Anda di halaman 1dari 40

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Air 2.1.1. Pengertian Air Air merupakan senyawa kimia yang terdiri dari atom H dan O. Sebuah molekul air terdiri dari satu atom O yang berikatan kovalen dengan dua atom H. Molekul air yang satu dengan molekul air lainnya bergabung dengan satu ikatan hidrogen antara atom H dengan atom O dari molekul air yang lain. Adanya ikatan hidrogen inilah yang menyebabkan air mempunyai sifat-sifat yang khas seperti terlihat pada tabel berikut : Tabel 2.1. Sifat-sifat Penting dari Air
Sifat Pelarut yang sangat baik. Efek dan kegunaan Transport zat-zat makanan dan bahan buangan yang dihasilkan proses biologi. Kelarutan dan ionisasi dari senyawa ini tinggi dalam larutannya. Faktor pengendali dalam fisiologi; membentuk fenomena tetes dan permukaan. Tidak berwarna, mengakibatkan cahaya yang dibutuhkan untuk fotosintesis mencapai kedalaman tertentu. Air beku (es) mengapung, sirkulasi vertikal menghambat stratifikasi badan air. Menentukan transfer panas dan molekul air antara atmosfer dan badan air. Stabilitas dari temperature organisme dan wilayah geografis. Temperatur stabil pada titik beku. Panas laten dan peleburan lebih tinggi daripada cairan lain kecuali ammonia.

Konstanta dielektrik paling tinggi di antara cairan murni lainnya. Tegangan permukaan lebih tinggi daripada cairan lainnya. Transparan terhadap cahaya tampak dan sinar yang mempunyai panjang gelombang lebih besar dari ultraviolet. Bobot jenis tertinggi dalam bentuk cairan (fasa cair) pada 4 C

Panas penguapan lebih tinggi daripada yang lainnya. Kapasitas kalor lebih tinggi dibandingkan dengan cairan lain kecuali ammonia.

Sumber : Achmad, 2004

Universitas Sumatera Utara

Air adalah zat yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup termasuk manusia, hewan serta tumbuh-tumbuhan. Manfaat air bermacam-macam misalnya untuk diminum, untuk pembawa zat makanan pada tumbuh-tumbuhan, zat pelarut, pembersih dan sebagainya. Oleh karena itu penyediaan air merupakan salah satu kebutuhan utama bagi manusia untuk kelangsungan hidupnya dan menjadi faktor penentu dalam kesehatan dan kesejahteraan manusia. (Pandia,dkk, 1995). 2.1.2. Siklus Air di Bumi Kuantitas air yang cukup dimungkinkan karena adanya siklus hidrologi, yaitu siklus (daur) alami yang mengatur tersedianya air permukaan dan air tanah. Siklus ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1. Siklus Hidrologi Dengan adanya penyinaran matahari, maka air yang terdapat dipermukaan bumi akan menguap dan membentuk uap air. Karena adanya angin, maka uap air akan bersatu dan berada di tempat yang tinggi dan dikenal sebagai awan. Oleh angin,

Universitas Sumatera Utara

awan terbawa makin lama makin tinggi, sedangkan suhu di atas semakin rendah. Akibatnya awan menjadi titik-titik air dan kemudian jatuh ke bumi sebagai hujan. Air hujan meresap ke dalam tanah dan sebagian lagi mengalir di atas permukaan tanah. Jika air tersebut menjumpai lapisan yang rapat sehingga peresapan akan berkurang. Jika air keluar ke permukaan bumi, maka sumber air ini disebut mata air. Air permukaan yang mengalir di permukaan bumi umumnya berbentuk sungai. Jika air mengalir melalui suatu tempat yang rendah dan cekung, maka air akan berkumpul membentuk suatu danau atau telaga. Tetapi banyak diantara air tadi akan mengalir ke laut kembali untuk kemudian mengikuti siklus hidrologi. 2.1.3. Sumber-sumber Air Sumber-sumber air yang terdapat di alam ini terdiri dari (Pandia,dkk, 1995) : 1. Air laut Air laut mempunyai rasa asin karena mengandung garam NaCl. Kadar garam NaCl dalam air laut adalah lebih kurang 3%. Dengan keadaan ini maka air laut tidak memenuhi syarat untuk kebutuhan domestik maupun industri. 2. Air atmosfir, air meteorologik atau air hujan Dalam keadaan murni air ini sangat sangat bersih, tetapi sering pula terkontaminasi oleh kotoran industri dan sebagainya sehingga air ini mempunyai sifat yang agresif terutama terhadap pipa-pipa penyalur maupun bak-bak reservoir yang dapat mempercepat terjadinya korosi. Air atmosfir mempunyai sifat sadah karena mengandung ion bikarbonat sehingga boros dalam pemakaian sabun.

Universitas Sumatera Utara

3. Air permukaan Air permukaan merupakan air hujan yang mengalir pada permukaan bumi. Umumnya kualitas air permukaan ini akan berubah akibat adanya pengotoran selama alirannya, misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri dan sebagainya. Keadaan pengotoran untuk masing-masing permukaan akan berbeda-beda, tergantung pada keadaan daerah aliran air permukaan tersebut. Jenis pengotoran yang sering dijumpai berupa kotoran fisik, kimia dan bakteriologis. Air permukaan dapat dibedakan atas : a. Air sungai Air sungai mempunyai derajat pengotoran yang cukup tinggi. Debit yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan domestik pada umumnya dapat mencukupi. b. Air rawa dan danau Kebanyakan air rawa dan danau mempunyai warna, yang disebabkan oleh adanya zat-zat organis yang telah membusuk, misalnya asam humat yang larut dalam air. Dengan adanya pembusukan maka kadar zat organis dalam air rawa akan tinggi, dan umumnya kadar Fe dan Mn akan tinggi pula. Pada permukaan air rawa juga tumbuh algae, karena adanya sinar matahari dan O 2 sehingga Fe dan Mn mengendap. Karena itu, untuk pengambilan air sebaiknya dilakukan pada kedalaman tertentu di tengah-tengah agar endapan-endapan Fe dan Mn

Universitas Sumatera Utara

tidak terbawa, demikian pula dengan algae yang ada pada permukaan rawa dan danau. 4. Air tanah Berdasarkan lokasinya dapat dibedakan atas : a. Air tanah dangkal Terjadi karena daya peresapan air pada permukaan tanah. Akibatnya lumpur akan tertahan, demikian pula dengan sebagian bakteri. Air tanah yang jernih dapat mengandung lebih banyak zat kimia (garam-garam yang terlarut), karena melalui lapisan tanah yang mempunyai unsur-unsur kimia tertentu yang berfungsi sebagai saringan. Selain penyaringan, pengotoran juga dapat terus berlangsung, terutama pada bagian air yang dekat dengan permukaan tanah. Setelah menemukan lapisan rapat air, air yang terkumpul merupakan air tanah dangkal. Air tanah ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik melalui sumur-sumur dangkal. Air tanah dangkal dapat diperoleh pada kedalaman sekitar 15 meter. Kualitas air tanah dangkal sebagai sumur-sumur air minum cukup baik, tetapi kuantitasnya kurang dan tergantung kepada musim. Air tanah secara normal akan bebas dari kekeruhan dan organisme pathogen. Apabila air yang berasal dari aquifer (air tanah dangkal) yang mengandung zat organik, kandungan oksigen akan terurai dan kandungan karbon dioksida akan menjadi tinggi, air akan menjadi korosif. Pada kandungan zat organik dalam aquifer tinggi, kandungan oksigen akan habis

Universitas Sumatera Utara

terurai. Air yang tidak mengandung oksigen (anaerobik) akan melarutkan besi, mangan dan logam berat dalam air tanah. (Sanropie, dkk, 1984). b. Air tanah dalam Terdapat setelah lapisan rapat air yang pertama. Untuk pengambilan sampel air tanah dalam memerlukan bor dan memasukkan pipa hingga kedalaman 100-300 meter. Jika tekanan air tanah ini besar, maka air dapat menyembur keluar dan dalam keadaan ini sumur yang terbentuk disebut sumur artesis. Jika air tidak dapat keluar dengan sendirinya, maka digunakan pompa untuk membantu pengeluaran air tanah dalam. Kualitas air tanah dalam pada umumnya lebih baik dari air tanah dangkal, karena penyaringan air lebih sempurna. Kandungan kimianya tergantung pada lapisan tanah yang dilalui. Jika melalui tanah kapur, maka air akan menjadi sadah karena mengandung Ca(HCO 3 ) 2 dan Mg(HCO 3 ) 2. Jika melalui batuan granit, maka air akan lunak dan agresif karena mengandung gas CO 2 dan Mn(HCO 3 ) 2. Air yang bersifat sadah tidak ekonomis dalam penggunaannya karena : 1) terlalu boros dalam pemakaian sabun. Hal ini desebabkan air yang mengandung ion Ca2+ bereaksi dengan senyawa sodium stearat C 17 H 35 COONa dalam sabun membentuk endapan kalsium stearat C 17 H 35 (COO 2 )Ca yang menyebabkan tidak terbentuknya busa sabun. Setelah ion Ca2+ habis, baru busa akan terbentuk.

Universitas Sumatera Utara

2) mengganggu pada ketel-ketel air karena terjadi reaksi : Ca(HCO 3 ) 2 CaCO 3 + H 2 O + CO 2 Dengan terbentuknya kerak CaCO 3 sebagai batu ketel, maka akan mengganggu perpindahan panas sehingga sering terjadi ledakan pada ketelketel air atau sumbatan pada pipa-pipa. Kuantitas air tanah dalam umumnya mencukupi dan sedikit dipengaruhi oleh perubahan musim. c. Mata air Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah. Mata air yang berasal dari tanah dalam hampir tidak berpengaruh oleh musim dan kualitasnya sama dengan air tanah dalam. Berdasarkan cara munculnya ke permukaan tanah, mata air dibedakan atas: 1) air yang keluar dari lereng-lereng atau rembesan. 2) air yang keluar ke permukaan pada suatu dataran atau air artesis. 2.2. Air Bersih 2.2.1. Pengertian Air Bersih Air yang bersih mutlak diperlukan, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan penyakit. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416 Tahun 1990, air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan seharihari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.

Universitas Sumatera Utara

2.2.2. Persyaratan Biologi Menurut Slamet (2000), sumber-sumber air di alam pada umumnya mengandung bakteri, baik air hujan (air angkasa), air permukaan maupun air tanah. Jumlah dan jenis bakteri berbeda sesuai dengan tempat dan kondisi yang mempengaruhinya. Bakteri yang bersifat patogen berbahaya bagi kesehatan manusia. Penyakit yang ditransmisikan melalui fecal material dapat disebabkan virus, bakteri, protozoa dan metazoan. Oleh karena itu air yang digunakan untuk keperluan seharihari harus bebas dari bakteri patogen. Bakteri golongan Coli (Coliform bakteri) merupakan bakteri flora normal di usus manusia yang membantu proses pembusukan sisa-sisa makanan dan memadatkannya menjadi feses, namun bakteri ini juga merupakan indikator dari pencemaran air oleh bakteri patogen seperti Salmonella typhi, dan lain-lain. Selain bakteri patogen, bakteri non-patogen juga sebaiknya tidak terdapat di dalam air khususnya air minum. Bakteri non-patogen merupakan jenis bakteri yang tidak berbahaya bagi kesehatan tubuh. Namun, dapat menimbulkan bau dan rasa yang tidak enak, lendir dan kerak pada pipa. Beberapa bakteri non-patogen yang berada di dalam air antara lain Actinomycetes (Moldlikose bacteria), Fecal streptococci, dan Bakteri Besi (Iron Bacteria). Menurut Permenkes RI No. 416 Tahun 1990, total coliform yang diperbolehkan dalam air perpipaan adalah 10 per 100 ml air sedangkan untuk non perpipaan adalah 50 per 100 ml air.

Universitas Sumatera Utara

2.2.3. Persyaratan Fisik Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 416/Menkes/per/IX/1990, menyatakan bahwa air yang layak pakai sebagai sumber air bersih antara lain harus memenuhi persyaratan secara fisik yaitu tidak berbau, tidak berasa, tidak keruh dan tidak bewarna. Adapun sifat-sifat air secara fisik dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya sebagai berikut: 1. Suhu Air yang baik mempunyai temperatur normal, 8 dari suhu kamar (27C). Suhu air yang melebihi batas normal menunjukkan indikasi terdapat bahan kimia yang terlarut dalam jumlah yang cukup besar (misalnya, fenol atau belerang) atau sedang terjadi proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. Menurut Permenkes No. 416 tahun 1990, suhu air yang memenuhi syarat kesehatan adalah sebesar suhu udara 3 C. 2. Bau dan Rasa Bau dan rasa air merupakan dua hal yang mempengaruhi kualitas air secara bersamaan. Bau dan rasa dapat dirasakan langsung oleh indra penciuman dan pengecap. Biasanya, bau dan rasa saling berhubungan. Air yang berbau busuk memiliki rasa kurang (tidak) enak. Bau dan rasa biasanya disebabkan oleh adanya bahan-bahan organik yang membusuk, tipe-tipe tertentu organisme mikroskopik, serta persenyawaan-persenyawaan kimia seperti fenol. Bahan-bahan yang

menyebabkan bau dan rasa ini berasal dari berbagai sumber. Intensitas bau dan rasa dapat meningkat bila di dalam air dilakukan klorinasi. Karena pengukuran bau dan

Universitas Sumatera Utara

rasa itu tergantung pada reaksi individual, maka hasil yang dilaporkan tidak mutlak. Untuk standard air bersih dan air minum ditetapkan oleh Permenkes RI No. 416 Tahun 1990, yaitu tidak berbau dan tidak berasa (Depkes RI, 1997). 3. Warna Banyaknya air permukaan khususnya yang berasal dari rawa-rawa dan daerah pasang surut, seringkali bewarna. Warna pada air terjadi karena adanya zat-zat substansi yang terlarut dalam air, dimana zat-zat tersebut dapat terjadinya karena proses dekomposisi dalam berbagai tingkat, asam humus dan bahan yang berasal dari bahan humus serta dekomposisi lignin dianggap sebagai bahan yang memberi warna yang paling utama, demikian juga unsur besi yang berkaitan dengan zat organik dapat menghasilkan warna sedemikian tinggi, warna yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang tersuspensi dikatakan sebagai apparent colour yang berbahaya bagi tubuh manusia, sedangkan yang disebabkan oleh mikroorganisme atau kekentalan organis atau tumbuh-tumbuhan yang merupakan kolodial disebut sebagai true colour. Untuk mengukur tingkat warna digunakan satuan TCU (True colour Unit). Berdasarkan Permenkes RI No. 416 tahun 1990 tingkat warna untuk air bersih dianjurkan 15 TCU dan yang diperbolehkan 50 TCU (Depkes RI, 1997). 4. Zat Padat Terlarut Bahan padat adalah bahan yang tertinggal sebagai residu pada penguapan dan pengeringan pada suhu 103C-105C. Kebanyakan bahan padat terdapat dalam bentuk terlarut (dissolved) dalam air yang berupa bahan-bahan kimia anorganik dan gas-gas yang terlarut. Pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan daripada penyimpangan standart dari total solit (padatan terlarut) yakni akan mengakibatkan air tidak enak

Universitas Sumatera Utara

pada lidah, rasa mual terutama yang disebabkan oleh natrium sulfat dan magnesium sulfat, penyebab serangan jantung (cardiacdisease) serta dapat menyebabkan toxemia pada wanita hamil. Standar untuk zat padat terlarut ditetapkan oleh Permenkes No. 416 Tahun 1990, yaitu dianjurkan 500 mg/l dan diperbolehkan 1500 mg/l (Depkes RI, 1997). 5. Kekeruhan Kualitas air yang baik adalah jernih (bening) dan tidak keruh. Kekeruhan air disebabkan oleh partikel-partikel yang tersuspensi di dalam air yang menyebabkan air terlihat keruh, kotor, bahkan berlumpur. Bahan-bahan yang menyebabkan air keruh antara lain tanah liat, pasir dan lumpur. Air keruh bukan berarti tidak dapat diminum atau berbahaya bagi kesehatan. Namun, dari segi estetika, air keruh tidak layak atau tidak wajar untuk diminum. Kekeruhan pada air merupakan satu hal yang harus dipertimbangkan dalam penyediaan air bagi umum, mengingat bahwa kekeruhan tersebut akan mengurangi segi estetika, menyulitkan dalam usaha penyaringan dan akan mengurangi efektivitas usaha desinfeksi (Sutrisno, 1991). Tingkat kekeruhan air dapat diketahui melalui pemeriksaan laboratorium dengan metode Turbidimeter. Untuk standar air bersih ditetapkan oleh Permenkes RI No. 416 Tahun 1990, yakni kekeruhan yang dianjurkan 5 NTU (Nephelometric Turbidy Unit) dan yang diperbolehkan hanya 25 NTU (Depkes RI, 1997). 2.2.4. Persyaratan Kimia Menurut Slamet (2000), air yang baik adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan antara lain Air raksa

Universitas Sumatera Utara

(Hg), Aluminium (Al), Arsen (As), Barium (Ba), Besi (Fe), Flourida (F), Kalsium (Ca), Derajat keasaman (pH) dan zat-zat kimia lainnya. Kandungan zat kimia dalam air bersih yang digunakan sehari-hari hendaknya tidak melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan seperti tercantum dalam Permenkes RI No. 416 Tahun 1990. Penggunaan air yang mengandung bahan kimia beracun dan zat-zat kimia yang melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan berakibat tidak baik lagi bagi kesehatan dan material yang digunakan manusia, contohnya pH. Air yang baik sebaiknya bersifat netral yaitu tidak asam dan tidak basa untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jaringan distribusi air. Menurut Permenkes RI No. 416 tahun 1990, batas pH minimum dan maksimum untuk air bersih adalah 6,5-8,5. Khusus untuk air hujan, pH minimumnya adalah 5,5. Air merupakan pelarut yang baik sekali maka dengan dibantu dengan pH yang tidak netral dapat melarutkan berbagai elemen kimia yang dilaluinya. 2.2.5. Persyaratan Radioaktif Warlina (2004) menyatakan bahwa tidak tertutup kemungkanan adanya pembuangan sisa zat radioaktif ke air lingkungan secara langsung. Ini dimungkinkan karena aplikasi teknologi nuklir yang menggunakan zat radioaktif pada berbagai bidang sudah banyak dikembangkan, sebagai contoh adalah aplikasi teknologi nuklir pada bidang pertanian, kedokteran, farmasi dan lain-lain. Adanya zat radioaktif dalam air lingkungan jelas sangat membahayakan bagi lingkungan dan manusia. Zat radioaktif dapat menimbulkan kerusakan biologis baik melalui efek langsung atau efek tertunda. Dari segi radioaktivitas, apapun bentuk radioaktivitas efeknya adalah sama, yakni menimbulkan kerusakan pada sel yang terpapar. Kerusakan dapat berupa

Universitas Sumatera Utara

kematian, dan perubahan komposisi genetik. Kematian sel dapat diganti kembali apabila sel dapat beregenerasi dan apabila tidak seluruh sel mati. Perubahan genetis dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker dan mutasi. 2.3. Logam pada Air Banyak logam berat baik yang bersifat toksik maupun esensial terlarut dalam air dan mencemari air tawar maupun air laut. Sumber pencemaran ini banyak berasal dari pertambangan, peleburan logam, dan jenis industri lainnya, dan dapat juga berasal dari lahan pertanian yang menggunakan pupuk atau antihama yang mengandung logam. (Darmono, 2001). Pada dasarnya air tanah merupakan air hujan yang bersentuhan dengan tanah di daerah peresapan. Tanah dan bebatuan terdiri dari berbagai jenis mineral yang tersusun oleh unsur-unsur kimia (anorganik) yang kompleks. Unsur-unsur kimia organik dalam mineral tersebut, ada yang berguna bagi kehidupan manusia juga ada yang bersifat racun bagi tubuh manusia. Umumnya tingkat keasaman (pH) air hujan pada saat mencapai permukaan bumi berkisar 6,5 (masih relatif netral) sehingga akan melarutkan berbagai jenis mineral menjadi unsur-unsur kimia yang kompleks. Semakin lama air tersebut bersentuhan dengan tanah atau bebatuan maka semakin banyak pula mineral-mineral yang larut sehingga konsentrasi unsur-unsur tertentu akan semakin tinggi dalam air. Pada air sumur gali yang merupakan sumber air yang berasal dari air tanah, masalah logam yang kerap kali muncul adalah adanya logam besi (Fe) dan mangan (Mn) pada air tersebut. Pada awalnya air yang disedot dari dalam tanah dan keluar dari kran berwarna bening, namun setelah beberapa saat akan tampak berwarna

Universitas Sumatera Utara

kuning, bahkan dalam jangka waktu lama akan membentuk endapan kuning dan menempel didasar bak penampungan air. Pada kebanyakan sumur dangkal sampai dalam, dimana oksigen terlarut rendah dan kandungan didalam tanah terdapat mineral besi (Fe) dan mangan (Mn), maka sewaktu air disedot ke permukaan dan mulai terkena udara, air yang mengandung besi (Fe) dan mangan (Mn) tersebut teroksidasi dan mulai mengakibatkan perubahan air yang awalnya tampak bening menjadi berwarna kuning sampai coklat kemerahan. Perubahan warna tersebut tergantung berapa besar kandungan besi (Fe) dan mangan (Mn) dalam air, semakin tinggi kandungan besi (Fe) dan mangan (Mn) maka semakin tinggi warna air tersebut (Anonymous, 2010). 2.4. Besi (Fe) 2.4.1. Defenisi Besi Besi adalah salah satu elemen kimiawi yang dapat ditemui pada hampir setiap tempat tempat di bumi, pada semua lapisan geologis dan semua badan air. Pada umumnya, besi yang ada di dalam air dapat bersifat : a. terlarut sebagai Fe2+ (fero) atau Fe3+ (feri); b. tersuspensi sebagai butir koloidal (diameter < 1 m) atau lebih besar, seperti Fe 2 O 3 , FeO, FeOOH, Fe(OH) 3 dan sebagainya; c. tergabung dengan zat organis atau zat padat yang inorganis (seperti tanah liat). Pada air permukaan jarang ditemui kadar Fe lebih besar dari 1 mg/l, tetapi di dalam air tanah kadar Fe dapat jauh lebih tinggi. Konsentrasi Fe yang tinggi ini dapat dirasakan dan dapat menodai kain dan perkakas dapur.

Universitas Sumatera Utara

Pada air yang tidak mengandung oksigen O 2 , seperti seringkali air tanah, besi berada sebagai Fe2+ yang cukup dapat terlarut, sedangkan pada air sungai yang mengalir dan terjadi aerasi, Fe2+ teroksidasi menjadi Fe3+; Fe3+ ini sulit larut pada pH 6 sampai 8 (kelarutan hanya di bawah beberapa g/l), bahkan dapat menjadi ferihidroksida Fe(OH) 3 , atau salah satu jenis oksida yang merupakan zat padat dan bias mengendap. Demikian dalam air sungai, besi berada sebagai Fe2+, Fe3+ terlarut dan Fe3+ dalam bentuk senyawa organis berupa koloidal. 2.4.2. Kandungan Besi (Fe) dalam Air Fe berada dalam tanah dan batuan sebagai ferioksida (Fe 2 O 3 ) dan ferihidroksida (Fe(OH) 3 ). Dalam air, besi berbentuk ferobikarbonat (Fe(HCO 3 ) 2 ), ferohidroksida (Fe(OH) 2 ), ferosulfat (FeSO 4 ) dan besi organik kompleks. Air tanah mengandung besi terlarut berbentuk ferro (Fe2+). Jika air tanah dipompakan keluar dan kontak dengan udara (oksigen) maka besi (Fe2+) akan teroksidasi menjadi ferihidroksida (Fe(OH) 3 ). Ferihidroksida dapat mengendap dan berwarna kuning kecoklatan. Hal ini dapat menodai peralatan porselen dan cucian. Bakteri besi (Crenothrix dan Gallionella) memanfaatkan besi fero (Fe2+) sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya dan mengendapkan ferrihidroksida. Pertumbuhan bakteri besi yang terlalu cepat (karena adanya besi ferro) menyebabkan diameter pipa berkurang dan lama kelamaan pipa akan tersumbat. Air tanah yang mengandung CO 2 tinggi dan O 2 yang terlarut sedikit, dapat mempercepat proses pelarutan besi (dari bentuk tidak terlarut menjadi terlarut). Sedangkan air tanah yang alkalinitasnya tinggi, biasanya memiliki konsentrasi besi yang rendah, karena besi teroksidasi dan mengendap pada pH tinggi. Air tanah yang

Universitas Sumatera Utara

mengandung besi dan organik yang tinggi akan membentuk ikatan kompleks yang sulit mengendap dengan aerasi. Kandungan besi yang tinggi merugikan, karena dapat menyebabkan air teh menjadi hitam, sayuran yang direbus berwarna gelap, menimbulkan rasa besi/logam, astringent atau obat dan merugikan jika dipakai dalam produksi. Tubuh memerlukan besi sebesar 14 mg/hr, kekurangan besi dapat menyebabkan anemia, namun pemenuhan besi dalam air minum sedikit sekali karena kandungan besi dalam air tanah yang melebihi 0,3 mg/l dapat menyebabkan gangguan kesehatan. (Anonymous, 2010). 2.4.3. Dampak Besi (Fe) terhadap Kesehatan Unsur besi merupakan unsur yang penting dan berguna untuk metabolisme tubuh. Setiap hari tubuh memerlukan unsur besi 7-35 mg/hari yang sebagian diperoleh dari air. Tetapi zat besi (Fe) yang melebihi dosis yang diperlukan oleh tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan. Depkes RI menetapkan kadar maksimum unsur besi terdapat dalam air minum adalah 0,3 mg/l (Sutrisno dan Suciastuti, 1987). Besi (Fe) dibutuhkan tubuh dalam pembentukan hemoglobin. Banyaknya besi dalam tubuh dikendalikan oleh fase adsorpsi. Tubuh manusia tidak dapat mengekskresikan besi (Fe), karenanya mereka yang sering mendapat transfusi darah, warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. Air minum yang mengandung besi cenderung menimbulkan rasa mual apabila dikonsumsi. Sekalipun Fe diperlukan oleh tubuh, tetapi dalam dosis yang besar dapat merusak dinding usus. Kematian sering disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini. Kadar Fe yang lebih dari 1 mg/l akan menyebabkan terjadinya iritasi pada mata dan kulit. Apabila kelarutan besi

Universitas Sumatera Utara

dalam air melebihi 10 mg/l akan menyebabkan air berbau seperti telur busuk. Debu Fe juga dapat diakumulasi dalam alveoli dan menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru (Slamet, 2004) Hemokromatis merupakan penyakit akibat kelebihan zat besi. Biasanya penyakit ini memiliki tanda-tanda diantaranya kulit berwarna merah, kanker hati, diabetes, impotensi, kelelahan dan gangguan jantung. Seseorang yang telah mendapat penyakit tersebut akan lebih rentan terhadap serangan jantung, stroke, dan gangguan pembuluh darah (Widowati, 2008). Pada Hemokromatis primer besi yang diserap, disimpan dalam jumlah yang berlebihan dalam tubuh. Feritrin berada dalam keadaan jenuh akan besi sehingga kelebihan mineral ini akan disimpan dalam bentuk kompleks dengan mineral lain yaitu hemosiderin. Akibatnya terjadilah sirosis hati dan kerusakan pancreas sehingga menimbulkan diabetes. Hemokromatis sekunder terjadi karena transfusi yang berulang-ulang. Dalam keadaan ini besi masuk kedalam tubuh sebagai hemoglobin dari darah yang ditransfusikan dan kelebihan besi ini tidak disekresikan. 2.5. Mangan (Mn) 2.5.1. Defenisi Mangan (Mn) Mangan merupakan unsur logam yang termasuk golongan VII, dengan berat atom 54,93, titik lebur 12470C, dan titik didihnya 20320C (BPPT, 2004). Menurut Slamet (2007) mangan (Mn) adalah metal kelabu-kemerahan. Di alam jarang sekali dalam keadaan unsur. Umumnya berada dalam keadaan senyawa dengan berbagai macam valensi. Di dalam hubungannya dengan kualitas air yang sering dijumpai

Universitas Sumatera Utara

adalah senyawa mangan dengan valensi 2, valensi 4, dan valensi 6. Di dalam air minum mangan (Mn) menimbulkan rasa, warna (coklat/ungu/hitam), dan kekeruhan (Fauziah, 2010). 2.5.2. Kandungan Mangan (Mn) dalam Air Toksisitas mangan relatif sudah tampak pada konsentrasi rendah. Dengan demikian tingkat kandungan mangan yang diizinkan dalam air yang digunakan untuk keperluan domestik sangat rendah, yaitu dibawah 0,05 mg/l. Dalam kondisi aerob mangan dalam perairan terdapat dalam bentuk MnO 2 dan pada dasar perairan tereduksi menjadi Mn2+ atau dalam air yang kekurangan oksigen (DO rendah). Oleh karena itu, pemakaian air yang berasal dari suatu sumber air, sering ditemukan mangan dalam konsentrasi tinggi. Air yang berasal dari sumber tambang asam dapat mengandung mangan terlarut, pada konsentrasi 1 mg/l dapat ditemukan pada perairan dengan aliran yang berasal dari tambang asam. Pada pH yang agak tinggi dan kondisi aerob terbentuk mangan yang tidak larut seperti MnO 2 , Mn 3 O 4 atau MnCO 3 meskipun oksidasi dari Mn2+ itu berjalan relative lambat (Achmad, 2004). 2.5.3. Dampak Mangan (Mn) terhadap Kesehatan Dalam jumlah yang kecil (< 0,5 mg/l) , mangan (Mn) dalam air tidak menimbulkan gangguan kesehatan, melainkan bermanfaat dalam menjaga kesehatan otak dan tulang, berperan dalam pertumbuhan rambut dan kuku, serta membantu menghasilkan enzim untuk metabolisme tubuh untuk mengubah karbohidrat dan protein membentuk energi yang akan digunakan. Mangan tersebar di seluruh jaringan tubuh. Konsentrasi mangan tertinggi terdapat di hati, kelenjar tiroid, pituitari,

Universitas Sumatera Utara

pankreas, ginjal, dan tulang. Jumlah total mangan pada laki-laki yang memiliki berat 70 kg sekitar 12-20 mg. Jumlah pemasukan harian sampai saat ini belum dapat ditentukan secara pasti, meskipun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa jumlah minimal sekitar 2,5 hingga 7 mg mangan per hari dapat mencukupi kebutuhan manusia (Anonymous, 2010). Tetapi dalam jumlah yang besar (> 0,5 mg/l) , mangan (Mn) dalam air minum bersifat neurotoksik. Gejala yang timbul berupa gejala susunan syaraf : insomnia, kemudian lemah pada kaki dan otot muka sehingga ekspresi muka menjadi beku dan muka tampak seperti topeng/mask (Slamet, 2007). 2.6. Teknologi Penurunan Kandungan Besi (Fe) dan Mangan (Mn) dalam Air Penurunan kandungan besi dan mangan dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain : 1. Oksidasi Oksidasi dapat dilakukan dengan menggunakan oksigen (aerasi), klorin, klordioksida, pottasium permanganat, atau ozon. a. Aerasi Aerasi bertujuan menghilangkan rasa dan bau (yang disebabkan hidrogen sulfide dan komponen organik) dengan oksidasi/valatilisasi, mengoksidasi Fe dan Mn, transfer oksigen ke dalam air dan membebaskan volatil gas dari dalam air. Tipe aerator ada 4, yaitu gravity aerator (cascade aerator, packing tower, tray aerator), spray aerator, diffuser dan mechanical aerator. Oksidasi Fe

Universitas Sumatera Utara

dapat berjalan dengan baik pada pH 7,5-8 dalam waktu 15 menit. Endapan besi yang terbentuk dapat dihilangkan dengan koagulasi dan filtrasi. Aerasi mampu mengendapkan besi jika tidak ada zat organik jenis humic dan fulvic acid (jika ada zat tersebut akan membentuk senyawa kompleks dengan besi yang tidak dapat mengendap secara sempurna setelah aerasi dan biasanya ikatan kompleks ini berwarna, selain itu memperlambat proses oksidasi). b. Klorinasi Klorin digunakan karena memiliki kecepatan oksidasi lebih besar daripada aerasi dan mampu mengoksidasi besi yang berikatan dengan zat organik, tapi kecepatan oksidasi berkurang. pH yang baik pada 8-8,3 oksidasi besi membutuhkan waktu 15-30 menit. Jika dalam air baku mengandung ammonia menyebabkan terbentuknya kloramin sehingga laju oksidasi berkurang. Keefektifan oksidasi dipengaruhi kehadiran bahan organik seperti asam humic dan asam fulvic). Pada oksidasi besi, bahan organik menggunakan kebutuhan sebagian klorin dan dapat juga membentuk besi organik kompleks sehingga memberi efek yang kurang baik pada proses oksidasi. Klorin mengoksidasi bahan organik humic dan fulvic acid membentuk trihalomethan yang bersifat karsinogenik. Selama proses oksidasi klorin, sisa klorin seharusnya dijaga sampai pada proses berikutnya untuk mencegah penurunan kondisi yang dapat menyebabkan terlarutnya kembali endapan. Pada umumnya proses standard penurunan Fe dan Mn menggunakan koagulasi dengan alum, flokulasi, pengendapan dan filtrasi dengan didahului proses preklorinasi. Dosis sisa klor yang dianjurkan minimum 0,5 mg/l.

Universitas Sumatera Utara

c. Klordioksida Klordioksida adalah oksidan kuat yang secara efektif mengoksidasi Fe dan Mn yang berikatan dengan zat organik. Klordioksida merupakan gas yang tidak stabil dan mudah meledak. pH yang diperlukan untuk reaksi oksidasi besi minimum 7. Secara teoritis 1 mg/l klordioksida mampu mengoksidasi 0,83 mg/l besi dan 0,41 mg/l mangan. Penggunaan klordioksida lebih mahal sekitar 5x lipat dibandingkan dengan klorin. d. Pottasium Permanganat Merupakan oksidan kuat, waktu oksidasi 5-10 menit pada pH 7,0. Secara teoritis 1 mg/l KMnO 4 mengoksidasi 1,06 mg/l besi dan 0,52 mg/l mangan. Proses oksidasi akan lebih efektif jika ada penambahan klorin sebelumnya. Penggunaan oksidan ini lebih mahal, namun tidak menghasilkan

trihalomethan jika digunakan untuk mengoksidasi bahan organik. e. Ozonisasi Ozon dapat digunakan untuk mengoksidasi Fe dan Mn dengan kecepatan oksidasi yang tinggi. Secara teoritis untuk mengoksidasi 2,3 mg/l Fe dan 1,15 mg/l diperlukan 1 mg/l ozon. Dosis ozon yang berlebih di reservoir akan membentuk pottasium permanganat yang menyebabkan air berwarna merah muda. 2. Ion Exchange Air baku yang mengandung besi dan mangan < 0,5 mg/l dapat diturunkan menggunakan ion exchange, selain itu unit ini juga mampu menghilangkan kesadahan. Proses ini sebaiknya pada kondisi anaerobik untuk menjaga elemen-

Universitas Sumatera Utara

elemen agar tidak teroksidasi. Proses ini biasanya digunakan dalam industri. Kekurangannya adalah bahan kimia untuk regenerasi mahal, korosif, bahaya dan buangan regeran sulit diolah, unit yang otomatis memerlukan perawatan ali dan unit yang tidak otomatis memerlukan operator yang terlatih dan perhatian yang serius. 3. Mangan Zeolite Filtration Zeolit adalah pasir hijau dilapisi mangan. Setiap butir pasir dilapisi dengan asam-asam besi dan mangan. Tipe media filter ini adalah bentuk dari ion exchange yang biasa digunakan di industri. Proses ini membutuhkan penambahan potasium permanganat pada influen filter secara kontinu, yang berfungsi untuk mengoksidasi besi dan mangan serta berfungsi untuk regenerasi media filter. Dosis pottasium permanganat harus benar-benar tepat karena sisa pottasium permanganat

menyebabkan air berwarna merah muda. Disisi lain, dosis yang tidak tepat akan memungkinkan lolosnya mangan di effluen filter. Pada kasus pengolahan air tanah, zeolit lebih baik ditempatkan pada filter bertekanan daripada filter gravitasi karena untuk menjaga tekanan discharge dari pompa sumur. Perencananan seperti ini menghemat biaya pemompaan dan backwash menggunakan air dari effluen filter lain. 4. Sequestering Process Proses ini biasanya digunakan untuk air baku dengan kandungan Fe dan Mn < 2 mg/l, termasuk kandungan sodium silica. trisodium phosphate, hexametaphosphat dan zinc orthophosphat. Proses ini jarang digunakan untuk pengolahan air ukuran menengah sampai sistem penyediaan air domestik karena biaya yang besar.

Universitas Sumatera Utara

5. Lime Softening Besi dan mangan lebih efektif dihilangkan dengan proses pelunakan karena dapat membuat pH menjadi 9,5 yang merupakan kondisi yang baik untuk oksidasi Fe dan Mn. Berdasarkan hubungan pH dengan kelarutan 83% besi mengendap pada pH 8,4 dan pada pH 8,8 - 9,6 besi akan mengendap 92%-100%. Mn akan mengendap maksimum pada pH 9,4 - 9,8 sebanyak 98-100%. Lime softening akan lebih efisien jika didahului dengan proses aerasi. 6. Filtrasi (Penyaringan) Secara umum filtrasi adalah proses yang digunakan pada pengolahan air bersih untuk memisahkan bahan pengotor (partikulat) yang terdapat dalam air. Pada prosesnya air merembes dan melewati media filter sehingga akan terakumulasi pada permukaan filter dan terkumpul sepanjang kedalaman media yang dilewatinya. Filter juga mempunyai kemampuan untuk memisahkan partikulat semua ukuran termasuk di dalamnya algae, virus, asbestos, dan koloid-koloid tanah. Media filter yang sering digunakan yaitu berupa pasir. Secara garis besar kemampuan filtrasi dapat dibedakan atas saringan pasir lambat, saringan pasir cepat, saringan berkecepatan tinggi dan saringan bertekanan. 7. Adsorpsi (Penjerapan) Adsorpsi adalah proses pengumpulan subtansi terlarut (soluble) yang ada dalam larutan oleh permukaan benda penyerap di mana terjadi suatu ikatan kimia fisika antara subtansi dan penyerapnya (Sembiring, 2003). Adsorpsi terjadi pada permukaan akibat gaya-gaya atom dan molekul-molekul pada permukaan tersebut. Zat yang menjerap disebut adsorben, sedangkan zat yang terjerap disebut adsorbat.

Universitas Sumatera Utara

Adsorben dapat berupa zat padat maupun zat cair. Adsorben padat diantaranya adalah silika gel, alumina, platina halus, selulosa, dan arang aktif. Adsorbat dapat berupa zat padat, zat cair, dan gas. Zat pengadsorpsi (adsorbent) adalah material yang sangat berpori. Lokasi proses adsorpsi terjadi pada dinding-dinding pori-pori atau letak-letak tertentu dalam partikel adsorbent. Karena pori-pori itu biasanya sangat kecil, luas permukaan dalam menjadi beberapa orde lebih besar daripada permukaan luar. Pemisahan terjadi karena perbedaan berat molekul atau karena perbedaan polaritas menyebabkan sebagian molekul melekat pada permukaan itu lebih erat daripada molekul-molekul lainnya (McCabe dalam Setiati, 2004). Adapun bahan yang dapat digunakan sebagai adsorben diantaranya yaitu : a. Zeolit Zeolit termasuk dalam kelompok mineral yang terjadi dari perubahan batuan gunung api termasuk batuan gunung api berbulir halus yang berkomposisi riolitik atau banyak mengandung massa gelas. Sifat-sifat fisik dari mineral ini adalah berbentuk kristal yang indah dan menarik, namun agak lunak dengan warna yang bermacam-macam yaitu warna hijau, kebiru-biruan, putih dan coklat. Zeolit dapat berasal dari alam yaitu dari batuan gunung api dan dapat berupa zeolit buatan yang terbuat dari gel aluminium, natrium aluminat, natrium hidroksida. Zeolit ini dapat digunakan sebagai bahan penyerap warna, penyerap amoniak, dll.

Universitas Sumatera Utara

b. Moleculer Sieves (Bahan-bahan berpori) Bahan-bahan sebagai moleculer sieves adalah bahan yang memiliki rongga-rongga sehingga dapat berfungsi sebagai penyaring molekul. c. Karbon Aktif Karbon aktif atau arang aktif merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Arang aktif dapat dibuat dari semua bahan yang mengandung karbon, baik organik maupun anorganik asal bahan tersebut memiliki struktur berpori (Sudrajat dan Salim, 1994). Arang aktif dapat dibuat dari arang biasa yang berasal dari tumbuhan ataupun barang tambang. Bahan-bahan tersebut adalah berbagai jenis kayu, serbuk gergaji, sekam padi, dan batu bara (Pari, 1995). Karbon aktif paling sering digunakan sebagai bahan penyerap (adsorbent). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika dilakukan aktivasi terhadap arang atau bahan karbon aktif tersebut dengan menggunakan bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju adsorpsi : a. Pengadukan Makin cepat pengadukan, makin cepat pula penyerapan dan sebaliknya.

Universitas Sumatera Utara

b. Karakteristik zat penyerap Ukuran partikel dan luas permukaan zat penyerap mempengaruhi laju penyerapan. Makin kecil diameter partikel, makin luas permukaan zat penyerap dan laju adsorpsi makin cepat. Untuk meningkatkan kecepatan adsorpsi, dianjurkan agar menggunakan absorben yang telah dihaluskan. c. Daya larut dari zat yang diserap d. Ukuran molekul adsorbat Makin besar ukuran molekul dan ukuran pori maka gaya tarik menarik antara molekul adsorben akan makin besar. e. pH f. Temperatur Laju penyerapan bertambah dengan naiknya temperatur dan begitu pula sebaliknya. Sistem adsorbsi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu : a. Cara Batch Cara ini adalah dengan menggunakan bejana, air sumur yang akan dianalisis diaduk bersama adsorben dengan kecepatan dan waktu tertentu. Selanjutnya proses adsorbsi dibiarkan sampai mencapai kesetimbangan. Sistem batch sering digunakan apabila air sumur yang akan diolah volumenya relatif tidak terlalu besar, oleh karena air bersih dalam volume besar tentunya membutuhkan bejana yang besar pula. Sistem ini sering digunakan untuk proses penjernihan air.

Universitas Sumatera Utara

b. Cara Kolom Cara kolom adalah menggunakan silinder vertikal atau horizontal. Air bersih yang akan diolah dialirkan secara terus-menerus ke dalam suatu kolom adsorbsi. Pemakaian sistem kolom ini sangat cocok untuk pengolahan air bersih dalam volume besar. 2.7. Karbon Aktif Karbon atau arang aktif adalah material yang berbentuk butiran atau bubuk yang berasal dari material yang mengandung karbon misalnya batubara, kulit singkong, sabut kelapa, dan sebagainya. Dengan pengolahan tertentu yaitu proses aktivasi seperti perlakuan dengan tekanan dan suhu tinggi, dapat diperoleh karbon aktif yang memiliki permukaan dalam yang luas. Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi kebocoran udara didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Arang selain digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap arang tersebut dilakukan aktifasi dengan bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Dengan demikian, arang akan mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia. Arang yang demikian disebut sebagai arang aktif.

Universitas Sumatera Utara

Dalam satu gram karbon aktif, pada umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2, sehingga sangat efektif dalam menangkap partikel-partikel yang sangat halus berukuran 0.01-0.0000001 mm. Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa saja yang kontak dengan karbon tersebut. Dalam waktu 60 jam biasanya karbon aktif tersebut manjadi jenuh dan tidak aktif lagi. Oleh karena itu biasanya arang aktif di kemas dalam kemasan yang kedap udara. Sampai tahap tertentu beberapa jenis arang aktif dapat di reaktifasi kembali, meskipun demikian tidak jarang yang disarankan untuk sekali pakai. Reaktifasi karbon aktif sangat tergantung dari metode aktivasi sebelumnya. Berdasarkan penelitian Snell dan Hilton dalam Rahayu (2002) diketahui bahwa arang aktif mempunyai muatan positif. Arang aktif merupakan mikrokristalin (amorphous) yang tersusun oleh cincin 6-karbon (yang membentuk kisi-kisi heksagon) dengan susunan karbon yang tidak teratur dan membentuk paket-paket. Menurut Arifin dan Ramli dalam Rahayu (2002), adsorpsi merupakan peristiwa penyerapan suatu zat pada permukaan bahan penyerap, dan yang menjadi dasar untuk proses adsorpsi adalah daya tarik-menarik Van Der Waals dan daya tarikmenarik elektrostatis Coulomb. Fenomena adsorpsi ini disebabkan oleh : 1. Adanya interaksi antara molekul-molekul komponen dengan permukaan bahan penyerap dimana gaya-gaya Van Der Waals bekerja 2. Adanya gaya tarik-menarik Coulomb, yang prinsip kerjanya karena adanya perbedaan muatan positif dan negatif (Haliday, 1990).

Universitas Sumatera Utara

2.7.1. Pembuatan Karbon Aktif 1. Metode Tradisional Pembuatan karbon aktif dengan metode tradisional sangat sederhana yaitu dengan menggunakan drum atau lubang bawah tanah dengan cara pengolahan sebagai berikut. Bahan yang hendak dibakar dimasukkan ke dalam drum yang terbuat dari pelat besi atau lubang yang yang telah disiapkan, kemudian dinyalakan sehingga terbakar. Pada saat pembakaran drum atau lubang ditutup sehingga hanya ventilasi yang dibiarkan terbuka, untuk sebagai jalan keluarnya asap, ketika asap yang keluar sudah berwarna kebiru-biruan, ventilasi ditutup dan dibiarkan selama lebih kurang 12 jam. Setelah itu dengan hati-hati tutup drum dibuka dan dicek apakah masih ada bara yang menyala jika masih ada tutup derum ditutup kembali, tidak dibenarkan menggunakan air untuk mematikan bara yang sedang menyala karena dapat menurunkan kualitas karbon yang dihasilkan (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, 1994). Pembuatan karbon aktif dengan metode ini biasanya menghasilkan keaktifan yang rendah bahkan dibawah keaktifan menurut standar industri Indonesia (SII), hal ini disebabkan proses pembentukan karbon aktif tidak memungkinkan terbentuknya pori-pori dengan baik. Pada saat pembakaran, residu-residu yang ada pada bahan dasar berupa senyawa-senyawa hidrokarbon ikut terbakar tetapi masih ada tersisa dan tetap masih

Universitas Sumatera Utara

melekat pada karbon tersebut, residu yang terbakar ini menutupi pori-pori karbon sehingga menurunkan kualitasnya (Sudrajat, 1993) 2. Metode yang diperbaharui Metode pembuatan karbon aktif yang diperbaharui dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap pengarangan (karbonisasi) dan tahap pengaktifan (aktivasi), dalam metode ini bahan baku dipanaskan dengan jumlah udara seminimal mungkin agar rendemen yang dihasilkan cukup besar. Hasil yang diperoleh dengan metode ini berupa karbon yang memberi keaktifan dan rendemen yang cukup besar (Supeno, 1990). Pada proses pengaktifan terjadi pemecahan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul-molekul pada permukaan karbon sehingga pori-pori atau 1uas permukaan menjadi lebih besar.Metode pengaktifan yang umum digunakan dalam pembuatan karbon aktif ada dua cara, yaitu pengaktifan secara kimia dan pengaktifan secara fisika (Sembiring, 2003). 2.7.2. Proses Aktivasi Karbon Aktif 1. Proses Kimia Bahan baku dicampur dengan bahan-bahan kimia tertentu, kemudian dibuat padat. Selanjutnya padatan tersebut dibentuk menjadi batangan yang dikeringkan serta dipotong-potong. Aktivasi dilakukan pada temperatur 100 C. Arang aktif yang dihasilkan, dicuci dengan air selanjutnya dikeringkan pada temperatur 300 C. dengan proses kimia, bahan baku dapat dikarbonisasi terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan bahan-bahan kimia.

Universitas Sumatera Utara

2. Proses Fisika Bahan baku terlebih dahulu dibuat arang. Selanjutnya arang tersebut digiling, diayak untuk selanjutnya diaktivasi dengan cara pemanasan pada temperatur 1000 C yang disertai dengan pengaliran uap. Proses fisika banyak digunakan dalam aktivasi arang antara lain : a. Proses Briket yaitu bahan baku atau arang terlebih dahulu dibuat briket, dengan cara mencampurkan bahan baku atau arang halus dengan ter. Kemudian, briket yang dihasilkan dikeringkan pada 550 C untuk selanjutnya diaktivasi dengan uap. b. Destilasi kering yaitu merupakan suatu proses penguraian suatu bahan akibat adanya pemanasan pada temperatur tinggi dalam keadaan sedikit maupun tanpa udara. Hasil yang diperoleh berupa residu yaitu arang dan destilat yang terdiri dari campuran methanol dan asam asetat. Residu yang dihasilkan bukan merupakan karbon murni, tetapi masih mengandung abu dan ter. Hasil yang diperoleh seperti methanol, asam asetat dan arang tergantung pada bahan baku yang digunakan dan metoda destilasi (Sembiring, 2003). Diharapkan daya serap arang aktif yang dihasilkan dapat menyerupai atau lebih baik dari pada daya serap arang aktif yang diaktifkan dengan menyertakan bahan-bahan kimia. Dengan cara ini, pencemaran lingkungan sebagai akibat adanya penguraian senyawa-senyawa kimia dari bahan-bahan pada saat proses pengarangan dapat dihindari. Selain itu, dapat dihasilkan asap cair sebagai hasil pengembunan uap hasil penguraian senyawa-senyawa organik dari bahan baku.

Universitas Sumatera Utara

Menurut Hawley dalam Sembiring (2003), ada empat hal yang dapat dijadikan batasan dari penguraian komponen kayu yang terjadi karena pemanasan pada proses destilasi kering, yaitu : 1. Batasan A adalah suhu pemanasan sampai 200 C. Air yang terkandung dalam bahan baku keluar menjadi uap, sehingga kayu menjadi kering, retak-retak dan bengkok. Kandungan karbon lebih kurang 60 %. 2. Batasan B adalah suhu pemanasan antara 200-280 C. Kayu secara perlahanlahan menjadi arang dan destilat mulai dihasilkan. Warna arang menjadi coklat gelap serta kandungan karbonnya lebih kurang 70 %. 3. Batasan C adalah suhu pemanasan antara 280-500 C. Pada suhu ini akan terjadi karbonisasi selulosa, penguraian lignin dan menghasilkan ter. Arang yang terbentuk berwarna hitam serta kandungan karbonnya meningkat menjadi 80 %. Proses pengarangan secara praktis berhenti pada suhu 400 C. 4. Batasan D adalah suhu pemanasan 500 C, terjadi proses pemurnian arang, dimana pembentukan ter masih terus berlangsung. Kadar karbon akan meningkat mencapai 90 %. Pemanasan di atas 700 C, hanya menghasilkan gas hidrogen. Namun Cheremisinoff dan A. C. Moressi (1978) dalam Sembiring (2003) mengemukakan secara umum dan sederhana proses pembuatan arang aktif terdiri dari tiga tahap, yaitu : 1. Dehidrasi yaitu proses penghilangan air dimana bahan baku dipanaskan sampai temperatur 170 C.

Universitas Sumatera Utara

2. Karbonisasi yaitu pemecahan bahan-bahan organik menjadi karbon. Suhu di atas 170 C akan menghasilkan CO, CO 2 dan asam asetat. Pada suhu 275 C, dekomposisi menghasilkan ter, methanol dan hasil samping lainnya. Pembentukan karbon terjadi pada temperatur 400-600 C. 3. Aktivasi yaitu dekomposisi ter dan perluasan pori-pori. Dapat dilakukan dengan uap atau CO 2 sebagai aktivator. Proses aktifasi merupakan hal yang penting diperhatikan disamping bahan baku yang digunakan. Yang dimaksud dengan aktifasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul-molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorbsi. Metode aktifasi yang umum digunakan dalam pembuatan arang aktif adalah (Rajagukguk, 2011) : 1. Aktifasi Kimia Aktifasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan pemakaian bahan-bahan kimia. Aktifator yang digunakan adalah bahan-bahan kimia seperti hidroksida logam alkali, garam-garam karbonat, klorida, sulfat, fosfat dari logam alkali tanah dan khususnya ZnCl 2 , asamasam anorganik seperti H 2 SO 4 dan H 3 PO 4 .

Universitas Sumatera Utara

2. Aktifasi Fisika Aktifasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan bantuan panas, uap dan CO 2 . Umumnya arang dipanaskan di dalam tanur pada temperatur 800-900 C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah merupakan reaksi isotherm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Sedangkan pemanasan dengan uap atau CO 2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum digunakan. Sifat arang aktif yang paling penting adalah daya serap. Dalam hal ini, ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu : 1. Sifat Adsorben Arang aktif yang merupakan adsorben adalah suatu padatan berpori, yang sebagian besar terdiri dari unsur karbon bebas dan masing-masing berkaitan secara kovalen. Dengan demikian, permukaan arang aktif bersifat non polar. Selain komposisi dan polaritas, struktur pori juga merupakan faktor yang penting diperhatikan. Struktur pori berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil pori-pori arang aktif mengakibatkan semakin luas besar. Dengan demikian kecepatan adsorbsi bertambah. Untuk meningkatkan kecepatan adsorbsi, dianjurkan agar menggunakan arang aktif yang telah dihaluskan. Jumlah atau dosis arang aktif yang digunakan juga harus diperhatikan.

Universitas Sumatera Utara

2. Sifat Serapan Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh arang aktif, tetapi

kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing-masing senyawa. Adsorbsi akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari struktur yang sama, seperti deret homolog. Adsorbsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi, posisi gugus fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa serapan. 3. Temperatur Dalam pemakaian arang aktif dianjurkan untuk mengamati temperatur pada saat berlangsungnya proses. Faktor yang mempengaruhi temperatur proses adsorbsi adalah viskositas dan stabilitas termal senyawa serapan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifat-sifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan warna maupun dekomposisi, maka perlakuan dilakukan pada titik didihnya. Untuk senyawa volatile, adsorbsi dilakukan pada temperatur kamar atau bila memungkinkan pada temperatur yang lebih rendah. 4. pH (Derajat Keasaman) Untuk asam-asam organik, adsorbsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam mineral untuk mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali, adsorbsi akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam.

Universitas Sumatera Utara

5. Waktu Kontak Bila arang aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Pengadukan juga mempengaruhi waktu singgung. Pengadukan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan pada partikel arang aktif untuk bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk larutan yang mempunyai viskositas tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lama (Sembiring, 2003). Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik. Konsentrasi zat-zat organik dan logam dalam air akan turun apabila kontaknya cukup. Waktu kontak biasanya sekitar 10-15 menit. 2.7.3. Penggunaan Karbon Aktif Saat ini arang aktif telah digunakan secara luas dalam industri kimia, makanan/minuman dan farmasi. Pada umumnya arang aktif digunakan sebagai bahan penyerap dan penjernih. Dalam jumlah kecil digunakan juga sebagai katalisator.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2. Berbagai Pemanfaatan Karbon Aktif Maksud/Tujuan Pemakaian I. Untuk Gas 1. Pemurnian gas 2. Pengolahan LNG 3. Katalisator 4. Lain-lain II. Untuk Zat Cair 1. Industri obat dan makanan Menyaring dan menghilangkan warna, bau, rasa yang tidak enak pada makanan 2. Minuman ringan, minuman Menghilangkan warna, bau pada arak/ minuman keras keras dan minuman ringan 3. Kimia perminyakan 4. Pembersih air Penyulingan bahan mentah, zat perantara Menyaring/menghilangkan bau, warna, zat pencemar dalam air, sebagai pelindung dan penukaran resin dalam alat/penyulingan air Mengatur dan membersihkan air buangan dan pencemar, warna, bau, logam berat. Pemurnian, menghilangkan ban, dan warna Penarikan kembali berbagai pelarut, sisa metanol, etil acetat dan lain-lain Pemumian, menghilangkan bau Pemurnian Pemurnian Menghilangkan bau, warna, dan rasa tidak enak Desulfurisasi, menghilangkan gas beracun, bau busuk, asap, menyerap racun Desulfurisasi dan penyaringan mentah dan reaksi gas berbagai bahan

Reaksi katalisator atau pengangkut vinil kiorida, dan vinil acetat Menghilangkan bau dalam kamar pendingin dan mobil

5. Pembersih air buangan 6. Penambakan udang dan benur 7. Pelarut yang digunakan kembali III. Lain-lain 1. Pengolahan pulp 2. Pengolahan pupuk 3. Pengolahan emas 4. Penyaringan minyak makan dan glukosa

Sumber : Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2004

Universitas Sumatera Utara

2.7.4. Kulit Singkong sebagai Karbon Aktif Kulit singkong yang biasanya kurang dimanfaatkan ternyata memiliki manfaat lain sebagai karbon aktif. Berdasarkan penelitian Deby Jannati dan Shona Mazia (2009), kulit singkong dapat diolah menjadi karbon aktif karena mengandung 59,31 % karbon. Setelah diuji laboratorium, karbon aktif dari kulit singkong ternyata mampu menyerap 99,98 % kandungan tembaga air limbah. Dengan pori-pori banyak dan besar, karbon aktif kulit singkong sangat potensial menangkap logam berat dalam air. Karbon aktif yang akan digunakan berbentuk bubuk dan diaplikasikan dengan cara ditambahkan ke air dalam suatu wadah. Untuk mendapatkan karbon aktif kulit singkong dapat dilakukan melalui empat tahapan yakni (Rajagukguk, 2011) : 1. Langkah pertama, mengupas kulit singkong dari dagingnya. Setelah itu dikeringkan dengan durasi yang bervariasi, bergantung kondisi cuaca dan suhu ruangan. 2. Setelah kulit singkong kering, tahapan selanjutnya adalah membakar bahan baku di dalam oven agar menghilangkan senyawa hidrokarbon pada kulit singkong. Temperatur yang digunakan harus tinggi, dibakar pada suhu 800 C dan proses pembakarannya berlangsung selama tiga jam. Agar proses pembakarannya sempurna, selain suhu temperaturnya juga diatur pada suhu yang sangat tinggi, pembakaran kulit singkong dilakukan pada ruang tertutup supaya tidak ada udara atau oksigen (O 2 ) di dalam oven. Tujuannya supaya bahan baku kering secara total dan menguapkan senyawa hidrokarbon dalam bahan baku.

Universitas Sumatera Utara

3. Arang yang berasal dari kulit singkong tersebut dihaluskan sehingga berbentuk bubuk. 4. Kemudian dilakukan proses aktifasi karbon dengan menggunakan larutan NaOH atau soda kimia. Proses aktifasi ini bertujuan untuk meningkatkan volume dan memperbesar diameter pori-pori karbon. Dengan demikian, daya absorpsi (serap) karbon aktif menjadi tinggi terhadap logam berat dalam air. Karbon aktif yang sekarang banyak digunakan berbentuk butiran (granular) atau berbentuk tepung (bubuk). Karbon yang berbentuk bubuk memerlukan waktu kontak lebih sebentar dibandingkan karbon dibandingkan karbon berbentuk butiran. Jika digunakan karbon berbentuk bubuk, bubuk tersebut dapat dimasukkan langsung kedalam air. Komponen-komponen organik dan anorganik akan teradsorpsi pada karbon, kemudian dapat dipisahkan dengan menggumpalkan menggunakan bahan kimia tertentu (Fardiaz, 2008).

Universitas Sumatera Utara

2.8. Kerangka Konsep


Penambahan Karbon Aktif per 500 ml air sumur gali dengan kadar : - 1 gr - 2 gr - 3 gr - 0 gr (kontrol) Kadar Besi (Fe) dan Mangan (Mn) dalam Air Sumur Gali sebelum perlakuan Kadar Besi (Fe) dan Mangan (Mn) setelah perlakuan - Karakteristik Karbon Aktif - Waktu Kontak

Sesuai Baku Mutu (Permenkes RI No. 416 tahun 1990)

Tidak Sesuai Baku Mutu (Permenkes RI No. 416 tahun 1990)

2.9. Hipotesis Penelitian Hipotesis sementara : Ho1 : Tidak ada perbedaan kadar Besi (Fe) pada air sumur gali sebelum dan sesudah penambahan berbagai kadar karbon aktif kulit singkong. Ho2 : Tidak ada perbedaan kadar Mangan (Mn) pada air sumur gali sebelum dan sesudah penambahan berbagai kadar karbon aktif kulit singkong. Ha1 : Ada perbedaan kadar Besi (Fe) pada air sumur gali sebelum dan sesudah penambahan berbagai kadar karbon aktif kulit singkong. Ha2 : Ada perbedaan kadar Mangan (Mn) pada air sumur gali sebelum dan sesudah penambahan berbagai kadar karbon aktif kulit singkong.

Universitas Sumatera Utara