Anda di halaman 1dari 18

LBM 4

STEP 1 1. Fraktur : terputusnya kontinuitas tulang atau tulang rawan yang biasanya disebabkan oleh trauma. 2. Radiologi : ilmu kedokteran yang mempelajari tentang pemeriksaaan menggunakan sinar X untuk melihat bagian dalam tubuh manusia. 3. Imobilisasi : memfiksasi bagian tulang yang fraktur agar tidak bergeses.

STEP 2 Wanita 65 th terjatuh, tungkai kanan sakit, adanya pemendekan tungkai, dilakukan px radiologi dan sementara dokter melakukan pinatalaksanaan imobilisasi.

STEP 3 1. Anatomi ossa pelvis Terdiri dari o Pars cingulum: Sepasang Os.coxce Satu Os.coccygis Os.sacrum Os.coccygis dan os.sacrum berfusi menjadi 1, dan merupakan perpanjangan dari columna vertebralis yang mempunyai facies aurikularis os.sacrum yang kan bersendi dengan facies aurikularis os.illii menjadi artikulatio sacroiliaka.

2. Fraktur a. Definisi

- terputusnya kontinuitas tulang atau tulang rawan yang biasanya disebabkan oleh trauma. b. Etiologi o o Karna trauma (cedera) Keadaan patologi kelemahan tulang

c. Klasifikasi + patfisnya ( dijelaskan ) Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekitar Fraktur tertutup : fraktur yang tidak berhubungan dengan dunia luar. Fraktur terbuka : fraktur yang berhubungan dengan dunia luar. Grade I : robekan kulit dengan kerusakan kulit otot Grade II : dengan memar kulit otot Grade III : lukanya sebesar 6-8 cm, dengan kerusakan saraf otot, pembuluh darah dan kulit Lokasi Epifisis Diafisis Metafisis Intraartikular Farktur komplikasi : mengenai pembuluh darah dan saraf di sekitarnya.

Berdasarkan bentuk garis patahny (Konfigurasi) Fraktur tranversal garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu pada tulang, sehingga mudah di reposisi. Farktur oblig Fraktur spiral Fraktur kompresi

Fraktur dahan hijau/ greenstick Fraktur avulsi

Berdasarkan jumlah garis patahannya Fraktur kominutif terjadi lebih dari satu patan dan saling berhubungan. Fraktur segmental ada 2 garis patahan di tulang yang sama tapi tidak saling berhubungan. Fraktur multiple Lebih dari 1 garis patahan pada tulang yang berbeda.

Berdasarkan hubungan antar fragmen patahannya Undisplaced masih berhubungan, masih dalam tempatnya, retak Displaced terpisah jauh, sudah berpindah tempat

Berdasarkan luas patahannya Komplit mengenai seluruh penampang tulang Inkomplit hanya sebagian dari penampang tulang.

d. Manifestasi klinis + Patofisiologi Bengkak Nyeri tekan Syok hipovolemik karna ada perdarahan pada fraktur terbuka. Deformitas Krepitasi Spasme otot Hematom Fungsiolesa Penurunan sensitisasi karena adanya kerusakan pada saraf Mobilitas abnormal

e. Dx Anamnesis PF Umum Tingkat kesadaran (Airway Breathing Circulation) Fraktur terbuka sepsis, Fraktur tertutup fungiolesa, dll Lokalisasi Dari tiap frakturnya: o o Inspeksi (Deformitas tulang,bengkak,pemendekan Palpasi (nyeri tekan,krepitasi, efusi (adanya cairan), hematom, neurovaskularisasi di bagian distasl fraktur (hangat, sensitivitas) Mobilisasi Px di tempat lain Identitas (usia,pekerjaan) Lokasi Mekanisme cedera Kejadian yang berhubungan dengan cedera Riwayat cedera (fraktur) Riwayat penyakit yang berhubungan (osteoporosis) Gangguan fungsi aktifitas (ada nyeri?)

o o Px radiologi

Foto rontgen, CT scan, MRI

f. Komplikasi Osteomielitis Osteoporosis Delayed-union (perlambatan penyambungan tulang), Mal union ( penyambungan tidak sempurna), Non union (sama sekali tidak menaymbung), Saal pemasangan gips

g. Penatalaksanaan bedah Penghentian perdarahan Imobilisasi pembalutan, pembidaian debridement operasi pemasangan gips.

Non bedah Analgesic Antibiotic

h. Factor yang mempengaruhi Ekstrinsik Dari kekuatan trauma,kecepatan trauma, durasi trauma

Intrinsic Dari densitas tulang,kelenturan tulang.

3. Dislokasi a. Definisi b. Etiologi

c. Klasifikasi d. Manifestasi klinis e. Penatalaksanaan 4. Mengapa terjadi pemendekan pada tungkai yang sakit?

STEP 4

STEP 5 LBM 4 STEP 7 Fraktur

Diagnosis Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernapasan (breathing), dan sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara terperinci

a. Anamnesis i. Riwayat trauma

Bila tidak ada riwayat trauma berarti fraktur patologis ii. Mekanisme trauma Kapan terjadinya Waktu terjadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai RS, mengingat golden period 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam komplikasi infeksi makin besar. Di mana Jenisnya Berat-ringan trauma Arah trauma posisi pasien iii. Meneliti kembali trauma di tempat lain secara sistematik dari kepala, muka, leher, dada dan perut.

b. Pemeriksaan umum i. Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti 1. syok pada fraktur multiple, fraktur pelvis, fraktur terbuka 2. tanda2 sepsis pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi

c. Pemeriksaan status lokalis Tanda2 klinis pd fraktur tulang panjang:


Look, cari apakah terdapat Feel, apakah terdapat nyeri tekan. Pemeriksaan nyeri sumbu tidak dilakukan lagi karena akan menambah trauma Move, untuk mencari:
Krepitasi, terasa bila fraktur digerakkan. Tetapi pada

tulang spongiosa atau tulang rawan epifisis tidak

terasa krepitasi. Pemeriksaan ini sebaiknya tidak dilakukan karena akan menambah trauma
Nyeri

bila digerakkan, baik pada gerakan aktif maupun pasif mampu dilakukan, range of motion (derajat dari ruang lingkup gerakan sendi), dan kekuatan.

Seberapa jauh gangguan fungsi, gerakan2 yang tdk

Kemudian lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto.

Sumber : mansjoer,A., dkk, kapita selekta kedokteran FK UI jilid 2 edisi 3.jakarta :2000.

Penatalaksanan

Analgesik yang sering digunakan Nama Obat Aspirin Kalium Diklofenak Natrium Diklofenak Ibuprofen Indometasin Ketoprofen Asam Mefenamat Naproxen Piroksikam Tenoksikam Meloksikam Dosis 325-1000 mg 50-200 mg 50 mg 200-800 mg 25-50 mg 25-75 mg 250 mg 250-500 mg 10-20 mg 20-40 mg 75 mg Jadwal 4-6 jam sekali 8 jam sekali 8 jam sekali 4-8 jam sekali 8-12 jam sekali 6-12 jam sekali 6 jam sekali 12 jam sekali 12-24 jam sekali 24 jam sekali 24 jam sekali

Celecoxib Nimesulide Ketorolak Asetaminofen Tramadol*

100 mg 100 mg 10-30 mg 500 mg 50-100 mg

12 jam sekali 12 jam sekali 4-6 jam sekali 6-8 jam sekali 8 jam sekali

Dikutip dari: Lucas Meliana 2003 Keterangan: Tramadol termasuk analgesik opioid dengan kerja selektif pada reseptor MU, kurang/tidak menimbulkan adiksi asetaminofen, daya anti inflamasi lemah. Waspada hepatotoksik Pilihan adalah terapi konservatif atau operatif. Pilihan harus mengingat tujuan pengobatan fraktur yaitu mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin. Terapi Konservatif 1. Proteksi saja Misalnya Mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri kedudukan baik. 2. Immobilisasi saja tanpa reposisi Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dengan kedudukan baik. 3. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips Misalnya pada fraktur supra condylair, fraktur colles, fraktur posisi dapat dengan anestesi umum atau anestesi lokal dengan menyuntikkan obat anestesi dalam hematoma fraktur. Fragmen distal dikembalikan pada kedudukan semula terhadap fragmen proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips. Misalnya: fraktur distal radius immobilisasi dalam pronasi penuh dan fleksi pergelangan. 4. Traksi Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga

sembuh atau dipasang gips setelah tidak sakit lagi. Pada anakanak dipakai traksi kulit (traksi Hamilton Russel/traksi Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg, untuk anak-anak waktu dan beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi definitif, bilamana tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips. Untuk orang dewasa traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction.

Terapi Operatif Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan radiologis (image intensifier, C - arm): 1. Reposisi tertutup - Fiksasi eksterna Setelah reposisi baik berdasarkan kontrol radiologis intraoperatif maka dipasang alat fiksasi eksterna. Fiksasi eksterna dapat model sederhana seperti Roger Anderson, Judet, screw dengan bone cement atau yang lebih canggih. 2. Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna. Misalnya: reposisi tertutup fraktur supra condylair humerus pada anak diikuti dengan pemasangan paralel pins. Reposisi tertutup fraktur collum pada anak diikuti dengan pemasangan paralel pins. Reposisi tertutup fraktur collum pada anak diikuti pinning dan immobilisasi gips. Cara ini sekarang terus dikembangkan menjadi "close naiing fraktur femur dan tibia, yaitu pemasangan fiksasi interna intra meduller (pen) tanpa membuka frakturnya. Terapi operatif dengan membuka frakturnya. 1. Reposisi terbuka dan fiksasi interna - ORIF (Open Reduction and Internal Fixation) Keuntungan cara ini adalah: - reposisi anatomis - mobilisasi dini tanpa fiksasi luar Indikasi ORIF: a. Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair

necrosis tinggi. Misalnya: - fraktur talus - fraktur collum femur b. Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya: fraktur avulsi fraktur dislokasi c. Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya: - fraktur Monteggia - fraktur Galeazzi - fraktur antebrachii - fraktur pergelangan kaki d. Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi, misalnya: fraktur femur. 2. Excisional Arthroplasty Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi. Misalnya: - fraktur caput radii pada orang dewasa - fraktur collum femur yang dilakukan operasi Girdlestone 3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore atau yang lainnya.

Sesuai tujuan pengobatan fraktur yaitu untuk mengembalikan fungsi, maka sejak awal sudah harus diperhatikan latihan-latihan untuk mencegah disuse atrofi otot dan kekakuan sendi, disertai mobilisasi dini.

Pengobatan fraktur terbuka Fraktur terbuka adalah suatu memerlukan penanganan segera.

keadaan

darurat

yang

Tindakan sudah harus dimulai dari fase pra-rumah sakit:

pembidaian menghentikan perdarahan dengan perban tekan menghentikan perdarahan besar dengan klem Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh karena 40% dari fraktur terbuka merupakan polytrauma. Tindakan life-saving harus selalu didahulukan dalam kerangka kerja terpadu (team work). -

Tindakan Debridement dan Posisi Terbuka 1. Penderita diberi toksoid, ATS atau tetanus human globulin. 2. Antibiotika untuk kuman gram positif dan negatif dengan dosis tinggi 3. Kultur dan resistensi kuman dari dasar luka fraktur terbuka. 4. Tourniquet disiapkan tetapi tidak perlu ditiup. 5. Setelah dalam narkose seluruh ekstremitas dicuci selama 5-10 menit dicukur 6. Luka di irigasi dengan cairan NaCI steril atau air matang 5-10 liter derajat 3 harus disemprot hingga bebas dari kontaminasi (jet lavage) 7. Tindakan desinfeksi dan pemasangan duk (draping). 8. Eksisi luka lapis demi lapis. Eksisi kulit, subkutis, fassia, otot. Otot-otot yang tidak vital dieksisi. Tulang-tulang kecil yang tidak melekat periosteum dibuang. Fragmen tulang besar yang perlu untuk stahui dipertahankan. 9. Bila letak luka tidak menguntungkan maka untuk reposisi terbuka dibuat insisi baru yang biasa dipergunakan, misalnya fraktur femur dengan fragmen distal menembus dekat lipat paha, untuk reposisi terbuka approach posterolateral biasa. 10.Luka fraktur terbuka selalu dibiarkan terbuka dan bila perlu ditutup setelah satu minggu setelah oedema menghilang. Luka untuk reposisi terbuka dijahit primer. 11.Fiksasi yang baik adalah fiksasi eksterna. Bagi yang sudah berpengalaman dan di rumah sakit dengan perlengkapan yang baik, penggunaan interna dapat dibenarkan. Bila fasilitas tidak memadai, gips sirkuler jendela atau traksi dapat digunakan dan kemudian dapat direncanakan, untuk fiksasi interna setelah luka sembuh (delayed internal fixation). Pemakaian antibiotika diteruskan untuk 3 hari dan bila diperlukan debridement harus diulang.

Dislokasi Definisi

Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi) (brunner&suddarth).

Keluarnya (bercerainya)kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera. (Arif Mansyur, dkk. 2000). Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang di sertai luksasi sendi yang disebut fraktur dis lokasi. ( Buku Ajar Ilmu Bedah, hal 1138).

http://hidayat2.wordpress.com/2009/03/31/askep-dislokasi/

Klasifikasi berdasarkan apa aja ! 1. Dislokasi congenital : Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan. 2. Dislokasi patologik : Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang. 3. Dislokasi traumatic : Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi : 1) Dislokasi Akut Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi. 2) Dislokasi Kronik 3) Dislokasi Berulang

http://hidayat2.wordpress.com/2009/03/31/askep-dislokasi/ Etiologi

1. Cedera olah raga Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.

2. Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi. 3. Terjatuh Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin 4. Patologis terjadinya tearligament dan kapsul articuler yang merupakan kompenen vital penghubung tulang
http://hidayat2.wordpress.com/2009/03/31/askep-dislokasi/

Manifestasi Klinis

Dislokasi sendi rahang Terjadi karena menguap atau tertawa terlalu lebar, terkena pukulan keras ketika rahang sedang terbuka. Dislokasi sendi bahu Tanda-tanda korban yang mengalami Dislokasi sendi bahu yaitu: Sendi bahu tidak dapat digerakakkan Korban mengendong tangan yang sakit dengan yang lain Korban tidak bisa memegang bahu yang berlawanan Kontur bahu hilang, bongkol sendi tidak teraba pada tempatnya Dislokasi panggul: Kaki pendek dibandingkan dengan kaki yang tidak mengalami dislokasi Kaput femur dapat diraba pada tanggul Setiap usaha menggerakkan pinggul akan mendatangkan rasa nyeri
http://rhephi.wordpress.com/2008/01/23/fraktur-dan-dislokasi/ o o o Diagnosis Anamnesis PF PP Komplikasi Penatalaksanan

Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat. Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi. Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar tetap dalam posisi stabil. Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 34X sehari yang berguna untuk mengembalikan kisaran sendi Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan. http://hidayat2.wordpress.com/2009/03/31/askep-dislokasi/