Anda di halaman 1dari 17

A.

Tinjauan Teori
I Pengertian Tumor buli-buli adalah tumor yang didapatkan pada buli-buli. http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/

II Insiden
Terjadi 3 kali lebih besar laki-laki daripada perempuan, buli-buli lebih sering dijangkiti kanker dari pada organ yang lain pada alat perkemihan.

III Klasifikasi
1. Staging dan Klasifikasi Klasifikasi DUKE MASDIMA, JEWTT dengan modifikadsi STRONG MARSHAL untuk menentukan operasi atau observasi. 1) T = Pembesaran lokal tumor primer ditentukan melalui: pemeriksaan klinik, urografi, cystocopy, pemeriksaan bimanual di bawah anestesi umum dan biopsi atau trans urethral reseksi. 2) N = Pembesaran secara klinis untuk pembesaran kelenjar limfe, pemeriksaan klinis, lympgrafi, urografi dan operative. 3) M = Metastase jauh termasuk pembesaran kelenjar limpe yang jauh, pemeriksaan klinis,thorax,forto dan test biokimia.

2, Tipe dan lokasi Tipe tumor didasarkan pada tipe sel, tingkat analasia dan invasi. 1) Efidermoid Ca, kira-kira 5% neoplasma buli-buli squamukosa sel, anaplastik, invasi yang dalam dan cepat metastasenya. 2) Adeno Ca, sangat jarang dan sering muncul pada bekas urachus.

3) Rhabdomiyo sarcoma, sering terjadi pada anak laki-laki (adolecent), infiltrasi, metastase cepat dan biasanya fatal. 4) Primery malignant lympoma, neuritriboma dan pheochromacytoma, dapat menimbulkan serangan hi pertensi selama kencing. 5) Ca daripada kulit, melanoma,lambung, paru dan mama mungkin mengadakan metastase ke buli-buli, invasike buli-bili olehendometriosis dapat terjadi.

IV Patofisiologi Ca. Buli-Buli

V. Penatalaksanaan

a. Pemeriksaan Penunjang 1) Laboratorium Hb. Rendah karena kehilngandarah, infeksi, uremia,micros hematuria.

Leukositosis bila terjadi infeksi sekunder dan terdapat pus dan bacteri dalam urine. RFT normal Lympphopenia ( N = 1490-2930)

2) Radiologi Excretory urogram biasanya normal, tapi mungkin dapat menunjukkan tumornya. Retrogred cystogram dapat menunjukkan tumor. Fractionet cystogram adanya invasi tumor dalam dinding buli-bili. Angograpi untuk mengetahui adanya metastase lewat pembulu lymphe.

3) Cystocopy dan Biopsi Cysticopy hampir selalu menghasilkan tumor. Biopsi daripada lesi selalu dikerjakan secara rutin

4) Cystologi Pengecatan sieman/ papanicelaou transisional sel daripada tumor. pada sidimen urine terdapat

b. Therapi 1) Operasi 2) Radioterapy Diberikan pada tomor yang radiosensitif seperti undifferentiated pada grade III dan IV dan stage B2-C.

Radiasi diberikan sebelum operasi selama 3-4 minggu, dosis 3000-4000 rads. Penderita dievaluasi 2-4 minggu dengan interval cystoscopy, foto thoraks dan IVP, kemudian 6 minggu setelah radiasi direncanakan operasi. Post operasi radiasi tambahan 2000-3000 Rads selama 2-3 minggu.

3)

Chemotherapy Obat-obat anti kanker:

Citral, 5 flouro urasil Tophical chemoterapy yaitu Thic- tepa, chemotherapi merupakan paliattif. 5 FLUOROURACYL (5-FU) dan doxorubicin (andriamycin) merupakan bahan yang sering dipakai. Thiotepa dapat dimasukkan ke dalam buli-buli sebagai pangobatan topikal. Klien dibiarkan menderita dehidrasi 8-12 jam sebelum pengobatan dengan theotipa dan obat dibiarkan dalam buli-buli selama 2 jam.

VI Prognosis Penemuan dan pemeriksaan dini, prognosisnya baik, tetapi bila sudah lama dan adanya metastase ke organ lain lebih dalam dan lainnya prognosisnya jalek.

VII. Komplikasi Infeksi secunder bila tumor mengalami ulcerasi Retensio urine bila tumor mengadakan invasi ke bladder neck. Hydronefrosis oleh karena bladder mengalami oklusi.

B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Identitas Buli-buli adalah organ yang paling sering dijangkiti pada alat perkemihan. Pria 3 kali lebih banyak terjangkit daripada perempuan, tumor multiple lebih sering, kira-kira 25% klien mempunyai lebih dari satu lesi pada satu kali dibuat diagnosa.

b. Riwayat keperawatan Keluhan penderita yang utama adalah mengeluh kencing darah yang intermiten, merasa panas waktu kencing. Mereka ingin kencing terutama pada malam hari dan pada fase selanjutnya sukar kencing, nyeri suprapubik yang konstan, panas badan dan merasa lemah, nyeri pinggang karena tekanan syaraf dan nyeri satu sisi karena hidronephrosis.

c.

Pemeriksaan fisik dan klinis Inspeksi: tampak kencing warna merah campur darah, pembesaran suprapubik bila tumor sudah besar. Palpasi: teraba tumor (masa) suprapubic, pemeriksaan bimanual teraba ..pada dasar buli-buli dengan bantuan general anestesi baik saat VT atau RT.

d. Pemeriksaan penunjang.

II. Perencanaan

1.

Cemas/takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosial ekonomi, peran dan fungsi bentuk interaksi, persiapan kematian, perpisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.

Tujuan:

Klien dapat mengurangi rasa cemasnya. Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif. Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.

a.

b. c.

INTERVENSI RASIONAL Tentukan pengalaman klien a. dapat memberikan dasar sebelumnya terhadap untuk penyuluhan dan penyakit yang dideritanya. menghindari adanya duplikasi. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat. b. Dapat memahami proses penyakitnya. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan c. Dapat menurunkan rasa marah , takut dan beri kecemasan dan informasi dengan emosi ketegangan. wajar dan ekspresi yang sesuai. Jelaskan pengobata, tujuan, dan efek samping. Membantu klien dalam Bantu klien mempersiapkan d. memahami kebutuhan untuk diri dalam pengobatan. pengobatan dan efek sampingnya. Catat coping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, e. Mengetahui dan menggali pola koping dan dapat ketidakberdayaan dan lainmemberikan solusinya. lain. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi f. dengan suppor sistem Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.

d.

e.

f.

Agar memperoleh dukungan dari orang yang terdekat.

g.

h.

Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan g. Untuk beri kesempatan agar berilah sentuhan. merenung dan istirahat. h. Mendapatkan kepercayaan bahwa dirinya ditolong.

2.

Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakitnya (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping theraoi kanker ditandai dengan klien mengatakan nyeri, sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.

Tujuan: Klien mampu mengontrol nyeri melalui aktivitas. Melaporkan nyeri yang dialaminya. Mengikuti program pengobatan. Mendemonstrasikan teknik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin.

INTERVENSI a. Tentukan riwayat lokasi, durasi intensitasnya.

RASIONAL nyeri, a. Dapat memberikan dan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan. b. Evaluasi therapi: pembedahan, kemoterapi, b. Untuk mengetahui radiasi, bioterapi, ajarkan efektivitas therapi. pada klien/keluarga cara menghadapinya c. Menganjurkan penangan stress Meningkatkan kontrol diri teknik c. atas efek samping dengan (teknik

rekaksasi, visualisasi, bimbingan), dan berikan sentuhan terauphitik. d. Beri pengalihan seperti reposisi dan aktivitas yang menyenangkan seperti mendengarkan radio dll.

menurunkan stress. d.

ansietas

dan

Meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatianklien dari rasa nyari.

e. Beri pengobatan bila perlu. f. g. Diskuskan dengan tim kes. untuk menangani nyeri. Beri indikasi. analgesik sesuaio

e.

Untuk mengetahui efektivitas penanganan nyeri .

f.

Agar therapi tepat sasaran.

g.

Untuk mengatasi nyeri.

3.

Kurangnya penetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan sesuai dengan kurangnya informasi, missinterprestasi dan keterbatasan kognitif ditandai dengan seringnya bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengukuti intruksi/pencegahan komplikasi.

Tujuan: Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada tingkatan siap. Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur tersebut. Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengobatan. Bekerjasama dengan pemberi informasi.

a.

INTERVENSI RASIONAL Mengulang pengertian a. Menghindari adanya duplikasi tentang diagnoasa, dan pengulangan terhadap pengobatan dan akibatnya. pengetahuan klien. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatabnnya, ceritakan pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker. b.Memungkinkan dilkukan pembebnran terhadap kesalahan persepsi dam konsepsi serta kesalahan pengertian.

b.

c.

Beri informasi yang akurat klien dalam dan faktual. Jawab c.Membantu pertanyaan spesifik, memahami proses penyakit. hindarkan informasi yang tidak informasi.

Berikan bimbingan kepada d.Membantu klien dan keluarga klien/keluarga sebelum dalam membuat keputusan mengikutu prosedur pengobatan. pengobatan, therapi yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien. e.Mengetahui sampai sejauh e. Anjurkan pada klien untuk manakah pemahaman klien memberikan umpan balik /keluarga mengenai penyakit verbal dan mengoreksi klien. d. miskonsepsi penyakitnya. f. tentang

f. Meningkatkan pengetahuan Review klien/keluarga klien/keluarga mengenai nutrisi tentang pentingnya status yang adekuat. nutrisi yang optimal.

g.Mengkaji mengembangan Anjurkan pada klien untuk proses proses penyembuhan mengkaji membran mukosa dan tanda-tanda infeksi serta mulutnya secara rutin, masalah dengan kesehatan perhatikan adanya erutema. mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan h. Anjurkan klien memelihara dan minuman. kebersihan kulit dan rambut. g. h. Meningkatkan integritas kulit

dan kepala.

4.Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekuensi khemoterapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emosional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih di bawah ideal, penurunan masa otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping. Tujuan: Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab. Normal dan tidak ada tanda malnutrisi. Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat. Berpartisipasi dalam penetalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya.

INTERVENSI a.Monitor intakemakanan setiap hari,apakah klien makan sesuai dengan kebutuhan. b. Timbang dan ukur berat badan, ukuran tricep serta amati penurunan berat badan.

RASIONAL a. Memberikan informasi tentang status gizi klien. b. Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.

c.

Kaji pucat, penyembuhan luka c. Menunjukkan keadaan gizi yang lama dan pembesaran klien sangat buruk. kelenjar paritis. d. Kalori merupakan sumber d. Anjurkan klien untuk energi mengkonsumsi makanan tinggi Mencegah mual dan kalori dengan intake cairan e. muntah, distensi berlebihan, yang adekuat. Anjurkan pula

makanan kecil untuk klien. e. Kontrol faktor lingkungan seperti bau atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas. f.

dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangistimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas. Agar klien merasa seperti berada di rumah sendiri.

f.

Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau g. Untuk menimbulkan keluarga. perasaan ingin makan/membangkitkan g. Anjurkan teknik relaksasi, selera makan. visualisasi, latihan moderate sebelum makan. h. Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli h. Anjurkan komunikasi terbuka gizi, perawat dan klien). tentang problem anoreksia yang dialami klien. i. Unrtuk mengetahui/menegakkan i. Kolaboratif terjadinya gangguan nutrisi sebagai akibat perjalanan j. Amati studi laboratprium seperti penyakit, pengobatan dan total limposit, serum transferin perawatan terhadap klien. dan albumin. j. Membantu menghilangkan k. Berikan penggobatan sesuai gejala penyakit, efek dengan indikasi. samping dan meningkatkan status kesehatan klien. l. Phenotiasin, antidopaminergic, corticosteroids, vitamin k. Mempermudah intake khususnya A,D,E dan B6, makanan dan minuman antasida. dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan. m. Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara l. Efektifitas therapi interal, imbangi dengan infus. m. Agar intake makanan dan cairan adekuat.

5.

Resiko tnggi kerusakan membran mukaosa mulut berhubungan dengan efek samping kemotherapi dan radiasai/radiotherapi.

Tujuan: Membran mukosa tidak menunjukkan keruisakan, terbatas dari inflamasi dan ulcerasi. Klien mengungkapkan faktor penyebab secara verbal. Klien mampu mendemonstrasika kebersihan rongga mulut. teknikmempertahankan /menjaga

INTRVENSI RASIOANAL Kaji kesehatan gigi dan a. Mengkaji perkembangan mulut pada saat pertemuan proses penyembuhan dan dengan klien secara periodik. tanda-tanda infeksi memberikan informasi b. Kaji rongga mulut setiap hari, penting untuk amati perubahan mukosa mengembangkan rencana membran, Amati tanda keperawatan. terbakar di mulut, perubahan suara, rasa kecap, b. Masalah dengan kesehatan kekentalan ludah. mulut dapat mempengaruhi pemasukan makanan dan c. Diskusikan dengan klien minuman. tentang metode pemeliharaan oral hygine. c. Mencari alternatif lain mengenai pemeliharaan d. Intruksikan perubahan pola mulut dan gigi. diet misalnya hindari makanan panas, pedas, d. Mencegah rasa tidak asam dan makanan yang nyaman dan iritasi lebih lanjut keras. pada membran mukosa. a. e. Amati dan jelaskan pada e. Agar klien mengetahui dan klien tentang tanda sumber segera memberitahu bila infeksi oral. ada tanda-tanda tersebut. Kolaboratif. Konsultasi dengan dokter f. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan gigi dan guzi.

f. g.

gigi sebelum kemotherapi. h. Berikan obat sesuai indikasi, analgesik, topikal lidokain, antimikrobal mouthwash. Preparation. Kultur oral.

g.

Tindakan/therapi yang dapat menghilanhkan nyerri, menangani nyeri dalam rongga mulut /infeksi sistemik. Untuk mengetahui jenis kuman sehingga dapat diberikan therapi antibiotik yang tepat.

i. j. 6.

h.

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistimimun (efek khemetherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif.

Tujuan: Klien mampu mengidentifikasi pencegahan infeksi. dan berpatisipasi dalam tindakan

Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.

INTERVENSI RASIONAL a. Cuci tangan sebelum a. Mencegah terjadinya infeksi melakukan tindakan. silang. Pengunjung/keluarga b. Menurunkan atau dianjurkan hal yang sama. mengurangi adanya b. Jaga persona lhigine klien organisme hidup. dengan baik. c. Peningkatan suhu c. Monitor temperatur. merupakan tanda terjadinya infeksi. d. Kaji semua sistem untuk memonitor adanya tanda- d. Mencegah atau tanda infeksi. mengurangi terjadinya infeksi. e. Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptif e. Mencegah terjadinya prosedur. infeksi. f. Kolaboratif f. Segera dapat diketahui

g.

Monitor CBC, granulosit, platelets.

WBC, g.

apabila terjadi infeksi. Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme penyebab infeksi. Menghilangkan/mengurangii nfeksi.

h.

Berilah indikasi.

antibiotik

sesuai h.

7.

Resiko tinggi gangguan fungsi seksual berhubungan dengan defisit pengetahuan/ketrampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesahatan, penurunan fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan.

Tujuan: Klien dapat mengungkapkan pengertiannya terhadap efek kanker dan therapi terhadap seksualitas. Memperhatikan aktivitas seksual dalam batas kemampuan.

a.

INTERVENSI RASIONAL Diskusikan dengan a. Meningkatkan ekspresi klien/keluarga tentng proses seksuakitas dan seksualitas dan reaksi serta meningkatkan komunikasi hubungan nya dengan terbuka antara klien dengan penyakitnya. pasangannya. Berikan advise tentang b. Membantu klien dalam akibat pengobatan terhadap mengatasi masalah seksual seksualitasnya. yang dihadapi. Berikan privasi kepada klien c. dan pasangannya. Ketuk pintusebelum masuk. Memberikan kesempatan padaklien dan pasangannya untuk merngekspresikan perasaan dan keinginan secara wajar,

b.

c.

8. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, defisit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia. Tujuan: Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik. Berpartisipasi penyembuhan. dalam pencegahan komplikasi dan percepatan

INTERVENSI RASIONAL a. Kaji integritas kulit untuk a. Memberikan informasi untuk melihat adanya efek perencanaan asuhan dan samping therapi kanker, mengembangkan identifikasi amati penyembuhan luka. awal terhadap perubahan integritas kulirt. b. Anjurklan klien untuk tidak menggaruk bagian yang b. Menghindari perlukaan gatal. yang dapat menimbulkan infeksi. c. Ubah posisi klien secara teratur. c. Menghinfdari penekanan yang terus menerus pada d. Berikan advise pada klien suatu daerah tertentu. untuk menghindari pemakaian cream kulit, d. Mencegah trauma minyak, bedak tanpa berlanjut pada kulit dan rekomendasi dokter. produk yang kontra indikatif.

9.

Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake.

Tujuan: Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal,urine output nortmal.

INTERVENSI RASIONAL Monitor intake dan output a. pemasukan oral yang tidak termasuk keluaran yang adekuat dapat tidak normal seperti emesis, menyebabkanhipovolemia. diare, dranase luka,. Hitang Dengan monotor berat keseimangan selama 24 b. badan dapat diketahui bila jam. tidak ada b. Timbang berat badab jika keseimbangan.cairan. perlu. c. Tanda-tanda hipovolemik c. Monitor vital signs, evaluasi segera diketahui dengan pulse peripheral, capilary adanya takikardi,, hipotensi refil. dan peningkatan suhu tubuh dengan dehidrasi. d. Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. d. Dengan mengetahui tandaCatat keadaan kehauasan tanda dehidrasi dapat pada klien. mencegah terjadinya hipovolemia. e. Anjurkan intake cairan sampai 3000 ml perhari e. memenuhi kebutuhan cairan sesuai kebutuhan klien. yang kurang. a. f. Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan membran f.Segera diketahui adanya mukosa, luka bedah, perubahan keseimbangan adanya ekimosis dan volume cairan. pethekie. g.Mencegah terjadinya perdarahan. g. Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan h.Memenuhi kebutuhan cairan. pada luka bedah. h. i. j. k. Kolaboratif. Berikan cairabn diperlukan. IV bila i.Mencegah /menghilangkan mual dan muntah. j.Mengetahui perubahan yang terjadi. k. Menunjang ketepatan therapi.

Berikan therapi antiseptik. Monitor hasil laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA

Dongoes (2000), Asuhan Keperawatan, EGC. Jakarta

Elizabeth.J.C. (2000). Patofisiologi. EGC. Jakarta.