Anda di halaman 1dari 25

BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian dan Tujuan Manajemen Produksi dan Operasi Manajemen Produksi dan Operasi menurut Handoko adalah : Manajemen Produksi dan Operasi merupakan usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya-sumber daya (atau sering disebut faktor-faktor produksi), tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Dalam proses transformai bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa. Pengertian Manajemen Produksi dan Operasi menurut Nicholas J. Aquilano adalah :

Operation management is defined as the design, operation and improvement of the systems that create and deliver the firms primary product and services.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa Manajemen Produksi dan Operasi merupakan usaha-usaha pengelolaan sumber daya yang ada secara optimal di dalam proses produksi agar dapat menciptakan dan menambah nilai atau kegunaan suatu produk atau jasa. Tujuan Manajemen Operasi adalah memproduksikan atau mengatur produk barang barang dan jasa dalam jumlah, kualitas, harga, waktu, serta tempat tertentu sesuai dengan kebutuhan manajemennya. (Reksohadiprodjo dan

Gitosudarma,2000,p2)

2.2

Ruang lingkup Manajemen Operasional Menurut Heizer (2000,p39) ruang lingkup dari operasi manajemen : 1. Manajemen kualitas Manajemen kualitas merupakan manajemen seluruh organisasi secara terpadu dan mencakup segala aspek mengenai barang dan jasa yang penting bagi konsumen. 2. Jasa dan desain produk Dalam melakukan desain ini ditujukan untuk kelompok yang melakukan rekayasa terhadap produk dan jasa yang menghasilkan suatu nilai dan keandalan dalam produksi. 3. Proses dan desain kapasitas Proses tambahan yang tersedia atas produk dan jasa. Keputusan atas proses tersebut berhubungan dengan komitmen manajemen pada teknologi yang spesifik, kualitas, penggunaan sumber daya manusia, dan pemeliharaan. 4. Lokasi Fasilitas lokasi memberikan keputusan untuk perusahaan manufaktur dan organisasi jasa yang menjelaskan tentang kesuksesan yang baik pada suatu perusahaan. 5. Desain tata letak Merupakan salah satu keputusan yang menentukan efisiensi operasi perusahaan dalam waktu dan jangka panjang. 6. Sumber daya manusia dan desain pekerjaan Merupakan orang yang terdapat didalamnya dan bagian yang sangat khusus dari suatu desain total sistem. 7. Rantai pasokan manajemen

Keputusan yang menjelaskan apa yang harus dibuat dan apa yang harus dibeli. Hal ini berhubungan dengan kualitas, pengiriman dan apa yang harus dibeli. 8. Persediaan Persediaan sebagai salah satu fungsi penting dalam melakukan proses produksi dan untuk menambah fleksibilitas operasi dalam suatu perusahaan. 9. Penjadwalan Jadwal yang pasti dan efisien dalam melakukan proses produksi yang harus dikembangkan.

2.3

Pengertian Mutu dan Faktor Faktor yang Mempengaruhi Mutu 2.3.1 Pengertian Mutu Beberapa pandangan ahli mengenai definisi mutu adalah sebagai berikut : J.M.Juran : Mutu adalah kesesuaian dengan tujuan dan manfaatnya. Crosby : Mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan yang meliputi availability, delivery , reliability, maintainability, dan cost effectiveness. W. Edward Deming : Mutu harus bertujuan memenuhi kebutuhan pelanggan sekarang dan akan masa akan datang. Feigenbaum : Mutu merupakan keseluruhan gabungan karateristik produk dan jasa yang meliputi marketing, engineering, manufacture dan

maintenance melalui mana produk dan jasa dalam pemakaian akan sesuai dengan harapan pelanggan. David L. Goetsch & Stanley B. Davis : Mutu adalah suatu kondisi dinamis yang berkaitan dengan produk, pelayanan, orang, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan.

Assauri adalah : Mutu diartikan sebagai faktor-faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang atau hasil itu dimaksudkan atau

dibutuhkan. Kotler (2002,p67) : Mutu adalah keseluruhan ciri serta sifat dari suatu produk yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan

kebutuhan yang dinyatakan / yang tersirat. Definisi mutu sebagaimana yang diambil oleh American Society for Quality (Render dan Heizer,2001,p92) adalah : keseluruhan fitur dan karateristik

produk / jasa yang mampu memuaskan kebutuhan yang terlibat / yang tersirat. Pengertian ini mengandung arti bahwa semua produk diciptakan untuk memenuhi tujuan tertentu dan agar produk itu dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut, maka produk itu harus mempunyai faktor-faktor tertentu yang terkandung di dalamnya. Suatu barang dikatakan bermutu baik, kurang, atau buruk berdasarkan kriteria-kriteria yang terkandung dalam barang tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang tersebut dihasilkan. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa mutu merupakan faktor, sifat, dan karakteristik penting dari suatu produk yang mencerminkan fungsi suatu produk. Faktor-faktor, sifat-sifat, dan karakteristik tersebut ditentukan dan dinilai sendiri oleh konsumen.

2.3.2

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Mutu Menurut Assauri(1999,p32), faktor-faktor yang mempengaruhi mutu adalah : a. Fungsi suatu barang

Suatu barang yang dihasilkan hendaknya memperhatikan fungsi untuk apa barang tersebut digunakan atau dimaksudkan, karena pemenuhan fungsi tersebut mempengaruhi kepuasan para konsumen. Mutu yang hendak dicapai sesuai dengan fungsi untuk apa barang tersebut digunakan tercermin pada spesifikasi dari barang tersebut seperti kecepatan, daya tahan, kegunaannya, kepercayaan. b. Wujud luar Walaupun barang yang dihasilkan secara teknis atau mekanis telah maju, tetapi bila wujud luarnya kuno atau kurang dapat diterima, maka akan menyebabkan barang tersebut tidak disenangi oleh konsumen karena dianggap mutunya kurang memenuhi syarat. c. Biaya barang Biaya atau harga suatu barang tidak selalu mencerminkan mutu dari barang tersebut, karena barang yang diperkirakan tidak selamanya biaya yang sebenarnya, sehingga sering terjadi adanya inefisiensi. berat, bunyi, mudah atau tidaknya perawatan dan

Sedangkan

menurut

David

Garvin

yang

diterjemahkan

oleh

Drs.M.N.Nasution, M.Sc (2001,p17) faktor-faktor yang mempengaruhi mutu suatu produk, yaitu : 1. Performa (Performance) Aspek fungsional dari produk dan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika ingin membeli suatu produk. 2. Features Pilihan-pilihan dan pengembangan merupakan ciri-ciri atau keistimewaan

tambahan atau pelengkap fungsi dasar. 3. Kehandalan (Reliability) Penggunaan suatu produk berfungsi secara berhasil dalam periode waktu tertentu dibawah kondisi tertentu. 4. Konformasi (Conformance) Tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. 5. Daya Tahan (Durability) Daya tahan dari ukuran masa pakai suatu produk. 6. Kemampuan Pelayanan (Service Ability) Kecepatan atau kesopanan, kompetensi, kemudahan, serta akurasi dalam perbaikan. 7. Estetika (Aesthetics) Keindahan yang bersifat subyektif mengenai pertimbangan pribadi dan refleksi dari preferensi atau pilihan individual. 8. Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality) Perasaan pelanggan dalam mengkonsumsi produk seperti meningkatkan harga diri.

2.4

Mengapa Mutu itu Penting Produk dan jasa yang bermutu secara strategis penting bagi perusahaan dan Negara yang diwakilinya. Mutu dari produk suatu perusahaan, harga yang ditetapkan oleh perusahaan, dan pemasokan barang yang membuat produk itu tersedia bagi konsumen merupakan faktor faktor yang menentukan permintaan.Menurut Render dan Heizer(2005,p254) mutu terutama mempengaruhi perusahaan ada 4 cara :

1). Biaya pangsa pasar Mutu yang ditingkatkan dapat mengarah kepada peningkatan pangsa pasar dan penghematan biaya dan juga dapat mempengaruhi profitabilitas. 2). Reputasi perusahaan Reputasi perusahaan mengikuti reputasi mutu yang dihasilkan buruk atau baik. Mutu akan muncul bersamaan dengan persepsi mengenai produk baru perusahaan, praktik praktik penanganan pegawai, dan hubungannya dengan pemasok. Mutu produk tidak dapat digantikan oleh promosi perusahaan. 3). Pertanggungjawaban produk Dalam kasus kasus yang berkaitan dengan produk yang beredar di pasar, pengadilan kini mengganggap bahwa pihak pihak yang harus memikul tanggung jawab adalah seluruh pihak yang tercakup dalam rantai distribusi. Perusahaan yang merancang dan memproduksi barang atau jasa yang cacat dapat dianggap bertanggung jawab atas kerusakan dan kecelakaan yang diakibatkan pemakaian barang atau jasa tersebut. Keamanan produk bagi konsumen (Consumer Product Safety Act) tahun 1972 menentukan dan menetapkan standar produk dan melarang produksi barang atau jasa yang tidak memenuhi standar. 4). Implikasi internasional Dalam era teknologi seperti sekarang ini, mutu merupakan perhatian

internasional dan perhatian operasi. Agar perusahaan dan juga negara bersaing secara efektif dalam perekonomian global, produknya harus memenuhi mutu dan hanya yang diinginkan. Produk yang bermutu rendah membahayakan

perusahaan dan bangsa, dan dapat mengakibatkan implikasi yang negatif bagi neraca pembayaran.

Implikasi internasional dari mutu adalah sangat penting sehingga pada tahun 1988, di Amerika dibentuk Malcolm Bablrige Quality Award untuk meningkatkan prestasi mutu.

2.5

Perencanaan Standar Mutu Untuk melaksanakan perencanaan dan pengendalian kualitas selama siklus kualitas menurut Schroeder, diperlukan tahap-tahap sebagai berikut: a. Definisikan sifat-sifat (atribut) mutu. b. Tentukan bagaimana mengukur setiap atribut. c. Tetapkan standar mutu. d. Tetapkan program inspeksi. e. Cari dan perbaiki penyebab mutu yang jelek. f. Terus lakukan penyempurnaan. Perencanaan pengendalian mutu harus selalu mulai dengan sifat-sifat produk. Perencana mutu menentukan sifat mana yang penting, supaya produk/jasa cocok untuk digunakan dan mana yang tidak. Tiga atribut mutu yang penting bagi produknya, yaitu: (1) kenyamanan, (2) penampilan yang menarik dan (3) umur pemakaian yang dianggap wajar oleh pelanggan. Setelah memutuskan teknik pengukuran yang akan digunakan, perencanaan mutu harus menetapkan standar yang menggambarkan jumlah mutu yang diperlukan pada setiap atribut. Biasanya standar ini dinyatakan sebagai batas toleransi (jumlah plus minus) atau batas minimum dan maksimum yang dapat diterima. Standar dapat juga ditetapkan sebagai sasaran yang diinginkan.

2.6

Pengertian dan Tujuan Pengendalian Mutu Pengendalian mutu mempunyai arti yang sangat penting dalam kegiatan produksi suatu perusahaan karena apabila mutu produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan konsumen maka konsumen akan mulai mencari produk lain yang lebih baik mutunya. Konsumen pada saat ini adalah konsumen yang cenderung selektif dan kritis dalam membeli suatu barang, karena itu perusahaan harus dapat benar-benar memenuhi ditawarkan. keinginan konsumen akan mutu dari produk yang

2.6.1

Pengertian Pengendalian Mutu Ada beberapa definisi mengenai pengertian pengendalian mutu menurut para ahli, antara lain : Menurut Ahyari(1999,p54) : Pengendalian kualitas merupakan suatu aktivitas (manajemen

perusahaan) untuk menjaga dan mengarahkan agar kualitas produk (dan jasa) perusahaan dapat dipertahankan sebagaimana yang telah direncanakan.

Menurut Assauri(1999,p65) : Pengendalian mutu adalah kegiatan untuk memastikan apakah kebijaksanaan dalam mutu dapat tercermin dalam hasil akhir. Dengan perkataan lain pengendalian mutu merupakan usaha untuk

mempertahankan mutu dari barang yang dihasilkan, agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan berdasarkan

kebijaksanaan pimpinan perusahaan.

Menurut Reksohadiprodjo & Gitosudarma(2000,p31): Pengendalian mutu merupakan alat bagi manajemen untuk

memperbaiki produk bila diperlukan, mempertahankan kualitas yang sudah tinggi dan mengurangi jumlah bahan yang rusak.

Dari

pendapat

ini

dapat

disimpulkan

bahwa

pengendalian

mutu tersebut merupakan suatu tindakan pemeriksaaan terhadap seluruh produk atau barang yang diproduksi oleh suatu pabrik guna mencapai produk sesuai dengan yang diinginkan perusahaan tersebut.

2.6.2

Tujuan Pengendalian Mutu Tujuan Pengendalian Mutu menurut Assauri adalah : a. Agar barang hasil produksi dapat mencapai standar mutu yang telah ditetapkan. b. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin. c. Mengusahakan agar biaya desain dari produk dan proses dengan menggunakan mutu produksi tertentu dapat menjadi sekecil mungkin. d. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin.

Tujuan Pengendalian Mutu menurut Prawirosentono adalah agar produk akhir mempunyai spesifikasi dengan standar mutu yang telah ditetapkan dan agar biaya desai produk, biaya inspeksi dan biaya produksi dapat berjalan secara efisien. Diharapkan dengan adanya pengendalian mutu, produk yang

diproduksi dapat sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan dapat dihindari pemborosan-pemborosan.

2.7

Ruang Lingkup Pengendalian Mutu Pengendalian mutu merupakan kegiatan terpadu dalam perusahaan untuk menjaga dan mengarahkan agar mutu dari produk yang dihasilkan dapat dipertahankan. Kegiatan pengendalian mutu mempunyai lingkup yang luas, di mana semua segi yang berpengaruh terhadap mutu perlu diperhatikan dan dianalisis. Setiap perusahaan dalam menghasilkan produk selalu menggunakan bahan baku sebagai bahan dasar pembuatan produk, jadi bahan baku sangat

mempengaruhi mutu dari

produk akhir perusahaan. Perusahaan melakukan

pengendalian terhadap mutu bahan baku agar bahan baku yang dipakai dalam proses produksi memenuhi standar mutu yang telah ditentukan. Ruang lingkup pengendalian mutu menurut Assauri adalah : 1. Pengendalian mutu pada bahan baku Pengendalian mutu pada bahan baku ini sangat penting untuk menjaga mutu produk perusahaan. Hal hal yang dilakukan untuk menjaga mutu bahan baku yang digunakan yaitu : a. Seleksi sumber bahan baku b. Pemeriksaan dokumen pembelian c. Pemeriksaan penerimaan bahan 2. Pengendalian proses produksi 3. Pengendalian produk akhir Pengendalian selama pengolahan, banyak cara-cara pengendalian mutu

yang berkenaan dengan proses yang teratur. Contoh-contoh atau sampel dari hasil yang diambil pada jarak waktu yang sama, dan dilanjutkan dengan pengecekan statistik untuk melihat apakah proses dimulai dengan baik atau tidak. Apabila mulainya salah, maka keterangan kesalahan ini dapat diteruskan kepada pelaksana semula untuk penyesuaian kembali. Perlu diingat bahwa pengendalian dari proses haruslah berurutan dan teratur, pengendalian yang dilakukan hanya terhadap sebagian dari proses mungkin tidak ada artinya bila tidak diikuti dengan pengendalian pada bagian lain. Pengendalian atas barang hasil yang telah diselesaikan, walaupun telah diadakan pengendaliann mutu dalam tingkat-tingkat proses tetapi hal ini tidak dapat menjamin bahwa tidak ada hasil yang rusak atau kurang baik ataupun tercampur dengan hasil yang baik. Untuk menjaga agar supaya barang-barang yang dihasilkan cukup

baik atau paling sedikit rusaknya, tidak keluar atau lolos dari pabrik sampai ke konsumen atau pembeli, maka diperlukan adanya pengendalian atas

barang hasil akhir atau produk selesai. Adanya pengendalian seperti ini tidak dapat mengadakan perbaikan dengan segera. Dalam prakteknya, proses produksi yang dilaksanakan akan

memperhatikan perubahan atau variasi pada spesifikasi atau standar. Untuk itu perlu diadakan suatu pengendalian mutu agar perubahaan atau variasi itu tetap dalam batas-batas yang masih dapat ditoleransi. Oleh karena itu, diperlukan tenaga kerja yang mengawasi dan bertanggung jawab atas jalannya pelaksanaan pengendalian mutu dalam perusahaan. Selain itu, diperlukan juga teknik dan alat yang tepat untuk membentuk pelaksanaan pengendalian mutu agar dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

Dalam pengendalian mutu ada dua cara yang umum dilakukan perusahaan yaitu : 1. Inspection (Pemeriksaan) Pengertian pemeriksaan menurut T. Hani Handoko , adalah : "Inspeksi (pemeriksaan) adalah kegiatan implementasi kualitas utama yang berjalan dengan basis hari ke hari" Inspeksi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: a. Pemeriksaan atas barang yang dibeli Pemeriksaan ini dilakukan atas jenis dan kuantitas barang yang dipesan dengan harapan barang yang dipesan tersebut tidak

terdapat kerusakan yang dapat mengganggu proses produksi.Untuk pemeriksaan ini dapat dihilangkan, jika pihak penyedia telah melakukan pemeriksaan secara ketat atas barang yang dikirim. b. Pemeriksaan barang dalam proses Pemeriksaan ini dilakukan pada saat proses produksi berlangsung. Jika pada saat produksi maka tersebut terdapat yang penyimpangan berhubungan masalah atas dalam yang produk yang

dihasilkan, produksi tersebut.

bagian harus

penanganan menyimpang

mengatasi

Menurut Hani Handoko, dalam melaksanakan inspeksi, harus diperhatikan di mana inspeksi itu dilakukan, dibedakan menjadi 2, yaitu : a. Floor inspection Adalah inspeksi yang dilakukan di tempat k=pekerjaan artau di tempat dimana kegiatan produksi dilakukan

Kebaikan inspeksi ini adalah: a. Menghemat kegiatan penanganan bahan. b. Memungkinkan bahan bergerak lebih cepat c. Mencegah kerusakan yang lebih parah Keburukan inspeksi ini adalah: a. Para karyawan dan mesin-mesin harus menunggu para pemeriksa. b. Pemeriksa harus membawa peralatan-peralatan inspeksi ke setiap tempat. b. Central inspection Adalah inspeksi yang dilakukan dalam suatu tempat pemeriksaan pusat yang didukung oleh peralatan peralatan khusus untuk inspeksi sehingga kebenaran hasil pemeriksaan akan lebih terjamin. Kebaikan inspeksi ini adalah: a. Menghemat waktu inspeksi. b. Peralatan inspeksi khusus dapat dipergunakan. c. Menghemat biaya inspeksi. Keburukan inspeksi ini adalah : a. Menaikkan biaya transportasi. b. Penanganan bahan lebih mengakibatkan penundaan - penundaan sehingga barang-barang bergerak lebih lambat.

Jadi, tujuan inspeksi adalah menghentikan pembuatan komponenkomponen yang rusak (atau menghentikan jasa yang tidak berguna).

2. Statistical Quality Control ( Pengendalian Kualitas secara Statistik )

Statistical Quality Control merupakan suatu metode statistik dalam


kegiatan pengendalian mutu. Statistical Quality Control semua data

penyimpangan spesifikasi yang terjadi pada sampel dicatat dan kemudian dianalisis, untuk diambil kesimpulan akan karakteristik populasi sampel tersebut.

Statistical Quality Control dapat digunakan untuk mengawasi proses


produksi, mutu produk yang dikerjakan dan menerima atau menolak produk akhir. Penting untuk diketahui bahwa

Statistical Quality Control tidak

menghilangkan resiko, dan juga tidak menciptakan resiko. Karena pada dasarnya dengan atau tanpa Statistical Quality Control resiko akan tetap ada. SQC hanya membantu pihak manajemen agar dapat dilakukan tindakan korektif apabila diketahui telah terjadi kesalahan, juga dapat melakukan tindakan-tindakan untuk mempertahankan keadaan yang telah baik. Pengendalian proses produksi secara statis merupakan aplikasi teknik statistik yang digunakan untuk mengawasi dan memastikan pelaksanaan proses produksi telah berjalan sesuai dengan spesifikasinya. Menurut T. Hani Handoko, statistical quality control mempunyai tiga penggunaan umum, yaitu : a. Untuk mengawasi pelaksanaan kerja sebagai operasi-operasi individual selama pekerjaan sedang dilakukan. b. Untuk memutuskan apakah menerima atau menolak sejumlah produk yang telah diproduksi. c. Untuk melengkapi manajemen dengan audit kualitas produk perusahaan.

2.8

Alat Alat Pengendalian Mutu Dalam melakukan pengendalian mutu, ada beberapa alat yang mendukung dalam melakukan pengendalian mutu. Berikut ini beberapa penjelasan mengenai alat-alat pengendalian mutu. Alat Statistical Process Control adalah Shewhart Control Chart, yang penggunaannya tergantung dari karakteristik mutu yang diukur. Pada dasarnya di dalam pengendalian mutu secara statistik dapat dibagi menjadi dua tipe pengukuran, yaitu pengukuran secara sampel dan pengukuran seluruh produk. Pengukuran secara sampel dibagi menjadi dua karakteristik

(Gaspersz,2003,p64) yaitu : 1. Pengendalian Atribut (Attribute Control) Atribut adalah karakteristik suatu produk yang berhubungan dengan pengukuran apakah produk tersebut baik atau buruk, diterima atau ditolak. Pengukuran atribut bersifat kualitatif, yaitu hanya merupakan penentuan memuaskan / tidak memuaskan. Bagan kontrol yang sering digunakan pada pengendalian atribut,antara lain : 1) Bagan proporsi kerusakan ( p charts ) 2) Bagan bagian jumlah cacat ( c charts) 2. Pengendalian Variabel (Variabel Control) Pengendalian ini untuk mengukur variable yang sering digunakan secara bersama. Bagan pengendalian yang sering digunakan antara lain :

a) Bagan rata-rata/Average charts ( x charts ), Suatu bagan yang memperhitungkan rata-rata karakteristik mutu dalam sampel. b) Bagan rentang/Range

charts

(R

charts),

Suatu

bagan

yang

memperhitungkan rentang antara data sampel terbesar dan terkecil.

2.9

Alat Pengendalian Kinerja Mutu Piranti atau alat perbaikan kualitas dibedakan atas piranti yang menggunakan data numerik dan piranti yang menggunakan data verbal.(Gaspersz,2003,p41) 1. Piranti Data Numerik Ada lima piranti atau alat yang digunakan dalam mengolah data numerik atau data kuantitatif, yaitu kertas periksa, Pareto chart, histogram, diagram pencar, dan diagram perjalanan (run chart). Kelima piranti ini digunakan untuk mengetahui apa masalah utama terjadinya penyimpangan. a. Kertas Periksa (Check Sheet) Kertas periksa adalah suatu piranti yang paling mudah untuk menghitung seberapa sering sesuatu terjadi. Dengan demikian, kertas periksa adalah piranti yang sederhana, tetapi teratur untuk pengumpulan dan pencatatan data. Dalam menyusunnya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : - Bentuk lajur-lajur untuk mencatat data harus jelas. - Data yang hendak dikumpulkan dan dicatat harus jelas tujuannya. - Kapan data dikumpulkan harus dicantumkan. - Data harus dikumpulkan secara jujur. b. Pareto Chart

Pareto chart adalah diagram yang dikembangkan oleh seorang ahli


ekonomi Italia yang bernama Vilfredo Pareto pada abad ke-19

Pareto chart digunakan untuk memperbandingkan berbagai kategori


kejadian yang disusun menurut ukurannya, dari yang paling besar di sebelah kiri ke yang paling kecil di sebelah kanan. Berbagai Pareto chart dapat digambarkan dengan menggunakan data yang sama, tetapi digambarkan secara berlainan. Dengan cara menunjukkan data menurut frekuensi terjadinya, biaya, dan waktu terjadinya, dapat diungkapkan berbagai prioritas penanganannya, tergantung pada kebutuhan spesifik. Dengan demikian, kita tidak dapat begitu saja menentukan bar yang terbesar dalam Pareto chart sebagai persoalan yang terbesar. Dalam hal ini harus dikumpulkan informasi secukupnya.

Pareto chart dapat disusun dengan menggunakan diagram sebab akibat.


Sesudah sebab-sebab potensial diketahui dari diagram tersebut, Pareto chart dapat disusun untuk merasionalisasi data yang diperoleh dari diagram sebab-akibat. Selanjutnya, Pareto chart dapat digunakan pada semua tahap PDCA cycle.

Histogram
Histogram adalah piranti untuk menunjukkan variasi data pengukuran, misalnya, berat badan sekelompok orang, tebal plat besi, dan sebagainya. Seperti halnya dengan Pareto chart, histogram berbentuk bar graph menunjukkan distribusi frekuensi. Akan tetapi, histogram berbeda dengan

Pareto chart, karena bar graph tidak digambar menurun dari kiri ke kanan. Bar graph histogram disusun sepanjang jangkauan data pengukurannya.
Selanjutnya, Pareto chart juga hanya menunjukkan karakteristik produk atau

jasa, seperti jenis cacat, kecelakaan, kerusakan, dan sebagainya. Histogram menunjukkan data pengukuran, seperti berat, temperatur, `tinggi, dan sebagainya. Dengan cara demikian, histogram dapat digunakan untuk menunjukkan variasi setiap proses. d. Diagram Pencar (Scatter Diagram) Scatter diagram adalah gambaran yang menunjukkan kemungkinan

hubungan (korelasi) antara pasangan dua macam variabel. Walaupun terdapat hubungan, namun tidak perlu berarti bahwa suatu variabel menyebabkan timbulnya variabel yang lain. e. Diagram Perjalanan (Run Chart) Run chart adalah grafik yang menunjukkan variasi ukuran sepanjang waktu. Pada suatu run chart, sumbu horisontalnya adalah ukuran waktu. Interval waktu tersebut dapat berupa tahun, minggu, hari, jam, dan sebagainya. Karena meliputi waktu, maka piranti ini lebih bersifat dinamik daripada piranti-piranti yang lain.

2. Piranti Data Verbal Piranti atau alat dalam menggunakan data verbal adalah bagan alur, brainstorming, diagram sebab-akibat, fishbone diagram, diagram gabungan, dan diagram pohon. Kelima piranti ini digunakan untuk mengetahui apa penyebab utama terjadinya suatu masalah : a. Diagram Alur ( Flow Chart )

Flow chart adalah gambaran skematik atau diagram yang menunjukkan


seluruh langkah dalam suatu proses dan menunjukkan bagaimana langkah itu saling mengadakan interaksi satu sama lain. Setiap orang yang

bertanggung jawab untuk memperbaiki suatu proses haruslah mengetahui seluruh langkah dalam proses tersebut. Ada beberapa cara untuk

menggambarkan flow chart dengan berbagai simbol yang digunakannya.

b. Brainstorming Brainstorming adalah cara untuk memacu pemikiran kreatif guna


mengumpulkan ide-ide dari suatu kelompok dalam waktu yang relatif singkat.

c. Fishbone Diagram
Diagram sebab-akibat (cause and effect diagram) atau sering disebut juga sebagai "diagram tulang ikan" (fishbone diagram) atau diagram Ishikawa (Ishikawa diagram) sesuai dengan nama Prof. Kaoru Ishikawa dari Jepang yang memperkenalkan diagram ini. Diagram sebab-akibat adalah suatu pendekatan terstruktur yang

memungkinkan dilakukan suatu analisis lebih terperinci dalam menemukan penyebab-penyebab suatu masalah, ketidaksesuaian, dan kesenjangan yang ada. Diagram ini dapat digunakan dalam situasi di mana: (1) terdapat pertemuan diskusi dengan menggunakan brainstorming untuk

mengidentifikasi mengapa suatu masalah terjadi, (2) diperlukan analisis lebih terperinci terhadap suatu masalah, dan (3) terdapat kesulitan untuk memisahkan penyebab dari akibat.

d. Diagram Gabungan (Affinity diagram) Affinity diagram kadang-kadang disebut secara agak kurang tepat,
sebagai metoda KJ, karena dikembangkan oleh Jiro Kawakita pada dekade 1950-an. Diagram tersebut merupakan hasil kerja sekelompok orang yang

bekerja sama secara kreatif untuk menganalisis data, terutama dalam situasi data yang berjumlah besar yang masih campur aduk dan belum tertata. Situasi itu dapat terjadi apabila sekelompok orang dengan pengalaman yang sangat beragam membentuk suatu tim, atau apabila orang-orang tersebut mempunyai pengetahuan yang tidak lengkap mengenai bidang yang akan dianalisis. (Nasution, 2004: 128).

e. Diagram Pohon Keputusan (Decision Tree Diagram) Decision tree diagram adalah piranti yang lazim digunakan untuk
menghubungkan antara tujuan dengan tugas yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut. Decision tree diagram berbentuk seperti bagan organisasi yang digulingkan. Diagram tersebut merupakan piranti yang berguna bagi manajer puncak dan manajer menengah untuk membuat rencana perbaikan proses berdasarkan input dari pelanggan. (Nasution, H 129). Dengan menyatakan tujuan utama yang hendak dicapai, maka dalam membuat decision tree diagram kita memecah tujuan utama tersebut menjadi sasaran antara dan tugas yang perlu dilakukan.

2.10

Acceptance Sampling Menurut Heizer adalah :

A method of measuring random samples of lots or batches of products againts predete rmined standars.
Menurut Stevenson adalah :

Form of inspection applied to lots or batches of items before or after a process, to judge confo rmance with predetermined standards.
Menurut w w w .b io ss.ac .u kadalah :

Acceptance sampling is a quality control procedure used when a decision on the acceptability of a batch has to be made from tests done on a sample of items from the batch
Menurut kamus ekonomi adalah :

Acceptance Sampling meliputi pemeriksaan sejumlah data untuk


menentukan apakah terdapat proporsi dalam unit mempunyai

perlengkapan yang melebihi persentase yang ditetapkan. Menurut

http://gkmin.net/download/wm231_istilah_ku a l i t a s . p d f adalah : Acceptance sampling plan: specific plan that a indicates the sampling sizes and the associated acceptanceor nonacceptancecriteria to be used
Menurut http://www.samplingplans.com/usingoccurves.htm adalah :

Acceptance Sampling Plan These sampling plans consist of a sample size : and a decision rule. The sample size is the number of items to sample or the number of measurementsto take. The decision rule involves the acceptance limit(s) and a description of how to use the sample resultto accept or reject the lot.
Dengan beberapa teori diatas, maka dapat disimpulkan Acceptance

Sampling merupakan prosedur atau metode pengendalian mutu penerimaan atau


penolakan keseluruhan kumpulan produk atas dasar jumlah cacat barang data sample sehingga jika terjadi penerimaan barang rusak dapat segera diketahui .

Metode Acceptance Samplingini diklasifikasikan berdasarkan cara pemeriksaan karakteristik, yaitu : a. Sifat Barang (Attributes)

Pemeriksaan dengan atribut merupakan pemeriksaan karakteristik-karakteristik yang bersifat kualitatif yaitu hanya untuk menentukan apakah barang dapat diterima atau ditolak. Pemeriksaan semacam ini hanya memberikan sedikit data untuk memperkirakan besarnya penyesuaian yang diperlukan pada proses. b. Faktor-faktor (Variable) Pemeriksaan dengan variable berarti pemeriksaan karakteristik barang diukur secara kuantitatif. Kelebihan Acceptance Sampling : lebih murah jumlah inspektor lebih sedikit kesalahan inspeksi lebih rendah mempunyai dampak lebih besar pada pemasok / vendor mengurangi handling

Kekurangan Acceptance Sampling: mempunyai resiko menolak lot yang baik () atau menerima lot yang jelek () memberikan sedikit informasi mengenai produk atau proses yang menghasilkan produk tersebut memerlukan perencanaan dan dokumentasi dari prosedur Acceptance Sampling

Jenis jenis Acceptance Sampling: Berdasarkan landasan keputusan : Sampling berdasarkan atribut Sampling berdasarkan variabel

Berdasarkan rangkaian sampling :

1. Sampling Tunggal ( single sampling : ) Output keputusan : TOLAK / TERIMA

2. Sampling ganda ( double sampling : ) Output keputusan : Sampling I : TERIMA / TOLAK / LANJUT KE SAMPLING II Sampling II : TERIMA / TOLAK (berdasarkan hasil dari sampling I & II) Sampling Majemuk ( Multiple Sampling : )

Kelanjutan dari Sampling Ganda Ukuran sampel < Sampling Tunggal atau Sampling Ganda Sampling Sekuential (Sequential Sampling) :

Kelanjutan dari Sampling Majemuk Teoritis : dilakukan hingga inspeksi 100% Praktek : berhenti setelah jumlah yang diinspeksi = 3 x jumlah yang diinspeksi dengan Sampling Tunggal Jika n = 1, disebut item-by-item sampling

Langkah-langkah dalam pengendalian mutu yang dilakukan oleh perusahaan terhadap produk yang dihasilkan dengan menggunakan metode Acceptance

Sampling, menurut Stevenson, sebagai berikut :


a. Mengumpulkan pada data lots size N sebelumnya dan sampel size n. Dari kode tersebut akan dapat diketahui ukuran/jumlah sampel yang akan diambil dalam analisis adalah sebesar unit yang akan dicari dengan menggunakan tabel (Single Sampling Plansfor Normal Inspectio - lampiran II). n

b. Langkah kedua yaitu dengan menghitung rata-rata defective, p untuk mengetahui total varians dan sampel atas varians yang akan diambil. c. Kemudian dari ukuran nilai tersebut, maka ditentukan AQL (Acceptable Quality

Level) dan LTPD (Lot Tolerance Percent Defective) dengan menggunakan tabel
yang berhubungan dengan resiko produsen dan resiko konsumen. d. Semua data yang akan dinilai dengan menggunakan tabel.