Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Dalam konteks sosial engineering dimaknai sebagai sebuah proses perancangan kondisi social seperti yang diinginkan (das sollen). Misi dalam proses ini jelas yaitu wujudnya kondisi sosial yang diharapkan. Keinginan untuk merancang kondisi sosial ini muncul ketika kondisi faktual (das sein) berjalan tidak seperti apa yang diharapkan. Atau dalam kata lain terdapat celah antara kondisi yang diinginkan (das sollen) dengan kondisi faktual (das sen). Oleh karena itu sebuah proses engineering dalam konteks sosial (social engineering) bisa disebut sebagai bagian dari disiplin aktifitas perubahan sosial. Jika kita perhatikan dinamika sosial yang terjadi ditengah masyarakat, maka kita akan dapati perubahan selalu berjalan seiring dengan dinamika itu. Tanpa kita duga dan kita rencanakan banyak terjadi perubahan dalam masyarakat. Misalnya dalam masyarakat Jawa dahulu ada semacam aturan tidak tertulis dalam masyarakat bahwa setiap anak yang baru lahir yang telah berumur tujuh bulan di adakan ritual yang bernama turun tanah (tedak sinten). Ritual ini menggambarkan kesiapan seorang anak (bayi) untuk menghadapi kehidupannya nanti. Biasanya, kesempatan bahagia ini harus diselenggarakan pada pagi hari, di bagian depan dari pekarangan rumah. Kecuali orang tua dan keluarga, beberapa orang tua juga hadir untuk memberikan berkat kepada anak. Akan tetapi seiring perubahan zaman, adat itu tidak lagi menjadi suatu ritual keharusan sehingga hilang begitu saja. Dengan melihat kondisi perubahan sosial diatas, dalam konteks pergerakan yang menginginkan adanya perubahan masyarakat menuju kondisi yang lebih baik tentulah model perubahan yang terencana yang menjadi concern kita. Karena ketika kita menetapkan akan mewujudkan masyarakat yang lebih baik, maka sesungguhnya kita telah menetapkan sebuah disain akhir dari proses yang akan kita lakukan, dan ini merupakan karakter khas dari social engineering. 2. Tujuan Adapun tujuan saya mengangkat tema Social Engineering ( Rekayasa Sosial) :
a.

Memberikan informasi atau penjelasan mengenai social engineering (rekayasa Dampak penyebab timbulnya social engineering. Mensosialkan mengenai social engineering kepada pembaca. Memotivasi pembaca agar ikut terlibat dalam mengatasi masalah dari tema yang

sosial). b. d.
e.

c.Dampak positif dan negative dari rekayasa sosial.

saya angkat. 3. Sasaran Seluruh lapisan masyarakat terutama para pihak pemerintahan agar dapat mengatasi masalah sosial ini.

BAB II PERMASALAHAN
Analisis permasalahan Social Engineering (Rekayasa Sosial) dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi lingkungan internal maupun eksternal dilihat dari aspek :
1. Kekuatan (Strength) a. Pengaruh globalisasi yang amat pesat.

b. Kemajuan IPTEK. c. Ada ketegangan dari masalah sosial. d. Ada energi atau visi ideal yang menuntut pelibatan sentiment.
2. Kelemahan (Weakness)

a. Pengaruh budaya asing. b. Pihak pemerintah dan masyarakat yang cenderung antipati terhadap perubahan sosial. c. Kurangnya psikososial dari pribadi masing masing individu. d. Meresahkan kenyamanan dan kesejahteraan orang banyak.
3. Peluang (Opportunity) a.

Tidak adanya tindakan serius dari pihak-pihak tertentu terhadap social engineering.
b. Rasa percaya diri yang tinggi dari setiap hacker untuk melakukan hal hal yang dianggap

kurang sesuai dalam kehidupan masyrakat.


c.

Tingkat kecemburuan sosial yang semakin tinggi serta lingkungan yang kurang kondusif.
d. Jumlah kelompok hacker yang semakin banyak membuat hal itu sebagai salah satu power

untuk mempertahankan kelompoknya.


4. Tantangan/Hambatan (Threats) a. b.

Inovasi inovasi dalam bidang IT yang semakin canggih. Dijerat kedalam tindakan kriminal karena meresahkan kenyamanan masyarakat. c. Kemajuan IPTEK yang dapat membuat kelompok tersebut semi sedikit berkurang.
d. Banyaknya pakar telematika atau aktifis sosial yang mencoba untuk merubah sisi negative dari

sosial engineering menjadi sisi positif.

BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


1.

Kesimpulan Rekaya sosial (Social engineering) adalah campur tangan gerakan ilmiah dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk mempengaruhi perubahan sosial. Rekayasa sosial merupakan sebuah jalan mencapai sebuah perubahan sosial secara terencana. Gerakan ilmiah yang dimaksudkan disini adalah sebuah gagasan atas perubahan tingkat/taraf kehidupan masyarakat demi tercapainya kesejahteraan dan kemandirian. Masyarakat pada umumnya menginginkan adanya perubahan sosial kearah yang lebih baik sehingga perubahan sosial harus dapat dilakukan secara berkesinambungan dan terencana. Rekayasa sosial terjadi karena terdapat beberapa kesalahan pemikiran manusia dalam memperlakukan masalah sosial yang disebut para ilmuwan dengan sebutan intellectual culde-sac yang menggambarkan kebuntuan berpikir. Salah satu bentuk kesalahan pemikiran lainnya adalah permasalahan sosial yang kerap dikait-kaitkan dengan mitos ataupun kepercayaan manusia akan suatu gerakan abtrak ilusi yang tanpa disadari dapat merubah tatanan kehidupan bermasyaratnya.Untuk itu perlu diadakannya rekayasa sosial agar kesalahan-kesalahan berpikir seperti ini dapat diatasi sehingga masyarakat dapat melihat permaslahan yang dihadapinya sebagai sesuatu yang konkrit. Rekayasa sosial timbul akibat adanya sentimen atas kondisi manusia.Untuk itu perlu adanya perombakan yang dimulai dari cara pandang/paradigma manusia atas sebuah perubahan. Perubahan sosial pun dibagi menjadi 2 yaitu perubahan sosial yang direncanakan Unplanned social change (perubahan sosial yang tidak terencana) yaitu perubahan sosial yang terjadi terus menerus tetapi perlahan-lahan tanpa kita rencanakan, biasanya disebabkan oleh perubahan dalam bidang teknologi dan globalisasi. Planned social change (perubahan sosial yang terencana) yaitu sebuah perubahan yang didesain serta ditetapkan strategi dan tujuannya. Dalam hal ini kita akan diajarkan kiat-kiat dan strategi-strategi merubah masyarakat. Sehingga dalam menghadapi perubahan sosial yang bergerak melalui rekayasa sosial harus diawali dengan perubahan cara berpikir. Tidak akan mungkin perubahan dapat terjadi jika manusia masih terjebak dalam pola pikir yang salah. Perubahan sosial juga berpotensi menimbulkan krisis. Terutama orang yang tidak siap dengan perubahan, yakni golongan orang yang sudah merasa nyaman dengan kondisinya saat ini cenderung bersikap antipati terhadap perubahan.

2.

Rekomendasi
a. Pengaruh globalisasi yang amat pesat sebaiknya diimbangi dengan kesadaran manusia dalam

mengenali atau memahami pribadi sendiri serta potensi diri. Karena sering terjadi kesalahan dalam penyaluran gagasan dalam hal perubahan sosial yang lebih baik. Sebagai contoh dalam dunia komputer, tindakan memperoleh atau berusaha memperoleh data dengan menipu seorang individu untuk mengungkapkan informasi penting bahkan rahasia dapat dengan mudah dilakukan melalui media media elektronik saat ini.
b. Merubah pandangan pihak pemerintah dan masyarakat yang cenderung antipati terhadap

perubahan sosial menjadi simpati. Seperti melakukan perubahan pada berbagai tatanan sosial, relasi kekuasaan, bentuk dan fungsionalisasi institusi dan lembaga, serta komponen-komponen lain yang merupakan bagian dari pembentuk sebuah kondisi sosial. Serta mendorong masyarakat
3

untuk berpartisipasi dan beraktualisasi sehingga dapat terlihat jelas peran dari masyarakat tersebut dalam proses perubahan sosial.
c. Menurunkan tingkat kecemburuan sosial yang semakin tinggi serta membuat lingkungan yang

kondusif. Masyarakat pada umumnya mempunyai pola yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam menginpresentasekan jalan kepada perubahan sosial ini dan sering kali menimbulkan kecemburuan sosial satu dengan lainnya hal itu disebabkan karena sikap egois (tidak memperhatikan orang lain). Sehingga keseragaman pemikiran akan hal ini perlu dilakukan agar perubahan sosial ini dapat lebih mudah direalisasikan.
d. Inovasi inovasi dalam bidang IT yang semakin canggih dapat dijadikan salah satu media

dalam menangani masalah rekayasa sosial. Seperti media pembelajaran dan media pendukung dalam rangka mencegah tindakan rekayasa sosial dibidang teknologi. Sehingga pensosialisasian atau pemahaman terhadap inovasi tersebut pun sangat penting agar masyarakat mengetahui bagaimana mereka mengiringi perubahan yang ada akan tetapi tetap menciptakan perubahan sosial kearah yang lebih baik.

Referensi http://politik.kompasiana.com/2012/01/30/rekayasa-sosial-431202.html http://bennydaniarsa.blog.fisip.uns.ac.id/2012/04/06/resume-buku-rekayasa-sosial-reformasi-revolusiatau-manusia-besar-penulis-jalaludin-rakhmat/ http://mbem25.blogspot.com/2012/06/rekayasa-sosial.html http://tysar.wordpress.com/2010/08/15/apakah-rekayasa-sosial-social-engineering/ http://www.bpplsp-reg5.go.id/berita-450-id-mendikbud-pendidikan-sistem-rekayasa-sosial-terbaik.html http://www.mastaqim.web.id/2009/12/social-engineering-rekayasa-sosial.html http://amankpermahimakassar.blogspot.com/2012/06/social-engineering-rekayasa-sosial.html http://eunikeyoanita.blogspot.com/2011/01/apa-dan-bagaimana-rekayasa-sosial.html