Anda di halaman 1dari 12

PENGUKURAN ELEKTRISITAS JANTUNG

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Muhamad Maarif : B1J010148 :V :1 : Arya Nugraha

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Signal elektrik yang berkaitan dengan denyut jantung yang teratur dapat dicatat dalam bentuk ECG (Electrokardiogram). ECG adalah gambaran aktivitas elektrik jantung. Elektrokardiogram impuls jantung terdeteksi oleh elektroda yang ditempatkan pada kulit. Elektrokardiogram ini tidak langsung mengukur fungsi mekanik atau morfologi jantung, tetapi dapat memberikan petunjuk bahwa jantung berfungsi secara normal. ECG merupakan suatu teknik untuk mengetahui struktur unternal dan gerakan jantung serta pembuluh darah yang besar tanpa memasukan alat ke dalam tubuh pasien. Caranya, gelombang ultrasonik diarahkan ke dada pasien menggunakan transduser. Kemudian, transduser bertindak sebagai penerima pantulan balik gelombang ultrasonik untuk membentuk bayangan, gambaran yang dibentuk pantulan dipindahkan ke layar yang dapat menampilkan gambaran bagian jantung ukuran gerakan ventrikel dan arah aliran darah. Elektrokardiograf berguna untuk mendiagnosis penyakit dan gangguan pada katup jantung, tumor di jantung dan gangguan fungsi ventrikel kiri.

B. Tujuan Tujuan pada praktikum kali ini adalah untuk menghitung jumlah detak jantung per menit pada individu dengan kondisi fisiologis berbeda.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi Bahan dan alat yang digunakan adalah 5 orang praktikan dengan keadan yang berbeda , rokok, stopwatch, handcounter. B.Metode Cara kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut : Lari 1. Praktikan dalam keadaan normal berlari mengitari lapangan selama dengan kecepatan lari yang stabil 2. Denyut jantung diukur oleh praktikan lain selama 1 menit 3. Banyaknya denyut jantung dicatat Diam 1. Praktikan dalam keadaan normal diukur denyut jantungnya tanpa melakukan kegiatan apapun 2. Banyaknya denyut jantung dicatat Merokok 1. Praktikan dalam keadan normal diberi 1 batang rokok 2. Rokok dihisap selama 1 menit 3. Denyut jantung diukur selama 1 menit 4. Banyaknya denyut jantung dicatat Obesitas 1. Dipilih praktikan yang obesitas 2. Banyaknya denyut jantung diukur selama 1 menit 3. Jumlah denyut jantung dicatat di data Kurus 1. Praktikan dengan berat badan kurang dipilih sebagai objek 2. Banyaknya denyut jantung diukur selama 1 menit 3. Banyaknya denyut jantung dicatat

Jalan santai 1. Dipilih praktikan untuk melakukan jalan santai 2. Banyaknya denyut jantung diukur selama 1 menit 3. Banyaknya denyut jantung dicatat

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Tabel Pengamatan No 1 2 3 4 5 6 Lari Diam Merokok Obesitas Kurus Jalan santai Perlakuan Denyut Jantung Per Menit 140 64 106 94 88 102

B. Pembahasan Berdasarkan hasil percobaan dari test yang diujikan , didapatkan denyut jantung yang berbeda untuk beragam aktivitas yaitu saat aktivitas lari diperoleh denyut jantung 140 denyut jantung/menit, saat diam diperoleh 64 denyut jantung /menit, percobaan pada orang obesitas diperoleh denyut jantung 94 denyut jantung /menit, pada kurus diperoleh data 88 denyut jantung/menit, orang yang merokok diperoleh data 106 denyut jantung/menit, dan pada orang yang melakukan jalan santai diperoleh data 102 denyut jantung/menit . Menurut Sales (1974) jumlah denyut jantung normal adalah 60-100 denyut/menit. Denyut jantung rata-rata normal dalam keadaan istirahat (diastole) pada orang dewasa adalah sebesar 70 denyut/menit sedangkan pada orang yang sedang melakukan aktivitas dan keadaan otot jantung sedang berkontraksi (sistole) adalah sebesar 100-120 denyut/menit. Kerja jantung atau denyut jantung dapat diukur dengan menggunakan electrocardiogram. Electrocardiogram (ECG) merupakan fluktuasi potensial waktu jantung yang menggambarkan jumlah aljabar potensial aksi serabut-serabut

miokardium

pada

sepotong

kertas

yang

dapat

bergerak

(Evans,

1998).

Electrocardiogram adalah perekam sinyal manusia dengan keluaran sinyal di monitor atau grafik, untuk mendapatkan sinyal jantung manusia dilakukan dengan penempelan sadapan di tubuh. Sinyal listrik ditimbulkan karena aliran darah yang dipompa oleh jantung dimana jantung merupakan sumber detak listrik yang berfungsi sebagai generator listrik (Peter, 1997). Electrocardiogram (ECG) menyediakan sebuah deskripsi kuantitatif listrik dari aktivitas jantung dan sering digunakan di rumah sakit sebagai alat untuk mengidentifikasi denyut jantung (McSharry and Cliffrod, 2008). ECG menggunakan suatu elektroda aktif atau eksplorasi yang dihubungkan dengan elektroda indiferen (rekaman unipolar) pada potensial nol atau diantara dua elektroda aktif (Kay, 1998). ECG menggunakan kertas yang bergerak untuk merekam fluktuasi dari denyut jantung, dimana kertas tersebut bergerak dengan kecepatan yang tetap yaitu 25 mm/detik. Kertas tersebut merupakan kumpulan dari kotak-kotak kecil yang akan memudahkan pengguna dalam menghitung banyaknya denyut jantung per menitnya (Ganong, 2002). Sinyal ECG mempunyai amplitudo A= m.V yang dapat mencapai permukaan tubuh (Evans, 1988). Pada dasarnya ada tiga teknik yang digunakan dalam elektrokardiografi, yaitu: 1) Standard clinical ECG. Teknik ini menggunakan 12 lead yang ditempatkan pada titik-titik tubuh tertentu. Teknik ini dipakai untuk menganalisis kondisi jantung pasien. 2) Vectorcardiogram. Teknik ini menggunakan 3 elektroda yang ditempatkan pada titik-titik tubuh tertentu. Teknik ini menggunakan pemodelan potensial tubuh sebagai vektor tiga dimensi dengan menggunakan sandapan baku bipolar. 3) Monitoring ECG. Teknik ini menggunakan 1 atau 2 elektroda yang ditempatkan pada titik-titik tubuh tertentu. Teknik ini digunakan untuk monitoring pasien dalam jangka panjang (Paratama,et al. 2007.)

Sinyal elektrik yang berkaitan dengan denyut jantung yang teratur dapat dicatat dalam alat pengukur jantung yang disebut elektrokardiogram (ECG). Alat ini berfungsi untuk memberikan petunjuk apakah jantung berfungsi secara normal atau tidak,. Selain itu alat ini juga dapat digunakan untuk mendiagnosa penyakit jantung dan gangguan fungsinya. ECG akan merekonstruksi kembali potensi epikardial, elektrogram dan isokron dari permukaan tubuh yang potensial menggunakan algoritma rekonstruksi matematika (Ramanathan, 2006). Sistem integrasi di dalam jantung memulai denyutan dan memulai kamar yang berurutan secara bergantian. Tiap kontraksi dimulai dalam simpul sinoatrium atau pemacu yaitu suatu simpul yang terdiri atas otot jantung khusus (serabut Purkinje) yang terletak dalam bagian dinding atrium kanan tempat tempat sinus venosus digabungkan. Impuls ini menyebar keseluruh bagian atrium dan ke simpul serabut Purkinje lainnya, yaitu simpul atrioventrikel, dari mana impuls diteruskan melalui jalur serabut Purkinje ke semua bagian ventrikel. Atrium dan ventrikel tidak terdapat otot penghubung, maka impuls dapat sampai pada otot ventrikel hanya melalui serabut Purkinje. Impuls berlangsung begitu cepat, sehingga kontraksi ventrikel mulai pada apeks jantung dan menyebar dengan cepat ke arah pangkal arteri besar yang meninggalkan jantung ( Ville, et al, 1988). Denyut jantung dapat menyebabkan darah mengalir keseluruh tubuh. Jantung terletak dirongga dada dan memiliki selaput dua lapis, yaitu pericardium dan diantaranya berisi cairan yang berupa getah bening serta berfungsi untuk memelihara jantung dari gangguan fisik. Jantung memiliki myocardium yang bagian luarnya ditutupi oleh lapisan pericardium dan bagian dalam oleh endocardium (Ville et al., 1988). Denyut jantung pada manusia normal dengan manusia yang melakukan aktivitas berbeda, begitu pula pada jenis kelamin yang berbeda. Denyut jantung manusia yang melakukan aktivitas akan lebih cepat bila dibandingkan dengan yang normal (diam). Denyut jantung dipengaruhi oleh adanya zat toksik yang dapat memacu kerja jantung sehingga akan mempercepat denyut jantung (Guyton, 1982). Jantung manusia dewasa secara normal berkontraksi pada frekuensi yang ritmik sebesar 72 kali denyutan setiap menitnya ( Guyton, 1982 ). Seorang dewasa

normal dalam keadaan istirahat frekuensi denyut jantungnya 70 permenit (Yuwono, 2001). Umur, jenis kelamin, fitnes fisik dan temperatur biasanya mempengaruhi tempo jantung dalam keadaan istirahat. Semakin kecil umur semakin besar tempo jantungnya. Bayi yang baru lahir dalam keadaan istirahat frekuensi denyut jantungnya 120 permenit, pada orang dewasa normal frekuensi denyut jantung dalam keadaan istirahat 75 denyut permenit. Wanita dewasa biasanya memiliki sedikit lebih tinggi frekuensi denyut jantungnya daripada laki-laki. Penurunan temperatur tubuh menurunkan ritme jantung dan kekuatan kontraksi ( Tortora and Grobowsky, 2001 ). Temperatur tersebut biasa karena demam atau latihan fisik. Yuwono ( 2001 ) mengungkapkan bahwa frekuensi denyut jantung berbanding terbalik dengan bobot tubuh. Semakin tinggi atau semakin besar berat badan, semakin kecil denyut jantungnya. Menurut Guyton (1982), jenis kelamin perempuan memiliki denyut jantung yang lebih cepat karena berkaitan dengan metabolisme tubuh, dimana pada perempuan suplai makanan sangat tinggi dibandingkan pada laki-laki atau jenis kelamin jantan. Selain jenis kelamin, berat badan juga mempengaruhi kerja jantung. Berat badan yang lebih besar akan cenderung mempunyai denyut jantung yang lebih lambat daripada berat badan yang kecil (Barness, 1963). Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja denyut jantung diantaranya adalah syaraf, kondisi fisiologis, kimiawi, temperatur. Syaraf simpatis merupakan syaraf accelerator yang kerjanya berlawanan dengan syaraf inhibitor yaitu mempercepat denyut jantung. Rangsangan pada syaraf tersebut menyebabkan bertambah cepatnya denyut jantung yaitu dengan menaikan kekuatan kontraksi, frekuensi kontraksi, frekuensi konduksi impuls, pengaliran darah coroner. Rangsangan pada syaraf

simpatis akan mengakibatkan peningkatan aktivitas jantung untuk mensuplai lebih banyak darah terhadap otot-otot skelet. Keadaan otot jantung, keadaan emosi dan stress banyak adrenalin yang masuk kedalam aliran darah dapat menaikkan frekuensi denyut jantung. Perubahan frekuensi denyut jantung ini disebabkan oleh perubahan reaksi kimia yang berlangsung di dalam sel-sel pacemaker. Percepatan denyut jantung pada waktu demam adalah merupakan akibat langsung kenaikan temperatur dari jantung itu sendiri. Faktor kimia yang berpengaruh terhadap denyut jantung yaitu ion-

ion (Na, Ca, K) yang ada di dalam darah dan cairan jaringan, adrenalin, CO2 dan zat asam hasil metabolisme. Frekuensi denyut jantung akan naik bila temperatur naik dan frekuensi akan berkurang bila temperatur turun yaitu dengan mengubah temperatur cairan yang mengelilingi jantung (Ganong, 1992).

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Electrocardiogram adalah alat potensial listrik yang terdepolarisasi dan direkam dalam alat fotografik dan elektroda untuk mengukur impuls jantung. 2. Denyut jantung praktikan dengan kondisi diam dari hasil praktikum sebesar 64 denyut/menit, lari sebesar 140 denyut/menit, merokok mempunyai denyut jantung 106 denyut/menit, obesitas mempunyai denyut jantung 94 denyut/menit, badan kurus memiliki denyut jantung 88 denyut/menit, dan jalan santai mempunyai denyut jantung 102 denyut/menit 3. Beberapa faktor yang mempengaruhi kerja jantung yaitu oleh faktor kimiawi, temperatur, aktivitas, berat badan, jenis kelamin, kondisi psikologis.

DAFTAR REFERENSI

Barness, R. D. 1963. Animal Physiology Principle and Adaption. Mc Munan, New York. Evans, D.H. 1988. The Physiology of Fishes Second Edition. CRC-Press. LLC, Florida. Ganong, W. F. 1992. Fisiologi Kedokteran ECG. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta. Ganong,W. F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. ECG, Jakarta. Guyton, M.D. 1982. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Kay, I. 1998. Introduction to Animal Physiology. Bios Scientific Publisher Limited, USA. McSharry, P. E., and G. D. Cliffrod. 2008. Open-Source Software For Generating Electrocardiogram Signals. Vol. 55 No. 3. Paratama Y.,C, Rita,Magdalena dan Achmad Rizal. 2007. Analisis Perbandingan Algoritma Perbandingan Kompresi pada Monitoring Sinyal Data Elektrokardiogram. SNSI07-021.Halaman 114-119. Peter, C. 1997. Clinical Cardiology. Year Book Medical Publisher Inc, Chicago. Ramanathan, C., P. Jia, R. Ghanem, K. Ryu, dan Y. Rudy. 2006. Activation and repolarization of the normal human heart under complete physiological conditions. PNAS. 103 (16) : 6309 6314. Sales, M. 1974. Dasar-dasar Electrocardiogram. Libra Jaya Press. Surabaya. Tortora G. and Grobowsky, S.R. 2001. Introduction to The Human Body. John Wiley & Sons, Inc. New York. Ville, C. A., Walker W. F., dan R. D. Barnes. 1988. Zoologi Umum Edisi Keenam. Erlangga, Jakarta. Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto.