Anda di halaman 1dari 44

TINJAUAN EFISIENSI PENYALURAN AIR PADA SISTEM IRIGASI DI BENDUNG PERJAYA KECAMATAN MARTAPURA KABUPATEN OGAN KOMERING ULU

TIMUR

Oleh SARTIKA LAELASARI

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA 2012

TINJAUAN EFISIENSI PENYALURAN AIR PADA SISTEM IRIGASI DI BENDUNG PERJAYA KECAMATAN MARTAPURA KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR

Oleh SARTIKA LAELASARI

PROPOSAL PRAKTIK LAPANGAN Sebagai satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian

Pada PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA 2012

Proposal Praktek Lapangan TINJAUAN EFISIENSI PENYALURAN AIR PADA SISTEM IRIGASI DI BENDUNG PERJAYA KECAMATAN MARTAPURA KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR

Oleh SARTIKA LAELASARI 05091002010

telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian

Indralaya,

Oktober 2012

Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Pembimbing, Ketua Jurusan,

Hilda Agustina, S.TP., M.Si NIP. 197708232002122001

Dr. Ir. Hersyamsi, M.Agr NIP. 196008021987031004

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal praktek lapangan yang berjudul Tinjauan Efisiensi Penyaluran Air pada Sistem Irigasi di Bendung Perjaya Kecamatan Martapura Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Proposal praktek lapangan ini merupakan salah satu syarat untuk melakukan penelitian. Pada kesempatan ini pula, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hilda Agustina, S. TP., M.Si. selaku dosen pembimbing atas kesabaran dan arahan serta bimbingan dan bantuan beliau sehingga proposal ini dapat diselesaikan. Dalam penyusunan proposal praktek lapangan ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, untuk itu diharapkan saran dan kritik dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan laporan penelitian ini. Penulis mengharapkan semoga proposal praktek lapangan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Indralaya, Oktober 2012 Penulis

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR .................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................ iv v vi 1 1 2 3 3 3 6 8 11 23 35 35 35 37

DAFTAR TABEL ........................................................................................ I. PENDAHULUAN .............................................................................. A. Latar Belakang .............................................................................. B. Tujuan ............................................................................................ II. TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... A. Sejarah Irigasi................................................................................. B. Macam-macam Irigasi .................................................................... C. Efisiensi Pengairan ....................................................................... D. Pengertian dan Tujuan Irigasi ...................................................... E. Analisis Kebutuhan Air Irigasi ..................................................... F. Sistem Jaringan Irigasi .................................................................. III. PELAKSANAAN PRAKTIK LAPANGAN ..................................... A. Tempat dan Waktu ...................................................................... B. Metode Pelaksanaan ................................................................... IV. SISTEMATIKA PENULISAN ..........................................................

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Koefisien Tanaman Beberapa Tanaman Palawija ............................ Tabel 2. Nilai Koefisien Tanaman Tebu ......................................................... Tabel 3. Tipe-tipe medan ................................................................................ Tabel 4. Parameter Perhitungan Untuk Kemiringan Saluran .......................... 20 21 28 30

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Air memiliki peranan penting dalam kehidupan semua makhluk hidup, baik manusia, hewan, dan tumbuhan. Air sangat membantu kehidupan makhluk hidup baik untuk mencuci, memasak, mandi, bahkan sebagai sarana irigasi di persawahan. dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup tanpa air 4-5 hari. Air telah digunakan oleh orang-orang di seluruh dunia dari zaman prasejarah, sejarah, dan modern seperti saat ini. Kehidupan manusia memang tidak dapat dipisahkan dari air. Sebagai salah satu komponen abiotik dari lingkungan, air memang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan makhluk hidup dan penyeimbang ekosistem di alam yang sampai saat ini diketahui keberadaannya di bumi. Dari segi kuantitasnya air yang dibutuhkan oleh tanaman tidak boleh berlebihan juga tidak boleh kekurangan, keduanya dapat merusak pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu pemanfaatan air dalam sistem pengairan untuk tanaman perlu mendapatkan perhatian yang cukup. Dari segi kualitasnya air yang dibutuhkan oleh tanaman harus mengandung unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, tidak beracun dan berbahaya bagi tanaman. Bertambahnya permintaan akan bahan pangan menyebabkan meningkatkan peranan irigasi dan drainase di daerah tropis. Pengendalian air yang lebih baik memegang peranan yang penting bagi pendapatan produksi yang maksimum dan merupakan alat yang paling menentukan dalam meningkatkan produksi bahan pangan (Pasandaran dan Taylor, 1984).

Peningkatan pengelolaan air merupakan potensi besar upaya untuk terciptanya pengaturan lingkungan air yang lebih baik. Akan tetapi cara-cara sesuai dan efektif bagi peningkatan ini belum tampak jelas dan harus dikembangkan melalui penelitian-penelitian terapan. Daerah irigasi kerap kali terletak pada jarak yang jauh dari sumber persediaan airnya. Air yang diperoleh dari aliran alam kemudian di salurkan menuju petak-petak yang membutuhkan. Saluran induk irigasi yang digunakan untuk menyalurkan air ini memiliki panjang yang berbeda-beda, dari yang hanya beberapa kilometer sampai yang ratusan kilometer jaraknya. Sehingga diperlukan beberapa hari untuk menyalurkan air dari tempat penyadapan air ke tempat pemakai (Israelsen et al., 1979).

B. Tujuan Tujuan praktik lapangan ini adalah untuk mengetahui tentang efisiensi penyaluran air pada sistem irigasi di Bendung Perjaya Kecamatan Martapura Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sejarah Irigasi Menurut sejarah, peradaban di Mesir telah mengikuti perkembangan irigasi. Peradaban telah meningkat pada daerah beririgasi, peradaban juga telah menghancurkan dan merusakkan daerah beririgasi. Sebagian besar kebudayaan kuno di Mesir yang tergantung pada irigasi telah mengalami kemunduran karena tidak adanya stabilitas politik dan lingkungan yang demikian berpengaruh terhadap pertanian beririgasi (Israelsen et al., 1986). Bangsa Mesir Kuno dengan keterampilan teknik hidrauliknya yang primitif telah memanfaatkan banjir Sungai Nil secara menguntungkan. Terusan, tanggul dan waduk yang mereka bangun telah membantu mereka meningkatkan hasil panen (Dumairy, 1992). Sebelum datangnya peradaban Hindu di Indonesia, menurut para ahli nenek moyang Bangsa Indonesia telah mengusahakan tanaman padi beririgasi secara primitif dan tidak teratur, mereka menanam padi di tanah yang becek atau di muaramuara sungai kecil di antara delta (Arsyad et al., 1981).

B. Macam-macam Irigasi Tipe atau jenis irigasi bermacam-macam. Berdasarkan cara pemberian air pada tanaman dapat dikelompokkan menjadi tiga cara, yaitu: 1) irigasi permukaan (surface irrigation), 2) irigasi curah (sprinkle irrigation), 3) irigasi bawah tanah (sub surface irrigation) (Dumairy, 1992).

1.

Irigasi Permukaan Irigasi permukaan (surface irrigation) adalah metode irigasi yang pemberian

air pada tanaman dilakukan dengan cara penggenangan atau pengaliran di permukaan tanah. Dengan cara penggenangan, petak-petak sawah digenangi sampai batas ketinggian tertentu. Pada tipe irigasi permukaan dengan cara pengaliran, pemberian airnya dapat dilakukan dengan jalan mengalirkan air di antara bedeng-bedeng tanaman atau di antara baris tanaman.

2.

Irigasi Curah Pemberian air dengan cara ini juga disebut sprinkle irrigation, yaitu cara

pemberian air yang dilakukan dari bagian atas tanaman dalam bentuk yang menyerupai butir-butir air hujan. Pemberian air dapat dilakukan dengan cara manual atau mekanis. Secara mekanis, digunakan pompa sebagai sumber tenaga dan distribusi air dilakukan dengan menggunakan alat sprinkler. Sedangkan secara manual sebagai sumber tenaga adalah manusia dan distribusi air dilakukan dengan menggunakan alat yang umum digunakan, yaitu gembor. Menurut James (1988), sistem sprinkle memberikan air secara efisien dan dapat diterapkan pada berbagai jenis tanah dan lahan dengan topografi berbukit. Adapun keuntungan-keuntungan dari pemberian air dengan cara curah (sprinkle) ini adalah: a. Dapat digunakan untuk tanah-tanah dengan permeabilitas yang tinggi dimana cara pemberian air yang lain sulit untuk diterapkan.

b.

Dapat diterapkan pada lahan-lahan dengan topografi yang tidak teratur, tingkat kemiringan tinggi dan erodibilitas yang besar.

c. d.

Dapat digunakan pada lahan-lahan dengan lapisan olah yang dangkal. Dapat digunakan untuk keperluan pemupukan dan pemberantasan hama penyakit. Sedangkan kerugian dari sistem ini adalah:

a. b. c. d.

Biaya permulaan yang cukup tinggi. Rancangan dan tata letak yang cukup rumit. Biaya operasi yang cukup tinggi, antara lain untuk pompa. Tidak sesuai diterapkan pada daerah yang bersuhu tinggi atau berangin kencang.

3.

Irigasi Bawah Tanah Irigasi bawah tanah merupakan cara pemberian air melalui pergerakan air

kapiler dalam profil tanah dari aliran air yang berada beberapa puluh sentimeter di bawah permukaan tanah (Hakim et al., 1984). Tingkat efisiensi pemakaian air dengan cara ini cukup tinggi dan sebagian besar areal dapat ditanami. Di sisi lain, pemberian air dengan cara bawah permukaan tanah juga menimbulkan beberapa kerugian seperti bahaya akan kejenuhan air, akumulasi garam di zone perakaran tanaman, lapisan bawah tanah yang terlalu kedap akan menyebabkan zone perakaran tanaman menjadi jenuh dan mengganggu sirkulasi udara, dan kemungkinan adanya penyumbatan lubang-lubang pada pipa pengeluaran air yang besar (Arsyad et al., 1981).

C. Efisiensi Pengairan Menurut Dumairy (1992), efisiensi pengairan merupakan rasio atau perbandingan antara jumlah air yang nyata bermanfaat bagi tanaman yang diusahakan terhadap jumlah air yang tersedia atau diberikan, dinyatakan dalam satuan persentase. Dalam hal ini dikenal ada 3 macam efisiensi yaitu: 1) efisiensi penyaluran air, 2) efisiensi pemberian air, dan 3) efisiensi penyimpanan air.

1.

Efisiensi Penyaluran Air Efisiensi penyaluran air (water conveyance efficiency) merupakan

perbandingan antara jumlah air yang sampai di petak persawahan terhadap jumlah air yang dialirkan dari sumber melalui pintu penyadapan: Ec = Dengan, Ec Wf Wr = Efisiensi penyaluran air (%) = Jumlah air yang sampai ke petak persawahan (l/dt) = Jumlah air yang dialirkan dari sumber (l/dt) Efisiensi penyaluran air (Ec) dipengaruhi oleh beberapa factor (Dumairy, 1992), yaitu: a. Kondisi jaringan irigasi, bangunan dan salurannya, kehilangan air pada waktu pengaliran, baik karena penguapan maupun karena peresapan. b. Adanya penyadapan liar oleh petani. x 100%

2.

Efisiensi Pemberian Air Efisiensi pemberian air (water application efficiency) merupakan

perbandingan antara air yang tersimpan di dalam zone perakaran selama periode pemberian air terhadap jumlah air yang sampai di petak persawahan. Ea = Dengan, Ea = Efisiensi pemberian air (%) Ws = Jumlah air yang tersimpan di dalam zone perakaran selama periode pemberian air. Efisiensi pemberian air (Ea) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: a. b. c. d. Metode irigasi atau cara pemberian air pada tanaman. Sifat tanah dan topografi petani. Luas areal tanaman. Kualitas air irigasi. x 100%

3.

Efisiensi Penyimpanan Air Efisiensi penyimpanan air (water storage efficiency) merupakan

perbandingan antara jumlah air yang tersimpan di zone perakaran selama periode pemberian air terhadap jumlah air yang diperlukan pada zone perakaran tersebut menjelang pemberian air. Es = x 100%

Dengan, Es = Efisiensi penyimpanan air (%) Wn = Jumlah air yang diperlukan pada zone perakaran menjelang pemberian air. Efisiensi penyimpanan air (Es) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: a. b. c. Tata air tanah Permeabilitas dan kapasitas lapang tanah Kapasitas tanah untuk menahan air (water holding capacity).

D. Pengertian dan Tujuan Irigasi 1. Pengertian Irigasi Secara umum yang dimaksudkan dengan pengairan adalah segala usaha yang berhubungan dengan pemanfaatan air. Dalam Undang-Undang RI No. 11-1974 dibedakan antara irigasi dan pengairan. Irigasi menurut undang-undang tersebut adalah pengairan dalam arti sempit, yakni sebagaimana ditegaskan dalam definisi di atas. Sedangkan pengairan selain mencakup irigasi, meliputi pula pengembangan rawa, pengendalian banjir serta pengaturan dan penyediaan air minum, air perkotaan, air industri, dan pencegahan terhadap pencemaran atau pengotoran lingkungan. Jadi merupakan pengelolaan sumber daya air dalam arti luas (Dumairy, 1992). Menurut Israelsen et al., (1984) irigasi adalah suatu upaya penggunaan air pada tanah untuk keperluan penyediaan cairan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Sedangkan menurut Arsyad et al., (1981), irigasi didefinisikan sebagai upaya pemberian air pada tanaman dengan tujuan pokok penyediaan kelembaban yang penting untuk pertumbuhan tanaman.

Irigasi adalah kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan usaha mendapatkan air untuk sawah, ladang, perkebunan dan lain-lain usaha pertanian, rawa-rawa, perikanan. Usaha tersebut terutama menyangkut pembuatan sarana dan prasarana untuk membagi-bagikan air ke sawah-sawah secara teratur dan membuang air kelebihan yang tidak diperlukan lagi untuk memenuhi tujuan pertanian. Masih sering kita jumpai istilah irigasi ini diganti dengan istilah "Pengairan". Untuk sementara istilah irigasi kita anggap punya pengertian yang sama dengan istilah pengairan.

2.

Tujuan Irigasi Dalam tujuan irigasi dibahas tujuan irigasi secara langsung dan secara tidak

langsung.

a.

Tujuan Irigasi secara Langsung Tujuan irigasi secara langsung adalah membasahi tanah, agar dicapai suatu

kondisi tanah yang baik untuk pertmbuhan tanaman dalam hubungannya dengan prosentase kandungan air dan udara diantara butir-butir tanah. Pemberian air dapat juga mempunyai tujuan sebagai pengangkut bahan-bahan pupuk untuk perbaikan tanah.

b.

Tujuan Irigasi secara Tidak Langsung Tujuan irigasi secara tidak langsung adalah pemberian air yang dapat

menunjang usaha pertanian melalui berbagai cara antara lain:

1) Mengatur suhu tanah, misalnya pada suatu daerah suhu tanah terlalu tinggi dan tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman maka suhu tanah dapat disesuaikan dengan cara mengalirkan air yang bertujuan merendahkan suhu tanah. 2) Membersihkan tanah, dilakukan pada tanah yang tidak subur akibat adanya unsur-unsur racun dalam tanah. Salah satu usaha misalnya penggenangan air di sawah untuk melarutkan unsur-unsur berbahaya tersebut kemudian air genangan dialirkan ke tempat pembuangan. 3) Memberantas hama, sebagai contoh dengan penggenangan maka lubang tikus bisa direndam dan tikus keluar sehingga lebih mudah dibunuh. 4) Mempertinggi permukaan air tanah, misalnya dengan perembesan melalui dinding-dinding saluran, permukaan air tanah dapat dipertinggi dan

memungkinkan tanaman untuk mengambil air melalui akar-akar meskipun permukaan tanah tidak dibasahi. 5) Membersihkan buangan air kota (penggelontoran), misalnya dengan prinsip pengenceran karena tanpa pengenceran tersebut air kotor dari kota akan berpengaruh sangat jelek bagi pertumbuhan tanaman. 6) Kolmatasi, yaitu menimbun tanah-tanah rendah dengan jalan mengalirkan air berlumpur dan akibat endapan lumpur tanah tersebut menjadi cukup tinggi sehingga genangan yang terjadi selanjutnya tidak terlampau dalam kemudian dimungkinkan adanya usaha pertanian.

E. Analisis Kebutuhan Air Irigasi Analisis kebutuhan air irigasi merupakan salah satu tahap penting yang diperlukan dalam perencanaan dan pengelolaan sistem irigasi. Kebutuhan air tanaman didefinisikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman pada suatu periode untuk dapat tumbuh dan produksi secara normal. Kebutuhan air nyata untuk areal usaha pertanian meliputi evapotranspirasi (ET), sejumlah air yang dibutuhkan untuk pengoperasian secara khusus seperti penyiapan lahan dan penggantian air, serta kehilangan selama pemakaian. Sehingga kebutuhan air dapat dirumuskan sebagai berikut (Sudjarwadi, 1990) : KAI = ET + KA + KK Dengan, KAI ET KA KK = Kebutuhan Air Irigasi = Evapotranspirasi = Kehilangan air = Kebutuhan Khusus Misalnya evapotranspirasi suatu tanaman pada suatu lahan tertentu pada suatu periode adalah 5 mm per hari, kehilangan air ke bawah (perkolasi) adalah 2 mm per hari dan kebutuhan khusus untuk penggantian lapis air adalah 3 mm per hari, maka kebutuhan air pada periode tersebut dapat dihitung sebagai berikut: KAI = 5 + 2 + 3 KAI = 10 mm perhari Untuk memenuhi kebutuhan air ingasi terdapat dua sumber utama, yaitu Pernberian Air Irigasi (PAI) dan Hujan Efektif (HE). Disamping itu terdapat

sumber lain yang dapat dimanfaatkan adalah kelengasan yang ada di daerah perakaran serta kontribusi air bawah permukaan. Pemberian air irigasi dapat dipandang sebagai kebutuhan air dikurangi hujan efektif dan sumbangan air tanah. PAI = KAI HE KAT Dengan, PAI KAI HE = Pemberian air irigasi = Kebutuhan air = Hujan efektif

KAT = Kontribusi air tanah Sebagai contoh misalnya kebutuhan air pada suatu periode telah dihitung sebesar 10 mm per hari, sumbangan hujan efektif pada periode tersebut juga telah dihitung sebesar 3 mm per hari dan kontribusi air tanah adalah 1 mm per hari, maka air yang perlu diberikan adalah : PAI = 10 - 3 - 1 PAI = 6 mm per hari

1.

Kebutuhan Air Padi di Sawah Analisis kebutuhan air untuk tanaman padi di sawah dipengaruhi

oleh beberapa faktor berikut ini: a. b. c. d. Pengolahan lahan Penggunaan konsumtif Perkolasi Penggantian lapisan air

e.

Sumbangan hujan efektif Kebutuhan air total di sawah merupakan jumlah faktor 1 sampai dengan 4,

sedangkan kebutuhan netto air di sawah merupakan kebutuhan total dikurangi faktor hujan efektif. Kebutuhan air di sawah dapat dinyatakan dalam satuan mm/hari ataupun lt/dt.

a.

Kebutuhan Air untuk Pengolahan Lahan Padi Periode pengolahan tahap lahan membutuhkan Kebutuhan air air yang untuk paling besar

jika dibandingkan

pertumbuhan.

pengolahan

lahan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah: 1) Karakteristik tanah 2) Waktu pengolahan 3) Tersedianya tenaga dan ternak 4) Mekanisasi pertanian Kebutuhan air untuk penyiapan dapat ditentukan berdasarkan

kedalaman tanah dan porositas tanah di sawah, seperti diusulkan pada Kriteria Perencanaan Irigasi 1986 sebagai berikut: PWR = Dengan, PWR = Kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm) Sa Sb N = Derajat kejenuhan tanah setelah penyiapan lahan dimulai (%) = Derajat kejenuhan tanah sebelum penyiapan lahan dimulai (%) = Porositas tanah, dalam % rata-rata per kedalaman tanah
( )

+ Pd + F1

d Pd F1

= Asumsi kedalaman tanah setelah pekerjaan penyiapan lahan (mm) = Kedalaman genangan setelah pekerjaan penyiapan lahan (mm) = Kehilangan air di sawah selama 1 hari (mm) Kebutuhan air untuk penyiapan lahan dapat ditentukan secara empiris sebesar

250 mm, meliputi kebutuhan untuk penyiapan lahan dan untuk lapisan air awal setelah transplantasi selesai. (Kriteria Perencanaan Irigasi KP 01). Untuk lahan yang sudah lama tidak ditanami (bero), kebutuhan air untuk penyiapan lahan dapat ditentukan sebesar 300 mm. Kebutuhan air untuk persemaian termasuk dalam kebutuhan air untuk penyiapan lahan. Analisis kebutuhan air selama pengolahan lahan dapat menggunakan metode seperti diusulkan oleh Van de Goor dan Ziljstra (1968) sebagai berikut:

Dengan, IR = Kebutuhan air untuk pengolahan lahan (mm/hari) M = Kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan (mm/hari) Eo = Evaporasi potensial (mm/hari) P = Perkolasi (mm/hari) k = Konstanta

T = Jangka waktu pengolahan (hari) S = Kebutuhan air untuk penjenuhan (mm) e = Bilangan eksponen: 2,7182

b. Penggunaan Konsumtif Penggunaan air untuk kebutuhan tanaman (consumtive use) dapat didekati dengan menghitung evapotranspirasi tanaman, yang besarnya dipengaruhi oleh jenis tanaman, umur tanaman dan faktor klimatologi. Nilai

evapotranspirasi merupakan jumlah dari evaporasi dan transpirasi. Yang dimaksud dengan evaporasi adalah proses perubahan molekul air di permukaan menjadi molekul air di atmosfer. Sedangkan transpirasi adalah proses fisiologis alamiah pada tanarnan, dimana air yang dihisap oleh akar diteruskan lewat tubuh tanaman dan diuapkan kembali melalui pucuk daun. Nilai evapotranspirasi dapat diperoleh dengan pengukuran di lapangan atau dengan rumus-rumus empiris. Untuk keperluan perhitungan kebutuhan air irigasi dibutuhkan nilai evapotranspirasi potensial (Eto) yaitu evapotranspirasi yang terjadi apabila tersedia cukup air. Kebutuhan air untuk tanaman adalah nilai Eto dikalikan dengan suatu koefisien tanaman. ET = kc x Eto Dimana : ET ETo kc = Evapotranpirasi tanaman (mm/hari) = Evaporasi tetapan atau tanaman acuan (mm/hari) = Koefisien tanaman

Kebutuhan air konsumtif ini dipengaruhi oleh jenis dan usia tanaman (tingkat pertumbuhan tanaman). Pada saat tanaman mulai tumbuh, nilai kebutuhan air konsumtif meningkat sesuai pertumbuhannya dan mencapai maksimum pada saat pertumbuhan vegetasi maksimum. Setelah mencapai maksimum dan berlangsung beberapa saat menurut jenis tanaman, nilai kebutuhan air konsumtif

akan menurun sejalan dengan pematangan biji. Pengaruh watak tanaman terhadap kebutuhan tersebut dengan faktor tanaman (kc). Nilai koefisien pertumbuhan tanaman ini tergantung jenis tanaman yang ditanam. Untuk tanaman jenis yang sama juga berbeda menurut varietasnya. Sebagai contoh padi dengan varietas unggul masa tumbuhnya lebih pendek dari padi varietas biasa. Yang dimaksud ETo adalah evapotranspirasi tetapan yaitu

laju evaportranspirasi dari suatu permukaan luas tanaman rumput hijau setinggi 8 sampai 15 cm yang menutup tanah dengan ketinggian seragam dan

seluruh permukaan teduh tanpa suatu bagian yang menerima sinar secara langsung serta rumput masih tumbuh aktif tanpa kekurangan air. Evapotranspirasi tetapan disebut juga dengan evapotranspirasi referensi atau keluar. Terdapat beberapa cara untuk menentukan evapotranspirasi tetapan, salah satunya seperti yang diusulkan oleh Kriteria Perencanaan Irigasi 1986 sebagai berikut: ETo = Epan . kpan Dengan : ETo = Evaporasi tetapan atau tanaman acuan (mm/hari)

Epan = Pembacaan panci Evaporasi kpan = Koefisien panci

c.

Perkolasi Laju perkolasi sangat tergantung pada sifat-sifat tanah. Data-data mengenai

perkolasi akan diperoleh dari penelitian kemampuan tanah maka diperlukan penyelidikan kelulusan tanah. Pada tanah lempung berat dengan karakteristik pengolahan (puddling) yang baik, laju perkolasi dapat mencapai 1-3 mm/hari. Pada tanah-tanah yang lebih ringan, laju perkolasi bisa lebih tinggi. Untuk menentukan laju perkolasi, perlu diperhitungkan tinggi muka air tanahnya. Sedangkan rembesan terjadi akibat meresapnya air melalui tanggul sawah.

d. Penggantian Lapisan Air Setelah pemupukan perlu dijadwalkan dan mengganti lapisan air

menurut kebutuhan. Penggantian diperkirakan sebanyak 2 kali masing-masing 50 mm satu bulan dan dua bulan setelah transplantasi (atau 3,3 mm/hari selama 1/2 bulan).

e.

Hujan Efektif Untuk menentukan besar sumbangan hujan terhadap kebutuhan air

oleh tanaman, terdapat beberapa cara, diantaranya secara empirik dan simulasi. Kriteria perencanaan irigasi mengusulkan hitungan hujan efektif berdasarkan data pengukuran curah hujan di stasiun terdekat, dengan panjang pengamatan selama 10 tahun.

f.

Hitungan Kebutuhan Air untuk Padi di Sawah Tahapan yang dilakukan untuk analisis kebutuhan air untuk padi di

sawah adalah: 1) Analisis hujan efektif 2) Analisis kebutuhan air di lahan

2.

Kebutuhan untuk Tanaman Selain Padi Tanaman selain padi yang dibudidayakan oleh petani pada umumnya berupa

palawija. Yang dimaksudkan dengan palawija adalah berbagai jenis tanaman yang dapat ditanam di sawah pada musim kemarau ataupun pada saat kekurangan air. Biasanya tanaman palawija ditanam di lahan tegalan. Dipandang dari jumlah air yang dibutuhkan, palawija dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu: a) Palawija yang butuh banyak air, seperti bawang, kacang tanah, ketela. b) Palawija yang butuh sedikit air, misalnya cabai, jagung, tembakau dan kedelai. c) Palawija yang membutuhkan sangat sedikit air, misalnya ketimun dan lembayung. Maksud analisis kebutuhan air untuk tanaman palawija terutama untuk mengetahui luas lahan yang direncanakan untuk tanaman padi maupun palawija berkaitan dengan ketersediaan air pada bangunan pengambilan sehingga kegagalan usaha pertanian dapat dihindari. Dengan kata lain hitungan kebutuhan air untuk palawija digunakan sebagai dasar untuk melakukan usaha pertanian sesuai dengan jumlah air yang tersedia.

Pemberian air untuk palawija akan ekonomis jika sampai kapasitas lapang, lalu berhenti dan diberikan lagi sampai sebelum mencapai titik layu. Analisis kebutuhan air untuk tanaman palawija dihitung seperti untuk tanaman padi, namun ada dua hal yang membedakan, yaitu pada tanaman palawija tidak memerlukan genangan serta koefisien tanaman yang digunakan sesuai dengan jenis palawija yang ditanam.

a.

Kebutuhan Air untuk Pengolahan Lahan Palawija Masa prairigasi diperlukan guna menggarap lahan untuk ditanami dan untuk

menciptakan kondisi kelembaban yang memadai untuk persemaian tanaman. Jumlah air yang dibutuhkan tergantung pada kondisi tanah dan pola tanam yang diterapkan. Kriteria Perencanaan Irigasi mengusulkan air untuk pengolahan lahan sejumlah 50 120 mm untuk tanaman ladang dan 100 - 120 mm untuk tanaman tebu, kecuali jika terdapat kondisi-kondisi khusus misalnya ada tanaman lain yang segera ditanam setelah tanaman padi.

b. Penggunaan Konsumtif Tanaman Palawija Untuk menentukan penggunaan konsumtif cara yang digunakan seperti pada tanaman padi hanya koefisien tanaman yang berbeda. Nilai koefisien beberapa jenis tanaman yang direkomendasikan oleh Kriteria Perencanaan Irigasi seperti terlihat pada Tabel 1. Sedangkan nilai koefisien tanaman tebu diperlihatkan pada Tabel 2.

Tabel 1. Koefisien Tanaman Beberapa Tanaman Palawija Setengah bulan ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kedelai 0,50 0,75 1,00 1,00 0,82 0,45 Jagung 0,50 0,59 0,96 1,05 1,02 0,95 Koefisien Tanaman Kac. Tanah 0,50 0,51 0,66 0,85 0,95 0,95 0,55 0,55 Bawang 0,50 0,51 0,69 0,90 0,95 Buncis 0,50 0,64 0,89 0,95 0,88 Kapas 0,50 0,50 0,58 0,75 0,91 1,04 1,05 1,05 1,05 0,78 0,65 0,65 0,65

Sumber Kriteria Perencanaaan Irigasi, KP 01

Tabel 2. Nilai Koefisien Tanaman Tebu Umur Tanaman 12 bulan 0-1 24 bulan 0-2,5 Saat tanam sd 0,25 rimbun*) 1-2 2,53,5 2-2,5 3,54,5 2,5-4 4-10 4,5-6 6-17 0,25-0,5 rimbun 0,5-0,75 rimbun 0,75 - rimbun Penggunaan air puncak 10-11 11-12 17-22 22-24 Awal berbunga Menjadi masak 0,8 0,6 0,95 0,7 0,95 0,7 1,05 0,75 1,0 1,05 I1 1,25 I1 1,25 1,2 1,3 0,9 0,95 0,95 1,0 0,8 0,85 0,75 0,8 Tahap Pertumbuhan RH < 70% Min Angin kecil s/d sedang 0,35 Angin kencang 0,6 RH < 20% Min Angin kecil s/d sedang 0,4 Angin kencang 0,45

Sumber Kriteria Perencanaaan Irigasi, KP 01 Keterangan : *) rimbun = full canopy = mencapai tahap berdaun rimbun

c.

Analisis Kebutuhan Air Untuk Tanaman Palawija Apabila telah tersedia data (1) evaporasi rerata setengah bulanan, (2) data

jenis tanah, (3) jenis (varietas) padi dan (4) hasil analisis curah hujan efektif, maka analisis kebutuhan air untuk tanaman palawija dapat dilakukan.

3.

Kebutuhan Air di Bangunan Pengambilan Kebutuhan air di pintu pengambilan atau bangunan utama tidak terlepas dari

kebutuhan air di sawah. Untuk memenuhi jumlah air yang harus tersedia di pintu pengambilan guna mengairi lahan pertanian dinyatakan sebagai berikut : DR = ( IR . A ) / Ef Dengan, DR IR A EF = Kebutuhan air di pintu pengambilan (1/dt) = Kebutuhan air irigasi (l/det/ha) = Luas areal irigasi (ha) = Efisiensi irigasi (%) Data yang diperlukan dalam analisis kebutuhan air di bangunan pengambilan adalah : a) Jumlah petak

b) Luas tanaman padi untuk MT 1, 2 dan 3 (dalam hektar) c) Luas tanaman palawija untuk MT 1, 2 dan 3 (dalam hektar)

d) Efisiensi masing-masing petak ke bending e) f) Kebutuhan dasar tanaman padi (lt/dt/ha) Kebutuhan dasar tanaman palawija (lt/dt/ha)

F. Sistem Jaringan Irigasi 1. Petak Irigasi Untuk menghubungkan bagian-bagian dari suatu jaringan irigasi dibuat suatu peta yang biasanya disebut peta petak. Peta petak ini dibuat berdasarkan peta topografi yang dilengkapi dengan garis-garis kontur dengan skala 1 : 2500. Peta petak tersebut memperlihatkan : a. b. c. d. e. f. g. h. i. Bangunan-bangunan utama Jaringan dan trase saluran irigasi Jaringan dan trase saluran pembuang Petak-petak primer, sekunder dan tersier Lokasi bangunan Batas-batas daerah irigasi Jaringan dan trase jalan Daerah-daerah yang tidak diairi (misal : desa-desa) Daerah-daerah yang tidak dapat diairi (tanah jelek, terlalu tinggi dst.)

Umumnya petak irigasi dibagi atas tiga bagian yaitu :

a) Petak Primer Petak primer dilayani oleh satu saluran primer yang mengambil aimya langsung dari sumber air, biasanya sungai. Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder yang mengambil air langsung dari saluran primer. Daerah-daerah irigasi tertentu mempunyai dua saluran primer, ini menghasilkan dua petak primer.

b) Petak Sekunder Biasanya petak sekunder menerima air dari bangunan bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder. Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang kesemuanya dilayani oleh satu saluran sekunder. Batas-batas petak sekunder pada umumnya berupa tanda-tanda topografi yang jelas, misal saluran pembuang. Luas petak sekunder bisa berbeda-beda tergantung pada situasi daerah.

c)

Petak Tersier Petak ini menerima air irigasi yang dialirkan dan diukur pada bangunan sadap

(off take) tersier. Petak tersier harus terletak langsung berbatasan langsung dengan saluran sekunder atau saluran primer, kecuali apabila petak-petak tersier tidak secara langsung terletak di sepanjang jaringan saluran irigasi utama. Petak tersier mempunyai batas-batas yang jelas misalnya: parit, jalan, batas desa dan sesar medan.

Untuk menentukan layout, aspek-aspek berikut akan dipertimbangkan: 1) Luas petak tersier 2) Batas-batas petak tersier 3) Bentuk petak tersier yang optimal 4) Kondisi medan

a.

Petak Tersier yang Ideal Dikatakan ideal jika masing-masing pemilik sawah memiliki pengambilan

sendiri dan dapat membuang kelebihan air langsung ke jaringan pembuang. Juga para petani dapat mengangkut hasil pertanian dan peralatan mesin atau ternak mereka ke dan dari sawah melalui jalan petani yang ada. Untuk mencapai pola pemilikan sawah yang ideal di dalam petak tersier, para petani harus diyakinkan agar membentuk kembali petak-petak sawah mereka dengan cara saling menukar bagian bagian tertentu dari sawah mereka atau dengan cara-cara lain.

b. Ukuran dan Bentuk Petak Tersier dan Kuarter Ukuran petak tersier bergantung pada besarnya biaya pelaksanaan jaringan irigasi dan pembuang (utama dan tersier) serta biaya eksploitasi dan pemeliharaan jaringan. Ukuran optimum suatu petak tersier adalah antara 50 - 100 ha. Ukurannya dapat ditambah sampai maksimum 150 ha jika keadaan topografi memaksa demikian.

Di petak tersier yang berukuran kecil, efisiensi irigasi akan menjadi lebih tinggi karena: 1) Diperlukan lebih sedikit titik-titik pembagian air. 2) Saluran-saluran yang lebih pendek menyebabkan kehilangan air yang lebih sedikit. 3) Lebih sedikit petani yang terlibat, jadi kerja sama lebih baik. 4) Pengaturan (air) yang lebih baik sesuai dengan kondisi tanaman. 5) Perencanaan lebih fleksibel sehubungan dengan batas-batas desa. Bentuk optimal suatu petak tersier bergantung pada biaya minimum pembuatan saluran, jalan dan box bagi. Apabila semua saluran kuarter diberi air dari satu saluran tersier, maka panjang total jalan dan saluran menjadi minimum. Dengan dua saluran tersier untuk areal yang sama, maka panjang total jalan dan saluran akan bertambah. Bentuk optimal petak tersier adalah bujur sangkar, karena pembagian air menjadi sulit pada petak tersier berbentuk memanjang. Ukuran petak kuarter bergantung kepada ukuran sawah, keadaan topografi, tingkat teknologi yang dipakai, kebiasaan bercocok tanam, biaya pelaksanaan, sistem pembagian air dan efisiensi. Ukuran optimum suatu petak kuarter adalah 8 - 15 ha. Lebar petak akan bergantung pada cara pembagian air, yakni apakah air dibagi dari satu sisi atau kedua sisi saluran kuarter. Di daerah-daerah datar atau bergelombang, petak kuarter dapat membagi air ke dua sisi. Dalam hal ini lebar maksimum petak akan dibatasi sampai 400 m (2 x 200 m). Pada tanah terjal, dimana saluran kuarter mengalirkan air ke satu sisi saja,

lebar maksimum diambil 300 m. Panjang maksimum petak ditentukan oleh panjang saluran kuarter yang diisikan (500 m). Kriteria untuk pengembangan petak tersier : a) Ukuran petak tersier 50 - 100 ha

b) Ukuran petak kuarter ... 8 - 15 ha c) Panjang saluran tersier .... < 1500 m

d) Panjang saluran kuarter < 500 m e) Jarak antar saluran & pembuang .. < 300 m

c.

Batas Petak Batas-batas petak tersier didasarkan pada kondisi topografi. Daerah ini

hendaknya diatur sebaik mungkin, sedemikian rupa sehingga satu petak tersier terletak dalam satu daerah administrasi desa agar E & P jaringan lebih baik. Jika ada dua desa di petak tersier yang sangat luas, maka dianjurkan untuk membagi petak tersier tersebut menjadi dua petak sub-tersier yang berdampingan sesuai dengan daerah masing-masing. Batas-batas petak kuarter biasanya akan berupa saluran irigasi dan pembuang kuarter yang memotong kemiringan medan dan saluran irigasi tersier serta pembuang tersier atau primer yang mengikuti kemiringan medan. Jika mungkin batas-batas ini bertepatan dengan batas-batas hak milik tanah. Jika batas-batas ini belum tetap dan jaringan masih harus dikembangkan, dipakai kriteria umum.

d. Kondisi Medan Tipe-tipe medan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Tipe Medan Medan terjal Medan bergelombang Medan berombak Kemiringan Di atas 2% 0,25 2% 0,25 2%, pada umumnya kurang dari 1%. Di tempat tertentu mungkin lebih besar Medan sangat datar < 0,25% Tabel 3. Tipe-tipe medan

2. a.

Saluran Irigasi Saluran Irigasi

1) Jaringan Saluran Irigasi Utama Saluran primer membawa air dari jaringan utama ke saluran sekunder dan ke petak-petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primer adalah pada bangunan bagi yang terakhir. Saluran sekunder membawa air dari saluran primer ke petak-petak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. Batas saluran sekunder adalah pada bangunan sadap terakhir.

Saluran pembawa membawa air irigasi dari sumber air lain (bukan sumber yang memberi air pada bangunan utama) ke jaringan irigasi primer. Saluran muka tersier membawa air dari bangunan sadap tersier ke petak tersier yang terletak di seberang petak tersier lainnya.

2) Jaringan Saluran Irigasi Tersier Saluran irigasi tersier membawa air dari bangunan sadap tersier di jaringan utama ke dalam petak tersier lalu di saluran kuarter. Batas ujung saluran ini adalah box bagi kuarter yang terakhir. Saluran kuarter membawa air dari box bagi kuarter melalui bangunan sadap tersier atau parit sawah ke sawah.

3) Jaringan Saluran Pembuang Utama Saluran pembuang primer mengalirkan air lebih dari saluran pembuang sekunder keluar daerah irigasi. Saluran pembuang primer sering berupa saluran pembuang alam yang mengalirkan kelebihan air ke sungai, anak sungai atau ke laut. Saluran pembuang sekunder menampung air dari jaringan pembuang tersier dan membuang air tersebut ke pembuang primer atau langsung ke pembuang alam dan keluar daerah irigasi.

4) Jaringan Saluran Pembuang Tersier Saluran pembuang tersier terletak diantara petak-petak tersier yang termasuk dalam unit irigasi sekunder yang sama dan menampung air, baik dari pembuangan kuarter maupun dari sawah-sawah. Air tersebut dibuang ke dalam jaringan pembuang

sekunder. Saluran pembuang sekunder menerima buangan air dari saluran pembuang kuarter yang menampung air langsung dari sawah.

b. Dimensi Saluran Untuk pengaliran air irigasi, saluran berpenampung trapesium adalah bangunan pembawa yang paling umum dipakai dan ekonomis. Saluran tanah sudah umum dipakai untuk saluran irigasi karena biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan saluran pasangan. Untuk merencanakan kemiringan saluran mempunyai asumsi-asumsi mengenai parameter perhitungan, yang terlihat seperti tabel berikut ini : Tabel 4. Parameter Perhitungan Untuk Kemiringan Saluran Q (m3/dt) 0,15 0,30 0,30 0,50 0,50 0,75 0,75 1,00 1,00 1,50 1,50 3,00 3,00 4,50 4,50 5,00 5,00 6,00 6,00 7,50 7,50 9,00 M 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 n 1,0 1,0 1,2 1,2 1,3 1,3 1,5 1,5 1,8 1,8 2,3 2,3 2,7 2,7 2,9 2,9 3,1 3,1 3,5 3,5 3,7 k 35 35 35 35 40 40 40 40 42,5 42,5 42,5

9,00 10,00 10,00 11,00 11,00 15,00 15,00 25,00 25,0 40,00 Dimana :k m n

1,5 2,0 2,0 2,0 2,0

3,7 3,9 3,9 4,2 4,2 4,9 4,9 6,5 6,5 9,6

42,5 45 45 45 45

= koefisien kekasaran Strickler = kemiringan talud = perbandingan lebar dasar saluran dengan kedalaman air

Dengan informasi ini dimensi saluran dapat dihitung dengan cara dibawah ini: Rumus Strickler : V = k . R2 . I Dimana : Q V k I m n A = debit rencana, m3/dt = kecepatan pengaliran, m/dt = koefisien kekasaran strickler = kemiringan dasar saluran (rencana) = kemiringan talud = b/h = bh + m h2 = h2 (n + m) P = b + 2h = h (n + 2 R = A/P

b h

= lebar dasar saluran, m = tinggi air, m

Untuk menghitung h dan b digunakan cara coba-coba.

3. a.

Bangunan Irigasi Bangunan Bagi Bangunan bagi dilengkapi dengan pintu dan alat ukur. Waktu debit kecil

muka air akan turun. Pintu diperlukan untuk menaikkan kembali muka air sampai batas yang diperlukan, supaya pemberian air ke cabang saluran sekunder dapat dilakukan. Pada cabang saluran dibuat alat ukur guna mengukur debit yang akan dialirkan melalui saluran yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan air disawah yang akan diairi.

1) Pintu dan Alat Ukur Pintu terbuat dari : a) Susunan kayu yang satu sama lain terlepas (skot balk).

b) Pintu kayu atau besi yang dilengkapi dengan stang pengangkat. Alat ukur yang umum dipakai. i. Pintu ukur Romijn ii. Pintu sorong Crump-de Gruyter

2) Bentuk Hidrolis dan Kriteria a) Skot balk: pengalirannya merupakan pengaliran tidak sempurna. Dibuat dari susunan balok-balok persegi yang terlepas satu sarna lain. Susunan dibuat sesuai kebutuhan. Lebar skot balk ditetapkan dengan mengarnbil kehilangan tekanan z = 0,05 m dan skot balk dilepaskan seluruhnya. Disarankan lebar b < 1,5 m, agar mudah memasang dan mengambil skot balk. b) Pintu kayu dan besi dengan perlengkapan stang pengangkat, pengalirannya merupakan pengaliran lewat lubang. Pintu bisa dibuat dari kayu atau besi. Bila lebar pintu b < 1,0 m lebih baik dibuat dari besi. Lebar pintu diarnbil < 2,5 m supaya tidak terlalu berat untuk mengangkat. c) Alat ukur ulur.

d) Percabangan pada bangunan bagi dibuat dengan sudut < 90 dan pada belokan dibuat jari-jari > 1,0 m.

b. Bangunan Sadap 1) Bangunan Sadap Tersier Bangunan sadap tersier harus diberi pintu Romijn karena kehilangan energinya terbatas. Karena tipe pintu harus sarna maka bangunan sadap sekunder juga harus diberi pintu Romijn. Agar pintu Romijn mampu memberikan keuntungan ekonomis dimensinya harus distandarisasi. Dimensi standar yang penting adalah lebar alat ukur itu dan kedalaman aliran maksimum pada muka air rencana.

Debit rencana untuk contoh petak tersier 140 lt/dt akan dipakai tipe I alat ukur Romijn. Muka air rencana pada alat ukur tersebut adalah Q70. Elevasi dasar (BL) pintu dapat ditentukan sebagai berikut : BL = hQ70 - (0,81 + V) = hQ70 - (0,81 + 0,31) Dimana : hQ70 = Tinggi M.A. rencana pada Q70

2) Bangunan Sadap Sekunder Debit rencana ke saluran sekunder lebih kurang 2,88 meter kubik per detik. Lebar standar pintu diambil 1,25 m. Debit maksimum setiap pintu romijn adalah 0,75 meter kubik per detik. Jadi diperlukan empat pintu (Q =4 x 0,75 = 3 meter kubik per detik). Sesuai dengan prosedur yang sebelumnya elevasi pintu pada posisi terendah adalah Elevasi dasar pintu adalah = hQ70- 0,50 = 15,06 m = hQ70 - (1,15 + V) = hQ70 - (1,15 + 0,31) Bentuk hidrolis dan kriteria pada prinsipnya sama seperti bangunan bagi.

III. PELAKSANAAN PRAKTIK LAPANGAN

A. Tempat dan Waktu Praktik Lapangan ini akan dilakukan di Bendung Perjaya OPSDA II Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII Bulan Oktober 2012.

B. Metode Pelaksanaan Metode yang akan digunakan dalam pelaksanaan praktik lapangan di Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII Martapura ini adalah metode wawancara, studi pustaka dan observasi langsung ke lapangan. Berdasarkan metode-metode tersebut akan dilakukan pengolahan data dan analisis data.

1.

Metode Wawancara (Interview) Metode ini dilakukan melalui wawancara dengan pihak pegawai yang

berhubungan dengan masalah kehilangan air dan pihak-pihak lain yang dianggap mengetahui banyak tentang data yang dibutuhkan yang didukung dengan adanya kuisioner.

2. Metode Pengamatan (Observasi) Metode ini dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung di lapangan dalam bentuk kunjungan langsung ke lokasi saluran primer dan menganalisis hasil pengamatan, yang didapat dari saluran primer tersebut maupun lingkungan sekitarnya serta ikut dalam proses kerja.

3. Metode Studi Pustaka Metode studi pustaka ini dilakukan untuk menambah dan menunjang datadata yang diperoleh dari metode wawancara (interview) dan metode pengamatan (observasi).

4. Praktik Lapangan Praktik lapangan dilakukan di Bendungan Perjaya dan dibimbing oleh staf atau karyawan yang menangani bidangnya masing-masing maupun masyarakat yang ada di daerah tersebut agar penulis dapat lebih memahami keadaan yang ada di daerah Bendungan Perjaya sehingga data-data yang diperlukan untuk laporan praktek lapangan ini dapat lebih akurat.

IV. SISTEMATIKA PENULISAN

Rencana penulisan laporan praktik lapangan yang berjudul Tinjauan Efisiensi Penyaluran Air pada Sistem Irigasi Di Bendung Perjaya Kecamatan Martapura Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur adalah sebagai berikut: I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan Praktik Lapangan II. TINJAUAN PUSTAKA III. PELAKSANAAN PRAKTIK LAPANGAN A. Tempat dan Waktu B. Metode Praktik Lapangan C. Data-data yang diamati IV. KEADAAN UMUM A. Lokasi Daerah B. Keadaan Iklim dan Topografi C. Keadaan Operasi dan Pemeliharaan Saluran Sekunder D. Kinerja Jaringan Irigasi

V. PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN


A. Permasalahan B. Pembahasan VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN