Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Bidang hukum perikatan telah mengalami pertumbuhannya. Ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum perdata (KUHPer) dan Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) banyak yang kurang dapat mencakup perkembangan bisnis masa kini. Salah satu masalahnya diantaranya adalah mengenai perjanjian keagenan dan distributor 1 . Distributor terbentuk pada individu, perusahaan kemitraan, asosiasi atau lain hukum yang telah berdiri posisi antara produsen atau pengecer. mereka memiliki peran pada pembelian mengantar atau kontrak perdagangan untuk barang konsumsi. Distributor pada prakteknya bukan merupakan suatu hal yang baru. Namun demikian seiring dengan berkembangnya praktek-praktek dunia usaha baik dalam skala domestik maupun internasional, sedikit memberikan suatu pengaruh terhadap bagaimana lembaga distributor dalam menjalankan usahanya. Tidak jarang lembaga usahanya adalah distributor tetapi justru pada prakteknya merupakan lembaga sub-distributor atau layaknya sebagai pedagang eceran. Distributor dalam dunia perdagangan mempunyai peranan yang hampir sama dengan keagenan yaitu sebagai perantara untuk memudahkan penyampaian barang dari produsen ke konsumen. Namun demikian dalam kurun waktu sebelum tahun 1990 distributor cenderung kurang diperhatikannya dalam segi hukum. Hal ini berbeda dengan lembaga keagenan yang oleh Pemerintah RI melalui Departemen Perdagangan dan Perindustrian telah dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk lembaga pengakuan agen tunggal, dimana disyaratkan bagi perusahaan asing yang akan memasarkan barang-barang produksinya di Indonesia harus menunjuk perusahaan nasional yang akan merupakan agen tunggalnya dan sekaligus sebagai pemegang merk barang-barang tersebut.

B. Perumusan Masalah 1. Bagaimana landasan hukum perjanjian keagenan dan distributor dalam hukum positif di Indonesia?

Sumantoro, Hukum Ekonomi 243, Universitas Indonesia (UI-Press), 1986

2. Apakah perjanjian keagenan dengan distributor berbeda secara prinsipil Bedasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No.11/MDAG/PER/3/2006 ?

BAB II PEMBAHASAN

A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian. 1. Pengertian Perjanjian. Istilah perjanjian berasal dari bahasa Belanda overeenkomst dan verbintenis. Di berbagai perpustakaan dipergunakan bermacam-macam istilah, menurut pakar hukum sebagai berikut: a. Subekti dan Tjipto Sudibyo, Dalam KUH Perdata digunakan istilah perikatan untuk verbintenis dan perjanjian untuk overeenkomst. b. Utrecht, dalam bukunya Pengantar Hukum Indonesia menggunakan istilah perutangan untuk verbintenis dan perjanjian untuk overeenkomst. c. Ikhsan dalam bukunya Hukum Perdata Jilid I menerjemahkan I verbintenis dengan perjanjian dan overeenkomst dengan persetujuan. Pengertian perjanjian dapat dibagi dalam : a. Perjanjian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yang diadopsi dari Burgelijk Wet Boek (BW), pada pasal 1313 suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. b. Pendapat para sarjana hukum mengenai defenisi perjanjian sebagai berikut : 1. Subekti Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada seorang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.2 2. Wirjono Prodjojikoro Perjanjian diartikan sebagai suatu perhubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.3 3. Abdulkadir Muhammad. Suatu perjanjian adalah semata-mata suatu persetujuan yang diakui oleh hukum.4
2 3

Subekti, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta, 2004, hlm. 1 Wirjono Prodjodikoro, Azas-Azas Hukum Perjanjian, PT. Bale Bandung, Sumur Bandung, 1981, hlm. 9 4 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perjanjian, Penerbit Alumni, Bandung, 1986, hlm. 93

2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian. Mengenai syarat sahnya suatu perjanjian dalam Pasal 1320 KUH Perdata apabila memenuhi : kesepakatan para pihak, kecakapan untuk membuat suatu perjanjian, suatu hal tertentu, dan suatu sebab yang halal. 1) Kesepakatan para pihak. Kesepakatan para pihak dilandaskan pada kemauan yang bebas antar para pihak untuk saling mengikatkan diri. Kemauan tersebut dapat dinyatakan secara tegas dan secara diam-diam. Suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum, seperti ; perjanjian pembayaran hutang terhadap hasil judi. Serta perjanjian tidak sah apabila dibuat dengan paksaan.5 Kesepakatan yang terjadi tidak ada apabila suatu perjanjian terjadi karena adanya: a. Paksaan (dwang), dalam hal ini yaitu paksaan rohani atau jira bukan fisik misal encaman dianiaya rahasianya akan disebarluaskan sehingga salah satu pihak takut terhadap encaman tersebut sehingga ia menyetujuin perjanjian yang dilaksanakan. Ancaman tersebut yang dibenarkan menurut undang-undang tetapi tidak termasuk paksaan yang misalnya : ancaman jaminan apbila pinjaman tidak dapat dilunasi. b. Kekhilafan (dwaling), harus diketahui pihak lawan dengan sedemikian rupa sehingga jika tidak karena khilaf, tidak akan memberikan persetujuan. Kekhilafan berkaitan dengan salah satu pihak mengenai hal-hal pokok yang diperjanjikan, sifat-sifat hal pokok yang diperjanjikan, dan pihak yang mengadakan perjanjian. c. Penipuan (bedrog), dalam hal ini pihak yang bersangkutan tidak memberikan persetujuan berdasarkan pada keterangan palsu atau tidak benar yang disertai bujukan atau tipu muslihat dari pihak lain dimana kesemuanya itu merupakan rangkaian kebohongan bukan mengenai satu kebohongan saja. Mengenai hal ini ditegaskan dalam Paal 1321 BW bahwa: Tidak sepakat yang sah apabila sepakat itu dierikan karena kekhilafan atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan.

Soeroso, Perjanjian Di bawah Tangan: Pedoman Praktis Pembuatan dan Aplikasi Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, hlm. 12

2) Kecakapan. Yang dimaksud kecakapan adalah adanya kecakapan untuk membuat suatu perjanjian. Menurut hukum, kecakapan termasuk kewenangan untuk melakukan tindakan hukum pada umumnya, dan menurut hukum setiap orang adalah cakap untuk membuat perjanjian kecuali orang-orang yang menurut undang-undang dinyatakan tidak cakap.6 Adapun orang yang tidak cakap dalam membuat perjanjian adalah sebagai berikut :7 a. Orang-orang yang dianggap belum dewasa adalah mereka yang belum genap berumur 21 tahun dan tidak telah kawin (pasal 330 KUH Perdata), tetapi orang yang yang belum berumur 21 tahun, telah kawin maka ia dianggap telah dewasa menurut hukum b. Orang yang ditaruh di bawah pengampuan. Yaitu setiap orang yang selalu dalam keadaan gila, dungu, atau lemah akal walaupun ia kadang-kadang cakap menggunakan pikirannya dan seorang dewasa yang boros (pasal 433 KUH Perdata) c. Perempuan yang telah kawin. Menurut pasal 1330 ayat (3) KUH Perdata dan Pasal 108 KUH Perdata perempuan yang telah kawin tidak cakap membuat suatu perjanjian. Jadi tidak setiap orang cakap untuk melakukan perbuatan hukum, ini sesuai dengan fungsi hukumnya itu untuk melindungi masyarakat, maka ada orang-orang tertentu yang dianggap tidak cakap untuk melakukan perbuatan hukum. Hal ini disebabkan karena apabila orang ini melakukan perbuatan hukum dikhawatirkan akan dapat merugikan dirinya sendiri.

3) Suatu Hal Tertentu. Merupakan pokok dari suatu perjanjian yaitu keseluruhan hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian itu. Dapat juga dikatakan bahwa suatu hal tertentu itu adalah prestasi yang harus dipenuhi dalam sebuah perjanjian. Menurut pasal 1333 KUH Perdata, suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya dan tidak menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu asal saja jumlah itu terkemudian dapat ditentukan atau dihitung. Hanya barang yang dapat diperdagangkan yang dapat menjadi pokok suatu perjanjian. (Pasal 1332 KUH Perdata). Akibat hukum dari suatu perjanjian yang tidak
6 7

Ibid. Ibid.

memuat atau memenuhi syarat hal tertentu ini adalah batal demi hukum artinya dari semula diangap tidak pernah ada perjanjian.

4) Suatu sebab yang halal. Suatu sebab yang halal diatur lebih lanjut dalam Pasal 1335, 1336, dan 1337 BW. Pengertian sebab disini tidak diberikan oleh undang-undang dan sebab tersebut tidak berkaitan dengan hubungan sebab akibat. Menurut Pasal 1320 BW sebab yang halal bukanlah sebab yang menyebabkan atau mendorong orang untuk melakukan perjanjian, akan tetapi mengenai isi perjanjian yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai oleh para pihak. Menurut Pasal 1335 BW ditegaskan bahwa suatu perjanjian yang tanpa sebab atau dibuat karena suatu sebab yang palsu atau perjanjian yang dibuat karena sebab yang terlarang maka perjanjian tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum. Sebab yang terlarang adalah sebab atau kuasa yang bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum.

3. Asas Hukum Perjanjian. Asas dari suatu perjanjian merupakan dasar untuk melakukan suatu perjanjian, yaitu: a. Asas kebebasan mengadakan perjanjian, adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk : 1) Membuat atau tidak membuat perjanjian; 2) Mengadakan perjanjian dengan siapa pun; 3) Menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya 4) Menentukan bentuk perjanjian, yaitu tertulis atau lisan. Suatu perjanjian bebas ditentukan oleh pihak yang membuat suatu perjanjian tersebut asal tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan. Perjanjian yang diatur dalam buku ke III KUHPerdata tentang hukum perikatan, dikatakan bahwa menganut sistem terbuka, artinya orang dapat mengadakan perikatan atau perjanjian apapun juga, baik yang sudah ada aturannya dalam Undang-undang maupun yang belum ada pengaturannya sama sekali. Asas kebebasan berkontrak ini maksudnya adalah bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian apa saja baik sudah ataupun belum diatur oleh undangundang, bebas untuk tidak mengadakan perjanjian, bebas untuk mengadakan

perjanjian dengan siapapun dan juga bebas menentukan isi, syarat dan luasnya perjanjian. a. Asas konsensualisme (persesuaian kehendak), merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian dapat diadakan dengan kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan adalah persesuaian antara kehendak dengan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak. Kesepakatan kedua belah pihak yaitu antara pihak A dan pihak B atau kesepakatan antara pihak debitur dan pihak kreditur. Jadi pada dasarnya suatu perjanjian itu ada apabila sudah ada kata sepakat diantara para pihak yang mengadakan perjanjian. Perjanjian itu lahir pada saat tercapainya kata sepakat atau dimana kedua belah pihak atau lebih telah setuju mengenai suatu hal. b. Asas kepercayaan, berarti bahwa setiap orang yang akan mengadakan perjanjian akan memenuhi setiap prestasinya di belakang hari. Pihak yang melakukan perjanjian saling percaya bahwa dikemudian hari satu pihak melakukan suatu prestasi dan pihak yang lain menerima suatu prestasi. c. Asas kekuatan mengikat, berarti bahwa terikatnya para pihak pada perjanjian tidak terbatas pada apa yang diperjanjikan, tapi juga terhadap beberapa unsur lain sepanjang dikehendaki oleh kebiasaan dan kepatutan serta moral. Perjanjian menjadi suatu aturan tersendiri bagi para pihak sehingga para pihak harus mematuhi aturan yang telah dibuatnya. Asas ini dinyatakan secara tegas dalam Pasal 1338 BW ayat 1 yang berbunyi semua kontrak atau perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang. Jadi setiap perjanjian yang dibuat secara sah yaitu yang tidak bertentang dengan ketentuan undang-undang, mengikat kedua belah pihak yang telah membuat perjanjian tersebut. d. Asas persamaan hukum, bahwa para pihak mempunyai kedudukan dan persamaan derajat di mata hukum. Asas persamaan hukum tidak membedakan antara kaya dan miskin, namun dimata hukum semua pihak adalah sama. e. Asas keseimbangan, menghendaki kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian, untuk memenuhi dan melaksanakan isi dari perjanjian tersebut. f. Asas kepastian hukum, bahwa suatu perjanjian mengikat dan berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang mengadakannya. Terdapatnya hak dan kewajiban masing-maing pihak dalam suatu perjanjian, penyelesaian dan tanggung jawab masing-masing pihak. Meslipun terhadap para pihak diadakan kebebasan untuk berkontrak, namun setiap perjanjian atau kontrak yang dibuat
7

harus dilaksanakan sesuai dengan apa yang diperjanjikan. Bila ada salah satu pihak yang tidak melaksanakan perjanjian maka pihak lain dapat menuntut pelaksanaannya. Jadi dengan disepakati perjanjian oleh kedua belah pihak memberikan kepastian hukum terhadap hak dan kewajiban dari masing-masing pihak. g. Asas moral, yang terikat dalam perikatan wajar, yaitu suatu perbuatan sukarela dari seseorang tidak menimbulkan hak baginya untuk menggugat prestasi dari pihak debitur. i. Asas kepatutan, tertuang dalam Pasal 1339 KUHPerdata, yang berkaitan dengan ketentuan isi perjanjian. 8

4. Unsur-unsur Perjanjian. Unsur perjanjian terdiri dari unsur sebagai berikut; 9 1) Unsur Esensialia Yaitu unsur yang harus ada dalam perjanjian, tanpa adanya unsur esensialia maka perjanjian tidak ada. Contoh dalam perjanjian jual-beli harus ada kesepakatan mengenai barang dan harga karena tanpa kesepakatan mengenai barang dan harga dalam perjanjian jual-beli, perjanjian tersebut batal demi hukum karena tidak ada hal tertentu yang diperjanjikan. 2) Unsur Naturalia. Yaitu unsur yang telah diatur dalam undang-undang, jika tidak diatur dalam perjanjiannya oleh para pihak, maka undang-undanglah yang mengaturnya. 3) Unsur aksidentalia. Yaitu unsur yang nanti ada atau mengikat para pihak jika para pihak memperjanjikannya.

5. Jenis-jenis Perjanjian Menurut hukum bentuk-bentuk perjanjian dibedakan menjadi sebagai berikut; 1) Perjanjian Cuma-Cuma, yaitu suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan suatu keuntungan kepada pihak lain tanpa menerima manfaat bagi dirinya. Contoh; perjanjian hibah, penitipan barang Cuma-Cuma.
8

Meriam Darus Badrulzaman,et al., Kompilasi Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, Soeroso, op. cit, hlm.17

hlm. 66
9

2) Jadi perjanjian Cuma-Cuma memberikan keuntungan bagi pihak lain, perjanjian ini juga dapat terjadi dalam hal perjanjian pinjam pakai selain perjanjian hibah. Perjanjian hibah yaitu berupa salah satu pihak memberikan bantuan secara CumaCuma terhadap pihak lain. Contoh: suatu organisasi melakukan pengajuan permohonan dana kepada pihak perusahaan yang merupakan dana hibah. 3) Perjanjian atas beban yaitu perjanjian yang mewajibkan masing-masing pihak memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu. 4) Perjanjian sepihak, yaitu perjanjian yang menimbulkan kewajiban pada satu pihak saja, sedang pada pihak lain hanya ada haknya saja. Jadi perjanjian sepihak yaitu perjanjian yang ditentukan oleh salah satu pihak yang mana pihak pembuat perjanjian menuangkan dalam suatu formulir sehingga sepakat atau tidak sepakat dengan isi perjanjian tersebut. Biasanya terjadi dalam perjanjian yang komulatif dan dalam pemerintahan. 5) Perjanjian timbal-balik yaitu perjanjian yang menimbulkan kewajiban-kewajiban kepada kedua belah pihak dan hak serta kewajibannya itu mempunyai hubungan satu dengan yang lainnya. Contoh; perjanjian jual-beli, sewa-menyewa. 6) Perjanjian konsensuil yaitu, perjanjian yang lahir cukup dengan adanya kata sepakat antara para pihak saja. 7) Perjanjian riil yaitu, perjanjian yang baru terjadi kalau barang yang menjadi pokok perjanjian telah diserahkan. Contoh; perjanjian utang-piutang, pinjam pakai. 8) Perjanjian formil yaitu perjanjian yang dibuat secara sepakat juga harus dituangkan dalam bentuk atau disertai dengan formalitas tertentu. Contoh; perjanjian kawin. 10 Selain itu ada dua perjanjian yang oleh undang-undang diberikan suatu nama khusus yaitu perjanjian bernama dan perjanjian tidak bernama (pasal 1319 KUH Perdata). Perjanjian bernama contohnya; perjanjian jual-beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam. Perjanjian tidak bernama, yakni perjanjian yang terjadi dalam praktik sehari-hari, contoh; perjanjian sewa beli, perjanjian franchise, dan perjanjian angsuran.11

6. Berakhirnya Perjanjian. Berakhirnya suatu perjanjian atau hapusnya suatu perjanjian berarti menghapuskan suatu pernyataan kehendak yang telah dituangkan atau dilahirkan didalam persetujuan bersama antara kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian tersebut. Hapusnya
10 11

Ibid, h. 18-19 Ibid.

perjanjian ini harus benar-benar dibedakan dari hapusnya perikatan, karena suatu perikatan dapat hapus, sedangkan persetujuan merupakan sumbernya masih tetap ada. Misalnya dalam perjanjian jual beli, dengan dibayarnya harga maka perikatan mengenai pembayaran menjadi hapus sedangkan persetujuan belum hapus karena perikatan mengenai penyerahan barang belum terlaksana. Perjanjian baru beakhir apabila semua perikatan-perikatan telah dilaksanakan seluruhnya. Dalam hal ini hapusnya perjanjian sebagai akibat dari pada hapusnya perikatan-perikatan. Jadi hapusnya perikatan belum tentu sekaligus menghapuskan perjanjian. Akan tetapi hapusnya suatu perjanjian dapat mengakibatkan hapusnya perikatan-perikatan yang timbul dari perjanjian itu. Berakhirnya suatu perjanjian dapat terjadi : 1) Ditentukan terlebih dahulu dalam persetujuan oleh para pihak. 2) Maksudnya yaitu jika dalam suatu perjanjian oleh para pihak ditentukan jangka waktunya, maka dengan terciptanya jangka waktu itu berakhirlah perjanjian. 3) Undang- undang menentukan batas waktu berlakunya suatu persetujuan. 4) Misalnya dalam Pasal 1066 ayat 3 KUHPerdata bahwa ahli waris dapat mengadakan persetujuan untuk selama waktu tertentu untuk waris dapat mengadakan persetujuan untuk waktu tertentu untuk tidak melakukan pemisahan. Akan tetapi waktu persetujuan tersebut oleh Pasal 1066 ayat 4 KUHPerdata dibatasi berlakunya hanya 5 tahun. 5) Oleh para pihak atau oleh undang-undang ditentukan bahwa dengan terjadinya peristiwa tertentu, maka perjanjian akan hapus. 6) Salah satu pihak atau kedua pihak memberikan pernyataan menghentikan atau mengakhiri perjanjian (opzegging). Opzegging ini hanya ada pada persetujuan-

persetujuan yang bersifat sementara, seperti pada perjanjian kerja dan perjanjian sewa-menyewa. 7) Adanya putusan hakim untuk mengakhiri suatu persetujuan yang diadakan. 8) Terhadap suatu perjanjian yang dilakukan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, maka salah satu pihak ingin mengakhiri perjanjian itu, ia dapat mengajukan yang telah mereka buat dinyatakan beakhir. 9) Telah tercapainya tujuan diadakan persetujuan. 10) Pada dasarnya setiap orang yang mengadalan perjajian bertujuan untuk mengatur hubungan hukum yang terjadi atau akan terjadi diantara mereka. 11) Adanya kesepakatan dari para pihak untuk mengakhiri persetujuan.

10

12) Disini para pihak saling mengikatkan diri untuk mengakhiri perjanjian yang telah mereka buat. 12

B. Tinjauan Hukum Keagenan 1. Konsep Keagenan Dalam Eropa Kontantinental tidak mengenal istilah keagenan (agency). Dalam Kitab Undang Undang Hukum Perdata (BW) tidak mengenal istilah agencyVertegenwoordiging yang artinya Pemberian Kuasa atau perwakilan. Pemberian kuasa ini bersifat perwakilan tetap dan pemberian kuasa bersifat tidak tetap. Pengertian kata agency pada negara berbasis anglo saxon atau common law dan eropa kontanintel mempunyai pengertian yang berbeda meskipun mempunyai kata yang sama. Di Indonesia memakai kata agen yang diambil dari kata agency yang diambil dari sistem anglo saxon mempunyai pengertian sebagai wakil penerima/pemegang kuasa. Sedangkan Keagenan atau agency dalam anglo saxon keagenan diartikan sebagai pemberian kuasa yang bersifat tetap dan tidak tetap. Keagenan atau pemberian kuasa dapat terjadi dengan pembayaran upah atau komisi atau tanpa komisi. Menurut Encylopedic Dictonary of Business (Prentice Hall Inc. Englewood, New York, Agen adalah Orang/pihak yang menerima kuasa untuk dapat bertindak atas nama pemberi kuasa13. Agen bertindak melakukan perbuatan hukum misalnya menjual barang atau jasa tidak atas namanya sendiritetapi atas nama prinsipal14. Dilihat dari penjelasan tersebut agen bertindak sebagai perantara antara prinsipil dengan konsumen melalui pemberian kuasa, transaksi barang tetap berasal dari prinsipil sehingga tidak ada pencampuran tangan mengenai produk dan proses penyalurannya. Agen mendapat pembayaran atas jasanya berupa komisi dari prinsipil berupa presentase dari total penjulan yang sesua dengan perjanjian atau kontrak. Agen mempunyai karakteristik yang dapat membedakan dengan distributor sebagai berikut15: a) Bertindak untuk Siapa

M. Hasbi, Buku Ajar Diklat Kemahiran Hukum Kontrak, Tim Pengajar Kemahiran Hukum Kontrak, Padang, 2008, hal. 38 13 Munir Fuady, Hukum BisnisDalam Teori dan Praktek Bandung, Citra Aditya Bakti, 1986 hlm. 151-161 14 Ari Wahyudi Hertanto, Aspek-Aspek Hukum Perjanjian Distributor Dan Keagenan (Suatu Analisis Keperdataan).Jurnal Hukum dan Pembangunan Tahun ke -37 Juli September 2007. 15 Munir Fuady, Op.cit, hlm 151-161

12

11

Seorang agen akan menjual barang atau jasa untuk dan atas nama pihak prinsipilnya.

b) Pendapatan yang diterima Dalam hal keagenan, pendapatan yang diterima oleh agen adalah berupa komisi dari hasil penjualan barang/jasa kepada konsumen.

c) Tujuan Pengiriman Barang Dalam hal keagenan, barang dikirim langsung dari prinsipal kepada konsumen.

d) Pembayaran Harga Barang Dalam transaksi keagenan, pembayaran harga barang langsung dari konsumen langsung kepada prinsipal tanpa melalui agen. Berdasarkan kriteria yang dijelaskan diatas pada prkatek di dunia bisnis agen mempunyai bentuk-bentuk selaku selaku penerima kuasa adalah bank yang diatur dalam Undang-Undang Perbankan, Makelar dan Komisioner yang diatur dalam KUHD. Berdasarkan praktek bisnis perdagangan di Indonesia bentuk-bentuk keagenan adalah sebagai berikut: a. Agen perusahaan jasa perjalanan disebut travelagent. b. Agen perushaan perdagangan disebut dealer atau distributor. c. Agen perusahaan jasa pengantaran atau laveransir. d. Agen perusahaan jasa perantara disebut broker. e. Agen perusahaan jasa asuransi disebut pialang. f. Agen perusahaan jasa pengakutan barang disebut cargo agency. Bentuk keagenan dijelaskan juga pada Kepmen No. 23/1998 berupa

pengklasifikasikan lembaga keagenan dan distributor yaitu mennjadi sebagai berikut: a) Agen tunggal pemegang merek (ATPM) termasuk agen pemegang lisensi perorangan atau badan usaha yang ditunjuk atas nama pabrik pemilik merek barang tertentu untuk melakukan penjualan dalam partai besar barang dari pihak tertentu. b) Agen, adalah perorangan atau badan usaha yang bertindak sebagai perantara untuk dan atas nama pihak yang menunjuknya untuk melakukan pemindahan fisik barang.
12

c) Agen pabrik (manufactures agent), adalah agen yang melakukan kegiatan penjualan untuk dan atas nama kepentingan pabrik yang menunjuknya tanpa melakukan pemindahan fisik barang. d) Agen penjualan (sales agent), adalah agen yang melakukan penjualan atas nama dan untuk kepentingan pihak lain yang menunjuknya tanpa melakukan pemindahan fifik baranng. e) Agen pembelian (purchasing agent), adalah agen yang melakukan pembelian atas nama dan untuk kepentinganpihak lain yang menunjuknya tanpa melakukan pemindahan fisik barang. f) Agen penjualan pemegang merek (APPM), adalah agen yang melakukan penjualan atas nama dan untuk kepentingan agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang menunjuknya. g) Distributor utama (main distirbutor), adalah perorangan atau badan usaha yang bertindak atas namanya sendiri yang ditunjuk oleh pabrik atau pemasok untuk melakukan pembelian, penyimpanan,penjualan serta pemasaran barang dalam partai besar secara tidak langsung kepada konsumen akhir terhadap barang yang dimiliki/dikuasai oleh pihak lain yang menunjuknya. h) Sub distributor, adalah perorangan atau badan usaha yang ditunjuk oleh distributor utama atau grosir yang bertindak atas namanya sendiri untuk melakukan kegiatan penjualan barang dalam partai besar sampai pada pengecer. Dalam Kepmen No. 23 /1998 Pasal 2 bentuk keagenan yang termasuk sebagai Pedagang Besar adalah distributor utama, perkulakan (grosir), sub distributor, pemasok besar (main supplier), dealer besar, agen tunggal pemegang merek. Dijelaskan beberapa kategori yang termasuk Pedagang besar adalah sebagai berikut: a. Menguasai gudang secukupnya sesua dengan kebutuhan barang yang diperdagangkan. b. Mempunyai jaminan saran transportasi yang cukup. c. Menerapkan manajemen modern dalam pengelolaan usanya. Penjelasan mengenai Pedagang Pengecer (Retailer) dan pedagang informal adalah Agen Pabrik dan agen Penjualan, agen Pembelian, Agen Penjualan Pemegang Merk, Pemasok (Supplier), Dealer pengecer, dan Pengecer Tanpa Toko.

13

2. Sistem Hukum Keagenan Perjanjian keagenan adalah perjanjian pemberian kuasa bersifat perwakilan tetap dan tidak tetap antara perusahaan sejenis yang lain untuk melaksanakan segaala kepentingan prinsipal di wilayah pemasaran tertentu 16 . Hubungan hukum keagenan adalah hubungan hukum antara prinsipal dengan perusahaan keagenan yang diberi kuasa untuk mewakili perusahaan dalam melakukan perbuatan hukum kepada pihak ketiga. Kontrak keagenan di Indonesia diatur dalam pasal 1792 Pasal 1819 KUHPerdata dimana istilah keagenan tidak disebutkan tetapi KUHPerdata menggunakan istilah pemberian kuasa. Perbedaan tersebut tidak merubah pengertian secara substantif dari inti perbuatan hukum tersebut. Dimana perbuatan hukum tersebut mempunyai sifat yang sama yaitu ada pemberian kuasa oleh perusahaan pemberi kuasa untuk mewakili perusahaan prinsipil kepada pihak ketiga. menurut sistem hukum anglo saxon yang menganut sistem common law. Dalam KUHD juga diatur menganai masalah keagenan, yaitu mengenai Makelar Pasal 62 s/d dengan Pasal 73 dan pengaturan mengenai komisioner Pasal 76 s/d 85a. Dalam hal admisnitratif keagenan diatur pada Keputusan Menteri Perindustrian Republik Indonesia No. 295/M/SK/7/1982, tanggal 7 Juli 1982 Kepmen ini mengatur tentang17: 1). Ketentuan Umum. 2). Maksud dan tujuan keagenan. 3). Instiusi keagenan. 4). Status keagenan. 5). Hak dan Kewajiban prinsipal. 6). Hak dan Kewajiban Agen tunggal. 7). Perjanjian agen tunggal. 8). Berakhirnya perjanjian agen tunggal. 9). Pencatatan dari izin keagenan tunggal. 10). Penyelesaian sengketa (BANI). 11) aturan peralihan dan penutup.

16 17

Munir Fuady, Op.cit, hal. 151-161 Keputusan Menteri Perdagangan Indonesia No. 295/M/SK/7/1982, tanggal 7 Juli 1982.

14

3. Hubungan Hukum Keagenan Hubungan hukum keagenan dibuat secara tertulis disebut kontrak. Kontrak keagenan sah dan mengikat sejak ditandatanganinya oleh pihak-pihak. Selain itu kontrak keagenan juga harus memenuhi syarat sah suatu perjanjian yang diatur dalam pasal 1320 KUHPerdata yaitu: a). kesepakatan kedua pihak; b). Kedua pihak wenang melakukan perbuatan hukum; c). Ada objek tertentu atau dapat ditentukan; dan d). Berdasarkan kausa yang halal (dibolehkan) Perjanjian keagenan mempunyai konsekuensi secara hukum sesuai dengan pasal 1338 KUHperdata yaitu perjanjian mengikat para pihak dan menjadi undang-undang bagi para pihak, sehingga para pihak wajib mematuhi segala kewajiban. Dalam kontrak keagenan ditetapkan secara rinci kewajiban pokok (main obligation), kewajiban pelengkap (additional obligation), principal, dan agen perusahaan 18. Penjelasan mengenai perbedaan perincian kewajiban pada kontrak keagenan dapat berpengaruh pada akibat hukum yang timbul apabila wanprestasi. Pelanggaran wanprestasi pada kewajiban pokok, maka kontrak keagenan dapat dibatalkan, sedang pelanggaran wanprestasi pada kewajiban pelengkap, maka dapat dilakukan pembayaran ganti kerugian kepada pihak yang dirugikan. Kewajiban pokok principal adalah penyerahan barang untuk dijual dan pembayaran komisi serta biaya pelaksanaan kontrak keagenan kepada agen perusahaan. Kewajiban pelengkap principal hanya meliputi cacat tersembunyi atas barang atau produk yang dipasarkan. Kewajiban pokok agen perusahaan adalah melaksanakan secara teliti. Penetapan jangka waktu di dalam perjanjian keagenan juga diatur dalam peraturan dan perundang-undangan. Ketentuan perundang-undangan yang berlaku menyebutkan bahwa penunjukkan sebagai agen/distirbutor haruslah dilakukan untuk jangka waktu minimal 3 tahun19, apabila ada perpanjangan kembali maka akan berlaku selama 3 tahun berikutnya. Penetapan jangka waktu di perjanjian keagenan berbeda-beda dalam pendapat, ada beberapa yang berpendapat bahwa ketentuan itu hanya ditujukan kepada perusahaan perusahaan
18 19

Munir Fuady, Op.cit, hal. 151-161 S.K. Mendag No. 77/Kp/III/78/tanggal 9 Maret 1978.

15

Indonesia berdasarkan SK Mendag No. 77/Kp/III/78 tentang Ketentuan Mengenai Kegiatan Perdagangan terbatas Bagi Perusahaan Produksi dalam Rangka Penanaman Modal. Untuk perusahaan asing yang langsung menunjuk perusahaan di Indonesia untuk menjadi agen dapat dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun saja. Pelaksanaan untuk pembatasan waktu tersebut di lakukan guna melindungi perusahaan dalam negeri. Penunjukkan agen mengenai bentuk agen tunggal atau tidak berlaku untuk beberapa sektor industri tertentu. Untuk industri alat-alat besar, kendaraan bermotor, pupuk, memang diatur mengeani bentuk keagenan mereka yaitu harus berbentuk agen tunggal. Pengalihan hak dalam perjanjian pada umumnya sering diberlakukan dan dicantumkan pada suatu perjanjian atau kontrak perdagangan. Hal ini digunakan untuk melindungi dari segala resiko yang terjadi di kemudian hari bagi pihak yang dirugikan dengan memperhatikan kepentingan semua pihak yang terkait. Dalam perjanjian keagenan pengalihan hak ini dapat dua kemungkinan dilakukan yaitu: pertama, pada perjanjian kedua belah pihak atau agen tidak dapat mengalihkan hak tanpa persetujuan dari kedua belah pihak, kedua prinsipal boleh mengalihkan hak dan kewajibannya kepada pihak ketiga tanpa persetujuan dari pihak agen, namun agen dalam mengalihkan haknya harus mendapat persetujuan dari pihak prinsipal. Biasanya pihak prinsipal mempunyai posisi dalam bargaining power, sehingga mereka dapat menentukan posisinya. Pemutusan perjanjian secara sepihak dapat dilakukan dalam perjanjian keagenan, dimana para pihak baik prinsipal maupun agen dapat mencantumkan dalam perjanjian kriteria event of defaults sebagai landasan bagi mereka untuk dapat melakukan pemutusan secara sepihak. Biasanya, yang dikategorikan sebagai events of defaults anatara lain adalah20: 1) apabila agen lalai melaksanakan kewajibannya sebagaimana dicantum; 2) apabila agen melaksanakan apa yang tidak boleh dilakukan; 3) apabila para pihak jatuh pailit; 4) keadaan-keadaan yang menyebabkan para pihak tidak dapat melaksanakan apa yang menjadi kewajiban-kewajibannya.

20

SumantoroOp.cit, hal. 250.

16

Dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 11/M/DAG/PER/3/2006, diatur mengenai ketentuan pengakhiran perjanjian keagenan unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh para pihak apabila 21: 1) perusahaan dibubarkan 2) perusahaan menghentikan usaha 3) dialihkan hak keagenan/kedistibutorannya 4) bangkrut/pailit 5) perjanjian tidak diperpanjang. Pemutusan perjanjian/kontrak yang dilakukan oleh prinsipil kepada agen mempunyai akibat hukum yang berbeda seperti yang diatur dalam Pasal 22 ayat (3), (4), (5) dan (6) Permen No. 11/M DAG/PER/3/2006 yaitu: Pasal 22 ayat: (3) Apabila pemutusan perjanjian sebagai agen tunggal atau distributor tunggal yang diikuti dengan penunjukan agen, agen tunggal, distributor atau distributor tunggal yang baru oleh prinsipal sebelum berakhirnya masa berlaku STP, maka kepada agen, agen tunggal, distributor atau distributor tunggal yang baru dapat diberikan STP setelah tercapainya penyelesaian secara tuntas (clean break). (4) Apabila pemutusan perjanjian sebagai agen atau distributor yang diikuti dengan penunjukan agen tunggal atau distributor tunggal yang baru oleh prinsipal sebelum berakhirnya masa berlaku STP, maka kepada agen tunggal atau distributor tunggal yang baru dapat diberikan STP setelah tercapainya penyelesaian secara tuntas (clean break). (5) Jika pemutusan perjanjian secara sepihak oleh prinsipal tidak diikuti dengan penunjukan agen, agen tunggal, distributor atau distributor tunggal yang baru, maka prinsipal wajib terus memasok suku cadang
21

Permen No. 11 /M DAG/PER/3/2006 tentang Penerbitan Dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen Atau Distributor Barang Dan/Atau Jasa,Pasal 22 ayat (2).

17

kepada agen, agen tunggal, distributor atau distributor tunggal yang lama paling sedikit 2 (dua) tahun untuk menjaga kontinuitas pelayanan purna jual kepada pemakai barang tersebut.
(6) Apabiladalamjangkawaktu 3 (tiga) bulansejakdilakukanpemutusan

perjanjiansebagaimanadimaksudpadaayat (3) dan (4) belumtercapai penyelesaiansecaratuntas (clean break), makasementara penyelesaiansecaratuntastetapdiusahakan, STP dinyatakantidak berlakudanprinsipaldapatmenunjukagen, agentunggal, distributor atau distributor tunggal yang baru. Ketentuan diatas dibuat dan di implementasikan guna melindungi pihak prinsipil, agen, konsumen serta roda perekonomian. Kelancaran usaha, serta kelancaran dalam penyaluran produk-produk yang memang dibutuhkan oleh konsumen agar semunya terpenuhi sehingga terciptanya suatu kesinambungan usaha dan perkekonomian yang sehat.

C. Pengertian dan Tinjauan Umum Perjanjian Distributor 1. Pengertian atau Definisi Beberapa definisi yang diberikan terminologi distributor antara lain adalah Alan giplin, menurutnya distibutor adalah yang telah diberikan perusahaan, hak eksklusif atau prefertial untuk membeli dan menjual berbagai spesifik barang atau jasa pasar tertentu. dalam dictionary of business and economic distributor adalah orang pribadi dari perusahaan menjual produk manufaktur. distributor adalah setiap kemitraan, individu, perusahaan, asosiasi atau hubungan hukum lainnya yang berdiri antara produsen dan penjual eceran dalam pembelian. Beberapa definisi yang diberikan terhadap terminologi disributor antara lain adalah : a. Alan Giplin22 : Distributor is who has been granted by a company, an exclusive or prefential right to buy and sell a specific range of its good or service in specified markets. b. Dalam Dictionary of business and economic distributor is an individual of firm selling manufactured products
22

Alan Giplin. Dictionary Of Teras. (London: ButterWorth & Co. 1977)

18

c. Distributor is any individual, patnership, corporation. Association or other legal relationship which stands between the manufacturer and retail seller in purchases. Consignments. Or contract for sale of consumen goods. A wholesaler jobber or other merchant middlemen authorized by a manufacturer or supplier to sell chiefly to retailers and commercial users.23 Distributor memiliki karakteristik yang bisa membedakannya dengan agen, berikut karakteristiknya :24 a) Bertindak untuk Siapa Distributor bertindak untuk dan atas namanya sendiri (Independent tender).

b) Pendapatan yang diterima Distributor yang diterima berupa laba dari selisih harga pembelian dari produsen/supplier dengan harga penjualannya kepada konsumen.

c) Tujuan Pengiriman Barang Dalam hal distributor, produsen bahkan tidak selalu mengetahui konsumen akhir dari produknya.

d) Pembayaran Harga Barang Dalam hal distibutor, pihak distributor akan menerima langsung pembayaran dari konsumen dengan risikonya sendiri. Secara khusus ketentuan perundang-undangan yang mengatur tentang distributor belum ada, jadi ketentuan-ketentuan yang berlaku adalah Surat Ketentuan Mentri Perdagangan Nomor 77/Kp/III/78, tanggal 9 Maret 1978 yang menentukan bahwa lamanya perjanjian harus dilakukan, Keputusan Mentri Perindustrian dan

Perdagangan No. 23/MPP/Kep/1/1998 tentang Lembaga-lembaga usaha Perdagangan (Kepmen No. 23/1998), Keputusan Meteri No. 159/MPP/Kep/4/1998 tentang Perubahan Keputusan Menteri Perindustrian dan perdagangan No.

23/MPP/Kep/1/1998 tentang Lembaga-Lembaga Perdagangan. Selain itu para pihak

23

Henry Campbell Black MA. Black Law Dictionary. Abridged Sixth Edition. 8 reprint-1998. (U.S. West Pubhlisng Company. 1979) hal. 427. 24 Munir Fuady, Op.cit, hal. 151-161

19

dalam membuat perjanjian keagenan dan/atau distributor biasanya mendasarkan pada asas kebebasan berkontrak sebagaimana yang dianut oleh Pasal 1338 KUHPerdata.25 Seharusnya dengan adanya asas kebebasan berkontrak tersebut, posisi kedua belah pihak adalah sama dan sederajat. Namun, dalam praktek sebenarnya kedua pihak tidak dalam posisi yang seimbang. Seringkali terjadi pihak distributor harus menerima persyaratan-persyaratan yang diberikan oleh perusahaan prinsipal telah mempersiapkan standart formulir-formulir kontrak, berarti bagi distributor yang ingin mengadakan perjanjian dengan pihak produsen terikat dengan formulir-formulir kontrak yang sudah disediakan pihak produsen. Sebagai akibat hukum dari perbuatan distributor semuanya menjadi tanggung jawab distributor itu sendiri. Adapun hubungan hukum yang terjadi antara distributor dan prinsipal nya adalah tunduk pada perjanjian komisi.26 Selanjutnya Kepmen No. 23/1998 memberikan pengklasifikasian lembaga keagenan dan distributor sesuai dengan perkembangan dan praktek dilapangan yaitu menjadi sebagai berikut:27 a. Distributor utama (main distributor), adalah perorangan atau badan usaha yang bertindak atas namanya sendiri yang ditunjuk oleh pabrik atau pemasok untuk melakukan pembelian, penyimpanan, penjualan serta pemasaran barang dalam partai besar secara tidak langsung kepada konsumen akhir terhadap barang yang dimiliki atau dikuasai oleh pihak lain yang menunjuknya. b. Sub distributor adalah perorangan atau badan usaha yang ditunjuk oleh distributor utama atau grosir yang bertindak atas namanya sendiri untuk melakukan kegiatan penjualan barang dalam partai besar sampai dengan pengecer. Selanjutnya adalam pasal 2 dan 3 Kepmen No. 23/1998 diadakan penggolongan atau pengkatagorian pada lembaga-lembaga usaha perdagangan yaitu lembaga perdagangan yang termasuk sebagai pedagang besar dan pedagang pengecer (retailer). Pada pasal 2 menyebutkan bahwa yang termasuk sebagai pedagang besara adalah distributor adalah distributor utama, perkulakan ( grosir) sub distributor, pemasok besar (main supplier), dealer besar agen tunggal pemegang
25 26

Ari Wahyudi Hertanto, Op.cit Ibid 27 Ibid

20

merek. Dimana terhadap para pedagang yang termasuk dalam kategori pedagang besar dimaksud harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Menguasai gudang secukupnya sesuai dengan kebutuhan barang yang diperdagangkan b. Mempunyai jaminan sarana transportasi yang cukup c. Menerapkan manajemen modern dalam pengelolaan usahannya. Dalam rangka pelaksanaan dari penanaman modal dalam negeri yang tertera dalam UndangUdang No.6 Tahun 1968, pemerintahan mengeluarkan peraturan pelaksa mengenai pengakhiran kegiatan usaha asing dalam bidang perdagangan yaitu : Peraturan Pemerintah No.36/1977. Salah satu alternatif yang diberikan oleh Peraturan Pemerintahan (PP) No.36/1977 terhadap perusahaan asing seperti yang tercantum dalam pasal 7 dari Peraturan Pemerintah tersebut adalah : Dapat menunjuk perusahaan nasional sebagai penyalur (Agen dan Distributor). Di Indonesia, lembaga distributor merupakan salah satu dari sekian banyak lembaga perdagangan yang diatur secara khusus dalam Kepmen No.23/1998. Kepmen tersebut merupakan suatu upaya dalam rangka terciptanya suatu tertib niaga dan kelancaran distribusi barang dan jasa serta perlindungan konsumen didalam negeri. Perjanjian distributor secara khusus tidak dikenal dalam KUHPerdata dan KUHD. Sehingga perjanjian itu dapat digolongkan dalam perjanjian innominat (perjanjian tidak bernama), serta keberadaannya dimungkinkan berdasarkan asas konsensualisme. Berdasarkan asas

konsesualisme, maka perjanjian yang akan dilakukan oleh distributor harus memenuhi syarat untuk sahnya suatu perjanjian seperti yang tercantum di dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Dengan demikian secara tidak langsung berlaku Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yang menyatakan : semua perjanjian yang dibuat secara sah, maka berlaku sebagai UndangUndang bagi mereka yang membuatnya.

2. Dasar Hukum Perjanjian Distributor28 Perjanjian merupakan dasar dalam melaksanakan perjanjian distributor, karena dalam perjanjian diatur hak dan kewajiban dari para pihak. Perjanjian distributor termasuk dalam perjanjian innominat (tak bernama), karena tidak diatur secara khusus dalam KUHPerdata

28

Ibid

21

sekalipun tidak diatur secara khusus, tetapi tetap harus tunduk pada peraturan atau ketentuan umum Buku III KUHPerdata. Dasar hukum dari perjanjian distributor adalah asas dari BUKU III yang memberikan kebebasan berkontrak dan sifatnya yang terbuka yang memungkinkan masyarakat dapat membuat segala macam perjanjian di luar perjanjian-perjanjian yang terdapat dalam KUHPerdata Buku III, yaitu : a. Sifat terbuka dari Buku III KUHPerdata memungkinkan setiap individu dalam masyarakat untuk bebas membuat segala macam perjanjian, baik yang terdapat dalam Buku III, maupun yang terdapat di luar Buku III. Macam dari perjanjian tersebut harus tunduk pada ketentuan-ketentuan umum perjanjian (Pasal 1319 KUHPerdata). b. Selain dari itu, yang dapat diketengahkan pula adalah bahwa dianutnya asas konsensualisme, yaitu dasar dari perjanjian yang memerlukan adanya kata sepakat di antara pihak pembuat perjanjian. Asas konsensualisme merupakan dasar dari para pihak untuk melaksanakan perjanjian, karena untuk terlaksananya suatu perjanjian diperlukan adanya kata sepakat. Adanya kata sepakat merupakan langkah awal sahnya suatu perjanjian yang kemudian diikuti syarat-syarat lain. Oleh Undang-Undang ditegaskan bahwa, perjanjian yang telah disepakati akan berlaku sebagai UndangUndang bagi mereka yang membuatnya (Pasal 1338 KUHPerdata). Pasal 1320 KUHPerdata yang mensyaratkan sahnya suatu perjanjian, yaitu : 1) Kata sepakat dari mereka yang saling mengikatkan diri; 2) Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian; 3) Menyangkut suatu hal tertentu; 4) Mengenai suatu sebab yang halal. Keempat hal tersebut mutlak harus dipenuhi untuk dapat dilaksanakan suatu perjanjian yang sah. a. Kebebasan berkontrak yang diberikan oleh Buku III KUHPerdata tentunya juga dibatasi oleh pasal-pasalnya. Suatu sebab yang diperjanjikan adalah terlarang, jika dilarang oleh undang-undang, bertentangan dengan hukum, kesusilaan, maupun, ketertiban umum (Pasal 1337 KUHPerdata). b. Bedrijfsreglementerings Ordonantie 1934 (BRO 34) tentang Penyaluran Perusahaan. c. Undang-Undang No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing.
22

d. Undang-Undang No.11 tahun 1970 tentang Perubahaan dan Penambahan UndangUndang No.1 tahun 1967 tentang Perubahaan dan Penambahan Undang-Undang No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. e. PP No.1 tahun 1957 tanggal 19 Januari 1957 tentang Penyaluran Perusahaanperusahaan. f. Kepmennindag No.402/MPP/Kep/11/1997 tanggal 3 November 1997. Ketentuan Perizinan Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing. g. Kepmendag Perdagangan. h. Kepmenperindag-RI No.159/MPP/Kep/4/1998 tentang Perubahan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.23/MPP/Kep/1/1998 tentang Lembaga-Lembaga Usaha Perdagangan. Implementasi Umum Kontrak Distributor dalam praktek menggunakan perjanjian baku. Perjanjian baku adalah bentuk perjanjian yang disetujui oleh para pihak dalam bentuk tertulis berupa formulir perjanjian yang telah ditentukan oleh pihak pertama yaitu pihak prinsipal, dimana dengan demikian kontrak yang diadakan merupakan perjanjian baku atau perjanjian standar. Perjanjian baku adalah perjanjian yang dibuat secara kolektif dalam bentuk formulir. Pernyataan ini sejalan dengan memperhatikan fakta dari format kontrak yang telah ditandatangani oleh para pihak tersebut di atas secara awam dapat diketahui terdapat beberapa bagian yang memang sengaja dikosongkan sebagai reservasi apabila ternyata terdapat perbedaan antara kontrak distributor yang satu dengan kontrak yang lainnya. Adapun bagian-bagian yang sengaja dikosongkan sebagai reservasi apabila ternyata terdapat perbedaan antara kontrak distributor yang satu dengan kontrak yang lainnya. Adapun bagianbagian yang sengaja dikosongkan antara lain adalah : 1. Kolom para pihak, khususnya kolom distributor; 2. Kolom Territory; 3. Kolom yang berkenaan dengan masa berlaku perjanjian dan ketentuan-ketentuan lain yang mengatur mengenai pembatasan jangka waktu (baik dalam hitungan hari, bulan maupun tahun); 4. Kolom Agen (dalam hal ini adalah agen pembayaran dalam transaksi ini yang setiap saat dapat berubah); 5. Kolom harga objek yang didistribusikan; 6. Dst
23

No.23/MPP/KEP/1/1998

tentang

Lembaga-Lembaga

Usaha

Identifikasi dapat dilakukan secara mudah dan cepat, dimana pihak prinsipal dalam hal ini telah terlebih dahulu memberikan kolom-kolom yang siap diisi setiap saat dengan menggantungkan diri pada pihak distributor. Besaran nilai transaksi, dan hal-hal lain yang merupakan kewajiban dari pihak distributor yang perlu dijadikan sebagai bahan pertimbangan oleh prinsipal. Namun di lain pihak selain ditentukan lain oleh para pihak (khususnya oleh prinsipal) tidak terdapat suatu penambahan dan/atau perubahan yang sifatnya spesifik atau setidaknya terjadi penambahan atau perubahan, dan dapat dengan mudah diidentifikasi.

D. CONTOH KASUS Sengketa Pemutusan Perjanjian Keagenan dan Distributor Secara Sepihak Oleh Hyundai Motor Company terhadap Korindo Heavy Industri 1. Kasus Posisi Hyundai Motor Company (HMC) telah membuat kesepakatan yang berisi supply agreement, distributor agreement dan license Agreement dengan PT. Korindo Heavy Industry (KHI) pada tanggal 16 Juli 2006. Perjanjian tersebut selalu diperpanjang setiap tahunnya. Sejak tahun 2007 penjualan bus dan truk meningkat. Dari 2007 hingga 2012 penjualan kendaraan niaga Hyundai telah mencapai 7.361 unit. Mulai 2007 sampai 2008 penjualan KHI terus mengalami kenaikan mencapai 3.240 unit yang merupakan penjualan tertinggi, dan KHI memperoleh penghargaan dari Hyundai dari distributor terbaik. KHI mengakui, pada tahun 2010 penjualan mengalami penurunan. Hal itu tidak disebabkan oleh internal KHI, melainkan sebagai imbas dari kondisi perekonomian di Indonesia di saat itu. Pada tanggal 8 September 2010, supply agreement diputus secara sepihak oleh HMC, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu oleh KHI. Lantas disusul pada tanggal 6 Oktober 2010 HMC memberitahukan ke HKI mengenai perihal tidak diperpanjangnya Distributorship Agreement terhadap HKI. Pemutusan secara sepihak itu terlihat dari diberhentikannya pasokan suku cadang oleh HMC tanpa pemberitahuan. Sehingga pihak KHI Merugi, karena tiba-tiba diputuskan perjanjian yang telah disepakati dan pasokan sparepart (suku cadang) dihentikan. Pihak KHI yang telah beberapa kali meminta kejelasan, tetapi hingga kini tidak kunjung mendapat balasan.
24

KHI pada tanggal 15 Maret 2012 mengajukan gugatan Perbuatan Melawan Hukum ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan gugatan yang terdaftar pada No. 166/Pdt.G/2012/PN.Jkt.Sel.

2. Analisa Kasus Berdasarkan pasal 1320 Perdata, supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat; 1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. Suatu pokok persoalan tertentu; 4. Suatu sebab yang tidak terlarang (halal). Dalam pasal 1331, suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih. Melihat penjelasan tersebut, setelah memenuhi persyaratan, dan terbentuk kontrak, HMC terikat pada persetujuan untuk menyerahkan suatu barang, yaitu memberikan pasokan suku cadang pada KHI selaku agen Hyundai. Disamping itu KHI juga telah memiliki hak menjual, distribusi, dan lisensi teknis. Atas dasar tersebut, Hyundai Motor Company (HMC) dan PT Korindo Heavy Industry (KHI) telah terikat pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata: Semua perjanjian yang dibuat sesuai dengan Undang-undang berlaku sebagai undangundang bagi mereka yang membuatnya. Berdasarkan pasal 1338 ayat 1 tersebut, maka perjanjian yang dibuat oleh PT. KHI dan HMC berlaku sebagai undang-undang bagi mereka. Dimana para pihak harus saling memenuhi hak dan kewajiban yang tertuang dalam perjanjian yang mereka buat. Di dalam ayat 2, juga ditegaskan bahwa: Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang. Berkaitan dengan kasus ini, HMC sebagai prinsipal yang memasok suku cadang bus dan truk merek Hyundai telah memutuskan Supply Agreement pada tanggal 8 September 2010 dan Distributorship Agreement pada tanggal 6 Oktober 2010 secara sepihak. Ini menunjukkan bahwa pemutusan perjanjian tersebut bertentangan dengan pasal 1338 ayat 2, dan menunjukkan bahwa HMC telah melakukan sebuah perbuatan yang melawan hukum (PMH). Sedangkan Peraturan Menteri Perdagangan RI No.11//M-DAG/PER/3/2006 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen Atau Distributor Barang
25

dan/atau Jasa pada Pasal 22 Ayat (1) juga menegaskan bahwa Perjanjian yang masih berlaku, dapat berakhir atas persetujuan dari kedua pihak sesuai kesepakatan dan ketentuan hukum yang berlaku. Sedangkan HMC melakukan pengakhiran perjanjian tanpa persetujuan KHI ini berarti tidak dapat berakhir tanpa ada kesepakatan antara pihak HMC dengan KHI. Dan apabila pihak HMC tetap melakukan pemutusan perjanjian secara sepihak itu berarti HMC melakukan suatu perbuatan melawan hukum (PMH). Sedangkan, apabila dilihat dari Peraturan Menteri Perdagangan RI No.11//MDAG/PER/3/2006 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen Atau Distributor Barang dan/atau Jasa pada Pasal 22 Ayat (5) ditegaskan bahwa Jika pemutusan perjanjian secara sepihak oleh prinsipal tidak diikuti dengan penunjukan agen, agen tunggal, distributor atau distributor tunggal yang baru, maka prinsipal wajib terus memasok suku cadang kepada agen, agen tunggal, distributor atau distributor tunggal yang lama paling sedikit 2 (dua) tahun untuk menjaga kontinuitas pelayanan purna jual kepada pemakai barang tersebut. HMC apabila melakukan pemutusan perjanjian secara sepihak seharusnya tetap memasok suku cadang kepada agen karena end user butuh sebagai kebutuhan purna jual. Jadi apabila HMC melakukan pemutusan perjanjian secara sepihak dan tidak memasok suku cadang kepada KHI hal tersebut masuk ke dalam perbuatan melawan hukum (PMH). Dari disposisi kasus tersebut, pihak HMC juga dapat diasumsikan memiliki unsur itikad tidak baik, yang juga diatur dalam ayat 3, pasal 1338 KUH Perdata, karena melakukan pemutusan perjanjian hanya berdasarkan turunnya penjualan PT. KHI terhadap suku cadang bus dan truk yang dipasok oleh HMI, dimana tindakan tersebut, mengakibatkan kerugian bagi PT.KHI, karena kehilangan konsumen, yang merupakan pemasok suku cadang utama bus dan truk Hyundai di Indonesia, yang kerugiannya terhitung mencapai 1,2 Triliun rupiah. Berdasarkan penjelasan diatas dapat dianalisis bahwa KHI bisa melakukan gugatan perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata yang berbunyi Tiap perbuatan yang melawan hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahaannya untuk menggantikan kerugian tersebut. Berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata apabila ingin menggugat subjek hukum berdasarkan Perbuatan Melawan Hukum harus memenuhi unsur-unsur yang tersebut dalam Pasal tersebut, yaitu : 1. Perbuatan Melawan Hukum; 2. Menimbulkan kerugian bagi orang lain; 3. Terdapat hubungan kausalitas antara kerugian dengan perbuatan melawan hukum.
26

Melihat dari pasal 1365 KUHPerdata bahwa PT. HMC telah memenuhi unsur perbuatan melawan hukum yaitu dengan pemutusan secara sepihak oleh PT. HMC kepada PT KHI karena telah melanggar kesepakatan para pihak yang menjadi undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Dalam Pasal 1338 Ayat (2) KUHPerdata, Pasal 22 Ayat (1) dan Ayat 2 Peraturan Menteri Perdagangan RI No.11//M-DAG/PER/3/2006 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen Atau Distributor Barang dan/atau Jasa, telah bertentangan dengan perbuatan hukum HMC yang telah memutuskan secara sepihak supply agreement dan distributorship agreement. PT. HMC telah menimbulkan kerugian materil sebesar 1,2 Trilliun dan immateril sebesar 200 milliar Rupiah bagi PT. KHI berupa terhambatnya pasokan suku cadang yang dibutuhkan PT. KHI sehingga proses distribusi yang di lakukan oleh PT. KHI menjadi terhambat serta nama baik PT. KHI di mata konsumen menjadi buruk. Apabila kita melihat Peraturan Menteri Perdagangan RI No.11//M-DAG/PER/3/2006 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen Atau Distributor Barang dan/atau Jasa terutama Pasal 22 Pertauran tersebut. Bahwa pembuat aturan hendak menjamin pasokan atau ketersediaan suku cadang untuk menjamin konsumen / end user terhadap kelangkaan suku cadang dan kekecewaan terhadap pelayanan after selling. Untuk unsur hubungan kausalitas antara kerugian dengan perbuatan melawan hukum, yaitu apabila pihak PT. HMC tidak melakukan pemutusan secara sepihak terhadap pihak PT. KHI maka tidak akan menimbulkan kerugian.

27

BAB III PENUTUP B. Kesimpulan Perjanjian keagenan termasuk kedalam perjanjian Innominat karena tidak ditemukan dalam aturan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPdt) dan Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD). Namun KUHPdt memberikan penjelasan pada pasal 1338 KUHPdt mengenai kebebasan berkontrak dalam membuat suatu perjanjian baik mengenai isi, bentuk dan dengan siapa melakukan perjanjian. Perjanjian Keagenan dan Distributor tidak diatur secara khusus dalam berbagai Peraturan Perundang-Undangan, namun ada 1 (satu) Peraturan Perundang-Undangan yang mengatur secara khusus yaitu dapat ditemukan pada Peraturan Menteri Perdagangan RI No.11//M-DAG/PER/3/2006 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen Atau Distributor Barang dan/atau Jasa. Dan selain itu yang mengatur secara tidak khusus dapat ditemukan pada beberapa Peraturan Perundang-Undangan yang mengatur Mengenai Agen dan Distributor : Kebebasan berkontrak yang diberikan oleh Buku III KUHPerdata tentunya juga dibatasi oleh pasal-pasalnya. Suatu sebab yang diperjanjikan adalah terlarang, jika dilarang oleh undang-undang, bertentangan dengan hukum, kesusilaan, maupun, ketertiban umum (Pasal 1337 KUHPerdata). Bedrijfsreglementerings Perusahaan. Undang-Undang No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Undang-Undang No.11 tahun 1970 tentang Perubahaan dan Penambahan UndangUndang No.1 tahun 1967 tentang Perubahaan dan Penambahan Undang-Undang No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. PP No.1 tahun 1957 tanggal 19 Januari 1957 tentang Penyaluran Perusahaanperusahaan. Kepmennindag No.402/MPP/Kep/11/1997 tanggal 3 November 1997. Ketentuan Perizinan Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing. Kepmendag Perdagangan. No.23/MPP/KEP/1/1998 tentang Lembaga-Lembaga Usaha Ordonantie 1934 (BRO 34) tentang Penyaluran

28

Kepmenperindag-RI No.159/MPP/Kep/4/1998 tentang Perubahan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.23/MPP/Kep/1/1998 tentang LembagaLembaga Usaha Perdagangan.

Dst.

Peraturan Menteri Perdagangan RI No.11//M-DAG/PER/3/2006 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen Atau Distributor Barang dan/atau Jasa, telah melakukan differensiasi antara pengertian agen dan distributor. Menurut Pasal 1 ayat (4) yang di maksud agen adalah perusahaan perdagangan nasional yang bertindak sebagai perantara untuk dan atas nama prinsipal berdasarkan perjanjian untuk melakukan pemasaran tanpa melakukan pemindahan hak atas fisik barang dan/atau jasa yang dimiliki/dikuasai oleh prinsipal yang menunjuknya.

Sedangkan Menurut Pasal 1 ayat (5) peraturan tersebut, yang dimaksud distributor adalah perusahaan perdagangan nasional yang bertindak untuk dan atas namanya sendiri berdasarkan perjanjian yang melakukan pembelian, penyimpanan, penjualan serta pemasaran barang dan/atau jasa yang dimiliki/dikuasai. Seperti yang telah disebutkan diatas Perbedaan yang membedakan antara agen dengan distributor :29 e) Bertindak untuk Siapa Seorang agen akan menjual barang atau jasa untuk dan atas nama pihak prinsipalnya, sementara seorang distributor bertindak untuk dan atas namanya sendiri (Independent tender).

f) Pendapatan yang diterima Dalam hal keagenan, pendapatan yang diterima oleh agen adalah berupa komisi dari hasil penjualan barang/jasa kepada konsumen. Sementara bagi distributor yang diterima berupa laba dari selisih harga pembelian dari produsen/supplier dengan harga penjualannya kepada konsumen.

g) Tujuan Pengiriman Barang

29

Munir Fuady, Op.cit, hal. 151-161

29

Dalam hal keagenan, barang dikirim langsung dari prinsipal kepada konsumen. Sementara dalam hal distributor, produsen bahkan tidak selalu mengetahui konsumen akhir dari produknya.

h) Pembayaran Harga Barang Dalam transaksi keagenan, pembayaran harga barang langsung dari konsumen langsung kepada prinsipal tanpa melalui agen. Sementara dalam hal distibutor, pihak distributor akan menerima langsung pembayaran dari konsumen dengan risikonya sendiri.

30

DAFTARA PUSTAKA
Hertanto, Ari Wahyudi. Aspek-Aspek Hukum Perjanjian Distributor Dan Keagenan (Suatu Analisis Keperdataan).Jurnal Hukum dan Pembangunan Tahun ke -37 Juli September 2007.

Fuadi, Munir. Hukum BisnisDalam Teori dan Praktek Bandung, Citra Aditya Bakti, 1986 Hasbi, Muhammad. Buku Ajar Diklat Kemahiran Hukum Kontrak, Tim Pengajar Kemahiran Hukum Kontrak, Padang, 2008 Subekti, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta, 2004 Prodjodikoro, Wirjono.Azas -Azas Hukum Perjanjian, PT. Bale Bandung, Sumur Bandung, 1981 Muhammad, Abdulkadir. Hukum Perjanjian, Penerbit Alumni, Bandung, 1986 Sumantoro, Hukum Ekonomi 243, Universitas Indonesia (UI-Press), 1986 Meriam Darus Badrulzaman,et al., Kompilasi Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001 Soeroso, Perjanjian Di bawah Tangan: Pedoman Praktis Pembuatan dan Aplikasi Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2010 Permen No. 11 /M DAG/PER/3/2006 tentang Penerbitan Dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen Atau Distributor Barang Dan/Atau Jasa

31