Anda di halaman 1dari 5

STATUS PERKAWINAN INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN PERKAWINAN (Analisis Kasus WNI Yang Menikah Dengan Warga Negara Prancis

di Jepang) A. Latar Belakang Masalah Seorang WNI menikah dengan warga Negara Prancis di Jepang. Mereka beragama Kristen Katolik, tetapi tidak melangsungkan perkawinan menurut hukum agamanya (pernikahan di gereja). Perkawinan ini telah didaftarkan di kedutaan besar masing-masing di Jepang, mereka masih akan berdomisili di Jepang minimal satu tahun yaitu tahun ini hingga tahun mendatang. Setelahnya , mereka belum memutuskan, tetapi mereka sepakat kalau anaknya di kemudian hari akan dilahirkan dan dibesarkan di Prancis. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan dalam makalah ini yaitu : 1. Bagaimana status perkawinan mereka setelah didaftarkan pada kedutaan masingmasing dan bagaimana perjanjian perkawinan yang seharusnya dilakukan? 2. Bagaimana status kewarganegaraan anaknya nanti setelah anaknya tersebut lahir ? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui status perkawinan mereka setelah didaftarkan pada kedutaan masing-masing boleh atau tidak dan juga untuk mengetahui perjanjian perkawinan yang seharusnya dilakukan itu seperti apa. 2. Untuk mengetahui status kewarganegaraan anaknya setelah anaknya tersebut lahir. Selain itu yang juga menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah guna memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti dan menyelesaikan mata kuliah Hukum Perdata Internasional pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

D. Analisis Sejak diberlakukannya UU No. 1/1974, perkawinan beda agama dilarang, tapi perkawinan antar warga Indonesia dengan warga Negara Asing selama memenuhi syaratsyarat hukum Indonesia boleh dilakukan berdasarkan pasal 57-62 UU 1/1974. Perkawinan WNI yang dilangsungkan di luar negeri berlaku pasal 56 UU No 1/1974 yang mengatur untuk setiap perkawinan WNI di luar negeri berlaku asas lex loci celebrationis. Asas ini berarti perkawinan harus dilaksanakan berdasarkan hukum Negara dimana perkawinan dilangsungkan, dalam kasus ini hukum Jepang. Hukum perkawinan Jepang, lewat Horei Law hanya mengatur perkawinan secara perdata dan menjunjung

tinggi pilihan hukum yang dilakukan para pihak, sehingga perkawinan tersebut secara formal telah sah. Tapi pelaksanaan pasal 56 harus didahului pelaksanaan pasal 60 UU No 1/1974 yang menyatakan setiap WNI yang hendak menikah harus memenuhi persyaratan materil dan konsepsi perkawinan yang ditentukan UU No 1/1974. Setelah sah berdasarkan hukum agama barulah muncul keharusan untuk mencatatkan perkawinan ke kantor Catatan Sipil. Kedutaan Besar bukanlah kantor Catatan Sipil. Namun Catatan Sipil yang harus didatangi adalah Catatan Sipil Jepang, bukan Catatan Sipil Indonesia. Akta yang dikeluarkan oleh Catatan Sipil Jepang berlaku universal, tapi agar dapat memiliki akibat hukum di Indonesia, perkawinannya harus didaftarkan ke buku pendaftaran di perwakilan RI dan dilaporkan ke Catatan Sipil Indonesia, yaitu di wilayah asal WNI tersebut. Pelaporan perkawinan biasanya dilakukan dalam jangka setahun setelah pasangan kembali ke Indonesia ke daerah asal WNI. Untuk melaporkan perkawinannya di kantor Catatan Sipil Jakarta menurut pasal 72 Peraturan Gubernur DKI Jakarta nomor 16 tahun 2005 diperlukan dokumen-dokumen bukti pengesahan perkawinan di luar Indonesia, Kutipan Akta Kelahiran, Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk, Kutipan Akta Perceraian atau Kutipan Akta Kematian Suami/Istri bagi mereka yg pernah kawin, paspor kedua mempelai, dan pas foto berdampingan ukuran 4 x 6 empat lembar. Tehadap anak, pelaporan perkawinan juga diperlukan sehingga status dwi kewarganegaraannya diketahui, lalu dengan diketahuinya status dwikewarganegaraan, seorang anak nanti dapat mimiliki hak dan kewajiban yang sama dengan WNI lainnya seperti memiliki tanah. Jika status WNI-nya tidak diketahui, ia nantinya akan kesulitan untuk menerima warisan atau melakukan perbuatan hukum apapun yang menyangkut tanah atau apapun yang dibatasi untuk orang asing. Pasal 1395 Code Civil Prancis kurang lebih juga menyatakan perjanjian kawin hanya boleh dilakukan sebelum perkawinan terjadi. Selain itu, secara umum, Code Civil Prancis juga mengatur perjanjian kawin sebagai hukum yang berlaku atas harta perkawinan, bukan atas hukum atau cara mendidik anak. Secara Internasional, Prancis juga tunduk pada the Hague Convetion on the Law Applicable to Matrimonial Property Regimes. Pasal 3 konvensi di atas juga dengan tegas menyatakan perjanjian perkawinan harus dilaksanakan sebalum perkawinan berlangsung. Jika tidak dibuat sebelum menikah maka atas harta kekayaan mempelai setelah menikah atau hukum Negara yang paling banyaka terkait. 1. Analisis menurut teori Hukum Perdata Internasional Menurut teori Hukum Perdata Internasional untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai persoalan pendahuluan, apakah perkawinan orang tuanya sah sehingga anak

memiliki hubungan hukum dengan ayahnya, atau perkawinan tersebut tidak sah, sehingga anak dianggap sebagai anak luar nikah yang hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya. Sejak dahulu diakui bahwa soal keturunan termasuk status personal. Negaranegara Common Law berpegang pada prinsip domisili (ius soli) sedangkan Negara-negara Civil Law berpegang pada prinsip nasionalitas (ius sanguinis). Umumnya yang dipakai adalah hukum personal dari sang ayah sebagai kepala keluarga (pater familias) pada masalah-masalah keturunan secara sah. Hal ini adalah demi kesatuan hukum dalam keluarga dan demi kepentingan kekeluargaan, demi stabilitas dan kehormatan dari seorang istri dan hak-hak maritalnya. System kewarganegaraan dari ayah adalah yang terbanyak dipergunakan di Negara-negara lain, seperti di Jerman, Yunani, Italia, Swiss dan kelompok Negara-negara sosialis lainnya. Dalam system hukum Indonesia, Prof. Sudogo Gautama menyatakan kecondongnnya pada system hukum dari ayah demi kesatuan hukum dalam keluarga, bahwa semua anak-anak dalam keluarga itu sepanjang mengenai kekuasaan tertentu orang tua terhadap anak mereka (ouderlijke macht) tunduk pada hukum yang sama.1 Kecondongan ini sesuai dengan prinsip dalam UU kewarganegaraan yang lama yaitu UU NO. 62 tahun 1958. Kecondongan pada system hukum ayah demi kesatuan hukum, memiliki tujuan yang baik yaitu kesatuan dalam keluarga namun dalam hal kwarganaegaan ibu berbeda dari ayah lalu terjadi perpecahan dalam perkawinan tersebut maka akan sulit bagi ibu untuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya yang berbeda kewarganegaraan, terutama bila anak-anak tersebut masih di bawah umur. 2. Analisa Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Undang-undang kewarganegaraan yang baru memuat asas-asas kwarganegaraan umum atau universal. Adapun asas-asas yang dianut dalam undang-undang ini sebagai berikut : 1. Asal ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan Negara tempat kelahiran 2. Asas ius soli (law of the soil) secara terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan Negara tempat kelahiran, yang diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini
Tempo, 28 Oktober 2006, http;tempointeraktif.com/pasca UU No.12/2006, bagaimana nasib perkawinan campuran? Hal. 1, di akses 25 November 2011
1

3. Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menetukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang 4. Asas kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menetukan kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini. Undang-undang tersebut pada dasarnya tidak mengenal kewarganegaraan ganda (bipatride) ataupun tanpa kewarganegaraan (apatride). Kewarganegaraan ganda yang diberikan kepada anak dalam undang-undang ini merupakan sutu pengecualian. Mengenai hilangnya kewarganegaraan anak, maka hilangnya kewarganegaraan ayah atau ibu (apabila anak tersebut tidak punya hubungan hukum dengan ayahnya) tidak secara otomatis menyebabkan kewarganegaraan anak menjadi hilang. Berdasarkan UU ini anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNI dengan Pria WNA, mapun anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNA dengan pria WNI, sama-sama diakui sebagai warga Negara Indonesia. Anak tesebut akan berkewarganegaraan ganda, dan setelah anak berusia 18 tahun atau sudah kawin maka ia harus menentukan pilihannya. Pernyataan untuk memilih tersebut harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 tahun atau setelah kawin. Pemberian kewarganegaraan ganda ini merupakan terobosan baru yang positif bagi anak-anak hasil dari perkawinan campuran. Namun perlu ditelaah, apakah pemberian kewarganegaraan ini akan menimbulkan permasalahan baru di kemudian hari atau tidak. Memiliki kewarganegaraan ganda berarti tunduk pada dua yurisdiksi. Indonesia memiliki system Hukum Perdata Internasional peninggalan Hindia Belanda. Dalam hal status personal Indonesia menganut asas konkordasi, yang diantaranya tercantum dalam pasal 16 A.B.(mengikuti pasal 6 AB Belanda, yang disalin lagi dari pasal 3 Code Civil Perancis). Berdasarkan pasal 16 AB tersebut dianut prinsip nasionalitas untuk status personal. Hal ini berarti warga Negara Indonesia yang berada di luar negari, sepanjang mengenai hal-hal yang terkait dengan status personalnya, tetap berada di bawah lingkungan kekuasaan hukum nasional Indonesia, sebaliknya menurut Jurisprudensi, maka orang-orang asing yang berada dalam wilayah Republik Indonesia dipergunakan juga hukum nasional mereka sepanjang hal tersebut masuk dalam bidang status personal mereka. Dalam yurisprudensi Indonesia yang termasuk status personal antara lain perceraian, pembatalan perkawinan, perwalian anak-anak, wewenang hukum, dan kewenangan melakukan perbuatan hukum, soal nama, staus anak-anak yang dibawah umur. Bila dikaji dari segi Hukum perdata internasional, kewarganegaraan ganda juga memiliki potensi masalah, misalnya dalam hal penentuan status personal yang didasarkan pada asas nsionalitas, maka seorang anak berarti akan tunduk pada ketentuan Negara nasionalnya. Bila ketentuan antara hukum Negara yang satu dengan Negara yang lain tidak bertentangan maka tidak ada masalah, namun bagaimana bila ada pertentangan

antara hukum Negara yang satu dengan yang lain, lalu pengaturan status personal anak itu akan mengikuti kaidah Negara yang mana. Lalu bagaimana bila ketentuan yang satu melanggar asas ketetiban umum pada ketentuan Negara yang lain, Sebagai contoh adalah dalam hal perkawinan, menurut hukum Indonesia, terdapat syarat materil dan formil yang perlu dipenuhi. Ketika seorang anak yang belum berusia 18 tahun hendak menikah maka harus memenuhi kedua syarat tersebut. Syarat materil harus mengikuti hukum Indonesia sedangkan syarat formil mengikuti hukum tempat perkawinan dilangsungkan. Misalkan anak tersebut hendak menikahi pamannya sendiri (hubungan darah garis lurus ke atas), berdasarkan syarat materil hukum Indonesia hal tersebut dilarang (pasal 8 UU no. 1 tahun 1974), namun berdasarkan hukum dari Negara pemberi kewarganegaraan yang lain, hal tersebut diizinkan, lalu ketentuan mana yang harus diikutinya. Hal tersebut yang tampaknya perlu dipikirkan dan dikaji oleh para ahli hukum perdata internasional sehubungan dengan kewarganegaraan ganda ini. Penulis berpendapat karena undang-undang kewarganegaraan ini masih baru maka potensi masalah yang bisa timbul dari masalah kewarganegaraan ganda ini belum menjadi kajian para ahli hukum perdata internasional.

E. Referensi Ridwan Khairuddin, SH.,MH dkk, Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, (bahan bacaan pada mata kuliah Hukum Perdata Internasional Magister Ilmu Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, dengan dosen pengasuh Prof. Dr. Amiruddin A. Wahab, SH., 2011) Sudargo Gautama, Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, Bandung, Binacipta, 1987 Tempo, 28 Oktober 2006, http;tempointeraktif.com/pasca UU No.12/2006, bagaimana nasib perkawinan campuran? Hal. 1, di akses 25 November 2011) www. Wikipedia.com