah yang terpendam di dalam pikiran bawah sadar diketahui, dan masalah tersebut diselesaikan, maka saat itupun pikiran memerintahkan tubuh untuk menghilangkan segala gejala8[8] http://aryo512.multiply.com/journal/item/5?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Diakses tanggal 24 Mei 2012 9[9] Ilvan. Mengatasi psikosomatis. http://www.klinikhipnotis.com/frm48/hipnoterapi/trd1459/mengatasi_psikosomatis/main.html. diakses tanggal 24 Mei 2012

gejala yang muncul. Di situlah saatnya terjadi kesembuhan atas penyakit psikosomatis tersebut. Pada kondisi seperti ini, yang harus dilakukan adalah menyembuhkan gangguan psikis. Hipnosis atau hipnoterapi menjadi salah satu pilihan terbaik untuk menyembuhkan gangguan ini. Menurut APA (American Psychological Association), Dictionary of Psychology, edisi 2007, bukti-bukti ilmiah menunjukkan hipnoterapi dapat bermanfaat mengatasi hipertensi, asma, insomnia, manajemen rasa nyeri akut maupun kronis, anorexia, nervosa, makan berlebih, merokok, dan gangguan kepribadian. Hasil guna sebagai "terapi pendukung" dalam beberapa penyakit juga telah terbukti. Menurut kata Ferdiansyah Setiadi Setiawan, S.I.P., CI, CHt, CH, instruktur hipnoterpi, hipnoterapi, Ketua IBH (The Indonesian Board of Hypnotherapy) Chapter Bandung, "Dengan mengistirahatkan pikiran sadar (conscious mind) melalui hipnosis, seseorang dapat diberikan memori, saran, atau sugesti yang dapat memprogram ulang pikiran bawah sadarnya untuk berbagai tujuan positif,". Tebetts mengatakan ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan mengatasi simtomnya dengan teknik uncovering : 1. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke pikiran sadar untuk diketahui 2. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien. 3. Menemukan hubungan antara simtom dan memori. 4. Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga membuat seseorang membuat keputusan di masa depan, yang mana keputusannya tidak dipengaruhi lagi oleh materi yang tertekan (repressed content) di pikiran bawah sadar klien. Pada saat alasan terciptanya penyakit psikosomatis ini dihilangkan, maka pikiran bawah sadar tidak mempunyai alasan lagi untuk memunculkan penyakit ini di masa mendatang.10[10] Bagaimana menangani penyakit psikosomatis ? Penanganan pada orang dewasa dapat dilakukan dengan : 1. Obat (penenang, anti depresan, tidur) 2. Olahraga/relaksasi dan rekreasi

10[10] Kompas Online. Apa itu psikosomatis?. 12 Juli 2000

3. Meningkatkan ibadah 4. Hipnoterapi Karena yang menjadi sumber masalah sebenarnya adalah emosi maka terapis harus mampu membantu klien memproses emosi terpendam yang menjadi sumber masala.11[11]

ignorance is a bliss, but ignoring all problems in your life could harm your own life as well

G. Terapi Psikosomatik dalam Islam Bagaimana shalat bisa menangani psikosomatik? Shalat yang dilakukan dengan benar atau khusyu, ternyata mampu untuk mencegah atau mengobati penyakit tersebut. Dalam shalat, semua gerakan dilakukan dengan tumaninah, tidak terburu-buru atau ada jeda dalam setiap gerakan shalat. Mulai dari takbiratul ihram, ruku dan sujud, semuanya dilakukan dengan tumakninah dan secara fisik semua anggota badan harus rileks, jangan ada otot-otot yang menegang. Dan yang paling utama, shalat harus dilakukan dengan melibatkan hati dan rasa, karena shalat merupakan olah rasa bukan sekedar olah raga. Ilham dari Allah tidak turun dalam bentuk bunyi atau huruf la shoutun wa la harfun namun merupakan getaran ilahiyah yang diturunkan ke dalam dada orang-orang yang beriman. Jadi apabila shalat dilakukan dengan ikhlas, hati yang semeleh, pasrah dan tunduk kepada Allah, Insya Allah kita terhindar dari penyakit hati.

11[11] Psikosomatis; Apaan tuh?. http://infosehat09hartonoprasetyo.wordpress.com/2010/03/06/psikosomatisapaan-tuh/. Diakses tanggal 25 Mei 2012