Anda di halaman 1dari 9

Pengaruh Penerapan Mata Uang Tunggal ASEAN terhadap Dunia Usaha : Sebuah Prediksi

Oleh: Ernie Tisnawati Sule Guru Besar dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Karakteristik pertumbuhan ekonomi modern sangat berkaitan erat dengan peranan negara-negara maju, dimana timbul kecenderungan dari negara-negara kaya untuk terus melakukan ekspansi ekonomi ke negara-negara lain dalam rangka memperoleh sumber pasokan produk primer dan bahan baku, tenaga kerja yang murah dan lokasi pemasaran yang menguntungkan bagi produkproduk mereka. Ekspansi ekonomi ini tentunya berpengaruh besar terhadap terintegrasinya modelmodel perekonomian dunia dalam bentuk globalisasi ekonomi, yang berdampak pada peningkatan aktivitas transaksi barang dan modal antar negara, sehingga tidak ada lagi negara yang tidak mempunyai hubungan ekonomi dan keuangan dengan negara lainnya. Globalisasi ekonomi telah merubah struktur perekonomian dunia secara fundamental. Demikian pula halnya dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dewasa ini ASEAN tumbuh sebagai wadah integrasi ekonomi dengan pasar potensial, yang pengaruhnya berdampak pada peningkatan kerjasama ekonomi yang semakin luas terutama dengan negara-negara di kawasan Asia Timur seperti China, Jepang dan Korea Selatan. Integrasi ekonomi ASEAN menghadapi tantangan besar karena negara-negara ASEAN memiliki sistem ekonomi, pendapatan per kapita, tingkat pembangunan ekonomi dan institusi serta kondisi sosial yang berbeda dan heterogen. Perbedaan dan heterogenitas menyebabkan beberapa negara yang tidak memiliki infrastruktur dan kapasitas institusional yang memadai mengalami kesulitan untuk berintegrasi dengan negara yang lain. Salah satu kondisi yang berbeda dan heterogen adalah mata uang. Implikasi dari hal ini adalah, munculah wacana pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang merupakan visi ASEAN 2020. MEA bertujuan untuk membentuk suatu pasar tunggal, yang diarahkan pada penerapan mata uang tunggal (single currency) yang bertujuan untuk menjaga stabilitas mata uang regional dalam pelaksanaan pasar tunggal di ASEAN, yang rencananya akan dimulai pada 2015. Rencana munculnya mata uang tunggal tersebut tercetus dalam sebuah sebuah ASEAN Community yang sudah disepakati menjadi ASEAN vision 2020. ASEAN Community sendiri yang dimaksudkan akan dibangun berdasarkan tiga pilar, yakni ASEAN Security Community (ASC), ASEAN Economic Community (AEC) dan ASEAN Socio-Cultur Community (ASCC).

Integrasi ekonomi di sebuah kawasan pada dasarnya tidak perlu selalu berujung pada penerapan mata uang tunggal di kawasan yang bersangkutan. Harmonisasi kebijakan perdagangan dan koordinasi kebijakan perekonomian dalam sebuah kawasan dapat dilakukan tanpa hadirnya mata uang tunggal. Secara ideal, penerapan mata uang tunggal hanya akan menjadi relevan jika kawasan

yang bersangkutan telah memenuhi syarat-syarat yang digariskan oleh teori kawasan mata uang tunggal optimum (optimum currency area/OCA); yang meliputi kecukupan prakondisi politik dan standard kriteria ekonomi tertentu, yang akan dibahas kemudian dalam tulisan ini. Namun karena pentingnya kepastian nilai tukar dalam perekonomian global menyebabkan kebutuhan integrasi ekonomi tidak lagi hanya berupa integrasi perdagangan namun berkembang menjadi integrasi keuangan. Integrasi keuangan secara penuh terjadi pada saat masing-masing negara dalam kawasan tersebut telah menghadapi kebijakan yang sama dalam keuangan (single set of rules), di mana investor dan penerbit aset keuangan mempunyai akses yang sama terhadap pasar keuangan (equal access) dan diperlakukan secara sama (treated equally) ketika beroperasi di sektor keuangan (Baele et al. 2004). Usulan mata uang tunggal ini sesungguhnya sangat menguntungkan para investor di negara kaya, yang cemas terhadap fluktuasi kurs tukar, namun negara berkembang yang tidak punya produk dan jasa unggulan, juga harus waspada tetap waspada dengan penerapan mata uang tunggal. Negara dengan produktivitas lemah akan selalu menjadi negara konsumen tanpa pernah bisa menjual barangnya akibat tingkat harga yang tinggi. Dengan adanya mata uang yang stabil, perekonomian para anggota ASEAN diharapkan akan menjadi lebih mapan, yang berarti dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi anggotanya. Idealnya, penerapan mata uang tunggal hanya akan relevan jika kawasan yang bersangkutan telah memenuhi syarat-syarat yang digariskan oleh teori kawasan mata uang tunggal optimum (optimum currency area/OCA); yang meliputi kecukupan prakondisi politik dan standar kriteria ekonomi tertentu Ada beberapa manfaat yang mungkin dapat diperoleh bagi negara-negara ASEAN, sehubungan dengan penerapan mata uang tunggal (single currency) di ASEAN, yang rencananya akan dimulai pada 2015, yaitu : Melalui penetapan mata uang tunggal, diharapkan agar anggota ASEAN dan SDM di dalamnya dapat lebih efektif dan efisien dalam meningkatan perekonomian anggotanya, yang indikasinya tercermin melalui (i) berkurangnya biaya transaksi perdagangan antar negara anggota melalui hilangnya ongkos transaksi mata uang dan risiko nilai tukar yang umumnya mengikuti proses pembayaran dalam transaksi perdagangan antar negara, (ii) meningkatnya transparansi harga dari sebuah produk yang dihasilkan oleh Negara-negara berbeda yang ada di kawasan mata uang tunggal yang bersangkutan.

Keuntungan lain yang juga diperoleh adalah berkurangnya ongkos pengelolaan kebijakan moneter dari negara-negara kawasan mata uang tunggal tersebut. Hal ini terkait dengan terrpusatnya pengelolaan kebijakan moneter untuk setiap negara anggota ASEAN. Di samping itu, penerapan mata uang tunggal juga memberikan kredibilitas dan disiplin pengelolaan kebijakan ekonomi makro bagi negara-negara anggotanya. Diharapkan agar proses penetapan sistem uang tunggal (single currency) tersebut, tidak merujuk pada Uni Eropa sebagai acuan rencana, karena diketahui bahwa struktur ekonomi, politik, dan sosial negara-negara anggota ASEAN tidak sama dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN.

Acuan dari sistem ini lebih kepada penguatan pasar bersama bagi ASEAN ataupun menjadikan ASEAN sebagai basis produksi untuk berbagai industri. Terkait dengan pemberlakuan sistem uang tunggal (single currency) di negara-negara ASEAN, maka terdapat dua syarat berlakunya mata uang tunggal, : Pertama, sistem ekonominya sejenis dan kedua tingkat perkembangan ekonominya tidak boleh terlalu jauh. Untuk kasus ASEAN, Negara Singapore agak sulit bergabung pada satu mata uang tunggal ASEAN, mengingat tingkat perekonomian Negara Singapore sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lainnya di ASEAN. Income per capita Jepang dan Indonesia terlalu berbeda. Demikian juga negara-negara ASEAN dan Singapore (Singapore income per capitanya sudah tinggi). Dari sisi kriteria ekonomi, hambatan utama diterapkannya mata uang tunggal di ASEAN muncul dari tingkat pembangunan ekonomi negara-negara ASEAN yang cenderung tidak seragam. Hambatan yang lebih besar muncul dari sisi pra-kondisi politik yang berkaitan dengan kesiapan negara-negara anggota ASEAN untuk membentuk sebuah institusi trans-nasional yang memiliki kredibilitas cukup untuk mendukung komitmen negara-negara anggota dalam mempertahankan keberadaan mata uang tunggal. Kedua, upaya untuk membentuk kawasan mata uang tunggal di ASEAN juga perlu didukung oleh persyaratan-persyaratan yang mengikat bagi anggotanya untuk bekerja sama secara transparan dalam pertukaran informasi tentang perkembangan ekonominya masing-masing. Apabila ASEAN telah menetapakan sistem mata uang tunggal, hal ini mengindikasikan bahwa ASEAN telah menetapakan sistem moneter tunggal. Yang merupakan bentuk kerjasama regional yang paling tinggi tingkatannya. Hal ini menjelaskan bahwa ASEAN telah berhasil melaksanakan kerjasamakerjasama lainnya dengan sukses seperti Free Trade Zone, bebas visa dan fiskal untuk perpindahan penduduk antar negara. Semua anggota ASEAN hendaknya memfokuskan pada usaha untuk menjamin stabilitas financial, memperkuat pembangunan infrastruktur regional dan konektivitas, mempromosikan pembangunan berkelanjutan, dan memperkecil kesenjangan pembangunan. Yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan solidaritas komunitas antar masyarakat sekarang.

Berdasarkan fakta dan data yang diberikan, ASEAN tentunya tidak akan memakai mata uang tunggal dan sistem moneter tunggal untuk beberapa dekade ke depan. Walaupun sebagian pra-kondisi ekonomi untuk pembentukan kawasan mata uang tunggal telah secara berlanjut makin terpenuhi, disparitas tingkat pembangunan ekonomi negara-negara anggota ASEAN sendiri nampaknya masih akan tetap muncul sebagai hambatan. Jika hal ini tetap dipaksakan, maka akan berdampak buruk bagi masing-masing anggotanya, antara lain trafficking akan semakin berkembang pesat antar negara anggota ASEAN Untuk itulah, sebelum memikirkan bagaimana kita membentuk unifikasi antar anggota ASEAN, maka perlu dilakukan pembenahan ke dalam bagi masing-masing anggota ASEAN. Memperkuat sektor ekonomi domestik, jangan terlalu bergantung kepada pihak luar. Apabila negara-negara ASEAN tersebut sudah cukup mapan, baru kemudian ASEAN dapat membicarakan tentang unifikasi ASEAN, terutama penggunaan mata uang tunggal dan sistem moneter tunggal untuk ASEAN, yang tentunya harus memberikan dampak positif terhadap perkembangan dunia usaha di kawasan Asia Tenggara.

Usmanhabieb's Blog
Just another WordPress.com site

Mata Uang Tunggal, Bahayakan Ekonomi Asean


leave a comment Jakarta Mata uang tunggal Euro yang digunakan Masyarakat Ekonomi Eropa atau Uni Eropa (UE) terancam bubar. Negara-negara di Eropa tak mampu mempertahankan Euro akibat derasnya hantaman krisis ekonomi. Padahal, secara umum, kemampuan ekonomi negara-negara itu relatif tidak timpang. Sementara Asean yang ekonominya timpang, justru ngotot ingin memiliki mata uang bersama. Menurut pengamat perbankan Farial Anwar, indikasi bubarnya mata uang tunggal Euro bisa menjadi contoh dan pelajaran yang sangat berharga bagi negara-negara di kawasan Asean, khususnya Indonesia. Meskipun berbagai negara yang bergabung di mata uang euro adalah negara-negara yang kondisi ekonominya relatif tidak timpang, namun masalah yang timbul dalam bidang fiskal di salah satu negara dapat mempunyai efek domino kepada negara lain, katanya saat dihubungi NERACA, Selasa. Farial menegaskan, Indonesia sebaiknya tidak terlalu terpukau dengan apa-apa yang dilakukan oleh negara atau sekelompok negara yang mengaku dirinya maju. Mereka mengaku bisa mengatur manajemen risiko, namun dalam kenyataannya sangat amburadul, tuturnya. Menurut dia, Indonesia tidak perlu mengikuti untuk membuat mata uang tunggal di Asean. Kita jangan monkey see, monkey do. Sehingga apa yang dilakukan oleh negara lain yang membuat mata uang tunggal Eropa, lalu kita hendak menirunya dengan membuat mata uang tunggal Asean. Jangan pernah Indonesia mengikuti ke sana untuk bergabung dalam mata uang tunggal Asean, tuturnya. Kawasan Asean, imbuh Farial, memiliki kondisi ekonomi sangat beragam. Ada negara maju seperti Singapura dan Malaysia. Ada juga negara yang kondisi ekonominya relatif tertinggal seperti Laos, Kamboja, Timor Leste. Sementara kondisi ekonomi Indonesia nilai tukar rupiahnya masih volatil bisa kuat dalam sekejap ke Rp 8.500 per US$, dan tidak lama kemudian melemah menjadi Rp 9.000 per US$. Lupakan saja mata uang tunggal Asean. Rencana itu sangat tidak realistis. Indonesia akan menjadi negara yang sangat bodoh, dan nekat kalau bergabung dalam mata uang tunggal Asean, tegasnya. Ia mengatakan di Asia banyak negara yang stabil ekonominya seperti China dan India, yang tidak pernah berpikir untuk membuat mata uang tunggal. Para pemimpin Eropa dan Amerika Serikat banyak mengadakan pertemuan, tapi mereka No Action Talk Only (NATO). Mereka saling cerca dan menyerang, tapi tidak ada langkah yang jelas untuk mengatasi krisis, tandasnya.

Sementara itu, Aris Yunanto, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengungkap, mata uang tunggal ASEAN bakal sulit diterapkan. Salah satu kendalanya adalah negara lain tidak mau disetarakan dengan kondisi mata uang negara berkembang seperti Indonesia. Misalnya Singapura, pasti tidak mau, ungkap Aris. Aris memaparkan, ekonomi Singapura yang lebih solid membuat nilai tukar mata uangnya stabil. Nilai tukar mata uang Singapura terhadap dolar AS juga lebih kuat dibanding rupiah. Begitu pula dengan suku bunga serta inflasi yang rendah. Kalau disamakan (mata uangnya) pasti negara lain apalagi Singapura akan merasa keberatan sekali, papar Aris. Dia mengakui mata uang tunggal Asean sulit diwujudkan. Sebab, perbedaan sistem politik, ekonomi, dan budaya negara-negara anggota menjadi hambatan. Senada dengan Aris dan Farial, Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti secara tegas memaparkan, banyak kesalahan yang terjadi pada mata uang tunggal di Eropa. Menurutnya, Euro sebagai mata uang tunggal mengandung sejumlah masalah. Pertama, adanya gap (kesenjangan) yang sangat besar antar negara-negara Eropa. Skala ekonomi Jerman atau Perancis, misalnya, sangat jauh dibanding Portugal. Kedua, negara-negara Eropa hanya punya satu kebijakan moneter, sementara kebijakan fiskal mereka independen. Karena fiskal-nya berdiri sendiri-sendiri, maka tidak efisien. Negara seperti Yunani atau Portugal terbawa menjadi besar padahal mereka rapuh, terang Destry. Masalah yang lain, papar Destry, adalah dukungan politik dari masing-masing negara tidak penuh. Artinya orientasi ekonomi antar negara berjalan sangat individual, cetusnya. Destry menyebut, ketiga faktor inilah yang membuat zona Euro hampir kolaps seperti sekarang ini. Belajar dari pengalaman itu, saya kira Asean butuh waktu untuk menyatukan mata uangnya. Untuk sekarang atau beberapa tahun lagi, penyatuan mata uang Asean sangat riskan, tutur Destry. Kalau negara-negara Asean ingin merealisasikan mata uang tunggal, ungkap Destry, maka kedaulatan moneter dan fiskal harus jadi satu. Termasuk bank sentral harus satu. Misalnya soal kebijakan printing money. Bisa jadi dampaknya akan bagus untuk negara satu, tapi buruk bagi negara yang lainnya karena kebijakan fiskal yang berbeda. Jadi tidak segampang itu bikin mata uang tunggal. Lebih baik, Asean fokus pada penyatuan pasar lewat Asean Economy Community dan konektivitas pasar Asean lainnya. Asean harus memperkuat penyatuan pasar dulu. Jangan fokus dulu pada currency-nya.

ASEAN

Wacana mata uang tunggal ASEAN dikaji kembali


Oleh Herlina KD - Selasa, 08 November 2011 | 17:51 WIB JAKARTA. Negara ASEAN mengkaji kembali wacana penyatuan mata uang tunggal dalam mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN setelah melihat krisis ekonomi yang terjadi di Eropa. Ada kemungkinan wacana mata uang tunggal ini batal direalisasikan. Menteri Keuangan Agus Martowardojo beralasan, pengunaan mata uang tunggal bisa berdampak buruh bagi kondisi ekonomi bila terjadi krisis di Asia Tenggara. Pasalnya, kapasitas ekonomi di negara-negara ASEAN masih sangat beragam. Akibatnya, perbedaan nilai tukar mata uang negara satu dengan yang lain masih cukup tinggi. "Kami belajar dari pengalaman zona Eropa dan kami akan menghormati keberagaman mata uang di ASEAN ini," ujarnya, Selasa (9/11). Sekretaris Negara Kementerian Ekonomi dan Keuangan Kamboja Kong Vibol menambahkan, penerapan mata uang tunggal itu harus hati-hati. Alasannya, penggunaan mata uang tunggal akan sangat rawan jika terjadi krisis. "Sebagaimana yang terjadi saat (krisis) 2007 - 2008, maka negaranegara ASEAN harus membangun sistem keuangan yang jauh lebih tahan krisis," jelasnya. Makanya, Vibol bilang yang terpenting bagi negara ASEAN adalah mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN terlebih dahulu. "Setelah itu kita harus belajar dari Eropa (sebelum menerapkan mata uang tunggal)," katanya. Catatan saja, negara-negara ASEAN telah sepakat untuk mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN pada tahun 2015 nanti. Mengenai ini, Indonesia juga optimis akan bisa mewujudkan integrasi ini. Agus bilang, saat ini Indonesia terus memonitor setiap kegiatan di sektor keuangan, mengevaluasi kebijakan perpajakan dan kebijakan lain yang berkaitan dengan akselerasi menuju masyarakat ekonomi ASEAN. Vibol mengungkapkan Kamboja juga masih berkomitmen untuk mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN. "Kami masih ada di jalur, para pemimpin kami sudah menandatangani perjanjiannya, dan kami berusaha untuk membangun komunitas dan mewujudkannya di tahun 2015," paparnya.

Ketidaksiapan ASEAN untuk memiliki mata uang tunggal hingga 2015, itu diantaranya :

1. Negara negara ASEAN belum memiliki standarisasi perekonomian yang sama. Standarisasi ekonomi akan sangat mempengaruhi stabilitas ekonomi pada masingmasing negara pada saat mata uang tunggal diberlakukan. 2. Negara-negara ASEAN, memiliki tingkat heterogenitas tinggi, sebab dengan tingginya tingkat heterogenitas memaksimalkan disharmonisasi diberbagai bidang, sehingga upaya penciptaan stabilitas diberbagai bidang tersebut berjalan sangat lamban.

VIVAnews - Pemerintah menyatakan Indonesia belum siap untuk bergabung dalam rencana integrasi pasar modal ASEAN yang tengah digagas. ASEAN Linkage ini didasarkan pada ASEAN Economic Community yang ditargetkan akan berlaku pada 2015 mendatang. "Saat kita lihat semua sudah siap, baru kita pikirkan untuk bergabung, akhir 2013 baru kita pikirkan untuk bergabung," kata Kepala Bapepam-LK, Nurhaida, saat Media Workshop, di Cisarua, Puncak, Jawa Barat, Sabtu, 10 Desember 2011. Pada rencana integrasi ASEAN itu, kata Nurhaida, dorongan terkuat untuk ASEAN linkage adalah integrasi pasar modal. Namun, Nurhaida menegaskan Indonesia belum siap untuk itu meskipun sudah ada negara-negara ASEAN lainnya yang sudah menyatakan siap yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand. "Mereka menargetkan ada yang 2012 ada yang 2013 untuk bergabung, Indonesia baru planning untuk memikirkan di 2013 akhir, belum bergabung," kata dia. Hal ini, lanjut Nurhaida, bukan karena Indonesia tidak merasa perlu dan tidak mendukung integrasi pasar modal, namun, pemerintah masih mempertimbangkan pasar jumlah penduduk yang besar dan masih banyak yang sedang dilakukan oleh Bapepam-LK. "Sekarang banyak yang sedang dilakukan, misalnya reformasi bisnis, siapkan data warehouse, dan lainnya," tuturnya. Tentunya, kata Nurhaida, membutuhkan waktu dan persiapan akibat adanya perubahan yang signifikan sehingga masih perlu dilihat dampaknya pada pasar modal. "Begitu menggagas MKBD, dimana mengindikasikan lebih baik, broker kita lebih baik dan mereka akan mampu bersaing dengan broker dari negara lain, lalu aturan-aturan lainnya yang kemungkinan akan berlaku pada 2012, maka di akhir 2013 baru kita akan memikirkan bergabung," kata dia. Memang, dengan adanya MKBD, kata Nurhaida, transaksi akan lebih efisien, pasar lebih menarik sehingga ketika terjadi integrasi pasar modal ASEAN broker dari negara lain bisa melakukan transaksi di Indonesia dan sebaliknya. "Kemudian ada cross border offering, yaitu perusahaan Indonesia bisa mengajukan penawaran di negara lain, begitu juga sebaliknya. Makanya butuh persiapan," tuturnya.

Menurutnya, ketika emiten menyampaikan prospektus, misalnya di Indonesia, prospektus yang sama bisa dilakukan penawaran umum di Malaysia dan di negara lain dalam paket yang sama. "Tapi masih proses, yang sudah disepakati yaitu ASEAN standard, sudah disebutkan apa saja yang perlu di-disclosed, yang sudah menyepakati itu lima negara, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina," kata dia. Namun, lanjut Nurhaida, di masing-masing negara masih ada tambahan aturan karena terdapat ketentuan yang belum diatur dalam ASEAN standard itu. Ketentuan itu, kata dia, akibat dari masingmasing negara juga terdapat perbedaan aturan dengan negara lainnya. "Misalnya, prospektus laporan keuangan diaudit oleh akuntan malaysia, tapi di Indonesia harus ditentukan Bapepam-LK, jadi belum ketemu karena dalam Undang-Undang kita nggak memungkinkan. Sekarang yang masih diperdebatkan apakah prospektus yang diterbitkan di sana bisa diakui di Indonesia," kata dia. (hp).

Menteri Gita: Tak Ada Mata Uang ASEAN!


Besar Kecil Normal TEMPO.CO, Phnom penh - Menteri Perdagangan Gita Wiryawan menegaskan tak ada semangat bagi negara-negara ASEAN untuk membikin mata uang tunggal seperti kawasan Uni Eropa yang memiliki Euro. "ASEAN berbeda dengan Uni Eropa. ASEAN belajar penerapan mata uang tunggal dari negara-negara di kawasan itu," ujar Gita kepada wartawan dalam jumpa pers seusai mengadakan pertemuan ASEAN Economic Community Council (Masyarakat Ekonomi ASEAN), Senin 2 April 2012. Ide membuat mata uang tunggal di kawasan ASEAN memang sempat mencuat pada 2011. Namun, seiring dengan memburuknya kawasan Eropa dengan mata uang tunggal Euro, membuat banyak negara ASEAN berpikir ulang. Mata uang tunggal diangap bisa berdampak buruk bagi kondisi ekonomi bila terjadi krisis di Asia Tenggara. Soalnya, kapasitas ekonomi di negara-negara ASEAN masih sangat beragam. Sekretaris Negara Kementerian Ekonomi dan Keuangan Kamboja Kong Vibol tahun lalu mengingatkan, penerapan mata uang tunggal akan sangat rawan jika terjadi krisis. "Sebagaimana yang terjadi saat (krisis) 2007 - 2008, maka negara-negara ASEAN harus membangun sistem keuangan yang jauh lebih tahan krisis," katanya. Alih-alih mengurus mata uang tunggal, kata Gita, ASEAN kini memfokuskan diri pada kerjasama dalam kawasan ASEAN sendiri. Karena, saat ini nilai perdagangan antarsesama

negara ASEAN mencapai US$ 2 triliun. Indonesia saja nilai perdagangannya mencapai US$ 1 triliun. Gita menambahkan, dengan nilai perdagangan itu, negara-negara ASEAN yakin perdagangan intra-ASEAN sudah bisa membantu perekonomian di kawasan ini. Saat ekonomi Eropa dan Amerika melemah, negara-negara ASEAN bisa memaksimalkan potensinya dengan menjalin kerjasama antarnegara ASEAN. Dia membeberkan sejumlah data. Saat ini nilai investasi penanaman modal asing (PMA) di kawasan ini mencapai US$ 20 miliar. Investasi yang dilakukan oleh Singapura mencapai US$ 5 miliar. Angka itu menurut Gita tak bisa dipandang remeh. Dalam industri pariwisata, peran kerjasama antarnegara ASEAN juga besar. Saat ini jumlah wisatawan yang datang ke ASEAN mencapai 79 juta orang. Dari jumlah itu yang datang dari negara ASEAN sendiri mencapai 30 juta orang. "Ini pasar yang besar untuk diversifikasi pasar yang sudah ada selain Eropa dan Amerika Serikat," katanya lagi. Indonesia sendiri juga akan menggarap pasa nontradisional seperti Afrika, Amerika Latin, Asia Tengah. Bahkan, Indonesia akan menjadi tuan rumah untuk pertemuan negara-negara ASEAN dan negara-negara Amerika Latin pada awal Juli 2012.