Anda di halaman 1dari 3

A13 Eko Muhamad Riza / I8310029 Astri Kurniawati / I8310011 PERPINDAHAN PANAS Perpindahan panas adalah suatu ilmu

yang mempelajari tentang kecepatan perpindahan panas diantara sumber panas (hot body) dan penerima panas (cold body). Salah satu hubungan ini adalah untuk membantu kita dalam perancangan alat yang berhubungan dengan panas, misalnya cooler, heater, condenser, reboiler, dan evaporator. Alat Heat Transfer Bench T.D. 36 yang merupakan alat penukar panas Shell and Tubes dimana alat tersebut terdiri dari 1 shell dan 5 tubes yang dirancang dengan sistem single pass dapat dioperasikan secara searah maupun lawan arah baik fluida panas dan fluida dingin dilewatkan shell maupun tube. Sebagai fluida panas, sebelumnya dioperasikan maka dibuat dahulu melalui hot tank dengan pemanas listrik. Sebagai fluida dingin sebelum dioperasikan dibuat dahulu melalui tangki yang merupakan refrigerator. Prinsip percobaan tersebut adalah akan mencari besarnya overall heat transfer coefficient (U) pada alat tersebut dengan berbagai variasi kecepatan fluida panas maupun fluida dingin yang dialirkan pada heat enchanger tersebut. Besarnya panas yang ditransfer dapat dihitung dengan mengetahui perubaahan suhu dari fluida masuk dan keluar pada kecepatan tertentu. Sedangkan pada suhu rata-rata logaritma dapat dihitung dari perubahan suhu masuk dan keluar, baik dari fluida panas maupun dingin. Dengan persamaan: q=U.A.TLMTD dapat dihitung harga U dimana besarnya A dihitung dari ukuran alat penukar panas tersebut. Dari berbagai variasi perubahan kecepatan aliran dapatlah dibuat/dibaca adanya perubahan harga U terhadap perubahan kecepatan aliran. Untuk mengetahui jumlah panas yang dipindahkan dipakai heat exchanger (HE). Ada beberapa jenis heat exchanger, yaitu : 1. Shell and tube heat exchanger 2. Double pipe heat exchanger 3. Extended purpose heat exchanger 4. Cool inbox coals heat exchanger 5. Air cool heat exchanger Yang umum dipakai adalah shell and tube heat exchanger karena: 1. Memiliki luas permukaan perpindahan panas per satuan volume yang besar 2. Ukuran relatif kecil terhadap hot dry yang besar 3. Untuk area yang kecil cukup dengan double pipe 4. Aliran fluida dapat diatur dengan co-current maupun counter current 5. Terjadi perpindahan panas secara konveksi (antara shell dan fluida) dan konduksi (antara dinding-dinding shell). Perpindahan panas yang terjadi di heat exchanger akan didahului dengan panas yang terjadi di masing-masing pipa dan tergantung pada sifat bahan dan diameter pipa.

Makin besar diameter pipa makin besar perpindahan panasnya. Biasanya panas yang melewati dinding secara keseluruhan ditentukan oleh koefisien luas maupun dalam. Untuk konduksi ditentukan oleh tebal pipa dan bahan pipa. Hantaran panas heat exchanger ditentukan oleh koefisien perpindahan panas secara menyeluruh (U).

Jenis-jenis Perpindahan Panas Menurut cara penghantar dayanya, perpindahan panas dibedakan menjadi : 1. Konduksi Merupakan perpindahan panas yang terjadi karena molekul-molekul dalam zat bersinggungan, dimana besarnya kecepatan perpindahan panas :

dengan Q = kecepatan perpindahan panas secara konduksi (Btu/jam) A = luas perpindahan panas (ft2) k = konduktivitas (Btu/ft.hr.oF) T = beda suhu antara permukaan panas dan dingin (oF) x = tebal bahan yang dilalui panas (ft) Berdasarkan hukum Fourier, besarnya Q tergantung pada : besar kecilnya konduktivitas (k) berbanding lurus dengan beda suhu (T) 2. Konveksi Merupakan perpindahan panas disebabkan adanya gerakan atom/molekul suatu gas/cairan yang bersinggungan dengan permukaan. Persamaannya : dengan Qc = laju perpindahan panas konveksi (Btu/hr) h = koefisien perpindahan panas konveksi (Btu/hr.ft2.oF) A = luas perpindahan panas (ft2) Ts = suhu permukaan batang (oF) Tv = suhu solubility (oF) 3. Radiasi Merupakan gelombang perpindahan panas karena adanya perbedaan suhu dan berlangsung secara gelombang elektromagnetik tanpa perantara. Persamaannya : dengan Qr c F A T1 T2 Qr = C.F.A (T14-T24) [( ) ( ) ]

= energi perpindahan panas reaksi (Btu/jam) = konstanta Stefan Boltzman = faktor panas (emitifitas bahan) = luas bidang (ft2) = suhu mutlak = suhu mutlak

Pemilihan Fluida pada Shell dan Tube Fluida bertekanan tinggi dialirkan di dalam tube karena tube standar cukup kuat menahan tekanan yang tinggi. Fluida berpotensi fouling dialirkan di dalam tube agar pembersihan lebih mudah dilakukan. Fluida korosif dialirkan di dalam tube karena pengaliran di dalam shell membutuhkan bahan konstruksi yang mahal yang lebih banyak. Fluida bertemperatur tinggi dan diinginkan untuk memanfaatkan panasnya dialirkan di dalam tube karena dengan ini kehilangan panas dapat dihindarkan. Fluida dengan viskositas yang lebih rendah dialirkan di dalam tube karena pengaliran fluida dengan viskositas tinggi di dalam penampang alir yang kecil membutuhkan energi yang lebih besar. Fluida dengan viskositas tinggi ditempatkan di shell karena dapat digunakan baffle untuk menambah laju perpindahan. Fluida dengan laju alir rendah dialirkan di dalam tube. Diameter tube yang kecil menyebabkan kecepatan linier fluida (velocity) masih cukup tinggi, sehingga menghambat fouling dan mempercepat perpindahan panas. Fluida yang mempunyai volume besar dilewatkan melalui tube, karena adanya cukup ruangan. Kelebihan dan Kekurangan Aliran Co-Current dan Counter Current 1. Co-Current Kelebihan biasa dipakai dalam 1 fasa di multifase heat exchanger dapat membatasi suhu maksimal fluida dingin dapat mengubah salah satu fluida dengan cepat Kekurangan panas yang dihasilkan lebih kecil dibanding counter current jarang dipakai dalam single pass heat exchanger tidak mungkin didapat salah satu fluida yang keluar mendekati suhu masuk fluida lain 2. Counter Current Kelebihan panas yang dihasilkan cukup besar dibandingkan co-current suhu keluar dari salah satu fluida dapat mendekati suhu masuk fluida lain bahan konstruksi lebih awet karena thermal stress-nya kecil Kekurangan tidak dapat dipakai untuk mengubah suhu fluida dengan cepat kurang efisien jika dipakai untuk menaikkan suhu fluida dingin untuk batas tertentu

Beri Nilai