Anda di halaman 1dari 22

Pajak Penghasilan Badan

Pengertian Wajib Pajak Badan Dalam penjelasan pasal 2 ayat (1) huruf b UU nomor 36/2008 tentang Pajak Penghasilan, yang dimaksud dengan Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha. Ada berbagai bentuk Badan. Ada yang semata-mata memang bertujuan mencari keuntungan, ada yang tidak, dan ada yang diantara keduanya. Pemilik Badan juga dapat dibatasi pada orangorang tertentu, atau dibatasi dengan batasan modal tertentu, atau dibatasi dengan wewenang tertentu. Bentuk-bentuk Badan Pengertian badan meliputi Perseroan Terbatas (PT) atau Perseroan Terbuka (Tbk), Perseroan Komanditer (CV), perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara maupun Daerah (BUMN/D) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan Bentuk Usaha Tetap (BUT/permanent establishment). BUMN/D merupakan subjek pajak tanpa memperhatikan nama dan bentuknya sehingga setiap unit tertentu dari badan Pemerintah, misalnya lembaga, badan, dan sebagainya, yang dimiliki oleh pemerintah Pusat dan pemerintah Daerah yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan, merupakan subjek pajak. Dalam pengertian perkumpulan, termasuk pula asosiasi, persatuan perhimpunan, atau ikatan dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama. Perseroan Komanditer (CV) maupun Perseroan Terbatas (PT) adalah dua bentuk badan usaha yang lebih berorientasi kepada mencari keuntungan. Untuk membentuk CV dan PT tersebut dapat dilakukan oleh beberapa orang saja, bahkan dimungkinkan pembentukan itu dilakukan oleh beberapa orang yang bersaudara. Dengan dapat dibentuknya CV dan PT oleh beberapa orang saja, bahkan yang masih saudara, maka bentuk Badan ini sebenarnya dari segi kepemilikan maupun penguasaan hampir sama dengan perusahaan perseorangan. Namun juga terdapat kemungkinan kedua bentuk Badan tersebut kepemilikannya dibuka untuk umum, yaitu melalui penjualan saham di Bursa Efek.

Perseroan Terbuka (Tbk) adalah perseroan yang telah melakukan penawaran umum saham atau efek bersifat ekuitas lainnya di Indonesia dan tercatat di Bursa Efek di Indonesia. Salah satu pertimbangan antara bentuk Perseroan Terbatas (PT) dengan Perseroan Terbuka (Tbk) antara lain pertimbangan PPh. Jika Perseroan Terbuka (Tbk) tersebut: (1) paling sedikit 40% dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di Bursa Efek di Indonesia, (2) dimiliki oleh paling sedikit 300 pihak, dan masing-masing pihak hanya boleh memiliki saham kurang dari 5% dari keseluruhan saham yang disetor, maka dapat memperoleh penurunan tarif PPh sebesar 5% lebih rendah daripada tarif tertinggi Badan lainnya. Kedua ketentuan tersebut harus dipenuhi oleh Perseroan Terbuka (Tbk) dalam jangka waktu paling singkat 6 bulan dalam jangka waktu satu tahun pajak. Apabila dalam waktu satu tahun pajak Perseroan Terbuka (Tbk) tersebut tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut, maka ketentuan penurunan tarif itu menjadi tidak berlaku. Koperasi adalah Badan yang mengorganisasikan pemanfaatan dan pendayagunaan sumber daya ekonomi anggotana atas dasar prinsip-prinsip koperasi dan kaidah usaha ekonomi, untuk meningkatkan tarif hidup anggota pada khususnya dan masyarakat daerah kerja pada umumnya. Bentuk kegiatan Koperasi dapat berupa: Koperasi Simpan Pinjam, Koperasi Serba Usaha, atau Koperasi Unit Desa, dan lain-lain. Yayasan adalah badan hukum yang didirikan oleh beberapa orang atau beberapa badan usaha, yang lebih sering tidak bertujuan untuk semata-mata mencari keuntungan (nirlaba). Namun demikian tidak semua yayasan berorientasi tidak mencari keuntungan. Atau yayasan yang berorientasi tidak mencari keuntungan, dapat juga dalam realisasinya mendapatkan keuntungan. Badan Sebagai Subjek PPh Badan merupakan salah satu subjek pajak: Subjek Pajak Dalam Negeri Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia Subjek Pajak Luar Negeri (1) Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kdudukan di Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui Bentuk Usaha Tetap di Indonesia, (2) Badan yang tidak didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia, yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui Bentuk Usaha Tetap di Indonesia.

Dengan demikian, Bentuk Usaha Tetap tersebut menggantikan Subjek Pajak Luar Negeri tersebut dalam memenuhi kewajiban perpajakannya di Indonesia. Dalam hal penghasilan tersebut diterima atau diperoleh tanpa melalui Bentuk Usaha Tetap, maka pengenaan pajaknya dilakukan langsung kepada Subjek Pajak Luar Negeri tersebut. Perbedaan penting antara Wajib Pajak dalam negeri dan luar negeri, terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain: 1. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia. 2. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto dikurangi dengan biaya yang diperkenankan dalam UU PPh (pasal 36 UU 36/2008), sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan bruto. 3. Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan SPT Tahunan PPh sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak. Sedangkan Wajib Pajak luar negeri tidak wajib menyampaikan SPT Tahunan PPh karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final. Mulai dan Akhir Kewajiban Pajak Subjektif Pada prinsipnya semua badan yang tidak didirikan atau tidak berkedudukan di Indonesia mempunyai kewajiban pajak subjektif jika mempunyai hubungan ekonomis dengan Indonesia. Pasal 2 UU 36/2008: Subjek pajak Badan dalam negeri dimulai pada saat Badan tersebut didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, dan berakhir pada saat dibubarkan atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia. Subjek pajak luar negeri BUT dimulai pada saat Badan menjalankan usaha atau melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (5) UU 36/2008 dan berakhir pada saat tidak lagi menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT. Subjek pajak luar negeri non BUT dimulai pada saat Badan tersebut menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia, dan berakhir pada saat tidak lagi menerima atau memperoleh penghasilan tersebut.

Objek PPh Yang menjadi objek PPh WP Badan adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh WP, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan WP yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk: a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya. b. Hadiah (dari undian, atau pekerjaan, atau kegiatan) dan penghargaan. c. Laba usaha. d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta, termasuk: 1) Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal. 2) Keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya. 3) Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apapun. 4) Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan kecuali: a) yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat b) badan keagamaan c) badan pendidikan d) badan sosial e) yayasan f) koperasi g) orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan. 5) Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak pertambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam perusahaan pertambangan.
3

e.

Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan pembyaran tambahan pengembalian pajak.

f. g.

Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jumlah pengembalian utang. Dividen dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan pembagian SHU Koperasi.

h. i. j. k.

Royalti atau imbalan atas penggunaan hak. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunan harta. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala. Keuntungan karena pembebasan utang kecuali sampai jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

l.

Keuntungan selisih kurs mata uang asing.

m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva. n. o. Premi asuransi. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari WP yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas. p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak penghasilan dari usaha berbasis syariah. q. r. Imbalan bunga. Surplus Bank Indonesia. Bantuan atau sumbangan termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. b. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial, termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan sepanjang tidak ada hubungan

Yang dikecualikan dari objek PPh: a.

dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan. c. d. e. Warisan. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh Badan. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari WP atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh: 1) Bukan WP. 2) WP yang dikenakan pajak secara final. 3) WP yang menggunakan Norma Penghitungan Khusus (deemed profit) pasal 15 UU 36/2008. f. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan lain-lain. g. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri, koperasi, BUMN/D, dari penyertaan modal pada badan usaha yan didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia, dengan syarat: 1) Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan. 2) Bagi perseroan terbatas, BUMN/D yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberi dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor. h. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai. i. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. j. Bagian laba yang diterima atau diperoleh dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif. k. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba patungan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia dengan syarat badan patungan usaha tersebut:

1) Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. 2) Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia. l. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut oleh Peraturan Menteri Keuangan. m. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan dalam jangka waktu paling lama 4 tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. n. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kepada WP tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. PPh Badan yang Bersifat Final Berdasarkan pasal 4 ayat (2) UU 36/2008), penghasilan di bawah ini dikenai pajak bersifat final: a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya bunga obligasi, dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi. b. Penghasilan berupa hadiah undian. c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura. d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan. e. Penghasilan tertentu lainnya yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Bentuk Usaha Tetap
6

Suatu Bentuk Usaha Tetap (BUT) mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung, termasuk juga mesin-mesin, peralatan, gudang dan komputer, atau agen elektronik atau peralatan otomatis (automated equipment) yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan usaha melalui internet. Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Contoh bentuk usaha tetap: (1) tempat kedudukan manajemen, (2) cabang perusahaan, (3) kantor perwakilan, (4) gedung kantor, (5) pabrik, (6) bengkel, (7) gudang, (8) ruang untuk promosi dan penjualan, (9) pertambangan dan penggalian sumber alam, (10) wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi, (11) perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan, (12) proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan, (12) pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pagawai atau orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu 12 bulan, (13) orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas, (14) agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia, (15) komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan usaha melalui internet. Perusahaan asuransi yang didirikan dan bertempat kedudukan di luar Indonesia dianggap mempunyai Bentuk Usaha Tetap di Indonesia apabila perusahaan asuransi tersebut menerima pembayaran premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia melalui pegawai, perwakilan, atau agennya di Indonesia. Menanggung risiko di Indonesia tidak berarti bahwa peristiwa yang mengakibatkan risiko tersebut terjadi di Indonesia. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pihak tertanggung bertempat tinggal, berada, atau bertempat kedudukan di Indonesia.

Objek Pajak BUT Objek pajak Bentuk Usaha Tetap:


7

Penghasilan BUT sendiri Penghasilan dari usaha atau kegiatan BUT tersebut dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai. Penghasilan Kantor Pusat dari usaha, atau kegiatan penjualan barang, atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan oleh BUT di Indonesia. Misalnya: Sebuah bank di luar negeri yang memiliki BUT di Indonesia, memberikan pinjaman secara langsung kepada perusahaan di Indonesia, tanpa melalui BUT di Indonesia. Dalam hal ini, penghasilan sehubungan dengan pemberian pinjaman oleh kantor pusat tersebut diakui sebagai penghasilan BUT. Sebuah perusahaan di luar negeri yang memiliki BUT di Indonesia, menjual produk yang sama dengan yang dijual oleh BUT, kepada pembeli secara langsung tanpa melalui BUT. Dalam hal ini, penjulan yang dilakukan oleh kantor pusat tersebut diakui sebagai penjualan BUT.

Penghasilan menurut penjelasan pasal 26 ayat (1) UU 36/2008: o Penghasilan yang bersumber dari modal dalam bentuk dividen, bunga (termasuk premium), diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian hutang, royalti, dan sewa, serta penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. o imbalan lainnya sehubungan dengan jasa, pekerjaan, atau kegiatan. o hadiah dan penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun. o pensiunan/pembayaran berkala lainnya. o premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya. o keuntungan karena pembebasan utang. yang diterima atau diperoleh Kantor Pusat (wajib pajak luar negeri) dari Indonesia sepanjang terdapat hubungan efektif antara BUT dengan harta atau kegiatan yang memberi penghasilan dimaksud. Misalnya: 1. Ford Inc. yang berkedudukan di Amerika menutup perjanjian linsensi dengan PT KIA yang berkedudukan di Korea untuk mempergunakan merek dagang Ford Inc. atas hak tersebut, Ford Inc. menerima royalti dari PT KIA.

2. Sehubungan dengan perjanjian tersebut Ford Inc. memberikan jasa manajemen kepada PT KIA melalui BUT PT KIA di Indonesia dan dalam rangka pemasaran produk KIA yang menggunakan merek Ford Inc. tersebut. 3. Dalam kasus di atas penggunaan merek dagang oleh PT KIA memiliki hubungan efektif dengan BUT di Indonesia sehingga penghasilan Ford Inc. yang berupa royalti tersebut diperlakukan sebagai penghasilan BUT. Kewajiban Pajak BUT Walaupun BUT termasuk wajib pajak luar negeri, namun kewajiban perpajakan BUT hampir sama dengan wajib pajak dalam negeri. Suatu BUT berkewajiban untuk ber-NPWP. Apabila memenuhi ketentuan UU PPN, BUT juga wajib untuk dikukuhkan sebagai PKP. Setelah ber-NPWP dan atau dikukuhkan sebagai PKP, BUT berkewajiban menjalankan hak dan kewajiban perpajakan yang sama dengan wajib pajak dalam negeri. BUT wajib menyampaikan SPT PPh Badan, SPT PPh pasal 4 ayat (2), dan PPh pasal 21, 22, 23, 26. Perbedaan mendasar dalam perlakuan PPh antara wajib pajak dalam negeri dan BUT terletak pada: Sumber penghasilan BUT yang dikenakan PPH adalah penghasilan dari Indonesia saja, karena BUT termasuk wajib pajak dalam negeri. Adanya perlakuan khusus tentang penghasilan yang menjadi objek pajak BUT, dan biaya yang boleh dikurangkan bagi BUT, yang diatur dalam pasal 5 UU 36/2008. Adanya kewajiban khusus pemotongan PPh pasal 26 sebagaimana ketentuan pasal 26 ayat (4) UU 36/2008.

Biaya BUT yang Dapat Dibebankan dan Tidak Dapat Dibebankan

Pembayaran BUT kepada Kantor Pusat yang tidak diperbolehkan dibebankan sebagai biaya adalah: Royalti atau imbalan lainnya sehubungan dengan penggunaan harta, paten, atau hak-hak lainnya. Imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya. Bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan.

Biaya administrasi Kantor Pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan sebagai biaya adalah: Biaya administrasi Kantor Pusat yang berkaitan dan dalam rangka menunjang usaha atau kegiatan BUT yang bersangkutan. Maksimum sebanding dengan besarnya peredaran usaha BUT di Indonesia terhadap peredaran usaha perusahaan tersebut di seluruh dunia. BUT di Indonesia yang mengurangkan biaya administrasi Kantor Pusat tersebut wajib melampirkan dalam SPT-nya Laporan Keuangan Konsolidasi yang meliputi seluruh usaha atau kegiatan di seluruh dunia untuk tahun pajak yan bersangkutan. Laporan Keuangan Konsolidasi tersebut harus telah diaudit oleh Akuntan Publik dan mengungkapkan rincian peredaran usaha perusahaan serta jenis dan besaranya biaya administrasi yang dibebankan oleh masing-masing BUT di negara tempat BUT tersebut berada. PPh Pasal 26 atas Branch Profit Tax Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor 14/PMK.03/2011: 1. Dalam hal penghasilan kena pajak sesudah dikurangi Pajak Penghasilan (net income after tax) dari suatu BUT di Indonesia dikenai pajak sebesar 20% kecuali

penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia. a. Penanaman kembali di Indonesia harus dilakukan paling lama pada akhir tahun pajak berikutnya, setelah tahun pajak diperolehnya penghasilan tersebut bagi BUT yang bersangkutan. b. BUT yang bersangkutan menyampaikan pemberitahuan secara tertulis mengenai bentuk penanaman modal, realisasi penanaman kembali yang telah dilakukan, saat mulai berproduksi komersial bagi perusahaan yang baru
10

didirikan, dan tahun pajak dilakukan realisasi penananam kembali yang disampaikan kepada Kepala KPP tempat WP BUT terdaftar dengan melampirkan pada SPT Tahunan yang sama dengan tahun pajak diterima atau diperolehnya penghasilan yang bersangkutan. 2. Pengecualian tersebut diberikan apabila seluruh penghasilan kena pajak dikurangi pajak penghasilan dari suatu BUT ditanamkan kembali di Indonesia dalam bentuk: a. Penyertaan modal pada perusahaan yang baru didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri atau peserta pendiri yang secara aktif telah melakukan kegiatan usaha sesuai akta pendiriannya, paling lama 1 tahun sejak perusahaan tersebut didirikan dan BUT yang bersangkutan tidak boleh melakukan pengalihan atas penyertaan modal, paling sedikit dalam jangka waktu 2 tahun sejak perusahaan baru berproduksi secara komersial (telah mulai melakukan penjualan barang/jasa) keputusan saat berproduksi komersial ditetapkan oleh KPP tempat WP BUT terdaftar, berdasarkan hasil penelitian KPP tersebut, paling lama 6 bulan setelah WP BUT menyampaikan pemberitahuan secara tertulis mengenai saat berproduksi komersial. b. Penyertaan modal pada perusahaan yang sudah didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham perusahaan yang sudah didirikan dan berkedudukan di Indonesia tersebut sudah mempunyai kegiatan aktif di Indonesia dan BUT yang bersangkutan tidak boleh melakukan pengalihan atas penyertaan modal, paling sedikit dalam jangka waktu 3 tahun sejak penyertaan modal. c. Pembelian aktiva tetap yang digunakan oleh BUT untuk menjalankan usaha BUT atau melakukan kegiatan BUT di Indonesia dan BUT yang bersangkutan tidak boleh melakukan pengalihan atas pembelian aktiva tetap, atau pengalihan atas investasi berupa aktiva tidak berwujud, paling sedikit dalam jangka waktu 3 tahun sejak perolehan aktiva tetap atau investasi aktiva tidak berwujud yang bersangkutan. Dalam hal induk perusahaan dari WP BUT mempunyai persetujuan penghindaran pajak berganda (tax treaty) dengan Indonesia, maka besarnya tarif untuk menghitung PPh adalah sebagaimana ditentukan dalam tax treaty.
11

Bukan WP Badan Lembaga atau unit dari pemerintah yang tidak termasuk dalam pengertian badan adalah unitunit tertentu yang memenuhi seluruh kriteria berikut [Pasal 2 ayat (3) huruf b UU PPh]: 1. Pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan; 2. Pembiayaannya bersumber dari APBN (Pusat) atau APBD (Daerah); 3. Penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah; dan 4. Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara. Kantor perwakilan negara asing, seperti Kantor Kedutaan negara asing yang ada di Indonesia, sesuai ketentuan Pasal 3 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 juga ditetapkan bukan sebagai WP Badan. Demikian juga dengan organisasi-organisasi internasional yang ada di Indonesia juga ditetapkan bukan sebagai WP badan dengan syarat: 1. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; 2. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota; dan 3. Telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 215/PMK.03/2008 stdtd PMK Nomor 142/PMK.03/2010. Tempat Kedudukan WP Badan Penentuan tempat kedudukan Badan penting untuk menetapkan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) mana yang mempunyai yurisdiksi pemajakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Badan tersebut. Pada dasarnya tempat kedudukan Badan ditentukan menurut keadaan yang sebenarnya. Dengan demikian penentuan tempat tinggal atau tempat kedudukan tidak hanya didasarkan pada pertimbangan yang bersifat formal, tetapi lebih didasarkan pada kenyataan. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam menentukan tempat kedudukan Badan antara lain: domisili, tempat menjalankan usaha pokok, atau hal lainnya. Hubungan Istimewa
12

Hubungan istimewa dianggap ada apabila: 1. Hubungan Kepemilikan Penyertaan modal langsung atau tidak langsung sebesar 25% atau lebih pada Wajib Pajak lainnya. Hubungan antara Wajib Pajak dengan penyertaan 25% atau lebih, pada dua Wajib Pajak atau lebih. Hubungan antara dua Wajib Pajak atau lebih yang modalnya sebesar 25% atau lebih dimiliki oleh pihak yang sama. 2. Hubungan Penguasaan Yaitu hubungan antara Wajib Pajak yang menguasai Wajib Pajak lainnya, atau dua Wajib Pajak atau lebih berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung, baik penguasaan secara manajemen maupun melalui penggunaan teknologi. Penguasaan melalui manajemen, misalnya Mr. Z adalah Dirut pada PT Alfa dan juga Dirut pada PT Beta. Dalam hal ini antara PT Alfa dan PT Beta terdapat hubungan istimewa. Penguasaan melalui teknologi, misalnya PT A perusahaan yang memproduksi minuman, menggunakan formula yang diciptakan oleh PT B. Dalam hal ini, antara PT A dan PT B terdapat hubungan istimewa. 3. Hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus dan/atau kesamping satu derajat. Sedarah lurus satu derajat ayah, ibu, dan anak. Sedarah kesamping satu derajat saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu. Semenda lurus satu derajat mertua dengan menantu, atau orang tua dengan anak tiri. Semenda kesamping satu derajat ipar. Apabila antara suami dan istri dilakukan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan, maka antara suami dan istri tersebut terdapat hubungan istimewa. Penghitungan Pajak pada Akhir Tahun Bagi WP dalam negeri dan BUT pajak yang terutang dikurangi dengan kredit pajak pada tahun yang bersangkutan, berupa: a. Pemotongan pajak atas penghasilan dari pekerjaan, jasa, dan kegiatan. (PPh pasal 21)
13

b. Pemungutan pajak atas penghasilan dari kegiatan bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain. (PPh pasal 22) c. Pemotongan pajak atas penghasilan berupa dividen, bunga, royalti, sewa, hadiah, penghargaan, dan imbalan jasa. (PPh pasal 23) d. Pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan luar negeri yang boleh dikreditkan. (PPh pasal 24) e. Pembayaran yang dilakukan oleh WP sendiri. (PPh pasal 25) f. Pemotongan PPh sebagaimana pasal 26 ayat (5). Apabila pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak ternyata lebih kecil dari jumlah kredit pajak di atas, maka setelah dilakukan pemeriksaan, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan, setelah diperhitungkan dengan utang pajak berikut sanksi-sanksinya (denda, bunga, dan lain-lain). Kewajiban SPT Tahunan PPh Hampir semua WP Badan diwajibkan untuk menyampaikan (baca: melaporkan) SPT Tahunan PPh baik Formulir 1771 (yang pembukuannya menggunakan mata uang Rupiah/Rp) atau Formulir 1771$ (yang pembukuannya menggunakan mata uang dan bahasa asing yang diizinkan Menteri Keuangan). SPT Tahunan PPh ini wajib disampaikan (baca: dilaporkan) kepada KPP Domisili tempat WP Badan tersebut terdaftar. SPT Tahunan PPh harus disampaikan dalam jangka waktu 4 (empat) bulan setelah berakhirnya tahun pajak yang bersangkutan. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan Tahun Pajak adalah sama dengan tahun buku yang digunakan oleh WP Badan tersebut. Misalnya jika pembukuan WP Badan dimulai pada bulan Januari 2011 dan berakhir pada Desember 2011, maka Tahun Pajaknya disebut dengan Tahun Pajak 2011. Thus, SPT Tahunan PPh harus disampaikan paling lambat tanggal 30 April 2012. Jika misalnya pembukuan WP Badan dimulai pada bulan April 2011 dan berakhir pada bulan Maret 2012, maka Tahun Pajaknya juga disebut dengan Tahun Pajak 2011 karena jumlah bulan di tahun 2011 lebih banyak dari pada tahun 2012. Dalam hal ini, SPT Tahunan PPh-nya harus disampaikan paling lambat tanggal 31 Juli 2012. Badan Sebagai Pemungut Pajak Selain sebagai pembayar pajak, Badan juga sebagai pemungut pajak terhadap pihak ketiga (withholding tax). Apabila Badan tidak memotong withholding tax (misalnya PPh pasal 23 atas jasa
14

konsultan), maka Badan akan menanggung akibatnya jika dilakukan pemeriksaan oleh fiskus karena Badan akan dikenakan kewajiban untuk membayar withholding tax dimasud ditambah denda bunga atas keterlambatan penyetoran sebesar 2% sebulan dari pokok pajak. Tarif PPh WP Badan Tarif PPh untuk WP Badan sesuai UU 36/2008 terdiri atas 3 (tiga) tarif, yaitu: (1) tarif sesuai Pasal 17 ayat (2a) UU PPh, (2) tarif sesuai Pasal 17 ayat (2b) UU PPh, (3) dan tarif sesuai Pasal 31E UU PPh.

1. Tarif Pasal 17 Ayat (2a) UU PPh Besarnya tarif PPh pasal 17 ayat (2a) adalah 25% (dua puluh lima persen) dan sudah diberlakukan sejak Tahun Pajak 2010. Tarif PPh ini adalah tarif umum yang berlaku bagi semua WP Badan, khususnya WP Badan yang tidak memenuhi syarat Pasal 17 ayat (2b) maupun Pasal 31E UU PPh.
15

2. Tarif Pasal 17 Ayat (2b) UU PPh Bagi WP Badan berbentuk Perseroan Terbuka (Tbk atau go public), mendapat pengurangan tarif sebesar 5% (lima persen) dari tarif normal atau dengan kata lain mulai Tahun Pajak 2010 tarif untuk WP Badan yang sudah go public adalah 20% (dua puluh persen). WP Badan yang berhak mendapat penurunan atau pengurangan tarif PPh ini adalah WP Badan yang sudah go public dengan kriteria sebagai berikut:

Saham diperdagangkan di bursa efek di Indonesia; Jumlah saham yang dilempar ke publik minimal 40% (empat puluh persen) dari keseluruhan saham yang disetor dan saham tersebut dimiliki oleh minimal 300 pihak (pemegang saham) baik orang pribadi ataupun badan; dan

Masing-masing pihak (pemegang saham) hanya boleh memiliki saham kurang dari 5% (lima persen) dari keseluruhan saham yang disetor. Kondisi yang disebutkan pada kedua poin terakhir tersebut harus dipenuhi dalam jangka

waktu paling singkat 6 (enam) bulan dalam jangka waktu 1 (satu) Tahun Pajak. Misalnya jika Tahun Pajak atau tahun buku WP Badan menggunakan bulan Januari 2011 sampai dengan Desember 2011, maka kedua kondisi tersebut harus dapat terpenuhi pada awal Januari 2011 sampai dengan akhir Juli 2011, atau pada awal Februari 2011 sampai dengan akhir Agustus 2011, demikian seterusnya hingga periode terakhir pada awal Juli 2011 sampai dengan akhir Desember 2011. Jika salah satu dari ketiga kriteria tersebut di atas tidak terpenuhi, maka WP Badan tersebut harus menggunakan tarif PPh yang ditetapkan dalam Pasal 17 ayat (2a) UU PPh, yaitu sebesar 25% (dua puluh lima persen).

3. Tarif Pasal 31E UU PPh. Besarnya tarif PPh menurut pasal 31E adalah 50% (lima puluh persen) dari tarif umum yang disebutkan pada Pasal 17 ayat (1) huruf b atau Pasal 17 ayat (2b) UU PPh. Dengan kata lain, ada diskon tarif PPh sehingga tarif yang dikenakan kepada WP Badan yang memenuhi syarat hanya sebesar 14% (untuk tahun pajak 2009) atau 12,5% (mulai tahun pajak 2010).
16

WP Badan yang berhak mengenyam fasilitas ini adalah WP Badan yang jumlah peredaran brutonya dalam satu Tahun Pajak tidak lebih dari Rp 50 milyar. Cara penghitungannya dapat dilihat pada memori penjelasan Pasal 31E UU PPh. Menurut penegasan dalam poin 2.c. Surat Edaran (SE) Dirjen Pajak Nomor SE-66/PJ./2010 tanggal 24 Mei 2010, yang dimaksud dengan peredaran bruto adalah penghasilan yang berasal dari kegiatan usaha, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, sebelum dikurangi dengan biaya fiskal. Jadi bukan penghasilan yang sifatnya other income atau penghasilan-penghasilan di luar usaha. Pemajakan Atas Penghasilan Bisnis Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi beban-beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto berdasarkan UU 36/2008. Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan tersebut didapat kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya sampai dengan lima tahun. Beban-beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu beban dan biaya yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari satu tahun, dan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Beban yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun merupakan biaya pada tahun yang bersangkutan, misalnya: gaji, biaya administrasi dan bunga. Sedangkan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau melalui amortisasi. Di samping itu, apabila di dalam suatu tahun pajak didapat kerugian karena penjualan harta atau karena selisih kurs, kerugian tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

Penjualan Harta Apabila Wajib Pajak menjual harta dengan harga yang lebih tinggi dari nilai sisa buku atau lebih tinggi dari harga atau nilai perolehan, selisih harta tersebut merupakan keuntungan. Dalam hal

17

penjualan harta tersebut terjadi antara Badan dan pemegang sahamnya, harga jual yang dipakai sebagai dasar untuk penghitungan keuntungan dari penjualan tersebut adalah harga pasar. Dividen Keuntungan yang diperoleh Badan, apabila dibagikan kepada pemegang saham berupa dividen, maka akan terutang PPh. Namun bagi Wajib Pajak CV yang modalnya tidak terbagi atas saham, maka atas dividen yang dibaginya tidak terutang PPh. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh Perseroan Terbatas (PT) sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, BUMN/D dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, tidak termasuk objek PPh, dengan syarat: dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan. PT atau BUMN/D yang menerima dividen tersebut, kepemilikan sahamnya pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor, dan harus mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut. Termasuk dalam pengertian dividen: 1. pembagian laba baik langsung ataupun tidak langsung, dengan nama dan dalam bentuk apapun. 2. pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor. 3. pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran, termasuk saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham. 4. pembagian laba dalam bentuk saham. 5. pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran. 6. jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya, yang diterima atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang bersangkutan, 7. pembayaran kembali sebagian atau seluruhnya dari modal yang disetorkan, jika dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika pembayaran kembali itu adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan secara sah. 8. pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut. 9. bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi. 10. bagian laba yang diterima oleh pemegang polis.
18

11. pembagian berupa Sisa Hasil Usaha oleh anggota koperasi. 12. pengeluaran untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan. Royalti Royalti adalah suatu jumlah yang dibayarkan atau terutang dengan cara atau perhitungan apapun, baik dilakukan secara berkala maupun tidak, sebagai imbalan atas: 1. penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusatraan, kesenian, atau karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia, merek dagang, atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial, atau hak serupa lainnya. 2. penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial, komersial, atau ilmiah. 3. pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah, teknikal, komersial, atau ilmiah. 4. pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan atau hak menggunakan hak tersebut. 5. penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup (motion picture films), film atau pita video untuk siaran televisi, atau pita suara untuk siaran radio. 6. pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya. Perlakuan PPh Koperasi Penghasilan koperasi, yang dalam istilah Koperasi disebut sebagai Sisa Hasil Usaha (SHU), merupakan objek pajak yang dikenakan PPh dengan tarif sama seperti badan usaha lainnya. Pembagian SHU kepada anggota tidak dipotong PPh pasal 23. Pembagian SHU kepada anggota diperlakukan sama seperti pembagian dividen kepada pemilik. Bunga simpanan anggota koperasi yang tidak melebihi Rp 240.000,00 per bulan tidak dipotong PPh pasal 23, sedangkan pada perbankan yang tidak dipotong PPh pasal 23 adalah apabila simpanan tidak melebihi Rp 7.500.000,00. Tarif PPh atas bunga simpanan anggota koperasi adalah 10%, sedangkan pada perbankan 20%.
19

Koperasi buruh atau koperasi karyawan yang membangun atau membiayai pondok atau bangunan sederhana bertingkat atau tidak bertingkat yang diserahkan kepada buruh tidak tetap atau pekerja sektor informal berpenghasilan rendah tidak dikenakan PPh. Koperasi yang menanamkan modal, baik untuk penanaman modal baru maupun perluasan usaha yang telah ada atau pada bidang-bidang usaha tertentu dan daerah-daeah tertentu dapat diberikan fasilitas PPh berupa percepatan penyusutan seperti pada Perseroan Terbatas (PT). Koperasi pengusaha taksi diberikan pembebasan Bea Masuk dan PPn ditanggung pemerintah pada saat impor sedan yang digunakan untuk taksi. Perlakuan PPh Yayasan Pengenaan PPh pada yayasan sama dengan badan usaha lain, tergantung barang dan jasa yang menjadi produk yayasan. Namun demikian, hampir kebanyakan produk yayasan berupa jasa yang tidak dikenakan PPh, seperti pendidikan, jasa layanan kesehatan, maupun jasa keagamaan. Perlakuan PPh Jasa Semua kegiatan jasa, baik yang memang menjadi kegiatan utamanya atau yang bukanm akan terutang PPh. Terutangnya PPh itu dapat hanya terjadi di: akhir tahun saja. pada setiap transaksi dan juga akhir tahun.

Wajib Pajak yang hanya bergerak pada kegiatan jasa, besarnya PPh terutang pada akhir tahun dihitung dengan menjumlahkan seluruh penghasilan selama setahun dengan mempergunakan tarif progresif, sedangkan PPh yang harus dibayar adalah setelah diperhitungkan dengan kredit pajak.

Perlakukan PPh Sewa

20

Sewa dapat diartikan sama dengan jasa, yaitu setiap kegiatan layanan berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau suatu fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai. Sewa dapat dilakukan oleh Wajib Pajak sebagai penghasilan sampingan, tetapi sewa juga dapat dijadikan kegiatan utama dari Wajib Pajak. Kegiatan usaha dalam sewa dibedakan menjadi: sewa tanah dan bangunan. sewa kendaraan, sewa aktiva lainnya.

21