Anda di halaman 1dari 4

Perbedaan bakteri gram positif dan negatif: Bakteri gram positif mempunyai lapisan petidoglikan yang tebal akan

tetapi tidak mempunyai membranluar. Sedangkan pada bakteri gram negatif, lapisan peptidoglikan tipis dan mempunyai membran luar yang tersusun atas Lipopolisakarisa (LPS) dan protein.

Radikal bebas pada umumnya berasal dari molekul oksigen yang secara kimia strukturnya mengalami perubahan akibat dari aktifitas lingkungan seperti beberapa diantaranya adalah merokok, polusi udara, radiasi dan masih banyak lagi. Radikal bebas yang masuk kedalam tubuh berusaha mencuri elektron yang terdapat pada molekul lain seperti sel dan DNA. Pencurian elektron ini terjadi jika radikal bebas mampu merusak sel dan DNA, jika tubuh hanya memiliki sedikit antioksidan maka radikal bebas akan lebih mudah merusak sel dan DNA. Kondisi tersebut tidak segera ditangani dapat memicu munculnya berbagai masalah kesehatan seperti mudah terserang infeksi, mudah tertular penyakit dan yang paling parah adalah dapat menyebabkan kanker. Tak dapat dipungkiri jika radikal bebas sering merusak sel dapat menyebabkan sel yang ada dalam tubuh menjadi tidak setabil, sehingga berpotensi terhadap proses penuaan dini.
Oleh sebab itu tubuh sangat memerlukan Antioksidan sebagai senyawa yang dapat menyuplay elektron terhadap senyawa yang bersifat oksidan, sehingga nantinya senyawa oksidan yang dapat merusak sel tubuh tersebut dapat dihambat.

Contoh Bakteri Gram Positif:bakteri luncur: Stigmatella aurantiaca, Chondromyces crocatus, Flexibacter polymorphus. spiroket: Treponema pallidum. bakteri spiral & lengkung: Campylobacter fetus. batang & kokus: Francisella tularensis. anaerobik fakkltatif: Escherichia coli, Shigella sp. , Yersinia pestis, Vibrio cholerae Contoh Bakteri Gram Negatif: aktinomisetes: Corynebacterium diphteriae, Mycobacterium tuberculosis, Actinomyces israelii.bakteri kokus gram positif: Nitrobacter sp. , Nitrococcus sp. , Nitrosolobus sp. , Sarcina sp. , Staphylococcus sp. , Streptococcus sp. , Leuconostoc sp.

Pengertian Antioksidan dan Radikal Bebas


Antioksidan adalah sebutan terhadap zat yang berperan untuk melindungi tubuh dari serangan radikal bebas. Beberapa zat yang termasuk dalam antioksidan diantaranya adalah polipenol, mineral, vitamin dan karotin. Pada umumnya zat ini sangat berperan untuk mencegah tubuh terserang penyakit. Dalam prosesnya antioksidan melindungi / mencegah tubuh dari serangan radikal bebas dengan cara menekan terjadinya kerusakan sel dalam tubuh yang disebabkan oleh proses oksidasi radikal bebas.

Fitofarmaka adalah obat dari bahan alam terutama dari alam nabati, yang khasiatnya jelas dan terbuat dari bahan baku, baik berupa simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan minimal, sehingga terjamin kese Ragaman komponen aktif, keamanan dan kegunaannya. Dalam rangka pengembangan obat tradisional Indonesia menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka, standarisasi dan persyaratan mutu simplisia obat tradisional merupakan hal yang perlu diperhatikan. Simplisia merupakan bahan baku yang berasal dari tanaman yang

belum mengalami pengolahan, kecuali pengeringan. Standarisasi simplisia dibutuhkan karena kandungan kimia tanaman obat sangat bervariasi tergantung banyak faktor seperti telah dikemukakan sebelumnya. Standarisasi simplisia diperlukan untuk mendapatkan efek yang dapat diulang (reproducible). Kandungan kimia yang dapat digunakan sebagai standar adalah kandungan kimia yang berkhasiat, atau kandungan kimia yang hanya sebagai petanda (marker), atau yang memiliki sidik jari (fingerprint) pada kromatogram. Untuk mendapatkan simplisia dengan mutu standar diperlukan pembudidayaan dalam kondisi standar. Dewasa ini industri obat tradisional disarankan dan didorong untuk melakukan budidaya dan mengembangkan sendiri tanaman sumber simplisianya sehingga diharapkan diperoleh simplisia dengan mutu standar yang relatif homogen. Standarisasi tidak saja diperlukan pada simplisia, tetapi juga pada metode pembuatan sediaan termasuk pelarut yang digunakan dan standardisasi sediaan jadinya. Kromatografi fingerprint merupakan analisis semikuantitatif dari ekstrak tanaman dan mampu melakukan penggambaran secara sistematis semua konstituen yang ada di dalam tanaman. Dapat juga diartikan kromatogragi fingerprint merupakan pola kromatografi baik segi farmakologi secara aktif dari suatu tanaman ataupun karakteristik kimiawi yang ada pada ekstrak. Kromatografi fingerprint dapat menggambarkan kesamaan dan perbedaan yang ada pada suatu ekstrak tanaman dari variasi tanaman dan identifikasi keaslian dari suatu tanaman dapat dilakukan secara akurat. Fingerprint merupakan metode yang paling paling favorit di China dalam upaya kontrol kualitas suatu tanaman Metode yang digunakan dalam penentuan fingerprint adalah KLT, HPLC, Kromatografi gas, dll. Metode yang palin sering digunakan adalah metode KLT. Hal

ini dikarenakan kemudahan, kecepatan dan lebih ekonomis. Metode fingerprint dilakukan dengan melakukan analisis kromatogram dari suatu spesies tanaman yang aktif secara farmakologis atau hanya melakukan rerata intensitas puncak puncak kromatogram dari minimal tiga daerah penghasil spesies tanaman obat tanpa memperhatikan aspek farmakologis yang ditunjukkan untuk kontrol kualitas saja. Metode ini jika ditunjukkan untuk tujuan penelitian efikasi dan reproduksibilitas khasiat , aspek fingerprint akan jauh lebih penting
Kromatografi adalah teknik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya dengan bantuan perbedaan sifat fisik masing-masing komponen. Alat yang digunakan terdiri atas kolom yang di dalamnya diisikan fasa stasioner (padatan atau cairan). Campuran ditambahkan ke kolom dari ujung satu dan campuran akan bergerak dengan bantuan pengemban yang cocok (fasa mobil). Pemisahan dicapai oleh perbedaan laju turun masing-masing komponen dalam kolom, yang ditentukan oleh kekuatan adsorpsi atau koefisien partisi antara fasa mobil dan fasa diam (stationer).

Komponen utama kromatografi adalah fasa stationer dan fasa mobil dan kromatografi dibagi menjadi beberapa jenis bergantung pada jenis fasa mobil dan mekanisme pemisahannya,

seperti ditunjukkan di Tabel 12.1 Kriteria Nama cair, gas

Fasa mobil Kromatografi kromatografi

Kromatografi adsorpsi, kromatografi partisi Kromatografi pertukaran Mekanism ion e kromatografi gel Fasa stationer Kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis, kromatografi kertas

Beberapa contoh kromatografi yang sering digunakan di laboratorium diberikan di bawah ini. a. Kromatografi partisi

Prinsip kromatografi partisi dapat dijelaskan dengan hukum partisi yang dapat diterapkan pada sistem multikomponen yang dibahas di bagian sebelumnya. Dalam kromatografi partisi, ekstraksi terjadi berulang dalam satu kali proses. Dalam percobaan, zat terlarut didistribusikan antara fasa stationer dan fasa mobil. Fasa stationer dalam banyak kasus pelarut diadsorbsi pada adsorben dan fasa mobil adalah molekul pelarut yang mengisi ruang antar partikel yang ter adsorbsi. Kolomnya (tabung gela) diisi dengan bahan seperti alumina, silika gel atau pati yang dicampur dengan adsorben, dan pastanya diisikan kedalam kolom. Larutan sampel kemudian diisikan kedalam kolom dari atas sehingga sammpel diasorbsi oleh adsorben. Kemudian pelarut (fasa mobil; pembawa) ditambahkan tetes demi tetes dari atas kolom. Partisi zat terlarut berlangsung di pelarut yang turun ke bawah (fasa mobil) dan pelarut yang teradsorbsi oleh adsorben (fasa stationer). Selama perjalanan turun, zat terlarut akan mengalami proses adsorpsi dan partisi berulang-ulang. R = (jarak yang ditempuh zat terlarut) / (jarak yang ditempuh pelarut/fasa mobil).

Gambar 12.3 Diagram skematik kromatografi b. Kromatografi kertas

Mekanisme pemisahan dengan kromatografi kertas prinsipnya sama dengan mekanisme pada kromatografi kolom. Adsorben dalam kromatografi kertas adalah kertas saring, yakni selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditotolkan ke ujung kertas yang kemudian digantung dalam wadah.
Kromatografi kertas diterapkan untuk analisis campuran asam amino dengan sukses besar. Karena asam amino memiliki sifat yang sangat mirip, dan asam-asam amino larut dalam air dan tidak mudah menguap (tidak mungkin didistilasi), pemisahan asam amino adalah masalah paling sukar yang dihadapi kimiawan di akhir abad 19 dan awal abad 20.

Kromatografi kertas dua-dimensi (2D) menggunakan kertas yang luas bukan lembaran kecil, dan sampelnya diproses secara dua dimensi dengan dua pelarut.

Gambar 12.4 Contoh hasil kromatografi kertas pigmen. html c. Kromatografi gas

Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa stationer dapat berupa padatan (kromatografi gas-padat) atau cairan (kromatografi gas-cair).
Umumnya, untuk kromatografi gaspadat, sejumlah kecil padatan inert misalnya karbon teraktivasi, alumina teraktivasi, silika gel atau saringan molekular diisikan ke dalam tabung logam gulung yang panjang (2-10 m) dan tipis. Metoda ini khususnya sangat baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti hidrokarbon dan ester. Analisis minyak mentah dan minyak atsiri dalam buah telah dengan sukses dilakukan dengan teknik ini. Efisiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel dan cairannya. Disarankan untuk mencoba fasa cair standar yang diketahui efektif untuk berbagai senyawa. Berdasarkan hasil ini, cairan yang lebih khusus kemudian dapat dipilih. Metoda deteksinya, akan mempengaruhi kesensitifan teknik ini. Metoda yang dipilih akan bergantung apakah tujuannya analisik atau preparatif. METODE ISOLASI BAKTERI

suspensi bakteri dengan medium agar pada suhu 50C kemudian menuangkannya pada petridisk atau dengan menyemprotkan suspensi pada dasar petridisk, kemudian menuang medium agar keatasnya dan diaduk. Setelah agar mengeras, bakteri akan berada pada tempatnya masingmasing dan diharapkan bakteri tidak mengelompok sehingga terbentuk koloni tunggal. Metode sebar atau spread plate dilakukan dengan menyemprotkan suspensi ke atas medium agar kemudian menyebarkannya secara merata dengan trigalski. Dengan ini diharapkan bakteri terpisah secara individual, kemudian dapat tumbuh menjadi koloni tunggal. Metode pemaparan pada udara terbuka adalah metode untuk mengisolasi bakteri udara. Metode ini sangat simpel, yaitu dengan memaparkan medium pada udara terbuka, dengan harapan ada bakteri yang menempel dan kemudian akan tumbuh menjadi koloni.

Metode gores atau streak plate menggunakan loop ose dan menggoreskannya ke permukaan medium agar dengan pola tertentu dengan harapan pada ujung goresan, hanya sel-sel bakteri tunggal yang terlepas dari ose dan menempel ke medium. Sel-sel bakteri tunggal ini akan membentuk koloni tunggal yang kemudian dapat dipindahkan ke medium selanjutnya agar didapatkan biakan murni. Metode tuang atau pour plate dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan mencampur