Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH INDIVIDU PBL BLOK 12

Infeksi dan Imunitas

NAMA: Fatihah Anisah Bt Mukhtar NIM: 102009285 KELOMPOK: A2

Skenario 2 Tn B berumur 40 tahun mengalami panas tinggi menggigil sejak 4 hari yang lalu secara terus-menerus. Demam juga disertai oleh Myalgia hebat terutamanya dirasakan pada kedua betis pasien. 1 hari sebelum berobat, mata pasien mulai terlihat kuning. Daerah tempat tinggal pasien diketahui mengalami banjir 1 minggu yang lalu (3 hari sebelum pasien demam). Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien lemah, suhu 300C, TD=100/70 mmHg. Pada pemeriksaan mata didapatkan conjungtiva anemis, sclera ikterik dan terdapat subconjungtival injection. Hepar teraba 2 jari bawah arcus costae, bertepi tajam, lunak, nyeri tekan. Hb 10 g/uL, Trombosit 220 000/ml, Albumin 3,9 gr/dL, Globulin 2,8 gr/dL, Bilirubin Total 4,5 mg/dL, Ureum 116 mg/dL, Creatinin 3 mg/dL, Widal STyO: 1/80 STyH: 1/80.

Pendahuluan Banjir akan membawa pelbagai penyakit. Contohnya adalah penyakit Leptospirodosis. Leptospirosis adalah penyakit manusia dan hewan dari kuman dan disebabkan kuman Leptospira yang ditemukan dalam air seni dan sel-sel hewan yang terkena. Kuman Leptospira biasanya memasuki tubuh lewat luka atau lecet kulit, dan kadang-kadang lewat selaput di dalam mulut, hidung dan mata. Berbagai jenis binatang bisa mengidap kuman Leptospira di dalam ginjalnya. Penyampaiannya bisa terjadi setelah tersentuh air kencing hewan itu atau tubuhnya. Tanah, lumpur atau air yang dicemari air kencing hewan pun dapat menjadi sumber infeksi. Makan makanan atau minum air yang tercemar juga kadang-kadang menjadi penyebab penyampaiannya

Pemeriksa an

Demam tinggi dan menggigil, Disertai myalgia hebat, Mata yang terlihat kuning.

Pencegaha n Komplikasi

Diagnosis Banding

Parasitolog i Diagnosis

Terapi & Pengobatan

Gejala Klinis

Penyebab Utama

Perbahasan 1. Pemeriksaan

1.1Pemeriksaan Anamnesis a. Lelaki. b. Berusia 40 tahun. c. Daerah tempat tinggal mengalami banjir 1 minggu yang lalu. d. Demam yang tinggi menggigil sejak 4 hari yang lalu. e. Myalgia hebat di kedua betis. f. Mata mulai terlihat kuning.

1.2Pemeriksaan Fisik a. Suhu 39,50C. b. Tekanan darah 100/70.

1.2.1 Pemeriksaan Mata a. Terdapat Conjungtiva Anemis. b. Terdapat Sclera Ikterik. c. Subconjungtival Injection.

1.2.2 Pemeriksaan Hepar a. Teraba dua jari di bawah arcus costae, bertepi tajam, lunak, nyeri tekan.

1.3Pemeriksaan Penunjang

1.3.1 Pemeriksaan Laboratorium a. Hb 10g/dL. b. Leukocyte 4100/uL. c. Trombocyt 220 000/ml. d. Albumin 3,9 gr/dL. e. Globulin 2,8gr/dL.

f. Bilirubin Total 4,5 mg/dL g. Ureum 116 mg/dL. h. Creatinin 3 mg/dL i. j. Widal STyO: 1/80 STyH: 1/80

2. Diagnosis Pasien menghidapi Leptospirosis. Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikro organisme Leptospira Interogans tanpa memandang bentuk spesifik serotipenya. Pada umumnya diagnosis awal Leptospirosis sulit, karena pasien biasanya datang dengan Meningitis, Hepatitis, Nefritis, Pneumonia, Influenza , Sindroma Shock Toksik, demam yang tidak diketahui asalnya dan Diatetesis Hemoragik, bahkan beberapa kasus datang sebagai pancreatitis. Pada anamnesis, penting diketahui tentang riwayat pekerjaan pasien, apakah termasuk dalam golongan yang berisiko tinggi. Gejala dan keluhan yang sering muncul adalah: a. Demam yang muncul secara mendadak. b. Sakit kepala terutama di bagian frontal, occipital, dan temporal. c. Nyeri otot. d. Mata merah atau Fotofobia. e. Mual dan muntah

Pada pemeriksaan fisik dijumpai demam, bradikardia, nyeri tekan otot, hepatomegali dan lain-lain. Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin bias dijumpai lekositosis, normal atau sedikit menurun disertai gambaran neutrofilia dan laju endap darah (LED) yang meninggi. Pada urin dijumpai protein uria, leukosituria dan toraks (cast). Bila organ hati terlibat, bilirubin direk meningkat tanpa peningkatan transaminase. BUN, Ureum dan Kreatinin juga bias meninggi bila terjadi komplikasi ginjal. Diagnose pasti dengan isolasi Leptospira dari cairan tubuh dan serologi. Kultur: dengan mengambil specimen dari darah atau cairan cerebral spinal (CCS) segera pada awal gejala. Dianjurkan untuk melakukankultur ganda dan mengambil specimen pada fase leptospremia serta belum diberi antibiotic. Kultur urin diambil setelah 2-4minggu onset penyakit. Pada specimen yang terkontaminasi, inokulasi hewan dapat digunakan. Serologi: Pemeriksaan untuk mendeteksi adanya leptospira dengan cepat adalah pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), silver stain atau fluorescent antibody stain dan mikroskop lapangan gelap.1

3. Diagnosis Banding

a. Influenza yang sporadic. Influenza, biasanya dikenali sebagai flu di masyarakat, adalah penyakit menular burung dan mamalia yang disebabkan oleh virus RNA dari family Orthomyxoviridae (virus influenza). Penyakit ini ditularkan dengan medium udara melalui bersin dari si penderita. Pada manusia, gejala umum yang terjadi adalah demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, hidung tersumbat dan mengeluarkan cairan, batuk, lesu serta rasa tidak enak badan. Dalam kasus yang lebih buruk, influensa juga dapat menyebabkan terjadinya pneumonia, yang dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak-anak dan orang berusia lanjut. Gejala-gejala biasanya timbul satu sampai tiga hari setelah infeksi, dan mungkin termasuk yang berikut secara mendadak: demam sakit kepala sakit otot dan sendi

sakit tenggorok batuk hidung beringus atau tersumbat lelah parah

Kebanyakan penderita sembuh dalam waktu seminggu. Dibandingkan dengan banyak infeksi lain (misalnya pilek), influenza cenderung mengakibatkan gejala dan komplikasi yang lebih parah. Komplikasi dapat termasuk pneumonia, kegagalan jantung atau semakin parahnya penyakit lain.2 b. Meningitis Aseptic Viral.

Meningitis Aseptic Viral menyerupai seperti meningitis bacterial. Bedanya dalah bakteri tidak berkembang biak didalam cairan sekeliling otak dan cairan cerebrospinal. Penyebab-penyebab meningitis aseptic adalah: Kanker Infeksi di sekitar otak dan tulang belakang. Jamur Obat-obatan Mycobacteria Sifilis Penyakit Tick-Borne Tuberculosis Virus

Antara gejala-gejala penyakit ini adalah: Nyeri abdomen Fotofobia Menggigil Bingung Pusing Demam Malaise

Sakit kepala Nyeri otot Mual dan muntah Rash Sakit tekak Stiff neck3

c. Riketsiosis. Riketsiosis juga dikenali sebagai Infeksi Riketsial yang disebabkan oleh bakteri luar biasa yang biasanya hanya hidup dengan organisme lain. Antara gejala bagi penyakit ini adalah: 1. Demam 2. Sakit kepala yang berat 3. Rash yang berkarakter 4. Malaise4

d. Semua penyakit dengan ikterus.

e. Glandular fever.

f. Bruselosis. Brucellosis atau sering disebut keluron adalah penyakit yang disebabkan oleh Brucella sp. dan dapat menular ke manusia. Manusia merupakan hospes aksidental dan tidak menularkan pada individu lain. Di Indonesia brucellosis tersebar luas di Pulau Timor (NTT), Sulawesi, Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Pulau Bali saat ini merupakan daerah bebas Brucellosis. Masa inkubasi bervariasi dari 5 hari sampai beberapa bulan dengan ratarata 2 minggu. Gejala yang mula-mula dirasakan adalah: 1. Demam 2. Kedinginan dan berkeringat pada malam hari

3. Kelemahan tubuh dan kelelahan merupakan gejala umum 4. Demam umumnya bersifat intermitten 5. Sakit kepala 6. Nnyeri otot leher 7. Anoreksia 8. Konstipasi 9. Gelisah dan depresi mental 10.Batuk yang non produktif dan pneumonitis.5

g. Pneumonia atipik. Pneumonia atipik adalah pneumonia yang memberikan gambaran klinis dan radiologis yang berbeda dengan bentuk pneumonia tipikal. Bakteri pathogen yang paling sering menyebabkan pneumonia adalah Streptoccus Pneumoniae, pneumonia in memberikan gambaran klinis dan radiologis yang khas berupa munculnya demam tiba-tiba disertai menggigil, nyeri pleura dan batuk berdahak berwarna karat (rust colored sputum) dan disertai gambaran radiologis berupa konsolidasi segmental ataupun lobular dan pada masa pemeriksaan sputum dijumpai diploccocus gram postif intraselular maupun ekstraselular, gambaran khas di atas dinamakan sebagai typical pneumonia. Pneumonia yang disebabkan oleh Mycoplasma pneumonia merupakan prototip dari pneumonia atipik, yang memberkan gambaran klinis dan radiologis yang berbeda dengan bentuk pneumonia tipikal. Orang yang terinfeksi Mycoplasma Pneumoniae baisanya dimulai dengan gejala infeksi saluran napas atas. Selanjutnya diikuti dengan gejala infeksi saluran nafas bawah, suara serak merupakan gejala yang pertama kali dalam banyak kasus yang dialami dalam beberapa hari, batuk tidak produktif dan semakin berat pada malam hari, sakit kepala dan semam umumnya tidak terlalu berat. Gejala lain dapat dsertai dengan myalgia ataupun athralgia walaupun Mycoplasma umumnya menimbulkan gejala klinis yang ringan sampa sedang, namun pada keadaan komplikated dapat menjadi berat.6 h. Demam Dengue Berdarah. Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue serta memenuhi kriteria WHO untuk DBD. DBD adalah salah satu manifestasi simptomatik dari infeksi virus dengue.

Manifestasi simptomatik infeksi virus dengue adalah sebagai berikut 1. Demam tidak terdiferensiasi 2. Demam dengue (dengan atau tanpa perdarahan): demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan 2 atau lebih manifestasi klinis (nyeri kepala, nyeri retroorbital, mialgia/ atralgia, ruam kulit, manifestasi perdarahan [petekie atau uji bendung positif], leukopenia) dan pemeriksaan serologi dengue positif atau ditemukan pasien yang sudah dikonfirmasi menderita demam dengue/ DBD pada lokasi dan waktu yang sama. 3. DBD (dengan atau tanpa renjatan). 7

i. j.

Penyakit susunan darah yang akut. Fever of Unknown Origin (FUO).

k. Serebral Malaria.

4. Etiologi Leptospirosis disebabkan oleh genus Leptospira, family Treponematacae, suatu mikroorganisme Spirochaeta. Ciri khas:

Gambaran Leptospira 1. Berbelit 2. Tipis

3. Fleksibel 4. Panjangnya 5-15 um, lebar dengan 0.1-0.2 um, dengan spiral yang sangat halus. 5. Salah satu ujungnya sering membengkak, membentuk kait.

6. Pada gerakkan rotasi aktif, tidak terdapat flagella. Spirochaeta ini demikian halus sehingga mikroskop lapangan gelap hanya dapat terlihat sebagai rantai kokus kecil-kecil. Gerak kuman ini dapat juga dilihat dengan menggunakan mikroskop lapangan gelap. Morfologi tersebut dapat dilhat setelah diberikan pewarnaan Burri, Fontana Tribondeau, Becker-Krantz atau Giemsa. Secara sederhana, genus Leptospira terdiri atas dua species, yaitu: a. L. Interrogans b. L. Biflexa (non patogen) Species L. Interrgons dibagikan menjadi beberapa serogrup dan serogrup ini dibagikan menjadi serovar menurut komposisi antigennya. Saat ini ditemukan lebh dari 250 serovar yang bergabung dalam 23 serogrup. Beberapa serovar yang dapat menginfeksi manusia: 1. L. Icterohaemorrhagiae 2. L. Canicola 3. L. Pomona 4. L. Grippothyphosa 5. L. Javanica 6. L. Celledoni 7. L. Ballum 8. L. Pyrogenes 9. L. Automnalis 10.L. Hebdomadis 11.L. Bataviae 12.L. Tarassovi 13.L. Panama 14.L. Andamana

15.L. Shermani 16.L. Ranarum 17.L. Bufonis 18.L. Copenhageni 19.L. Autralis 20.L. Cynopteri Menurut beberapa peniliti, yang tersering menginfeksi manusia ialah L. Icterohaemorrhagiae dengan reservoirnya adalah tikus, L. Canicola dengan reservoir anjing dan L. Pomona dengan reservoir sapi dan babi.8

5. Epidemiologi Leptospirodosis tersebar ke seluruh dunia, disemua benua kecuali benua Antartika, namun terbanyak di daerah tropis. Leptospira bias terdapat pada bianatang piaraan sepert babi, anjing, lembu, kuda, kucing, marmot atau binatang-binatang pengerat lainnya seperti tupai, musang, kelelawar dan lain sebagainya. Di dalam tubuh binatang tersebut leptospira hidup didalam ginjal atau air kemihnya. Tikus merupakan vector utama dari L. Icterohaemorrhagiae penyebab Leptospirosis pada manusia. Dalam tubuh tikus, leptospira akan menetap dan menbentuk koloni serta berkembang biak di dalam epitel tubulus ginjal tikus dan secara terus menerus dan ikut mengalir dalam filtrat urin. Penyakit ini bersifat musiman, didaerah beriklim sedang masa puncak insidens dijumpai pada musim panas dan musim gugur karena temperature adalah factor yang mempengaruhi kelangsungan hidup leptospira, sedangkan di daerah tropis insidens yang tertinggi terjadi selama musim hujan. Salah satu kendala dalam menangani leptospirosis berupa kesulitan dalam melakukan diagnostik awal. Sementara dengan pemeriksaan sederhana memakai mikroskop biasa dapat dideteksi adanya gerakkan leptospira dalam urin. Diagnostik pasti ditegakkan dengan ditemukan leptospira pada daerah atau urin atau ditemukan hasil serologi positip. Untuk berkembang biaknya leptospira memerlukan lingkungan yang optimal serta tergantung pada suhu yang lembab, hangat , ph air atau tanah yang netral, dimana kondisi ini ditemukan sepanjang tahun di daerah tropis. 6. Penularan

Siklus penularan leptospirosis

Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan air, atau tanah, lumpur yang telah terkontaminasi oleh urin binatang yang telah terinfeksi leptospira. Infeksi tersebut terjadi jika terjadi luka atau erosi pada kulit ataupun selaput lendir. Air bergenang atau mengalir lambat yang terkontaminasi dengan urin binatang infeksius memainkan peranan dalam penularan penyakit ini, bahkan air deras pun dapat berperan. Kadang-kadang penyakit ini dapat terjadi akibat dari binatang yang sebelumnya terinfeksi leptospira, atau kontak dengan kultur leptospira di laboratorium. Ekpos yang lama dengan kulit yang utuh dengan air genangan leptospira juga dapat menularkan leptospira.

Resiko penularan leptospira dalam di bagikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:

Kelompok Pekerjaan 1. Petani & penternak 2. Tukang potong hewan 3. Dokter/Mantri hewan 4. Penebang kayu 5. Pekerja Selokan 6. Pekerja perkebunan 1. Patogenesis

Kelompok Aktivitas 1. Berenang di sungai 2. Bersampan 3. Berkemping 4. Berburu 5. Kegiatan di hutan

Kelompok Lingkungan 1. Anjing piaraan 2. Ternak 3. Genangan air hujan 4. Lingkungan tikus 5. Banjir 6. Banjir

Leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir, memasuki aliran darah dan berkembang, lalu menyebar luas ke jaringan tubuh. Kemudian terjadi respon immunologik yang baik secara selular atau humoral sehingga infeksi ini dapat ditekan dan terbentuk antibodi spesifik. Walaupun demikian, beberapa organisme ini dapat bertahan pada daerah yang terisolasi secara immunologi seperti didalam ginjal di mana sebagian mikroorganisme akan mencapai convulated tubules, bertahan disana dan dilepaskan melalui urin. Leptospira dapat ditemui dalam air kemih sektar 8 hari sampai beberapa minggu setelah infeksi dan sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kemudian. Leptospira dapat dihilangkan dengan fagositosis dan mekanisme humoral. Kuman ini cepat lenyap dari darah setelah terbentuknya agglutinin. Setelah fase leptospiremia 4-7 hari, mikroorganisme hanya dapat ditemukan dalam jaringan ginjal dan okuler. Leptospiuria berlangsung selama 1-4 minggu. Mekanisme yang terlibat pada pathogenesis leptospirosis adalah: a. Invasi bakteri langsung b. Faktor inflamasi non spesifik c. Reaksi immunologi

2. Gejala Klinis Masa inkubasi 2-26 hari, biasanya 7-13 hari dan rata-rata 10 hari. Leptospirosis ada ua fase penyakit yang khas yaitu, Fase leptospiremia dan Fase imun. a. Fase Leptospiremia Fase ini ditandai dengan adanya leptospira didalam darah dan cairan serebrospinal, berlangsung secara tiba-tiba dengan gejala awal adalah: 1. Sakit kepala di bagian frontal 2. Rasa sakit pada otot yang hebat terutama pada paha, betis dan pinggang disertai nyer tekan 3. Myalgia yang diikuti dengan hiperestesi kulit 4. Demam tinggi yang disertai menggigil 5. Mual tanpa atau disertai muntah 6. Diare Pada pemeriksaan keadaan sakit yang berat, bradikardi relative dan ikterus (50%). Pada hari ke 3-4 dapat dijumpai adanya konjungtiva suffusion dan fotofobia. Pada kulit terdapat rash yang berbentuk makular, makulopapular atau urtikaria. Kadang-kadang dijumpai splenomegali, hepatomegali serta limfadenopati. Fase ini berlangsung 4-7 hari. Jika cepat di tangani pasien akan membaik, suhu akan kembali normal, penyembuhan organ-organ yang terlibat dan fungsinya kembali normal 3-6 minggu onset. Pada keadaan sakit yang lebih berat demam turun setelah 7 hari diikuti pleh bebas demam selama 1-3 hari, setelah itu kembali demam. Keadaan ini disebut fase kedua atau fase imun.

b. Fase Imun Fase ini ditandai dengan peningkatan titer antibodi, dapat timbul demam yang mencapai suhu 400C disertai menggigil dan kelemahan umum. Terdapat rasa sakit yang menyeluruh pada leher, perut, dan otot-otot kaki terutama otot betis. Terdapat perdarahan terutama epistaksis, gejala kerusakkan pada ginjal dan hati, uremia, ikterik. Perdarahan paling jelas terlihat pada fase

ikterik, purpura, ptechiae, epistaksis, perdarahan gusi merupakan manifestasi perdarahan yang paling sering. Conjungtiva injection dan konjungtival suffusion dengan ikterus merupakan tanda patognomosis untuk leptosprosis.

Terjadi meningitis merupakan tanda pada fase ini, walaupun hanya 50% gejala dan tanda meningitis, tapi pleositosis pada CSS dijumpai pada 50-90% pasien. Tanda-tanda meningeal dapat menetap dalam beberapa minggu, tetap biasanya menghilang setelah 1-2 hari. Pada fase ini leptospira dapat dijumpai dalam urin.

c. Sindrom Weil Sindrom Weil adalah bentuk Leptospirosis berat ditandai jaundis, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase kedua, tetapi bisa memburuk setiap waktu. Kriteria penyakit Weil tidak dapat didefinisikan dengan baik. Manifestasi paru meliputi batuk, kesulitan bernafas, nyeri dada, batuk darah, dan gagal napas. Disfungsi ginjal dikaitkan dengan timbulnya jaundis 4-9 hari setelah gejala awal. Penderita dengan jaundis berat lebih mudah terkena gagal ginjal, perdarahan dan kolaps kardiovaskular. Kasus berat dengan gangguan hati dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40 persen yang akan meningkat pada lanjut usia.

3. Komplikasi Jika diobati selagi masih dini, prognosis leptospirosis umumnya baik. Bisa lain nasib pasien jika terapi terlambat diberikan. Sudah disebut komplikasi leptospirosis paling jelek jika sudah merusak ginjal , selain hati, dan otak. Jika tdak ada ikterus, penyakit jarang fatal. Pada kasus ikterus, angka kematian 5% pada umur dibawah 30 tahun, dan pada usia lanjut mencapai 30-40%.

4. Pencegahan Pencegahan leptospirosis khususnya di daerah tropis sangat sulit. Banyaknya hospes perantara dan jenis serotipe sulit untuk dihapuskan. Kuman leptospira mampu bertahan hidup bulanan di air dan tanah, dan

mati oleh desinfektans seperti lisol. Maka upaya "lisolisasi" seluruh permukaan lantai , dinding, dan bagian rumah yang diperkirakan tercemar air kotor banjir yang mungkin sudah berkuman leptospira, dianggap cara mudah dan murah mencegah "mewabah"-nya leptospirosis. Ada banyak cara mencegah Leptospirosis. Yang pekerjaannya menyangkut binatang: Tutupilah luka dan lecet dengan balut kedap air. Pakailah pakaian pelindung misalnya sarung tangan, pelindung atau perisai mata, jubah kain dan sepatu bila menangani binatang yang mungkin terkena, terutama jika ada kemungkinan menyentuh air seninya. Pakailah sarung tangan jika menangani ari-ari hewan, janinnya yang mati di dalam maupun digugurkan atau dagingnya. Mandilah sesudah bekerja dan cucilah serta keringkan tangan sesudah menangani apa pun yang mungkin terkena. Jangan makan atau merokok sambil menangani binatang yang mungkin terkena. Cuci dan keringkan tangan sebelum makan atau merokok. Ikutilah anjuran dokter hewan kalau memberi vaksin kepada hewan.

Untuk yang lain: Hindarkanlah berenang di dalam air yang mungkin dicemari dengan air seni binatang. Tutupilah luka dan lecet dengan balut kedap air terutama sebelum bersentuhan dengan tanah, lumpur atau air yang mungkin dicemari air kencing binatang. Pakailah sepatu bila keluar terutama jika tanahnya basah atau berlumpur. Pakailah sarung tangan bila berkebun. Halaulah binatang pengerikit dengan cara membersihkan dan menjauhkan sampah dan makanan dari perumahan. Jangan memberi anjing jeroan mentah.

Cucilah tangan dengan sabun karena kuman Leptospira cepat mati oleh sabun, pembasmi kuman dan jika tangannya kering.9

5. Pengobatan Pengobatan suportif dengan observasi ketat untuk mendeteksi dan mengatasi keadaan dehidrasi, hipotensi, perdarahan dan gagal ginjal sangat penting dalam leptospirosis. Ganguan fungsi ginjal umumnya dengan spontan akan membaik dengan membaiknya kondisi pasien. Namun ada beberapa pasien yang membutuhkan tindakan hemodialisa temporer. Pengobatan kasus leptospirosis masih diperdebatkan. Sebagian ahli mengatakan bahwa pengobatan leptospirosis hanya berguna pada kasus kasus dini (early stage) sedangkan pada fase ke dua atau fase imunitas (late phase) yang paling penting adalah perawatan. Tujuan pengobatan dengan antibiotik adalah: 1. mempercepat pulih ke keadaan normal 2. mempersingkat lamanya demam 3. mempersingkat lamanya perawatan 4. mencegah komplikasi seperti gagal ginjal (leptospiruria) 5. menurunkan angka kematian Obat pilihan adalah Benzyl Penicillin. Selain itu dapatdigunakan Tetracycline, Streptomicyn, Erythromycin, Doxycycline, Ampicillin atau Amoxicillin. Pengobatan dengan Benzyl Penicillin 6-8 MU iv dosis terbagi selama 5-7 hari. Atau Procain Penicillin 4-5 MU/hari kemudian dosis diturunkan menjadi setengahnya setelah demam hilang, biasanya lama pengobatan 5-6 hari. Jika pasien alergi penicillin digunakan Tetracycline dengan dosis awal 500 mg, kemudian 250 mg IV/IM perjam selama 24 jam, kemudian 250500mg /6jam peroral selama 6 hari. Atau Erythromicyn dengan dosis 250 mg/ 6jam selama 5 hari. Tetracycline dan Erythromycin kurang efektif dibandingkan dengan Penicillin. Ceftriaxone, dosis 1 g. iv. selama 7 hari hasilnya tidak jauh berbeda dengan pengobatan menggunakan penicillin. Oxytetracycline digunakan dengan dosis 1.5 g. peroral,

dilanjutkan dengan 0.6 g. tiap 6 jam selama 5 hari; tetapi cara ini menurut beberapa penelitian tidak dapat mencegah terjadinya komplikasi hati dan ginjal. Pengobatan dengan Penicillin dilaporkan bisa menyebabkan komplikasi berupa reaksi Jarisch-Herxheimer. Komplikasiini biasanya timbul dalam beberapa waktu sampai dengan 3 jam setelah pemberian penicillin intravena; berupa demam,malaise dan nyeri kepala; pada kasus berat dapat timbul gangguan pernafasan.10

Penutup dan Saran 1. Penyakit leptospirosis mungkin banyak terdapat di Indonesia terutama di musim penghujan. 2. Pengobatan dengan antibiotik merupakan pilihan terbaik pada fase awal ataupun fase lanjut (fase imunitas).

3. Selain pengobatan antibiotik, perawatan pasien tidak kalah pentingnya untuk menurunkan angka kematian. 4. Angka kematian pada pasien leptospirosis menjadi tinggi terutama pada usia lanjut, pasien dengan ikterus yang parah, gagal ginjal akut, gagal pernafasan akut. Saran 1. Pada orang berisiko tinggi terutama yang bepergian ke daerah berawarawa dianjurkan untuk menggunakan profilaksis dengan doxycycline. 2. Masyarakat terutama di daerah persawahan, atau pada saat banjir mungkin ada baiknya diberi doxycycline untuk pencegahan. 3. Para klinisi diharapkan memberikan perhatian pada leptospirosis ini terutama di daerah-daerah yang sering mengalami banjir. 4. Penerangan tentang penyakit leptospirosis sehingga masyarakat dapat segera menghubungi sarana kesehatan terdekat.

Daftar Pustaka 1. Umar Zain. Konsultan Penyakit Tropik Infeksi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK Unversitas Sumatera Utara. Leptospirosis. Buku ajar penyakit dalam: 2009: ed 5th : jilid 3: 2807-2812.

2. Rini Savitri Daulay. FK Universitas Sumatera Utara. Avian Influenza. 2008. Diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/2020/1/08E00076.p df . 27 November 2010. 3. Aseptic Meningitis. MedLine Plus. Tanggal update 15 September 2010. Diunduh dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000614.htm . 27 November 2010. 4. Behrman Klirgman Arvin. Demam boutonneuse dan demam berbintik riketsiosis lain. Ilmu Kesehatan Anak: bab 240: 11791180. 5. Akmal Syaroni. Konsultan Penyakit Tropik Infeksi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRI. Bruselosis. Ilmu peyakit dalam: 2009: ed 5th: jilid 3: 2970-2974. 6. Dian Dwi Wahyuni. Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran USU. Pneumonia atipik. 2009. Diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1933/1/09E01450.p df . 27 November 2010. 7. Diagnosis dan terapi cairan pada demam berdarah dengue. Medicines. 2009. Diunduh dari http://www.dexamedica.com/images/publication_upload09032415295500123786356 2medicinus_maret-mei_2009.pdf . 28 November 2010. 8. Suharno Josodiwando. Spirochaetales. Buku ajar mikrobiologi kedokteran: 218-290. 9. Masri S Maha. Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Gejala klinis dan pengobatan leptospirosis. 2006. Diunduh dari http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_152_Gejalaklinispengobatan leptospirosis.pdf/10_152_Gejalaklinispengobatanleptospirosis.html . 28 november 2010. 10. Yat H. Istiantoro dan Vincent H. S. Gan. Penisilin, sefalosporin dan antibiotic betalaktam lainnya. Farmakologi dan terapi: 2007: ed 5th : 664-681.

Anda mungkin juga menyukai