Anda di halaman 1dari 5

GETAH PISANG SEBAGAI OBAT ALTERNATIF TRADISIONAL PENYEMBUH LUKA LUAR MENJADI PELUANG SEBAGAI PRODUK INDUSTRI ARIEF

RIZA WIJAYA
"Mahasiswa Program Tingkat Persiapan Bersama" "Bogor Agricultural University - http://www.ipb.ac.id"

Abstrak: Manfaat tumbuhan pisang bukan hanya sebagai penyedia pangan. Lebih dari itu, tumbuhan pisang memiliki fungsi lain, yaitu getahnya dapat dijadikan sebagai penyembuh luka luar. Sebelum dilakukannya penelitian terhadap kegunaan dari getah pisang ini, sudah banyak masyarakat pedesaan yang menggunakan getah pisang sebagai penyembuh luka luar. Proses penggunaanya pun sangat sederhana, yaitu dengan cara mengoleskannya pada bagian tubuh yang terluka sesaat sesudah terluka. Mereka percaya dengan lengketnya getah pisang tersebut dapat dengan cepat menyembuhkan luka. Kemudian setelah dilakukannya penelitian terhadap kandungan getah pisang ini, terdapat beberapa senyawa yang dapat mempercepat penyembuhan luka luar. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Klinik Reproduksi dan Patologi FKH, yang diketuai oleh Bambang Pontjo Priosoeryanto (2006) ,ekstrak batang pohon pisang mengandung beberapa jenis fitokimia yaitu saponin dengan kandungan yang paling banyak, kemudian flavonoid dan tannin, serta tidak mengandung alkaloid, steroid dan triterpenoid. Dengan senyawasenyawa yang terkandung dalam batang pohon pisang tersebut dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Pengetahuan ini dapat

dijadikan dasar sebagai salah satu peluang untuk diproduksi dalam skala besar. Sehingga devisa negara dapat lebih ditingkatkan.

I.PENDAHULUAN
I.1.Latar Belakang Semakin diketahuinya efek negatif dari obat-obatan yang merupakan hasil pencampuran bahan kimia, banyak masyarakat yang beralih pada obat-obatan tradisioanal. Selain memiliki harga yang lebih murah, obat-obatan tradisional dipercaya dapat menyembuhkan luka lebih cepat dan tidak memiliki efek samping bagi penggunanya. Sesuai dengan pernyataan diatas, saya memberi judul artikel ini dengan GETAH PISANG SEBAGAI LUAR OBAT ALTERNATIF PELUANG

TRADISIONAL

PENYEMBUH

LUKA

MENJADI

SEBAGAI PRODUK INDUSTRI.Getah pisang sudah dipercaya dapat menyembuhkan luka luar oleh masyarakat pedesaan dari sejak dulu sebelum dilakukannya penelitian tentang kandungannya. Keunikan dari kandungan getah ini ternyata baru ditemukan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Bambang Pontjo Priosoeryanto beserta timnya (2006) pada getah batang pisang.

Berdasarkan hasil penelitiannya, senyawa fitokimia yang dimiliki oleh getah batang pisang tersebut dapat mempercepat penyembuhan luka. Dengan potensi besar dari komoditas pohon pisang di Indonesia, hal ini memungkinkan untuk dapat diproduksi secara komersial dan dalam jumlah yang besar sebagai pengganti obat penyembuh luka luar yang berasal dari campuran bahan kimia. II.BAHASAN Pisang yang memiliki nama ilmiah Musa paradisiaca merupakan1komoditi hortikultura yang termasuk dalam pengembangan buah unggulan Indonesia. Produksi pisang di Indonesia secara agregat menduduki peringkat 8 besar di dunia (Damayanti,dkk 2006). Komoditas pisang ini merupakan salah satu pangan yang paling banyak dikonsumsi di

Indonesia.Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh tim Dir. RKS-IPB dari Institut Pertanian Bogor (IPB) (2009), menunjukkan bahwa kebutuhan

pangan domestik cenderung meningkat dari tahun ke tahun karena masih cukup tingginya laju pertumbuhan penduduk . Permintaan komoditas pisang meningkat seiring waktu. Pertumbuhan konsumsi pisang dunia adalah sebesar 1,9% pada

tahun 1999. Produksi pisang nasional dikonsumsi dalam level nasional sebesar 90% (Syafrida,dkk 2003). Akan tetapi, selain dijadikan sebagai sumber pangan, pisang ini memiliki manfaat lain dalam dunia medis. Getah yang terkandung pada pisang, khususnya pada batang pisang, ternyata memiliki senyawa yang dapat mempercepat penyembuhan luka luar. Sebelum diadakannya penelitian tentang kandungan yang dimiliki oleh getah pisang ini, masyarakat sudah lama mempraktekannya. Kebiasaan ini didapat oleh mereka secara turun temurun dari genersi ke generasi. Padahal secara ilmiah, mereka belum mengetahui kandungan zat yang dapat menyembuhkan luka. Tetapi secara praktek, luka luar dapat cepat sembuh dan kering setelah diolesi dengan getah pisang ini. Tidak ada cara khusus dalam penggunaan getah pisang ini. Cukup dengan mengoleskannya pada bagian yang terluka sesaat setelah terluka, maka darah yang keluar dari luka langsung berhenti. Saat ini, banyak bermunculan peneliti-peneliti yang melakukan riset pada bidang ini, diantaranya yang diakukan oleh oleh Bambang Pontjo Priosoeryanto beserta timnya (2006) dan oleh Bayu Febram Prasetyo (2008). Mereka sebagai peneliti dari Institut Pretanian Bogor (IPB). Penelitian yang dilakukan oleh Bambang Pontjo Priosoeryanto beserta timnya ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dari ekstrak
2

batang pohon pisang, dosis efektif dan

pembuatan bentuk sediaan serta pengaruhnya dari pemberian getah batang pohon pisang terhadap kecepatan persembuhan luka. Percobaan ini dilakukan pada mencit melalui pengamatan perubahan yang terjadi secara makroskopis dan

mikroskopis pada perlukaan kulit mencit dalam upaya mengetahui khasiat getah batang pohon pisang dalam penyembuhan luka. Penelitian ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Bayu Febram Prasetyo. Dalam penelitianya, Bayu mengkajinya dengan metode yang lebih moderen dan pemaparan yang lebih detail. Ekstrak batang pohon pisang mengandung beberapa jenis fitokimia yaitu saponin dengan kandungan yang paling banyak, kemudian flavonoid dan tanin dan tidak mengandung alkaloid, steroid dan triterpenoid. Ekstrak batang pohon pisang dengan dosis C memberikan hasil yang paling baik dalam proses

persembuhan luka dan merupakan dosis efektif yang digunakan dalam preparasi sediaan ekstrak getah batang pohon pisang dalam bentuk sediaan sel. Pengujian penyembuhan luka kulit pada mancit dari sediaan gel selama 21 hari, tampak secara makroskoipik luka lebih cepat kering dan menutup pada hari ke-7 dibanding control negative. Sedangkan pada hari ke-14 bekas luka sudah mulai menghilang lebih cepat dibanding kontrol negative. Demikian pula pertumbuhan rambut pada hari ke-21 terjadi lebih cepat pada mancit yang diberi sediaan gel getah pohon pisang dibandingkan dengan control negative. Hal ini

mengindikasikan bahwa terdapat efek kosmetika dari sediaan gel getah batang pohon pisang. Kamudian, pengamatan secara mikroskopik memperlihatkan bahwa pemberian ekstrak getah pohon pisang mempercepat keringnya luka, terlepasnya keropeng dan fibrosis sehingga secara umum pemberian sediaan ekstrak getah batang pohon pisang memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan control negative. Hasil pengamatan tersebut mengindikasikan bahwa pemberian sediaan gel dari ekstrak batang pohon pisang dengan dosis C tampaknya memberikan harapan untuk dapat digunakan sebagai salah satu obat penyembuhan luka pada manusia. Melihat potensi yang dimiliki Indonesia dalam produksi pisang, memberikan peluang untuk melakukan ekstraksi gel getah pisang dalam skala besar. Dengan peluang tersebut, pembuatan obat ekstrak getah pisang dapat merambah ke pasar Internasional. Hal ini diperkuat karena masih belum ada negara yang memproduksi dan menjadikannya sebagai produk industri dalam dunia medis. Dengan demikian, tingkat devisa negara dapat lebih ditingkatkan. Daftar Pustaka <a herf=http://hdl.handle.net/123456789/6081> Priosoeryanto,dkk 2006. Aktifitas getah batang pohon pisang dalam proses persembuhan luka dan efek kosmetiknya pada hewan.Bogor:IPB Pres</a> <a herf=: http://hdl.handle.net/123456789/8618> Prasetyo 2008. Aktivitas dan Uji Stabilitas Sediaan Gel Ekstrak Batang Pisang Ambon (Musa paradisiaca var sapientu) dalam Proses Persembuhan Luka pada Mencit (mus musculus albinus).Bogor:IPB Pres</a>

<a herf=http://hdl.handle.net/123456789/6260> Damayanti,dkk 2005. Sifat Bio-ekologi dan Molekuler Banana Streak Virus Isolat Indonesia (Bsv-in): Virus Baru Pada Tanaman Pisang di Indonesia.Bogor:IPB Pres</a> <a herf=http://hdl.handle.net/123456789/5910> Syafriadi,dkk 2003. Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia. Bogor:IPB Pres</a> <a herf=http://hdl.handle.net/123456789/7079> Dir. RKS-IPB 2009. Agenda Riset Bidang Pangan 2009-2012. Bogor:IPB Pres</a>

i tum