Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang Salah satu di antara sekian banyak penyebab kebutaan yang sering dijumpai adalah persentuhan mata dengan benda tumpul, misalnya traumatic hyfema. Walaupun trauma pada mata tidak selalu merupakan penyebab utama dari kebutaan, namun merupakan faktor yang cukup sering mengakibatkan hilangnya penglihatan unilateral. Maka dari itu, masalah trauma pada mata masih menjadi salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian dan Gombos menganggapnya sebagai salah satu ocular emergencies. Hal ini disebabkan oleh karena masih seringnya timbul komplikasi-komplikasi yang tidak diinginkan disamping cara perawatan yang terbaik masih diperdebatkan. Hifema merupakan keadaan dimana terjadi perdarahan pada bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul pada mata. Darah ini berasal dari iris atau badan siliar yang robek. Menurut Duke Elder (1954), hifema disebabkan oleh robekan pada segmen anterior bola mata yang kemudian dengan cepat akan berhenti dan darah akan diabsorbsi dengan cepat. Hal ini disebut dengan hifema primer. Bila oleh karena sesuatu sebab misalnya adanya gerakan badan yang berlebihan, maka timbul perdarahan sekunder atau hifema sekunder yang pengaruhnya akan lebih hebat karena perdarahan lebih sukar hilang. Adanya hifema memiliki beberapa konsekuensi, yaitu peningkatan tekanan intraokuler apabila perdarahan mengisi setengah-total coa dan ini bisa menjadi faktor risiko terjadinya Glaukoma, apabila tejadi penumpukan darah yang total pada coa maka akan terjadi penumpukan hemosideri yang masuk ke lapisan kornea yang akan membuat kornea menjadi kuning, menjadi imbibisi kornea dan bisa terjadi

pembentukan sinekia posterior atau anterior. Oleh karena hifema dapat menyebabkan penurunan penglihatan yang signifikan, maka setiap dokter harus memperhatikan diagnosis, evaluasi, dan tata laksana hifema. 1

1.2. Batasan Masalah Clinical scientific session (CSS) ini membahas mengenai hifema yang pembahasannya kami batasi mengenai definisi, epidemiologi, etiopatogenesis, diagnosis, pemeriksaan penunjang, tatalaksana, komplikasi.

1.3. Tujuan Penulisan Penulisan CSS ini bertujuan untuk memahami serta menambah pengetahuan tentang hifema.

1.4. Metode Penulisan Penulisan CSS ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengacu pada berbagai literatur.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Definisi Hifema Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah didalam bilik mata depan, yaitu daerah diantara kornea dan iris (kamera okuli anterior), yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar dan bercampur dengan humour aqueous (cairan mata) yang jernih. (1,2,3,4,5,6) Perdarahan dapat terjadi segera sesudah trauma yang disebut perdarahan primer atau perdarahan terjadi 5-7 hari sesudah trauma yang disebut perdarahan sekunder. Hifema sekunder biasanya terjadi akibat gangguan mekanisme pembekuan atau penyembuhan luka sehingga mempunyai prognosis yang lebih buruk. (1,3)

2.2. Epidemiologi Insiden rata-rata terjadinya hifema di Amerika Utara adalah 17-20/100.000 populasi setiap tahunnya dengan mayoritas terjadi pada pasien dengan usia kurang dari 20 tahun. Olahraga merupakan penyebab utama sebesar 60% pada pasien usia muda. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan didapatkan 3 : 1. Trauma tumpul merupakan penyebab paling umum yang ditemukan pada pasien dengan hifema.(5) Sementara itu, United States Eye Injury Registry (USEIR) menemukan 33% dari trauma serius pada mata akan menyebabkan terjadinya hifema. Risiko terjadinya hifema sendiri sebesar 31% pada trauma terbuka bulbus okuli dan 35% pada trauma tertutup bulbus okuli. USEIR juga menemukan 80% penderita hifema adalah lakilaki.(5)

2.3. Etiopatogenesis Hifema biasanya disebabkan oleh trauma tumpul pada mata seperti terkena bola, batu, peluru senapan angin, dll. Selain itu, hifema juga dapat terjadi karena kesalahan prosedur operasi mata.(2)

Perdarahan bilik depan bola mata ini terutama berasal dari pembuluh darah korpus siliare dan sebagian kecil dari pembuluh darah iris, sedangkan penyerapan darahnya, sebagian besar akan diserap melalui trabecular meshwork dan selanjutnya ke Kanal SchIemm, sisanya akan diabsorbsi melalui permukaan iris. (2,6) Apabila pembuluh darah rusak maka sistem hemostasis tubuh akan melakukan penutupan terhadap pembuluh darah yang rusak dan melindungi terhadap kehilangan darah lebih lanjut. Yang pertama terjadi adalah sumbatan sementara oleh trombosit, yang kemudian diikuti oleh perubahan sumbatan menjadi bekuan yang tetap yaitu pembentukan fibrin. (5) Pada hari kelima setelah trauma biasanya terjadi perdarahan sekunder oleh karena itu sebaiknya penderita dirawat. Perdarahan sekunder ini terjadi karena bekuan darah terlalu cepat diserap sehingga pembuluh darah tak mendapat waktu cukup untuk regenerasi kembali dan menimbulkan perdarahan lagi. Adanya darah didalam bilik mata depan dapat menghambat aliran akuos humor kedalam trabekula sehingga dapat menimbulkan glaukoma sekunder. Hifema dapat pula menyebabkan uveitis. Darah dapat terurai menjadi hemosiderin yang dapat meresap masuk ke dalam kornea menyebabkan kornea berwarna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisi kornea. (3,6) Tingkatan dari hifema ditentukan oleh banyaknya perdarahan dalam bilik depan bola mata.

Tabel. Derajat hifema berdasarkan luasnya darah dalam anterior chamber menurut Edward and Layden (5)

Derajat (Grade) I II III IV Mikroskopik

Luas Hifema < 1/3 1/3 - 1/2 1/2 - hampir total Total Hanya terlihat dengan mikroskop, tidak terlihat makroskopik

Derajat hifema menurut Rakusin : Hifema tingkat I apabila perdarahan mengisi bagian COA Hifema tingkat II apabila perdarahan mengisi bagian COA Hifema tingkat III apabila perdarahan mengisi bagian COA Hifema tingkat IV apabila perdarahan mengisi penuh COA.

2.4. Diagnosis a. Anamnesis


(9)

Riwayat trauma. Riwayat operasi intraocular. Riwayat pemakaian obat-obatan. Penyakit yang berhubungan dengan kelainan pembekuan darah.

b. Pemeriksaan Fisik Gambaran klinik dari penderita dengan hifema adalah : (2,3,6) Ditemukan perdarahan pada bilik depan bola mata Kadang-kadang ditemukan gangguan tajam penglihatan. Ditemukan adanya tanda-tanda iritasi dari konjungtiva dan perikorneal. Penderita mengeluh nyeri pada mata, fotofobia (tidak tahan terhadap sinar), sering disertai blefarospasme.

Gambar 1. Ilustrasi hifema

Gambar 2. Hifema pada bilik mata depan

Gambar 3. Hifema pada bilik mata depan Terdapat penumpukan darah yang terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul dibagian bawah bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Selain itu, dapat terjadi peningkatan tekanan intra okular, sebuah keadaan yang harus diperhatikan untuk menghindari terjadinya glaukoma. (3)

c. Pemeriksaan Penunjang Hifema banyak ditemukan pada ras kulit hitam. Pada hifema ditemukan sel sabit. Sel sabit mudah menimbulkan penyumbatan jala trabekula sehingga menyebabkan peninggian TIO, bahkan pada hifema yang sedikit. (5,8) Foto X-ray dan/atau CT-scan dibutuhkan untuk menyingkirkan tumor intraokuler atau benda asing, yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan lainnya.(5,8)

Pada hifema sebaiknya dilakukan pemeriksaan tekanan bola mata untuk mengetahui apakah sudah terjadi peninggian tekanan bola mata. Pemeriksaan funduskopi diperlukan untuk mengetahui akibat trauma pada segmen posterior bola mata. Kadang-kadang pemeriksaan ini tidak mungkin karena terdapat darah pada media penglihatan. Pada funduskopi kadang-kadang terlihat darah dalam badan kaca. Pemberian midriatika tidak dianjurkan kecuali untuk mencari benda asing pada polus posterior. (5,6) Pemeriksaan USG ditujukan untuk mengetahui adanya kekeruhan pada segmen posterior bola mata, dan dapat diketahui tingkat kepadatan kekeruhannya. Pemeriksaan USG dilakukan pada keadaan dimana oftalmoskopi tidak dapat dilakukan oleh adanya kekeruhan kornea, bilik mata depan, lensa, karena berbagai sebab atau perdarahan didalam bilik mata depan (hifema total). (5,6)

2.5. Penatalaksanaan Pada dasarnya tatalaksana hifema ditujukan untuk: (5,7) Menghentikan perdarahan atau mencegah perdarahan ulang Mengeluarkan darah dari bilik mata depan Mengendalikan tekanan bola mata Mencegah terjadinya imbibisi kornea Mengobati uveitis bila terjadi akibat hifema ini Menemukan sedini mungkin penyulit yang mungkin terjadi

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka cara pengobatan penderita dengan hifema pada prinsipnya dibagi dalam 2 golongan besar yaitu : A. PERAWATAN KONSERVATIF/TANPA OPERASI 1. Tirah baring sempurna (bed rest total) Penderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi kepala diangkat (diberi alas bantal) 45.(2,3,5,6,7) Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta memudahkan kita mengevaluasi jumlah perdarahannya.

Ada persesuaian pendapat dari banyak sarjana mengenai tirah baring sempurna ini sebagai tindakan pertama yang harus dikerjakan bila menemui kasus hifema. 2. Pemakaian obat-obatan Pemberian obat-obatan pada penderita dengan hifema tidaklah mutlak, tapi cukup berguna untuk menghentikan perdarahan, mempercepat absorbsinya dan menekan komplikasi yang timbul. Untuk maksud diatas digunakan obat-obatan seperti : (a) Koagulansia (2,3) Golongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara oral maupun parenteraI, berguna untuk menekan/menghentikan perdarahan. (b) Midriatika Miotika Masih banyak perdebatan mengenai penggunaan obat-obat golongan midriatika atau miotika, karena masing-masing obat mempunyai keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri, miotika memang akan mempercepat absorbsi, tapi meningkatkan kongesti dan midriatika akan mengistirahatkan perdarahan. (5) (c) Ocular Hypotensive Drug (2,3,5,6) Semua sarjana menganjurkan pemberian asetazolamid (Diamox) secara oral sebanyak tiga kali sehari bilamana ditemukan adanya kenaikan tekanan intraokuler. (d) Kortikosteroid (5) Pemberian hidrokortison 0,5% secara topikal akan mengurangi komplikasi iritis dan perdarahan sekunder dibanding dengan antibiotika. Pemberian prednison 40 mg/hari secara oral segera setelah terjadinya hifema guna mengurangi perdarahan sekunder. (e) Obat-obat lain Sedativa diberikan bila penderita gelisah. (3) Diberikan analgetika bila timbul rasa nyeri. (5) Pada hifema primer penderita dipulangkan dari perawatan bila sesudah 5 hari perdarahan hilang atau dengan koagulum yang mengecil. Pasien yang jelas memperlihatkan hifema yang mengisi lebih dari 5% kamera anterior diharuskan tirah baring dan harus diberikan tetes steroid dan sikloplegik pada

mata yang sakit selama 5 hari. Mata diperiksa secara berkala untuk mencari adanya perdarahan sekunder, glaukoma atau bercak darah di kornea akibat pigmen besi. Perdarahan berulang terjadi pada 16-20% kasus dalam 2-3 hari. Penyulit ini memiliki risiko tinggi menimbulkan glaukoma dan pewarnaan kornea. Beberapa penelitian mengisyaratkan bahwa penggunaan asam aminokaproat oral untuk menstabilkan pembentukan bekuan darah menurunkan risiko terjadinya perdarahan ulang. Dosisnya adalah 100 mg/kg setiap 4 jam sampai maksimum 30 g/hari selama 5 hari. Apabila timbul glaukoma maka tatalaksana cukup diberikan timolol 0,25% atau 0,5% dua kali sehari; asetazolamid, 250mg oral empat kali sehari; dan obat hiperosmotik (manitol, gliserol dan sorbitol). (4) Hifema harus dievakuasi secara bedah apabila tekanan intraokuler tetap tinggi (35 mmHg selama 7 hari atau 50 mmHg selama 5 hari) untuk menghindari kerusakan saraf optikus dan pewarnaan kornea. Apabila pasien mengidap hemoglobinopati, maka besar kemungkinannya cepat terjadi atrofi optikus glaukomatosa dan pengeluaran bekuan darah secara bedah harus dipertimbangkan lebih awal. Instrumen-instrumen vitrektomi digunakan untuk mengeluarkan bekuan darah disentral dan lavase kamera anterior. Dimasukkan tonggak irigasi dan probe mekanis disebelah anterior limbus melalui bagian kornea yang jernih untuk menghindari keruskan iris dan lensa. Tidak dilakukan usaha untuk mengeluarkan bekuan dari sudut kamera anterior atau dari jaringan iris. Kemudian dilakukan iridektomi perifer. Cara lain untuk membersihkan kamera anterior adalah dengan evakuasi vesikoelastik, dan sebuah insisi yang lebih besar 180 berlawanan agar hifema dapat didorong keluar. (4) Glaukoma dapat timbul belakangan setelah beberapa bulan atau tahun akibat penyempitan sudut. Dengan sedikit perkecualian, bercak darah di kornea akan hilang secara perlahan dalam periode sampai setahun. (4)

B. OPERASI 1. Parasentesis (1,3,5,6)

Parasentesis merupakan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan darah atau nanah dari bilik mata depan, dengan teknik sebagai berikut: dibuat insisi kornea 2 mm dari limbus kearah kornea yang sejajar dengan permukaan iris. Biasanya bila dilakukan penekanan pada bibir luka maka koagulum dari bilik mata depan keluar. Bila darah tidak keluar seluruhnya maka bilik mata depan dibilas dengan garam fisiologis. Biasanya luka insisi kornea pada parasentesis tidak perlu dijahit. Tindakan pembedahan parasentesis dilakukan bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila darah setelah 5 hari tidak memperlihatkan tanda-tanda berkurang. (3) Untuk mencegah atrofi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila : (5) Tekanan bola mata maksimal > 50 mmHg selama 5 hari Tekanan bola mata maksimal > 35 mmHg selama 7 hari Untuk mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila : (5) Tekanan bola mata rata-rata >25 mmHg selama 6 hari Bila terlihat tanda-tanda dini imbibisi kornea Untuk mencegah sinekia anterior perifer dilakukan pembedahan bila : (5) Hifema total bertahan selama 5 hari Hifema difus bertahan selama 9 hari

2. Melakukan irigasi bilik depan bola mata dengan larutan fisiologis.

2.6. Komplikasi Komplikasi yang ditimbulkan akibat hifema secara langsung dapat menimbulkan retensi darah pada bilik mata depan. Komplikasi yang penting diantaranya adalah : 1. Perdarahan sekunder (1,3,5) Komplikasi ini sering terjadi pada hari ke 3 sampai ke 6, sedangkan insidensinya sangat bervariasi, antara 10 - 40%. Perdarahan sekunder ini timbul karena iritasi pada iris akibat traumanya, atau merupakan lanjutan dari perdarahan primernya.

10

2. Glaukoma sekunder (1,3,5) Timbulnya glaukoma sekunder pada traumatik hifema disebabkan oleh tersumbatnya trabecular meshwork oleh butir-butir/gumpalan darah. Insidensinya 20%, sedang di RS Dr. Soetomo sebesar 17,5%. Gejala hifema sekunder : Timbul rasa sakit baru pada mata Hifema segar baru dalam bilik mata depan. Terlihat garis darah mengalir pada iris Penelitian oleh Bakri tahun 2005 melaporkan adanya oftalmia simpatetik yang mengikuti hifema. 3. Hemosiderosis kornea (1,3) Hemosiderosis ini akan timbul bila ada perdarahan/perdarahan sekunder disertai kenaikan tekanan intraokuler. Gangguan visus karena hemosiderosis tidak selalu permanen, tetapi kadang-kadang dapat kembali jernih dalam waktu yang lama (2 tahun). Insidensinya 10%.

4. Sinekia posterior Sinekia posterior dapat terjadi pada penderita hifema akibat trauma. Komplikasi ini sekunder terhadap iritis atau iridosiklitis. Walau demikian, komplikasi ini jarang terjadi jika pasien ditangani dengan baik. Sinekia posterior lebih sering terjadi pada pembedahan yang dilakukan untuk mengevakuasi hifema. (8)

5. Sinekia anterior perifer Sinekia anterior perifer sering terjadi pada pasien yang ditangani secara medis, namun hifema masih tertinggal di bilik mata depan untuk waktu yang cukup lama, biasanya lebih dari 9 hari. Patogenesis sinekia anterior perifer mungkin disebabkan iritis yang terjadi cukup lama disebabkan oleh trauma awal dan/atau iritasi kimia akibat darah pada bilik mata depan. (8)

11

Pada hifema akibat trauma bila terjadi kemunduran tajam penglihatan dapat dipikirkan kemungkinan adanya kerusakan langsung pada mata akibat trauma tersebut, seperti luksasi lensa, ablasio retina dan edema makula. Hifema sekunder yang terjadi pada hari ke 5-7 sesudah trauma biasanya lebih masif dibanding dengan hifema primer dan dan memberikan rasa sakit sekali. (8) Dapat terjadi keadaan yang disebut sebagai hemoftalmitis atau peradangan intraokuler akibat adanya darah yang penuh dalam bola mata. Dapat juga terjadi siderosis akibat hemoglobin atas siderin tersebar dan diikat oleh jaringan mata. (8) 6. Corneal Blood Staining (5) Komplikasi ini terjadi pada sekitar 2 11 % kasus, terutama pada hifema yang luas atau total, pasien dengan waktu pembekuan yang tidak normal dan adanya kerusakan pada endotel kornea. Pada keadaankeadaan ini akan menimbulkan deposit dari hemoglobin, hemosiderin dan degenerasi dari eosinofil di stroma kornea yang menimbulkan warna kekuningan pada kornea yang mengakibatkan penurunan visus dan ambliopia pada anakanak.

7. Atrofi papil Atrofi papilla nervus optikus terjadi pada peningkatan TIO yang lama ataupun bila terdapat kontusio pada N. optikus. Hal ini bisa terjadi pada TIO yang menetap tinggi 50 mmHg selama 5 hari atau 35 mmHg selama 7 hari. (8)

2.7. Prognosis Prognosis hifema bergantung pada jumlah darah dalam bilik mata depan. Bila darah sedikit di dalam bilik mata maka darah ini akan hilang dan jernih dengan sempurna, sedangkan bila darah lebih dari setengah tingginya bilik mata depan, maka prognosis buruk yang akan disertai dengan beberapa penyulit. Hifema yang penuh di dalam bilik mata depan akan memberikan prognosis lebih buruk dibanding dengan hifema sebagian. Keberhasilan penyembuhan hifema tergantung dari tiga hal, yaitu: (6)

12

Jumlah kerusakan lain akibat hifema pada struktur mata (ruptur koroid, pembentukan scar makula) Apakah terjadi hifema sekunder Apakah terjadi komplikasi akibat hifema seperti glaukoma, bercak darah pada kornea dan atrofi optikus Keberhasilan penyembuhan terjadi hampir 80 % pada hifema derajat 1. sementara pada hifema derajat 4 angka kesembuhan mencapai 35%.

13

BAB III KESIMPULAN

Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah didalam bilik mata depan. Trauma tumpul merupakan penyebab tersering, mayoritas terjadi pada pasien dengan usia kurang dari 20 tahun. Perdarahan bilik depan bola mata ini terutama berasal dari pembuluh darah korpus siliare dan sebagian kecil dari pembuluh darah iris. Tingkatan dari hifema ditentukan oleh banyaknya perdarahan dalam bilik depan bola mata. Terdapat penumpukan darah yang terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul dibagian bawah bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan.Penegakan diagnosis hifema dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Perawatan pada pasien hifema dapat dilakukan secara konservatif seperti,total bedrest,pemberian obat-obatan dan operatif berdasarkan indikasi tertentu serta komplikasi yang disertai. Komplikasi yang ditimbulkan akibat hifema secara langsung dapat menimbulkan retensi darah pada bilik mata depan.Akibat yang ditimbulkannya antara lain perdarahan sekunder,glaukoma sekunder,hemosiderosis kornea,sinekia

posterior,sinekia anterior perifer,Corneal Blood Staining dan atrofi papil. Prognosis hifema bergantung pada jumlah darah dalam bilik mata depan.Keberhasilan penyembuhan hifema tergantung dari tiga hal, yaitu jumlah kerusakan lain akibat hifema pada struktur, hifema sekunder, komplikasinya. Keberhasilan penyembuhan terjadi hampir 80 % pada hifema derajat 1. sementara pada hifema derajat 4 angka kesembuhan mencapai 35%.

14

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S, dkk. Trauma Tumpul Mata. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Ed ke-2. PERDAMI. Jakarta: Sagung Seto. 2002. 266. 2. Ilyas S. Trauma Mata. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Edisi-3. FKUI. 2004. 264. 3. Ilyas S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: FKUI. 2005. 170. 4. Vaughan D, Taylor A, Riordan E.P. Trauma. Dalam : Oftalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika. 2000. 384-387. 5. Ferenc K, Dante JP. Dalam : Ocular Trauma; Principles and Practice. Thieme: New York. 2002. 45-53;95-108;280-284. 6. Nana W. Trauma. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Jilid II. Jakarta. 1981. 312322. 7. Ilyas S. Cedera Mata. Dalam : Ilmu Perawatan Mata. Jakarta: Sagung Seto. 2004. 169-175. 8. Sheppard. John D. Hyphema. Diakses dari ; Http://www.eMedicine.com 9. Skuta G, dkk.Toxic and Traumatic Injuries of Anterior Segment.Dalam : External Disease and Cornea. American Academy of Ophthalmology. 20082009. 398-402

15