Anda di halaman 1dari 13

Obat-obat Adrenergik

Dr. dr. Mgs. Irsan Saleh, M.Biomed NEURON ADRENERGIK DAN KATEKOLAMIN Serat-serat pascaganglionik sistem saraf simpatis terutama adalah adrenergik, di mana pada ujung sarafnya membebaskan transmiter noradrenalin (= norepinefrin, NE) dan mungkin juga adrenalin (epinefrin, Epi). Sebagian kecil dari serat saraf pascaganglionik yang ke kelenjer keringat dan pembuluh darah adalah kolinergik yang membebaskan ACh pada akhir sarafnya. Konsep dari serat saraf adrenergik adalah bahwa impul-impul saraf menyebabkan depolarisasi dan peningkatan permiabilitas terhadap kalsium yang masuk ke dalam sel dan meyebabkan pembebasan NE dan sedikit epinefrin dari terminal saraf. NE, Epi dan dopamin secara kimia termasuk golongan senyawa katekolamin (katekol adalah gugusan 3,4-dihidroksibenzen). Senyawa-senyawa ini didistribusikan ke semua jaringan dalam sel yang disebut sel-sel kromafin. Besarnya pernsentase berbagai katekolamin di dalam sel kromafin tergantung pada lokasi dan speciesnya. Dalam usus dopamin terutama ditemukan dalam sel-sel non-saraf. Dalam medula adrenal ditemukan sedikit sekali dopamin, tetapi banyak sekali adrenalin. Pada organ-organ lain yang mungkin juga ada hubungannya dengan serat saraf, terdapat dopamin sebanyak 50% dari jumlah total katekolamin dan selebihnya adalah NE dan Epi. Dalam otak dopamin terdapat terutama dalam nukleus kaudatus dan mungkin berfungsi sebagai transmiter ditempat ini. Pada penderita Parkinsonisme, dalam neulkleus kaudatusnya terdapat kadar dopamin yang rendah sekali. Katekolamin adalah amin simpatomimetik yang berisi gugusan 3,4dihydroxybenzene (termasuk epinefrin, norepinefrin, isoproterenol dan dopamin), dibentuk dari asam amino fenilalanin seperti terlihat dalam Tabel 1.8. Umumnya katekolamin ditemukan dalam partikel-partikel subselular yang disebut "granul kromafin" atau "gudang granul", diperkirakan terdapat sebanyak 20-40% yang bebas dalam sitoplasma. Granul mempunyai ATP yang banyak, yang dalam kombinasi dengan katekolamin terdapat dalam rasio 1:4. Juga mengandung suatu protein khusus yang larut ("chromogranin") dan enzim dopaminbeta-oksidase.

Katekolamin disimpan dalam partikel subseluler yang disebut "storage granule" dan berfungsi: (1) mengambil dopamin dari sitoplasma, (2) mengoksidasinya menjadi NE, (3) mengikat dan menyimpan NE untuk mencegah difusi ke luar sel dan destruksi oleh enzim-enzim, dan (4) membebaskan NE setelah rangsangan fisiologik. Tabel 1.8. Proses pembentukan katekolamin.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Substrat Reaksi enzim Inhibitor ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------FENILALANIN Fenilalanin hidroksilase TIROSIN Tirosin hidroksilase DOPA Dopa dekarboksilase DOPAMIN Dopamin hidroksilase NORADRENALIN Feniletanolamin-N-metil transferase ADRENALIN ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------disulfiram guanoklor metildopa metil tirosin 3 iodotirosin

Medula adrenal. Disamping epineferin, medula adrenal juga mengandung NE dan disekresi ke dalam sirkulasi. Pada manusia NE dalam medulla adrenal kirakira 20% dari seluruh katekolamin di dalamnya, dan persentasenya lebih tinggi lagi pada bayi baru lahir dan tumor medula adrenal. NE dan E mempengaruhi sejumlah fisiologis target organ , termasuk otot polos pembuluh darah, jantung, hepar, jaringan lemak, dan otot polos uterus. Fungsi utama dari NE adalah untuk mempertahankan tonus simpatis yang normal dan pengaturan sirkulasi darah. Pembebasan katekolamin. Potensial aksi yang sampai di terminal akson akan membebaskan katekolamin. Tiap-tiap sel saraf akan membebaskan hanya 1 katekolamin. Katekolamin disimpan dalam vesikel-vesikel dan dibebaskan oleh proses eksositosis. Terminasi kerja dan metabolisme katekolamin. Terminasi efek katekolamin adalah dengan beberapa cara. Kebanyakan di ataranya dikembalikan ke granular pool (re-uptake) dan sebagian didegradasi secara enzimatik. Faktor-faktor lain termasuk redistribusi dan reflek-reflek kompensasi. "Re-uptake aktif" sangat

penting dalam terminasi kerja katekolamin (kecuali untuk katekolamin yang dibebasakan oleh medula adrenal). Degradasi metabolik katekolamin ialah dengan cara o-metilasi yang dikatalisasi oleh Catechol-O-methyltransferase (COMT - suatu enzim mitokondria) merupakan cara utama yang paling penting, disertai dengan proses lain seperti oksidatif-deaminasi oleh monoamin oksidase (MAO - suatu enzim sitoplamik) atau dengan konjugasi. Kedua enzim ini terdapat dalam konsentrasi tinggi di dalam hepar dan ginjal. Metabolit katekolamin yang utama adalah normetanefrin, metanefrin dan asam 4-hidroksi-3-metoksimandelat (asam fanililmandelat atau FMA). RESEPTOR ADRENERGIK Setelah pembebasan dari terminal saraf, katekolamin bekerja pada reseptorreseptor adrenergik dari sel efektor. Ahlquist pada tahun 1948 membagi reseptor adrenergik menjadi resptor alfa dan beta ( dan ) berdasarkan responnya terhadap beberapa agonis dan antagonis selektif untuk masing-masing reseptor. Efek yang ditimbulkan melalui resptor pada otot polos umumnya adalah stimulasi seperti pada otot vaskuler di kulit dan mukosa; dan pada reseptor beta adalah inhibisi seperti terlihat pada otot polos usus, bronkus dan pembuluh darah otot rangka (Tabel 1.6). Terdapat pengecualian, yaitu: (1) Pada otot polos usus yang mempunyai reseptor alfa dan beta, dan aktivasi kedua reseptor tersebut menimbulkan efek inhibisi. Hal ini terlihat dalam efek epinefrin pada usus yang bekerja pada resptor alfa dan reseptor beta menimbulkan relaksasi usus. Untuk dapat menghambat efeknya secara total diperlukan penghambatan reseptor alfa dan beta. (2) Pada jantung, yang mempunyai reseptor beta yang aktivasinya menimbulkan perangsangan denyut jantung dan kontraksi otot jantung. Reseptor beta dibedakan lagi atas reseptor beta-1 dan beta-2 berdasarkan selektivitas agonis dan antagonis reseptor beta pada berbagai organ. Reseptor beta pada jantung disebut beta-1; dan pada otot polos bronkus, pembuluh darah otot rangka, usus, uterus, dan kelenjar-kelenjar disebut beta-2 (Tabel 1.6). Reseptor alfa juga dibedakan atas -1 dan alfa-2. Alfa-1 terdapat pada sel efektor otot polos dan kelenjar. Alfa-2 terdapat pada ujung saraf adrenergik dan kolinergik. Aktivasi -2 menghambat pembebasan NE dari ujung saraf adrenergik dan ACh dari ujung saraf kolinergik. Alfa-2 juga terdapat pada sel efektor di otak, uterus, kelenjar parotis dan otot polos pembuluh darah tertentu. Efek obat adrenergik dapat diperkirakan sebelumnya bila diketahui reseptor mana yang terutama dipengaruhi oleh obat tersebut.

OBAT-OBAT ADRENERGIK Obat-obat adrenergik ialah obat-obat yang mempunyai efek sama dengan efek yang dihasilkan oleh perangsangan sistem saraf simpatis. Penggolongan Agonis adrenergik (agonis adrenoseptor) harus dikelompokkan menurut 2 cara pendekatan: 1. Penggolngan berdasarkan spektrum efeknya, yaitu (1) agonis , (2) agonis , (3) campuran dan (4) dopamin. 2. Penggolongan berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu: (1) Agonis yang bekerja langsung, yaitu obat secara langsung mengaktifasi adrenoseptor. Termasuk dalam golongan ini ialah: katekolamin ( dopamin, epinefrin, norepinefrin, isoproterenol, dan dobutamin), albuterol, klonidin, metaproterenol, metoksamin, renilefrin, ritodrin, terbutalin. (2) Agonis kerja tak langsung , yaitu yang menyebabkan pembebasan katekolamin endogen (meningkatkan pembebasan norepinefrin dari vesikel) (3) Agonis campuran (kombinasi kerja langsung dan tidak langsung), termasuk golongan ini ialah: efedrin dan metaraminol. Kedua cara penggolongan ini mempunyai arti penting dalam klinis. Mekanisme kerja molekular Mekanisme kerja agonis belum selutuhnya dimengerti. Diduga bawa pada reseptor 2 mereka agaknya menghambat pembentukan cAMP oleh adenilat siklase. Pengaktifan reseptor 1 dapat lansung menyebabkan peningkatan influks kalsium ke dalam sel otot polos. Sebaliknya mekanisme akktivasi reseptor telah dipelajari secara ekstensif, dan komponen sistem reseptor-efektor telah dapat diisolasi dan dibentuk kembali pada suatu membran buatan. Efekutama (pada reseptor 1 dan 2) adalah aktivasi adenilsiklase. Hasilnya berupa peningkatan konversi ATP menjadi cAMP. Cyclic AMP merupakan second messanger untuk berbagai interaksi reseptor hormon.

1. DOPAMIN Sifat-Sifat Fisiologis Dan Farmakologis Dopamin disintesa pada ganglion simpatis, substansia nigra otak tengah dan bagian tengah hipotalamus dan retina. Tidak dapat melewati sawar darah-otak. Efeknya di SSP terjadi karena adanya produksi lokal. Prekursor-DOPA dapat

melewati sawar darah-otak, dan karena itu berguna untuk pengobatan Parkinson (secara biokimia dikarakteristikkan dengan hilangnya sel-sel dopaminergik). Terdapat 2 macam dopamin, yaitu : (1) reseptor D1, efek-efeknya diperantarai oleh adenilat siklase; reseptor D2, kerjanya tidak tergantung pada adenilat siklase. Efek-efek dopamin sebagai agonis -1 adalah: menghambat pelepasan prolaktin, stimulasi SSP, memodifikasi tonus otot, merangang chemoreceptor trigger zone (CTZ) di medula oblongata yang menimbulkan enek dan muntah, pada jantung mempunyai efek inotropik positif dan kronotropik (1) pada dosis sedang sampai tinggi, pada pembuluh arteri ginjal (mempunyai reseptor-reseptor dopamin) memberikan efek: (1) vasodilatasi dan peningkatan GFR pada dosis rendah, (2) vasokonstriksi dan penurunan GFR pada dosis tinggi. INDIKASI KLINIK Dopamin secara klinik dapat digunakan untuk: (1) Mengatasi shok, (2) pengobatan oliguri sekunder disebabkan menurunnya aliran darah ginjal, (3) efek dopaminergik untuk meningkatkan aliran darah ke ginjal tanpa menaikkan tekanan darah sistemik yang diperoleh dengan pemberian dopamin dosis rendah (1-4 mcg/kg/menit) per infus; (4) dosis kisaran beta (4-12 mcg/kg/menit per infus) meningkatkan aliran darah ginjal, meningkatkan kontraksi otot jantung, kronotropik, tetapi menyebabkan vasodilatasi ringan; (5) dosis kisaran alfa (>12 mcg/kg/menit per infus) meningkatkan tekanan darah sistemik, kontraksi otot jantung, kronotropik, yang pada dosis tinggi dapat menurunkan aliran darah ginjal karena efek vasokonstriksi. Toksisitas pada pemberian per infus : (1) dengan dosis tinggi terjadi penurunan perfusi ke ginjal, (2) ekstravasasi dapat menyebabkan iskemia dan nekrosis lokal, (3) takikardi, angina, aritmia dan hipertensi.

2. EPINEFRIN
Epinefrin disintesa oleh medula adrenal dan batang otak. Tidak dapat menembus sawar darah-otak. FARMAKODINAMIK Epinefrin umumnya menimbulkan efek mirip prangsangan sistem saraf simpatis. Efeknya jelas terutama terhadap jantung, otot polos pembuluh darah dan otot polos lain. Jantung: Epinefrin memperkuat kotraksi dan mempercepat relaksasi, sehingga waktu sistolik dan diastolik menjadi pendek. Epinefrin mengaktivasi

reseptor beta-1 di jantung menimbulkan efek inotropik dan kronotropik positif. Obat ini merangsang nodus SA dan sel otomatik lainnya dan mempercepat depolarisasi fase-4 (depolarisasi lambat pada waktu diatole) sehingga mempercepat fing rate pacu jantung dan merangsang pembentukan fokus ektopik dalam ventrikel. Dalam nodus Perangsangan nodus SA menyebabkan perpindahan pacu jantung ke sel-sel yang mempunyai firng rate lebih cepat; mempercepat konduksi, mengurangi blokade AV, dan memperpendek periode refrakter nodus AV. Dengan demikian curah jantung, kerja jantung dan pemakaian oksigen bertambah tidak seusai dengan kerja jantung, sehingga efisiensi jantung berkurang. Dosis epinefrin yang berlebihan akan menyebabkan tekanan darah jadi tinggi sekali, disertai kontraksi prematur pada ventrikel, taki kardi ventrikel dan akhirnya fibrilasi ventrikel. Vaskuler. Perangsangan reseptor -1 menimbulkan vasokonstriksi pada pembuluh darah kulit, mukosa, dan ginjal. Dosis rendah menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah otot rangka karena aktivasi reseptor -2 yang lebih dominan karena afinitasnya lebih besar terhadap reseptor -2. Dosis tinggi menyebabkan vasokonstriksi ( lebih domonan) dan dapat menimbulkan peninggian tekanan darah yang jelas (sistolik > diastolik). Bila sebelum pemberian epinefrin diberikan penghambat reseptor- (misalnya dibenamin) maka pemberian epinefrin hanya menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah. Gejala ini disebut epinephrine reversal. Arteri koroner. Epinefrin meningkatkan aliran darah ke koroner, tetapi karena kompresi jantung akibat kerja jantung bertambah dan karena efek pada reseptor alfa-1 yang dominan maka aliran ke koroner dapat berkurang. Akibat peningkatan kontraksi jantung menimbukan hipoksia relatif yang akan membebaskan metabolit vasodilator yang merupakan faktor penentu yang lebih dominan maka hasil akhir adalah peningkatan aliran koroner. Efek epinefrin yang menambah aliran darah ke koroner ini tidak bermanfaat karena ditiadakan oleh kerja efek peningkatan kerja jantung. Mata: midriasis (reseptor alfa) menurunkan tekanan intra okuler, dapat digunakan untuk "open-angle glaukoma". Saluran cerna : Perangsangan reseptor alfa-2 (terdapat pada membran di terminal saraf kolinergik dan aktivasi reseptor alfa-2 menyebabkan hambatan pembebasan ACh) dan beta-2 (terdapat pada membran sel otot polos) pada otot polos saluran cerna menimbulkan relaksasi, penurunan tonus dan motilitas usus dan lambung. Respirasi : Epi memberikan efek sentral dan efek perifir: (1) Efek perifir perangsangan reseptor Beta-2 di paru-paru menimbulkan relaksasi otot polos bronkus (bronkodilatasi). (2) Efek sentral merangsang pernafasan sehingga frekwensi pernafasan meningkat. Pemberian epinefrin secara IV dapat menim-

bulkan apnue selintas sebelum timbul perangsangan. Efek apnue ini mungkin disebabkan oleh penghambatan pusat pernafasan melalui efek langsung atau melalui reflek baroreseptor. Perangsangan -1 pada pembuluh darah paru menyebabkan vasokon striksi yang menimbulkan kekeringan mukosa saluran nafas. Uterus : Pada uterus manusia terdapat reseptor alfa dn -2. Responya terhadap epinefrin tergantung pada dosis yang diberikan dan fase kehamilan. Pada kehamilan bulan terakhir dan pada waktu partus epinefrin menghambat tonus dan kontraksi uterus melalui resptor -2. Efek ini tidak begitu jelas. Pemberian -2 agonis seperti ritodrin atau terbutalin ternyata efektif untuk menunda kelahiran prematur. Kandung kemih: Reseptor beta-2 menyebabkan relaksasi dan reseptor alfa menyebabkan kontraksi otot trigon dan spingter, sehingga dapat menimbulkan kesulitan miksi dan retensi urin. SSP: Epinefrin dosis terapi tidak menimbulkan efek stimualsi yang kuat karena obat inmi relatif polar sehingga sukar melewati sawar darah-otak. Akibat dari efek perifirnya pada beberapa orang dapat menimbul kegelisahan, kekawatiran, sakit kepala dan tremor. Efek metabolik. Perangsangan reseptor beta-2 di hati dan otot rangka menstimulasi glikogenolisis. Dalam hati glikogen dirubah menjadi glukosa oleh glukosa-6-fosfatae, sedangkan otot rangka tidak mempunyai enzim ini, tetapi melepaskan asam laktat. Epinefrin juga menghambat sekresi insulin (dominasi reseptor alfa terhadap beta-2) dan menurunkan ambilan glukosa oleh jaringan perifir. FARMAKOKINETIK Pemberian oral epinefrin dirusak oleh enzim COMT dan MAO yang banyak terdapat dalam dinding usus dan hati. Suntikan subkutan absorpsinya lambat karena terjadi vasokonstriksi lokal. Pemberian I.M. absorpsi lebih cepat. Pemberian lokal melalui semprot hidung dan inhalasi, efeknya terbatas pada saluran nafas, namun dapat terjadi efek sistemik. EFEK SAMPING DAN INTOKSIKASI Efek samping dapat berupa : rasa takut, kawatir, kegelisahan ketegangan, sakit kepala berdenyut, tremor, rasa lemas, pusing, pucat, palpitasi dan sukar bernafas. Gejala ini cepat mereda setelah istirahat. Dosis epinefrin yang berlebihan atau pemberian IV dapat menimbulkan perdarahan otak akibat kenaikan tekanan darah yang hebat secara mendadak.

Untuk mengatasi ini dapat diberikan vasodilator kerja cepat seperti Na-nitroprusid atau suatu alfa-bloker. Penderita hipertiroidi dan hipertensi lebih peka terhadap efek samping dan efek pada sistem kardiovaskuler. Pada penderita penyakit jantung organik atau pada anestesi dengan hidrokarbon berhalogen, epinefrin dapat menimbulkan aritmia ventrikel dan dapat melanjut jadi fibrilasi ventrikel yang biasanya fatal. KONTRAINDIKASI Epinefrin tidak boleh diberikan pada penderita : (1) hipertensi, (2) hipertiroidi, (3) aritmia dan (4) angina pektoris karena memperberat kerja jantung dan memperberat kekurangan O2 yang dapat menimbulkan serangan angina. INDIKASI KLINIS Epinefrin sering digunakan untuk: (1) bronkospasme diberikan secara subkutan, (2) anafilaktik, diberikan secara parenteral ,(3) dengan infiltrasi anestesi untuk memperpanjang masa kerja anestesi lokal (efek vasokonstriksi lokal pada tempat suntikan), (4) henti jantung, untuk merangsang kontraksi jantung dan (5) secara lokal untuk menghentikan perdarahan kapiler.

3. NOREPINEFRIN (LEVATERENOL)
FISIOLOGIS DAN FARMAKOLOGI Norepinefrin (NE) yang disebut juga sebagai noradrenalin atau levarterenol adalah sebagai berikut : (1) disintesa oleh serat simpatis pascaganglion dan sel di "locus cereleus" dan pon. (2) tidak dapat melewati sawar darah-otak; (3) reseptor alfa memberikan efek fisiologis (lihat Tabel 1.6) : a) alfa-1 - terutama pada membran pasca-sinaptik, sensitivitas terhadap Epi = NE, > isoproterenol b) alfa 2 - terutama pada membran prasinaptik; snsitivitas Epi = NE > isoproterenol (tidak ada aktivitas); (4) reseptor beta - untuk efek fisiologis, lihat TAbel 1.6 ; NE lebih poten pada reseptor beta-1 daripada beta-2. Beta-1 bekerja terutama pada jaringan jantung; sensitivitas terhadap isoproterenol > Epi = NE; beta-2 terutama terdapat pada otot polos dan kelenjar-kelenjar; sensitivitas terhadap isoproterenol > Epi > NE.

4. ISOPROTERENOL
Isoproterenol (= isopropilnorepinefrin = isoprenalin = isopro- pilarterenol) mempunyai efek yang paling kuat terhadap reseptor beta-1 dan beta-2, umunya tidak mempunyai efek pada reseptor alfa (efenya relatif murni terhadap reseptor beta). Aktivasi reseptor beta-2 oleh isoproterenol merelaksasi hampir semua jenis otot polos. Efek ini terutama jelas bila tonus otot polos sebelumnya tinggi, dan paling jelas terlihat pada otot polos bronkus dan saluran cerna. Otot polos pembuluh darah. Pemberian isoproterenol per infus pada manusia menurunkan tekanan darah diastolik, karena relaksasi otot polos pembuluh darah terutama otot rangka, dan juga mesenterium dan ginjal. Efek inotrpoik dan kronotropik positif meyebabkan curah jantung bertambah. Otot polos bronkus. Isoproterenol bekerja sebagai antagonis fisiologik terhadap obat-obat atau terhadap penyebab asma yang menyebabkan bronkokonstriksi. Toleransi dapat timbul bila obat ini digunakan secara berlebihan. Pada asma isoproterenol juga menghambat pembebasan histamin pada reaksi antigen-antibodi. Efek ini juga dimiliki oleh antagonis beta-2 yang selektif. Otot polos saluran cerna dan uterus. Isoproterenol menurunkan tonus dan motilitas usus dan juga motilitas uterus. SSP.Isoproterenol menstimulasi SSP. Efek ini tidak jelas pada dosis terapi. INDIKASI KLINIK. Isoproterenol diindikasikan untuk : (1) mengatasi bronkospasme, diberikan secara ihalasi; (2) perangsang jantung, diberikan IV untuk pengobatan shok (jarang digunkanan); (3) mengatasi bradikardi yang disertai hipotensi dan/atau angina.

5. DOBUTAMIN
EFEK FARMAKOLOGI Secara kimia ada kaitannya dengan dopamin. Merupakan stimulan beta-1 yang selektif. Efeknya lebih sedikit pada reseptor-reseptor beta-2, alfa atau dopamin. Kardiovaskuler. Dobutamin mempunyai efek inotropik positif sama seperti dopamin, tetapi efek kronotropik kurang kuat, lebih sedikit menyebabkan aritmia dan iskemia kardiak daripada dopamin; tidak menghasilkan vasodilatasi pada dosis rendah (dopamin menimbulkan vasodilatasi pada dosis rendah); efek vasokonstriksi minimal.

INDIKASI KLINIK Dobutamin digunakan untuk kelemahan jantung kongestif pada periode pascainsufisiensi mitral, dengan miokarditis atau kardiomiografi dan setelah "open heart surgery". Meningkatkan curah jantung dengan sedikit perubahan pada O2 miokard. EFEK SAMPING Efek samping dapat berupa : enek, muntah, sakit kepala, palpitasi, angina dan aritmia.

4. ADRENEGIK NON-KATEKOLAMIN
Termasuk obat golongan adrenergik-nonkatekolamin adalah : efendrin, fenilefrin, amfetamin, metamfetamin, mefentermin, hidroksiamfe-tamin, metaraminol, metoksamin, agonis beta-2 (orsiprenalin, salbutamol, terbutalin, fenoterol, ritodrin, isoetarin, kuintere- nol, soterenol), dan lain-lain. Aktivitas agonis simpatetik dapat dihasilkan dari pembebasan simpanan NE atau stimulasi langsung reseptor adrenergik. Kebanyakan obat adrenergik nonkatekolamin dapat diberikan per oral, dan banyak di antaranya mempunyai masa kerja yang lama, karena resistensi obat-obat ini terhadap COMT dan MAO dan dosisnya relatif besar. Efek sentral relatif kuat karena dapat melewati sawardarah otak.

4.1. TIRAMIN
Tiramin banyak ditemukan dalam anggur merah, bir, keju, coklat, dan banyak makanan lain. Diambil oleh neuron-neuron simpatis dan bekerja sebagai transmiter palsu untuk membebaskan katekol-katekol. Dalam keadaan normal senyawa ini didegradasi oleh MAO. Tidak digunakan dalam terapi. TOKSISITAS. Bila tiramin dimakan oleh orang yang sedang mengunakan MAO inhibitor akan terjadi penurunan metabolisme MAO inhibitor, dan kadar tiramin dalam serum yang tinggi akan menimbulkan pembebasan katekolamin secara mendadak yang akan menginduksi terjadinya hipertensi krisis dan aritmia berat.

4.2. AMFETAMIN
EFEK FARMAKOLOGIK (1) Amfetamin menimbulkan pembebasan NE (efek-efek alfa dan beta yang kuat) dan dopamin. Ekskresinya adalah melalui urin, umumnya dalam bentuk tidak berobah. (2) SSP : Stimulasi SSP menimbulkan iritabilitas, takipnue, efori, penekanan nafsu makan, peningkatan aktivitas mototrik, dan dosis tinggi dapat menimbulkan psikosis yang dapat diobati dengan obat-obat blokade dopamin. (3) Kardiovaskuler : meningkatkan tekanan darah, menurunkan reflek denyut jantung (bervariasi); dan merupakan aritmogenik pada dosis tinggi. INDIKASI KLINIK 1. penyakit kurang perhatian pada anak-anak (disfungsi otak yang minimal, hiperaktivitas); 2. sebagai narkolepsi; 3. penekan nafsu makan, hanya digunakan untuk jangka pendek (beberapa minggu) karena efek adiksinya. Adanya rebound weight gain menghilangkan manfaat obat ini. EFEK SAMPING Efek samping amfetamin dapat berupa : 1. kelemahan, pusing, insomnia, disfori, tremor, sakit kepala, reaksi psikotik (jarang); 2. palpitasi, takikardi, hipertensi; 3. diare atau konstipasi; 4. impoten; 5. dosis berlebih dapat menimbulkan konfusi, delirium, paranoia, psikosis, aritimia jantung, hipertensi atau hipotensi, nyeri abdomen (pengasaman urin mempercepat ekskresi obat ini); 6. penyalahgunaan dapat menimbulkan ketergantungan obat.

4.3. Metaraminol
EFEK FARMAKOLOGI Metaraminol mempunyai efek-efek farmakologi sebagai berikut : (1) bekerja sebagai "false neurotransmitter" dan sebagai agonis adrenergik; (2) stimulasi reseptor -1 dan -2 (efek langsung dan tidak langsung); (3) meningkatkan tekanan darah saistolik dan diastolik dan sering menimbulkan reflek bradikardi.

INDIKASI KLINIK. Metaraminol digunakan untuk mengatasi hipotensi. EFEK SAMPING : sama dengan NE.

4.4. EFEDRIN FARMAKODINAMIK. Efedrin adalah alkaloid yang diperoleh dari tumbuhan Efedra. Farmakodinamik efedrin sama seperti amfetamin (tetapi efek sentralnya lebih lemah) atau mirip epinefrin. Dibanding dengan epinefrin, efedrin dapat diberikan per oral, masa kerjanya jauh lebih lama, efek sentralnya kuat, dan untuk terapi diperlukan dosis yang jauh lebih besar dari dosis epinefrin. Bekerja merangsang reseptor , 1 dan 2. Efek perifir, bekerja langsung dan tidak langsung (melalui pembebasan NE endogen) pada efektor sel. Seperti epinefrin , efedrin menimbulkan bronkodilatasi, tetapi efeknya lebih lemah dan berlangsung lama. Hal ini digunakan untuk terapi asma bronkial. Penetesan lokal pada mata menimbulkan midriasis. Pada uterus dapat mengurangi aktivitas uterus, dan efek ini daapat dimanfaatkan untuk dismenore. INDIKASI KLINIK Dalam klinik efedrin dapat digunakan untuk : 1) sebagai dekongestan diberikan peroral atau intranasal. Penggunaan yang terus menerus menimbulkan toleran. 2) Pencegahan enuresis, karena efeknya meningkatkan tonus spingter vesica urinaria. 3) Sebagai midriatika untuk pemeriksaan mata. 4) Pengobatan bronkospasme (asma bronkial). EFEK SAMPING: sama seperti pada amfetamin, tetapi efek samping pada SSP lebih ringan. 4.5. METOKSAMIN Metoksamin adalah suatu agonis -1 relatif murni, bekerja langsung pada efektor sel. Efek sentral hampir tidak ada. Efek vasokonstriksi cukup kuat, menimbulkan kenaikan tekanan darah sistolik dan diastolik, disertai dengan efek bradikardi yang kuat dan perlambatan konduksi AV. TOKSISITASNYA: sama dengan fenilefrin. PENGGUNAAN : untuk hipotensi.

5. AGONIS BETA-2 SELEKTIF

Termasuk golongan ini ialah : orsiprenalin (metaproterenol - inhalasi), salbutamol (albuterol - agonis beta-2 paling kuat, pemberian inhalasi atau per oral), terbutalin (inhalasi, subkutan atau per oral), fenoterol, ritodrin, isoetarin (dibanding obat-obat lain : onsetnya cepat, masa kerja pendek, pemberian hanya per inhalasi), kuinterenol, soterenol, dan lain-lain. Dalam dosis kecil efeknya pada reseptor -2 jauh lebih kuat dari pada -1. Bila dosis dinaikkan selektivitas ini dapat hilang. Efek perangsangan -2 pada paru menimbulkan bronkodilatasi, pada uterus dan pembuluh darah otot rangka menimbulkan vasodilatasi. Setiap obat agonis -2 mempunyai selektivitas yang berbeda-beda . EFEK SAMPING. Dapat berupa : (1) enek dan muntah, (2) takikardi, palpitasi, hipertensi, dan disritmia, dan (3) sakit kepala dan tremor. INDIKASI KLINIK. Agonis beta-2 selektif terutama digunakan untuk terapi simtomatis bronkospasme (asma bronkial). Untuk serangan akut asma bronkial dapat digunakan epinefrin subkutan 0,2-0,5 mg atau secara inhalasi ("metered aerosol").

-.-