Anda di halaman 1dari 42

Kandidiasis Intertriginosa

Blok DMS Tutorial : dr. Fajri Tutor B3


Livia Eka S. Indranu Nanggala P. Fhaiqotul Vizky A. Ayu Hapsari N. Andriansyah K. Ita masitoh A. Dytha Yulia Handayani Danar Pratama P. Sabrina 1010211194 1110211004 1110211014 1110211053 1110211082 1110211092 1110211103 1110211155 1110211181

Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta Tahun Ajaran 2011/2012

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Yang dengan izinnya maka makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini merupakan makalah case kedua yaitu Kandidiasis Intertriginosa. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Fajri atas segala pengarahan, bimbingan, dan kasih sayang yang telah dicurahkan selama proses tutorial. Terima kasih juga kepada kelompok tutorial B - 3 atas kerjasamanya mulai dari proses pembahasan hingga pembuatan makalah ini. Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai laporan dan kesimpulan dari diskusi yang telah kami lakukan dalam pembahasan kasus kedua ini serta untuk menambah pengetahuan penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Akhir kata, kami mohon maaf apabila masih banyaknya kekurangan dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat memenuhi harapan dari semua pihak. Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk perbaikan pada makalah berikutnya. Terimakasih atas segala perhatiannya dan semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Jakarta, 15 Oktober 2012

Penulis

Lembar Pengesahan
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa makalah ini sudah sesuai dengan proses yang terjadi selama tutorial

Jakarta, 15 Oktober 2012 Tutor kelompok B-3

(dr. Fajri)

KASUS
Dermato System Kasus Tn. Atok Page 1 Seorang laki- laki 40 tahun, Tn. Atok datang ke Departemen Kulit Kelamin RSPAD Gatot Subroto dengan keluhan gatal di daerah lipat paha sejak 2 minggu yang lalu. Gatal- gatalnya terutama timbul ketika dalam keadaan berkeringat. Dia kemudian memberikan obat salep yang dibelinya ditoko obat, setelah dioleskan salep kelainannya tampak tidak ada perubahan bahkan menyebar ke bokong. Page 2 Dia menyatakan bahwa dia menderita penyakit kencing manis yang diketahuinya sejak 1 tahun yang lalu, akan tetapi gula darahnya tidak terkontrol, tidak ada anggota keluarga yang mempunyai keluhan y Pasien tidak mempunyai riwayat alergi. Konsulen kulit kelamin melakukan poemeriksaan fisik dan ditemukan : Pemeriksaan Fisik : Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan Kesadaran Tanda Vital o TD o BB Kepala Mata : 130/90 mmHg Nadi : 90/ menit Suhu : 36oC TB : 150 cm o Pernapasan : 22 x/menit : 85 kg : Normocephal : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) : Compos Mentis ang sama seperti dia.

THT Leher Thorax Abdomen Ekstremitas Pemeriksaan Kulit :

: Normotia, deviasi septum (-), faring hiperemis (-) : Kelenjar tiroid dan KGB tidak teraba membesar : jantung paru : dbn : Datar, bising usus (+) normal, nyeri tekan (-) : Akral hangat, edema (-)

Pada kedua inguinal dan gluteus tampak bercak eritematosa, agak basah, batas tegas, berukuran plakat lesi dikelilingi papul- papul, berskuama dan beberapa pustul superfisial. Page 3 Pemeriksaan Laboratorium Darah lengkap Hb Ht Trombosit Leukosit : 14 g/dl : 38 % : 150.000 / ul : 6000 /ul

Diff count / hitung Jenis Leukosit : 0/3/4/59/28/5 GDS Urin Reduksi Page 4 Pemeriksaan KOH Kerokan kulit diperiksa dengan larutan KOH 10% : Tampak sel ragi, hifa semu : 250 mg/dl : (+)

EPILOGUE Spesialis kulit kelamin mengatakan bahwa Tn. Atok menderita Kandidiasis Intertriginosa dan diberika terapi Ketokonazol oran dan topikal cream Mikonazol 2 % dan anti histamine oral. Disarankan agar menghindari keadaan lembab/ basah pada daerah lesi, pemeriksaan secara berkala Glukosa, dan menurunkan berat badan. Setelah 3 hari terapi kondisinya penyakitnya membaik.

LEARNING PROGRESS
Problem Tn. Atok, 40 tahun, laki laki KU : Gatal di daerah lipat paha sejak 2 minggu lalu

RPS : Gatal gatal timbul ketika dalam keadaan berkeringat RPO : Obat salep, namun tidak ada perubahan bahkan menyebar ke bokong RPD RPK : Riwayat kencing manis sejak 1 tahun lalu, gula darah tidak terkontrol, tidak punya riwayat alergi : tidak anggota keluarga yang mempunyai keluhan yang sama seperti dia

Px. Fisik : Status Generalis : dbn Status Dermatologis : inguinal & gluteus dex & sinistra : bercak eritematosa, agak basah, batas tegas, berukuran plakat lesi dikelilingi papul-papul, berskuama & bbrp pustule superficial Px. Penunjang : Px. KOH : kerokan kulit diperiksa dengan lar. KOH 10%: tampak sel ragi, hifa semu Hipotesis : 1. Kandidiasis Intertriginosa 2. Miliaria 3. Herpes Simpleks 4. Tinea Kruris 5. DM IDK 1. Mikosis Profunda & Superfisialis 2. Kandidiasis 3. Penyakit Virus a) Herpes Zoster b) Herpes Simpleks c) Veruka

d) e) f) g)

Kondiloma Akuminata Moluskum Kontagiosum Varisela Variola

Learning Issue 1. Definisi 2. Klasifikasi 3. Etiologi 4. Gejala Klinis 5. Patogenesis 6. Patofisiologi 7. Diagnosis Banding 8. Penatalaksanaan 9. Prognosis 10.Pemeriksaan Penunjang

PEMBAHASAN
MIKOSIS
MIKOSIS SUPERFISIAL DERMATOFITOSIS TINEA KAPITIS Definisi: Dermatofitosis yang menyerang kulit kepala dan rambut Etiologi : spesies microsporum dan trichophyton Gambaran klinis, 4 bentuk: 1. kerion: kelainan akut, peradangan dan pembentukan pustul dengan skuamasi, rambut tidak mengkilat, mudah rontok dan tidak nyeri bila dicabut 2. Bentuk gray patch: Papula miliar sekitar muara rambut Rambut mudah putus Alopesia bersisik tanpa peradangan Ada rasa gatal 3. Bentuk black dot: rambut patah pada folikel rambut sekitarnya suram 4. Bentuk tine favosa: Bintik-bintik berwarna merah kuning ditutupi oleh krusta bentuk cawan Berbau busuk makula coklat berbintik hitam dan

Rambut diatasnya putus-putus dan mudah dicabut Px.lab: 1. sinar wood: flouresensi kehijauan 2. pembiakan skuama dalam media agar sabouraud 3. preparat langsung + KOH 10%, terlihat hifa atau spora dan miselium juga dapat terlihat endotriks atau ektotriks Diagnosa banding: Alopesia areata(dg black dot): kulit licin dan berwarna kecoklatan Dermatitis seboroika(dg tinea favosa): rambut berminyak,kulit kepala ditutupi skuama berminyak Psoriasis(dg tinea favosa): sisik(skuama) tebal,berwarna putih mengkilat dan bersifat kronik residif Tatalaksana: sistemik: Griseofulvin 10-25mg/kgbb;dws 500mg/hari Ketokonazol 5-10mg/kgbb;dws 200mg/hari Topikal: Cuci kepala dan rambut dengan shampo dengan desinfektan antimikotik seperti larutan as.salisilat, as.benzoat, dan sulfur presipitatum Obat derivat imidazol 1-2% dalam krim atau larutan, ketokonazol krim atau larutan 2% Prognosis: baik

TINEA KORPORIS Definisi: Dermatofitosis yang menyerang kulit tak berambut pada wajah,badan, lengan dan tungkai Etiologi: spesies trichophyton,microsporum dan E.floccosum atau T.rubrum

Epidemologi: daerah tropik Gambaran klinis, gejala subjektif: gatal terutama jika berkeringat gejala objektif: makula hiperpigmentasi dg tepi yg lebih aktif, karna digaruk meluas (terutama pd kulit lembab) Efloresensi: Lesi bentuk makula/plak merah/hiperpigmentasi dg tepi aktif dan penyembuhan sentral Pada lesi ditemukan papula eritematosa atau vesikel Bila kronik dapat timbul likenifikasi Gambaran lesi dapat polisiklis,anular atau geografik Gambaran histopatologi: tidak khas Px. Lab: kerokan kulit + KOH 10% dijumpai hifa Diagnosis banding: Morbus hansen: makula eritematosa dengan tepi sedikit aktif dan penyembuhan sentral Pitiriasis rosea:makula eritematosa dengan tepi sedikit meninggi, ada papula,skuama. Diameter panjang lesi menuruti garis kulit Neurodermatitis sirkumskriptia: makula eritematosa berbatas tegas terutama tengkuk, lipat lutut dan lipat siku Tatalaksana, Sistemik: antihistamin griseovulfin itrakonazol 100 mg/hari ,2 minggu ketokonazol 200mg/hari,3 minggu Topikal: lesi

salep whitefield campuran as.salisilat 5%,as benzoat 10%,dan resorsinol 5% castellanis paint tolnaftat imidazol ketokonazol Piroksolamin siklik Prognosis: baik TINEA IMBRIKATA Etiologi: t.concentricum Epidemologi: semua umur, semua ras, banyak didaerah tropis,iklim panas mempermudah perkembangan Gambaran klinis, Akut: lingkaran bersisik kasar menyerupai lingkaran bermata satu(polisiklik) sisik melingkar yang 1 menutupi yang lain seperti genting dapat disertai gatal stadium lanjut: nampak sisik kasar tak beraturan melapisi kulit Px.kulit: lokalisasi: efloresensi: seluruh tubuh makula berwana kulit normal

bentuk lingkaran ditutupi sisik kasar atau beberapa lingkaran dapat menyatu skuama saling menindih seperti genting Px.lab: Kerokan kulit+KOH 10%, dipanasi sebentaar tidak sampai mendidih dapat ditemukan hifa,miselium dan spora Biakan skuama pada media saboureud, menghasilkan koloni ragi Diagnosa banding: gambaran klinis sangat khas, tidak ada yang menyerupai Tatalaksana, Sistemik: griseovulfin 0,5 gr selama 1-2 bulan lokal : keratolitik yang bersifat fungisid (krisarobin 5%,sulfur 5%,atau as.salisilat 5%) castellanis paint salep whitefield 2x sehari antimikotik gol imidazol,itrakonazol 100mg/hari selama 3 minggu, ketoconazol 200mg/hari selam 2-4 minggu Prognosis: sering resisten pd pengobatan ,sering kambuh

TINEA KRUSIS Definisi: dermatofitosis yang mengenai inguinal,pubis,perineum dan perianal paha atas bagian tengah, daerah

Etiologi: E.floccosum (sering),bisa juga T.rubrum dan T.menthagrophytes Epidemologi: kosmopolit,pria>wanita,kebanyakan dewasa,keturunan tidak berpengaruh

Gambaran klinis: gatal hebat ruam kulit berbatas tegas eritematosa bersisik semakin hebat jika berkeringat Efloresensi: Makula eritematosa numular seperti geografis Berbatas tegas Tepi lebih aktif Terdiri dari papula atau pustula Jika kronik bisa terjadi hiperpigmentasi dg skuama diatasnya gambaran histopatologi: tidak khas px.lab: kerokan kulit+ KOH 10%, tampak elemen jamur seperti hifa,spora dan miselium Diagnosa banding, eritrasma: batas lesi tegas, jarang disertai infeksi,flouresensi merah bata yang khas dengan sinar wood kandidiasis: lesi lebih basah, berbatas jelas disertai lesi satelit psoriasis intertriginosa: skuama lebih besar daan berlapis-lapis Tatalaksana, topikal: salep atau krim antimikotik (as.salisilat, as.benzoat, sulfur dll) sistemik: griseovulfin 500-1000mg,2-3 minggu ketokonazol 100 mg/hari, 1 bulan Prognosis: baik jika kelembaban dan kebersihan dijaga

TINEA PEDIS Definisi: Dermatofitosis pada telapak kaki dan sela jari kaki Etiologi: semua genus dermatofita terutama T.rubrum dan T. candida albicans Epiemologi: semua umur,tropis,panas memperburuk Gambaran kliis(4 tipe): Tipe papulo skuamosa hiperkeratotik kronik jarang didapati vesikel dan pustula,sering pada tumit dan tepi kaki kadang hingga kepunggung kaki, eritema dan plak hiperkeratotik diatas daerah lesi yang mengalami likenifikai. Biasanya simetris, jarang dikeluhkan Tipe intergrinosa kronik berupa fisura pada jari, basah dan maserasi disertai bau yang tidak enak Tipe subakut lesi intertriginosa berupa vesikel atau pustula, dapat sampai kepunggung kaki dan tumit dg eksudat jernih kecuali jika mengalami infeksi sekunder Tipe akut gambaran lesi akut,eritema,edema,berbau,kondisi hiperhidrosis dan maserasi pada kulit,statis vaskular,bentuk sepatu yang kurang baik adalah predisposisi Px.kulit: Efloresensi: Fisura pada sisi kaki Sisik halus putih kecoklatan Vesikula miliar dan dalam Vesikopustula miliar seperti lentikular pada telapak kaki dan sela jari Hiperkeratotik pd telapak kaki Px.lab, Kerokan kulit+KOH 10%, hifa positif Mentagrophytes juga

Biakan agar sabouraud: tumbuh koloni jamur Sinar wood: flouresensi positif Diagnosis banding, Kandidiasis: biasanya ada skuama warna putih pada sela jari ke 4-5 dan lesi satelit Akrodermatitis perstans: terlihat radang,vesikel yang dalam,steril dan dapat dibedakan dengan px.histopatologi Pustul bacterid: susah dibedakan tapi dg biakan dapat dibedakan penyebabnya Tatalaksana: Griseofulvin 500mg sehari selama 1-2 bulan Salep whitefield 1 atau 2,tolnaftat,dan toksiklat Obat gol. Azol dan terbinafin Prognosis: baik TINEA BARBAE Definisi: dermatofitosis pada dagu/jenggot yang mmenyerang kulit dan folikel rambut Etiologi: triphopyton dan microsporum Epidemologi: tropis dengan kelembaban tinggi, tidak pernah ditemukan diindonesia Gambaran klinis: gatal dan pedihh pada daerah yang terkena, disertai bintik kemerahan yang kadang bernanah Efloresensi: rambut yang terkena rapuh dan tidak mengkilat,tampak reaksi radang pada folikel berupa kemerahan,edema kadang ada pustula Tatalaksana: dapat sembuh tanpa pengobatan TINEA UNGUIUM Definisi: dermatofitosis pada kuku Etiologi: terutama T.mentagrophytes dan T.rubrum Epidemologi: daerah tropis,pada orang yang sering bekerja pada air yang kotor Gambaran klinis: kuku suram,lapuk dan rapuh. Bagian yang bebas tampak menebal

Efloresensi: kuku rusak dan rapuh serta suram, permukaan menebal, dibawah kuku tampak destritus yang mengandung elemen jamur Pada infeksi ringan hanya dijumpai bercak-bercak putih dan kasar dipermukaan kuku (leukonikia) Gambaran histopatologi: tidak khas Px.lab, kerokan kuku+KOH 40% biakan kerokan skuama dibawah/diatas kuku menghasilkan koloni jamur Diagnosa banding, onikodistrofi akibat trauma: dimulai dg trauma dilanjut kerusakan kuku Tatalaksana, sistemik: griseofulvin, obat itrakonazol atau golongan terbinafin topikal: salep whitefield 1 dan 2, kompres as salisilat 5%,as benzoat 10%,resolsinol 5% dalam spirtus Castellanis paint As.undesilenat Tolfanaftat Imidazol Siklopiroksolamin Prognosis: baik

NON DERMATOFITOSIS PITIRIASIS VESIKOLOR Pitiriasis vesikolor yang disebabkan oleh Malassezia furfur adalah penyakit jamursuperfisial yang kroniky, biasanya tidak memberikan keluhan subjektif, berupa bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadangkadang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala yang berambut. Sinonim : panu Epidiemologi : daerah tropis Patogenesis : Malassezia furfur merupakan fase spora dan miselium. Faktor predisposisi menjadi patogen dapat endogen dan eksogen. Endogen dapat disebkan oleh defisiensi imun. Eksogen dapat karena faktor suhu, kelembaban udara, dan keringat. Gejala Klinis : Kelainan terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni, bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bentuk papulo-vesikular dapat terlihat walaupun jarang. Kelainan biasanya asimptomatik sehingga biasanya penderit tidak menyadarinya. Diagnosis : diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan flouresensi, lesi kulit dengan lampu Wood, dan sediaan langsung. Kerokan kulit dengan KOH 20% terlihat campuran hifa pendek dan spora bulat yang berkelompok. Pengobatan : Pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten. Biasanya dipaka selenium sulfide (selsun) dapat dipakai sebagai sampo 2-3 kali seminggu. Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan 15-30 menit, sebelum mandi. Obat lain : salisil spirtus 10%, derivat-derivat azol, misalnya mikokonazol, klotrimazol, isokonazol, dan ekonazol.

Gambar : PITIRIASIS VESIKOLOR

PITIROSPORUM FOLIKULITIS Penyakit kronis pada folikel pilisebasea yang disebabkan oleh spesies Pityrosporum, berupa papul dan pustul folikular, yang biasanya gatal dan terutama berlokasi di batang tubuh, leher, dan lengan bagian atas. Sinonim : Malassezia folikulitis Patogenesis : Spesies Malassezia merupakan penyebab Pitirosporum folikulitis dengan sifat dimorfik, lipofilik, dan komensal. Jika terdapat faktor presdiposisi spesies ini akan tumbuh berlebihan dalam folikel sehingga folikel dapat pecah. Dalam hal ini reaksi peradangan terhadap produk, tercampyr dengan lemak bebas yang dihasilkan melalui aktivitas lipase. Faktor presdiposisi antara lain adalah suhu dan kelembapan udara yang tinggi, penggunaan bahan-bahan berlemak untuk pelembab badan yang berlebihan, antibiotik kortikosteroid lokal/sistemik yang berlebihan, dan penyakit tertentu, misalnya diabetes melitus, AIDS, dan keganasan. Gejala Klinis : Memberikan keluhan gatal pada tempat predileksi. Terlihat papul dan pustul perifolikular, berukuran 2-3 mm diameter, dengan peradangan minimal. Tempat predileksi adalah dada, punggung, dan lengan atas. Kadang-kadang leher dan muka yang jarang. Pengobatan : Antimikotik oral o Ketokonazol 200 mg selama 2-4 minggu o Itrakonazol 200 mg sehari selama 2 minggu o Flukonazol 150 mg seminggu selama 2-4 minggu Antimokitik topikal : biasanya kurang efektif

Gambar : PITIROSPORUM FOLIKULITIS

PIEDRA Infeksi jamur pada rambut, ditandai dengan benjolan (nodus) sepanjang rambut Etiologi : Piedraia hortai (black piedra), Trichosporon wermeckii (white piedra) Gejala Klinis : Piedra hanya menyerang rambut kepala, janggut dan kumis tanpa memberikan keluhan. Krusta melekat sekali pada rambut yang terserang. Benjolan yang besar mudah dilihat, diraba, dan teraba kasar. Bila rambut disisir terdengan suara metal (klik) Piedra hitam hanya menyerang rambut kepala. Jamur ini menyerang rambut dibawah kutikel kemudian membengkak dan pecah untuk menyebar ke sekitar rambut dan membentuk benjolan tengguli dan hitam.

Gambar : PIEDRA

Piedra putih lebih jarang ditemukan, dan menyerang janggut dan kumis. Benjolan berwarna coklat muda dan tidak begitu melekat pada rambut. Trichosporon beigelii hanya dapat menyerang rambut yangtelah rusak.

Gambar : PIEDRA

Diagnosis :

Pada sediaan langsung yang menggunakan KOH 10% rambut yang telah sakit dan dipotong. Benjolan yang berwarna tengguli hitam ini terdiri atas hifa berseptum, teranyam padat dan diantaran terdapat askus. Di dalam askus terdapat 4-8 askospora. Diagnosa piedra putih , anyaman hifa terlihat mengelilingi rambut sebagai selubung. Benjolan lebih mudah dilepas dari rambut dan berwarna kehjau-hijauan yang transparan. Pengobatan : Memotong rambut yang terkena infeksi atau mencuci rambut dengan larutan sublimat 1/2000 setiap hari. Juga gunakan obat anti jamur konvensional.

TINEA NIGRA PALMARIS Infeksi jamur superfisial yang asimptomatik pada stratum korneum Etiologi : Cladosporium wermeckii Gejala Klinis : Kelainan kulit pada telapak tangan berupa bercak-bercak tengguli hitam dan sekali-kali bersisik Diagnosis : Diagnosis dibuat berdasarkan pemeriksaan kerokan kulit dan biakan. Pada pemeriksaan sediaan dengan KOH 10% jamur terlihat bercabang, bersekat ukuran 1,5-3 mikro, berwarna coklat muda sampai hiaju tua. Pengobatan : Dengan menggunakan obat-obatan jamur konvensional, seperti salap salisil sulfur, Whitfield, dan tinctura jodii.

OTOMIKOSIS

Gambar : TINEA NIGRA PALMARIS

Adalah infeksi jamur kronik atau subakut pada liang telingan luar dan lubang telinga luar, yang ditandai dengan inflamasi eksudatif dan gatal Etiologi : Jamur-jamur kontaminan : Aspergillus Pennisilium Mukor

Epidiemologi : Di daerah panas dan lembab, infeksi terjadi secara kontak langsung

Gejala Klinis : Penderita mengeluh rasa penuh dan banyak krusta. Liang telinga merah sembab dan banyak krusta. Inflamasi disertai eksfoliasi permukaan kulit atau pendengaran dapat terganggu karena lang telingan tertutup oleh masa kotoran kulit dan jamur. Infeksi bakteri dan invasi pada jaringan menyebabkan nyeri dan supurasi Diagnosis : Dilakukan dengan memeriksa kerokan kulit dan kotoran telinga. Pada sediaan langsung dengan KOH 20% akan terlihat hifa tanpa spora. Pengobatan :

Infeksi akut dan edema memerlukan pengobatan konservatif untuk menghilangkan bengkak dan kemungkinan pembersihan liang telinga. Liang telinga dibersihkan untuk menghilangkan kotoran dan sisik yang mengandung jamur. Dapat pula diberikan obat antiseptik,antibiotika, dan antifungal.

KERATOMIKOS

Gambar : OTOMIKOSIS

Infeksi jamur pada kornea mata yang menyebabkan ulserasi dan inflamasi setelah trauma pada bagian tersebut. Etiologi : Macam-macam jamur : Aspergillus Fusarium Cephalosporum Curvularia Penicillium

Gejala Klinis : Setelah mengalami trauma atau abrasi mata dapat terbentuk ulkus pada kornea. Lalu terbentuk hipopion, lesi mulai dengan benjolan yang menonjol sedikit di atas permukaan, berwarna putih kelabu dan berambut halus. Pencairan pelapisan teratas kornea disekitarnya membentuk ulkus dangkal. Terbentuk halo lebar berbatas tegas berwarna putih kelabu mengelilingi titik pusatnya. Di dalam halo terlihat garis-garis radial. Vaskularisasi tidak tampak. Pengobatan : Larutan nistatin dan amfetorisin B yang diberikan tiap jam. Pemberian dapat dijarangkan bila sudah ada perubahan.

Gambar : KERATOMIKOSIS

MIKOSIS PROFUNDA
Mikosis Profunda terdiri atas beberapa penyakit yang disebabkan oleh jamur dengangejala klinis tertentu di bawah kulit misalnya traktus intestinalis, traktus respiratorius, traktusurogenital, susunan kardiovaskular, susunan saraf sentral, otot, tulang, dan kadang kulit.Mikosis profunda biasanya terlihat dalam klinik sebagai penyakit kronik dan residif.Manifestasi klinis morfologik dapat berupa tumor, infiltrasi, peradangan vegetative, fistel, ulkus,sinus, tersendiri maupun bersamaan.Pemeriksaan dalam mikosis profunda antara lain sediaan langsung KOH, biakan jamur, pemeriksaan histopatologik, dan pemeriksaan imunologik, termasuk tes kulit, maupun serologik,dan pemeriksaan imunologik lainnya. 1. Misetoma Misetoma adalah penyakit kronik, supuratif, dan granulomatosa yang dapatdisebabkan bakteri Actinomyces dan Nocardia yang termasuk Schizomycetes dan Eumycetes atau jamur berfilamen. Gejala klinis biasanya terdiri atas pembengkakan,abses, sinus, dan fistel multiple. Di dalam sinus ditemukan butir-butir (granules) yang berpigmen yang kemudian dikeluarkan melalui eksudat.Berhubungan dengan penyebabnya, misetoma yang disebabkan Actinomyces disebut Actinomycotic mycetoma yang disebabkan bakteri botryomycosis dan yangdisebabkan jamur berfilamen dinamakan maduromycosis.biasanya merupakan lesi kulit yang sirkumskrip dengan pembengkakan seperti tumor jinak dan harus disertai butir-butir. Inflamasi dapat

menjalar dari permukaan sampai ke bagian dalam dapat menyerang subkutis, fasia, otot, dantulang. Sering berbentuk fistel yang mengeluarkan eksudat. Diagnosis Diagnosis dibuat berdasarkan klinis morfologik sesuai dengan urain di atas. Namun bila disokong dengan gambaran histologik dan hasil biakan, diagnosis akan lebih meyakinkan. Lagi pula penentuan spesies penyebab sangat penting artinya untuk terapi dan prognosis. Pengobatan Pengobatan misetoma biasanya harus disertai reseksi radikal, bahkan amputasikadangkadang perlu dipertimbangkan. Obat-obat misalnya kombinasi kotrimoksazoldengan

streptomisin dapat bermanfaat, bila penyakit yang dihadapi adalah misetomaaktinomikotik, tetapi pengobatan memerlukan waktu lama (9 bulan- 1tahun) dan bilakelainan belum meluas benar. Obat-obat baru antifungal misalnya itrakonazol dapatdipertimbangkan untuk misetoma maduromikotik. Prognosis Prognosis quo ad vitam umumnya baik. Pada maduromikosis prognosis quo adsanationam tidak begitu baik tidak begitu baik bila dibandingkan aktinomikosis atau botriomikosis. Diseminasi limfogen atau hematogen dengan lesi pada alat-alat dalam merupakan pengecualian.

2. Sporotrikosis Sporotrikosis adalah infeksi kronis yang disebabkan oleh Sporotrichium schenkii dan ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening. Kulit dan jaringan subkutis diatas nodus bening sering melunak dan pecah membentuk ulkus yang indolen. Diagnosa klinis & Pembiakan umumnya mudah dibuat berdasarkan kelainan kulit yang multiple yang umunya khas. Penyakit ini umumnya ditemukan pada pekjerja hutan maupun petani.Selain gejala klinis, yang dapat menyokong diagnosis adalah pembiakan terutama pada mencit atau tikus dan pemeriksaan histopatologik. Pengobatan

Pengobatan yang biasanya dengan pemberian larutan kaliumIodida jenuh oral. Dalam hal yang rekalsitran pengobatan dengan amfoterisin B atauitrakonazol dapat diberikan.

3. Kromomikosis Kromikosis atau Kromoblastomikosis atau dermatitis verukosa adalah penyakit jamur yang disebabkan bermacam-macam jamur berwarna (dematiaceous). Gejala klinis Penyakit iniditandai dengan pembentukan nodus verukosa kutan yang perlahan-lahan sehinggaakhirnya membentuk vegetasi papilomatosa yang besar. Pertumbuhan ini dapat menjadiulkus atau tidak, biasanya ada di kaki dan tungkai, namun lokalisasi di tempat lain pernahditemukan, misalnya pada tangan, muka, leher, dada, dan bokong. Sumber penyakit Sumber penyakit berasal dari alam dan terjadi infeksi melalui trauma.Penyakit tidak ditularkan dari manusia ke manusia dan belum pernah dilaporkanterjadi pada binatang. Diseminasi dapat terjadi melalui autoinokulasi, ada jugakemungkinan penyebaran melalui saluran getah bening. Penyebaran melalui darahdengan terserangnya susunan saraf sentral pernah dilaporkan.Pengobatannya sulit. Terapi X pernah dilakukan dengan hasil yang berbedabeda.Kadang-kadang dapat diperlukan amputasi. Pada kasus lain reseksi leso mikotik disusuldengan skin graft member hasil yangcukup baik. Pengobatan Obat-obatan biasanya memberikan hasil yang kurang memuaskan dan harus diberikan dalam waktu yang lama.Hasil pengobatan yang baik dicapai dengan kombinasi amfoterisin B dan5-fluorositosin. Itrakonazol pada akhir-akhir ini memberikan harapan baru pada penyakit ini terutama bila penyebabnya adalah Cl adosporium carrionii.

4. Zigomikosis, Fikomikosis, Mukormikosis

Penyakit jamur ini terdiri atas berbagai infeksi yang disebabkan oleh bermacam-macam jamur pula yang taksonominya dan peranannya masih didiskusikan.Zygomycetes meliputi banyak genera yaitu:Mucor, Rhizopus, Absidia,Mortierella, dan Cunning-hamella. Penyebab: Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang padadasarnya oportunistik, maka pada orang sehat jarang ditemukan Fikomikosis subkutan. Gejala Klinis & Diagnosis Kelainan timbul di jaringan subkutan antara lain: di dada, perut, atau lengan ke atas sebagai nodus subkutan yang perlahan-lahan membesar setelah sekian waktu. Nodus itu konsistennya keras kadang dapat terjadi infeksi sekunder.Penderita pada umumnya tidak demam dan tidak disertai pembesaran kelenjar getah bening regional.Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologik dan biakan. JAmur agak khas hifa lebar 6-50 m seperti pita, tidak bersepta, dan coenocytic. Pengobatan Sebagai terapi fikomikosis subkutan dapat diberikan larutan jenuh kalium Iodida.Mulai dari 10-15 tetes 3 kali sehari dan perlahan-lahan dinaikkan sampai timbul gejalaintoksikasi, penderita mual dan muntah. Kemudian dosis diturunkan 1-2 tetes dandipertahankan terus menerus sampai tumor menghilang. Itrakonazol berhasil mengatasifikomikosis subkutan dengan baik. Prognosis bentuk klinis ini umumnya baik

KANDIDOSIS
Definisi Adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis. Sinonim Kandidiasis, moniliasis Epidemiologi Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai saprofit. Gambaran klinisnya bermacam-macam sehingga tidak diketahui data-data penyebarannya dengan tepat. Etiologi

Yang tersering sebagai penyebab ialah Candida albicans yang dapat diisolasi dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal. Sebagai penyebab endokarditis kandidosis ialah C. parapsilosis dan penyebab kandidosis septikemia adalah C. tropicalis. Klasifikasi Kandidosis selaput lendir : Kandidosis oral (thrush) Perleche Vulvovaginitis Balanitis atau balanopostitis Kandidosis mukokutan kronik Kandidosis bronkopulmonar dan paru Kandidosis kutis Lokalisata : Daerah intertriginosa Daerah perianal 2. Generalisata 3. Paronikia dan onikomikosis 4. Kandidosis kutis granulomatosa Kandidosis sistemik Endokarditis Meningitis Pielonefritis Septikemia Patogenesis Faktor endogen Faktor fisiologik Kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina Kegemukan, karena banyak keringat Debilitas Iatrogenik Endokrinopati, gangguan gula darah kulit Penyakit kronik: tuberkulosis, lupus eritematosus dengan keadaan umum yang buruk. 2. Umur : orang tua dan bayi lebih sering terkena infeksi karena status imunologiknya tidak sempurna. 3. Imunologik : penyakit genetik Faktor eksogen : Iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat Kebersihan kulit Kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur. Kontak dengan penderita, misalnya pada thrush, balanopostitis.

Gejala Klinis Thrush Biasanya mengenai bayi, tampak peudomembran putih coklat muda kelabu yang menutupi lidah, palatum mole, pipi bagian dalam, dan permukaan rongga mulut yang lain . Lesi dapat berpisah-pisah, dan tampak seperti kepala susu pada rongga mulut. Bila pseudomembran terlepas dari dasarnya tampak daerah yang basah dan merah . Pada glositis kronik, lidah tampak halus dengan papilla yang atrofik atau lesi berwarna putih di tepi atau di bawah permukaan lidah. Bercak putih ini tidak tampak jelas bila penderita sering merokok .

Perleche Lesi berupa fisur pada sudut mulut, lesi ini mengalami maserasi, erosi, basah dan dasarnya eritematosa, Faktor predisposisi ialah devisiensi riboflavin .

Vulvovaginitis Biasanya sering terdapat pada penderita diabetes mellitus karena kadar gula darah dan urine yang tinggi dan pada wanita hamil karena penimbunan glikogen di dalam epitel vagina . Keluhan utama adalah gatal di daerah vulva. Pada yang berat terdapat pula rasa panas, nyeri sesudah miksi, dan dispareunia .

Balanitis dan balatonitis Penderita mendapat infeksi karena kontak seksual dengan wanita yang menderita vulvovaginitis, lesi berupa erosi, pustule dengan dindingnya yang tipis terdapat pada glans penis dan sulkus koronarius glandis . Kandidosis mukokutan kronik Penyakit ini timbul karena adanya kekurangan fungsi leukosit atau system hormonal, biasanya terdapat pada penderita dengan bermacam-macam defisiensi yang bersifat genetic, umumnya terdapat pada anak-anak . Gambaran klinisnya mirip penderita dengan efek poliendokrin . II. Kandidosis kutis a. Kandidosis intertriginosa Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glans penis, dan umbilicus, berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah dan eritematosa .

b. Kandidosis perianal Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah. Penyakit ini menimbulkan pruritus ani c. Kandidosis kutis generalisata Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga di lipat payudara intertrigluteal, dan umbilicus . Sering disertai glositis, stomatitis, dan pronikia . Lesi berupa ekszematoid dengan vesikel-vesikle dan pustule-pustul . Penyakit ini sering terdapat pada bayi, mungkin karena ibunya menderita kandidosis vagina atau mungkin karena gangguan imunologik .

Paronikia dan onikomikosis Sering diderita oleh orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan air, bentuk ini tersering di dapat . Lesi berupa kemerahan, pembengkakan yang tidak bernanah, kuku menjadi tebal, mengeras dan berlekuk-lekuk, kadang-kadang berwarna kecoklatan tidak rapuh .

Diaper rash Sering terdapat pada bayi yang popoknya selalu basah dan jarang diganti yang dapat menimbulkan dermatitis iritan, juga sering diderita neonates sebagai gejala sisa dermatitis oral dan perianal .

Kandidosis granulomatosa Penyakit ini sering menyerang anak-anak, lesi berupa papul kemerahan tertutup krusta tebal berwarna kuning kecoklatan dan melekat erat pada dasarnya . Krusta ini dapat menimbul seperti tanduk sepanjang 2 cm, lokalisasinya sering terdapat di muka, kepala, kuku, badan tungkai dan farings .

III. Kandidosis sistemik Endokarditis Sering terdapat pada penderita morfinis sebagai akibat komplikasi penyuntikan yang dilakukan sendiri, juga dapat diderita oleh penderita sesudah operasi jantung .

Meningitits Terjadi karena penyebaran hematogen jamur, gejalanya sama dengan meningitis tuberculosis atau karena bakteri lain . IV. Reaksi id (kandidid) Reaksi terjadi karena adanya metabolit kandida, klinisnya berupa vesikel-vesikel yang bergerombol, terdapat pada sela jari tangan atau bagian badan yang lain, mirip dermatofitid . Pembantu diagnosis Pemeriksaan langsung Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan Gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu. 2. Pemeriksaan biakan Bahan yang diperiksa ditanam dalam agar dektrosa glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Pembenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37 C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. Identifikasi Candida albicans dilakukan dengan membiakan tumbuhan tersebut pada corn meal agar. Diagnosis Banding Kandidosis kutis lokalisasi dengan : Eritrasma : lesi di lipatan, lesi lebih merah, batas tegas, kering tidak ada satelit, pemeriksaan dengan sinar Wood positif. Dermatitis intertiginosa Dermatofitosis (tinea) Kandidosis kuku dengan tinea unguium Kandidosis vulvovaginitis dengan : Trikomonas vaginalis Gonore akut Leukoplakia Linen planus

Pengobatan 1. Menghindari atau menghilangkan faktor prediposisi 2. Topikal :

Larutan ungu gentian -1% untuk selaput lender, 1-2% untuk kulit, dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari Nistatin : berupa krim, salap, emulsi Amfoterisin B Grup azol antara lain : - Mikonazol 2 % berupa krim atau bedak - Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dank rim - Tiokonazol, bufonazol, isokonazol 3. Sistemik : Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerna, obar ini tidak diserap oleh usus Amfoterisin B diberikan intravena untuk kandidosis sistemik . Itrakonazol : bila dipakai untuk kandidosis vulvovaginitis dosis untuk orang dewasa 2x100 mg sehari, selama 3 hari . Patofisiologi

Prognosis Umumnya baik, bergantung pada berat ringannya faktor predisposisi.

PENYAKIT KULIT OLEH VIRUS

Herpes Zoster Penyakit yang disebabkan oleh virus variola-zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksinya berupa realtivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer. Disebut juga dampa/cacar ular. Etiologi: Varicella-Zoster Virus: VSV/HZV: Human herpesvirus 3: HH3. Gejala Klinis: Insiden lebih sering pada orang dewasa, frekuensi pria & wanita sama. Predileksi tersering torakal. Terdapat juga gejala prodromal sistemik berupa demam, pusing, malase; dan gejala prodormal lokal berupa nyeri otot-tulang, gatal, pegal dan sebagainya yang timbul terlebih dahulu sebelum kelainan kulit. Setelahnya eritema muncul dan menjadi vesikel berkelompok dengan eritematosa dan edema. Vesikel berisi cairan jernih yang kemudian menjadi keruh (warna abu-abu) dan dapat menjadi pustul dan krusta. Bila vesikel mengandung darah disebut herpes zoster hemoragik. Patogenesis: Virus ini berdiam di ganglion posterior sususan syaraf tepi dan ganglion kranialis. Kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi yang setingkat dengan daerah persyarafan ganglion tersebut. Masa tunas virus 7-12 hari. Masa aktif penyakit berupa lesi-lesi baru yang tetap timbul selama kurang lebih seminggu, sedang masa resolusi selama 1-2 minggu. Terjadi pembesaran kelenjar getah bening regional. Lokasi penyakit ini unilateral dan bersifat dermatomal sesuai tempat persyarafan. Klasifikasi: 1. Herpes zoster oftalmikus Disebabkan oleh infeksi cabang pertama nervus trigeminus, menimbulkan kelainan mata dan kulit di daerah persyarafannya. Sindrom Ramsay Hunt diakibatkan oleh gangguan nevus fasialis dan osikus, memberikan gejala paralisis otot muka (paralisis Bell), kelainan kulit setingkat, tinikus, vertigo, gangguan pendengaran, histagmus, nausea dan gangguan pengecapan. 2. Herpes zoster abortif Penyakit yang hanya berlangsung dalam waktu sinkat dan kelainan kulitnya berupa vesikel dan eritem 3. Herpes zoster generaisata Kelainan kulitnya berlangsung unilateral dan segemntal dengan kelainan kulit yang menyebar secara generalisata berupa vesikel yang solitar dan ada umbilikalis. Terutama pada orang tua/ orang fisik lemah.

Komplikasi: Neuralgia pascaherpetik yaitu rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan lebih dari sebulan, dapat berlangsung hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan gradasi yang bervariasi tiap harinya. Dapat timbul pada penderita diatas 40 tahun. Pemeriksaan Penunjang: Pemeriksaan mikroskopik Tes paling sederhana dan cepat, mewarnai dengan Giemsa/hematoksilin eosin (H-E) sediaan kerokan dasar vesikel untuk melihat adanya sel-sel raksasa berinti banyak (Tzanek) yang khas dengan badan inklusi intranukleus asidofil. Polikariosit. Pemeriksaan serologi Antibodi, flouresensi, IEM, RIA, ELISA Isolasi dan identifikasi virus Isolasi dengan in ovo, in vitro atau in vivo. Virus varicella zoster tidak dapat menginfeksi anak mencit, kelinci, sel kornea kelince, dan selaput korioalantois embrio ayam, sedangkan virus herpes simplex bisa.

Diagnosa Banding 1. Herpes Simplex 2. Rheumatik dan angina pektoris, karena adanya kesamaan nyeri dengan gejala prodromal. Tata Laksana: 1. Anti viral Indikasi: herpes zoster oftalmikus, pasien dengan defiensi imunitas. - Asiklovir : 5 x 800mg/hari selama 7 hari, atau - Valasiklovir : 3 x 100mg/hari selama 7 hari. Bila lesi tetap muncul, obat dapat diteruskan dan diberhentikan dua hari setelah lesi hilang. 2. Untuk neuralgia pasca herpetik Pregabalin: dosis awal: 2 x 75mg/hari; 3-7 hari dengan respon kurang, naikkan dosis jadi 2 x 150mg/hari. Dosis maksimal 600mg/hari. 3. Anti depresi trisiklik - Amitripin: dosis awal 75mg/hari, naikan hingga timbul efek terapeutik (150-300mg/hari) - Notripilin; 50-150mg/hari 4. Kortikosteroid Prednison: 3 x 20mg/hari, setelah seminggu dosis turunkan bertahap. Prognosis: Baik. Herpes Simpleks Infeksi akut oleh virus herpes simplex (herpes hominis) tipe I/II yang ditandai vesikel berkelompok di atas ulit sembab dan eritematosa di daerah mukokutan. Infeksi dapat berlangsung primer atau rekurens.

Etiologi: - VHS: Virus Herpes Simplex: HSV-1, HSV-2 - HSV-1: Herpes simplex virus tipe 1: Human herpesvirus 1: HH1 - HSV-2: Herpes simplex virus tipe 2: Human herpesvirus 2: HH2 Gejala klinis: 1. Predileksi HSV-1 di daerah pinggang ke atas, HSV-2 pinggang ke bawah terutama genital. (Kadang tertukar akibat perilaku seksual). 2. Infeksi primer (3 minggu) disertai ganguan sistemik, demam, malase, anoreksia dan pembengkakan kelenjar getah bening, 3. Kelainan kulit berupa vesikel yang berkelompok di atas kulit sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian seropulen, dapat menjadi krusta dan kadang mengalami ulserasi yang dangkal , biasanya sembuh tanpa sikatriks pada perabaan tidak terdapat indurasi. 4. Fase laten, penderita tanpa gejala klinis, HSV dalam keadaan tidak aktif. 5. Infeksi rekurens, HSV aktif akibat mekanisme pacu dan mencapai kulit hingga menimbulkan gejala klinis. Mekanisme pacu berupa trauma fisik (demam, infeksi, kurang tidur, hubungan seksual dan sebagainya) dan trauma psikis (gangguan emosional, menstruasi) dan juga makan dan minum yang bersifat merangsang. Patologi Sel-sel epitel terlihat ber-degenerasi seperti balon yang menyebabkan terbentuknya vesikel. Badan inklusi intranukleus asidofilik yang disebut Cowdry tipe A/ Lipschuttz tipe A dapat ditemukan pada sel-sel raksasa dan sel-sel epitel yang di pinggi vesikel. Virus biasanya masuk tubuh melalui bibir, mulut, kulit, kantung konjungtiva/genitalia. Multiplikasi terjadi di tempat masuknya, kemudian menyebar melalui kelenjar getah bening. Pemeriksaan penunjang: Serupa dengan herpes zoster Diagnosa Banding: - Impetigo bulosa: mirip dengan HSV di daerah sekitar mulut dan hidung. - Ulkus durum, ulkus mole, ulkus mikstum: mirip HSV pada genitalia. Tata Laksana: Belum ada yang radikal. (Oral) Asiklovir: 5 x 200mg/hari selama 5 hari. (Parental) Asiklovir : bila sudah menginfeksi organ dalam Interferon preparat glikoprotein : menghambat reproduksi virus. Meningkatkan imunitas : Lupidon H (HSV-1) dan Lupidon G (HSV-2) Immunostimulator : Levamisol dan Isoprinosin

Prognosis :Baik bila pengobatan secara dini. Tidak baik pada pasien dengan defiensi imun. Pencengahan rekurens masih problem. Veruka Hiperplasi epidermis yang disebabkan oleh human papilloma virus tipe tertentu. Gejala Klinis: 1. Veruka Vulgaris Terutama pada anak, dapat juga pada orang dewasa dan tua. Predileksi di ekstremitas bagian ekstensor. Kutil berbentuk bulat abu-abu, lentikular/berkonfluensi menjadi plakat, permukaan kasar (verukosa). Bila digores dapat timbul auto inokulasi (fenomena Kobner). 2. Veruka Plana Juvenilis Kutil miliar/lentikular, permukaan licin dan rata, berwarna sama dengan kulit/kecoklatan. Penyebaran terutama pada muka, leher, dorsum pedis dan manus, pergelangan tangan serta lutut. Terdapat fenomena Kobner. Dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. 3. Veruka Plantaris Kutil di telapak kaki tertutama bagian yang terkena tekanan. Bentuk berupa cincin yang keras dengan bagian tengah agak lunak dan bewarna kekuning-kuningan. Permukaan licin, nyeri saat berjalan. 4. Veruka Akuminatum (kondiloma akuminatum). Pemeriksaan Penunjang : Biopsi Tata Laksana : 1. Bahan kaustik : Asam triklorosetat 50% dan fenol likuifatum. 2. Bedah skalpel 3. Bedah listrik 4. Bedah laser Prognosis: Sering residif, walau sedikit pengobatan yang adekuat. Kondiloma Akuminatum Etiologi: VPH/HPV (Human Papilloma Virus) tipe 6, 11, 16, 18, 30, 31, 33, 35, 39, 41, 42, 44, 51, 52 dan 56. Pada kondiloma akuminatum terutama HPV tipe 6 dan 11. Gejala Klinis: Terutama pada lipatan lembab. Pada pria predileksinya perineum, sekitar anus, sulkus koronarius, muara urethra eksterna, korpus, glands penis. Pada wanita vulva dan sekitar, introitus vagina, terkadang pada porsio uteri; banyak yang mengeluarkan flour albus dan pada wanita hamil pertumbuhannya lebih cepat.

Kelainan kulit berupa vegetasi yang bertangkai dan berwarna kemerahan (baru) dan kehitaman (lama). Bila terjadi infeksi sekunder akan berwarna abu-abu dan berbau tidak enak. Diagnosa Banding: 1. Veruka vulgaris: vegetasi tidak bertangkai, kering dan berwarna abu-abu/ sama dengan warna kulit. 2. Kondiloma latu: sifilis stadium II, berupa plakat yang erosif, ditemukan banyak spirochaeta pallidum. 3. Karsinoma sel skuamosa: vegetasi seperti kembang kol mudah berdarah dan berbau. Tata Laksana: 1. Kemoterapi a. Atingtur podofilin 25% (jangan melebihi 0,3 cc), sebelumnya kulit seitar beri vaseline agar tidak iritasi b. Asam triklorasetat 50% diolesi setiap minggu. c. 5-Flourourasil 1-5% dalam krim, terutma dipakai di meatus urethra. Pemberian setiap hari sampai lesi hilang. 2. Bedah listrik 3. Bedah beku 4. Bedah skalpel 5. Laser karbondioksida 6. Interferon, suntikan i.m. 7. Imunoterapi Prognosis: sering residif, namun prognosis baik. Moluskum Kontagiosum Penyakit yang disebabkan oleh virus poks. Kelainan kulit berupa papul-papul, permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang mengandung moluskum. Etiologi: Pox Virus Gejala Klinis Masa inkubasi selama satu sampai beberapa minggu. Papul-papul miliar, terkadang lentikular yang bewarna putih seperti lilin. Berbentuk kubah dengan delle (lekukan) pada tengahnya. Keluar massa seperti nasi bila dipijat. - Lokalisasi di daerah muka, badan dan ekstremitas. - Pada dewasa di sekitar pubis dan genitalia eksterna. - Terkadang ada infeksi sekunder hingga terjadi supurasi. Histopatologi : Terdapat badan moluskum mengandung partikel virus di epidermis. Tata Laksana : - Mengeluarkan massa yang mengandung badan moluskum. - Elektrokauterisasi atau bedah beku. - Dilakukan terapi pula pada pasangan seksualnya. Prognosis: Baik. Penyakit tidak atau jarang residif dengan menghilangkan semua lesinya. -

Varisela Infeksi akut primer yang disebabkan oleh varisela zoster yang menyerang kulit dan bagian mukosa. Gejala Klinis : Masa inkubasi penyakit kurang lebih 14-21 hari. Demam tidak terlalu tinggi Malese dan nyeri kepala. Disusul timbulnya erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam beberapa jam kemudian disusul timbulnya vesikel. Juga vesikel-vesikel baru di bagian lain (tampak khas keadaan polimorfik) - Lokalisasi di badan, muka, ekstremitas, mulut, mata dan saluran napas bagian atas. - Infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening dan rasa gatal. Pemeriksaan Penunjang: Pembuatan sediaan hapus yang diwarnai dengan giemsa dengan mengambil kerokan dasar vesikel. Hasil dengan penemuan sel datia berinti banyak. Tata Laksana: Lokal: diberi bedak untuk mencegah pecah vesikel secara dini dan anti gatal. Diberi antibiotik bila ada infeksi sekunder. Dapat diberikan obat antiviral: VZIG (Varsela Zooster Immunoglobuline) secara i.m. dalam 4 hari setelah terpajan. Vaksinasi Diberikan pada anak berumur 1 tahun dan dapat diberi vaksinasi ulang usia 4-6 tahun. Pemberian secara subkutan 0,5ml (12 tahun), 0,5ml pada usia diatas 12 tahun dan diulang pada 4-8 minggu kemudian dengan dosis sama. Prognosis: Baik dan jaringan arut yang terbentuk pun sedikit. Dengan memperhatikan higiene dan perawatan yang teliti. Variola Penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyebabkan keadaan umum pasien memburuk samapai dapat menyebabkan kematian dengan gejala (eflouresensi) monomorf pada perifer tubuh. Etiologi: Pox virus variolae - Variola minor (alasmin): masa inkubasi sangat singkat dengan lesi yang sedikit. - Variola mayor. Patogenesis: Masuk dari saluran pernapasan (udara bebas) dan virus bermutiplikasi di sistem retikuloendotial (otot mukosa), kemudian masuk ke dalam darah dan melepaskan diri ke sel-sel epitel lainnya. -

Gejala Klinis: Masa inkubasi 2-3 minggu dengan empat stadium: Stadium inkubasi erupsi (3-4 hari): Nyeri kepala, tulang dan sendi; demam yang tinggi hingga mengigil bersamaan dengan lemas dan muntah-muntah. Stadium makulo-papular: Timbul eritematosa yang kemudian berubah menjadi papul pada muka dan ekstremitas, namun suhu tubuh normal dan pasien merasa sehat. Stadium vesikulo-pustulosa (5-10 hari): Vesikel-vesikel berubah menjadi pustul dan suhu tubuh meningkat kembali. Stadium resolusi (2 minggu): Krusta-krusta muncul, kemudian lepas dan menjadi sikatriks yang atrofi, terkadang menimbulkan perdarahan.

DAFTAR PUSTAKA
Siregar, R.S. 2004. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, edisi 2. Jakarta : EGC. Djuanda. Adhi, dkk. 2008. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Katzung, Bertram G. 2007. Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 6. Jakarta : EGC Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. Farmakologi Klinik dan Terapi, edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.